PENGALAMAN PRAKTEK
PENGALAMAN PENGOBATAN TUBERCULOSIS PARU
dr Tjubianto
Biro Konsultasi Penyakit Paru Kebayoran
Jakarta.
Pengobatan penderita TBC paru berbeda di dalam pengobat-
an masal dan praktek partikulir. Faktor-faktor yang me-
nentukan dalam pengobatan masal :
· Harga obat sebaiknya serendah mungkin dengan efek
terapi sebesar mungkin dan efek samping seminimal
mungkin.
· Tempat-tempat
pengobatan
untuk penderita TBC
paru yang biasanya tergolong dalam golongan sosio
ekonomi rendah, sebaiknya terletak dekat rumah pen-
derita.
Sebaliknya pada praktek partikulir, dimana seorang dok-
ter hanya berhadapan dengan satu penderita (individual treat-
ment), maka obat-obat dapat disesuaikan dengan kemampu-
an penderita.
Cara pengobatan masal di Biro Konsultasi Penyakit Paru
Kebayoran adalah sebagai berikut :
· Satu bulan intensif initial treatment, tiap hari penderita
diberikan satu gram Streptomycin, 400 mg INH dan 10 mg
vitamin B
6
.
· Sebelas bulan biweekly treatment, dua kali seminggu pen-
derita diberi satu gram Streptomycin, 700 mg INH dan 10
mg vitamin B
6
.
· Satu tahun penderita diberikan INH saja, dengan dosis
400 mg sehari. Supervised treatment, dimana obat yang
diberikan harus ditelan di tempat pengobatan.
· Untuk pengobatan tidak dipungut bayaran.
· Pemeriksaan sputum hanya dilakukan dengan direct sme-
ar.
· Hanya penderita dengan sputum positif yang mendapat
pengobatan.
Dari cara pengobatan seperti tersebut diatas, didapatkan hasil
seperti yang terlihat pada tabel kelompok I dan II.
Dari hasil-hasil yang tersebut pada tabelkami bersimpulkan
bahwa :
(1)
Defaulter rate sangat tinggi. (defaulter = penderita
yang mendapat pengobatan kurang dari 80%
dari yang seharusnya).
(2)
Dengan cara pengobatan seperti diatas, tidak ada
perbedaan antara enam bulan pengobatan dengan
12 bulan.
Pada saat ini sedang dilakukan percobaan dengan Strep-
tomycin - INH dan vitamin B
6
selama enam bulan, kemudian
INH saja selama tiga bulan dengan memperhatikan relaps rate.
Penderita-penderita dengan sputum (+) sesudah pengobatan
Kelompok 1 : Terdiri dari 110 penderlta.
Waktu
Penilatan
3 bulan
6 bulan
9 bulan
12 bulan
Pengobatan ber-
hasil sputum
(+) menjadi
(--)
49 (44,5%) 47 (42,7%) 38 (34,5%) 41 (37,2%)
Pengobatan
tidak ber-
hasil sputum
tetap (+)
19 (17,3%) 12 (10,9%) 14 (12,7%)
8(7,3%)
Defaulter
42 (38,1%) 51 (46,4%) 58 (52,7%) 61 (55,4%)
Kelompok 11 : Terd
iri darl 89 penderita yang berobat selama 12 bu-
lan. Penilaian ditakukan setelah enam dan 12 bulan.
Waktu penilalan
6 bulan
12 bulan
Pengobatan berhasll
76
Sputum (+)
menjadl (--)
(85,4%)
77 (86,5%)
Pengobatan tldak
13
berhasii Sputum
tetap (+)
(14,6%)
12 (13,5%)
Streptomycin INH dan vitamin B
6
selama enam bulan sebaik-
nya dipikirkan untuk diobati dengan obat-obat sekunder seper-
ti rifampicin, ethambutol, prothionamide, thiocetazone dan
PAS, dengan kombinasi dua atau tiga macam obat ini.
Di Jakarta sedang dilakukan percobaan pengobatan de-
ngan rifampicin dan ethambutol sebagai pengobatan sekun-
der.
Karena defaulter rate masih sangat tinggi, sebaiknya juga
dicari cara untuk mengurangi hal ini, misalnya :
· dengan mengikut sertakan semua puskesmas kelurahan
dalam Tuberculosis control program.
· dengan kunjungan ke rumah-rumah penderita.
Bila biaya untuk Tuberculosis Control Program memung-
kinkan, maka penderita-penderita dengan sputum (--) diberi
juga pengobatan dengan cuma-cuma, sebab penderita-pende-
rita ini selalu mempunyai kemungkinan untuk menjadi positif
kembali.
Pengalaman merupakan guru yang terbaik ! Oleh sebab
itu bila sejawat mempunyai pengalaman yang baik un-
tuk diketahui oleh sejawat-sejawat lain, silahkan se-
jawat kirimkan kepada kami untuk dimuat dalam
ruang ini.
Redaksi.
4 2
Cermin Dunia Kedokteran No. 13. 1978