HASIL PENELITIAN
Pengaruh pH Air Perindukan
terhadap Pertumbuhan dan
Perkembangan Aedes aegypti
Pra Dewasa
Moch. Choirul Hidayat*, Ludfi Santoso**, Hadi Suwasono***
* Alumnus Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro, Semarang
* * Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro, Sema rang
***Stasiun Penelitian Vektor Penyakit Departemen Kesehatan RI, Salatiga
ABSTRAK
Dalam daur hidup vektor Demam Berdarah Dengue Aedes aegypti dikenal dua alam/
lingkungan kehidupan yaitu air (pra dewasa) dan di luar air (dewasa). Dengan memahami
kehidupan vektor tersebut di lingkungan masing-masing akan sangat membantu upaya
pemberantasannya. Pemberantasan vektor masih merupakan cara pemutusan rantai pe-
nularan Demam Berdarah Dengue. Air bersih yang ditampung dan digunakan penduduk
merupakan tempat perindukan Ae. aegypti. Air tersebut umumnya diperoleh dari
berbagai sumber yang berbeda sifat kimiawinya (pH). Perbedaan sifat kimiawi air
perindukan berpengaruh pula terhadap pertumbuhan dan perkembangan Ae. aegypti.
Pada pH air perindukan 7 (netral), nyamuk yang diperoleh paling banyak dibanding pada
pH asam atau basa. Semakin rendah pH air perindukan (asam), penurunan perolehan
nyamuk lebih nyata dibanding peningkatan nilai pH.
PENDAHULUAN
Sampai saat ini pemberantasan nyamuk Aedes aegypti masih
merupakan cara pemutusan rantai penularan penyakit Demam
Berdarah Dengue (DBD). Untuk itu pemahaman bionomik Ae.
aegypti akan sangat berguna dalam upaya pemberantasan vektor
secara efektif dan efisien. Dalam daur hidup nyamuk dikenal 2
alam/lingkungan kehidupan yaitu air dan di luar air (darat/udara).
Stadium pra dewasa (telur, larva dan pupa) hidup di lingkungan
air sedang stadium dewasa (nyamuk) hidup di luar air. Nyamuk
Ae. aegypti menyukai tempat-tempat penampungan yang berair
jernih dan terlindung dan sinar matahari langsung sebagai tem-
pat perindukannya. Tempat-tempat penampung air seperti itu
umumnya banyak dijumpai di dalam rumah dan sekitarnya. Air
bersih yang ditampung oleh penduduk berasal dari berbagai
sumber misalnya air hujan, ledeng dan sumur. Masing-masing
air tersebut mempunyai sifat kimiawi seperti pH, kandungan
oksigen dan zat-zat terlarut yang berbeda. Larva Ae. aegypti
dapat hidup pada air dengan pH antara 5,88,6 sementara air
bersih yang digunakan oleh masyarakat pH nya berkisar antara
6,87.9
(1)
. Perbedaan-perbedaan selain pH akan berpengaruh
terhadap pertumbuhan dan perkembangan stadium pra dewasa
Ae. aegypti sehingga kepadatan populasi nyamuk tersebut ber-
beda antara satu daerah dengan daerah lain.
Pengaruh pH air perindukan terhadap pertumbuhan dan
perkembangan Ae. aegypti pra dewasa dapat dilihat dari hasil
penelitian laboratorium berikut ini.
BAHAN DAN CARA KERJA
Telur Ae. aegypti
Telur berasal dari nyamuk Ae. aegypti generasi yang sama
yang dipelihara di insektarium. Selanjutnya sejumlah 9 x 40 butir
telur tersebut ditetaskan pada 9 buah bald plastik yang berisi air
dengan pH yang berbeda satu sama lain.
Pengamatan
Pada penelitian ini dilakukan pengamatan dan pencatatan
jumlah pupa yang berhasil menjadi nyamuk di masing-masing
pH air perindukan berikut hari kemunculannya.
Pengaturan pH
Sebagai medium pemeliharaan digunakan air sumur yang
pH nya diatur dengan menambahkan HC1 (asam klorida) jika
terlalu basa atan menambahkan NaOH (natrium hidroksida) bila
terlalu asam. Pengukuran pH dilakukan dengan alat pH meter
elektrik. Variasi pH yang digunakan dalam penelitian berkisar
dan 5 sampai dengan 9 dengan selang 0,5.
Makanan larva
Makanan larva berupa larutan serbuk hati ayam yang di-
sesuaikan pH nya dengan pH air perindukan terlebih dahulu
kemudian diberikan setiap hari.
Pengukuran suhu
Suhu ruang dan air perindukan diukur setiap hari dengan
termometer.
Rancangan penelitian
Rancangan penelitian yang digunakan adalah the One-shot
Case Study yaitu suatu kelompok dikenakan perlakuan tertentu
kemudian dilakukan pengukuran terhadap variabel terikat
(2)
.
Analisis
Untuk melihat perbedaan antar perlakuan dilakukan uji
Student Newman-Keuls
(3)
.
Ulangan
Ulangan dilakukan sebanyak 10 kali untuk masing-masing
tingkat pH air perindukan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kemunculan nyamuk pertama terjadi pada hari ke- 11 di
perindukan dengan pH 6 dan 6,5 yang diikuti oleh pH lainnya
pada hari ke-12. Secara keseluruhan, peningkatan jumlah nyamuk
yang muncul dari berbagai pH air perindukan terjadi pada hari
ke-17 walaupun pada pH 6; 6,5 dan 7 terjadi lebih awal yakni
pada hari ke-14. Kemunculan terakhir nyamuk Ae. aegypti ter-
jadi pada hari ke-25 (Tabel 1). Jadi apabila kita tidak memper-
hatikan perbedaan pH masing-masing air perindukan, untuk
pertumbuhan dan perkembangan Ae. aegypti dari telur hingga
menjadi nyamuk diperlukan waktu antara 1125 hari. Pada suhu
air perindukan antara 2532°C, waktu yang diperlukan untuk
pertumbuhan dan perkembangan tersebut sekitar 815 hari
(4)
.
Selama penelitian, hasil pengukuran suhu air perindukan me-
nunjukkan rata-rata sebesar 24°C. Suhu tersebut lebih rendah
daripada suhu optimal sehingga waktu pertumbuhan dan per-
kembangan menjadi lebih lama.
Pada Tabel 2 tampak bahwajumlah nyamuk yang diperoleh
dari perindukan dengan pH 7 paling banyak yakni sebanyak 251
ekor. Makin tinggi (basa) atau makin rendah (asam) pH air
penindukan jumlah nyamuk yang diperoleh makin sedikit.
Keadaan tersebut diduga erat kaitannya dengan pembentukan
enzim sitokrom oksidase di dalam tubuh larva yang berfungsi
dalam proses metabolisme
(5)
. Tinggi rendahnya kadar oksigen
terlarut di air akan berpengaruh terhadap proses pembentukan
enzim tersebut. Pada keadaan asam (pH rendah) kadar oksigen
yang terlarut lebih tinggi daripada keadaan basa (pH tinggi);
sementara itu dalam suasana asam pertumbuhan mikroba makin
Tabel 1. Jumlah nyamuk yang diperoleh per hari menurut tingkatan pH
air
perindukan
Tingkatan pH
Hari ke
5,0 5,5 6,0 6,5 7,0 7,5 8,0 8,5 9,0
11 1 3
12 2 1 1 6 6 1 1 2
13 5 0 4 12 8 6 10 6 2
14
4 9 21 18 16 t0 10 4 9
15
6 3 13 18 21 18 27 15 11
16 10 12 13 23 15 24 10 13 9
17 16 34 23 28 32 34 14 34 20
18
9 26 28 27 31 26 20 25 31
19 11 13 27 31 22 22 24 21 18
20
6 7 21 17 19 26 16 20 12
21
8 20 20 12 26 13 14 8 16
22 6
15
14
6
15
6
3
6 7
23 5
9
10
8
10
11
1
4 9
24
8
7
7
4 4 1
1
1
1
25 9 8 6 7 9 1
Jumlah 105 162 214 244 251 198 140 144 138
pesat sehingga kebutuhan oksigen juga meningkat, akibatnya
kadar oksigen yang terlarutpun akan berkurang. Keadaan seperti
itulah yang diduga dapat mempengaruhi pembentukan enzim
sitokrom oksidase sehingga berpengaruh pula terhadap pertum-
buhan dan perkembangan Ae. aegypti pra dewasa.
Tabel 2. Jumlah dan persentase nyamuk yang diperoleh dan berbagai
tingkatan
pH
air
penindukan
Tingkatan
pH
Jumlah nyamuk
Total %
5,0
15 15 10 2 18 9 16 2 12 105 26
5,5
22 20 20 9 21 23 8 15 13 11 162 40
6,0
27 25 27 22 25 22 14 17 21 14 214 53
6,5
23 32 38 24 24 27 17 21 22 16 244 61
7,0
33 24 22 30 32 39 16 20 21 16 251 63
7,5
31 21 16 20 25 18 27 15 10 15 198 49
8,0
9
13 22
16
22 15 18 8
7
10
140
35
8,5
32 14 21 11 26 7 5 9 6 13 144 36
9,0
19 12 13 20 20 14 9 15 4 12 138 34
Berdasarkan uji statistik pengaruh berbagai pH perindukan
terhadap pertumbuhan dan perkembangan Ae. aegypti pradewasa
berbeda nyata antara kelompok pH netral (6,5 dan 7) dengan pH
asam (5 dan 5,5) dan pH basa (8; 8,5 dan 9), sedang antara pH
asam dan basa tidak berbeda nyata. Antar pH di dalam kelompok
pH asam beda nyata tampak antara pH 5 dengan pH 6 sedang
antara pH di dalam kelompok pH basa tidak berbeda nyata. Hal itu
menunjukkan bahwa penurunan pH air perindukan lebih ber-
pengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan Ae. aegypti
pra dewasa (jumlah nyamuk) dibanding penambahan pH. Selain
suhu dan pH air perindukan seperti tersebut di atas, makanan dan
kepadatan ikut pula mempengaruhi pertumbuhan dan perkem-
bangan larva
(4)
.
KESIMPULAN
Pada pH air perindukan 7 (netral), nyamuk yang diperoleh
paling banyak dibanding pada pH asam atau basa. Semakin
rendah pH air perindukan (asam), penurunan perolehan nyamuk
lebih nyata dibanding pada pH basa.
Cermin Dunia Kedokteran No. 119, 1997
48