HASIL PENELITIAN
Respon terhadap Antigen Protektif
Vaksin Pertusis Seluler
dan Aseluler pada Mencit
Sarwo Handayani, Muljati P, Siti Mariani, Farida S, Sumarno, Dewi Parwati
Pusat Penelitian Penyakit Menular, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Departemen Kesehatan RI, Jakarta
ABSTRAK
Ada dua macam vaksin pertusis yaitu vaksin pertusis seluler dan aseluler. Vaksin
pertusis seluler adalah vaksin pertusis yang mengikutsertakan seluruh komponen sel
bakteri Bordetella pertussis. Pemeriksaan potensi vaksin pertusis seluler telah dilaku-
kan secara rutin dengan menggunakan mencit yang dipelihara di Puslit Penyakit
Menular. Vaksin pertusis aseluler merupakan vaksin pertusis yang hanya mengandung
komponen antigen protektif PT (Pertussis Toxin) dan FHA (Filamentous Haemaggluti-
nin). Vaksin ini dikembangkan di Jepang sejak tahun 1981 dan telah dilakukan uji coba
di beberapa negara termasuk Indonesia.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon mencit yang dipelihara di Puslit
Penyakit Menular terhadap antigen protektif PT dan FHA pada vaksin pertusis aseluler
dan membandingkan terhadap vaksin pertusis seluler serta memeriksa potensi vaksin
yang digunakan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa respon mencit terhadap antigen PT dan FHA
dalam vaksin pertusis aseluler cukup baik yaitu 24,6 EU/ml (PT) dan 96,5 EU/ml
(FHA), sedangkan dalam vaksin pertusis seluler adalah 30,9 EU/ml (PT) dan 106,9
EU/ml (FHA). Potensi vaksin yang diperiksa cukup baik dan tidak jauh berbeda
dengan hasil pemeriksaan di Jepang. Hal ini menunjukkan bahwa mencit yang dipeli-
hara secara konvensional di Puslit Penyakit Menular memenuhi syarat untuk digunakan
dalam pemeriksaan potensi vaksiri pertusis aseluler.
PENDAHULUAN
Vaksin pertusis seluler (whole cell vaccine) adalah vaksin
yang dibuat dari suspensi bakteri Bordetella pertussis yang
telah mati. Penggunaan vaksin ini telah terbukti secara efektif
menurunkan angka kesakitan dan kematian karena penyakit
pertusis. Pemberian vaksin dan pertusis seluler digabung ber-
sama vaksin toksoid difteri dan tetanus.
Penggunaan vaksin pertusis seluler meskipun aman, sering
diikuti reaksi samping, seperti kemerahan, pembengkakan,
demam dan gejala sistematik lainnya
(1)
.
Berbagai penelitian telah dilakukan untuk menghilangkan
endotoksin yang diperkirakan menyebabkan terjadinya efek
samping dan memurnikan komponen yang memberikan per-
lindungan efektif terhadap infeksi kuman Bordetella pertussis.
Pada tahun 1981 di Jepang telah dikembangkan vaksin
pertusis aseluler, yaitu vaksin pertusis yang hanya mengandung
antigen Pertusis Toxin (PT) dan Filamentous Hemagglutinin
(FHA). Kedua komponen ini memberikan perlindungan efektif
terhadap infeksi kuman Bordetella pertussis face I dari strain
Tohama; setelah dibuang komponen endotoksinnya, antigen
tersebut dimurnikan dan didetoksifikasi dengan formalin, yang
terakhir ditambah dengan sedikit ajuvan gel aluminium
(5)
.
Vaksin DPT aseluler (DPaT) ini telah digunakan dalam
program imunisasi di Jepang sejak tahun 1981
(1,2)
, dan telah
dilakukan uji coba di beberapa negara lain termasuk Indonesia.
Komposisi PT dun FHA pada vaksin pertusis berbeda satu
Cermin Dunia Kedokteran No. 126, 2000
52
sama lain tergantung pabrik pembuatnya. Vaksin pertusis buat-
an Takeda Jepang mengandung komposisi PT dan FHA dengan
perbandingan 9:1 dan sedikit aglutinogen, komposisi ini hampir
sama dengan vaksin pertusis buatan Kaketsuken yaitu 8:2.
Sedangkan vaksin buatan Biken dengan komposisi 1:1 tanpa
aglutinogen
(1)
. Vaksin DPT yang selama ini digunakan secara
rutin dalam program imunisasi di Indonesia adalah vaksin DPT
buatan Biofarma. Vaksin ini merupakan vaksin seluler yang
mengandung semua komponen sel Bordetella pertussis.
Selama ini vaksin aseluler belum digunakan di Indonesia
sehingga pemeriksaan potensinyapun belum dilakukan secara
rutin. Pemeriksaan potensi vaksin pertusis aseluler adalah sama
dengan pemeriksaan potensi vaksin pertusis seluler yaitu
dengan metode challenge secara intraserebral pada mencit.
Penggunaan mencit untuk pemeriksaan potensi vaksin per-
tusis didasarkan atas pertimbangan bahwa di samping peme-
liharaan yang lebih mudah dan murah, juga dapat memberikan
gambaran yang hampir sama dengan manusia. Mencit yang
digunakan di luar negeri adalah mencit yang dipelihara khusus
(specific pathogen free), sedangkan mencit di Indonesia
dipelihara secara konvensional. Untuk itu perlu diketahui apa-
kah mencit yang dipelihara di Puslit Penyakit Menular dapat
memberikan respon imun yang memenuhi syarat untuk
digunakan dalam pemeriksaan potensi vaksin pertusis aseluler.
Pada penelitian ini dilakukan pemeriksaan antibodi ter-
hadap vaksin pertusis seluler dan aseluler terutama terhadap
antigen PT dan FHA dengan cara ELISA pada mencit.
TUJUAN
Mengetahui respon antibodi mencit yang dipelihara di
Puslit Penyakit Menular terhadap antigen protektif dalam
vaksin pertusis aseluler dan seluler.
Mengetahui apakah mencit yang dipelihara di Puslit
Penyakit Menular memenuhi syarat untuk dapat digunakan
dalam pemeriksaan potensi vaksin pertusis aseluler.
Memeriksa potensi vaksin aseluler dengan menggunakan
mencit Indonesia dan membandingkannya dengan hasil
pemeriksaan di Jepang.
BAHAN DAN CARA KERJA
Sebanyak 180 ekor mencit betina strain Swiss yang
dibiakkan di Puslit Penyakit Menular, umur 4 minggu dengan
berat badan 14-16 gram, dibagi dalam 3 kelompok yang
diimunisasi dengan:
1) Standard Vaksin Pertussis (NSPV) 12,0 IU/ml, dibuat tiga
pengenceran yaitu 12, 60 dan 300 kali masing-masing me-
ngandung 1 IU/ml, 0,2 IU/ml dan 0,04 IU/ml.
2) Vaksin pertusis seluler (Whole cell vaccine) buatan Bio
Farma dibuat 3 pengenceran yaitu 8, 40 dan 200 kali.
3) Vaksin pertusis aseluler buatan Kaketsuken Jepang, dibuat
3 pengenceran yaitu 8, 40, dun 200 kali.
Setiap kelompok mencit yang terdiri dari 60 ekor, masing-
masing disuntik dengan salah satu vaksin tersebut sebanyak 0,5
ml secara intraperitoneal (Setiap pengenceran vaksin disuntik-
kan pada 20 ekor mencit). Dua minggu dan 3 minggu setelah
imunisasi, dilakukan pengambilan darah vena dari ujung ekor
mencit sebanyak 300 ul. Darah kemudian dipisahkan seranya
dan disimpan pada suhu -20°C sampai dilakukan pemeriksaan
ELISA untuk mengukur kadar antibodi.
Pengukuran titer antibodi
Pengukuran titer antibodi mencit terhadap antigen PT dan
FHA vaksin pertusis seluler dan aseluler dilakukan secara
ELISA
(5)
. Coating antigen menggunakan antigen PT dan FHA
buatan laboratorium CIBA Jepang, dengan konsentrasi 4 ug
P/ml untuk PT dan 2 ug/ml untuk FHA. Hasil diperoleh ber-
dasarkan chequerboard yang telah dibuat.
Reference sera (sediaan baku) buatan laboratorium CIBA
Jepang, dibuat dari serum anti mice yang mengandung PT 250
Unit dan FHA 400 unit dalam bentuk kering.
Pengujian potensi vaksin
Pada kelompok mencit yang diimunisasi dengan vaksin
pertusis seluler dan aseluler, sehari setelah pengambilan darah
(2 dan 3 minggu setelah imunisasi) mencit dichallenge dengan
cara menyuntikkan Bordetella pertussis strain BP 18-323
sebanyak 50 ribu kuman dalam 0,03 ml suspensi secara intra-
serebral. Sebagai kelompok kelola digunakan 50 mencit yang
dibagi dalam 5 kelompok, masing-masing disuntik dengan
berbagai konsentrasi kuman, untuk menentukan Lethal Dosage
50 (LD 50).
Pengamatan terhadap kematian hewan dilakukan selama
2-3 minggu. Hasil yang diperoleh dibandingkan dengan standar
pemeriksaan potensi vaksin (NSPV) buatan Jepang dan di-
hitung dengan Probit Analisis untuk menentukan potensi
vaksin pertusis.
Analisis
·
Membandingkan geometric mean titer anti PT dan anti
FHA mencit setelah imunisasi dengan vaksin pertusis
seluler dan aseluler, serta melihat kenaikan titer pada 2 dan
3 minggu setelah imunisasi.
·
Menghitung potensi vaksin pertusis seluler dan aseluler
dan membandingkannya dengan hasil pemeriksaan di
Jepang.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Bordetella pertussis merupakan penyebab penyakit
pertusis (batuk rejan) yang mengandung beberapa komponen
yaitu Peitusis Toxin (PT), Filamentous Hemagglutinin (FHA),
Aglutinogen, endotoksin dan protein lainnya
(4)
.
Pertussis Toxin (PT) dan Filamentous Hemagglutinin
(FHA) merupakan antigen protektif utama dalam vaksin
pertusis. PT sering disebut juga LPF (Lymphocytosis Promot-
ing Factor), pertussigen, islet-activating protein dan histamin-
sensitizing factor, merupakan suatu protein toksin yang
mempunyai peranan biologis sebagai perangsang limfositosis,
hiopersensitivitas histamin, menaikkan produksi insulin, dan
memberikan perlindungan pada mencit terhadap challenge
intraserebral kuman Bordetella pertussis. Sedangkan FHA
merupakan suatu filamen protein yang membantu perlekatan
kuman Bordetella pertussiso. Dua minggu setelah imunisasi,
titer antibodi mencit terhadap antigen PT setelah vaksinasi
Cermin Dunia Kedokteran No. 126, 2000 53
pertusis aseluler adalah 24,6 EU/ml sedangkan setelah vaksi-
nasi pertusis seluler lebih tinggi yaitu 30,9 EU/ml. Seminggu
kemudian titer antibodi mencit mengalami kenaikan menjadi
87,9 EU/ml dan 56,0 EU/ml pada vaksinasi pertusis aselular
dan seluler (Tabel 1). Pada Gambar 1 terlihat kenaikan titer
antigen PT setelah vaksinasi aseluler lebih tinggi daripada
vaksinasi pertusis seluler.
Tabel 1. Titer antibodi mencit terhadap antigen PT dan FHA 2 dan 3 minggu
setelah imunisasi.
Antibodi PT (EU/ml) Antibodi FHA (EU/ml)
Jenis vaksin Sampel
2 minggu
3 minggu
2 minggu
3 minggu
NSPV 20 10,7 11,9 72,5 21,0
P
aseluler 20 24,6 87,9 96,5 169,0
P seluler
20
30,9
56,0
106,9
333,0
Gambar 1. Titer antibodi mencit terhadap antigen PT setelah 2 dan 3
minggu imunisasi.
2 minggu
3 minggu
Selang waktu imunisasi
A = NSPV
B = P. aseluler
C = P. seluler
Titer antibodi mencit terhadap antigen FHA setelah 2
minggu imunisasi, antara vaksin pertusis aseluler dan seluler
tidak jauh berbeda yaitu 96,5 RU/ml dan 106,9 EU/ml. Namun
satu minggu kemudian titer antibodi terhadap vaksin pertusis
seluler mengalami kenaikan yang cukup tinggi menjadi 333,0
EU/ml, sedangkan terhadap vaksin pertusis aseluler adalah
169,0 EU/ml (Gambar 2).
Titer antibodi mencit terhadap antigen FHA lebih tinggi
daripada terhadap antigen PT baik pada vaksin pertusis seluler
maupun aseluler; hal ini karena dalam vaksin pertusis aseluler
yang digunakan, komposisi antigen FHA lebih besar daripada
PT (8:2).
Antibodi terhadap vaksin pertusis seluler lebih tinggi jika
dibandingkan dengan antibodi terhadap vaksin pertusis aselu-
ler, karena kandungan antigen PT dan FHA dalam vaksin
seluler lebih tinggi dari vaksin aseluler (Tabel 1).
Salah satu faktor yang mempengaruhi titer antibodi yang
terbentuk ialah potensi vaksin yang digunakan. Potensi vaksin
yang baik dan memenuhi syarat akan menghasilkan titer
antibodi
2 minggu
3 minggu
Selang waktu imunisasi
A = NSPV
B = P. aseluler
C = P. seluler
Gambar 2. Titer antibodi mencit terhadap antigen FHA setelah 2 dan 3
minggu imunisasi.
yang tinggi pada selang waktu tertentu. Hasil potensi vaksin
pertusis aseluler dan seluler dapat dilihat pada Tabel 2. Pada
challenge 2 minggu setelah imunisasi potensi vaksin aseluler
adalah 6,4 IU/ml sedangkan pada vaksin seluler lebih tinggi
yaitu 10,0 IU/ml. Bila challenge dilakukan 3 minggu setelah
imunisasi potensi vaksin pertusis aseluler adalah 9,1 IU/ml,
sedangkan potensi vaksin seluler adalah 10,6 IU/ml. WHO
menetapkan bahwa potensi vaksin pertusis yang baik dan
cukup protektif digunakan adalah lebih besar dari 8 IU/ml dan
waktu challenge vaksin pertusis seluler adalah 2-3 minggu
setelah imunisasi; namun berdasarkan perhitungan waktu dan
biaya maka ditentukan 2 minggu. Sedangkan untuk vaksin
aseluler waktu challenge adalah 3 minggu, untuk mendapatkan
titer antibodi yang optimal.
Tabel 2. Titer antibodi mencit terhadap antigen PT dan FHA 2 dan 3
minggu setelah imunisasi.
Jenis vaksin
Potensi vaksin (IU/ml)
2 minggu
3 minggu
P. aseluler
6,4
9,1
P. seluler
10,0
10,6
Keterangan :
NSPV : National Standard Pertusis Vaccine
EU/ml : Elisa Unit/ml
IU/ml : International Unit/ml
Potensi vaksin pertusis seluler dan aseluler yang digunakan
memenuhi persyaratan minimum yang ditetapkan oleh WHO.
Namun mengingat perhitungan ekonomi, maka waktu
challenge untuk pemeriksaan potensi vaksin pertusis seluler
dilakukan pada 2 minggu setelah imunisasi karena selain waktu
yang diperlukan relatif singkat juga menghemat biaya peme-
liharaan mencit. Sedangkan untuk vaksin pertusis aseluler
challenge dilakukan 3 minggu setelah imunisasi, untuk men-
Cermin Dunia Kedokteran No. 126, 2000
54
dapatkan titer antibodi yang optimal.
Apakah mencit yang digunakan cukup baik untuk peme-
riksaan potensi vaksin pertusis aseluler, dapat diketahui dengan
membandingkan hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh
pembuatnya (Jepang). Tabel 3 menunjukkan hasil pemeriksaan
potensi vaksin seluler dan aseluler dari batch yang sama yang
dilakukan di Indonesia dan Jepang. Tampak bahwa potensi
vaksin pertusis yang diperiksa di Jepang lebih tinggi daripada
pemeriksaan di Indonesia. Hal ini disebabkan karena sistim
pemeliharaan mencit di Jepang lebih baik, jika dibandingkan
dengan Indonesia yang dipelihara secara konvensional. Namun
demikian, nilai potensi vaksin tersebut masih memenuhi
standar minimum yang ditetapkan oleh WHO. Hal ini me-
nunjukkan bahwa mencit yang dipelihara secara konvensional
di Puslit Penyakit Menular dapat digunakan untuk pengukuran
potensi vaksin pertusis aseluler.
Tabel 3. Hasil pemeriksaan potensi vaksin pertusis seluler dan aseluler
yang diperiksa di Indonesia dan di Jepang.
Vaksin
Jepang (IU/ml)
Indonesia (IU/ml)
P. aseluler
10,88
9,05
(Lyop) 8,40
P. seluler
20,22
14,09
12,50
KESIMPULAN
·
Pada 2 minggu setelah imunisasi, titer antibodi mencit
terhadap antigen PT dan FHA pada vaksin pertusis seluler dan
aseluler hampir sama. Titer antibodi mengalami kenaikan pada
3 minggu setelah imunisasi terutama terhadap antigen FHA.
·
Titer antibodi terhadap antigen FHA lebih tinggi daripada
antigen PT baik pada vaksin pertusis seluler maupun aseluler.
·
Potensi vaksin pertusis seluler dan aseluler yang digunakan
cukup baik, challenge pada pemeriksaan potensi vaksin
pertusis seluler dilakukan 2 minggu setelah imunisasi, sedang-
kan pada vaksin pertusis aseluler adalah 3 minggu.
·
Mencit yang dibiakkan secara konvensional di PPM
Jakarta terbukti dapat digunakan untuk pemeriksaan potensi
vaksin pertusis aseluler.
UCAPAN TERIMA KASIH
Kami sampaikan kepada semua pihak yang telah membantu penelitian ini.
KEPUSTAKAAN
1. Kactz S. Periussis vaccination : Acellular Pertussis Vaccine for
Reinforcing and Booster Use. Supplementary ACID Statement. MMWR
1992; 41: 1-3.
2.
Kimura M, Kuni-Sakai H. Pertussis Vaccine in Japan. Acta Paediatr Jpn
1988; 30: 143-6.
3.
Viljannen et al. Serological Diagnosis of Pertussis : IgM, IgA and IgG
antibodies against Bordetella pertussis measured by Enzyme-Linked
Immunosorbent Assay (ELISA). Scand J Infect Dis 1982;14: 117-9.
4. Kimura M, Hikino N. Result with a New DPT Vaccine in Japan.
Develop. Biol. Standard. 1985; 61: 545-61.
5.
Kaketsuken. Manual of Anti-PT and anti-FHA Assay. 1991.
What the soul is, the soul itself knows not
(Cicero)
Cermin Dunia Kedokteran No. 126, 2000 55