background image
HASIL PENELITIAN
Pengaruh Klinis Pasta Sodium Khlorida dan
Sodium Bikarbonat
terhadap Radang Gingiva
Pr
ijantojo
Laboratorium Periodontologi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, Jakarta
PENDAHULUAN
Telah dilaporkan bahwa penyebab dan keradangan jaringan
periodonsium adalah bakteri plak
(1,2,3,4)
. Peran bakteri yang spesi-
fik terhadap keradangan belum diketahui dengan jelas
(5)
. Akti-
nomises viscosis dan Aneslundi telah ditemukan pada permulaan
terjadinya kelainan periodontal pada manusia
(6,7)
. Bakteri lain
dalam plak subgingiva yaitu Bakteroides melanogenikus,
Bakteroides gingivalis, Fusobakterium Nukleatum Kapnositopaga
dan Aktinobasilus aktinomisetemkomitan (A.A.)
(8,9)
. Dengan
mengetahui bakteri yang paling dominan pada radang gingiva,
maka perawatan akan dapat dilakukan dengan baik dan efisien.
Secara mikroskopis dibuktikan bahwa bakteri plak pada radang
gingiva didominasi oleh bakteri spirokheta
Larutan garam anorganik ternyata dapat menghambat per-
tumbuhan dan pergerakan dan bakteri spirokheta
(5,11)
. Hasil pe-
nelitian membuktikan bahwa sodium klorida dan sodium bikar-
bonat dengan konsentrasi 0,5 M dapat menghambat pertumbuh-
an dan pergerakan bakteri sprirokheta secara total pada periode
96 jam
(5)
.
Tujuan dan penelitian ini untuk membuktikan efektivitas
sodium klorida dan sodium bikarbonat dalam bentuk pasta gigi
secara klinis terhadap radang gingiva.
TINJAUAN PUSTAKA
Hampir semua bakteri dalam rongga mulut membentuk
koloni dan berkumpul menjadi suatu substansi yang disebut plak
ABSTRAK
Pemakaian larutan garam- anorganik sebagai bahan untuk perawatan kelainan
periodontal telah diteliti. Larutan garam anorganik ternyata dapat mempengaruhi ke-
langsungan hidup bakteri plak sebagai penyebab terjadinya kelainan periodontal. Be-
berapa peneliti membuktikan bahwa pada gingiva yang sehat bakteri plak didominasi
oleh bakteri kokus, sedangkan pada kelainan periodontal bakteri plak didominasi oleh
bakteri spirokheta. Efektivitas pasta gigi yang mengandung sodium kionda dan sodium
bikarbonat (Emoform®) terhadap keradangan gingiva telah diuji secara tersamar ganda
(double blind) yang melibatkan 77 penderita dengan radang gingiva sebagai objek
penelitian. Penderita dibagi menjadi 2 kelompok masing-masing terdiri dan 38 penderita
diberi pasta gigi yang mengandung sodium kiorida dan sodium bikarbonat (Emoform®)
sebagai objek penelitian dan 39 penderita diberi pasta gigi plasebo sebagai kelompok
kontrol. Kedua kelompok dianjurkan untuk menggosok gigi 2x sehari dengan mengguna-
kan pasta gigi yang sudah diberikan. Evaluasi dilakukan pada hari ke 7 dan hari ke 14.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pasta gigi yang mengandung sodium klorida dan
sodium bikarbonat dapat menurunkan radang gingiva secara bermakna baik pada hari ke
7 maupun pada hari ke 14.
Cermin Dunia Kedokteran No. 108, 1996
58
background image
Cermin Dunia Kedokteran No. 108, 1996 59
dan menyebabkan terjadinya keradangan gingiva
(12,13)
. Karena
banyaknya koloni bakteri di dalam plak, maka radang gingiva
merupakan radang yang non spesifik
(11
). Untuk mencegah ber-
tambah parahnya radang maka perlu dilakukan perawatan. Ka-
rena belum diketahui secara pasti koloni bakteri penyebab,
kebanyakan perawatan ditujukan untuk menghilangkan bakteri
plak secara keseluruhan (in toto) sehingga kadang-kadang
kurang efektif
(12)
karena hanya bakteri tertentu atau golongan
bakteri tertentu dalam plak yang merupakan bakteri patogen
pada radang gingiva
(4)
. Plak tertentu sebagai penyebab radang
gingiva karena adanya bakteri yang patogen disebut sebagai
plak yang spesifik
(4,11)
.
Beberapa penelitian dilakukan untuk mengetahui atau
mengidentifikasi jenis bakteri penyebab sehingga perawatan
diharapkan akan lebih efektif. Berbagai antibiotik secara to-
pikal pada pennukaan gigi serta sebagai obat kumur ternyata da-
pat mengurangi keparahan radang gingiva
(13)
. Penelitian meng-
gunakan vankomisin sebagai obat kumur menunjukkan bakteri
gram (+) tidak berproliferasi, sedangkan bakteri gram (­) masih
menunjukkan kemampuan untuk menyebabkan radang
(15)
. Be-
berapa macam antibiotika yang diberikan secara sistemik dapat
mengurangi terjadinya akumulasi plak serta terjadinya radang
gingiva
(16,17,18)
. Penelitian ini dilakukan dalam upaya untuk
mendapatkan perawatan yang efektif dengan cara memilih obat
yang paling sesuai.
Usaha lain untuk melakukan perawatan radang gingiva yang
lebih terarah ialah dengan menentukan bakteri yang paling do-
minan. Dalam upayà ini Keyes dan Rams
(10)
melakukan peneli-
tian dengan melibatkan 65 penderita periodontitis, 60 penderita
gingivitis serta 20 penderita dengan gingiva yang secara klinis
dinyatakan sehat sebagai obyek penelitian. Dan masing-masing
obyek penelitian diambil plak baik yang supra maupun yang sub-
gingiva, kemudian dilakukan pemeriksaan secara mikroskopis.
Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa pada penderita dengan
periodontitis bakteri yang paling dominan adalah bakteri spi-
rokheta. Pada penderita dengan gingivitis banyak didapat bakteri
dengan bentuk batang. Sedangkan pada gingiva yang sehat di-
dominasi oleh bakteri koki dan tidak didapatkan bakteri yang
bergerak
(19,20,21)
. Penelitian yang dilakukan oleh Lindhe dkk.
mendukung penelitian yang dilakukan oleh Keys dan Rams
yang membuktikan bahwa pada keradangan gingivakoloni bakteri
dalam plak didominasi oleh bakteri spirokheta
(22)
. Penelitian lain
membuktikan bahwa ada hubungan antara banyaknya spirokheta
dan keparahan kelainan periodontal, pada kelainan periodontal
yang parah banyak didapat bakteri spirokheta
(22,23)
. Bakteri spi-
rokheta ditemukan bila dengan probing terjadi perdarahan atau
bila sudah terjadi pelepasan pelekatan epitel sebanyak 3 mm(
23)
.
Secara mikrobiologis perawatan radang gingiva atau kelainan
periodontal ditujukan untuk meningkatkan bakteri koki serta
mengurangi atau menghilangkan jumlah bakteri spirokheta
(23)
.
Jenis bakteri pada kelainan periodontal penting diketahui, se-
hingga perawatan dapat dilakukan lebih efektif.
Beberapa larutan garam anorganik sebagai desinfektan
maupun antiseptik telah dibuktikan dapat mengurangi terjadinya
radang
(24)
. Dasarnya ialah terjadinya tekanan osmosa antara
cairan sel dan larutan garam
(24)
. Larutan garam yang merupakan
larutan hipertonis akan menanik cairan sel sehingga mengganggu
kelangsungan kehidupan bakteri. Prinsip ini juga digunakan un-
tuk pengawetan makanan dengan cara merendam dalam larutan
garam atau gula dengan konsentrasi yang tinggi
(24)
.
Beberapa peneliti berpendapat bahwa mengurangi terjadi-
nya keradangan gingiva tergantung dan cara menekan pertum-
buhan bakteri dalam poket gingiv
(25)
. Keyes sangat mendukung
pemakaian larutan garam sebagai bahan khemoterapi untuk
membatasi pembentukan koloni dari bakteri
(10)
. Rams dkk.
membuktikan bahwa sodium bikarbonat (0,74 M), sodium klo-
rida (5,3 M) dan magnesium sulfat (2,6 M) dapat mempengaruhi
toksisitas bakteri
(26)
. Penelitian membuktikan bahwa pertum-
buhan bakteri treponema berakhir setelah periode 72 jam, setelah
itu sedikit sekali terjadi perubahan. Konsentrasi 0,50 M larutan
sodium kiorida (NaCl), magnesium sulfat (MgSO
4
dan sodium
bikarbonat (NaHCO
3
dapat menghambat pertumbuhan bakteri
treponema sampai periode 96 jam. Dari ketiga larutan tersebut,
sodium klorida (NaCl) 0,05 M dan sodium bikarbonat (NaHCO
3
)
0,10 M dapat menghambat pertumbuhan; konsentrasi lebih ren-
ah kecil sekali bahkan mungkin tidak ada pengaruhnya
(5)
.
Larutan garam anorganik juga dapat mempengaruhi per-
gerakan bakteri. Dalam konsentrasi 0,5 M larutan sodium klorida
(NaCl), tidak ada pergerakan bakteri treponema sama sekali.
Berkurangnya pergerakan bakteri terjadi pula bila dalam kultur
ditambahkan larutan sodium bikarbonat (NaHCO
3
) 0,1 M
(5)
.
Ternyata hambatan pertumbuhan dan pergerakan bakteri tidak
tergantung dan larutan garam anorganik tertentu tetapi lebih
banyak ditentukan oleh konsentrasi dan larutan. Oleh karena itu
pada pemakaian larutan garam anorganik untuk tujuan terapi
perlu ditentukan besarnya konsentrasi serta berapa lama pertum-
buhan bakteri dapat dihambat
(5)
.
Sodium klorida dan sodium bikarbonat dapat menghambat
pertumbuhan bakteri melalui beberapa macam mekanisme
(26)
,
karena itu mempunyai nilai sebagai bahan per atau terapi
terhadap mikroorganisme pada poket yang dalam dan kelainan
periodontal
(25)
. Konsentrasi minimum larutan garam anorganik
ini perlu ditentukan untuk beberapa bakteri subgingiva.
Dari apa yang dikemukakan di atas didapat teori-teori yang
mendasari penelitian ini yaitu:
· Radang gingiva disebabkan oleh bakteri plak.
· Pada radang gingiva, bakteri yang paling dominan dalam
plak baik yang supra gingiva maupun subgingiva adalah bakteri
spirokheta.
· Larutan garam anorganik dapat mempengaruhi pertumbuh-
an dan pergerakan bakteri.
· Larutan garam sodium kiorida dan sodium bikarbonat
dapat mempengaruhi pertumbuhan dan pergerakan bakteri
spirokheta. Dari teori-teori di atas dapat diturunkan suatu
hipotesis sebagai berikut.
Hipotesis
Sodium kborida dan sodium bikarbonat dalam bentuk
pasta gigi dapat menurunkan derajat radang gingiva.
background image
TUJUAN DAN MANFAAT
Membuktikan efektivitas pasta gigi yang mengandung so-
dium kiorida dan sodium bikarbonat terhadap penurunan
derajat radang gingiva.
Diharapkan pasta gigi yang bisa diperoleh dengan mudah
dapat membantu menanggulangi atau mengurangi terjadinya
radang gingiva.
METODE DAN CARA KERJA
Penelitian dilakukan secara tersamar ganda (double blind).
Obyek penelitian didapat dan penderita yang datang di klinik
bagian Periodontologi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas
Indonesia (F.K.G. UI) dengan kriteria sebagai berikut:
· Tidak mendapat pengobatan antibiotik.
· Tidak menderita kelainan sistemik.
· Poket absolut dengan hilangnya pelekatan gingiva (loss of
attachment) sebanyak 3­4 mm.
· Belum pernah memperoleh perawatan kelainan periodontal.
Radang gingiva dicatat sesuai dengan in keradangan gingiva
dan Loe dan Silness yang telah dimodifikasi yaitu:
0 : Tidak ada keradangan.
1 : Keradangan ringan, sedikit perubahan warna dan sedikit
pembengkakan.
2 : Keradangan sedang, permukaan gingiva halus dan mengkilat,
kemerahan, oedem, hipertropi. Terjadi perdarahan bila di-
lakukan pengukuran dengan probe (bleeding on probing).
3 : Radang berat ditandai dengan kemerahan sampai muco-
buccal fall serta terjadi hipertropi. Cenderung terjadi per-
darahan spontan.
Pada penelitian ini pencatatan radang (scoring) hanya dilakukan
pada rahang bawah depan.
Didapat 77 penderita yang memenuhi syarat sesuai dengan
kriteria yang telah ditentukan; dibagi menjadi dua kelompok
dengan masing-masing terdiri dan 38 penderita diberi pasta gigi
yang mengandung sodium klorida dan sodium bikarbonat
(Emoform®) sebagai obyek penelitian dan 39 penderita diberi
pasta gigi plasebo sebagai kelompok kontrol. Kedua kelompok
dianjurkan untuk melakukan penyikatan gigi 2x sehari meng-
gunakan pasta gigi yang sudah diberikan. Evaluasi dilakukan
pada hari 7 dan hari ke 14.
HASIL
Tabel 1. Keradangan rata-rata menurut waktu dan kelompok
Plasebo
Sodium klorida dan
Sodium bikarbonat
Waktu
N Mean Std N Mean Std
z p
0
39
1,79
0 57
38
1,86
0 47
0,53
> 0,05
7
39
171
0,47
38
1,00
0,45
6 79
<0,01 **
14
39
1 68
0,47
38
10,42
0 49
11 55 < 0,01 **
** Bermakna p < 0,01
Dari Tabel 1 terlihat adanya penurunan dan derajat radang
baik pada kelompok yang diberi pasta gigi berisi sodium kionida
dan sodium bikarbonat maupun kelompok yang diberi pasta gigi
plasebo pada hari ke 7 maupun pada hari ke 14 bila
dibandingkan dengan keadaan sebelum dilakukan uji coba.
Grafik penurunan keradangan gingiva rata-rata hari ke 7, 14 dari
kelompok plasebo dari kelompok sodium kiorida serta sodium bikarbonat
Keterangan : a : Plasebo
b : Sodium
kiorida
dan
sodium
bikarbonat
Secara statistik tidak didapatkan perbedaan bermakna dari
sampel masing-masing kelompok (z = 0,53; p > 0,05). Bila
dibandingkan, hasil masing-masing kelompok pada hari ke 7
didapatkan perbedaan yang sangat bermakna (z = 6,79; p < 0,01)
dengan kelompok yang diberi pasta gigi berisi sodium kiorida
serta sodium bikarbonat menunjukkan hasil yang lebih baik. Ha-
sil perbandingan dan derajat radang rata-rata kedua kelompok
pada hari ke 14 menunjukkan adanya perbedaan yang sangat
bermakna (z = 11,55; p <0,01) dengan kelompok yang diberi
pasta gigi berisi sodium klorida dan sodium bikarbonat menun-
jukkan hasil yang lebih baik.
DISKUSI
Hasil penelitian ini menunjukkan adanya penurunan derajat
radang atau terjadi peningkatan derajat kesehatàn gingiva baik
pada kelompok plasebo maupun pada kelompok sodium klorida
dan sodium bikarbonat. Penurunan derajat radang pada kelom-
pok plasebo sebesar 5% pada hari ke 7 dan sebanyak 7% pada
hari ke 14 bila dibandingkan dengan keadaan sebelum dilakukan
uji coba. Penurunan derajat radang pada kelompok sodium
klorida dan sodium bikarbonat sebanyak 46% pada hari ke 7 dan
sebanyak 77% pada hari ke 14 bila dibandingkan dengan keada-
an sebelum dilakukan uji coba. Penurunan derajat radang dari
kelompok plasebo membuktikan bahwa pemeriksaan sudah
cukup untuk meningkatkan motivasi melakukan pembersihan
gigi dengan baik
(25)
.
Penurunan derajat radang kelompok yang diberi pasta gigi
berisi sodium klorida dan sodium bikarbonat secara statistik
didapat hasil yang sangat bermakna pada hari ke 7 maupun pada
hari ke 14. Hasil ini mendukung penelitian yang dilakukan
sebelumnya
(25,26)
. Dari beberapa penelitian dibuktikan bahwa
mikroorganisme pada kelainan periodontal didominasi oleh
Cermin Dunia Kedokteran No. 108, 1996
60
background image
Cermin Dunia Kedokteran No. 108, 1996 61
bakteri spirokheta
(10,23)
. Penelitian membuktikan bahwa sodium
bikarbonat (baking soda) serta sodium klorida dapat menye-
babkan terjadinya perubahan morfologi serta menghambat per-
tumbuhan dan pergerakan spirokheta
(27)
. Perubahan morfologi
ini akan mengurangi toksisitas spirokheta;juga dibuktikan bahwa
hambatan pergerakan serta pertumbuhan bakteri oleh berbagai
macam larutan garam anorganik sangat tergantung pada konsen-
trasi larutan dan bukan oleh karena garam tertentu
(22)
. Larutan
sodium klorida dan sodium bikarbonat dengan konsentrasi 0,5 M
efektif untuk menghambat pertumbuhan serta pergerakan dari
bakteri spirokheta secara in vitro
(5)
. Larutan sodium klorida dan
sodium bikarbonat efektif apabila konsentrasinya lebih besar
dari 0,1 M; bila kurang dari 0,1 M efektivitasnya kecil sekali,
bahkan mungkin tidak akan terjadi perubahan mikroorganisme.
Pada penelitian ini digunakan pasta gigi dengan kandungan 48,0
mg sodium kiorida dan 119,0mg sodium bikarbonat dalam satu
(1) gram pasta gigi; kandungan ini lebih besar dari 0,1 M bahkan
masih lebih besar dari 0,5 M. Konsentrasi yang lebih besar akan
lebih hipertonis, berarti hambatan pertumbuhan dan pergerakan
mikroorganisme akan lebih cepat dan lama. Lamanya hambatan
dan pertumbuhan dan pergerakan terhadap mikroorganisme
akan menurunkan toksisitas dan spirokheta
(5)
.
Penelitian dengan sodium bikarbonat dan hidrogenperoksida
dalam bentuk pasta terhadap poket periodontal menunjukkan
adanya pendangkalan dari poket serta terjadi hambatan pergerak-
an mikroorganisme
(25)
.
KESIMPULAN
Penelitian tersamar ganda (double blind) terhadap radang
gingiva secara klinis menggunakan pasta gigi mengandung
sodium kiorida dan sodium bikarbonat membuktikan terjadinya
penurunan derajat radang gingiva secara bermakna; sebanyak
46% pada hari ke 7 dan sebanyak 77% pada hari ke 14.
Penurunan ini dimung kinkan karena cairan di rongga mulut
lebih hipertonis dibandingkan dengan cairan dan sel bakteri.
Cairan yang hipertonis ini akan menghambat pertumbuhan dan
pergerakan bakteri spirokheta yang dominan pada radang
gingiva/kelainan periodontal
KEPUSTAKAAN
1. Socransky SS. Relationship of bacteria to the etiology of periodontal
disease. J Dent Res. 1970; 49: 203­22.
2. Slots J. Subgingival micioflora and periodontal disease. J Clin Periodontol.
1979; 6: 35 1­82.
3. Theilade E, Theilade J. Role of plaque in the etiology of periodontal
disease and caries. Oral Sciences Reviews. 1976; 9: 23­63.
4. Socransky SS. Microbiology of periodontal disease present status and
future considerations. J Periodontol. 1977; 48(9): 497­504.
5. Wolinsky LE, Lott F. Effects of the inorganic salts Sodium Chloride,
Sodium Bicarbonate, and Magnesium Sulfate upoii the growth and motility
of Triponema vincentii. J Periodontol. 1986; 57(3): 172­175.
6. Socransky SS, Hubersak C, Propas D. Induction of periodontal destruction
in gnatobiotic rats by a human oral strain of Actinomyces naeslundii. Arch
Oral Biol. 1970; 15: 933­995.
7. Jordan HV, Keys OH, Bellock B. Periodontal lesion in hamsters and
gnatobiotic rats infected with Actinotnyces of human origin J Periodont
Res. 1972; 7(1): 21­28.
8. Tanner AC. A study of the bacteria associated with advancing penodontitis
in man. J Clin Periodontol. 1979; 6(5): 278­307.
9. Newman MC. Studies on the microbiology of periodontosis. J Periodontol.
1976; 47(7): 373­79.
10. Keyes PH, Rams TE. A rationale for the management of periodontal
diseases; rapid identification of microbial `therapeutic targets' with phase-
contrast microscopy. JAm Dent Assos. 1983; 106: 803­12.
11. Loesche Wi. Chemotherapy of dental plaque infections. Oral Sci Review.
1976; 9: 63­105.
12. Heijl L, Lindhe J. Effect of selective antimicrobial therapy on plaque and
gingivitis in the dog. J Clin Periodontol. 1980; 7: 461­78.
13. Loe H, Theilade E, Jensen BS, Schiott CR. Experimental gingivitis in man
III. The influence of antibiotic on gingivai plaque development. J
Periodont Res. 1967; 2: 282­89.
14. Newman MC, Sandier M, Armerod W, Angel L, Goldhober P. The effect
of dietary gantrisin supplements of the flora of periodontal pocket in four
beagle dogs. J Periodontoi Res. 1977; 12: 129­34.
15. JensenSB,Loe H, SchiottCR, TheiladeE. Experimentgingivitis in manlV.
Vancomycin induced change in bacterial plaque composition as related to
development of gingival inflamation. J Penodontol Res. 1968; 3: 284­93.
16. Listgarten MA, Lindhe J, Hellden L. The effect of tetracycline nd/or
scaling human periodontal disease-clinical microbiological and histologi
cal observation. J Penodontol Res. 1978; 5: 246-71.
17. Lindhe J, Heijl L, Goodson M, Socransky SS. Local tetracycline delivery
using hollow fiber devices in periotontal therapy. J Clin Periodontol. 1979;
6:
141­49.
18. Rozanis J, Johnson R, Sofiui Haq M, Schofield JDF. Spiramycin as a
selective dental plaque control agent. J Periodontol Res. 1979; 14: 55­64.
19. Lindhe J, Liljenberg B, Listgarten M. Some microbial and histopathologi-
cal features of periodontal disease in man. J Periodontol. 1980 51(5)
264­69.
20. Listgarten MA, Heilden L. Relative distribution of bacteria at clinically
healthy and periodontal disease sites in humans. J Clin Periodontol. 1978;
5: 115.
21. Darwish 5, Hyppa 1, Socransky SS. Studies of the predominant cultivable
microbiota of early periodontitis. J Periodontol Res. 1978; 13: 1.
22. Rams TE, Keyes PH, Jenson AB. Morphological effects of inorganic salts
chloramine T and citric-acid on subgingival plaque bacteria. Quintessence
int. 1984; 8: 835.
23. Armitage GC, Dickinson WR, Jenderseck RS, Levine SM, Chambers DW.
Relationship between the percentageof subgingival and the severity of
periodontal disease. J Periodontol. 1982; 53(9): 550­556.
24. Goulding R. Handbook of Dental Pharmacology and Therapeutics.
William Heinemann Medical Books Ltd. 1960; 91­94.
25. Cerra MB, Killoys WJ. The effect of Sodium Bicarbonate and Hydrogen
Peroxide on the Microbial Flora of Periodontal Pockets. J Penodontol.
1982; 53(10): 599­603.
26. Kyder INI, Hoover Cl, Nebrun E. Morphological Effects of Selected Solts
upon Subgingival Microorganisms. A.A.D.R. Abstracts. 1983; 991.
27. Hem M. Foundation of college chemistry. Dickensen Publishing Co. Inc.
336.