HASIL PENELITIAN
Evaluasi Klinik Pengobatan Cefixime Oral
pada infeksi Saluran Pernapasan Bawah
Non Tuberkulosis
Djoko Trihadi, Hermawati Ananta Rahardja
Balai Pengobatan Penyakit Paru-paru (BP4) Semarang Jawa Tengah
ABSTRAK
Cefixime (sefalosporin generasi ke tiga oral) ditemukan pada tahun 1945, di Indo-
nesia mulai diperkenalkan sejak tahun 1986. Dilakukan penelitian manfaat Minis dan
keamanan Cefixime terhadap 37 pasien dengan Infeksi Saluran Pernapasan Bawah Non
Tuberkulosis (20 pasien dengan Pneumonia, 10 pasien Bronkhitis Akut dan 7 pasien
dengan Bronkhiektasis Terinfeksi). Biakan dahak dilakukan sebelum dan sesudah peng-
obatan, Cefixime diberikan selama 4 - 14 hari dengan dosis 3 - 6 mg/kgbb/hari. Evaluasi
klinis didasarkan atas perbaikan gejala klinik (batuk, demam, jumlah dahak, sesak napas).
Kriteria penilaian adalah: sembuh, perbaikan atau gagal. Pada akhir penelitian didapat-
kan 20 pasien sembuh (54,06%), perbaikan 14 pasien (37,83%), gagal pada 3 pasien
(8,11%), secara keseluruhan angka keberhasilan adalah 91,89%. Tidak didapatkan
adanya keluhan atau efek samping obat yang berarti sampai selesainya penelitian, tidak
ada perbedaan bermakna dalam hal pemeriksaan laboratorium penunjang. Biakan dahak
37 isolat patogen terdiri atas 10 kuman aerob dengan angka eradikasi sebesar 94,59%, 2
galur kuman dinyatakan persisten.
Kata kunci: Cefixime, Infeksi Saluran Pernapasan Bawah Non Tuberkulosis, evaluasi
klinik.
PENDAHULUAN
Di negara sedang berkembang seperti Indonesia infeksi sa-
luran pernapasan bawah masih merupakan masalah kesehatan
masyarakat yang penting; menurut Survai Kesehatan Rumah
Tangga Departemen Kesehatan RI tahun 1992 penyakit ini ma-
sih menduduki peringkat atas dalam hal angka kesakitan maupun
penyebab kematian
(2)
. Pada kasus-kasus yang telah diketahui
kuman penyebabnya dapat segera diberikan antibiotika yang
sesuai, tetapi seringkali kuman patogen penyebab belum atau
bahkan tidak diketemukan sehingga pengobatan diberikan se-
cara empirik
(3)
.
Cefixime adalah sefalosporin generasi ke 3 oral yang
relatif stabil terhadap beta laktamase, merupakan antibiotika
spektrum luas dan dapat membunuh kuman penyebab infeksi
saluran pernapasan pada umumnya, seperti Streptococcus
pneumonia, Staphylococcus aureus, Haemophylus influenzae
dan Moraxella catarrhalis
(1)
.
Kelebihan Cefixime adalah waktu paruhnya relatif Lebih
lama yaitu 3,5 - 4 jam sehingga memungkinkan dosis 2 kali se-
hari bahkan sekali sehari pada kasus tertentu. Penelitian multi-
Cermin Dunia Kedokteran No. 101, 1995
44
senter dengan kasus cukup banyak membuktikan bahwa Cefixime
lebih bermanfaat dalam hal perbaikan klinis maupun bakterio-
logis dibanding kotrimoksasol atau amoksilinasam Klavulanat
pada infeksi saluran kemih dengan komplikasi, juga dibanding
sephakhlor pada infeksi saluran pernapasan akut
(1,4,5)
.
Penelitian ini ditujukan untuk:
1) Menilai perbaikan klinik dan bakteriologik serta keamanan
Cefixime oral pada infeksi saluran pernapasan bawah non
tuberkulosis dewasa.
2) Identifikasi kuman isolat patogen penyebab infeksi saluran
pernapasan bawah non tuberkulosis dengan hasil eradikasinya.
Hasil perbaikan klinik dan pola kepekaan biakan kuman di-
harapkan bermanfaat sebagai petunjuk para klinisi tentang
kuman penyebab dan sebagai pertimbangan untuk memberikan
pengobat yang sesuai.
BAHAN DAN CARA KERJA
Kriteria penelitian
1) Pasien pria atau wanita dewasa dengan bronkhitis khronis
eksaserbasi akut, bronkhitis akut, bronkhiektasis terinfeksi,
pneumonia atau infeksi paru lain dengan sekunder infeksi.
2) Mampu menelan obat (per oral).
3) Bersedia mengikuti penelitian sejak awal sampai akhir
pengobatan (informed consent).
Dikeluarkan dan penelitian bila terdapat:
1) Alergi terhadap sephalosporin atau derivat penisilin.
2) Menderita penyakit berat atau penyakit sistemik menahun
(jantung, saluran pernapasan, hepar, gagal giñjal, DM, keganas
an).
3) Bersihan kreatinin lebih dan 20 ml/menit.
4) Gangguan fungsi hepar : SGOT/SGPT lebih dan 2 kali
harga normal tertinggi.
5) Wanita hamil atau menyusui, kontrasepsi hormonal.
6) Terdapat infeksi aktif di tempat lain dan diketahui telah
kebal/resisten terhadap Cefixime.
7) Selama pengobatan terjadi: keadaan klinik memburuk, timbul
efek samping obat,menghentikan pengobatan sebelum waktunya.
Cara kerja
Studi ini bersifat prospektif, terbuka tanpa kontrol Diagno-
sis ditegakkan dengan: anamnesis, pemeriksaan fisik dan labo-
ratorium penunjang: darah rutin (Hb-lekosit-hitungjenis-LED),
urine rutin, Röntgen thorax AP, biakan dahak dan pengecatan
BTA. Dahak pagi dikumpulkan dalam pot steril dan segera di-
kirimkan ke: Balai Laboratorium Kesehatan Semarang, Labora-
torium Sarana Medika dan Laboratorium Ultra Semarang tanpa
pengawet.
Cefixime diberikan peroral 200 400 mg 2 kali sehari se-
lama 4 14 hari tergantung perbaikan kliniknya. Setiap 5 hari
dievaluasi suhu badan, denyut nadi, pernapasan, jumlah dahak,
keluhan yang ada dicatat dalam Daftar Isian Penelitian.
Cara evaluasi
1) Perbaikan Klinik:
a) Sembuh : semua tanda dan gejala infeksi menghilang pada
akhir pengobatan.
b) Perbaikan : perbaikan nyata dan tanda dan gejala infeksi,
tetapi tanpa penyembuhan sempurna pada akhir pengobatan.
c) Gagal keadaan memburuk atau tidak ada perbaikan gejala
dan tanda infeksi pada akhir pengobatan.
2) Respon Bakteriologis:
a) Eradikasi kuman penyebab infeksi mengalami eradikasi/
terbunuh pada biakan akhir pengobatan.
b) Persisten : kuman penyebab tetap tumbuh pada biakan akhir
pengobatan.
c) Super infeksi : terdapat pertumbuhan satu atau lebih kuman
pada biakan akhir pengobatan.
d) Tidak dapat dinilai : respon bakteriologi tidak dapat ditentu
kan.
HASIL
Selama bulan Desember 1993 sampai April 1994 didapat-
kan 37 pasien (21 pria dan 16 wanita) yang memenuhi syanat
penelitian, sebagian besar terdapat pada kelompok umur pro-
duktif (25 - 34 tahun) yaitu 19 pasien atau 5 1,35% disusul ke-
lompok umur 15 24 tahun sebesar 24,32% (Tabel 1).
Tabel 1. Distribusi pasien Infeksi Saluran Pernapasan Bawah Non Tuber-
kulosis yang diobati Cefixime menurut kelompok umur dan sex
(N = 37)
Umur/tahun Pria Wanita Jumlah
1524
2534
3544
4555
5
10
4
2
4
9
2
1
9
19
6
3
Jumlah 21 16 37
Beberapa perubahan manifestasi klinik sebelum dan sesu-
dah pengobatan (demam, denyut nadi, pernapasan, hemoglobin,
jumlah lekosit dan laju endap darah) diuraikan dalam Tabel 2.
Tabel 2. Gambaran Manifestasi Klinik sebelum dan sesudah pengobatan
dengan
Cefixime
peroral
(N
=
37)
Kriteria klinik
Sebelum terapi
Sesudah terapi
1. Demam > 38°C
2. Denyutjantung> 100 Xlmenit
3. Pernapasan> 20 X/menit
4. Hemoglobin <90%
5. Lekosit> 10.000/mm3
6. LED>10mm/jam
37
37
5
35
33
1
2
3
1
0
Perbaikan klinis : 20 pasien sembuh (54,05%), 14 pasien
perbaikan (37,83%) dan 3 pasien gagal (8,11%) (Tabel 3).
Tabel 3. Hasil Perbaikan Klinis Pasien yang diobati dengan Cefixime
peroral (N = 37)
Diagnosis Sembuh
Perbaikan
Gagal
Jumlah
1. Pneumonia
2. Bronkhitis Akut
3. BronkhiektasisTerinfeksi
14
3
3
6
6
2
0
1
2
20
10
7
Jumlah 20
14
3
37
Hasil eradikasi biakan kuman setelah pengobatan dengan
Cefixime adalah sebagai berikut: eradikasi 35 kuman (94,59%),
Cermin Dunia Kedokteran No. 101, 1995 45
persisten pada 2 kasus (5,41%) dan tidak ada superinfeksi
(Tabel 4).
Tabel 4. Hasil biakan kuman setelah pengobatan dengan Cefixime per-
oral
(N
:
37)
Galur kuman
Eradikasi
Persisten
Superinfeksi
Jumlah
1. K. pneumoniae
2. S. pneumoniae
3. Ent. agglomerans
4. SB. hemotyticus
5. Ps. aeruginosa
6. S. epidermidis
7. Pr. mirabilis
8. Ser. marcescens
9. E.coli
10.K. ozaenae
7
6
6
3
3
3
3
2
1
1
1
-
-
-
1
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
8
6
6
3
4
3
3
2
1
1
Jumlah (%)
35 (94,59)
2 (5,41)
-
37 (100)
Angka keberhasilan perbaikan klinis dihitung dengan
menggunakan rumus:
91,89%
100%
X
37
34
100%
X
kasus
Jumlah
Perbaikan
Sembuh
=
=
+
Selama pengobatan tidak didapatkan keluhan ataupun ke-
lainan akibat efek samping cbat yang diberikan.
DISKUSI
Hasil penelitian ini dengan angka keberhasilan atau per-
baikan klinik sebesar 91,89% dan angka eradikasi 94,59%
rnenggambarkan bahwa Cefixime cukup efektif dan aman ter-
utama pada kasus infeksi saluran pernapasan bawah yang didapat
dalam masyarakat. Biakan kuman terbanyak berturut-turut ada-
lah : Klebsiella pneumoniae, Streptococcus pneumoniae dan
Enterobacter agglomerans terutama pada kasus pneumonia dan
bronkhitis akut. Wang et al melaporkan efektifitas Cefixime pada
20 kasus infeksi saluran pernapasan bawah sebesar 90%
(5)
.
Borgden mendapatkan bahwa 62 kasus pneumonia dengan terapi
Cefixime menghasilkan: 15 kasus baik sekali (24%), baik pada
35 kasus (56%), cukup 8 kasus (13%) dan gagal 4 kasus atau
7%
(6)
. Verghese et al melaporkan 83 pasien bronkhitis akut
mendapatkan hasil yang hampir sama yaitu: baik sekali 5%,
baik 73%, cukup 16% serta gagal
Isolat kuman patogen yang dibiakkan sejumlah 37 dengan
galur yang bervariasi memang belum dapat menggambarkan
pola kepekaan serta kuman penyebab infeksi, tetapi setidaknya
memberi gambaran jenis kuman yang sering ditemukan. Menaldi
menemukan 33 isolat kuman dan 33 pasien infeksi paru (100%)
sedang Priyanti hanya berhasil mendapatkan 21 galur kuman
(50%) dari 42 kasus yang hampir sama (dikutip dari 3). Kegagal-
kan untuk mendapatkan galur kuman penyebab mungkin di-
sebabkan karena gejala dan tanda infeksi saluran pernapasan
bawah hampir sama dengan keluhan infeksi saluran pernapasan
atas sehingga para dokter cenderung memberikan antibiotik, di
samping itu kesalahan cara pengambilan spesimen dahak juga
dapat mempengaruhi keberhasilan mendapatkan dahak.
Dua kasus galur kuman yang persisten (Klebsiella pneumo-
niae dan Pseudomonas aeruginosa) sesuai penelitian terdahulu
oleh Wang dan Choe, juga sarna dengan laporan dan Indonesia
oleh Sudarmono pada tahun 1993
(12)
. Secara in vivo maupun in
vitro angka perbaikan bakteniologis galur kuman Streptocuccus
pneumoniae, Hciemophilus influenzae dan Moraxella catarr-
halis seperti yang dilakukan Neu adalah 80 85%. Sayang
sekali penelitian ini tidak mendapatkan 2 kuman terakhir karena
keterbatasan sarana. Di pihak lain, Lomson et al meneliti khusus
galur kuman Gram negatifpada kasus bronkhitis akut dan pneu-
monia dengan Cefixime sesuai dosis yang direkomendasikan
ternyata cukup efektif pada 26 dan 30 (86,6%) kasus yang di-
teliti. Dan datadi atas kiranyadapatdisimpulkan bahwaCefixime
cukup bermanfaat pada kasus infeksi ringan sampai sedang
kuman Gram negatif yang sudah kebal terhadap Beta laktam
atau sefalosporin generasi sebelumnya
(9)
.
Yang mungkin perlu diperhatikan bagi para klinisi adalah
mulai timbulnya kasus kekebalan terhadap beberapa obat sekali-
gus atau multiple drugs resistant terutama galur kuman Gram
negatif yang relatif sulit untuk dikendalikan. Kesulitan makin
bertambah pada kasus yang sangat gawat misalnya syok septik
atau infeksi sekunder pasien keganasan dan infeksi nosokomia1
(10)
.
Cefixime yang diperkenalkan sebagai sefalosporin generasi ke
tiga oral diharapkan dapat mengatasi kesulitan di atas dengan
mengingat beberapa keuntungan antara lain:
a. Tanpa rawat map yang .sering tidak ekonornis.
b. Dapat diberikan 2 kali sehari.
c. Cukup bermanfaat terhadap galur kuman tertentu.
d. Konsentrasinya cukup tinggi dijaringan paru dan bronkhus.
Bagaimanapun juga, akhirnya pengalaman dokter dengan
pertimbangan yang matang dan rasional dalam pengobatan in-
feksi akan menentukan keberhasilan pengobatan tanpa harus
menimbulkan kekebalan yang tidak diharapkan oleh dokter
maupun pasien
(11,12)
.
KESIMPULAN
Telah dilakukan pengobatan infeksi saluran pernapasan
bawah non tuberkulosis pada 37 kasus dengan Cefixime Oral
dosis 2 kali sehari. Angka keberhasilan perbaikan klinik sebesar
9 1,89% dan angka eradikasi 94,59%. Selama pengobatan tidak
didapatkan keluhan dan tanda efek samping obat. Pemberian
dosis yang mudah dan sifatnya yang relatif stabil terhadap Beta
laktamase meningkatkan kepatuhan pasien, diharapkan dapat
memberikan alternatif pengobatan empirik sebelum kuman
penyebab dapat dibiakkan.
UCAPAN TERIMA KASIH
Penulis mengucapkan terima kasih yang setinggi-tingginya kepada: dokter
Niken Anggraini dan Ibu Suprapti (Balai Laboratorium Kesehatan Semarang),
Ibu Herawati Handoyo dan Bapak Seno Ari (I.aboratorium Sarana Medika
Semarang) dan Bapak Djati Suroso, BA (Laboratorium Ultra Semarang) atas
segala bantuan teknis dalam penelitian ini.
KEPUSTAKAAN
1. Steckelberg JM, Tallan BM, Rouse MS. Oral Cephalosporin Treatment of
Beta-Lactamase Positive Haemophillus influenzae Experimental Pneumo-
nia. Medical Journal of the University of Indonesia 1992; 1(3 4) (Suppl):
9 12.
2. Budiarso LR, Bakri Z,. Soesanto. The Household Survey. Research and
Cermin Dunia Kedokteran No. 101, 1995
46
Development Division, Ministry of Health Republic of Indonesia, 1992.
8. Neu HC. New Oral Cephalosporins why and when they should be used.
Medical Journal of the University of Indonesia 1992; 1(34): 35.
3. Mangunnegoro H et al. The clinical efficacy of Cefixime in the treatment
of nontuberculous lower respiratory tract infections. Medical Journal of the
University of Indonesia 1992; l(3-4): 359.
9. Limson BM, Go VM. Oral Cefixime Therapy of.Gram Negative Lower
Respiratory Tract infections. Medical Journal of the University of Indo-
nesia 1992; 1(34): 293 1.
4. Choe KW. A Clinical Study on Cefixime. Medical Journal of the
University of Indonesia. 1992; 1(34): 401.
10. Kiani R, Johnson D, Nelson B. Comparative multicentre studies of
Cefixime and Amoxilin in the treatment of respiratory tract infections. Am
J Med 1988; 85 (Suppl) 3A: 613.
5. Wang FD, Liu Cy,Hu BS. Cefixime in the treatment of acute lower
respiratory tract and urinasy infection. Drug Invest 1992; 4: 349.
6. Brogden RN, Richards DMC. Cefixime : A review of its antibacterial
activity. Pharmacokinetic properties and therapeutic potential. Drugs 1989;
38: 52450.
11. Telly FP, Desjardins RE, McCarthy EF, Cartwright KC. Safety profile of
Cefixime. Jlnfect Dis 1987; 6: 97680.
12. Pratiwi S. Susceptibility pattern of Cefixime (Cefspan) in Bacterial isolates
from clinical specimens. (File from Scientific Division of PT. Kalbe
Farma), May, 1993: 110.
7. Verghese A. The use of oral an in daily clinical practice. Drugs (Suppl)
Vol 1991; 42(4): 15.
Kegiatan Ilmiah
3 5 Agustus 1995 SIMPOSIUM DAN LOKAKARYA NUTRISI -
ENDOSKOPI - LAPAROSKOPI
Aplikasi Klinis Tunjangan Nutrisi Endoskopi Gastrointestinal
dan Laparoskopi Anak di Rumah Sakit
Hotel Horizon, Ancol (Simposium)
RS Anak dan Bersalin Harapan Kita, Jakarta (Lokakarya)
Sekr. : RSAB Harapan Kita
JI. S. Parman Kav. 87, Slipi
Jakarta 11420, INDONESIA
Tel.: (021) 5673767, 5672191, 5668284 ext. 548, 418,
517
Fax :
(021) 5601816, 7656295
1923 September 1995 SECOND ASIA-PACIFIC CONFERENCE ON
MEDICAL GENETICS AND EIJKMAN SYMPO-
SIUM ON THE MOLECULAR BIOLOGY OF
DISEASE
Shangri-La Hotel, Jakarta, INDONESIA
Sekr.:
Dr.
Alida
Harahap
JI. Diponegoro 69
Jakarta, INDONESIA
Tel. : (62-21) 3914575, 3148694, 3148695
Fax : (62-21) 3147982
Cermin Dunia Kedokteran No. 101, 1995 47