HASIL PENELITIAN
Kadar Hb, Status Vitamin A
dan Kaitannya dengan Reaksi Imun
Bayi yang Diimunisasi
Endi Ridwan
Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Departemen Kesehatan RI, Bogor, Indonesia
PENDAHULUAN
Penyakit menular yang dapat dicegah melalui imunisasi
masih merupakan masalah gizi masyarakat. Sedangkan anemi
gizi besi dan kekurangan vitamin A di kawasan Indonesia
Timur masih merupakan masalah gizi utama
(1,2)
.
Imunisasi merupakan salah satu bentuk intervensi paling
efektif untuk mencegah penyakit menular seperti yang telah
dibuktikan banyak negara. Di Indonesia tingkat kematian bayi
yang diantaranya disebabkan oleh penyakit yang dapat dicegah
dengan imunisasi masih tinggi. Hasil pengamatan, survai atau-
pun studi mengungkapkan bahwa saat ini setiap tahunnya
masih jutaan anak yang tertular penyakit tersebut dengan akibat
sekitar 120.000 kematian, atau satu anak untuk setiap lima
menit
(1)
.
Penyakit menular dan kekurangan gizi dapat merupakan
masalah terpisah, tetapi tidak tertutup kemungkinan merupakan
suatu kejadian yang terkait satu dengan lainnya. Status vitamin
A yang rendah menyebabkan sel epitel saluran pernafasan dan
sel mukosa saluran pencernaan menjadi lemah, demikian juga
respon imun rendah sehingga terserang penyakit infeksi dan
diare
(3)
. Status vitamin A bayi dipengaruhi oleh berbagai hal
antara lain; keadaan sosial ekonomi, kondisi ibu, dan penyakit
infeksi. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa kurang vita-
min A berhubungan dengan ketidak normalan metabolisme
besi dan suplementasi vitamin A dapat meningkatkan indikator
status besi
(4)
.
Penelitian di laboratorium mengungkapkan bahwa anak
balita dengan kadar vitamin A rendah yang kemudian diberi
vitamin A (setara dengan 60.000 ug retinol), dua minggu sebe-
lum diimunisasi DPT, titer antibodi mereka terhadap tetanus
ternyata lebih tinggi di bandingkan dengan anak balita dengan
status vitamin A normal
(5)
.
Vaksinasi DPT dilakukan pada bayi berumur 3 sampai 4
bulan, diharapkan mencapai kekebalan optimal pada waktu
bayi berumur 6 bulan. Sedangkan pemberian vitamin A dengan
takaran 10.000 SI dapat diberikan pada bayi sejak berumur 4
bulan
(6)
.
Penelitian ini bertujuan untuk melihat kaitan antara kadar
hemoglobin, status vitamin A, dan reaksi imun bayi yang diberi
imunisasi DPT melaui jalur pelayanan kesehatan yang telah ada
dalam masyarakat.
METODOLOGI
Penelitian dilakukan di posyandu di wilayah kerja Puskes-
mas kecamatan Semplak dan di rumah sakit di daerah Bogor.
Sampel adalah bayi dengan kriteria :
(a) berumur tidak lebih dari 8 bulan
(b) sudah diberi imunisasi DPT I, atau DPT II atau DPT III
(c) berada dalam kondisi sehat
(d)
kesediaan keluarga dengan menandatangani informed
consent.
Pemeriksaan terhadap bayi meliputi pemeriksaan klinis,
pengukuran antropometri dan pengambilan darah.
Pemeriksaan klinis dilakukan oleh dokter ahli gizi, dibantu
oleh perawat. Dilakukan anamnesis riwayat kesehatan dan pe-
nyakit yang pernah diderita, hasilnya dicatat dalam formulir.
Terhadap bayi-bayi yang sakit diberikan pengobatan.
Pemeriksaan antropometri dilakukan terhadap bayi-bayi
terpilih meliputi berat dan panjang badan. Berat badan ditim-
bang dengan menggunakan timbangan bayi dengan ketelitian
0.01 kg. Panjang badan diukur dengan alat khusus yang
dirancang oleh Puslitbang Gizi dan Direktorat Bina Gizi
masyarakat dengan ketelitian 0.1 cm.
Status gizi ditentukan berdasarkan BB/U dengan meng-
gunakan baku Harvard, dibagi dalam 4 katagori yaitu :
Gizi baik
: BB/U
80% baku
Gizi sedang : BB/U 70 - 79% baku
Gizi kurang : BB/U 60 - 69% baku
Gizi buruk : BB/U
60% baku
Darah diambil dari tumit untuk pemeriksaan hemoglobin,
vitamin A, albumin dan IgD.
Untuk pemeriksaan hemoglobin, darah dipipet sebanyak
20 mikroliter dengan pipet Sahli, dan dimasukkan ke dalam
tabung yang sudah terisi 5 ml larutan Drabkin's.
Untuk pemeriksaan lainnya, darah ditampung ke dalam 3-5
Cermin Dunia Kedokteran No. 124, 1999 41
buah kapiler dan ditutup dengan critoseal. Kapiler tersebut
dimasukkan ke dalam tabung, diberi kode daerah, nomor,
nama, dan tanggal pengambilan. Tabung-tabung tersebut di-
masukkan ke dalam termos es. Di laboratorium tabung-tabung
tersebut disentrifugasi untuk diambil serumnya. Serum di-
simpan dalam freezer menunggu pengerjaan selanjutnya.
Hemoglobin diperiksa dengan menggunakan metode cyan-
methemoglobin seperti yang dianjurkan WHO
(7)
. Kandungan
vitamin A dalam serum dianalisa dengan menggunakan
HPLC
(8)
. Status imunitas tetanus dianalisis dengan mengguna-
kan ELISA (Enzyme Linked Immunosorbent Assay). Absorban-
sinya dibaca pada panjang gelombang 452 nm dengan Biored
Model 2550 ELISA Reader
(9)
. Protein albumin dianalisis
dengan menggunakan kit dari Boehringer.
Analisis data ditujukan terhadap nilai hemoglobin, vitamin
A, IgG terhadap tetanus dan albumin dengan uji korelasi dan
proporsi.
HASIL DAN BAHASAN
Setelah dilakukan pengumpulan data dan penapisan
sampel, terkumpul 165 bayi terdiri dari 96 bayi laki-laki dan 69
bayi perempuan. Gambaran status gizi dari bayi-bayi yang
diperiksa pada umumnya baik, dengan gizi kurang 0.98% dan
tidak ditemukan adanya gizi buruk (Tabel 1).
Tabel 1. Distribusi bayi-bayi yang diperiksa menurut status gizi (BB/U) dan
jenis kelamin
Status Gizi
Jenis kelamin
Baik
(%)
Sedang
(%)
Kurang
(%)
Buruk
(%)
Jumlah
(n)
Laki-laki 92.16
5.86
0.98 0 96
Perempuan 95.77 4.23 0
0
6
Pada dasarnya pertumbuhan bayi-bayi di Indonesia sampai
berumur 6 bulan masih tergolong baik dan sesuai dengan baku
Harvard. Setelah berumur 6 bulan saat ASI tidak lagi men-
cukupi untuk pertumbuhan dan bayi memerlukan makanan
tambahan barulah pertumbuhan bayi cenderung lebih rendah
dari baku Harvard
(10)
.
Hasil analisis darah terhadap hemoglobin, status vitamin A
IgG terhadap tetanus dan albumin secara deskriptif terlihat
pada tabel 2.
Secara umum terlihat bahwa nilai vitamin A termasuk
dalam katagori kurang status vitamin A antara 10-20 ug/dl.
Nilai hemoglobin 10.55 g/dl termasuk dalam katagori anemi
ringan, sedangkan nilai albumin masih dalam batasan normal.
Analisis menurut tingkat imunisasi
Jika dikelompokkan menurut tingkat imunisasi, didapatkan
Tabel 2. Jumlah sampel, rataan nilai hemoglobin, status vitamin A, IgG dan
Albumin.
Pemeriksaan
Rataan
± Simpang baku
1. Hemoglobin
(10.55
± 1.10) g/dl
2. Vitamin A
(17.35
± 4.85) ug/dl
3. IgG
(105
± 55) ng/ml
4. Albumin
(4.07
± 0.37) mg/dl
nilai respons imun tertinggi pada bayi yang menerima DPT II
(2 kali imunisasi). Sedangkan nilai serum vitamin A relatif
sama. Rataan nilai IgG dan serum vitamin A menurut tingkat
imunisasi dapat terlihat pada tabel 3.
Tabel 3. Kadar IgG dan vitamin A menurut tingkat imunisasi DPT.
Tingkat
imunisasi
N
IgG
(ng/ml)
Vitamin A
(ug/dl)
DPT I
82
92
± 49
17.7
± 4.6
DPT II
56
1I 9
± 62
17.7
± 5.0
DPT III
27
116
± 46
17.3
± 5.4
Keterangan : - DPT I : mendapat 1 x imunisasi
- DPT II :
" 2 x "
- DPT III :
" 3 x "
Terdapat perbedaan yang nyata antara IgG dari DPT I,
dengan DPT II dan DPT III (p < 0.05), tetapi tidak terdapat
perbedaan yang nyata antara DPT II dan DPT III (p > 0.05).
Rataan nilai IgG dari DPT II lebih tinggi dibandingkan
dengan DPT I, keadaan ini menunjukkan bahwa booster vaksin
yang diberikan dapat meningkatkan titer antibodi terhadap
tetanus. Kenaikan ini bukan disebabkan oleh vitamin A, karena
nilai vitamin A dari ketiga grup tidak menunjukkan adanya
perbedaan (p > 0.05). Tidak ditemukan adanya korelasi antara
status vitamin A dan IgG, diduga bahwa vitamin A belum
diberikan kepada bayi-bayi yang diimunisasi.
Nilai IgG akan tinggi jika ada adjuvant yang menyertai
pada waktu dilakukan imunisasi. Adjuvant adalah stimulator
non spesifik yang merangsang respons antibodi terhadap anti-
gen terlarut
(9)
.
Penelitian di tingkat laboratoriurn membuktikan bahwa
vitamin A dapat berfungsi sebagai adjuvant. Titer antibodi ter-
hadap tetanus pada anak prasekolah dalam uji klinis terbukti
meningkat jika dua minggu sebelum imunisasi diberikan
vitamin A terlebih dahulu
(6)
.
Analisis menurut tempat pengambilan sampel
Pengambilan sampel dilakukan pada kegiatan imunisasi di
posyandu di wilayah kerja Puskesmas kecamatan Semplak.
Sedangkan untuk Rumah Sakit Umum (RS Karya Bhakti dan
RSU PMI) dilaksanakan mengikuti jadual imunisasi di rumah
sakit yang bersangkutan.
Hasil analisis menurut tempat pengambilan sampel dapat
dilihat pada tabel 4.
Terdapat perbedaan yang nyata antara nilai IgG di RS
Karya Bhakti (RS KB) dengan Posyandu (p < 0.05) dan antara
RSU
Tabel 4. Rataan nilai hemoglobin, vitamin A, IgG dan albumin menurut
tempat pengambilan sampel.
Tempat N
Hemoglobin
(g/dl)
Vitamin A
(ug/dl)
IgG
(ng/ml)
Albumin
(mg/dl)
1. RS. KB
19
10.7
± 0.9
20.1
± 3.6 124 ± 51
4.0
± 0.3
2. RS. PMI
44
10.7
± 1.0
20.5
± 4.3 128 ± 50
4.1
± 0.4
3. Posyandu
102
10.4
± 1.2
15.4
± 4.3 91 ± 53
4.1
± 0.4
Keterangan :
RS KB
= Rumah Sakit Karya Bhakti
RS PMI = Rumah Sakit PMl
Posyandu = Posyandu di Kecamatan Semplak Bogor
Cermin Dunia Kedokteran No. 124, 1991
42
KESIMPULAN DAN SARAN
PMI dengan Posyandu (p < 0.01). Keadaan ini menggambarkan
bahwa bayi-bayi yang dibawa ke tempat pemeriksaan secara
teratur di rumah sakit mempunyai titer IgG yang lebih tinggi
dibandingkan dengan bayi-bayi yang diimunisasi di posyandu.
Vaksin yang dibawa ke posyandu diduga menjadi lebih lemah
setelah kontak dengan suhu lebih dari 8
° Celcius untuk
beberapa waktu
(1)
.
·
Booster imunisasi DPT mempertinggi titer IgG terhadap
tetanus.
·
Bayi yang dibawa ke tempat pemeriksaan secara teratur
mempunyai titer IgG yang lebih tinggi.
·
Bayi dengan status vitamin A kurang akan menghasilkan
titer IgG lebih rendah.
Pengalaman ketika mengikuti jadwal kegiatan imunisasi di
posyandu memperlihatkan bahwa kegiatan tidak seperti yang
diharapkan, seperti ketiadaan bayi-bayi di tempat yang telah
ditentukan dan terpaksa menunggu lama untuk memberitahu-
kan kedatangan juru imunisasi dari rumah ke rumah. Hal ini
diduga menjadi sebab melemahnya kemampuan vaksin yang
telah dipersiapkan.
·
Untuk meningkatkan titer IgG terhadap tetanus, sebelum
diimunisasi DPT, bayi diberi vitamin A terlebih dahulu.
UCAPAN TERIMA KASIH
Kepada sdri. Fitrah, Yetty Yuniar, Rosita, dan Enok Srigati yang telah
membantu pengumpulan data dan analisis laboratorium.
Data yang didapat mengugkapkan bahwa kadar hemogloin
tidak berpengaruh terhadap nilai IgG, sedangkan status vitamin
A mempunyai pengaruh terhadap respons IgG dari bayi-bayi
yang diberi imunisasi DPT.
KEPUSTAKAAN
1.
Rosalina Lanasari. Program imunisasi dan permasalahannya di Indonesia.
Cermin Dunia Kedokteran 1990 ; 65 : 3-4.
2.
Muhilal, Tarwotjo Ig, Iwan S, Bambang S, Tilsch J. Perubahan prevalensi
xeroftalmia dalam kurun waktu 3 Pelita. Gizi Indon, 1995; 20 (1) : 1-12.
Status vitamin A menunjukkan perbedaan yang nyata
antara bayi-bayi di posyandu dengan RS. Karya Bhakti dan
PMI (p < 0.05). Status vitamin A di posyandu termasuk dalam
katagori kurang (antara (0 - 20 ug/dl), sedangkan status vitamin
A di RS. Karya Bhakti dan RS. PMI termasuk dalam katagori
cukup (> 20 ug/dl).
3.
Sommer A Nutritional Blindness. Oxford University Press 1982.
4.
Muhilal dkk. Proyek rintisan penanggulangan kekurangan vitamin A dan
xeroftalmia dengan MSG yang difortifikasikan vitamin A. Laporan
Penetitian Puslitbang Gizi dan Direktorat Bina Gizi Masyarakat
1984/1986.
5.
Semba RD, Muhilal, Scott AL dkk. Depressed imun response to tetanus
in children with vitamin A deficiency. J. Nutr. 1992 ; 122 : 101-7.
Bayi-bayi yang mempunyai status vitamin A kurang akan
memberi respons yang rendah terhadap imunisasi tetanus.
Kenyataan ini pernah diungkapkan oleh Smith, dkk
(11)
, bahwa
tikus dengan vitamin A yang rendah setelah diberi antigen
tidak menunjukkan respons IgG yang baik.
6. Sukati S, dkk. Efektifitas pemberian vitamin A dosis tinggi pada ibu
menyusui dan bayi untuk meningkatkan status gizi bayi dan kontribusinya
dalam menurunkan risiko kematian bayi. Puslitbang Gizi, Badan
Litbangkes. Laporan Penelitian 1986/1987.
7.
WHO. Nutritional anemias. WHO. Tech. Rep. Ser. No. 503 Geneva 1970.
8.
Arroyave G, Meija LA, Chichester C. Biochemical methodology for the
assessment of vitamin A status. The Nutrition Foundation 1982.
Respons IgG dapat meningkat jika sebelum dilakukan
imunisasi diberikan vitamin A dua minggu sebelumnya, se-
bagaimana telah dibuktikan pada anak prasekolah dalam uji
klinis. Jika vitamin A dan imunisasi diberikan pada waktu ber-
samaan, tidak didapatkan perbedaan respons dari IgG karena
vitamin A yang diberikan terlebih dahulu akan digunakan
untuk mencukupi kebutuhan
(6)
.
9.
Harlow E, Lane D. Antibodies a laboratory manual. Cold Spring Harbor
Laboratory, 1988.
10. Yayah KH, Husaini MA, Sutaryati E, Karyadi D. Pertumbuhan bayi sehat
sejak lahir sampai berumur 12 bulan. Gizi Indon 1985 ; (1) : 35-52.
11. Smith SM, Levy NS, Hayes CE. Impaired immunity in vitamin A
deficient mice. J. Nutr. 1986 : 117 : 857-65.
A fault denied is twice committed
Cermin Dunia Kedokteran No. 124, 1999 43