Manula dan Olahraga
Ditinjau dari Sistem Kardiovaskular
Nadi Hartono, Iwan N. Boestan
Laboratorium/UPF Kardiologi, Fakultas Kedokteran Universitas Airlanggal
RSUD Dr. Soetomo, Surabaya
PENDAHULUAN
Dengan semakin baiknya fasilitas kehidupan termasuk ke-
sehatan, usia manusia cenderung lebih panjang. Jumlah pen-
duduk usia lanjut (manula) saat ini demikian besar dibanding
dengan dekade tahun 1950 1960. Meskipun demikian kriteria
manula berbeda-beda antara negara satu dengan yang lain dan
antara negara berkembang dengan negara maju.
Di Indonesia umur 55 tahun sudah dianggap tua sehingga
dimasukkan pada usia pensiun. Sedangkan di beberapa negara
maju, usia pensiun berlaku pada umur 80 tahun. WHO akhirnya
menentukan bahwa umur 60 tahun merupakan batas seseorang
dimasukkan dalam kelompok manula
(1,.2)
.
Semakin banyaknya jumlah manula, selain manfaatnya
ternyata juga mempunyai beberapa dampak yang kurang tneng-
gembirakan. Bagi mereka sendiri, usia lanjut menimbulkan
beberapa beban psikologis, yang disebabkan perbedaan kondisi
sosial dan budaya dengan masyarakat sekitarnya
(3)
. Selain itu di
bidang kesehatan di Amerika, yang menjadi masalah adalah
tingginya insiden penyakit, meningkatnya prevalensi penyakit
kronik dan menurunnya kemampuan fungsional. Di antara 10
penyakit kronik yang terbanyak ialah penyakit kardiovaskular,
berupa darah tinggi pada 59% manula dan penyakit jantung yang
lain 25,7%
(4)
. Kemudian WHO (1989) juga melaporkan bahwa
penyebab kematian terbesar pada usia 6574 tahun adalah pe-
nyakit kardiovaskular yaitu 50%; seperempatnya oleh karena
penyakit jantung koroner (PJK).
Mengingat tingginya angka morbiditas dan mortalitas
akibat penyakit kardiovaskular tersebut, sudah sepatutnya di-
lakukan usaha promotif dan preventif untuk menanggulanginya.
Salah satu usaha promotif yang dianjurkan adalah membentuk
kelompok olah raga khusus bagi orang tua. Peranan olahraga
dalam pencegahan penyakit jantung sudah diakui oleh masya-
rakat karena itu perlu dipikirkan bentuk latihan yang tepat bagi
para manula tersebut(
s.o
.
DEMOGRAFI
Masalah manula semakin menarik perhatian para pakar
kependudukan karena jumlahnya demikian cepat membengkak.
Pada tahun 2000 nanti diperkirakan akan berjumlah 600 juta
orang dengan distribusi 2/3 di antaranya hidup di negaraberkem-
bang. Indonesia, Brazil, Cina dan India disebut sebagai negara
berkembang yang akan mempunyai jumlah terbesar manula.
Di Indonesia pada tahun 2020 diperkirakan 7,4% penduduk
berusia di atas 60 tahun, yang jumlahnya sekitar 20 juta jiwa
(WHO, Expert Committe, 1989, BPS, 1982)
(2)
. Sedangkan di
India dan Cina, jumlah manula pada tahun 2020 akan mencapai
270 juta lebih.
Di bawah ini disajikan proyeksi jumlah manula di beberapa
benua (Fig. 1).
PERUBAHAN PADA SISTEM KARDIOVASKULAR
Perubahan akibat bertambahnya usia pada jantung dan
pembuluh darah sulit dipisahkan dengan perubahan akibat
proses patologis karena begitu banyak penyakit yang timbul
selaras dengan meningkatnya usia. Di tingkat molekul, yang
penting adalah perubahan yang berhubungan dengan jaringan
kolagen. Jaringan ini merupakan 3,5% dari bcrat jantung pada
orang normal dan merupakan komponen terbesar dari jaringan
katup, endokardium, epikardium dan juga bcrada di scla-sela
sel miokard. Perubahan yang terjadi lebih bersifat kualitatif di-
banding kuantitatif. Jaringan kolagen menjadi lebih insoluble,
lebih stabil secara kimia dan kaku; akibatnya kemampuan
kontraksi dan distensi jantung akan menurun. Perubahan yang
sama juga terjadi pada organ tubuh yang lain sesuai dengan
peningkatan usia. Beberapa penelitian mclaporkan adanya
Cermin Dunia Kedokteran No. 78, 1992
52
Fig. 1. Population aged 60 years and over, by major world regions,
19602020*
Source: United Nations Population Division
* Reproduced from: WHO, World health statistics annual, 1987. Geneva,
World Health Organization, 1987.
perubahan enzim, akan tetapi masih belum ada kesepakatan
mengenai fungsinya. Dilaporkan bahwa perubahan terjadi pada
organel di dalam sel. Perubahan spesifik yang lain mengenai
lipofusin yang mengendap bagaikan kumpulan granula di dekat
nucleus pole. Asal lipofusin ini masih belum jelas, beberapa
teori menyatakan lipofusin bertambah selaras dengan bertam-
bahnya umur, yaitu 0,03% dari volume jantung per tahun. Yang
penting bahan ini tak mempengaruhi fungsi miokardium.
Pengendapan bahan amiloid sering terjadi pada jantung
yang menua, yaitu pada 92% manula. Endapan ini diduga lebih
banyak disebabkan oleh proses patologis daripada proses menua.
Gambaran patchy fibrosis sering ditemukan pada miokardium
yang bila luasnya lebih dari 2 cm merupakan akibat dari pe-
nyumbatan pembuluh darah koroner. Bila kurang dari 2 cm,
jarang karena penyakit jantung koroner dan lebih sering di-
sebabkan oleh miokarditis.
Perubahan pada katup jantung berupa penurunan jumlah
nukleus, akumulasi lemak, degenerasi kolagen dan kalsifikasi.
Bentukan ini disebut fibrous stroma yang akan mengganggu
gerakan katup dan terjadi lebih sering pada katup aorta. Ke-
adaan ini terjadi pada salah satu katup dari 1/3 individu yang
berumur 70 tahun dan menyebabkan gangguan hemodinamik.
Arteria koronaria mengalami atherosklerosis pada hampir
semua manula. Pada laporan otopsi didapatkan atherosklerosis
pada sebagian besar manula, walaupun penyebab kematiannya
bukan penyakit jantung koroner. Perubahan di alas juga
mengenai pembuluh darah perifer termasuk di antaranya aorta.
Dinding pembuluh darah menjdi tebal dan kaku, sehingga
untuk peningkatan volume tertentu terjadi peningkatan tekanan
yang lebih tinggi daripada orang yang muda.
Sistem konduksi jantung jugamengalami perubahan berupa
pengurangan jumlah sel pace maker pada simpul atrium. Pada
umur pertengahan proses di atas sudah dimulai dan pada umur
60 tahun berjalan lebih progresif sehingga pada umur 75 tahun
sel yang aktif tinggal 10%. Simpul AV dan common bundle of
His tidak mengalami perubahan, tapi sejak percabangan terjadi
proses fibrosis sehingga beberapa sarjana menghubungkan
dengan terjadinya blok konduksi.
Perubahan pada sistim saraf otonom berupa penurunan
sensitivitas baroreseptor yang berada pada aorta dan sinus ka-
rotikus. Penurunan tersebut akibat berkurangnya elastisitas dan
deformasi dinding pembuluh darah. Selain itu sensitivitas re-
septor beta terhadap obat-obatan baik yang agonis ataupun
antagonis menurun.
Seluruh perubahan di atas akhirnya berpengaruh juga pada
fungsi jantung. Penurunan fungsi jantung pada manula selain
disebabkan oleh proses menua biasanya juga dipengaruhi oleh
banyak faktor sehingga sulit dibedakan. Pada usia 70 tahun,
curah jantung menurun 25% dibanding waktu usia 20 tahun.
Perubahan ini disebabkan menurunnya frekuensi denyut jan-
tung dan penurunan isi sekuncup. Tetapi Rodekiffer (1989),
menyangkal adanya penurunan isi sekuncup dan curet jantung.
Beliau membuktikan bahwa ternyata isi sekuncup justru me-
ningkat untuk mengimbangi penurunan denyut jantung. Walau-
pun demikian harus diakui bahwa respon kardiovaskular manula
pada latihan fisik tidak sebaik orang muda.
Secara garis besar, perubahan fungsi jantung dipengaruhi 4
faktor yaitu :
a)
Penurunan sensitifitas reaksi simpatis akan mempengaruhi
reaksi jantung terhadap latihan.
b)
Peningkatan impedance pembuluh darah akibat berkurang-
nya jaringan elastis akan meningkatkan beban jantung dan
kebutuhan oksigen.
c)
Siklus jantung yang memanjang, terutama waktu relaksasi
(26-35%), akan merugikan karena pada waktu latihan justru
waktu diastolik menjadi lebih pendek. Akibatnya fase pengisian
akan terganggu dan mengganggu peningkatan curah jantung.
d)
Peningkatan jaringan kolagen, akan meningkatkan com-
pliance jantung yang mengakibatkan tingginya tekanan akhir
diastolik.
PENGARUH OLAH RAGA
(1,7,8)
Pada prinsipnya olah raga diharapkan dapat meningkatkan
kapasitas fungsional individu dan menurunkan kebutuhan oksi-
gen otot jantung yang diperlukan pada tingkatan latihan fisik,
baik pada orang sehat maupun orang sakit
(8,9)
. Pada latihan fisik
akan terjadi dua perubahan pada sistim kardiovaskular, yaitu
Cermin Dunia Kedokteran No. 78, 1992 53
peningkatan curah jantung dan redistribusi aliran darah dari
organ yang kurang aktif ke organ yang aktif
(10,11)
. Peningkatan
curah jantung dilakukan dengan meningkatkan isi sekuncup dan
denyut jantung.
Pada manula, seperti telah dijelaskan, mempunyai keter-
batasan pada kedua usaha tersebut. Karena itu pada latihan fisik
dengan beban tertentu akan terjadi hambatan dalam meningkatkan
curah jantung. Mekanisme redistribusi juga mengalami ham-
batan karena sistim saraf otonom yang kurang sensitif, sehingga
pada beban tertentu atau pada permulaan latihan akan terjadi
gangguan pengaturan tekanan darah. Gangguan juga bisa di-
sebabkan karena elastisitas dinding pembuluh darah yang me-
nurun. Kelemahan tersebut menurut Weisfeld masih mungkin
bisa diatasi pada manula normal kecuali memang ada penyakit
lain. Tetapi pada umumnya akibat proses menua tadi kapasitas
maksimal oxygen uptake memang menurun. Menurut penelitian
pada umur 65 s/d 75 tahun masih bisa mencapai 5-7 mets, sedang
pada 75 tahun ke atas hanya 2-4 mets. Keadaan ini tidak berlaku
pada seorang atlit yang tetap mempertahankan kondisinya se-
hingga kapasitasnya masih sekitar 10 mets pada umur 75 tahun.
Pada manula sedentary (tidak latihan), kapasitas fungsional
masih bisa ditingkatkan dengan latihan fisik yang teratur
(4,8,18)
.
Disimpulkan juga bahwa olahraga teratur akan menurunkan
tekanan darah sistolik, menurunkan kadar katekolamin di sir-
kulasi, menurunkan kadar kolesterol dan lemak darah, mening-
katkan kadar HDL lipoprotein, memperbaiki sirkulasi koroner
dan meningkatkan rasa percaya diri
(4,9,17,18)
.
PERSIAPAN OLAH RAGA
Tujuan dari olahraga pada manula adalah untuk memper-
baiki kualitas hidup, mempertinggi kapasitas kerja, rekreasi dan
menghambat penurunan kemampuan fungsional. Kemunduran
biologis dari proses menua sangat dipengaruhi oleh kurangnya
aktifitas fisik. Meskipun begitu, untuk memulai suatu program
latihan hendaknya dilakukan persiapan yang teliti, antara lain
mengenai lingkungan dan fasilitasnya, keamanannya, apakah
cukup efektif dan apakah tidak akan memicu timbulnya penya-
kit-penyakit baru atau lama. Evaluasi terhadap penderita harus
teliti menyangkut, diet sebelumnya, obat-obatan yang digunakan
kemampuan organ muskuloskeletal, fungsi sensoris dan status
kardiovaskular. Diet yang sempurna diperlukan untuk antisipasi
diperlukannya kalori yang tinggi waktu latihan kebutuhan kal-
sium untuk pertumbuhan tulang. Adanya neuropati perifer dan
gangguan sensoris, gait, gangguan keseimbangan, hipotensi
ortostatis dan kelainan muskuloskeletal memudahkan terjadinya
kecelakaan, karena itu diperlukan modifikasi lingkungan agar
aman bagi penderita.
Beberapa macam obat, akan mempengaruhi kemampuan
fisik penderita, misalnya beta bloker dan obat penenang. Diure-
tika akan menyebabkan hipokalemi yang memudahkan ter-
jadinya aritmi jantung dan dehidrasi. Preparat antidiabetik akan
memudahkan terjadinya hipoglikemi, sehingga harus diatur
kembali dosisnya.
Untuk menentukan status kardiovaskular, harus dilakukan
uji latih beban jantung dengan treadmill atau ergocycle. Ergo-
cycle digunakan untuk penderita dengan gangguan keseimbang-
an. Sebelum tes dilakukan sebaiknya dilakukan pengenalan alat
dan pemanasan sehingga hasilnya lebih optimal. Treadmill me-
makai protokol dengan kecepatan rendah (1.7 - 3.5 mph) dan
penambahan beban dilakukan dengan meningkatkan grade
(8,12,13)
.
PENATALAKSANAAN LATIHAN OLAHRAGA
Pemilihan jenis olah raga sangat penting bagi manula. Se-
baiknya dipilih olah raga yang sesuai kemampuan masing-
masing individu, aman, berkesinambungan dan ada nilai
rekreasinya.· Target latihan juga harus jelas, terutama yang
menyangkut kapasitas fungsional dan fungsi psikososial
(5,8,9)
.
Pada umumnya dikenal 2 macam jenis latihan fisik yaitu :
a)
Latihan Isometrik
Latihan ini mengutamakan peningkatan tekanan otot di-
banding dengan gerakan, seperti halnya angkat besi. Latihan
jenis ini tidak bermanfaat untuk sistem kardiovaskular, tapi
diperlukan untuk memperkuat otot-otot.
b)
Latihan Isotonik
Mengutamakan gerakan aktif dari sendi dan otot-otot de-
ngan hanya sedikit meningkatkan tekanan. Latihan sangat ber-
manfaat bagi sistem kardiovaskular, karena akan meningkatkan
curah jantung
(14)
.
Dengan demikian, olahraga yang baik adalah yang meng-
gunakan banyak otot besar dan bersifat ritmik. Sebagai contoh-
nya yaitu walking, jogging, dancing dan berenang. Penggunaan
otot besar lebih baik karena tekanan darah tidak meningkat
setinggi penggunaan otot-otot kecil
(5,8)
.
Olah raga dalam kelompok biasanya berguna untuk ke-
sinambungan latihan dan sosialisasi. Tapi hares tetap diingat
bahwa masing-masing individu hams tetap mempunyai program
tersendiri, sesuai dengan spesifikasinya
(8)
. Untuk sedentary dosis
latihan hams dimulai dengan dosis rendah dan ditingkatkan
secara bertahap sesuai dengan kemampuan. Pada permulaan di-
berikan latihan selama 10 - 20 menit dan baru meningkat men-
jadi 30 menit bila kondisinya mengijinkan. Sebelum latihan se-
benarnya, hendaknya dilakukan pemanasan dan peregangan
selama 5 menit dan latihan diakhiri dengan pendinginan untuk
beberapa menit. Frekuensi latihan dilakukan minimal 3x/minggu
dan interval tidak boleh melebihi 2 hari. Intensitas latihan dapat
dipantau dengan menghitung denyut jantung yang tidak boleh
melebihi 80-85% denyut jantung maksimal atau kurang lebih 30
kali lebih banyak dari denyut awal latihan. Keadaan lingkungan
yang panas dan lembab sebaiknya dihindari karena pada manula
fungsi perspirasi sudah tidak sempurna. Bila berenang sebaiknya
suhu air berkisar 30°C dan denyut jantung jangan melebihi
latihan di darat karena beban jantung lebih berat
(5,8,14)
Walking
dengan kecepatan 3.0 - 3.3 mph, nilai aerobiknya sama dengan
jogging dengan risiko trauma ortopedik yang lebih ringan.
Bersepeda dan square dancing juga mempunyai nilai yang sama.
Hindari bentuk latihan yang bersifat kompetitif karena akan sulit
mengendalikan emosi peserta. Beberapa bentuk latihan telah
Cermin Dunia Kedokteran No. 78, 1992
54
5.
Trunk
twister 6.
Toe
pointer
Figure 2. Stretching calisthenics for warm-up. (From deVries, H.A.:
Prescription of exercise for older men from telemetered
exercise
heart
rate
data.
Geriatrics
20:102,
1971,
with
permis
sion.)
Figure 3. Stretching calisthenics for warm-up. (From deVries, H.A.:
Prescription of exercise for older men from telemetered exer-
cise
heart
rate
data.
Geriatrics 26:102, 1971, with permission.)
Jog-walk regimen
Days
Run
Walk
Number of
1 6
50 steps
50 steps
5 10
7 12
50 steps
40 steps
5 10
13 18
50 steps
30 steps
5 10
19 24
50 steps
20 steps
5 10
25 30
50 steps
10 steps
5 10
31 36
75 steps
10 steps
5 10
37 42
100 steps
10 steps
5 10
43 48
125 steps
10 steps
5 10
49 54
150 steps
10 steps
5 10
55 60
175 steps
10 steps
5 10
61 66
200 steps
10 steps
5 10
67
Individualized program
Figure 4. Jog-walk regimen (From deVries, H.A.: Tips on prescribing
exercise regimen for your older patient. Geriatrics 34:75,
1979,
with
permission.)
dikemukakan oleh banyak ahli, di sini dilampirkan saw di an-
taranya yang dikemukakan oleh De Vries tahun 1971
(12)
.
RINGKASAN
Dengan semakin baiknya fasilitas kehidupan termasuk ke-
sehatan, jumlah penduduk usia di atas 60 tahun (manula) semakin
banyak. Masalah timbul karena angka kesakitan dan kematian
pada manula tersebut sangat tinggi, sehingga biaya perawatan
kesehatan yang diperlukan juga tinggi, selain masalah sosial
budaya yang ada.
Penyakit kardiovaskular ternyata merupakan penyebab yang
ter6anyak dan sebenarnya masih bisa dicegah. Kegiatan olah
raga diharapkan bisa menjadi salah satu altematif.
Meskipun telah terjadi banyak kemunduran pada fungsi
organ tubuh manula tennasuk sistim kardiovaskular, olah raga
masih mungkin mereka lakukan. Olah raga akan memperlambat
kemunduran fungsional, bahkan dapat meningkatkannya pada
penderita sedentary.
Olah raga yang tepat, aman, berkelanjutan dan menyenang-
kan perlu diprogram dengan teliti sesuai dengan kemampuan
perorangan.
Pada makalah ini di jelaskan pula contoh olah raga yang tepat
pada manula yaitu: walking, jogging, swintming, square dancing
dan cycling.
KEPUSTAKAAN
1.
WHO Expert Committee Report. Introduction, Health and functional
status. In: Health of the elderly, Geneva: WHO 1989; p 7.
2.
Wongsokusumo B. Kesejahteraan lanjut usia di Indonesia. Bull Geronto-
logi & Geriatri 1990; 18: 28.
3.
Semiawan CR. Aspek sosial gerontologi. Bull Gerontologi & Geriatri
1990; 14: 3.
4.
AMA. Council on Scientific Affairs, White paper on elderly health, Arch
Intern Med 1990; 150: 2459.
5.
Strasser T. How to prevent cardiovascular disease in old age, In: Cardio
vascular Care of the Elderly. Geneva: WHO 1987; p 145.
6.
Widiastuti, Setiabudi T. Masalah usia lanjut dan pengelolaannya ditinjau
dari segi kesehatan. Bull Gerontologi & Geriatri 1990; 18: 36-40.
7.
Bermann ND. Aging and the heart. In: Geriatric Cardiology. Lexington:
The Collamore Press 1982; p 11.
8.
Fitzgerald PL. Exercise for the elderly. In: Medical aspect of exercise. Med
Clin N Am, 1985; 69: 189.
9.
Boestan IN, Murtiningsih LM, Ismahun P. Peranan latihan fisik dalam
pencegahan penyakit jantung koroner. Simposium Nasional Pencegahan
Penyakit Kardiovaskular, Surabaya, 1990. hal 97.
10.
Ellestad MH. Cardiovascular and pulmonary responses to exercise. In:
Stress Testing, principles and practice, 3rd. Philadelphia: FA Davis Coy.
1986; p 9.
11.
Fox EL, Mathews OK. Blood flow and gas transport. In: The physiological
basis of physical education and athletics. Philadelphia: Saunders College
Publishing 1981; p 223.
12.
Landin RJ, Linnemeier TJ, Rothbaum DA, Chappelear J, Moble RJ.
Exercise testing and training of the elderly patient. In: Exercise and the
heart. Wenger NK (ed.). Philadelphia: Davis Coy, 1985; p 201.
13.
Johnson PV, Lipritz LA, Kelley M, Koestner J. Hypotensive response to
common daily activities in institutionalized elderly, a potential risk for
recurrent falls. Arch. Intern Med. 1990; 150: 1518.
14.
AMA. Council on Scientific Affairs, Exercise program for the elderly.
JAMA 1984; 252: 549.
15.
AMA. Council on Scientific Affairs, Societal effects and other factors
affecting health care for the elderly. Arch Intern Med 1990; 150: 1184.
16.
Pauly J, Palmer JA, Wright JC, Pfeiffer GJ. The effect of a 14-week
employee fitness program on selected physiological and psychological
parameters, J Occup Med 1982; 24: 457.
17.
Stem MJ, Cleary P. The National Exercise and Heart Disease Project: long
term psychosocialoutcome. Arch Intern Med 1982; 142: 1093-7.
18.
Weisfeldt ML, Lakatta EG, GerstenblithG. Aging and cardiac disease. In:
Heart Disease. Philadelphia, 1988; p 1650.
Cermin Dunia Kedokteran No. 78, 1992
56