background image
HASIL PENELITIAN
Ot Hematoma dan Pengelolaannya
H. Soekirman DSTHT
Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat Banjarinasin, Kalimantan Selatan
ABSTRAK
Pengelolaan 20 penderita Ot hematoma di RSU Ulin Banjarmasin Propinsi Kali
mantan Selatan selama periode tahun 1989 s/d 1994 dengan cara mirip metode Cochran
memperoleh hasil yang baik. Semua penderita laki-laki (100%), 95% dewasa dan pada
smas di seluruh Indonesia.
ni biasanya terdapat pada remaja atau orang
dew
menerapkan cara pengobatan yang tidak
sem
a menyebabkan ketidak nyaman-
an dalam tugas sehari-hari ataupun melakukan latihan/pertan-
dingan bagi olahragawan
(4,5)
.
Penanganan dengan cara aspirasi dan dilanjutkan penekan-
an memakai gips sebagai fiksasi memperoleh hasil cukup baik
(6)
tetapi tidak semua pos pelayanan medis di daerah terutama di
puskesmas mempunyai gips.
n itu penulis menangani Ot hematoma di RSU
Daun telinga terdiri dari selembar tulang rawan elastis
dengan bentuk tidak teratur setebal 0,5 ­ 1 mm, tertutup perikhon-
drium dengan lapisan kulit yang dihubungkan dengan bangunan
sekitarnya oleh otot dan ligamentum. Pada lobule lapisan kulitnya
tidak berambut dan tidak berkelenjar minyak.
Bagian pada Aurikula
PENDAHULUAN
Ot hematoma merupakan hematoma daun telinga akibat
suatu rudapaksa yang menyebabkan tertimbunnya darah dalam
ruangan antara perikhondrium dan kartilago
(1,2,3)
.
Keadaan i
asa yang mempunyai kegiatan memerlukan kekerasan,
namun bisa saja dijumpai pada usia lanjut dan anak-anak.
Bagi dokter THT sangat mudah mendiagnosis Ot hema-
toma, akan tetapi tenaga medis lainnya tidak jarang keliru men-
diagnosis, sehingga
estinya.
Kesalahan penanganan Ot hematoma, dapat menyebabkan
perikhondritis supuratif aurikuler; komplikasi infeksi daun
telinga ini sangat ditakuti karena dapat menyebabkan seluruh
daun telinga terkena infeksi dan mengubah bentuk daun telinga
(Cauliflower ear).
Beberapa cara pengelolaan banyak ditulis, antara lain de-
ngan tindakan operasi atau insisi dan pembersihan, kemudian
dilakukan pembalutan. Tindakan ini tidak hanya dapat menim-
bulkan kekambuhan, tetapi jug
Berkenaa
Ulin Banjarmasin Propinsi Kalimantan Selatan, secara mirip
metode Cochran mengingat metode ini juga dapat dikerjakan di
puskesmas seluruh Indonesia.
TINJAUAN KEPUSTAKAAN
A. Anatomi
17 orang (85%) terjadi di daerah concha.
Cara ini dipandang dapat dilakukan di Puske
background image
B. Beberapa Cara Metode
1) Bebat tekan melingkar
(1)
.
2) Bantalan kapas/kasa dijahitkan menembus aurikula (Davis,
Eade)
(4)
.
3) Bantalan kasa yang jenuh dengan salep antibiotika dan pipa
karet yang masing-masing di depan dan di belakang aurikulum,
dijahit menembus aurikulum
(7)
.
4) Bantalan kapas/kasa yang dicelupkan dalam cairan kolodion
dan diletakkan pada telinga yang sakit (Stutevi1le)
(4)
.
5) White Wool dan atau Webrik yang dicelupkan dalam cairan
kolodion dan diletakkan pada telinga yang sakit
(4)
.
6) Gips yang dicampur air secukupnya dan dicetakkan pada
telinga yang sakit
(6)
.
7) Penekanan dengan memakai bloster yang dijahit
(7)
.
8) Bantalan kasa yang padat dibasahi Betadine® masing-masing
di depan dan belakang aurikula dijahit menembus aurikula dan
difiksasi dengan pipa plastik dan bekas slang infus pada bagian
belakang aurikula (Soekirman 1995 yang sekarang
dikemukakan).
Semua tindakan di atas dilakukan setelah aspirasi Ot he-
matoma.
Dalam tindakan operasi perlu diperhatikan bahwa karena
tulang rawan daun telinga hanya dibentuk oleh satu lembar
tulang rawan, maka pendarahan ataupun infeksi sub perikhon-
drium dapat menyebabkan nekrosis seluruh daun telinga.
BAHAN DAN CARA
Bahan
Semua penderita Ot hematoma yang berobat di bagian THT
RSU Ulin Banjarmasin Propinsi Kalimantan Selatan.
Anamnesis :
­ benjolan di aurikula (daun telinga)
­ tidak/ada rasa sakit
­ ada/tidak ada riwayat ruda paksa
­ biasanya tidak ada rasa panas
Inspeksi :
­ benjolan pada aurikula bagian depan pada daerah cekunga
­ tidak ada hiperami
­ tidak ada oedema
Palpasi :
­ fluktuasi/kenyal
­ ada/tidak ada rasa sakit
Aspirasi :
­ serohemoragis, cairan steril (dilakukan pada saat tindakan
operasi).
Selama periode tahun 1989 s/d 1994 didapatkan 20 orang pen-
derita Ot hematoma.
Tabel 1. Penderita Ot hematoma berdasarkan jenis kelamin dan umur
Penderita
Kelamin Umur
Penderita
Alamat
Tahun No.
Lk Pr 0-14 15-25 26-35 36-50 50- Bjm
Luar
Bjm
1989
1
1
­ ­ 1 ­ ­ ­ 1 ­
2
1
­ ­ ­ ­ 1 ­ 1 ­
3
1
­ ­ ­ 1 ­ ­ 1 ­
1990
4
1
­ 1 ­ ­ ­ ­ 1 ­
5
1
­ ­ ­ 1 ­ ­ 1 ­
1991
6
1
­ ­ ­ 1 ­ ­ 1 ­
7
1
­ ­ ­ 1 ­ ­ 1 ­
8
1
­
­
­
­
­
1
­
1
9
1
­ ­ ­ ­ 1 ­ 1 ­
10
1
­ ­ ­ 1 ­ ­ 1 ­
11
1
­ ­ 1 ­ ­ ­ 1 ­
12
1
­ ­ ­ 1 ­ ­ 1 ­
1992
13
1
­ ­ ­ ­ ­ ­ 1 ­
14
1
­ ­ ­ 1 ­ ­ 1 ­
15
1
­ ­ ­ 1 ­ ­ 1 ­
16
1
­ ­ ­ 1 ­ ­ 1 ­
1993
17
1
­ ­ ­ 1 ­ ­ 1 ­
1994
18
1
­ ­ ­ 1 ­ ­ 1 ­
19
1
­
­
1 ­
­
1
­
20
1
­ ­ ­ 1 ­ ­ 1 ­
Jumlah 20
20
­ 1 3 12 3 1 19 1
Tabel 1 memperlihatkan bahwa semua penderita Ot hema-
toma adalah laki-laki (100%). Penderita anak (0 ­ 14 tahun)
hanya 1 orang (5%), juga usia lanjut> 50 tahun hanya 1 orang
(5%$), sebagian besar berasal dari kotamadya Banjarmasin (19
orang = 95%).
Lokasi daerah concha 17 orang (85%); yang murni daerah
concha 12 orang (60%) sedang sisanya 5 orang (25%) berhu-
bungan/meluas ke arah daerah atas (superior) aurikula. Hal ini
terlihat waktu dilakukan aspirasi daerah concha ternyata daerah
superior aurikula ikut menyusut.
Dari 5 (lima) orang tersebut ternyata 2 orang (10%) meluas
ke arah samping/lateral aurikula, dan ini juga terlihat waktu di-
lakukan aspirasi bagian tersebut ikut mengempis.
Penderita yang berlokasi di bagian atas/superior aurikula
ada 8 orang (40%), tetapi yang murni terjadi pada daerah
superior aurikula hanya 2 orang (10%).
Penderita pada daerah lateral aurikula merupakan
perluasan saja dari daerah concha atau daerah aurikula bagian
superior sebanyak 3 orang (15%).
Bagian telinga yang terkena: 11 orang (55%) pada bagian
kanan, dan 9 orang (45%) bagian kiri).
TEKNIK PENGELOLAAN
Metode yang dipakai, secara teknis mengikuti metode
Cochran. Pada metoda Cochran memakai kain kasa jenuh yang
dibasahi salep antibiotika, sedang penulis memakai larutan
Betadine®, sedang pipa karet oleh penulis diganti dengan pipa
plastik bekas slang infus.
Cara
1) Dilakukan pada keadaan steril di kamar operasi, baik ope-
rator ataupun daerah yang akan dioperasi.
2) Premedikasi biasanya cukup sulfas atropin 1/4 mg dan
diazepam 10 mg, kadang-kadang dapat diberikan petidin 30 mg
(tidak selalu diberikan) pada orang dewasa; tidak dilakukan
bius lokal atau bius umum. Hanya pada 1 (satu) penderita anak
kecil dilakukan bius umum.
3) Tindakan operasi
a) Persiapan Alat
Cermin Dunia Kedokteran No. 120, 1997
46
background image
Tabel 2. Penderita Ot hematoma berdasarkan bagian telinga dan lokasi
Kelamin Kelompok
Umur Telinga
Lokasi
Tahun No.
Lk Pr 0-14 15-25 26-35 36-50
51- Ka Ki Concha Superior Lateral
1989 1
1
­ ­ ­ ­ ­ ­ ­
1 +
­
­
2
1
­
­
­
­
1
­
­
1
+
­
­
3
1
­ ­ ­ 1 ­ ­ 1
­ +
­
­
1990 4
1
­ 1 ­ ­ ­ ­ 1
­ +
­
­
5
1
­
­
­
1
­
­
1
­
+
­
­
1991 6
1
­ ­ ­ 1 ­ ­ 1
­ +
­
­
7
1
­ ­ ­ ­ ­ ­ 1
­ ­
+
­
8
1
­ ­ ­ ­ ­ 1 ­
1 ­
+
+
9
1
­ ­ ­ ­ ­ ­ ­
1 +
+
­
10
1
­ ­ ­ 1 ­ ­ ­
1 +
+
+
1
1
1
­ ­ ­ ­ ­ ­ ­
1 +
­
­
12
1
­ ­ ­ 1 ­ ­ 1
­ +
­
­
1992
13
1
­ ­ ­ ­ 1 ­ ­
1 +
+
­
14
1
­ ­ ­ 1 ­ ­ ­
1 +
­
15
1
­ ­ ­ 1 ­ ­ ­
1 +
+
+
16
1
­ ­ ­ 1 ­ ­ ­
1 ­
+
­
1993
17
1
­ ­ ­ 1 ­ ­ 1
­ +
+
­
18
1
­ ­ ­ 1 ­ ­ 1
­ +
­
­
19
1
­ ­ 1 ­ ­ ­ 1
­ +
­
­
20
1
­ ­ ­ 1 ­ ­ 1
­ +
­
­
Jumlah 20 20 ­
1
3
12
3
1 11 9
17
8
3
Alat suntik plastik ukuran 3 s/d 5 ml dengan jarumnya.
Deper padat seperti depertonsil dibuat sesuai dengan ukuran-
ukuran tertentu.
·
Jarum jahit bedah bentuk melengkung ukuran sedang.
·
Benatig cotton yang kuat ukuran sedang.
·
Pipa plastik bekas infus dipotong ukuran 5 ­ 7 cm.
·
Larutan Betadine® yang ditumpahkan di mangkok.
·
Kain kasa steril biasa.
·
Plester.
·
Tang pemegang jarum jahit.
b) Tindakan
·
Dilakukan desinfeksi dengan larutan Betadine® pada seluruh
bagian daun telinga dan sekitarnya terutama daerah lokasi he
matoma, kemudian dibersihkan dengan alkohol 70%.
·
Ditutup dengan kain steril yang berlubang, sehingga daun
telinga saja yang tampak.
·
Dilakukan aspirasi hematoma dengan alat suntik plastik 3
ml atau 5 ml.
·
Setelah dilakukan aspirasi. daerah hematoma ditekan ibu
jari dan jari telunjuk tangan kiri.
·
Kemudian dilakukan jahit tembus I dengan benang cotton
dari depan ke belakang aurikula, lalu potongan slang infus plastik
ditembus dengan jarum jahit, dan dilanjutkan jahit tembus ke II
dari belakang ke depan aurikula.
·
Tali bagian belakang yang sudah ditembuskan ke pipa
plastik dilonggarkan.
·
Ditempatkan satu kain kasa (depper) yang padat sesuai
daerah hematoma yang telah dibasahi larutan Betadine®, dan
di bagian belakang aurikula diletakkan 1 (satu) buah deper
yang agak lebih besar.
·
Untuk menekan daerah bekas hematoma lebih ketat, tali
tersebut dilkat kencang pada bagian depan dan bagian pipa
plastik menahan bagian belakang deper.
·
Setelah itu daun telinga ditutup dengan kain kasa dan di-
plaster.
·
Jahitan dilepas dilihat 1 (satu) minggu.
·
Penderita diberikan obat jalan untuk 1 (satu) minggu berupa
antibiotika, anti radang dan lainnya yang dianggap perlu.
·
Setelah 1 (satu) minggu dibuka, daerah bekas Ot hematoma
sudah lengket dan cukup diolesi Betadine® sol dan ditutup 2­3
hari dengan kain kasa supaya bersih, dan setelah itu dapat
dilepas sudah lengket dan cukup diolesi larutan Betadine® dan
ditutup 2­3 hari dengan kain kasa supaya bersih, dan setelah itu
dapat dilepas.
Hasil pengelolaan Ot hematoma di atas dan 20 penderita
ternyata semua berhasil baik, tidak menimbulkan cacat.
PEMBAHASAN
Pada Tabel 1 dapat dilihat bahwa semua penderita Ot he-
matoma di RSU Ulin Banjarmasin adalah 22 laki-laki (100%).
Slamet Riyanto (1983) dan 37 penderita Ot hematoma, 35 orang
(95,6%) adalah laki-laki. Penderita anak 1 orang (5%) dan (19/
95%) orang dewasa, sedang Slamet Riyanto (1983) 37 (100%)
adalah dewasa. Penderita di atas 50 tahun hanya 1 orang (5%),
sedang Slamet Riyanto (1983) ada 3 orang (8%).
Data di atas lebih mendukung kemungkinan ruda paksa
pada proses terjadinya Ot hematoma.
Tabel 2 memperlihatkan bahwa bagian telinga kanan dan
kiri tidak banyak berbeda, kanan 11 orang 55%, kiri 9 orang
(45%). Hasil ini sesuai dengan penelitian Slamet Riyanto dan
37 orang yang kanan 19 orang (51%) dan kiri 18 orang (49%).
Tabel 2 memperlihatkan bahwa daerah lokasi yang terkena
Ot hematoma 12 orang (60%) murni pada daerah concha. WH.
Gernon (1980) juga mendapatkan 60% pada daerah concha.
Sedang Priyono dkk (1983) mendapatkan 80% pada concha.
Lima orang (25%) menderita penluasan dan daerah concha
ke arah bagian superior aurikula, sedang Priyono (1983), menda-
patkan hanya 16%. Perluasan ke arah lateral ada 2 orang (10%).
background image
Pada daerah superior murni ada 2 orang (10%), sedang
Priyono (1983) mendapatkan hanya 4%.
Pada kasus di atas Ot hematoma daerah lateral adalah me-
rupakan perluasan dari daerah supervior 1 orang (5%), sedang
perluasan dan concha 2 orang (10%).
KESIMPULAN
Telah dilakukan pengelolaan pada 20 orang penderita Ot
hematoma di bagian THT RSU Ulin Banjarmasin Propinsi Ka-
limantan Selatan dengan cara mirip metode Cochran; diperoleh
hasil kesembuhan yang baik. Cara ini dianggap dapat dilakukan
di puskesmas sehingga dapat dicontoh pelaksanaannya.
Semua penderita adalah laki-laki (100%) dan 95% orang
dewasa sehingga teori rudapaksa pada Ot hematoma sesuatu hal
yang memungkinkan.
KEPUSTAKAAN
1. Ballantyne J, Grove J. Scott-Brown's Disease of the Ear, Nose and Throat,
3rd ed. Vol 3. London: Butterworth & Co. 1977.
2. Cochran JH. Treatment of acute auncular hematoma. Laryngoscope 1980;
90: 1063­64.
3. Paparella MM, Shumrick. Otolaryngology Vol 2. Phitadelphia: WB. Saun
ders Co. 1973.
4. Gernon WH. The care and management of acute hematoma of external ear.
The Laryngoscope 1980; 90: 88 1­85.
5. Koopman CF. Management of hematomas of the Auricle. The
Laryngoscope 1979; 89: 1172­74.
6. Slamet Priyanto, Sri Rukmini Subroto. Gips sebagai bahan fiksasi pada
perawatan hematoma aurikularis. Naskah Kongres Nasional Perhati VII
Surabaya. Agustus 1983.
7. Priyono H, H. Soekirman, Soepomo. Pengelolaan Ot hematomadengan
cara pengikatan disertai penekanan lokal. Naskah Kongres Nasional
Perhati VII Surabaya. Agustus 1983.
8. Ballanger JJ. Disease of the Nose, Throat and Ear, 12th ed. Philadelphia:
Lea and Febiger 1977. pp. 777­778.
A community is as those who rule it
(Cicero)
Cermin Dunia Kedokteran No. 120, 1997
48