OPINI
Radikal Bebas dan Anti Oksidan
-
kaitannya dengan nutrisi
dan penyakit kronis
Sulistyowati Tuminah, S.Si
Pusat Penelitian Penyakit Tidak Menular, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan,
Departemen Kesehatan RI, Jakarta
PENDAHULUAN
Kekayaan dan kemiskinan mempunyai dampak yang
mendalam pada makanan, gizi dan kesehatan. Ketika
pendapatan meningkat dan para penduduk menjadi lebih
modern(seperti di kota) masyarakat memasuki stadium yang
berbeda, yang disebut Transisi Gizi. Kemakmuran selalu
dikaitkan dengan konsumsi makanan yang kaya dengan lemak.
Makanan impor, fast food, dan peningkatan konsumsi gula
serta lemak hewani bertanggung jawab terhadap peningkatan
angka kegemukan dan penyakit kronis global
(1)
.
Oleh karena penyakit kronis seperti kanker dan ateros-
klerosis dikaitkan dengan proses oksidasi, maka perhatian
yang sangat besar sekarang ini difokuskan pada bagaimana
faktor makanan mempengaruhi potensi oksidatif jaringan
(2)
.
Kerusakan oksidafif terhadap jaringan biologi tergantung
oleh banyak faktor, termasuk komposisi substrat (misalnya,
komposisi asam lemak), konsentrasi oksigen, dan prooksidan
(contohnya, reactive oxygen species, logam transisi, protein
yang mengandung besi dan enzim)
(2)
.
RADIKAL BEBAS DAN SISTEM PERTAHANAN TUBUH
Reactive Oxygen Species (ROS) kemungkinan dilibatkan
dalam patofisiologi penyakit manusia, seperti kanker, kardio-
vaskuler dan juga pada penyakit neurodegeneratif seperti
alzheimer dan parkinson. ROS secara tetap diproduksi oleh
reaksi metabolisme dalam tubuh manusia
(3)
.
Tabel 1. Beberapa ROS yang penting dalam organisme hidup
(4)
.
Radikal bebas
Non-radikal
Radikal hidroksil OH
·
Radikal superoksida O
2
·
Radikal nitrat oksida NO
·
Radikal lipid peroksil LOO
·
Hidrogen peroksida H
2
0
2
Singlet oksigen
1
O
2
Asam hipoklorat HOCl
Ozon O
3
Banyak ROS yang merupakan radikal bebas. Radikai
bebas adalah molekul yang mempunyai atom dengan elektron
yang tidak berpasangan. Radikal bebas tidak stabil dan
mempunyai reaktivitas yang tinggi. Jika bebas tidak dinakti-
vasi, reaktivitasnya dapat merusak seluruh tipe makromolekul
seluler, termasuk karbohidrat, protein, lipid dan asam nukleat.
Dampak perusakan pada protein oleh radikal bebas menyebab-
kan katarak, dampak pada lipid menyebabkan aterosklerosis
dan dampak pada DNA menyebabkan kanker. Akan tetapi,
radikal bebas tidak selalu merugikan. Misalnya, radikal bebas
berperan dalam pencegahan penyakit yang disebabkan karena
mikrobia melalui sel-sel darah khusus yang disebut fagosit
(4)
.
Tabel 2. Beberapa sumber radikal bebas
(4)
.
Sumber internal
Sumber eksternal
Mitokondria
Fagosit
Xantin oksidase
Reaksi yang melibatkan besi dan
logam transisi lainnya
Arakhidonat pathway
Peroksisome
Olah raga
Peradangan
Iskemia/reperfusi
Rokok sigaret
Polutan lingkungan
Radiasi
Obat-obatan tertentu, pestisida
dan anestesi dan larutan industri
Ozon
Tubuh manusia mempunyai beberapa mekanisme untuk
bertahan terhadap radikal bebas dan ROS lainnya. Pertahanan
yang bervariasi saling melengkapi satu dengan yang lain
karena bekerja pada oksidan yang berbeda atau dalam bagian
seluler yang berbeda. Suatu garis pertahanan yang penting
adalah sistem enzim, termasuk superoksida dismutase R
(SOD), katalase, dan glutathion peroksidase. SOD merupakan
golongan enzim antioksidan yang penting dalarn pendekom-
posisian katalitik radikal superoksida menjadi hidrogen
peroksida dan oksigen. Katalase secara spesifik mengkatalisis
dekomposisi hidrogen peroksida. Glutathion peroksidase
merupakan golongan enzim antioksidan yang mengandung
selenium yang penting dalam mengurangi hidroperoksida,
sebagai contoh : hasil oksidasi lipid
(4)
.
Cermin Dunia Kedokteran No. 128, 2000 49
2O
2
+ 2H
+
SOD
H
2
O
2
+ O
2
2H
2
O
2
katalase
O
2
+ 2H
2
O
LOOH + 2GSH glutathion peroksidase LOH + H
2
O + GSSG
Gambar 1. Cara kerja enzim-enzim superoksida dismutase, katalase
dan glutathion peroksidase
(4)
.
Nutrisi memainkan peranan kunci dalam menjaga per-
tahanan enzim tubuh terhadap radikal bebas. Beberapa mineral
esensial termasuk selenium, tembaga, dan seng dilibatkan
dalam susunan atau aktivitas katalitik enzim-enzim tersebut
(4)
.
Apabila katalis yang larut air, seperti tembaga digunakan,
fenolat hidrofilik dan askorbat sering tampak menjadi
antioksidan yang lebih efektif daripada antioksidan hidrofobik,
seperti
-tokoferol
(2)
. Antioksidan adalah suatu substansi yang
menghentikan atau menghambat kerusakan oksidatif terhadap
suatu molekul target
(5)
.
Garis pertahanan ke-2 adalah senyawa dengan berat
molekul kecil yang bekerja sebagai antioksidan, bereaksi
dengan mengoksidasi senyawa kimia, mengurangi kapasitas
efek yang merusak. Beberapa, seperti glutathion, ubiquinol
don asam urat, diproduksi oleh metabolisme normal. Ubi-
quinol adalah satu-satunya antioksidan larut lemak yang
disintesis oleh sel-sel hewan dan diyakini memainkan peranan
penting dalam pertahanan seluler terhadap kerusakan
oksidatif
(4)
.
ANTIOKSIDAN SERTA KAITANNYA DENGAN
NUTRISI DAN PENYAKIT KRONIS
Antioksidan dengan berat molekul kecil lainnya ditemu-
kan dalam makanan, yang diketahui adalah vitamin E, vitamin
C dan karotenoid. Beberapa makanan juga mengandung
substansi antioksidan lain. Sebagian besar antioksidan yang
dijumpai dalam makanan tersebut adalah fenolat atau senyawa
polifenolat. Meskipun substansi tersebut belum diketahui
fungsi nutrisinya, akan tetapi mungkin penting bagi kesehatan
manusia karena potensi antioksidannya
(4)
.
Tabel 3. Beberapa makanan yang mengandung antioksidan non-nutrien
(4)
Produk Antioksidan
Kedelai
Teh hijau, teh hitam
Kopi
Anggur merah
Rosemary, sage, bumbu-bumbu lainnya
Jeruk dan buah-buahan lainnya
Bawang merah
Zaitun
Isoflavon, asam fenolat
Polifenol, catechin
Ester fenolat
Asam fenolat
Asam karnosat, asam rosmarat
Bioflavonoid, chalcone
Quercetin, kaempferol
Polifenol
Bukti substansial yang menghubungkan ROS dengan
penyakit, mengarah pada penelitian mengenai nutrien anti-
oksidan dan antioksidan farmakologis untuk pencegahan
penyakit
(3)
.
Antioksidan dapat disintesis dalam sel (misal, glutathion/
enzim katalase antioksidan, superoksidase dismutase (SOD),
dan glutathion peroksidase); dihasilkan dari makanan (misal,
vitamin E, vitamin C dan flavonoid) atau secara farmakologis
dari suplemen dan obat (misal n-asetilsistein, NAC)
(3)
.
Sejumlah penelitian epidemiologis telah menguji peranan
spesifik nutrien antioksidan dalam pencegahan penyakit.
Sebagai contoh : konsumsi vitamin C yang tinggi dikaitkan
dengan penurunan risiko kanker. Vitamin C atau glutathion
dapat membersihkan OH yang sangat reaktif
(3)
. Fenolat yang
merupakan 1 dari kelompok utama komponen makanan non-
esensial dikaitkan dengan penghambatan aterosklerosis dan
kanker
(2)
. Konsumsi vitamin E yang cukup, penting dalam
memperkecil resiko penyakit jantung koroner
(6)
. Vitamin E
mencegah penyebaran kerusakan oleh radikal bebas dalam
membran biologik dengan kemampuannya membersihkan
radikal proksil
(3)
. Konsumsi makanan flavonoid, antioksidan
Tabel 4. Nutrien dan pertahanan antioksidan
(5)
.
Nutrian
Peranannya dalam tubuh manusia
Besi
Katalase, memperbaiki fungsi mitokondria,
hemoglobin.
Mangan Mn-SOD
dalam
mitokondria
Tembaga
Cu, Zn-SOD caeruloplasmin.
Seng
Cu, Zn-SOD : lebih menghasilkan sifat antioksidan ?
Menstabilkan stuktur membran ?
Protein
Asam amino yang mengandung sulfur diperlukan untuk
membuat GSH, SOD, katalase, glutathion reduktase dan
peroksidase, transpor logam, dan pemyimpanan protein.
Albumin, sebagai pembawa antioksidan tembaga
sacrifical dalam plasma.
Riboflavin
(vit. B. yang
larut dalam air)
Glutathion reduktase, memperbaiki fungsi mitokondria,
dibutuhkan untuk membuat FMN & FAD.
Selenium
Glutathion peroksidase, fungsi tiroid; dapat membantu
mendetoksifikasi karsinogen?
Vitamin E
(tokoferol,
vitamin yang
larut lemak)
Melindungi terhadap proses peroksidasi lipid; dapat
pula membantu menstabilkan struktur membran.
Vitallin C (asam
askorbat vitamin
yang larut air)
Enzim hidroksilase; antioksidan yang larut air, mendaur
ulang vitamin E (?), mengurangi karsinogen nitrosamin.
-karoten
Prekursor vitamin A. Dapat mempunyai beberapa sifat
antioksidan-pembersih kuat singlet O
2
, dapat bereaksi
dengan radikal peroksil. Beberapa melaporkan bahwa
-karoten menghambat proses peroksidasi lipid dalam
membran, tetapi hanya pada konsentrasi O
2
yang
rendah.
Lycopene Pigmen
merah
orange pada tomat. Pembersih kuat
singlet O
2
. Diperkirakan menjadi antioksidan in vivo,
tetapi belum ditetapkan.
Retinol (vitamin
A; vitamin yang
larut lemak)
Beberapa sifat antioksidan dibuktikan secara in vitro,
tetapi tidak ada bukti yang baik bahwa, retinol bekerja
sebagai antioksidan secara in vivo.
Nikotinamid
(vitamin B)
Dibutuhkan untuk membuat NAD
+
, NADH, NADP
+
,
NADPH - diperlukan untuk glutathion reduktase.
Penting dalam metabolisms sel dan produksi energi.
yang terdapat dalam sayuran, teh, dan minuman anggur,
baru-baru ini juga menunjukkan perbandingan terbalik dengan
kematian akibat penyakit jantung koroner
(7)
. Flavonoid
mengurangi OH
·
, O2
-
, dan radikal peroksil
(3)
. Berikut ini
dihadirkan label nutrien-nutrien yang berperan sebagai anti-
oksidan dalam tubuh manusia.
Beberapa nutrien yang diketahui sebagai antioksidan,
ternyata ada yang mempunyai dampak yang kurang me-
Cermin Dunia Kedokteran No. 128, 2000
50
pankreas dan kanker perut. Akan tetapi, konsentrasi oral dalam
jumlah besar dapat menyebabkan iritasi lambung dengan diare
dan asidisikasi urin, yang dapat dikatakan sebagai awal dari
pembentukan batu ginjal
(5)
.
nguntungkan terhadap kesehatan, misalnya: fenolat,
-karoten,
vitamin A dan vitamin C.
Ada bukti yang kuat bahwa makanan fenolat bermanfaat
bagi kesehatan manusia, tetapi hubungan antara bioaktivitas
dan sifat antioksidannya memerlukan penelitian lebih jauh.
Fakta bahwa antioksidan fenolat dapat menjadi prooksidatif
dan antioksidatif menunjukkan, dibawah kondisi tertentu dan
dalam jaringan tertentu, fenolat dapat lebih beresiko oksidatif
daripada bermanfaat
(2)
.
PENUTUP
Banyak faktor mempengaruhi aktivitas antioksidan. Pada
aktivitas kimia faktor seperti kelarutan, bioavailabilitas, dan
retensi jaringan seharusnya dipertimbangkan dalam meng-
evaluasi bioaktivitas antioksidan
(2)
.
-karoten yang beketja sebagai antioksidan kondisi
fisiologis normal (gaya tegang oksigen yang rendah), dapat
juga bekerja sebagai prooksidan pada konsentrasi tinggi dan
kondisi yang lebih bersifat oksidatif (seperti dalam paru-paru
para perokok) sehingga meningkatkan resiko kanker paru-
paru
(3,4)
.
KEPUSTAKAAN
1. Drewnowski A, Popkin BM. The Nutrition Transition: New Trends in
the Global Diet. Nutr Rev 1997; 55(2) : 31- 43.
Seperti
-karoten, vitamin A juga disarankan menjadi
nutrien antikarsinogen. Vitamin A sebagian besar berasal dari
hewan, sementara
-karoten berasal dari tanaman. Konsumsi
yang tinggi akan suplemen vitamin A bukannya tanpa resiko
terhadap kesehatan, dan telah dilaporkan menyebabkan sakit
kepala, pusing, inomnia, iritabilitas, sakit pada persendian dan
tulang, kerontokan rambut kulit kering dan lelah. Apabila
diperkirakan membutuhkan lebih banyak vitamin A,
tampaknya lebih baik untuk menambah makanan dengan
-karoten yang akan diubah menjadi vitamin A seperti yang
diperlukan oleh tubuh
(5)
.
2.
Decker EA. Phenolics: Prooxidants or Antioxidants ? Nutr Rev 1997; 55
(11) : 396-407.
3.
Palmer HJ. Paulson KE. Reactive Oxygen Species and Antioxidants in
Signal Transduction and Gene Expression. Nutr Rev 1997; 55(10):
353-61.
4. Langseth L. Oxidants, Antioxidants, and Disease Prevention. ILSI
Europe Concise Monograph Series. Brussel, Belgium. 1995 : 1-24.
5. Gutteridge JMC, Halliwell B. Antioxidants in Nutrition, Health and
Disease. Oxford. University Press. 1996 : 40-81.
6. Weststrate JA, Van het Hof KH, Van den Berg H, Velthuis-te-Wierik
EJM, de Graaf C. Zimmermanns NJH, Westerterp KR, Westerterp-
Plantenga MS, Verboeket-Van de Venne WPHG. A comparison of the
effect of free acces to reduce fat products or their full fat equivalents on
food intake, body weight, blood lipids and fat-soluble antioxidants levels
and haemostasis variables. Eur J Clin Nutr 1998; 52 : 389-95.
Beberapa penelitian epidemiologis telah menentukan
suatu korelasi antara konsumsi vitamin C yang rendah (kadar
vitamin C dalam darah yang rendah) dengan peningkatan
resiko kanker, terutama kanker esofagus, kanker mulut, kanker
7.
Van het Hof KH, Tijburg LBM, de Boer HBM, Wiseman SA, Weststrate
JA. Antioxidant fortified margarine increases the antioxidant status. Eur
J Clin Nutr 1998; 52 : 292 99.
Description is always a bore, both to the describer and the describee
(Disraeli)
Cermin Dunia Kedokteran No. 128, 2000 51