UNIVERS
ITARIA
Pada tanggal 22 -- 24 Januari 1 9 76 yang lalu telah diselenggarakan
SEMINAR KANKER NASIONAI. I
di Jakarta. Seminar
tersebut didahului
oleh pameran
mengenai kanker yang telah mendapat banyak perhatian dari
masyarakat urnum. Pengunjung pameran tersebut bahkan diber
i kesempatan
untuk memeriksakan diri secara gratis terhadap kanker payu dara dan kanker
rahim
Untuk mengetahui lebih lanjut hal-hal yang berhubungan denga
n Seminar
tersebut, CDK telah mewawancarai dr.
SUDARTO PRINGGOUTOMO
selaku
ketua dari panitia Seminar tersebut. Dibawah ini disajikan wawancara tersebut
yang selain memuat hal-hal yang berhubungan dengan Seminar itu, /uga
memuat wawancara mengenai masalah-masalah kanker umumnya, dan masalah
kanker di Indonesia khususnya.
dr. Sudarto
Pringgoutomo
CDK : Bertalian dengan Seminar Kan-
ker Nasional yang baru lalu,
kami ingin menanyakan apakah tujuan
dari Seminar tersebut dan apa yang
diharapkan dari padanya ?
DR. SUDARTO :
Sebelum berbicara ten-
tang tujuan , saya ki-
ra ada baiknya kita bicarakan dulu
tentang mengapa Seminar tersebut di-
adakan. Seperti kita ketahui, ini adalah
Seminar Kanker Nasional yang pertama,
jadi sebelumnya belum pernah diada-
kan; oleh sebab itu kita mengadakan
seminar itu pasti ada sebabnya. Perta-
ma : sekarang ini sebetulnya dipihak
swasta sudah ada 7 yayasan kanker
dipulau Jawa : di Surabaya, Malang,
Yogya, Solo, Semarang, Bandung dan
Jakarta. Diluar Jawa yang sedang dalam
pembentukan, di Medan. Mereka sudah
ada dan sudah bergerak ; malahan yang
di Jakarta sudah ada sejak tahun 1962.
Lalu pada tahun 1974, bulan Mei, te-
patnya tgl. 31 yayasan-yayasan yang
ada itu berkumpul dan dalam rapat
yang diadakan di Surabaya, dibentuklah
Badan Koordinasi Yayasan,
Yayasan
Kanker Indonesia.
Ini merupakan Badan
koordinasi yang tugasnya sebetulnya
mengkoordinasi kegiatan-kegiatan yang
ada. Ini sudah berusia 1 tahun lebih te-
tapi keadaannya, mati tidak, hiduppun
juga tidak. Kedua : bahwa perhatian
masyarakat pada masalah kanker itu
kelihatan makin meningkat. Kalau kita
baca majalah-majalah keluarga/wanita
seperti Femina, Kartini, Mutiara dsb,
terihat bahwa masalah kanker banyak
dibicarakan. Majalah Kartini misalnya,
memuat satu serial kisah seorang pende-
rita kanker. Disurat-surat kabar -demi-
kian juga. Dikalangan sarjana masalah
kanker juga banyak dibicarakan dalam
konggres-konggres. Dalam bulan Juni
yang lalu dalam konggres ahli-ahli
THT
Asia Pasifik di Denpasar dibahas juga
masalah kanker. Lalu ada konggres
ahli
patologi di Bandung bulan Agustus yll.
Kemudian Asian Cancer Conference di
Singapura.
Lalu bulan Oktober yll.
konggres ahli bedah - juga membahas
ini. Oleh karena itu kita anggap timing
nya sudah tepat dan masyarakat sudah
dihangatkan oleh masalah kanker - De-
mikianlah maka dalam bulan Januari
Cermin Dunia Kedokteran No. 6, 1976.
43
ini kita adakan Seminar Kanker Na-
sional.
Kemudian tentang tujuannya, sesuai
dengan tema yang kita ambil yaitu:
konsolidasi organisasi penanggulangan
penyakit kanker di Indonesia. Kita ingin
mencoba mengkonsolidasikan usaha-usa-
ha yang sudah ada dan selain itu supaya
dari pihak pemerintah ada suatu pedo-
man atau pengarahan. Yang memprakar-
sai Seminar adalah Unit Kanker
RSCM
bekerja sama dengan Badan Penelitian
dan Pengembangan Kesehatan Departe-
men Kesehatan.
CDK :
Bagaimana tentang peserta Se-
minar, dari mana saja mereka
datang ?
DR. SUDARTO :
Sampai
ditutup, jum-
lah semua peserta ada-
lah 170 orang. Mereka datang hampir
dari seluruh penjuru Indonesia, dari
Medan, Balige, Padang, Palembang, Ban-
jarmasin, Pakan Baru, Tomohon, Ujung
Pandarig, Denpasar dan kota-kota lain
di Jawa maupun diluar Jawa, dimana
ada rumah-rumah sakit yang cukup be-
sar. Peserta dari luar negeri tidak ada,
kecuali Prof.
VINK,
ahli bedah dari
Leiden yang kebetulan ada di Indonesia
ini. Memang kita tidak mengundang
tamu-tamu dari luar negeri karena mak-
sud kita adalah membenahi rumah tang-
ga sendiri dulu. Mungkin nanti dalam
Seminar kedua yang kita rencanakan
2 tahun lagi, akan kita undang peserta
dari luar negeri.
CDK :
Bagaimana tentang hasil Semi-
nar tersebut ? Apakah cukup
memuaskan ?
DR. SUDARTO :
Ya. Seperti yang kita
inginkan, Seminar te-
lah berhasil membentuk
YAYASAN
KANKER NASIONAL INDONESIA ,
dalam bahasa Inggrisnya
NATIONAL
CANCER FOUNDATION OF INDO-
NESIA .
Yayasan-yayasan kanker yang
telah ada akan bergabung dengan Yaya-
san ini. Ini merupakan suatu achieve-
ment yang cukup besar. Ketuanya be-
lum dipilih, tetapi telah ditetapkan Pa-
nitia Persiapan Pendirian Yayasan Kan-
ker Nasional ini yang harus menyusun
Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tang-
ga dan personalianya serta mengurus
akte notarisnya dsb. Kalau Yayasan ini
sudah terbentuk, maka nanti Badan
Koordinasi Yayasan-Yayasan Kanker di-
bubarkan. Ketujuh Yayasan yang ada
berjalan terus sebagai cabang dari Yaya-
san ini.
C D K:
Dapatkah dokter menerangkan,
sebenarnya masalah kanker di
Indonesia itu bagaimana ?
DR. SUDARTO :
Sebenarnya penyakit
kanker bukan penya-
kit yang baru. Dulu pada jaman Belan-
da, sebelum perang, di Bandung telah
ada suatu Institut, yaitu
Nederlands
Indische Kanker Institut ;
penyelidikan-
penyelidikan kanker telah dilakukan di-
sana. Tetapi kemudian perang pecah
dan institut itu terlantar. Jadi sudah
sejak dulu kanker menjadi bahan perha-
tian di Indonesia. Sekarang seperti kita
ketahui, ekonomi kita makin baik, taraf
hidup rakyat juga makin baik, maka
seperti dikatakan oleh Prof.
DRADJAD
(Dirjen Pelayanan Kesehatan)
dalam
prasarannya, life-span orang Indonesia
bertambah panjang. Ini berarti golongan
tua akan makin besar jumlahnya. Pada-
hal kanker sebetulnya penyakit pada
usia lanjut atau terbanyak dijumpai da-
lam usia lanjut. Jadi kalau golongan
penduduk yang mencapai usia lanjut
itu bertambah, sedang penyakit infeksi
makin berkurang, maka penyakit kanker
akan makin banyak dan makin sering
dijumpai. Masalah ini dinegara-negara
yang telah maju sudah menjadi penye-
bab kematian nomor 2 setelah penyakit
jantung dan pembuluh darah. Di Singa-
pura saja sudah mencapai nomor 2.
Di Indonesia pada Pelita I kanker ma -
sih menempati urutan penyebab kema-
tian ke 12 atau ke 13, tetapi sekarang
sudah meningkat menjadi yang keenam
atau ketujuh
(dirumah-rumah sakit).
CDK :
Sampai dimanakah taraf diag-
nosa dan pengobatan penyakit
kanker di Indonesia ? Apakah ketingga-
lan dalam kwalitas atau kwantitas ?
Sebab saya dengar alat-alat disini sudah
moderen
DR. SUDARTO :
Dalam soal diagnostik,
rumah-sakit besar se-
perti RSCM ini peralatannya sudah leng-
kap. Untuk kanker alat pencernaan mi-
salnya telah banyak dilakukan endosko-
pi, sehingga kita telah bisa mendiagno-
sis kanker lambung yang baru mulai,
kanker usus yang baru mulai dsb. Da-
lam diagnostik, yang sangat- penting
yaitu radiologi, alat-alat endoskopi dan
laboratorium patologi anatomi. Dalam
hal ini kita sudah cukup maju.
CURRICULUM VITAE
Nama
: SUDARTO PRINGGOUTOMO
Tanggal lahir : 19 Mei 1930
2 Mei 1959
:
Lulus sebagai dokter dari F K U I
1959 - 1960 : Tugas belajar di lapangan patologi pada
Univ. of California, Medical Center, San
Francisco, Calif. USA.
1961
: mendapat brevet ahli patologi
1962 - 1964 : Anggota sub-committee Gaographical Patho-
logy Pacific Area, U.I.C.C. ( International
Union Against Cancer ).
September
1965
: Mengikuti Special Graduate Course on Can-
cer for Physicians from the Far East and
Oceania di USA.
1965- 1975 : Sekretaris Lembaga Raearch Kanker Nasio-
nal Dep. Kes.
R.I.
1966- 1967 : Tugas belajar di lapangan kanker di Antoni
van Leeuwenhoek-huis, Nederland Kanker
lnstituut, Amsterdam.
1968 - 1970
: Ketua lDl cabang Jakarta.
1968
sekarang
: Kepala Bagian Research FKUI
1970- 1972 : Wakil Ketua Umum Pengurus Besar IDI
1972- 1974 : Ketua Umum PB IDI.
1971 - 1973 : Pembantu khusus Dekan bidang Adm./Keu.
1973-
sekarang
: Direktur Administrasi R.S. dr. Cipto Ma-
ngunkusumo, Jakarta.
1973 -
ration of Organizations for Cancer Research
and Control.
1973-
sekarang
: Anggota International Association for Com-
perative Research on Leukemia and Related
Diseases
Nopember
1975 - seka-
rang
:
Ketua Team Kanker RSCM
Kagiatan lain dibidang kanker
April 1962
: mewakili lndonesia dalam The First Con-
ference on the Biology of Cutaneous Cancer
di Philadelphia, U.S.A.
1966
: peserta 7
th
Conference of the British
Association for Cancer Research di Nattingham,
England.
April 1967 : peserta 2
nd
International Symposium on
the Biological CharaMerisation of Human
Tumom
di Roma, ltaly.
1968
: peserta 6
th
National
Cancer
Conference
di Denver, Cal., U.S.A.
1973
: peserta
VI
th
lnternational Symposium on
Comparative Research on Leukemia and
Related Diseases di Nagoya, Japan.
September
1973
: Peserta the First Asian Cancer Conference
Shima Tokyo, Japan.
Oktober 1974 : peserta
XI
th
International Cancer Congras
Florence, ltaly.
September
1975
: peserta 2
nd
Asian Cancer Conference Singa-
pore.
Januari 1976
Ketua Seminar Kanker Nasional I, Jakarta.
44
Cermin Dunia Kedokteran No. 6, 1976.
Anggota Executive Committee, Asian Fede-
Dalam masalah terapi, telah diterap-
kan metode-metode yang baru. Seperti
kita ketahui, terapi untuk kanker yang
terbaik masih cara operasi, dan penyina-
ran dengan Cobalt, Cesium dsb. Alat-
alat untuk ini sudah ada. Obat-obat
khemoterapi juga sudah tersedia di In-
donesia seperti Bleomycin dsb., tetapi
harga yang tinggi masih menjadi peng-
halang. Tiap ampul obat itu harganya
puluhan ribu rupiah.
CDK :
Bagaimana pandangan dokter
pribadi terhadap pengobatan
dengan cara-cara tradisionil seperti de-
ngan singkong, jamu, akupunktur dsb.
Apakah bidang-bidang tersebut menurut
dokter mempunyai potensi yang cukup
besar untuk lebih diperdalam lagi ?
DR. SUDARTO :
Secara pribadi, saya
menganggap
bahwa
pengobatan tradisionil seperti dengan
singkong, jamu-jamuan, dan dulu per-
nah dengan benalu teh, sebenarnya be-
lum bisa dibuktikan bahwa itu bisa
dipakai dalam pengobatan kanker. Sebe-
lum diperdagangkan, obat-obat khemo-
terapeutika yang ada sekarang ini telah
diselidiki selama bertahun-tahun untuk
mengetahui cara bekerjanya, rumus ki-
mianya, efek sampingnya dsb. Sebagai
contoh, obat Adriamycin yang akan
masuk di Indonesia ini, sebelum diaju-
kan dikonggres kanker internasional,
telah mengalami penelitian selama 7
tahun baru bisa dilempar dipasaran se-
bagai obat yang diperdagangkan dalam
bentuk cairan suntikan.
Mengenai singkong, yang akhir-akhir ini
ramai dibicarakan, secara ilmiah sebe-
narnya belum dapat dibuktikan bahwa
ini dapat dipakai sebagai cara pengobat-
an ; artinya sebagai obat yang setara
dengan obat-obat untuk kanker yang
telah ada dipasaran sekarang ini. Tetapi
terhadap kemungkinannya, apa mung-
kin bermanfaat atau tidak, ya bisa
saja diselidiki.
Singkong misalnya mengandung banyak
alkaloid. Apakah alkaloid ini bennan-
faat dan alkaloid mana yang tidak ber-
manfaat perlu diselidiki. Sebagai contoh
adalah obat vinblastin/vincristin. Ini ber-
asal dari Vinca rosea atau daun tapak
dara, alkaloidnya ada beberapa puluh
macam, akan tetapi yang dapat dipakai
untuk pengobatan leukemia jenis -
jenis kanker lain hanya sedikit, antara
lain vincristin dan vinblastin. Itu harus
diisolasi, kemudian diselidiki dengan le-
bih mendalam dengan binatang perco-
baan, clinical trials, dsb. baru dapat
diakui sebagai
obat untuk kanker.
Ini memakan beaya yang bukan main
besarnya. Jadi untuk sementara saya
kira perkembangan riset dibidang ini
masih akan menemui banyak kesulitan.
Setahu saya jamu-jamu kita belum ada
yang dapat dipakai untuk mengobati
kanker.
CDK :
Akhir-akhir ini saya mendengar
bahwa imunologi makin men-
dapat tempat yang lebih luas dalam
penanggulangan kanker
DR. SUDARTO :
Sekarang memang ten-
densinya para sarjana
mencari jalan dibidang imunologi ini.
Ada jenis-jenis kanker tertentu yang
secara imunologi dapat sembuh sendiri
misalnya Choriocarcinoma yang dulu
oleh Prof. Sutomo disebut sebagai mem-
punyai sifat self destruction . Di Eropa
dan Amerika telah dimulai apa yang
disebut imunoterapi, antara lain terha-
dap malignant melanoma.
CDK :
Nanti, seandainya
Yayasan
Kanker Nasional itu sudah ber-
jalan, tindakan-tindakan apa yang akan
dilakukan dalam bidang pencegahan pe-
nyakit kanker ?
DR. SUDARTO :
Memang mencegah le-
bih
baik
daripada
mengobati, dan semboyan ini berlaku
juga untuk kanker. Kanker kalau baru
dimulai, kemungkinan penyembuhan-
nya bisa 100%. Berbeda dengan penya-
kit lain, kanker tidak dimulai dengan
rasa nyeri dsb., maka biasanya pasien
datang dalam stadium yang sudah lanjut,
sudah terlambat dan tidak bisa disem-
buhkan lagi. Oleh karena itu yayasan
kanker swasta mempunyai tugas mem-
berikan penerangan kepada masyarakat
(public education) agar pasien tidak
terlambat datang berobat. Pameran yang
kita adakan bersamaan dengan Seminar
itu juga dalam rangka public-education
itu. Masyarakat harus diberi penerangan
tentang kanker, sebab sekarang ini kalau
mendengar perkataan kanker, mereka
seakan-akan mendengar
vonnis mati,
padahal tidak demikian.
CDK :
Sehubungan
dengan pendidi-
kan pada masyarakat, dalam
hal kanker paru paru, apakah tidak
dapat diterapkan disini apa-apa yang
telah dilakukan dibeberap
a negara lain
seperti mengharuskan ditulisnya peri-
ngatan
"ROKOK BERBAHAYA BAGI
KESEHATAN"
pada setiap bungkus ro-
kok ?
DR. SUDARTO :
Memang ini salah satu
usaha
pencegahan.
Tentu saja paling baik tidak merokok.
Dari statistik di Eropa dan Amerika
telah dibuktikan bahwa peristiwa kan-
ker paru-paru itu naik akibat pemakaian
rokok sigaret. Dikatakan bahwa pada
ujung sigaret yang terbakar, suhunya
sampai lebih dari 100°
C dan di-
ujung inilah terbentuk ter (tar). Kita
tahu hidrokarbon polisiklik ini memang
sifatnya karsinogenik. Akan tetapi peru-
bahan akibat merokok ini tidak terjadi
dalam seminggu dua minggu, setahun
atau dua tahun, tetapi dalam belasan
atau puluhan tahun. Sekarang misalnya
seorang yang berusia 20 tahun mulai
merokok dan ia menjadi heavy-smoker,
sehari merokok 2-3 bungkus; maka pa-
danya akan terdapat risiko yang lebih
besar untuk mendapat kanker paru-paru
pada usia 20 ditambah 15 atau 20 ta-
hun, yaitu sekitar 40 tahun. Karena
selang waktunya sekian lama, secara
psikologik sukarlah seseorang menerima
kenyataan bahwa yang menyebabkan
kankernya adalah merokok yang telah
dilakukannya
selama belasan tahun.
Jadi antara sebab dan akibat terdapat
selang waktu yang lama. Ini menyulit-
kan. Ada juga yang membantah bahwa
itu tidak apa-apa, buktinya Churchill
banyak merokok, tetapi ia dapat hidup
sampai tua tanpa menderita kanker.
Harus diingat juga bahwa kerentanan
terhadap kanker dipengaruhi juga oleh
spesies dan ras. Dinegeri kita belum
terbukti bahwa kanker paru-paru berhu-
bungan dengan merokok. Ini justru me-
rupakan tantangan bagi kita untuk me-
ngumpulkan data-data mengenai ini, apa
betul apa tidak.
Sebetulnya merokok itu tidak hanya
berbahaya karena menyebabkan kanker,
tetapi terutama juga menyebabkan pe-
nyakit jantung dan pembuluh darah.
Banyak kasus-kasus
yang meninggal
mendadak karena penyakit jantung. Bila
Cermin Dunia Kedokteran No. 6, 1976.
45
Kron: THE MANAGEMENT OF PATIENT
CARE Rp. 2.450,-; Hirsh: BUSINESS MA-
NAGEMENT OF A MEDICAL PRACTICE
Rp. 6.700,-; Wilson: TEXTBOOK OF ME-
DICINAL PHARMACEUTICAL CHEMIS-
TRY Rp. 9.450,-; Blakeborough: BIOCHE-
MICAL BIOLOGICAL ENGINEERING
SCIENCE VOL. 1. 2 Rp. 29.400,-; Hill:
PRINCIPLE OF MEDICAL STATISTIC Rp.
2.000,-; Holborrow: AN ABC OF MODERN
I MMUNOLOGY Rp. 1.200,-; Carter: AN
ABC OF MEDICAL GENETICS Rp. 1.200,-
Catt: AN ABC OF ENDOCRINOLOGY
Rp. 1.600,-; Brander: VETERINARY AP-
PLIED PHARMACOLOGY THERAPEU-
TICS Rp. 2.900,-; Cyriax: TEXTBOOK OF
ORTHOPAEDIC MEDICINE Rp. 20.000,-
Hirsh: THE EDUCATION OF EDWARD
KENNEDY Rp. 3.000,-;
Gligoric: THE
WORLD CHESS CHAMPIONSHIP Rp.
2.500,-; Gullain: THE JAPANESE CHA-
LENGE Rp. 2.500,-; Reingold: A WO-
MAN S DUIDE TO THE CARE FEED-
ING OF AN AUTOMOBILE Rp. 750,-;
Kim: CHINESE ZODIAC Rp. 600,-; Toefl
TEST 1975--76 Rp. 4.200,-; Hill: KNOW -
ING DRAWING TREES Rp. 1.300,-;
Hill: DRAWING PAINTING FLOWERS
Rp. 1.300,-; Hill: DRAWING PAINTING
FACES FIGURES Rp. 1.300,-; Hill:
DRAWING
PAINTING ARCHITEC-
TURE IN LANSCAPE Rp. 1.300,-; Hill :
SKETCHING AND PAINTING OUT OF
DOORS Rp. 1.300,-; Cinotti: THE NA-
TIONAL GALLERY OF ART OF WA-
SHINGTON ITS PAINTINGS 1975 Rp.
4.900,-;
Anzil: THE NATIONAL GAL-
LERY OF LONDON ITS PAINTINGS
1974 Rp. 4.900,-; Lecaldano: THE RIJKS-
MUSEUM OF AMSTERDAM ITS PAINT-
INGS 1973 Rp. 4.900,-
Rutgers: ENCYCLOPEDIA AVICULTURE
VOL I Rp. 12.800,-; VOL II Rp. 15.200,-;
Hoeher:
BIRDS EGGS AND NESTING
HABITATS Rp. 2.550,-; Lynch: CANA-
RIES IN COLOUR Rp. 2.000,-; Campbell:
BIRDS IN COLOUR Rp. 2.800,-; Rutgers:
THE HANDBOOK OF FOREIGN BIRDS
IN COLOUR VOL. I Rp. 2.550,-; VOL
II
Rp. 2.550,-; Allen: HOW TO RAISE
TRAIN PIGEONS Rp. 3.360,-; Williams:
THE FOX TERRIER Rp. 3.225,-; Smythe:
THE BREEDING AND REARING OF
DOGS Rp. 3.875,-; Schneider: DOGS OF
THE WORLD Rp. 8.125,-;
Frankling:
PRACTICAL DOG BREEDING AND GE-
NETICS Rp. 3.875,-; Todd: THE POPU -
LAR WHIPPET Rp. 3.225,-; Smythe: THE
PRIVATE LIFE OF THE DOG Rp. 3.250,-
Sheldon:
BREEDING
FROM YOUR
POODLE Rp. 1.275,-; Sheldon: POODLES
Rp. 1.275,-; Sheldon: CLIPPING YOUR
POODLE Rp. 1.275,-;
Graham:
THE
MATING AND WHELPING OF DOGS Rp.
3.225,-; Daglish: CARE AND TRAINING
OF YOUR PUPPY Rp. 1.275,-; Migliorini:
YORKSHIRE TERRIER
S
Rp. 1.275,-:
Herbert:
SHETLAND SHEEPDOGS Rp.
1.275,-; Dangerfield:
YOU AND YOUR
DOG Rp. 950,-; Stone: CLIPPING AND
GROOMING YOUR TERRIER Rp. 3.875, -
ditelusur kembali,
sering ditemukan
bahwa ia adalah seorang
heavy-smoker
Saya sendiri tidak merokok.
Tentang larangan merokok ini sulit
dilakukan karena di Amerika sendiri
pemerintah tidak melarang merokok,
tapi hanya memberi peringatan bahwa
merokok itu merugikan bagi kesehatan.
Sekarang terserah pada sipemakai apa-
kah ia mau dirugikan atau tidak. Yang
dapat dilakukan ialah paling-paling
me-
larang pemasangan iklan di TV. Larang-
an merokok diruang kuliah yang ber
AC, diruang konperensi, digedung bios-
kop dsb.
CDK :
Khusus untuk dokter-dokter
apakah tidak dapat dibuat la-
rangan merokok, sedikitnya larangan
dirumah sakit atau ditempat praktek,
karena beberapa ahli psikologi mengata-
kan bahwa contoh perbuatan adalah
alat pendidikan yang terbaik.
DR. SUDARTO :
Ini sulit, karena dok-
ter-dokter
banyak
yang merokok. Saya sendiri pernah me-
lihat dirumah sakit kanker di Amster-
dam, disitu tertulis larangan merokok,
tetapi justru dibagian radiologinya dok-
ter-dokternya banyak yang merokok.
Peraturannya ada tetapi sulit dilaksana-
kan. Sebenarnya ini karena merokok
itu merupakan kenikmatan juga, jadi
untuk menghilangkannya diperlukan pe-
ngorbanan.
Disamping itu secara ekonomis, nega-
ra kita adalah pengekspor tembakau
dan cukai yang didapat dari tembakau
ini besar juga. Dengan sendirinya larang-
an merokok akan menurunkan pengha-
silan negara.
Jadi dapat diajukan bukti-bukti bahwa
merokok itu merugikan kesehatan, teta-
pi semua terserah pada manusianya
sendiri.
CDK :
Adakah
pengalaman dokter
yang menarik dalam kasus-ka-
sus kanker, seperti penyembuh-
an spontan dsb ?
DR. SUDARTO :
Sebenarnya tidak ada.
Hanya saja dari kasus-
kasus kanker saya melihat suatu hal
yaitu bahwa sering keinginan seseorang
untuk hidup lebih lama itu besar seka-
li. Saya pernah melihat seorang pende -
rita kanker dimuka yang matanya sudah
tinggal satu dan mukanya sudah cacad
semua,
-
tapi ia tetap ingin hidup. Saya
juga pernah melihat kasus yang menga-
lami hemipelvektomi yaitu pemotongan
dari separuh panggul. Dapat dibayang-
kan bagaimana keadaannya. Tetapi ia
tetap hidup. Dengan sendirinya ini men-
jadi kebanggaan dokter yang merawat-
nya.
Seorang tetangga dibelakang tempat
praktek saya menderita kanker payu
dara. Ketika baru mulai sudah saya
anjurkan untuk dioperasi, tapi ia tidak
mau. Diobatinya sendiri dengan kom-
pres, jamu jamuan dsb. Tentu saja kan-
kernya tidak sembuh dan makin meluas.
Tetapi saya menghargai keuletannya un-
tuk menahan penderitaannya. Akhirnya
dia meninggal juga.
CDK :
Adakah pesan-pesan dari dok-
ter yang dapat saya sampaikan
pada semua pembaca CDK ?
DR. SUDARTO :
Saya hanya ingin agar
masyarakat lebih ba-
nyak memberi sokongan pada penderita-
penderita
kanker dengan membuka
dompet-dompet sokongan dalam maja-
lah dan surat kabar. Masyarakat kita,
terutama golongan yang mampu, saya
lihat masih sedikit sekali yang beramal ,
padahal uangnya sudah berlebih-lebihan.
Sulitnya, dalam beramal, seseorang itu,
diakui, atau tidak, pasti mempunyai
motivasi tertentu, dan kalau ia
tidak
melihat hasilnya tentu ia segan
memberi.
Kesulitan lain ialah bahwa orang segan
menjadi donator karena takut dikejar-
kejar oleh petugas pajak. Misalnya se-
orang donator bersedia memberi uang
1000.000,- rupiah, dan petugas pajak
mendengamya, pasti si donator akan
diselidiki penghasilannya.
Jawaban-jawaban
Ruang Penyegar dan
Penambah llmu Kedokteran
1. ( C)
6. (
A B C )
2.
(A)
7. (A B C
)
3.
(D)
8. (A B C D)
4.
(C)
9. (A B C D)
5.
( B)
10. (ABC)
46
Cermin Dunia Kedokteran No. 6, 1976.