ANALISIS
Forum Grup Diskusi Sebagai Sarana
Penggalian Masala
dan Ibu di Kecama
h
or
Kesehatan Anak
tan Insana, Tim
Dr. Sutrisno dan Dr
Puskesmas Mauhesi, Insana, T
. Usa Andriani S.
irnor Ten gah Utara, NNT
PENDAHULUAN
1. Laporan tahunan THE PROGRESS OF NATIONS TAHUN
1995 yang dilincurkan Unicef Indonesia tanggal 14 Juni 1996
menyebutkan jumlah kematian balita di Indonesia berada pada
peringkat ke empat tertinggi di dunia setelah India, Cina dan
Nigeria. Sernentara untuk kematian ibu bersalin Indonesia
menduduki nomor empat untuk Asia Pasific setelah Papua Nugini,
Kamboja dan Myanmar. Pada tahun 1993 tingkat kematian ibu
bersalin di Indonesia mencapai 450 per 100.000 kelahiran hidup
sementara kematian bayi sebesar 81 per 1000 kelahiran hidup.
Jumlah kematian anak balita di Indonesia pada tahun 1993
mencapai 5 18.000 anak. Kematian ibu bersalin, kematian bayi
balita dan perbaikan sanitasi merupakan masalah prioritas yang
harus segera ditanggulangi disamping penanggulangan masalah
kurang gizi dalam rangka- menekan tingginya angka kematian
ibu bersalin dan balita. (Kompas, 15 Juni 1996). Bahkan dengan
cara pendekatan pengukuran yang baru Unicef mendapatkan
angka kematian ibu bersalin (MMR) di Indonesia adalah 650
per 100.000 kelahiran hidup dan ini melebihi angka yang
dikeluarkan Departemen Kesehatan RI. Angka ini, oleh Unicef,
menempatkan Indonesia pada peringkat ke 17 dan 23 negara di
Asia Pasific. Secara global MMR di dunia mempunyai pola
sebagai berikut : Asia dan Pasi fik: 8 18, Afrika Subsahara 615,
Afrika Utara dan Timur Tengah : 98, Amerika : 65, Asia Tengah
39, dan Eropa: 8 (per 100.000 kelahiran hidup).
2. Angka kematian ibu bersalin (MMR) di NNT sebesar 1146
per 100.000 kelahiran hidup dan tingkat cacat kongenital di NNT
sangat tinggi, hal ini terkait erat dengan kondis sosial budaya,
gizi dan lingkungan. (BPS. 1990 dan A Hidajat dkk. Studi
suplementasi Zinc di Timor 1996.
3. Angka kematian ibu bersalin di kecamatan Insana tahun 1995
ebesar 1156 per 100.000 kelahiran hidup. dan ini berarti hampir
iga kali angka nasional (laporan tahunan Pusk. Maubesi, 1995).
4. Angka kema n bayi dikecamatan Insana tahun 1995 sebesar
58 per 1.000 kelahiran hidup. ini juga Iebih tinggi dan pada
angka nasional. (Laporan tahunan Puskesmas Maubesi, 1995).
5. Angka komplikasi obstetri di kecamatan Insana sebesar 24%.
Komplikasi-komplikasi obstetri yang terjadi adalah perdarahan,
retensio plasenta, bayi berat badan lahir rendah, post date,
prematur, dan lain-lain. Sementara cacat bawaan berupa bibir
sumbing dan langit-langit terus lahir. ini mencerminkan rendahnya
status kesehatan ibu dan anak. (Dr. Lisa Sutrisno, Komplikasi
komplikasi obstetri di RS Susteran Kiupukan , Insana, tahun 1994,
1995 dan 1996, data sedang dipublikasi).
6. Pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan masih sangat
rendah sebagian besar masih ditolong dukun dan keluarga sendiri.
Hal ini sangat membahayakan keselamatan ibu dan bayi yang
baru lahir. Kepercayaan ibu hamil pada dukun masih sedemikian
besar sehingga walaupun ada bidan desa tingkat pemanfaatannya
masih belum maksimal. ini berkaitan dengan pola perilaku
kebiasaan dan tradisi nenek moyang yang masih dipegang erat
oleh masyarakat.
7. Program-program kesehatan ibu dan anak yang ada di
puskesmas saat ini sifatnya rutin belaka, tidak jauh berbeda dari
waktu ke waktu sehingga tidak mempunyai daya ungkit yang besar
untuk memperbaiki status kesehatan ibu dan anak di kecamatan
Insana. ini terbukti dengan lambannya penurunan angka kematian
ibu bersalin (MMR) di NTT terutama di kecarnatan Insana
Kabupaten Timor Tengah Utara.
Oleh karena itu dengan memperhatikan hal-hal di atas perlu
diakukan usaha penggalian masalah yang nil dan spesifik di tiap
tiap desa di Wilayah Kecamatan Insana agar didapatkan masukan
permasalahan yang representatif unutk tiap-tiap desa sehingga
program-program KIA yang akan dilaksanakan oleh P skesmas
dan instansi lain terkait secara vertikal maupun horizontal benar-
benar dapat mengenai sasaran.
s
t
tia
u
Oleh karena itu untuk mencapai tujuan di atas, pada tanggal
96 telah dilakukan fokus grup diskusi mengenai
anak di Kecamatan Insana. Kegiatan tersebut
dilaku
Kecam
Teng
ME
F
ecam
enggara Timur. Desa Lanaus adalah desa IDT dengan kondisi
osial ekonomi rendah. Keadaan sanitasi pa
belum memenuhi syarat kesehatan
dah, partisipasi masyarakat dibid
esa Lanaus merupakan fokus diare dan beberapa kali terjadi
abah diare: Angka kematian ibu bersalin tertinggi di Insana.
engan diselenggarakannya fokus grup diskusi di desa Lanaus
iharapkan dapat merangsang desa ini untuk segera memperbaiki
iri.
Seluruh desa di wilayah kecamatan Insana diundang dari 18
esa yang ada, hadir 15 desa, 1 desa tidak hadir karena sedang
empersiapkan diri untuk kunjungan Bupati TTU dan dua desa
yang jelas. Setiap desa diwakili Kepala
4. Status ekonomi yang rendah
5. Tingginya angka kurang gizi bagi bayi, balita dan ibu
hamil
gkin
tur
tu
an
u,
9. Kawin dan hamil dalam usia yang muda
10. Banyaknya gadis hamil yang tanpa suami
al dan nonformaLyang belum optimal.
anggang bayi dan ibu yang baru
bersalin agar tubuhnya segera pulih kembali.
Namun terdapat desa-desa tertentu yang memunculkan
masalah yang spesifik untuk desa tersebut yaitu:
Adanya budaya bagi anak yang ada di desa Tapenpah. Budaya
bagi anak berarti separuh jumlah anak ikut marga ayahnya
,separuhnya lagi ikut marga (Fam) ibunya, sehingga dalam satu
keluarga anak-anaknya mempunyai marga yang berbeda. Hal ini
memungkinkan terjadinya kawin antar keluarga dekat karena
secara adat marganya sudah lain. Padahal telah diketahui bahwa
17 Desember 19
esehatan ibu dan
k
kan di Desa Lanaus, Wilayah kerja puskesmas Maubesi,
atan Insana, Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa
gara Timor.
TODE
okus grup diskusi ini diselenggarakan di Desa Lanaus,
atan Insana Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa
6. Ibu hamil belum memeriksakan kehamilan seawal mun
dan banyak yang tidak memeriksakan kehamilan secara tera
7. Banyaknya pantangan terhadap makanan-makanan terten
terutama bagi ibu baru bersalin, yang kebanyakan makan
tersebut justru bernilai gizi tinggi seperti bayam, kacang hija
ikan laut, kacang-kacangan dan lain-lainnya.
8. Belum menggunakan sarana kesehatan secara optimal
K
T
s
da umumnya masih
11. Peran tokoh form
. Cakupan program KIA
ang kesehatan juga rendah.
12. Adanya kebiasaan mem
ren
D
w
D
d
d
d
m
tidak hadir tanpa alasan
desa, beberapa orang perangkat desa, tua-tua adat, kader, PKK,
bidan desa dan petugas KB (PLKB).
Tahap pertama dilakukan pemberian informasi secara singkat
mengenai permasalahan program KIA dan keluarga berencana
oleh kepala Puskesmas Maubesi, Kepala Puskesmas
Oelolok dan seornag staf dan BKKBN. Selanjutnya seluruh
peserta dibagi menjadi 15 kelompok menurut desa masing-
masing untuk berdiskusi mengenai permasalahan-permasalahan
kesehatan ibu dan anak di desa masing-masing. Bidan desa dan
petugas KB berfungsi sebagai pengarah dalam diskusi
kelompok kecil ini. Setelah diskusi kelompok selesai, masing-
masing desa mempresentasikan hasil diskusinya dengan bantuan
peralatan OHP. Peserta dan desa lain saling menanggapi dan
terjadi diskusi yang terbuka, meluas dan saling mempertajam
masalah.
HASIL DISKUSI
Diskusi kelompok membahas tiga masalah utama yaitu :
1. Carilah masalah-masalah kesehatan ibu dan anak yang ada di
masing-masing desa.
2. Siapa saja yang seharusnya ikut serta mengatasi masalah
tersebut.
3. Bagaimana strategi memecahkan masalah tersebut. Hasil
diskusi dapat dilihat pada tabel terlampir.
PEMBAHASAN
Hampir semua desa merasakan permasalahan yang sama
dalam aspek kesehatn ibu dan anak yaitu:
1. Kurangnya kesadaran ibu untuk datang secara aktif di
posyandu
2. Kepercayaan pada dukun lebih besar daripada ke bidan desa
3. Rendahnya partisipasi dalam program keluarga berencana
kawin antar keluarga dekat besar kemungkinan menurunkan anak
cacat. Sehingga hingga kini cacat bawaan masih terus lahir di
wilayah kecamatan Insana.
Desa Lanaus memunculkan adanya kawin dalam usia muda
karena paksaan adat. Di desa lanaus, bila ada telah menghendaki,
maka seorang anak dapat dan harus mau dikawinkan oleh orang
tuanya walaupun usianya masih sangat muda. Sehingga banyak
sekali kehamilan dalam usia yang sangat muda, sangat berpegang
teguh pada dukun dan komplikasi obstetri yang cukup tinggi bila
dibandingkan dengan desa-desa Iainnya. Tahun 1995 desa Lanaus
merupakan desa dengan kematian ibu maternal tertinggi di Insana.
Desa Oinbit dan Desa Subun memunculkan masalah khusus
berupa jauhnya letak sarana kesehatan (Puskesmas pembantu)
dari pemukiman penduduk. Di desa tersebut lokasi Pustu di luar
pemukiman dan terletak di bawah bukit. bagi orang yang sakit
akan merupakan beban tambahan untuk mencapai Pustu tersebut
karena lokasi jauh dari jalan masih kurang baik walaupun masih
daam satu desa. Bagi petugas kesehatan juga merupakan beban
tersendiri karena terisolasi dan pemukiman. Sebenarnya yang
menentukan lokasi Pustu tersebut adalah wanga desa sendiri,
namun karena alasan tiadanya tanah yang kosong, semua tanah
dipemukiman telah dimiliki seseorang, maka diputuskan
membangun pustu di luar konsentrasi pemukiman.
Tampak bahwa selain masalah-masalah yang sifatnya umum,
semua desa mengalami hal yang sama, ternyata terdapat masalah-
masalah yang spesifik untuk satu atau dua desa. Hal ini
memerlukan perhatian tersendiri dalam penyusunan program
kesehatan agar program yang direncanakan sesuai dengan
permasalahan yang berkembang dimasing-masing desa.
Dalam hal pihak yang harus ikut serta berpartisipasi mengatasi
masalah tersebut, hampir semua desa sepakat bahwa yang
berkewajiban mengatasi masalah tersebut adalah tokoh for-
mal (aparat desa), tokoh informal (kepala suku,tua-tua adat,
Cermin Dunia Kedokteran No. 118, 1997 45
toko
n pemikiran bahwa keluarga adalah orang
rdekat yang tahu pasti keadaan ibu dan anaknya, sehingga
kaan, perhatian dan kewaspadaan mereka harus
ku, kader kesehatan dan KB, tokoh agama, tokoh
asyarakat lainnya, dan petugas KB untuk membicarakan
lah kesehatan di desa masing-masing. Usulan
ini p
al
dan anak dapat diatasi di masa mendatang.
ana khususnya dan NTT umumnya dapat dipercepat.
ENUTUP
dilaporkan hasil kegiatan fokus grup diskusi
men
ul merupakan per-
an sektor kesehatan agar pemecahan yang ada dalam
di Timor, Fakultas
h agama, orang berpengaruh) dan petugas kesehatan
dan keluarga berencana beserta instansi lain yang terkait.
Namun desa Nunmafo, Susulaku, Tapenpah, Loeram, Letmafo,
dan Lapeom lebih menekankan peranan keluarga sendiri dalam
mengatasi permasalahan-permasalahan kesehatan ibu dan anak.
Hal ini berangkat da
te
tingkat kepe
ditingkatkan sehingga secepatnya mengambil tindakan bila ada
masalah-masalah yang mendesak. Pemikiran positif semacam ini
perlu dikembangkan dalam rangka mendidik dan meningkatkan
kemandirian masyarakat dalam menolong dirinya sendiri dalam
bidang kesehatan.
Secara umum semua desa sepakat bahwa cara yang tepat untuk
mengatasi masalah-masalah kesehatan ibu dan anak di Insana
adalah dibuatnya produk hukum tingkat desa berupa keputusan
desa lewat LMD, LKMD dan muusyawarah tokoh-tokoh adat
agar semua ibu hamil, semua ibu yang mempunyai bayi, balita
harus membawa dan aktif datang ke posyandu. Bila tidak datang
dikena sangsi sesuai dengan keputusan desa tersebut. Juga
diharuskan bagi dukun kampung, bila menolong persalinan harus
memberitahu bidan desa, mengajak serta untuk didampingi,
walaupun yang menolong masih dukun kampung tersebut,
mengingat kepercayaan ibu yang bersalin kepada dukun kampung
masih sangat besar. Hal ini telah dipraktekkan secara baik di desa
Loeram dan Desa Letneo, sehingga tahun 1996 ini, cakupan
pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan tinggi, tingkat
komplikasi obstetri dapat ditekan (karena bidan selalu hadir dan
siap membantu setiap saat bila diperlukan) dan tidak ada kematian
maternal.
Selain itu sebagian besar desa menganggap akan pentingnya
pelatihan kesehatan bagi tokoh formal dan informal tingkat desa
terutama para kepala suku dan tua-tua adat agar mereka dapat
meneruskan pesan-pesan kesehatan dengan baik dan benar kepada
anggota sukunya masing-masing. Intensifikasi pneyuluhan masih
perlu ditingkatkan. Kerja sama lintas sektor perlu dipererat. Yang
menarik adalah usulan dari desa Nunmafo untuk mengadakan
pertemuan berkala antara bidan desa, aparat desa, tua-tua adat,
epala su
k
m
permasalah-permasa
erlu direalisasi mengingat hanya peran serta yang optim
dan semua pihak, permasalahan-permasalahan kesehatan
terutama kesehatan ibu
Sehingga laju penurunan angka kematian ibu dan angka kematian
bayi di Ins
P
Demikian telah
genai kesehatanibu dan anak di kecamatan Insana.
Permasalahan-permasalahan yang munc
masalahan yang murni dari bawah dan harus mendapat perhatian
tersendiri d
bentuk program-program kerja Puskesmas ses dengan
permasalahan-permasalahan yang berkembang di lapangan.
UCAPAN TERIMA KASIH
Penulis mengucapkan terirna kasih kepada Bapak Ketua Bapeda DATI II
TTU, Ausaid, Bapak Kepala Dinas Kesehatan TTU dan Bapak Camat In-
sana yang telah memfasilitasi kegiatan ini dalam bentuk bantuan moral dan
material. Semoga hasil kegiatan ini berguna bagi masyarakat Insana
khususnya dan NTTpada umumnya.
KEPUSTAKAAN
1. Hidadjat A, dkk. Studi Suplementasi Zinc ibu hamil
Kedokteran Universitas Brawijaya, Malang, 1994
2. Seman S. Angka dan Sebab Kematian Bayi di Propinsi NTF dan NTB,
Jumal Analisą, CSIS 1986-10, 1986.
3. Harian Kompas, 15 Juni 1996
4. Sutrisno, Laporan Tahunan Puskesmas Maubesi tahun program 1995..
5. Lisa Andriani, Laporan Tahunan Puskesmas Oelolok tahun 1995.
6. Dinas Kesehatan TFU, Profil Kesehatan Kabupaten Timor Tengah Utara
tahun 1995.
LAMPIRAN
TABULASI HASIL FOKUS GRUP DISKUSI KESEHATAN IBU
DAN ANAK DI KECAMATAN INSANA
NO.
DESA
MASALAH-MASALAH
KIA
PIHAK YANG
TUGAS
MENGATASI
MASALAH
ALTERNATIF
PEMECAHAN
1
Manu- 1. Kawin usia muda
naih A 2. Budaya panggang setelah
Bersalin
3. Hamil tanpa s u m '
4. Banyak PUS yang tidak
ikut keluarga berencana
5.Status ekonomi rendah
6. Banyak pantangan
makanan
7. Kesadaran datang ke
posyandu masih rendah
tingkat desa.
2. Tokoh adat
3. Tokoh
Agama
4. Petugas
kesehatan di
desa
ngan dan penyuluhan
dari aparat desa dan
tokoh-tokoh masya-
rakat.
I. Pemerintah
1. Intensifikasi bimbi-
2
Nunmafo 1. Rendahnya kesadaran
datang ke posyandu.
2. Tingginya kurang gizi
pada
ibu dan anak bayi dan
balita.
3. Angka kelahiran tinggi.
4. Dukungan tokoh
masyara-
kat masih kurang.
5. Kawin usia muda
6. Kurangnyapengetahuan
masyarakat tentang
kesehatan
ibu dan anak.
7. Masih banyak pantangan
terhadapjenis-jenis makanan
tertentu.
1. Petugas
kesehatan
2. Tokoh formal
3. Tokoh
informal
4. Keluarga
(bapak dan ibu)
5. LSM
I. Penyuluhan dan
ceramah kepada
masyarakat lebih
ditingkatkan
2. Dibentuknya forum
pertemuan antara tokoh
formal/informal dengan
petugas kesehatan dan
KB
3. Latihan bagi dukun
dan kader
4. Peningkatan peralat-
an medis
5. Pemberian sangsi
kepada ibu yang tidak
memeriksakan kehami-
lannya ke puskesmas/
posy.
3
Manu-
nain
1. Pendidikan ibu masih
rendah.
2. Kepercayaan ibu pads
dukun masih tinggi.
3. Kurang memberikan
makanan yang bergizi pada
bayi/balita
4. Ekonomi lemah.
1. Kepala desa
2. Tua-tua adat
3. Tokoh agama
4. Kader Posy.
5. Petugas
kesehatan
1. Kerjasama lintas
sektor.
2. Pendidikan
kesehatan kepada para
ibu.
3. Mengurangi
kepercayaan ibu pada
dukun.
5. Air sehat kurang
6. Kesadaran ke posyandu
kurang
7. Belum menggunakan
saran kesehatan secara
optimal.
Cermin Dunia Kedokteran No. 118, 1997
46
Ornbit
1. Belum semua ibu hamil
memeriksakan diri secara
teratur.
2. Tenaga kesehatan belum
dimanfaatkan secara optimal.
3. Persalinan secara
tradisional
4. Banyak pantangan
makanan bagi ibu harrtil
5. Tempat tinggal penduduk
jauh dari sarana kesehatan.
6. Kesadaran datang di
posyandu masih kurang.
4. Kader
5. Dukun
terlatih
6. Ibu-ibu yang
berpengaruh
7. Petugas
kesehatan
2. Adanya keputusan
desa yang memberi
sangsi kepada
penduduk bila tak
datang keposyandue
3. Peningkatan
penyuluhan dari aparat
desa dan petugas
kesehatan.
1. Aparat desa
2. Tua-tua adat
3. Tokoh agama
1. Tokoh agama dan
tua-tua adat dibekali
pengetahuan kesehatan.
5
Susulaku
1. Kurangnya perrhatian
orang tua terhadap anaknya
2. Usia hamtil terlalu muda
3. Kebiasaan panggang
4. Pantangan makanan bagi
ibu hamil dan melahirkan
5. Tidak ma
I . Keluarga
sendiri
2. Tokoh formal
3. Tokoh
informal
4. Petugas
I . Meningkatkan gizi
keluarga.
2. Meningkatkan
kebersihan lingkungan.
3. Mengatur dan
membatasi kelahiran.
n ikut KB
kesehatan dan
KB
5. Pemerintah
desa
4. Penyuluhan
kesehatan ibu hamil
dan nifas.
5. Menghilangkan
budaya pantangan
makanan.
6. Dibuat aturan desa
yang memberi sangsi
bila tidak datang ke
posyandu.
6 Tapen-
pah
1. Kurang kesadaran ibu
hamil memeriksakan
kehamilannya.
2. Kurangnya kesadaran
keluargadalam
mempersiapkan makanan
bergizi.
3. Kepercayaan yang tinggi
kepada dukun bayi.
4. Rendahnya keikutsertaan
ber-KB.
5. Adanya budaya bagi anak
sehngga menungkinkan kawin
antar keluarga dekat.
I. Tenaga
kesehatan
2. Kepala desa
3. LKMD,
LIVID, PKK
4. Tokoh
informal
5. Tokoh agama
6. Anggota
keluargasendiri
I. Motivasi keluarga
dan masyarakat untuk
menggunakan fasilitas
kesehatan secara
optimal.
2. Peningkatan
penyuluhan.
3. Lembaga nonformal
di desa harus dilibatkan
secaraoptimal.
4. Perlu adanya sangsi
bagi ibu hamil, bayi
balitayang tidak
datang ke posyandu.
Loeram 1.
Kesadaran
meemanfaatkan
fasilitas kesehatan masuh
1. Tokoh formal
2. Tokoh
1. Membuat keputusan
desa apabila ada per
rendah.
2. Banyak anak dengan gizi
kurang atau jelek.
3. Menyapih anak terlalu dini.
informal
3. Tetangga
4. Keluarga
5. Petugas
kesehatan dan
KB
salinan harus memberi
tahu bidan walaupun
yang menolong tetap
dukun kampung.
2. Mengintensifkan pe
nyuluhan oleh petugas
dan kepala desa atau
petugas yang lain.
8 Maubesi 1.
Pemeriksaan
kehamilan
tidak teratur.
2. Partisipasi ke posyandu
masih perlu ditingkatkan.
3. Peran tokoh nonformal
masih kurang.
4. Pemberian makanan pada
bayi masih belum sesuai
kesehatan.
5. Tidak memanfaatkan bidan
bila bersalin.
1. Kepala desa
dan staff
2. Tokoh agama,
tokoh adat
3. Instansi
terkait
1. Tiap RT melaporkan
ibu yang harnil baru ke
bidan desa.
2. Tokoh formal dan
informal mengerahkan
masy. ke posyandu.
3. Memberi sangsi
kepada ibu yang tidak
membawa anak ke
posyandu, berdasarkan
keputusan desa.
4. Menginstruksikan
kepada setiap KK
untuk menanam.tomat
25 pohon dan pepaya
25 pohon.
9
Atmen
1. Lebih percaya dukun
2. Kurang gizi
1. Kepala desa
dan aparatnya
1. Mengharuskan
dukun untuk memberi
3. Kebiasaan panggang
setelah melahirkan
k ikut KBI. Kawin
ia muda
2. Tokoh formal
dan informal
tahu bidan bila akan
menolong persaliann
2. Penyuluhan oleh tua
tua adat dan aparat
4. Tida
us
2. Budaya panggang setelah
bersalin
3. Hamil tanpa suami
4. Banyak PUS yang tidak
ikut keluarga berencana.
5.Status ekonomi rendah
6. Banyak pantangan
makanan
7. Kesadaran datang ke
posyandu masih rendah
desa mengenai efek
panggang api.
3. Meengadakan PMT
mandin.
4. Rapat berkala
dengan lintas sektor
tingkatdesai
10
Letmafo 1. Status ekonomi rendah
I. Keluarga
KB)
I. Meningkatkan
adat serta tokoh agama.
2. Kurang kesadaran hidu
sehat
2. Aparat desa
3. Tokoh masya-
rakat
4. Petugas
instansi terkait
(kesehatan dan
pendapatan keluarga.
2. Peningkatan peran
serta aparat desa.
3. Penyuluhan hidup
sehat oleh petugas,
aparat desa dan tokoh
I I Banuae
I. Banyak ibu hamil yang
tidak memerksakan
kehami Ian pada awal
keham ilan.
2. Lebih percaya dukun.
3. Kebiasaan panggang dan
minum obat tradision
4. Hamil tanpa suami
1. Tokoh formal
okoh
etugas
dan PLKB
i
)
I. Membuat keputusan
desa agar semua ibu
hamilmemeriksakan
diri ke bidan desa.
2. Penyuluhan
kesehatan dan KB
secarakontinyu.
3. Pertemuan lintas
sektor tingkat desa
al.
.
terkaitlainnya
2 t
informal
3. P
(bi
dan instans
secara berkala untuk
eva luasi program.
12 Lanaus
1. Belum memanfaatkan
,sarana kesehatan secara
optimal.
I. Tokoh formal
2. Tokoh
informal
1. Penyuluhan oleh
petugas, aparat desa,
2. Lebih percaya dukun
kampung.
4. Bidan
2. Perlu adanya
ntah
3. Kawin usia muda karena
paksaan adat.
5. Kader kese-
hatan dan KB
peratiran pemeri
yang menekan ka
4. Kurang gizi.
win
usia terlalu muda.
3. Tokh agama
tokoh adat dan tokoh
agama,
3. Bimbingan teknis
pendnpman makanan
yang bergizi.
I . Lebih percaya dukun
2. Ibu hamil tidak
ta
5.
dari pemukiman penduduk.
6. Ba
m
1. Kepala desa
dan staf.
ke
K
6.
PP
7.
1. Adanya keputusan
desa yang memben
kan tiap
duku
idam
3. B
ja
se
13 Subun
inemeriksakan kehamilannya
secara teratur.
3. Kebiasaan panggang api.
4. Melahirkan di Iantai tanah
2. Tokoh adat
3..Tokoh agama
4. PKK
5
sangsi bila ibu tidak
membawa anak ke
posyandu.
enghams
npa diberi alas.
Lokasi pust
jauh
u yang
nyak pantangan
akanan bagi ibu yang
selesai bersalin.
te
. Petugas
seh
2. M
atan dan
B
K
persal
d
ader,
KBD
Instansi
rkait
n yang menolong
inan agar
pingi bidan desa.
idan desa membuat
dwal kerja harian
cara detail.
14 Lapeom
1
s
k
2
3
b
4
k
.
d
2.
se
3.
4.
I .
ke
se
berkelanjutan.
2. Ada sangsi bagi
yang tidak aktif datang
ke posyandu atau tidak
memeriksakan
kehamilannya secara
teratur.
. Tidak peri
ecara teratu
ksa kehamilan
1
r ke petugas
esehatan.
. Lebih percaya dukun.
. Kurnag gizi (ibu hamil dan
ayi, balita).
. Acuh tak acuh pada
yandu.
egiatan pos
Kepala dean
an staf
Keluarga
ndiri
Tokoh agama
h adat
Toko
Penyuluhan
sehatan dan KB
n dan
cara ruti
15L
1
2
b
3
k pantangn makanan
y
1.
d
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
ya
h
etneo
b
. Banyak ibu hamil, bayi.
alita yang kurang gizi.
. Keikutsertaan ke posyandu
elum memuaskan.
. Banya
ang mengandung gizi.
Kepala desa
an staf
Tokoh adat
Tokoh agama
a
Kader
Dukun
Bidandesa
Petugas KB
in
m
m
Inst nsi la
ng terkait
I . Penyuluhan di
posyandu oleh aparat
desa, tokoh adat, toko
gama serta petugas
kesehatan.
2. Membuat keputusan
desayang
engharuskanibu
embawa bayi dan
ya datang ke
balitan
posyandu dan ibu
hamil memernksakan
kehamilannya sejak
awal ke petugas
kesehatan.
Cermin Dunia Kedokteran No. 118, 1997 47