background image
Penelitian Kuman-kuman Patogen dalam
Makanan Katering di Jakarta
Noer Endah Pracoyo, Sri Harjlnlng, Pujarwoto T
Pusat Penelitian Penyakit Menular Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Departemen Kesehatan RI, Jakarta
PENDAHULUAN
Meningkatnya taraf kehidupan dan kesibukan di kota besar
seperti Jakarta menyebabkan masyarakat cenderung memilih
hal-hal praktis seperti memanfaatkan jasa layanan makanan
untuk memenuhi kebutuhan makan selama bekerja, baik di
kantor, pabrik, dan di pasar. Masalah kebersihan dan keamanan
makanan merupakan masalah penting bagi konsumen.
Untuk melindungi baik pengusaha jasa boga maupun ma-
syarakat terhadap hal-hal yang tidak diinginkan, pemerintah
telah mengeluarkan peraturan tentang persyaratan kesehatan
jasa boga. Untuk memantau pelaksanaannya perlu dilakukan
pengawasan kebersihan sanitasi tempat pengolahan makanan
(katering). Hal tersebut untuk menghindari kemungkinan ter-
kontaminasinya makanan oleh kuman-kuman patogen yang
dapat mengakibatkan keracunan.
Dari survai Tempat Pengolahan Makanan (TPM) pada
tahun 1989, didapat gambaran bahwa tingkat kontaminasi
makanan di Indonesia cukup tinggi, yaitu 32,64%; akibatnya
banyak terjadi keracunan makanan, bahkan cenderung menjadi
Kejadian Luar Bia
g
i (KLB)'). Kontaminasi dapat terjadi akibat
meningkatnya penggunaan zat kimia pada makanan, pence-
maran lingkungan, cara pemilihan dan pengolahan makanan
yang kurang sempurna serta cara penyajian yang kurang me-
menuhi syarat.
DitJen PPM & PLP melaporkan bahwa di Indonesia pada
tahun 1981 ­ 1985 tercatat 1385 orang menderita keracunan
makanan dengan kematian sebanyak 24 orang (CFR: 1.7%).
Berdasarkan analisis kejadian keracunan makanan yang di-
laporkan, 49% di antaranya berasal dari makanan katering.
Dari kenyataan tersebut di atas dampak penyediaan ma-
kanan yang kurang higienis sangatlah luas karena menyangkut
masyarakat banyak. Oleh sebab itu perlu dilakukan penelitian
tentang kuman-kuman patogen pada makanan katering di
Jakarta.
BAHAN DAN CARA KERJA
Jumlah katering diambil secara random dari 186 katering
yang terdaftar pada Asosiasi Katering Indonesia di Jakarta.
Diperoleh 200 contoh makanan dari 43 katering di seluruh
wilayah DKI Jakarta.
Contoh makanan tersebut diambil secara aseptis sebelum
disajikan kepada para konsumen, kemudian dikelompokkan
menjadi 12 kelompok makanan antara lain nasi, sayur, rendang,
sambel goreng, opor, bakmi, ayam/daging goreng, sambel,
acar, kue-kue dan buah-buahan. Semua contoh makanan di-
bawa ke Puslit Penyakit Menular untuk diperiksa secara bakte-
riologis, untuk mencari kuman patogen yang terdapat pada
makanan seperti kuman Shigella, Salmonella, Vibrio cholera,
Vibrio parahaemolyticus, Staphylococcus aureus, dan kuman
komensal seperti E. coli; di samping itu dilakukan pula pe-
meriksaan angka Inman sebagai indikator kebersihan TPM.
Tidak ditentukan jarak antara lokasi dan tempat pemeriksa-
an makanan.
PENGUJIAN ISOLASI MAKANAN
Pengujian isolasi makanan dilakukan dengan cara Ohashi
(2)
.
Secara aseptis diambil 10 gram contoh makanan untuk di-
haluskan dengan menggunakan blender/gunting/pisau steril
kemudian dihomogenisasi dengan 90 ml Phosphat Buffer Saline
(pH 7.2). Contoh makanan dimasukkan ke dalam media penyu-
bur selenit untuk menyuburkan kuman Shigella dan Salmonella,
media Lactose Broth untuk menypburkan kuman E. coli, media
Alkalis pepton untuk menyuburkan kuman V. cholera, media
Alkalis pepton 3% NaCl untuk menyuburkan kuman V. para-
Cermin Dunia Kedokteran No. 83, 1993 41
background image
haemolyticus, dan Cooks Meat medium untuk menyuburkan
kuman S. aureus. Kemudian diinkubasi di dalam inkubator
selama 24 jam pada suhu 37°C.
Dari setup biakan tersebut selanjutnya diambil sebanyak 1
ose, ditanam ke dalam media selektip yaitu Mac Conkey Agar
untuk pertumbuhan kuman E. coli; Salmonella Shigella Agar
untuk pertumbuhan kuman Shigella dan Salmonella; media
Thiosulfat Citrate Bile Salt (TCBS) untuk pertumbuhan kuman
V. cholera; TCBS 3% NaCl untuk pertumbuhan kuman V.
parahaemolyticus dan Mannitol Salt Agar untuk pertumbuhan
kuman Staphylococcus aures. Inkubasi dilakukan pada tern-
peratur 37°C selama 18-24 jam.
Untuk penegasan dilakukan test biokimia, dan bila perlu
dilakukan test serologi.
Pemeriksaan Jumlah Angka Kuman
Dilakukan dengan menggunakan Standard Total Plate
Count; caranya sebagai berikut :
Contoh makanan yang akan diperiksa ditimbang seberat 10
gram, kemudian secara aseptis dihaluskan dengan blender/gun-
ting/pisau steril, lalu dihomogenisasi dengan 90 ml Phosphate
Buffer Saline, kemudian ditipiskan sebanyak 5-6 kali.
Secara aseptis diambil 1 ml larutan tersebut, dihomogeni-
sasi dengan agar Total Plate Count dan diinkubasikan selama
24 jam dengan suhu 37°C.
Digunakan rumus sebagai berikut :
makanan
contoh
gram
10
X
C
B
A
=
Keterangan : A =
Jumlah angka kuman.
B = Jumlah kuman terhitung.
C = Penipisan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Dan 200 contoh makanan yang diperiksa, diperoleh ber-
bagai jenis sebagai berikut (tabel 1).
Tabel 1. Jenis makanan yang diperoleh dart katering di Jakarta
No. Jenis
makanan
Jumlah
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
Nasi
Sayur
Gulai
Rendang
Sambal goreng
Opor
Acar
Bakmi
Ayam/daging goreng
Sambel
Kue-kue
Buah-buahan
35
33
13
9
7
2
6
4
52
11
23
5
Ternyata 7 contoh makanan (4%) mengandung kuman E.
coli
(tabel 2), 2 contoh makanan (1%) mengandung kuman S.
aureus
(tabel 3).
Tabel 2. Kuman E. call positip menurut Jenis makanan
Jumlah positip
No. Jenis
makanan Jumlah
diperiksa
n 96
1.
2.
3.
4.
5.
Nasi
Sayur
Acar
Ayam/daging goreng
Sambel
32
33
6
52
11
1
2
1
2
1
2,85
6,06
16,66
3,84
9,09
Tabel 3. Kuman Staphylococcus aureus positip menurut Jenis makanan
Jumlah positip
No. Jenis
makanan Jumlah
diperiksa
n 4b
1.
2.
Daging/ayam
Kue-kue
52
23
1
1
1,92
4,34
Kuman S. aureus tersebut tumbuh pada hasil olahan makanan
katering dari wilayah Jakarta Pusat.
Indikator kebersihan tempat pengolahan makanan (kater-
ing) dapat dilihat pada tabel 4.
Tabel 4. Angka Kuman lebih besar dart Standard yang telah ditentukan
menurut
Jenis
Makanan
Melebihi standard
No. Jenis
makanan Jumlah
diperiksa
n %
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
Nasi
Sayur
Acar
Sambal goreng
Ayam/daging goreng
Kue-kue
Buah-buahan
35
33
6
7
52
23
5
7
7
2
2
10
5
2
20
18,18
33,33
28,57
19,53
21,74
40,00
Angka kuman pada makanan katering digunakan untuk
indikator kebersihan sanitasi Tempat Pengolahan Makanan (ka-
tering). Dalam peraturan Menteri Kesehatan No. 712/MenKes/
PER/X/1986 tanggal 6 Oktober 1986 tentang Persyaratan Ke-
sehatan Jasa Boga, kuman E. coli pada makanan olahan harus
tidak ada. Sedangkan angka kuman pada permukaan alat yang
digunakan untuk tempat makan ataupun yang kontak dengan
makanan sebanyak-banyaknya 100%m
2
, dan jumlah angka
kuman pada makanan tidak lebih dari 3x 10
5
. Hasil olahan
makanan tidak mengandung kuman patogen lainnya.
Karena pada penelitian ini ditemukan kuman E. coli pada
contoh makanan, maka apabila ditinjau dari Peraturan Menteri
makanan tersebut tidak boleh dikonsumsi. Kuman E. coil dapat
menyebabkan gastroenteritis bila kuman tersebut menghasilkan
toksin, baik enterotoksin maupun eksotoksin. Hilda dick (1982)
mendapatkan bahwa kontaminasi makanan dan minuman dari
pedagang kaki lima di DKI Jakarta berasal dari food handler
dan penggunaan air yang mengandung coliform
(3)
.
Berita
Epidemiologi PPM & PLP melaporkan terjadinya keracunan
Cermin Dunia Kedokteran No. 83, 1993
42
background image
makanan di Asrama Calon Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di
Jakarta yang disebabkan oleh sumber air dan air minum yang
terkontaminasi kuman E. coil patogen
(4)
.
Apabila higiene dan sanitasi katering rendah, maka yang
terkena risiko adalah semua orang yang mengkonsumsi hasil
olahan makanannya. Jika seseorang terkena infeksi kuman E.
coli
patogen, 12-72 jam setelah terinfeksi, dapat muncul tanda-
tanda nyeri kepala, demam, mual, dan diare. Apabila penderita
tidak segera mendapat pertolongan, akan terdapat darah dan
mukosa di dalam tinjanya, dan dapat berlanjut menjadi fatal
(5)
.
Kuman Staphylococcus aureus terdapat di bagian luar
tubuh terutama hidung, kulit, baik hewan maupun manusia, dan
pada hewan piaraan seperti tern,* unggas, sapi, kambing, babi,
serta di udara terbuka. Kontaminasi mudah terjadi pada
makanan mentah, buah-buahan, bahan-bahan yang berasal dari
kerang, ikan, kepiting (rajungan), susu dan hasil olahannya
(5)
.
Keadaan yang mempengaruhi terjadinya kontaminasi
antara lain pH, temperatur dan komposisi makanan. Temperatur
optimum untuk kuman ini berkisar antara 30°C sampai 40°C
(3)
.
Bila di dalam makanan terkandung 10
6
sampai 10
9
kuman ini per
gram makanan yang termakan, maka akan terjadi keracunan ma-
kanan dengan gejala mual, muntah dan diare
(7)
. Masa inkubasi
kuman ini berkisar antara 1-8 jam
(5)
; mudah ditularkan oleh food
handler
yang merupakan carrier terhadap kuman tersebut
(5)
.
KESIMPULAN DAN SARAN
Dengan ditemukannya kuman E. coli, Staphylococcus
aureus,
serta angka kuman pada contoh makanan yang di-
periksa lebih besar dari standar, maka perlu dilakukan
pengecekan terhadap food handler (penjamah) makanan
katering. Di samping itu perlu ditingkatkan pula higiene dan
sanitasi katering.
KEPUSTAKAAN
1.
Peraturan Menteri Kesehatan No. 712/Menkes/X/1986 tentang Persyaratan
Kesehatan Jasaboga.
2.
Ohashi et al. Manual for the Laboratory Diagnosis Of Bacterial Food
Poisoning and The Asssment of Sanitary Quality of Food. SEAMIC Publ.
Tokyo 1978; 71-82, 116.
3.
Hilda et al. Bacterial content in food, drink and ice, collected from street
food handler in Jakarta, Medika 1982; 3.
4.
Djairas et at Laporan investigasi KLB Keracunan Makanan pada Asrama
Transito Tenaga Kerja Indonesia, Gondangdia Kecamatan Menteng,
Jakarta Pusat. Berita Epidemiologi 1989; 3-12.
5.
Yacob M. Safe food handling. WHO. 1989; p. 24-6.
6.
WHO. Microbiological Aspect Food Hygiene. WHO Techn. Rep. Ser 598,
1976.
7.
Jawetz E. et aL The Microbiology of Special Environment. Review of
Medical Microbiology 12th ed. Lange Med Publ, Los Angeles, California,
1986. p. 89-90.
8.
Refai MK. et at Manual of Food Quality Control Microbiological Analisis.
FAO. V014. 1979.
PEMBERITAHUAN
Di dalam persediaan kami, masih terdapat nomor-nomor Cermin Dunia Kedokteran
terbitan lama, sebagai berikut :
CDK 17/1980 -
Penyakit Saraf (sambungan)
70 eks.
CDK 33/1984 -
Masalah Anestesi
49 eks.
CDK 43/1987 -
Bedah Mikro
42 eks.
CDK 49/1988 -
Seminar Penyakit Tak Menular I
53 eks.
CDK 52/1988 -
Tumor Kepala dan Leher
28 eks.
CDK 53/1988 -
Insomnia
25 eks.
CDK 55/1989 -
Malaria II
25 eks.
CDK 65/1990 -
Imunisasi I
120 eks.
CDK 66/1991
Imunisasi II
122 eks.
CDK 67/1991
Kardiovaskular
169 eks.
CDK 69/1991 -
Pulmonologi
94 eks.
CDK 70/1991 -
Kesehatan dan Lingkungan
123 eks.
CDK 71/1991 -
Simposium Peningkatan Pelayanan RS
400 eks.
CDK 73/1991 -
Gizi
57 eks.
CDK 74/1992 -
Kulit I
77 eks.
CDK 76/1992 -
Kulit II
327 eks.
CDK 77/1992 -
Tumor Otak
518 eks.
CDK 78/1992
Penyakit Sendi
639 eks.
CDK 79/1992
Masalah Saluran Cema
207 eks.
Sekiranya edisi-edisi tersebut di atas masih diperlukan, Sejawat dapat memberi-
tahukannya kepada kami melalui surat; kami akan mengirimkannya ke alamat Sejawat
selama persediaan masih ada, secara cuma-cuma.
Cermin Dunia Kedokteran No. 83, 1993 43