UNIVERSITARIA
Cermin Dunia Kedokteran akan memulai suatu tradisi bara dengan
mengetengahkan tokoh-tokoh nasional dalam bidang kesehatan yang menurut
hemat kami dapat ditiru oleh dokter-dokter dan mahasiswa-mahasiswa dalam
pengabdiannya kepada masyarakat dan prestasinya dalam bidang akademi.
Untuk kali ini telah dipilih
PROF. SARWONO PRAWIROHARDJO,
seorang
gurubesar dalam bidang obstetri/ginekologi yang kini telah mengundurkan
diri dari kegiatan akademik. Beliau sekarang sedang ikut menulis dan me-
nyusun sebuah buku pelajaran ilmu obstetri/ginekologi.
Dalam wawancara ini dapat saudara baca pengalaman-pengalaman
beliau selama berbagai jaman yang menarik sekali dan berisi pelajaran-
pelajaran, sedangkan pandangan hidup beliau, khususnya tentang ilmu
kedokteran, patut direnungkan.
REDAKSI
Prof. Sarwono Prawirohardjo
C D K . Professor tentu sudah mem-
baca alasan-alasan
C
DK
un-
tuk memilih professor da-
lam penyorotan suatu tokoh kedokteran
dalam majalah kita. Marilah kita mulai
dengan biografi professor dulu untuk
kemudian dilanjutkan dengan yang lain-
lain.
Apakah prof dapat menceritakan do-
rongan-dorongan apa yang membuat
prof memilih jurusan kedokteran yang
kemudian disusul dengan jurusan khusus,
yaitu bidang kebidanan?
PROF. SARWONO : Sebetulnya saya tidak
memilih sendiri untuk men-
jadi dokter.
Dalam jaman
Belanda, waktu saya masih kecil, supaya
bisa masuk yang dinamakan Europesche
Lagere School
(ELS),
orang tua saya
harus mengajukan permintaan supaya
saya diijinkan masuk sekolah tersebut,
Cermin Dunia Kedokteran No. 5, 1975.
3 9
supaya kelak bisa meneruskan pelajaran
kesekolah dokter yang pada waktu itu
adalah STO V IA. Jadi tujuan atau maksud
untuk menjadi dokter itu sebenarnya
sudah ditetapkan waktu umur 6 tahun
dan tidak oleh saya sendiri, tetapi oleh
orang tua saya.
Setelah saya lulus dari sekolah dasar
(ELS)
kemudian saya diterima sebagai
murid S
TO
VIA.
Saudara tahu sendiri,
sekarang gedungnya ditetapkan sebagai
monumen nasional, karena disitulah lahir
dan hidup gerakan nasional, antara lain
Budi Utomo.
Mula-mula gedung asrama
bersamaan dengan gedung sekolah, akan
tetapi kemudian sekolahnya dipindah
ke Salemba dengan teaching hospitalnya
di
CBZ
dan gedungnya tetap dipakai
sebagai asrama.
Kehidupan diasrama itu ternyata sa-
ngat berguna bagi para siswa yang tinggal
disitu. Pertama, karena menimbulkan
korps-geest yang kuat. Selain dari pada
itu, berdasarkan tradisi sejak dulu, itu
merupakan tempat dimana gerakan-ge-
rakan pemuda hidup dengan subur. Pada
waktu itu para pemuda masih terbagi
dalam berbagai golongan, misalnya
Jong
Java, Jong Sumatra, Jong Ambon
dan
lain-lain; jadi belum menjadi satu, men-
jadi Indonesia Muda. Itu baru kemudian
setelah saya hampir lulus, dan perkum-
pulan-perkumpulan itu
menjadi satu.
Sebagai orang yang berasal dari Jawa,
saya menjadi anggota dari Jong Java dan
malahan beberapa tahun menjadi anggota
pengurus besarnya, dan selama I tahun
juga pernah menjadi ketua pengurus
besar. Jadi disitu dipupuk
korps-geest,
dipupuk rasa kebangsaan dan juga di-
pupuk rasa sosial, untuk memikirkan
juga hal-hal lain diluar pelajaran.
6 tahun saya menjadi pelajar di
STO V IA
dan dalam tahun I929 saya lulus sebagai
Indische Arts. Sesudah itu saya bekerja
selama 2 tahun dibagian Penyakit Dalam
di
CBZ
ini, akan tetapi sering juga men-
dapat pekerjaan diluar; jadi tidak sebagai
asisten tetap.
Dan tahun 193I, saya ditempatkan se-
bagai dokter pemerintah di Tanjung
Pinang, di Riau. Disitu saya merasa bah-
wa pendidikan saya di
STOVIA,
tidak
saja sebagai dokter tetapi juga dalam
bidang-bidang lain, ternyata banyak ber-
guna oleh karena dokter ditempat yang
kecil memang dianggap sebagai salah
satu natural leaders oleh masyarakat
setempat. Disitu saya bekerja kira-kira
3 tahun, kemudian saya dipindahkan ke
Cireban untuk memimpin
Rumah Sakit
Bersalin Pamitran.
Ini adalah suatu ru -
mah sakit yang menjadi pusat dari usaha-
usaha kebidanan dalam kabupaten Ci-
rebon.
Didistrik-distrik didalam kabu-
paten itu terdapat bidan-bidan yang
ditempatkan dan semuanya dipimpin
dan diberi bimbingan oleh direktur RS
Pamitran. Dengan demikian maka kasus-
kasus yang abnormal/patologis diselesai-
kan dokter itu sendiri atau dibawa ke-
rumah sakit. Sebetulnya, itu buat saya
pada permulaan merupakan beban yang
sangat berat, oleh karena seorang dokter
yang diberi pendidikan umum harus
dalam waktu singkat menyelesaikan ka-
sus-kasus dalam bidang kebidanan yang
cukup sulit. Tetapi seperti sering kali
terjadi,
'Met het werk, komt de
liefde".
Setelah tinggal di Cirebon beberapa
tahun, maka saya merasa perlu men-
dapat pimpinan supaya dapat lebih maju
dalam bidang ini. Kebetulan dapat di-
usahakan bahwa Professor Toha yang
dulu
menjadi asisten di CBZ
selesai
dengan pendidikannya dibawah Professor
Remmelts dan kita mengadakan per-
tukaran; Beliau bekerja di Cirebon dan
saya ditempatkan sebagai asisten di
csz
ini dibawah pimpinan Professor Rem-
melts. Sementara itu dalam tahun I939,
sambil melakukan pekerjaan untuk spe-
sialisasi, saya juga berhasil memperoleh
ijasah Arts pada
Geneeskundige Hoge
School
(GHS) yang pada waktu itu sudah
menggantikan
STOVIA.
Demikian keadaannya pada jaman Be-
landa.
Jaman Jepang
Jepang mulai masuk pada perang
dunia ke II dalam bulan Desember I94I,
dan tak lama kemudian Indonesia di-
duduki oleh pihak Jepang. GHS ditutup.
Gurubesar-gurubesar dan dokter-dokter
Belanda diinternir. Kemudian dikirim
satu team dokter dari Jepang yang se-
benarnya dapat dikatakan termasuk ahli-
ahli kelas II. Sebenarnya pengetahuan
kita tidak kurang dari pada mereka.
Sering kali terjadi kesulitan dengan me-
reka. Untung tanpa banyak korban dari
pihak kita, mereka dikembalikan dan
dikirimkan team baru yang jauh lebih
baik. Pada waktu itu yang memimpin
usaha di
CBZ CBZ s
ini adalah Dr. Halim.
Pada tahun I943 dibuka lagi sekolah
dokter dengan team baru tadi yang
jauh lebih baik. Dibuka juga Perguruan
Tinggi Farmasi dan Perguruan Tinggi
Kedokteran Gigi. Saya masih ingat bahwa
pada waktu itu yang menjadi pemimpin
dari gabungan ini yang dinamakan Ba-
lai Pengajaran Tinggi
(BPT)
dan yang
ditempatkan dibawah Departemen Ke-
sehatan dari pihak Jepang adalah Prof.
Itagaki, saudara dari Jenderal Itagaki
yang terkenal.
Prof. Itagaki ini seorang yang sangat
baik dan dapat dikatakan melindungi
kita, sebab saudara tentu tahu tentang
kebuasan Kenpetai pada waktu itu.
Dari pihak Indonesia, juga ada yang ikut
maju kedepan. Difakultas Kedokteran,
Prof. Sutomo, Prof. Slamet Iman Santoso
dan saya; di CBZ ialah dr. Halim; di
Eyckmann Institute Prof. Mochtar yang
kemudian dibunuh oleh pihak Jepang.
Berkat perlindungan dari Prof. Itagaki
tadi kita semua selamat, hanya Prof.
Mochtar yarig karena suatu peristiwa,
ditangkap oleh Kenpetai dan kemudian
dibunuh.
17 Agustus I945
Kita mengambil oper
CBZ,
perguruan
tinggi dan sebagainya dari pihak Jepang.
Saya mendapat kehormatan untuk men-
jadi pemimpin BPT yang meliputi 3
perguruan tinggi tadi, sekaligus merang-
kap sebagai kepala Perguruan Tinggi
Kedokteran. Sementara itu oleh Peme-
rintah RI, saya diangkat sebagai guru-
besar. Pada waktu sekolah kedokteran
dibuka oleh pihak Jepang, saya dijadikan
asisten-professor.
Kita sekarang memasuki jaman baru,
jaman perjuangan antara tahun 1945-
I960. Pada waktu itu kita sudah merasa,
bahwa lambat laun kedudukan kita di
Jakarta tidak bisa dipertahankan lagi.
Maka sebagian dari fakultas kedokteran
dipindahkan ke Yogya dan Klaten, dan
dugaan kita ternyata benar. Pada suatu
waktu fakultas kedokteran diduduki
kembali oleh pihak Belanda yang men-
dirikan lagi
GHS ,
dan
CBZ
B
Z
diduduki pula.
Kami masih berusaha untuk memberi
kuliah dirumah, akan tetapi tentu itu
sangat sulit. Dalam perkembangan se-
lanjutnya, pada akhir tahun I949 ter-
capai persetujuan antara pihak Belanda
dan pihak Indonesia, dan kemerdekaan
Indonesia diakui oleh seluruh dunia.
Pada waktu itu saya sudah merasa
bahwa saya perlu memusatkan perhatian
saya pada jabatan saya sebagai gurubesar
dalam bidang kebidanan. Jadi jabatan-
jabatan yang lain saya serahkan kepada
orang-orang lain, dan saya memusatkan
perhatian saya dalam pengembangan ba-
gian
Kebidanan Fakultas Kedokteran
Indonesia.
Sementara itu dunia ilmu pengetahu-
an mengalami banyak kesulitan oleh
4 0
Cermin Dunia Kedokteran No. 5. 1975.
Curriculum Vitae.
N a m e
DR.SARWONOPRAWIROHARDJO
Place and date
of birth
:
Solo (Surakarta), 13 March 1906
Marital status :
married, 4 children
Career
1929
:
Graduated "cum )aude" from the "Sehool
voor lndische artsen" (School for lndies
Physicians) at Batavia (Jakarta)
1929 -- 1931 : Assistant in the Department of lnternal
Diseases, General Hospital, Jakarta.
1931 -- 1934 : Government lndies-Physician at Tanjung
Pinang (Residency of Riau)
1934 -- 1937 : Appointed as Head of the Pamitren
Maternity Hospital Cheribon, West Java.
1937 -- 1940 : Resident in Obstetrics and Gynecology at
the Department of Obstetrics and Gynaeco-
logy, General Hospital, Jakarta. Whi)e
serving as Resident, graduated
"
cum )aude
"
as M.D. at the Co)lege of Medicine, Jakarta.
1940
:
Received recognition as Specialist in Obste-
trics and Gynecology.
1943 -- 1945 : Assistant-Professor in Obstetrics and Gy-
naecology, College of Medicine ( during
Japanese occupation).
1945 -- 1963 : Professor of Obstetrics and Gynaecology,
Repub)ic of lndonesia Co))ege of Medicine
(after dec)aration of independence) and
Head of the Department of Obstetrics and
Gynaecology. From 1950 on, the Co))ege
of Medicine became the Faculty of Medicine
of the University of lndonesia.
1945 -- 1947 : Head of the Balai Pengajaran Tinggi,
comprising 3 faculties, and Dean of the
Co))ege of Medicine, Jakarta.
1956 -- 1967 : Chairman of the Executive Board, Council
for Sciences of lndonesia.
1962 -- 1966 : Assistant-Minister of the Ministry of Nati-
ona) Research, which was founded in 1962,
but abolished in 1966.
1967 -- 1973 : Chairman of the Executive Board of the
lndonesian lnstitute of Sciences, which was
established by merging the Council for
Sciences of lndonesia and the organization
of the former Ministry of National Research.
Other aetivities:
1945 -- 1946 : Member of the )ndonesian Provisional
Parliament.
1946 -- 1949 : Chairman, Committee for Higher Education
of the Repub)ic of lndonesia.
1951 -- 1958 : Vice-Chairman, Advisory Committee for
the estab)ishment of a Higher Education
Act.
1951 -- 1955 : Member, Advisory Panel on Meternal and
Child Heelth of the WHO.
1952 -- 1953
Chairman, lndonesian Medical Association.
1954 -- 1963 :
Chairman, lndonesian Society of Obstetrics
and Gynaeco)ogy.
1958 -- 1962 : Vice Chairman, lnternationa)
Advisory
Committee on Research in the Natural
Sciences Program of UNESCO.
1963 -- 1968 : Member Executive Committee "
lnternational Council of Scientific Unions" (lCSU)
1965
Fellow
"Wor)d
Academy of Arts and
Sciences
"
.
1966 -- 1970 : Chairman, Executive Board lndonesian
P)anned Parenthood Association
1967 -- 1970 : Member "lCSU Committee on Science and
Techno)ogy in Deve)oping Countries".
1970 -- 1972 : Member U.N. Advisory Committee on the
app)ication of Science and Technology to
Development.
1970 -- 1971
Member Board of Trustees of the National
Coordinating
Organization
on Fami)y-
Planning".
1971
:
Honorary Life Fellow of the Pacific Science
Association.
karena sebagian besar tenaga-tenaga ilmi-
ah, terutama dalam bidang penelitian,
itu adalah orang Belanda atau orang
asing. Jadi kita sangat kekurangan tenaga
peneliti. Oleh karena itu, pendidikan
dalam segala tingkat mendapat prioritas
tinggi, termasuk juga pendidikan tinggi
dan periu juga mulai dibangun lagi ke-
mampuan kita dalam bidang penelitian.
Saya tertarik oleh pekerjaan itu, dan
setelah diadakan beberapa persiapan,
dalam tahun I956 dibentuk suatu badan
baru : Majelis Ilmu Pengetahuan Indo-
nesia
(MIPI)
dengan tujuan memajukan
usaha-usaha ilmu pengetahuan di Indo-
nesia. Tentu saja pekerjaan ini pekerjaan
jangka panjang, oleh karena tenaga ku-
rang, pengertian
orang-orang tentang
perlunya penelitian juga kurang, maka
usaha kita terutama adalah memberi
penyuluhan dalam segala bidang. Kita
telah mencapai suatu kemajuan dalam
hal bahwa Presiden Sukarno pada suatu
waktutelah mengambil keputusan untuk
mendirikan Departemen Urusan Research
Nasional, yang diketuai oleh Prof. Dju-
ned Pusponegoro.
Dengan jatuhnya Presiden Sukarno
dan bubarnya kabinet I00 menteri, ma-
ka Departemen Urusan Research Nasio-
nal dibubarkan juga dan diganti menjadi
Lembaga Research Nasional
(LRN).
Jadi
pada waktu itu ada 2 badan yang bekerja
dalam bidang memajukan ilmu penge-
tahuan:
LRN
dan
MIPi.
Maka oleh
Presiden Suharto, dalam tahun I967
telah diambil keputusan untuk meng-
gabungkankedua badan ini menjadi
LIPI
yang dijadikan suatu lembaga non-de-
partemen. Barangkali saudara juga tahu
bahwa disamping departemen-departe-
men, ada juga sejumlah lembaga non-
departemen yang langsung ditempatkan
dibawah Presiden.
Dalam perkembangan lebih lanjut,
makin lama makin besar keinsāfan mas-
yarakat tentang pentingnya ilmu pe-
ngetahuan untuk pembangunan Indo-
nesia. Tenaga-tenaga .peneliti juga makin
bertambah dan dalam tahun I973, de-
ngan pembentukan kabinet baru, di-
angkat juga seorang menteri untuk riset
yaitu Prof. Sumitro.
Sementara itu saya sendiri sudah da-
pat dikatakan sudah waktunya untuk
mengundurkan diri. Maka dalam bulan
September I973 saya diijinkan berhenti
sebagai ketua
LIPI
dan memasuki masa
pensiun yang telah mulai sejak permula-
an bulan Desember yang lalu.
Saya juga pernah menjadi ketua pe-
ngurus besar
IDI
selama I tahun (I952--
I953) dan juga pernah beberapa lama
menjadi salah satu pendiri dan ketua dari
Perkumpulan Obstetri Ginekologi Indo
nesia (POGI).
Dalam bidang Internasional, saya telah
memangku beberapa jabatan yang ter-
cantum dalam daftar riwayat hidup.
Begitu pula dibidang nasional, saya telah
menjadi anggota dari berbagai badan
yang didirikan untuk keperluan perguru-
an tinggi. Selain dari pada itu saya juga
telah mendapat kehormatan untuk men-
jadi Fellow dari
'World Acddemy of
Arts and Sciences' dan menjadi Honora-
ry Life Fellow of the Pacific Science
Association
'
, yaitu suatu perkumpulan
ilmiah yang anggota-anggotanya terdiri
dari negara-negara disekitar samudera
Pacific.
Itulah secara singkat apa yang ingin
saya kemukakan. Kalau saudara masih
ingin mengajukan beberapa pertanyaan,
saya persilahkan.
C D K : Apa-apa yang telah saya dengar
tadi mengesanken sekali dan
saya kira tidek banyak dokter muda
yang mengetahui hal ini. Saya kira ini
dapat dipakai untuk para pemuda untuk
lebih memahami mengapa seseorang da-
pat menjurus dan terus cinta pada se-
buah keahlian yang sebelumnya tidak
dipilih dan dipikirkan sama sekali. Me-
narik sekali pengalaman selama 3 jaman
tadi. Apakah Professor dapat mengurai-
kan secara singkat filsefah hidup Prof
Sarwono ?
PROF. SARWONO : Secara singkat, fil-
safah
hidup saya
ialah
PERTAMA
kalau
mengerjakan
suatu pekerjaan, hendaknya dikerjakan
sebaik-baiknya. Oleh karena itu maka
waktu menjadi asisten disini, sampai ja-
man Jepang, saya tidak menjalankan
praktek diluar pekerjaan saya dirumah
sakit. Saya menganggap bahwa hal itu
akan mengurangi waktu untuk bekerja
didalam bidang saya. Hanya waktu;ja-
man Belanda, karena bisa dikatakan saya
tidak
ada penghasilan, terpaksa saya
mulai menjalankan praktek.
Cermin Dunia Kedokteran No. 5, 1975.
4 1
Sebagai gurubesar saya juga pernah me-
larang dokter-dokter yang bekerja se-
bagai asisten untuk berpraktek sebelum
mereka mendapat brevetnya. Akan te-
tapi sikap ini tidak dapat dipertahankan
terus dan pada suatu waktu terpaksa
dilepaskan karena memang gaji tidak
mencukupi dan sebagainya. Terpaksa
prinsip itu saya lepaskan! Tetapi sebetul-
nya kalau nanti keadaan mengijinkan,
saya kira itu prinsip yang baik bahwa:
orang yang mau menjadi ahli dalam satu
bidang, hendaknya mencurahkan sepe-
nuh waktunya untuk bidangnya tadi.
Malahan barangkali saudara tahu bahwa
dibeberapa negara, misalnya di Singapura,
dokter-dokter yang bekerja pada rumah
sakit pemerintah dilarang berpraktek.
Jadi praktek itu hanya dilakukan oleh
dokter-dokter swasta. Tetapi saya tahu
bahwa hal itu ada juga keberatannya,
oleh karena dokter-dokter yang baik
lantas meninggalkan pekerjaan pemerin-
tah. Salah satu hal yang saya anggap
penting ialah bahwa apabila orang itu
mau menjalankan pekerjaan, hendaknya
dijalankan sebaik-baiknya. Kalau tidak
lebih baik jangan.
KEDUA
ialah bahwa seorang dokter
itu harus sadar akan fungsi sosialnya,
apalagi dalam bidang kebidanan. Obstetri
sosial adalah suatu bagian yang penting
untuk seorang ahli kebidanan. Selain
dari pada itu, ditempat-tempat kecil
dokter itu merupakan salah satu pe-
mimpin dari pada masyarakat. Sekarang
dengan bertambahnya tenaga para sarjana
Iain, mungkin ini menjadi berkurang,
tetapi dulu sewaktu jumlah insinyur dan
tenaga-tenaga lain masih kurang sekali,
kadang-kadang ditempat yang kecil itu,
akademikus hanyalah seorang dokter.
Dengan sendirinya masyarakat ditempat
itu melihat
kepadanya untuk memberi
pimpinan. Sehubungan dengan ini, saya
masih ingin mengajukan suatu hal. Saya
merasa bahwa pekerjaan saya diluar ru-
mah sakit besar, pertama di Tanjung
Pinang, kemudian di Cirebon, bermanfa-
at sekali dalam melaksanakan tugas saya
sebagai seorang pendidik. Saya menge-
tahui keperluan praktek. Dengan demi-
kian pendidikan dalam kebidanan (yang
saya lakukan waktu saya masih aktip
dalam bidang itu) dilakukan dengan
mengingat apa yang nanti akan mereka
hadapi dalam praktek itu. Saya sendiri
berpendapat bahwa untuk dokter-dokter
yang akan bekerja diklinik, kiranya ada
baiknya bila sebelum mengadakan spe-
sialisasi,
bekerja dulu sebagai dokter
umum.
FILSAFAH HIDUP YANG LAIN
ialah
dalam bidang pembangunan. Bidang di-
mana kita bisa ikut itu sangat luas. Bi-
dang kita tentunya bidang kedokteran.
Akan tetapi harus diingat bahwa pekerja-
an ini tidaklah terutama untuk menca-
ri uang, melainkan untuk mencari ke-
puasan hidup; bahwa kita bisa mem-
bantu sedikit dalam usaha-usaha dalam
bidang kesehatan. Saya kira yang paling
penting dalam segala hal itu ialah bahwa
orang yang bekerja itu merasa puas akan
pekerjaannya dan mempunyai kegembi-
raan dalam pekerjaannya.
C D K: Bagaimana pandangan Professor
mengenai perkembangan ilmu
kedokteran di Indonesia?
PROF. SARWONO :
Indonesia mempu-
nyai penduduk yg
besar, sekarang paling sedikit sudah I25
juta dan terbagi oleh begitu banyak pu-
lau. Jadi kita harus mencari suatu sistem
pelayanan masyarakat yang mampu di-
bayar oleh negara, tetapi yang mempu-
nyai efek yang besar juga terhadap
seluruh masyarakat, khususnya masya-
rakat desa. Dengan demikian, salah satu
hal yang penting ialah bagaimana tenaga-
tenaga bisa disebar luaskan. Mungkin
pengetahuannya tidak perlu terlampau
tinggi, akan tetapi ia harus dapat me-
layani sebagian besar kebutuhan orang
banyak. Dalam hal ini saya ingat kepada
THE BARE FOOT DOCTORS
di
RRC.
Te-
tapi tentunya kita juga tidak boleh ter-
lampau terbelakang. Jadi perlu ada pusat-
pusat (tak perlu terlalu banyak) dimana
ilmu kedokteran yang paling maju bisa
dipraktekkan, misalnya saja dalam bi-
dang heart-surgery. Tapi yang pokok
ialah bagaimana bisa melayani masya-
rakat.
CDK : Apakah ada pengalaman yang
paling berkesan bagi Professor
dan juga yang meninggalkan
bekas ?
PROF. SARWONO :
Banyak,
mungkin
terlalu banyak un-
tuk disebut. Barangkali ini baik diajukan.
Dalam tahun I945, pernah diikuti suatu
hal yang telah dilakukan oleh pemerin-
tah dalam jaman Belanda. Dulu waktu
ada epidemi/wabah pes di Jawa, maha-
siswa-mahasiswa kelas tertinggi diberi
ijasah tanpa ujian. Dalam tahun I945
dilakukan tindakan serupa. Mengingat
keperluan tenaga-tenaga untuk tentara
nasional kita yang sedang dibangun, ma-
ka diambil keputusan untuk memberi
ijasah tanpa ujian pada mahasiswa-maha-
siswa kelas tertinggi. Ternyata mereka
dalam prakteknya tidak ada bedanya
dengan dokter-dokter lain. Jadi kita
juga tidak kecewa dengan tindakan demi-
kian itu, dan ini merupakan pertolongan
yang besar bagi tentara/ABRI kita.
CDK : Bagaimana dengan keluarga
Professor?
PROF. SARWONO :
Tahun I932 saya
kawin. Saya punya
4 anak. Yang pertama isteri Prof. Kun-
tjaraningrat (Antropolog). Yang kedua
isteri
anak almarhum Prof. Kapitan.
Beliau adalah gurubesar paru-paru pada
Universitas . Airlangga, teman sekolah
saya. Menantu saya ini sekarang bekerja
di bank. Yang ketiga adalah anak laki-
laki satu-satunya. Ia menjadi arsitek dan
ikut mendisain gedung yang aneh di
Senayan itu (Executive Club). Anak
yang keempat seorang wanita, sarjana
dari
ITB
dalam bidang seni rupa. Ayah
ibu saya sudah meninggal.
CDK : Mengenai ayah dan ibu Professor,
apekah mereka mempengaruhi
jalan hidup Professor ?
PROF. SARWONO :
Saya kira sangat
mempengaruhi -ja-
lan hidup saudara-saudara saya dan saya
sendiri. Bagaimanapun kita hidup dalam
suatu keluarga dengan suasana yang sa-
ngat baik; jadi dengan demikian maka
itu sangat membantu saudara-saudara
saya dan saya dalam kelanjutan hidup
kita. Bapak saya seorang guru.
CDK : Terima kasih untuk kesempatan
wawancara ini, Professor.
Jawaban-jawaban
Ruang Penyegar dan
Penambah llmu Kedokteran
1.
( D)
6. (E)
2.
( A)
7. (E)
3.
( A)
8. (C)
4.
(D)
9. (A)
5.
( C)
10. (B)
4 2
Cermin Dunia Kedokteran No. 5, 1975.