36.
Philips, C.W., R.D. Aller and S.N. Cohen. : Assay for Penicillin
Resistant Gonorrhoea. Medical Progress, August 19TT : 72,
40.
Minoru Nishida, Yasuhiro Mine and Shogo Kuwahara. : Synergls-
tic Activity of Ampicillin and Cloxacillin. Protective Effect of
37. Bach, J.A., N. Buono, D. Chisholm, K.E. Price, T.A. Pursiano
and A. Gourevitch. : In Vitro and In Vivo Synergism of Mixtures
of Penicillin
Antimicrob. Ag. Chemother. 1966, page 328
Cloxacillin on Enzymatic degration of Ampicillin by penicillina-
se, and therapeutic activity of Mixtures of Ampicillin and Cloxa-
cillin. J. Antibiotics 22 (4) : 144 150, 1969.
336.
41.
Hitoshi Sagai and Tetsu Saito. : Inactivation of Staplylococcal
38.
Acar, J.F.; F. Goldstein, and Y.A. Chabbert. 19T3 : Synergistic
Penicillinase by Dicloxacillin. J. Antibiotics, 26 (6) : 315 319,
Activity of Trimethoprim-Sulfamethoxazole on Gram-Negative
19T3.
Bacilli : Observations In Vitro and Ln Vivo. Trimethoprim-
Sulfamethozazole. Microbiological, Pharmacological and Clinical
Considerations. Editors : M. Finland and E.H. Kass. The Univer -
42.
Michel , J., H. Bornstein, R. Luboshitzky, and T. Sacks. : Mec-
hanism of
Chloramphencol Cephaloridine Synergism on
Enterobacteriaceae. Antimicrob. Ag. Chemother. T (6) : 845
sity of Chicago Press.
849, 19T5.
39.
Wade, A. and J.E.F. Reynolds. : Maztindale 2T. The Extra
43.
Wilson, G.S. : Origin of Penicillinase. Leading Articles. Brr. Med.
Pharmacopoeia. 2Tth ed. The Phazmaceutical Press, London,
J. (Oct. 14) : 66 6T, 196T.
19TT.
PENGALAMAN PRAKTEK
KEBIASAAN MENGUNYAH OBAT SEBELUM DITELAN
Kebiasaan yang masih terdapat pada orang dewasa
ini untuk mengunyah pil atau tablet mungkin sekali berasal
dari pengalaman jaman dahulu dimana pada waktu itu memang
perlu mengunyah obatnya sebelum ditelan untuk menghindari
obat-obat tersebut meninggalkan tubuh dalam bentuk tidak
berubah.
Ini dapat difahami oleh karena tehnik pembuatan
tablet atau pil sewaktu itu belum demikian maju, sehingga
bentuk obat-obat tersebut menjadi mudah
terurai setelah
ditelan.
Akan tetapi dewasa ini teknologi pembuatan obat sudah
demikian maju, sehingga dapat dibuat tablet atau pil demikian
rupa sehingga dapat dikatakan obat tadi langsung terurad
setelah melewati tenggorokan atau begitu sampai di lambung.
Atau juga dapat dibuat demikian rupa sehingga tidak mudah
terurai dan akan melepaskan zat-zat aktip yang terkandung
di dalamnya secara perlahan-lahan selama waktu yang cukup
lama (time-released tablet).
Obat yang disebut terakhir itu memang dimaksudkan
untuk menghindari pengulangan makan obat dalam jangka
waktu yang dekat. Untuk mencapai maksud itu tentunya
kadar atau kandungan zat-zat aktip perlu diberpesar, misalnya
sampai 2 -- 3 kali dosis tablet biasa.
Nah, apakah yang akan terjadi bila
"
repeat-tab" atau
"
time-released tablet
"
itu dikunyah sebelum ditelan . Dapat
dibayangkan bahwa kadar zat-zat aktip dalam
darah akan
menjadi kelewat tinggi dengan semua akibatnya.
Dibawah ini akan dikisahkan suatu pengalaman yang
belum lama terjadi dengan maksud agar teman-teman sejawat
menjadi lebih waspada sewaktu memberi pasien obat-obat
yang tidak boleh dikunyah sebelum ditelan.
Pada suatu hari seorang kawan lama yang berusia
kurang lebih 55 tahun datang untuk keluhan : liang hidung
terasa tersumbat oleh lendir. Untuk keluhan itu saya berikan
Triaminic Bitabs dengan petunjuk cara makan : 1 tablet
pada pagi dan satu lagi sebelum tidur.
Dua hari kemudian kawan tersebut datang lagi dan
menceritakan bahwa obat yang diterimanya memang betul
"
ces-pleng" pleh karena beberapa menit setelah obatnya
dimakan langsung liang hidungnya terasa lapang dan terbuka.
Hanya ia menjadi ngantuk sekali sehingga di kantor hampir
terkulai di atas meja tulisnya.
Dengan rasa heran saya tanyakan :
"
Apakah tidak salah cara
memakan obatnya ?? "
-- "Tidak, satu tablet pagi hari dan satu lagi sebelum tidur
"
jawabnya.
+
"
Ditelan bulat-bulat obatnya ??? "
-- "Oh, tidak, saya selalu mengunyah obat-obat yang saya
dapat, kecuali kapsul.
Ini sudah menjadi kebiasaan saya
sewaktu saya masih kanak-kanak".
Jelaslah sekarang mengapa kawan ini terkantuk-kantuk
di kantor setelah memakan obatnya.
OLH
4 8
Cermin Dunia Kedokteran
No.18, 1980