ANALISIS
Karakteristik Kesehatan di Daerah
Pedesaan dan Perkotaan
Drs. Sarjaini Jamal MSc.
Pusat Penelitian dan Pengembangan Farmasi, Badan Penelitian dan Pen gembangan Kesehatan
Departemen Kesehatan Ri, Jakarta
PENDAHULUAN
Kota dan desa merupakan dua daerah yang selalu diper-
bandingkan secara dikhotomis dalam berbagai hal. ini dapat
dibuktikan melalui format tabel-tabel sosio ekonomik yang
dikeluarkan oleh Biro Pusat Statistik (BPS). Fenomena ini da-
pat dimengerti karena antara kota dan desa memang terdapat
berbagai perbedaan dalam fasilitas umum yang tersedia di
sampingjugadalam karakteristik penduduk
(1)
. Walaupun daerah
pedesaan jauh lebih luas depgan penduduk yang lebih banyak
tetapi keterbatasan yang ada menyebabkan pedesaan selalu
lambat dalam segala hal. Keadaan ini dapat dimaklumi karena
memang sistim pembangunan kita dimulai dan digerakkan dari
perkotaan dan desa dijadikan penyangga. Industri atau usaha di
desa diharapkan dapat menjadi pemasok bahan baku, atau
bahan setengah jadi bagi industri yang ada di kota. Kebijak-
sanaan dengan sistim terintegrasi ini dikenal dan dikembang-
kan dengan apa yang disebut program bapak-anak angkat, serta
konsep industri hulu dan industri hilir. Namun prakteknya tidak
semudah yang direncanakan.
Di bidang kesehatan, perbedaan antara pedesaan dan per-
kotaan juga ditemukan dalam banyak hal. Misalnya tentang
pendirian puskesmas yang selama ini didasarkan pada rasio
jumlah penduduk. Dasar ini kadang-kadang kurang tepat ka-
rena tidak seimbangnya luas daerah dengan jumlah penghuni.
Akibatnya adalah untuk beberapa daerah di luar Jawa, pus-
kesmas yang dibangun sulit dicapai oleh masyarakat karena
jaraknya jauh dan tempat tinggal mereka sedangkan alat
transpor umum sangat minim bahkan mungkin tidak ada.
Tenaga kesehatan yang trampil dan mandiri sangat terbatas,
fasilitas yang dimiliki termasuk obat dan peralatan kesehatan
lainnya tidak cukup untuk mengatasi masa kesehatan yang ka-
dangkala sulit diduga. Di samping itu kondisi sosio ekonomik
penduduk pedesaan yang masih rendah menyebabkan ke-
mampuan daya beli mereka sulit diangkat. Akibatnya pelayan-
an kesehatan yang ada mungkin tidak sanggup dibayar atau
"dicapai" oleh sebagian besar penduduk yang miskin. Kelompok
ini biasanya mencari pelayanan yang lebih mudah `dicapai"
yaitu praktek dukun dan pengobat tradisionil lain. Fenomena
ini tentunya akan berdampak pula pada status kesehatan
penduduk.
Tulisan ini bertujuan melakukan analisis deskriptif me-
ngenai karakteristik kesehatan penduduk pedesaan dan per-
kotaan antara lain: distnibusi penduduk, rawat jalan dan rawat
inap, pola pencarian pengobatan, kehihan kesehatan serta sta-
tus imunisasi balita, pola persalinan dan kematian bayi.
Data yang diutarakan dalam tulisan ini dicuplik dari hasil
berbagai penelitian seperti SDKI, Susenas dan SKRT. Informasi-
informasi lain yang selaras dengan pokok bahasan juga di-
gunakan sebagai bahan acuan.
KARAKTERISTIK KESEHATAN
1) Distribusi penduduk menurut daerah perkotaan dan
pedesaan
Tabel 1. Distribusi penduduk berdasarkan daerah dan jenis kelamin pada
tahun
1992,
menurut
daerah
perkotaan-pedesaan
Jenis kelamin
No.
Daerah
Laki-laki Perempuan
Jumlah
1
Perkotaan
29.297.634
29.996.015
59.293.649
2 Pedesaan
61.896.229 62.257.116 124.153.345
Total
A4.l93.863
92.253.131
183.446.994
Sumber : BPS, Badan Litbangkes, 1992, Laporan akhir staristik kesehatan
rumah
tangga,
Jakarta
Ternyata jumlah penduduk yang tinggal di daerah pedesa-
Cermin Dunia Kedokteran No. 112, 1996
44
an lebih dari dua kali jumlah penduduk yang tinggal di per-
kotaan. Secara keseluruhan penduduk wanita sedikit lebih
banyak dibandingkan laki-laki. Walaupun demikian ratio laki-
laki dan perempuan yang tinggal di daerah perkotaan dan
pedesaan tidak jauh berbeda.
2) Penduduk yang tinggal d perkotaan dan pedesaan me-
nurut kelompok umur
Tabel 2. Persentase penduduk yang tinggal di perkotaan dan pedesaan,
dibedakan
menurut
kelompok
umur
Kelompok umur
No. Daerah
0-14 15--64 >65 TT
Jumlah
1
2
Perkotaan
Pedesaan
33,31
34 37
59,95
57,78
6,74
7,84
0,01
0 02
100
100
Total
34,03
58,47
7,49
0,02
100
Sumber : BPS, Badan Litbangkes, 1992, Laporan akhir statistik kesehatan
rumah
tangga,
Jakarta
Penduduk usia tua (> 65 tahun) dan usia sangat muda (0
14 tahun) persentasenya lebih banyak di pedesaan dibanding-
kan di perkotaan. Sedangkan penduduk usia produktif per-
sentasenya lebih banyak di perkotaan dibandingkan di pedesaan.
3) Perawatan jalan dan inap
Tabel 3. Persentase penduduk yang mengalami rawat Jalan dan rawat
inap
sebulan
terakhir
di
perkotaan
dan
pedesaan
No.
Daerah
Rawat jalan
Rawat inap
1
2
Perkotaan
Pedesaan
12,63
12,17
0,38
0,26
Total
rata-rata
12,32
0,30
Sumber : BPS, Badan Litbangkes, 1992, Laporan akhir statistik kesehatan
rumah
tangga,
Jakarta
Tidak terdapat perbedaan persentase yang mencolok an-
tara penduduk perkotaan dan pedesaan yang mengalami pe-
rawatan jalan. Sedangkan persentase penduduk kota yang
mengalami rawat inap lebih tinggi dibandingkan penduduk
desa.
4) Pencarian pelayanan berobat jalan
Pelayanan kesehatan yang banyak dipilih masyarakat di
pedesaan untuk berobat jalan berturut-turut adalah puskesmas,
mantri/perawat praktek, puskesmas pembantu dan dokter
praktek, sedangkan di daerah perkotaan tempat pelayanan
kesehatan yang paling banyak didatangi untuk berobat jalan
berturut-turut adalah puskesmas, dokter praktek, mantri/perawat
serta RS pemerintah (Tabel 4).
Dukun/tabib/sinse lebih banyak didatangi oleh masyarakat
di pedesaan dibandingkan perkotaan. Persentase penduduk yang
melakukan pengobatan sendini Iebih banyak di perkotaan, se-
dangkan yang tidak mengobati penyakit lebih banyak di daerah
pedesaan.
5) Keluhan kesehatan yang dialami penduduk
Persentase penduduk pedesaan yang menderita panas,
mencret, muntah/berak dan kejang lebih banyak dibandingkan
penduduk kota. Sebaliknya persentase penduduk kota yang
menderita keluhan pilek, batuk dan sakit gigi lebih banyak
dibandingkan orang desa. Persentase kecelakaan di antara
penduduk pedesaan dan perkotaan hampir berimbang (Tabel 5).
6) Imunisasi pada anak balita
Persentase balita yang mendapatkan imunisasi BCG, DPT
polio dan campak/morbili lebih tinggi di daerah perkotaan
dibandingkan di daerah pedesaan. Dan empat imunisasi hanya
campak/morbili yang cakupannya masih rendah baik di per-
kotaan maupun di pedesaan (Tabel 6).
Tabel 4. Pola pencarian pelayanan berobat jalan di daerah perkotaan dan pedesaan
Perkotaan (Urban)
Pedesaan (Rural)
Total
No. Tempat
pelayanan
Jumlah % Jumlah % Jumlah %
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
RS Pemerintah
RS Swasta
KlinikBPSwasta
Puskesmas
PuskesmasPembantu
Posyandu/Kader
DokterPraktek
Bidan Praktek
Mantri/PerawatPraktek
DukunITabih/Sinse
Lebih dari satu
Berobatsendiri
Tidakdiobati
266.851,00
218.486,00
90.258,00
1.314.695,00
175.160,00
24.753,00
1.271.987,00
74.052,00
425.632,00
121.020,00
130.152,00
1.818.932,00
61.200,00
4,45
3,65
1,51
21,94
2,92
0,41
21,22
1,24
710
2,02
2,17
30,35
1,02
274.332,00
123.733,00
158.137,00
2.974.408,00
1.629.609,00
119.887,00
959.604,00
196.556,00
2.238.181,00
570.913,00
358.152.00
3.737.294,00
385.088,00
2,00
0,90
1,15
21,67
11,87
0,87
6,99
1,43
16,31
4,16
2,61
27,23
2,81
541.183,00
342.219,00
248.395,00
4.289.103,00
1.804.769,00
144.640,00
2.231.591,00
270.608,00
2.663.813,00
691.933,00
488.304,00
5.556.226,00
446.288,00
2,74
1,74
1,26
21,75
9,15
0,73
11,32
137
13,51
351
2,48
28,18
2,26
Jumlah
5.993.178,00 100,00
13.725.894,00 100,00 19.7
C9.072,00
100,00
Penduduk
Persentase
53.541.155,00
11,2
123.230.414,00
11,1
176.771.569,00
11,2
Urban : 11,2%, ,nencari pelayanan sebulan
Rural : 11,1%, mencari pelayanan sebulan
Sumber : Ridwan Malik, 1994
Cermin Dunia Kedokteran No. 112, 1996 45
Tabel 5. Persentase keluhan kesehatan yang banyak dialami penduduk di perkotaan dan pedesaan
Keluhan kesehatan
No. Daerah
Panes Batuk Pilek Mencret
Muntah/
berak
Sakit
gigi
Kejang Kecelakaan Lamnya
Jumlah
1
2
Perkotaan
Pedesaan
25 12
30,98
17,75
16,39
22 26
17,84
2,99
3,97
1,63
3,97
3,25
1,55
0,67
1,37
0,77
0,76
25 57
23,73
100
100
Total
29,11
16
83
19,25 3,66 1,58 3,36 1,14
0,76
24,31 100
Sumber : BPS, Badan Litbangkes, 1992, Laporan akhir statistik kesehatan
rumah
tangga,
Jakarta
Tabel 6. Persentase balita yang pernah mendapat imunisasi
Imunisasi
No.
Daerah
BCG DPT Polio
Campak/morbili
1 Perkotaan
95,13 92,46 89,49
67,50
2 Pedesaan
89,51 89,97 85,89
58,91
Total
91,42 90,82 87,12
61,84
Tabel 8. Angka kematian bayi (AKB) di Indonesia 19711985 menurut
daerah
perkotaan-pedesaan
No.
Sumber data
Kurun waktu Perkotaan Pedeaan
Nasional
1 Sensuspenduduk 1968/1969 104
137
132
2 Sensus
penduduk
1977/1978 88
112
112
3 Sensus
(SUPAS) 1982/1983 57
79
71
Sumber : UNICEF, 1989, Rangkuman Analisis Situasi Anak dan Wanita Indo-
nesia,
Jakarta
7) Persalinan
Tabel 7. Pola persalinan di daerah perkotaan dan pedesaan 1990
Perkotaan (Urban)
Pedesaan (Rural)
Total
No.
Thmpat bersalin
Jumlah % Jumlah % Jumlah %
1
2
3
4
5
6
7
8
RS Pemerintah
RSB/Klinik Bersalin
Puskesmas
Rumah Bidan
Rumah sendiri oleh
Dokter
Rumah sendin oleh
Bidan
Rumah sendiri oleh
Dukun
Lain-lain
132.595,00
180.631,00
34.089,00
112.032,00
330,00
145.231,00
252.720,00
8.234,00
15 31
20,86
3,94
12,94
0,04
16,77
29,19
0,95
147.469,00
40.470,00
44.562,00
69.331,00
6.534,00
289.135,00
1.510.092,00
46.342,00
6,85
1,88
2,07
3,22
0,30
13,42
70,11
2,15
280.064,00
221.101,00
78.651,00
181.363,00
6.864,00
434.366,00
1.762.812,00
54.576,00
9,27
7,32
2,60
6,01
0,23
14,38
58 38
1,81
Jumlah
865.862,00 100,00
2.153.935,00 100,00
3.019.797,00
100,00
Penduduk
Persentase
9.360.670,27
9,25
23.861.797,00
9,03
33.222.467,27
9,09
Urban : Wanita hamil 9,25% dari total wanita usia 1549 tahun
Rural : Wanita hamil 9,03% dari total wanita usia 1549 tahun
Sumber : Ridwan Malik, 1994
Sebagian besar persalinan di daerah pedesaan dilakukan
di rumah dengan pertolongan dukun, sedangkan yang dilaku-
kan di ruinah sakit/RSB/klinik bersalin dan puskesmas hanya
mencapai 10% dari seluruh persalinan yang terjadi selama
tahun 1994.
Di daerah perkotaan walaupun masih menempati yang ter-
banyak, tempat persalinan di rumah dengan bantuan dukun
hanya meliputi 30%, kemudian secara berurutan dipilih di RSB/
klinik bersalin, rumah sendiri dengan bantuan bidan, RS pe-
merintah dan rumah bidan.
8) Angka kematian bayi
Angka kematian bayi (AKB) di Indonesia makin lama
makin menurun dengan catatan di daerah pedesaan jauh lebih
tinggi dibandingkan di daerah perkotaan.
DISKUSI
Selama beberapa Pelita, daerah pedesaan telah mendapat
perhatian lebih banyak dibandingkan masa-masa sebe1umnya.
Di bidang kesehatan misalnya, puskesmas telah didirikan di
seluruh kecamatan bahkan di beberapa daerah sudah sampai
tingkat kelurahan. Dokter-dokter dan tenaga kesehatan lain
telah disebarkan ke seluruh pelosok daerah. Posyandu telah ada
di desa-desa. Bidang-bidang telah disebar melalui program
bidan desa. Walaupun belum mencukupi obat-obat telah di-
drop ke puskesmas dan BKIA melalui gudang-gudang farmasi
di setiap daerah tingkat II.
Dampak semua upaya tersebut terhadap status kesehatan
masyarakat dapat diukur melalui berbagai indikator kesehatan
yang ada.
Cermin Dunia Kedokteran No. 112, 1996
46
Angka kematian bayi (AKB) misalnya telah berhasil di-
turunkan dari 109 pada 1980 menjadi 68 per 1.000 kelahiran
hidup pada tahun 1991
(2)
. Angka kematian ibu (AKI) diharap-
kan dapat turun dari 421 menjadi 225 pada tahun 1998
(3)
.
Angka harapan hidup sejak lahir meningkat menjadi 65 bagi
wanita dan 64 bagi pria
(3)
. Demikian juga angka pertumbuhan
penduduk dapat ditekan menjadi 2% pertahun.
Untuk menganalisis kontribusi daerah pedesaan pada ber-
bagai keberhasilan di bidang kesehatan perlu dilihat berbagai
segi. Dari segi kependudukan misalnya pedesaan merupakan
domisili bagi lebih dari 70% penduduk Indonesia, namun hanya
sekitar 20% dari seluruh pendapatan masyarakat yang diterima
oleh 40% penduduk berpenghasilan rendah
(4)
. Ini menunjuk-
kan bahwa hasil pembangunan yang ada lebih banyak dinikmati
oleh penduduk berpenghasilan menengah ke atas. Fenomena
ini tentu tidak lepas dari kebijakan pembangunan yang ada.
Bila dikaji lebih jauh, pembangunan di pedesaan berbeda
dengan pembangunan di perkotaan. Pembangunan pedesaan
lebih diarahkan pada proyek-proyek yang menyangkut hajat
orang banyak, seperti jalan raya, bendungan pembangkit
listrik, pengairan sawah dan perkebunan dengan pemerintah
sangat berperan dalam pembiayaannya, sedangkan pemba-
ngunan di perkotaan didominasi oleh pendirian industri yang
berorientasi pada peningkatan nilai tambah barang atau bahan
di mana pihak swasta sangat berperan.
Petani adalah penduduk sebagian besar pedesaan. Pem-
bangunan pedesaan diharapkan berdampak pula pada pe-
ningkatan pendapatan penduduk petani, yang pada gilirannya
dapat pula meningkatkan status kesehatan dan status sosial
masyarakat. Pembangunan perkotaan yang lebih dinominasi
oleh industri, lebih ditujukan pada komoditi ekspor untuk me-
nambah devisa negara.
Distribusi penduduk yang tak merata memberikan pula
berbagai implikasi pada masalah kesehatan. Lebih tingginya
kematian ibu dan kematian anak di pedesaan dibandingkan
perkotaan dapat dimaklumi karena di samping jumlah wanita
subur yang lebih banyak di desa juga disebabkan oleh faktor
jarak dan rendahnya kemampuan membayar masyarakat desa
untuk mencapai pelayanan kesehatan yang memadai. Sulitnya
penurunan angka kematian ibu (AKI) dari 421 pada 1993 ke
target 225 per 100.000 kelahiran pada 1998 Iebih banyak di-
tentukan oleh kedua faktor di atas Walaupun berbagai upaya
telah dilakukan seperti penyebaran bidan desa dan pendirian
pondok persalinan desa (polindes) di sebagian besar daerah,
ternyata hasilnya masih belum seperti yang diharapkan; dukun
masih mendominasi pertolongan persalinan (Tabel 7); walau-
pun sebagian sudah ditatar dan ditingkatkan pengetahuannya
namun dampaknya pada target penurunan AKI masih belum
diketahui.
Di pihak lain penduduk desa Iebih dekat dengan alam
dengan segala kondisinya menyebabkan penyakit-penyakit
infeksi, baik yang ditularkan melalui vektor maupun badan air.
sulit dihilangkan. Selanjutnya penyakit-penyakit degeneratif
banyak pula menyerang orang-orang desa yang tadinya hidup
di kota, tetapi setelah pensiun memilih hidup di desa.
Berdasarkan analisis data Susenas 1990 ternyata 66% yang
mengalami sakit adalah penduduk tidak mampu
(6)
. Pen- duduk
pedesaan yang mencari pengobatan ke berbagai pe- layanan
kesehatan berjumlah hampir tiga kali lipat disbanding- kan
penduduk perkotaan (Tabel 4), sedangkan jumlah pendu- duk
pedesaan hanya dua kali jumlah penduduk perkotaan. Ini
berarti bahwa penduduk pedesaan lebih banyak kemungkinan
menderita sakit dibandingkan penduduk perkotaan dalam kurun
waktu yang sama. Persentase penduduk yang mengalami ke-
celakaan di kota dan desa hampir tidak banyak berbeda (Tabel
5). Ini barangkali karena sarana dan prasarana transportasi
yang telah memungkinkan kendaraan bernrotor mencapai
pelosok desa.
Kematian balita di daerah pedesaan jauh lebih tinggi di-
bandingkan perkotaan
(6)
. Tingginya angka kematian bayi (AKB)
di desa dibandingkan di kota (Tabel 8) juga merupakan bukti
masih rendahnya akses penduduk desa ke pusat-pusat pelayan-
an kesehatan yang ada
(7)
. Dugaan ini diperkuat dengan ke-
nyataan masih rendahnya cakupan imunisasi balita di pedesa-
an dibandingkan dengan perkotaan (Tabel 6). Untuk masa
datang perlu dipikirkan adanya terobosan-terobosan lain se-
perti yang dilakukan terhadap upaya pembasmian cacar dan
polio.
Tingginya persentase penduduk kota mengalami perawat-
an inap menunjukkan bahwa penduduk kota lebih banyak men-
derita keluhan yang serius di samping juga secara ekonomi lebih
mampu membayar untuk perawatan sakitnya dibandingkan
penduduk desa.
Hubungan antara ketidak mampuan ekonomi dan pencari-
an pengobatan dapat dilihat dan hasil penelitian yang dilaku-
kan di NTB dan Yogyakarta pada tahun 1993, bahwa pendu-
duk dengan penghasilan perbulan kurang dan Rp 100.000 dan
Rp 250.000,- lebih banyak mencari pertolongan kesehatan ke
dukun
(8)
. Hal yang sama juga terlihat dalam pertolongan per-
salinan. Nampaknya AKI selama Pelita terakhir akan mengalami
penurunan yang lambat sampai kemampuan penduduk pede-
saaan di bidang ekonomi menjadi lebih baik.
Di sektor pemerintah biaya kesehatan yang dapat disedia-
kan masih terbatas padahal kebutuhannya selalu bertambah
secara tidak seimbang. Satu-satunya jalan untuk mengatasinya
adalah dengan meningkatkan peran swasta baik dalam upaya
kuratif maupun upaya promotif dan preventif. Untuk maksud
yang sama konsep jaminan pemeliharaan kesehatan masyarakat
(JPKM) diharapkan dapat mencapai masyarakat pedesaan.
Untuk mengentaskan kemiskinan,. Departemem Kesehatan
telah melakukan pendistribusian kartu berobat gratis bagi
masyarakat yang betul-betul dianggap miskin; untuk menghi-
langkan konotasi negatip kartu tersebut diubah menjadi kartu
sehat. Bagaimana manfaatnya perlu diteliti lebih lanjut.
KESIMPULAN
1) Persentase penduduk berusia lanjut (lansia) dan usia sangat
muda lebih tinggi di pedesaan dibandingkan di perkotaan, se-
dangkan persentase penduduk usia produktif lebih tinggi di
perkotaan dibandingkan di pedesaan.
Cermin Dunia Kedokteran No. 112, 1996 47
2) Persentase penduduk yang melakukan pengobatan sendiri
lebih banyak di perkotaan, sedangkan yang inendatangi dukun
dan yang tidak mencari pengobatan bila sakit lebih banyak di
pedesaan.
3) Persentase penduduk yang rawat inap di pcrkotaan lebih
banyak dibandingkan di pedesaan.
4) Dukun masih menempati urutan pertama dalam menolong
persalinan, dan persentase penduduk yang ditolong oleh dukun
di pedesaan lebih banyak dibandingkan di perkotaan.
5) Cakupan imunisasi pada anak balita di pedesaan lebih
rendah dibandingkan dengan perkotaan.
6) Angka kematian bayi lebih tinggi di daerah pedesaan
dibandingkan daerah perkotaan. Panas, mencret/diare dan
kejang lebih banyak ditemukan di kalangan penduduk pedesa-
an dibandingkan di perkotaan.
SARAN
1) Untuk meningkatkan status kesehatan masyarakat pedesa-
an perlu dikembangkan suatu bentuk kegotong royongan
dalam pemeliharaan kesehatan, untuk itu suatu bentuk JPKM
pedesaan perlu diadakan.
2) Dengan berbedanya pola keluhan sakit dan masalah ke-
sehatan di kalangan penduduk pedesaan dan perkotaan,
seharusnya pengerahan sumber daya kesehatan untuk kedua
daerah tersebut perlu dibedakan.
KEPUSTAKAAN
1. BPS. Statistik Sosial Ekonomi Indonesia, BPS, Jakarta, 1994.
2. BPS, DepKes, BKKBN. Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 1991,
BPS, Jakarta, 1993.
3. Pelita VI Kesehatan.
4. BPS. Statistik Indonesia 1988, BPS, Jakarta, 1989.
S. Agus Sel al. Health Trend Asessment, Litbang Kesehatan, Jakarta, 1993.
6. Zainul Bakry et al. Tabel Dasar SKRT-Susenas 1992, Litbang Kesehatan,
Jakarta, 1992, hal 2.
7. Litbang Kesehatan. Studi tentang faktor risiko kematian bayi dan balita
berdasarkan SKRT/Susenas, Litbang Kesehatan, LDFE-UI, Jakarta, 1992,
hal 2.
8. Cholis Bahrun et at. Penelitian Determinan Sosial Ekonomi Terhadap
Pemanfaatan Fasilitas Kesehatan, P4K, Surabaya, 1993.
9. Ridwan Malik et a). Analisis Data Susenas 1990, Pola pencarian pelayanan
kesehatan, Litbang Kesehatan, Jakarta, 1994, hal 1430.
Cermin Dunia Kedokteran No. 112, 1996
48