Sanitasi Rumah Susun
di Beberapa Lokasi di DKI Jakarta
Riris Nainggolan, Djarismawati
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Departemen Kesehatan RI, Jakarta
ABSTRAK
Penelitian ini dilakukan dengan observasi rumah, pemeriksaan laboratorium 90
sampel air minum dan wawancara terhadap 390 orang responden, bertujuan untuk
mengetahui kualitas air minum dan sanitasi rumah susun di Pulomas dan Klender,
Jakarta.
Dad hasil penelitian diketahui bahwa sebagian besar penghuni rumati susun (88,2%)
menyatakan membuang sampah setelah dibungkus plastik agar tidak berceceran; ini
merupakan sikap positif dalam mengatasi kerumunan lalat pada sampah. Dari hasil
observasi diketahui bahwa sebagian besar penduduk menyediakan dan menggunakan
tempat sampah yang memenuhi syarat.
Mengenai penyediaan air, apabila air dari kran tidak lancar, mereka bersedia meng-
ambil air pompa umum di sekitirnya atau dad tetangga. Hasil pemeriksaan laboratorium
menunjukkan bahwa beberapa sampel air minum tidak memenuhi syarat. Dari kualitas
air yang diperiksa diketahui bahwa pencemaran sudah mulai terjadi pads reservoir dan
ground tank. Air minum ini tidak memenuhi syarat, baik dari segi kimiawi maupun
bakteriologik.
Sebanyak 145 responden (37,2%) menyatakan adanya bau yang mengganggu ter-
utama dari WC/septic tank (70 responden).
Sebagian besar penghuni menyatakan senang tinggal di rumah susun karena ling-
kungan yang menyenangkan, dekat sarana tempat umum serta transportasi mudah.
Namun ternyata sebanyak 65,4% masih ingin pindah apabila ada nrmah yang lebih
menyenangkan.
Dad hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penyediaan air minum dan sarana
sanitasi lainnya masih kurang baik, belum sesuai dengan tujuan meningkatkan mutu
kehidupan masyarakat berpenghasilan rendah dengan lingkungan kota yang bersih.
Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang hal yang mendorong pengelolaan
lingkungan rumah susun yang sehat dan lebih sesuai.
PENDAHULUAN
Perbaikan lingkungan pemukiman di kota-kota yang ber-
tujuan meningkatkan mutu kehidupan golongan masyarakat
berpenghasilan rendah antara lain melalui pembangunan rumah
susun; hal tersebut jugs untuk mempertahankan daya dukung
kota dan menciptakan lingkungan pemukiman yang sehat.
Disampaikan dalam Seminar IAKMI, Bandung September 1992.
Menurut perkiraan dalam Pelita V penduduk ibukota Jakarta
akan mencapai jumlah 15 juta jiwa; salah satu pengaruhnya
adalah menyangkut perumahan yang layak bagi semua lapisan
masyarakat untuk mencapai kesehatan yang memadai. Apabila
kebutuhan tersebut harus dipenuhi maka diperlukan 3 juta unit
rumah
(1)
. Sebagai terobosan untuk memenuhi kebutuhan peru-
mahan tersebut dibangun rumah susun (sewa) di beberapa lokasi
di Jakarta dan masih akan dikembangkan pada masa-masa
mendatang.
Di lain pihak, dari berbagai pengalaman di rumah susun
Klender yang sudah dibangun dengan modal yang cukup besar
itu ternyata kualitas air minum yang digunakan penghuninya dan
sanitasi rumah susun kurang baik
(2)
.
Makalah ini menyajikan hasil penelitian di lokasi Klender
dan Pulo Mas.
TUJUAN
Mengetahui kualitas air minum dan sarana sanitasi lainnya
(dalam hal ini sarana pembuangan kotoran, sampah dan
penyediaan air minum yang terdapat di rumah susun di DKI
Jakarta.
METODOLOGI
Sampel diambil secara proporsional dengan metode sys-
tematic random sampling masing-masing 200, 60 dan 140 untuk
rumah susun Klender, Pulo Man dan Kebon Kacang.
Data yang dikumpulkan mencakup data primer dari pen-
duduk (wawancara tentang perilaku terhadap rumah susun dan
sarana sanitasi), pemeriksaan laboratorium kualitas air minum
(90 sampel) berdasarkan Standard Method APPHA, AWWA,
observasi sistim perpipaan dan sarana kesehatan lingkungan.
Respondennya adalah ibu-ibu rumah tangga dengan pewawan-
cara dari Akademi Penilik Kesehatan yang sudah dilatih terlebih
dahulu, baik di Puslit Ekologi Kesehatan maupun lapangan.
Selain itu dilakukan pula pemeriksaan kualitas sampel air
minum dari rumah-rumah baik dari segi bakteriologik maupun
dari segi kimiawi berdasarkan Standard Method APHA,
AWWA.
HASIL
Penyediaan air bersih (air minum)
Penyediaan air di rumah susun ini adalah dari PAM Puk,
Gadung (Mender dan Pulo Mas) yang ditampung dalam ground
tank. Dari ground tank dialirkan ke reservoir atas yang ada di
setiap blok, kemudian didistribusikan ke setiap unit rumah.
Kualitas air minum
I) Klender :
Sampel-sampel air yang diperiksa di kompleks rumah
susun Mender adalah 40 sampel yakni 1 (satu) sampel dari
intake ground tank dan 1 (satu) dari ground tank, 12 (dua
belas) dari reservoir dan 26 (dua puluh enam) dari rumah
tangga.
Kualitas sampel air dari reservoir blok di Mender ternyata
4 sampel (Blok 20, 49, 63 dan 73) mengandung nitrit (NO
2
)
berkisar antara 0,015 0,112 mg/1(Tabel 1).
Tabel 1. Parameter Kimiawi Air Minum yang Menyimpang di Rumah
Susun
Mender
1989
Lokasi/Blok Reservoir
Hasil Pemeriksaan Nitrit
(dalam mg/1)
20
49
63
78
0,075
0,112
0,015
0,027
Berdasarkan pemeriksaan bakteriologik ada 22 (dua puluh
dua) sampel yang tidak memenuhi syarat, masing-masing 1
(satu) sampel air dari dalam ground tank, 7 (tujuh) sampel
reservoir dan 14 (empat belas) sampel air dari rumah tangga.
Bila diperhatikan lebih lanjut ternyata 1 (satu) sampel dari
reservoir tidak memenuhi syarat sekaligus baik bakteriologik
maupun kimiawi yang terdapat di Blok 63.
2) Pulo Mas
Hasil pemeriksaan laboratorium (kimiawi) 6 sampel dari
rumah dan 2 dari ground tank adalah baik. Sedangkan pe-
meriksaan bakteriologik menunjukkan hasil bahwa deli 2 (dua)
sampel air rumah tangga menunjukkan tidak terpenuhinya per-
syaratan air minum.
Sumber pencemaran air minum (air bersih)
Dari hasil pemeriksaan air minum di atas dapat diketahui
bahwa pencemaran terjadi di reservoir blok yang terdapat di atas
bangunan rumah susun dan dalam ground tank khususnya di
kompleks rumah susun Klender.
Observasi sistim perpipaan
Hasil observasi sistim perpipaan menunjukkan, bahwa
jalur naik turunnya pipa di dap bangunan tidak melalui shaft
berupa ruang khusus yang seharusnya ada pada setiap
bangunan bertingkat. Pipa naik ataupun turun ditanam di dalam
tembok, atau dilewatkan dinding luar bangunan.
Di kompleks rumah susun Mender, terlihat adanya bak-bak
kontrol septic tank yang mampet dan terbuka. Akibatnya air
kotor dari WC, yang tentunya bercampur dengan kotoran ma-
nusia, terlihat menggenang di saluran-saluran air hujan.
Tempat Pembuangan Sampah
Dari hasil observasi sampel rumah diketahui bahwa tempat
sampah yang memenuhi syarat yakni tertutup rapat serangga dan
tikus adalah sebanyak 73 (26,41%) buah.
Tabel 2. Kebersihan Tempat Sampah di Daerah Penelitian Menurut
Observasi
Tempat Sampah/Lokasi
Keadaan Kebersihan
Klender Pulomas
Jumlah
Memenuhi syarat
Tidak memenuhi syarat
46
149
27
32
73
181
Jumlah 195
59
254
Tempat sampan yang disediakan oleb pengelola rumah
susun umumnya berukuran tidak memadai karena sampah ke-
lihatan berceceran di sekitarnya dan tempat sampah kepenuhan.
Sarana pembuangan kotoran (jamban)
Seluruh rumah mempunyai jamban leher angsa, yang ter-
pelihara baik kebersihannya 82,1% yakni tidak ada kotoran
berceceran/mengambang, tidak berbau dan tidak dikerumuni
serangga serta kelihatan bersih (tidak ada kotoran yang mirip-
mirip lumut, tidak licin, kelihatan sering dibersihkan).
Pemberantasan vektor
Observasi tempat-tempat kemungkinan perindukan nya-
muk vektor penyakit menemukan bahwa pada 90,5% rumah
yang dikunjungi terdapat bak mandi dan 45,6% rumah penduduk
mempunyai tempat penyimpanan air di dapur.
Dari pertanyaan diketahui pengurasan bak mandi dilakukan
setiap hari atau 2 hari sekali (38,5%), lebih dari 2 hari (33,3%)
dan tidak tentu (20,3%). Sedangkan pengurasan tempat penyim-
panan air di dapur ternyata lebih sering dilakukan yakni setiap
hari atau 2 hari sekali sebanyak 42,2% dan lebih dari 2 hari
sebanyak 33,1%.
Pengetahuan dan sikap penghuni mengenai rumah susun
dan kesehatan lingkungan
Mengenai penyediaan air bersih atau air minum yang disa-
lurkan melalui kran ternyata 90,8% rumah menyatakan aliran
lancar. Apabila aliran sedang tidak lancar biasanya penduduk
mengambil air dad pompa umum yang ada ataupun dari tetangga.
Bila membuang sampah dibungkus plastik dulu (88,2%)
selebihnya langsung dibuang tanpa kantong plastik.
Sebanyak 9,21% penduduk menyatakan jamban sering sulit
dipakai karena mampet (2,6%) dan cepat penuh (2,8%) serta
membutuhkan air penggelontor yang banyak (1,8%).
Beberapa hal yang memungkinkan mempengaruhi perasa-
an tinggal di rumah susun menyatakan terasa ada bau yang
mengganggu bersumber dari WC, sampah, dapur, got dan lain-
nya.
PEMBAHASAN
Dari hasil observasi diketahui bahwa sebagian besar pendu-
duk menyediakan dan menggunakan tempat sampah yang me-
menuhi syarat. Namun apabila sampah-sampah tersebut tidak
segera diangkut akan dapat menimbulkan masalah termasuk
perindukan serangga dan lalat. Menurut penelitian Hadi Pratjojo
(1978), masih terdapat kekurangan 16 buah penampungan sam-
pah dengan kapasitas masing-masing 7 m
3
di komplek rumah
murah (Perumnas) Klender dengan perkiraan jumlah sampah
setiap hari cukup besar (sekitar 160 m
3
). Dari pernyataan respon-
den juga diketahui bahwa yang menjadi masalah dalam pem-
buangan sanipah ialah karena tempat sampah terlalu penuh.
Dari kualitas air yang diperiksa diketahui bahwa pencemar-
an sudah mulai terjadi pada reservoir dan ground tank. Tidak
mengherankan apabila banyak air minum di
,
komplek rumah
susun ini yang tidak memenuhi syarat, baik dari segi kimiawi
maupun bakteriologik. Pencemaran ini dapat terjadi akibat ke-
bocoran pipe, sistim perpipaan yang tidak benar dan pencemaran
di reservoir.
Dari penelitian terdahulu diketahui bahwa hampir seluruh
(± 99%) sampel air minum konsumen PAM DKI Jakarta yang
diperiksa tidak memenuhi persyaratan kualitas fisika maupun
kimia. Dad tahun ke tahun terlihat ada kecenderungan me-
ningkatnya persentase hasil pemeriksaan yang menyimpang.
KESIMPULAN
a) Dari hasil pemeriksaan laboratorium diketahui bahwa se-
banyak 30,5% sampel air minum reservoir ditinjau dari segi
bakteriologis tidak memenuhi syarat. Pencemaran air sudah
dimulai dari reservoir dan atau ground tank.
b) Secara umum menurut observasi jamban terpelihara ke-
bersihannya (tidak berbau, tidak dikerumuni serangga dan tidak
ada kotoran yang mirip-mirip lumut ataupun berceceran).
c) Keluhan utama tidak senang tinggal di rumah susun ialah
karena berisiknya suara anak-anak tetangga dan kendaraan serta
hawanya panas dan ruangan sempit.
SARAN
a)
Perlu disediakan tempat sumpah yang sesuai dengan vo-
lume produksi sampah di komplek rumah susun.
b)
Perlu pengawasan kualitas penyediaan air yang didistribusi
agar senantiasa memenuhi syarat dimulai dari sumber pertama
(PAM), reservoir dan ground tank. Sistim perpipaan yang ku-
rang benar sebaiknya diperbaiki.
KEPUSTAKAAN
1. Yudohusodo S. Perumahan di Indonesia, Teknologi 1989; III (28).
2. Ditjen PPM dan PLP. Laporan Pengamatan Lapangan Kesehatan Ling-
kungan di Komplek Rumah Susun Tanah Abang Jakarta Pusat, 1989.
3. Harold E, Babbit HE. Plumbing, 3rd ed, Mc Graw Hill Book Co. 1960.
4. James C, Church PE. Practical Plumbing Design Guide, Mc Graw Hill
Book Co. 1979..
5. Tugaswati AT, Sidik Wasito. Evaluasi Kualitas Air Minum PAM DKI
Jakarta, Bul Penelit Kes 1987; 15 (1).
6. Utomo H. Beberapa Faktor yang Mempengaruhi Partisipasi Sosial Penghuni
Dalam Mengelola Lingkungan Rumah Susun. Thesis Pascasarjana Pro-
gram Ilmu Lingkungan dan Ekologi Manusia, 1990.
7. Armi Kasilah. Perumahan di Kota Disesuaikan dengan City Planning,
Skripsi AMC, Jakarta 1969.
8. Pratjojo H. Tinjauan Sanitasi Perumahan Murah Perumnas di Kampung
Malaka, Klender Wilayah Jakarta Timur, Skripsi APK, Jakarta 1978.
9. Kompas. Air Minum di Klender Tercemar, 10 Juni 1988.
10. Berita Buana. Perumahan Kumuh dan Penanganannya di Jakarta, 1990.
11. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Survai Kesehatan Rumah
Tangga, Laporan Penelitian 1985/1986, 1986.