background image
Etiologi Mikrobio
pada Anak Bal
l
it
ogi Diare Kronik
a di Jakarta
Pudjarwoto Triatmojo*, Cyrus M. Simanju
* Pusat Penelitian Penyakit Menular Badan
Departemen Kes
** Bagian Gastroenterologi, Fakultas Ke
ntak*, Agus Firmansyah**, Suharyono**
elitian dan Pengembangan Kesehatan
Pen
eh
dokt
atan RI, Jakarta
eran Universitas Indonesia, Jakarta
Dibiayai oleh : DIP 1991/1
an lebih sering terjadi pada anak
da umur 6 bulan pertama. Berdasarkan
PENDAHULUAN
Diare kronik adalah diare yang berlangsung lama sampai
anak kecil terutama pa
992 SK. No. HK. 00.0620-1
beberapa bulan atau tahun d
ABSTR
etiologi mikrobiologi dia
maka telah diteliti 136 responden penderita
AK
re persisten pada anak balita di Jakarta,
Untuk mengetahui
diare berlanjut dan diare persisten yang
berobat ke beberapa rumah saki' di Jakarta yai
karta
erhadap responden
an observasi klinik, wa
s unt
n
apa je
, Shigella, Campylobacter, ETEC, Entam
, Rot
ling t
mikroba yang lain yakni sebesar 21,6%. Kem
an menyusul berturut-turut adalah infeksi
ella 3,6%, Shigell dan E. histolytica masing-masing 2,4%,
Campylobacter = 1,2%. Infeksi ganda sebagaimana terseb t di atas adalah sebesar 4,8%.
Uji resistensi terhadap antibiotik hanya ilakukan terhadap Salmonella, Shigella dan
E. coli. Hasil uji resistensi terhadap 7 isola
lmonella menunjukkan bahwa terdapat 1
isolat yan
n yaitu
Ampisilin
oxazol-
Trimetopri
tu rumah sakit Cipto Mangunkusumo,
dan Sint Carolus. T
rumah sakit Karantina, rumah sakit Islam Ja
ini antara lain dilakuk
wancara terhadap orang tua penderita dan
uk identifikasi mikro organisme (virus,
pengambilan spesimen rectal swab dan fese
bakteri dan parasit) serta dilakukan uji resiste si terhadap 6 jenis antibiotik.
nis mikro organisme yang terdeteksi
Hasil penelitian menunjukkan, beber
sebagai penyebab diare persisten pada anak
nella
balita antara lain adalah Rotavirus, Salmo-
uba histolytica, serta infeksi ganda antara
avirus + Trichuris trichiura dan Salmo-
inggi dibandingkan dengan infeksi oleh
Rotavirus + Salmonella, Rotavirus + ETEC
nella + ETEC. Infeksi Rotavirus tercatat pa
udi
a
ETEC = 8,5%, Salmon
u
d
t Sa
g multi resisten terhadap 6 jenis antibiotik yang lazim digunaka
, Tetrasiklin, Khloramphenikol, Streptomisin, Kanamisin dan Sulfamet
m. Pada pengujian terhadap 41 isolat E. coli hasilnya adalah 7 isolat (14,2%)
bersifat multi resisten terhadap ke 6 jenis antibiotik tersebut. Kernudia
is antibiotik ya
n dari 2 isolat yang
d
ng sama.
re persisten tampak sakit ringan,
1
yerta/kom-
p
febris, ma-
la
an bahwa
s
n ke bawah
y
iuji terdapat 1 isolat yang multi resisten terhadap 6 jen
dia
Ditinjau dari keadaan umum, 79,4% penderita
1,8% tampak sakit berat dan 8,8% tampak normal. Beberapa penyakit pen
likasi yang diketahui di antaranya adalah malnutrisi, ISPA, faringitis,
bsorpsi, hiperbilirubin. Kemudian bila ditinjau dari faktor umur menunjukk
ebagian terbesar penderita diare persisten adalah dari kelompok umur 1 tahu
akni sebesar 71,2%.
Cermin Dunia Kedokteran No. 85, 1993
52
background image
kesepakatan pada Pertemuan ke IX Badan Koordinasi Gastro-
nterologi Anak Indonesia (BKGAI) di Palembang (1984), be-
erapa kead
meliputi:
diarrhoea
lisan ini sel
persisten dan prolo
isten adalah diare
4 hari atau lebih. Prolonged diarrhoea (diare berlan jut)
adalah diare yang
(1,2)
Seperti diket
diare akut yang berla
babkan oleh infeksi mikro organi
bang 3-20% kasus diare
sedangkan di Indonesia angka kejadian diare persisten
ilaporkan sebesar 1-9%
(3,4,5)
. Diperkirakan bahwa di Indonesia
rdapat sekitar 500-600 ribu anak balita per tahun menderita
i
an saksama sangat
ungkin akan menjadi Malnutrisi Energi Protein (MEP) dan
apat meninggal akibat komplikasi dengan penyakit lain
(6)
.
Patogenitas diare persisten sangat kompleks ka
kejadian diare persi en m
faktor dan penyebab y
dijumpai kesulitan d
walaupun berbagai
obat telah diberika
penyebab tingginya
yang dilaporkan men
Diare persisten
upayakan pemecahannya
anak, karena masih
ditinjau dari sudut
genitas, faktor-fakto
disebutkan bahwa
persisten antara lain
susu sapi, alergi prot
sindrom usus halus t
Besar kasus-kasu
dari sudut etiologi
telah diteliti dan has
BAHAN DAN CAR
Dalam penelitia
kasus-kasus diare be
logi mikrobiologi, observ
1. Studi etiologi m
Studi ini menc
pemilihan responde
spesimen di laborato
) Pemilihan respond
masuk studi ini adalah anak balita pen-
ruma
nt Carolus.
b)
Pengambilan spesimen
Spesimen berupa rectal swab (usap dubur) diambil dari
Rectal
ransport
bil juga
dalam
kukan pada saat/
hakan sebelum
penderita makan obat/antibiotik. Sampel berasal dari penderita
ebih dari 14
mperhatikan dua
eriksa dokter dengan
n yang kedua adalah
ang tua penderita yaitu
diare yang terjadi sudah berlangsung selama 7 hari/lebih.
Spesimen segera dibawa ke laboratorium untuk selanjutnya
dilakukan pemeriksaan terhadap virus, bakteri dan parasit.
c)
Pemeriksaan mikrobiologi dan uji resistensi
Dalam pemeriksaan ini dilakukan identifikasi terhadap
irus, Salmonella, Shigella, Campylobacter, ETEC,
uba histolytica, Giardia lamblia, Cryptosporidium dan
n ETEC dilakukan
nosorbent Assay),
eperti Salmonella,
cara konvensional
dengan antisere).
n metode Kato. Uji
ukan dengan Disk
r, 1966).
acam studi yaitu
n pengamatan ka-
atkan data apakah
gan ataupun sakit
s gizi, turgor kulit,
ain-lain. Data ini
umah sakit dan
itu dilakukan pula
/komplikasi.
stensi feses dengan
akroskopis dan
berlendir, berbusa,
ebut di atas serta
-lain.
erita
Wawancara ini dimaksudkan untuk m
kan informasi
kerapan) buang air besar/hari, konsistensi feses dan lain-lain
e
b
aan yang masih dianggap diare kronik adalah
diare persisten, protracted diarrhoea, intractable
, diare rekuren dan prolonged diarrhoea. Dalam tu-
anjutnya hanya akan dikemukakan mengenai diare
nged diarrhoea (diare berlanjut). Diare per-
yang berlangsung berkepanjangan selama
penderita diare yang datang ke klinik tersebut di atas.
swab yang telah diambil segera dimasukkan ke dalam t
medium Carry & Blair. Selama itu dari tiap orang diam
sampel feses sebanyak ± 10 gram yang dimasukkan ke
botol plastik steril. Pengambilan sampel dila
hari penderita berobat ke rumah sakit dan diusa
s
1
berlanjut sampai 7 s/d kurang dari 14 hari
.
ahui, penyakit diare sebagian besar merupakan
diare yang sudah berlangsung antara 7 -14 hari dan l
hari. Spesimen diambil hanya 1 kali dengan me
ngsung 2-7 hari dan pada
ertama setelah penderita dip
umumnya dise-
-negara berkem-
alternatip yaitu p
hasil diagnosis di
sme. Di negara
akut berlanjut menjadi diare persisten,
are persisten/kronik da
berdasarkan hasil wawancara dengan or
d
te
d are persisten yang bila tidak ditangani deng
m
d
rena
Rota-v
Entam
st
erupakan gabungan gejala berbagai
ang sating terkait, sehingga sering
alam menangani penderita diare persisten,
pemeriksaan telah dilakukan dan berbagai
n. Hal ini merupakan salah satu faktor
angka kematian karena diare persisten
capai 20,3%
(2)
.
masih merupakan masalah yang perlu di-
lain-lain. Pemeriksaan terhadap Rotavirus da
secara ELISA (Enzyme Linked Immu
sedangkan pemeriksaan bakteri yang lain s
Shigella, Campylobacter, dilakukan dengan
termasuk test biokimia dan test serologi
Adapun identifikasi parasit dilakukan denga
resistensi bakteri Enterobacteriaceae dilak
Diffusion Method (Kirby Baue
terutama diare persisten pada bayi dan
banyak hal yang belum jelas, terutama bila
etiologi mikrobiologi, epidemiologi, pato-
r risiko dan lain-lain. Dalam kepustakaan
beberapa faktor penyebab utama diare
adalah intoleransi laktosa, alergi protein
ein kedele, menetapnya patogen penyebab,
erkontaminasi (CSBS) dan malnutrisi .
2) Observasi klinik
Dalam observasi ini dilakukan dua m
pemeriksaan keadaan umum penderita da
rakteristik feses.
a)
Keadaan umum penderita
Pemeriksaan ini dilakukan untuk mendap
penderita dalam keadaan normal, sakit rin
(7)
s diare persisten pada anak balita ditinjau
mikrobiologik merupakan masalah yang
ilnya dikemukakan dalam tulisan ini.
A
n ini dilakukan tiga macam studi terhadap
rlanjut dan diare persisten, yaitu studi etio-
berat berdasarkan pengamatan terhadap statu
mata, lidah/mulut, aktifitas/gerak, dan l
diambil pada saat penderita datang berobat ke r
belum mendapat pengobatan. Di samping
pemeriksaan ada tidaknya penyakit penyerta
b)
Karakteristik feses
Dilakukan pengamatan terha
asi klinik dan wawancara/anamnesis.
ikrobiologi
akup tiga faktor penelitian yang meliputi
n, pengambilan spesimen dan pemehksaan
rium mikrobiologi.
en
dap konsi
memperhatikan penampakan feses secara m
mikroskopis; apakah bersifat cair, lembek,
berdarah atau campuran dari faktor ters
melihat ada tidaknya eritrosit, lemak dan lain
3) Wawancara terhadap orang tua pen
a
Responden yang
derita diare yang berlangsung 7 hari atau lebih yang berobat ke
h sakit Cipto Mangunkusumo, rumah sakit Karantina,
rumah sakit Islam Jakarta dan rumah sakit Si
d
endapat
tentang umur penderita, lama diare, perkembangan penyakit
yang dialami selamaini apakah membaik, memburuk atau dalam
keadaan stabil yang ditentukan berdasarkan pada frekuensi (ke-
Cermin Dunia Kedokteran No. 85, 1993 53
background image
setelah diare berlangsung selama 7 hari atau lebih dibandingkan
dengan hal yang sama pada awal kejadian diare.
HASIL
Selama 6 bulan penelitian (Agustus 1991 - Januari 1992)
telah berhasil diperiksa 136 spesimen rectal swab dan feses
dari anak balita penderita diare persisten dan diare berlanjut
yang berobat ke beberapa rumah sakit di Jakarta. Asal
spesimen adalah dari rumah saldt Cipto Mangunkusumo (109
spesimen), rumah sakit Karantina Tanjung Priok (16
spes
ur
di a
Tabel
imen), rumah sakit Islam Jakarta (5 spesimen) dan dari
rumah sakit Sint Carolus 6 spesimen. Dari sejumlah 136
spesimen tersebut, 83 spesimen berasal dari penderita diare
persisten, 53 spesimen dari penderita diare berlanjut.
Ditinjau dari faktor umur dan jenis kelamin (tabel 1) dapat
dilaporkan bahwa spesimen yang berasal dari jenis kelamin
lakilaki lebih besar dari perempuan, tapi secara statistik tidak
bermakna. Ella ditinjau dari faktor umur, sebagian terbesar
penderita diare persisten adalah dari kelompok umur kurang
dari 1 tahun (71,2%), selebihnya (28,8%) dari kelompok um
tas 1 tahun.
1. Distribusi umur dan jenis kelamin penderita diare persisten dan diare
berlanjut pada anak balita yang berobat ke beberapa rumah sakit di
Jakarta,
dinyatakan
dalam
%
Diare berlanjut
Diare kronik
Pria Wanita
Pria Wanita
Um
(tah
ur
un)
N
n % n %
N
n % n %
0 -
> 1-
> 2 -
1
2
5
30
16
7
20
11
5
66,6
68,7
71,4
10
5
2
33,4
31,3
28,6
59
11
13
35
6
10
59,3
54,5
76,9
24
5
3
40,7
45,5
23,1
Jumlah 53 36 67,9 17 32,1 83 51 61,4 '32 38,6
ngan : N = Jumlah penderita
Distribusi mikrobiologi disajikan dalam tabel 2. Di si
Ketera
ni
tam
feksi
leh Rotavirus yakni sebesar 18,2%, kemudian menyusul
histolytica 2,4%, Salmonella 1,2%,
Shig
sebesar 4,8% pada
C.
i ber-
langsung selama 14 hari/lebih menunjukkan bahwa sebesar
enyebab diare persisten pada anak balita yang
36)
pak bahwa infeksi mikroba pada penderita diare persisten
dalam penelitian ini adalah sebesar 34,9% yang terdiri dari
infeksi virus, bakteri dan protozoa. Paling tinggi adalah in
o
ETEC 6,1%, Entamuba
ella 2,4% dan Campylobacter 1,2%. Tidak ditemukan
adanya infeksi oleh Giardia lamblia ataupun Cryptosporidium.
Di samping infeksi tunggal (single infection), didapatkan pula
nfection)
adanya infeksi ganda (double i
kasus-kasus diare persisten dan 5,6% pada kasus-kasus diare
berlanjut. Adapun infeksi ganda yang dimaksud adalah infeksi
Rotavirus + Salmonella, Rotavirus + ETEC, Rotavirus +
Trichuris trichiura dan Salmonella + ETE
Hasil pemeriksaan fisik klinik tertera dalam Gambar 1;
tampak bahwa sebagian besar penderita tampak sakit ringan
(79,4%) dan hanya 11,8% yang termasuk dalam kategori sakit
berat, sedangkan sisanya (8,8%) dalam kondisi normal.
Perkembangan penyakit setelah diare yang terjad
Tabel 2. Distribusi mikrobiologi p
berobat ke beberapa rumah sakit di Jakarta, tahun 1991-1992 (n = 1
Diare berlanjut
(n = 53)
Diare persisten
(n = 83)
Total
Mikro organisme
Jml % Jml % n %
I. Infeksi tunggal :
1. Rotavirus
9
16,9
15
18,1
24
17,6
2. Salmonella sp
2 3,8 1 1,2 3 2,2
3.
ETEC
2 3,8 5 6,1 7 5,1
4. Campylobacter
1 1,9 0 0,0 1 0,7
5. Shigella
0 0,0 2 2,4 2 1,4
6. Entamuba histolytica
1 1,9 2 2,4 3 2,2
7.
Vibrio
cholera
0 0,0 0 0,0 0 0,0
8. Giardia lamblia
0 0,0 0 0,0 0 0,0
9. Cryptosporidium
0 0,0 0 0,0 0 0,0
Jumlah
15 28,3 25 30,1 40 29,4
IL Infeksi ganda :
1. Rotavinrs + Salmonella
2
3,8
1
1,2
3
2,2
2. Rotavirus
+
ETEC
0 0,0 1 1
,2 1 0,7
3. Rotavirus+Trichuris
1 1,9 1 1,2 2 1,4
trichiura
4. Salmonella + ETEC
0
0,0
1
1,2
1
0,
7
Jumlah
3 5,6 4 4,8 7 5,1
Jumlah
semua
18 33,9 29 34,9 47 34,5
Gambar 1. Perkembangan penyakit diare pada anak balita yang berobat
ke beberapa rumah sakit di Jakarta setelah kejadian diare
berlangsung
14
hari
atau
lebih
Keterangan :
A = Membaik; B = Memburuk; C = Stabil
22,2% diare yang terjadi berangsur membaik, 25,9% memburuk
dan 51,9% dalam keadaan stabil (gambar 2).
Penampakan feses penderita diare persisten
berv
anak balita
dan 7 adalah hasil uji terhadap kuman E. coli. Tidak dilakukan
ariasi, yakni dari yang bersifat cair, lembek, berlendir ber-
busa atau berdarah (tabel 3).
Uji resistensi bakteri penyebab diare persisten pada anak
balita yang berhasil dideteksi terhadap beberapa jenis antibiotik
pilihan disajikan dalam tabel 4 s/d 7. Tabel 4 dan 5 memberikan
informasi tentang hasil uji kuman Salmonella, sedangkan tabel
6
Cermin Dunia Kedokteran No. 85, 1993
54
background image
Tabel 3. Karakteristik feses penderita diare persisten pada anak balita
yang
berobat
ke
beberapa
rumah
sakit
di
Jakarta
Karakteristik feses
Jumlah spesimen
(%)
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
Cair
Cair + berbusa
Cair + berlendir
Cair + berlendir + berbusa
Cair + berlendir + berdarah
Lembek + berlendir
Lembek + berlendir + berbusa
Lembek + berlendir + berdarah
25,9
7,4
11,1
18,5
11,1
14,8
3,7
3,7
Gambar 2. Keadaan umum anak balita penderita diare persisten yang
berobat
ke
beberapa
rumah
sakit
di
Jakarta,
tahun
1991-1992.
Keterangan:
A = Normal; B = Tampak sakit berat; C = Tampak sakit ringan
Tabel 4. Bola resistensi Salmonella penyebab diare khronik pada anak
balita terhadap beberapa jenis antibiotik pilihan dengan
metode Disk Diffusion (n = 7)
Resisten (R)
Antiblotik
Jml %
1. Ampisilin
2. Streptomisin
3. Kanamisin
4. Sulfametoxazol-Trimetoprim
5. Khloramphenikol
6. T
4
5
2
2
3
57,2
71,4
28,5
28,5
42,8
etrasiklin
5
71,4
Keterangan : n = Jumlah isolat Salmonella yang diuji
uji resistensi terhadap Campylobacter, Rotavirus dan Protozoa.
Ena
Dalam tabel 4 tam
isin dan
Sulf
etoprim
onella
enunju
tingkat resistensi yang re
a
b
28
. Te
p
a
ain ting
siny
u
ingg yaitu
4
loramp niko
,4% terha
et
klin
d
, 57,1% terhad
p
in. Tingkat multi-
re
ng terjadi pada k
an
ne
terhadap berbagai
je
rlukis dalam tabel 5; ter pat 1
ain Salmo-
n
6 a bio
T
multi resisten isolat
onell
enyeb
iare
k
balita te
dap
nis antiblot
ng
jikan
tro dengan metod
k Diff ion (n
Antibiotik
Ju
sola
resisten
m jenis antibiotik penguji adalah Ampisilin, Streptomisin,
Kanamisin, Sulfametoxazol-Trimetoprim,Khloramphenikoldan
lin.
Tetrasik
pak bahwa terhadap Kanam
ametoxazol-Trim
, Salm
masih m
kkan
ndah y
k resisten
itu se esar
a cuk
,5%
p t
rhada
i
ntibiotik yang l
ap Kh
at
2,8% terhad
he
l, 71
dap T rasi
art Streptomisin
ap Am isil
sisten ya
um
Salmo lla
nis antibiotik te
da
str
ella yang multiresisten
nti
tik.
abel 5. Tingkat
Salm
a p
ab d
khroni
pada anak
rha
6 je
ik ya
diu
secara in-vi
e Dis
us
= 7)
mlah i
t
1. Am, S, Te ,
2. Am, S, SxT
3. Am, S, C, Te
C, Te
4. S, K,
5. Am, S, K, SxT, C, Te
1
1
1
1
1
e1 6 memberi petunjuk ba
pad
eng
n ku
E.
c
jenis antibio
ern
han
erh
isin
aja kuman E. coli masih menunjukkan tingkat resistensi yang
Tabel 6. Bola resistensi E. coli yang berasal dari penderita diare khronik
pada anak balita terhadap beberapa jenis antibiotik dengan
metode Disk Diffusion (n = 41)
Resisten (R)
Tab
hwa
a p
ujia
man
oli terhadap 6
tik,t
yata
ya t
adap Kanam
s
rendah, sedangkan terhadap 5 jenis antibiotik lain yang
diujikan sudah menunjukkan tingkat resistensi yang tinggi.
Antibiotik
Jml %
1. Ampisilin
2. Streptomisin
3. Kanamisin
4. Sulfametaxazol-Trimetoprim
5. Khloramphenikol
6. Tetrasiklin
29
25
8
18
19
28
70,7
60,9
19,5
43,9
46,3
68,2
Tabel 7. Tingkat multi resisten isolat E. coli yang berasal dart penderita
diare
khronik
anak
balita
terhadap 6 jenis antibiotik secara in-
vitro dengan metoda Disk Diffusion (n = 41)
Antibiotik
Jumlah isolat
resisten
1.
2.
Am,C,Te
Am, S, Te
3. Am, S, SxT
1
2
1
1
7
4.
5.
6.
Am, Te, SxT
S, Te, SxT
1
7.
8.
9.
Am, S, Te, C
Am, S, Te, SxT
Am, S, C, Te, SxT
Am, S, Te, C, K, SxT
5
3
6
Keterangan
:
K
=
Kanamisin
Am =
Ampisilin Te =
Telrasiklin
C
=
Khloramphenikol
SxT
=
Sulfametoxazol-TrimetopriN
S =
Streptomisin
n =
JUnlah
isolat
yang
diuji
Cermin Dunia Kedokteran No. 85, 1993 55
background image
Cermin Dunia Kedokteran No. 85, 1993
56
persisten
paling banyak
umur 1 tahun
a
dilihat dari f
ternyata Rotavirus
akan
pat e
g paling banyak ditemukan (21,6%). Pa
rbagai
pe
i
h dilakukan terhadap penderita
e akut,
rot
r
an infektor utama ter
a pada
pe
r 5­12 bulan
o
). Deng
mikian
da
l
bahwa Rotavirus merupak
atogen
pe
e akut maupun dia
ersisten
eri m
r di bawah 1 tahun
a).
i
sakit lebih banyak bersifat rawat jalan. Kemudian bila dilihat
dari perkembangan penyakitnya, diare yang dialami oleh
sebagian besar penderita akibat infeksi Rotavirus berada dalam
keadaan stabil dalam anti tidak membaik ataupun memburuk.
Karakteristik feses tampak bersifat cair, berlendir dan berbusa.
Pada diare persisten akibat infeksi Rotavirus yang tampak sakit
berat tercatat adanya komplikasi dengan malabsorpsi lemak,
dengan status gizi penderita termasuk dalam kategori buruk.
Diane persisten yang disebabkan oleh infeksi Salmonella
dalam penelitian ini tercatat sebesar 3 responden (3,6%) terma-
suk infeksi tunggal dan infeksi ganda. Infeksi ganda yang di-
maksud adalah infeksi Salmonella + Rotavirus dan Salmonella
+ ETEC. Pada beberapa pasien diare persisten yang terinfeksi
ganda tersebut keadaan umum fisik penderita tampak sakit
berat, karakteristik feses bersifat cair + berlendir. Secara
mikrokopis ditemukan leukosit dan lemak yang melimpah,
terutama pada infeksi ganda Rotavirus + Salmonella.
Jenis Salmonella yang terdeteksi adalah Salmonella Group
B dan Salmonella Group C. Hasil uji resistensi terhadap
beberapa jenis antibiotik menunjulflcan terdapat beberapa
isolat Salmonella yang bersifat multi resisten terhadap berbagai
jenis antibiotik, bahkan terdapat 1 isolat Salmonella yang
terhadap semua jenis antibiotik yang diujikan
oleh
yan
yang
at dari infeksi kuma
resisten terhadap berbagai jenis antibi
Infeksi
asuk single infection
infection
tercatat sebesar 9 (8,6%). Penelitian di
negeri (Ind
1986)
m
ahwa infeksi ETEC pada d e persisten
apai
9,
2,3%, EIEC = 0,0%, EHEC = 0,0%
alam
su
ap EPEC, EC dan EHEC tidak
di
pada pend ta diare per
n ka-
rena infeksi ET
ifat cair dan berlendir se
cara
ikroskopis banyak ditemukan lemak. Dari 41 isolat E. coli yang
terhadap berbagai
nis antibiotik mengingatkemungkinan banyak terdapat EPEC,
rsifat multiresisten terhadap semua antibiotik yang
diuj
n kerusakan sehingga
Infeksi Shigella hanya sebesar 2,4%. Ke
pen-
derita akibat in
ella setelah diare berl
14 hari
ta
a
gan, tetapi diare yang terjadi da
keadaan
m
b
an status gizi kurang. Seperti ha
a pada E.
hi
teristik feses pada penderita di
persisten
ka
ersifat cair, berlendir dan berdarah. Hal
i sebabkan karena
gella bersifat invasif, yakni menyerang
el-s
dah
persisten dalam penelitian
i tidak ditemukan; hal ini bukan berart
a infeksi
Campyloba
kasus diare pers
ylo-
bact
anaerob dan di luar
h hospes
usia)
lebi
dalam waktu sekitar
m, sehing
teksi
kum
Hasil penelitian di luar negeri menca
feksi
Ca
sten ad
4,7%
0
).
Cryptosporidium
an Giardi
ia
da
n dalam penelitian ini b
pada diare
anjut
ck. (1979) menyebutkan bahwa klasifikasi
k ber-
da
an karakter
adalah meliputi:
stools
(= fese
, 2). Fatty stools (= feses berlem
. Bloody
st
s
berdarah). Feses bersifat cair antara lain dapat
di
malnutrisi, alergi protein susu sa
ergi pro-
te
isiensi disakaridase, CSBS (C taminated
Sm l
drome), infeksi mikroorganisme dan lain-lain.
Fe
pat disebabkan oleh hipopl
pankreas,
lim
lestasis/hepatitis neo
al. Feses
be
ebabkan oleh infeksi mik
a, radang.
bkan oleh infeksi
, terkesan adanya
PEMBAHASAN
Ditinjau dari faktor umur, jumlah penderita diare
dari kelompok
aktor etiologinya
ke bawah. Bil
merup
og n yan
da be
nel tian yang tela
diar
avi us memang merupak
utam
nderita diare akut dari umu
an de
pat ah dikemukakan
an p
nyebab utama baik pada diar
re p
t sti ewa pada kelompok umu
(batut
Kond si umum penderita diare persisten yang disebabkan
oleh infeksi Rotavirus, sebagian besar (83%) tampak sakit ri-
ngan; oleh karena itu pengobatan yang dilakukan di rumah
multiresisten
(tabel 5). Penderita diare persisten yang terinfeksi
almonella
g telah resisten terhadap semua antibiotik
S
diujikan tersebut telah berobat ke rumah sakit lebih dari 3 kali
namun belum menunjukkan tanda-tanda sembuh; jadi
menetapnya diare ini diduga akib
n yang
telah
otik.
dan double
ETEC term
luar
ia,
elaporkan b
iar
menc
3%, EPEC =
(3)
. D
rvai ini identifikasi terhad
ensi feses
EI
lakukan. Konsist
EC adalah bers
eri
siste
rta se
m
terdeteksi, semua isolat diuji resistensinya
je
EIEC' maupun EHEC karena dalam pemeriksaan ini memang
tidak dilakukan. Di sini terlihat bahwa 7 isolat (17,1%) di
antaranya be
ikan.
Infeksi Entamuba histolytica pada diare persisten adalah
sebesar 2,4%. Hasil pemeriksaan fisik menunjukkan bahwa
penderita infcksi Entamuba histolytica tampak sakit ringan dan
penyakit yang dialami dalam keadaan stabil. Karakteristik feses
terlihat bersifat cair, berlendir dan berdarah. Timbulnya diare
yang ditandai oleh feses bersifat cair dan berdarah ini adalah
akibat patogenitas E. histolytica yang menyerang bagian
mukosa usus besar yang menyebabka
menimbulkan rangsangan neurohumoral yang mengakibatkan
intestin mengeluarkan sekretnya dan timbul diare dengan
spesifikasi feses seperti tersebut di atas.
adaan umum
feksi Shig
angsung
mp k sakit rin
lam
em uruk, deng
lny
stolytica, karak
are
ren
di
a infeksi Shigella b
Shi
in
s
el epitel usus besar sehingga menyebabkan kerusakan sel
usus dan terjadi perdarahan. Uji resistensi terhadap beberapa
jenis antibiotik menunjukkan adanya tingkat resistensi yang
tinggi pada antibiotik ampisilin, khloramphenikol, streptomisin,
tetrasiklin dan kanamisin. Hanya terhadap sulfametoxazol-tri-
etoprim masih menunjukkan tingkat resistensi yang ren
m
(data tidak ditampilkan).
Campylobacter ditemukan pada 1,9% kasus diare berlanjut
(7 hari), sedangkan pada kasus diare
in
i tidak ad
. Kuman
cter pada
i~ten
tubu
Camp
(ma
er bersifat
n
h cepat mati
.
2 ja
ga de
an ini sulit
tat in
mpylobacter pada diare persi
alah
Vibrio cholera,
d
a lambl
ti
(p
k ditemuka
aik
berl
rolonged) maupun pada diare persisten.
Karakteristik feses merupakan unsur penunjang yang
sangat penting untuk membantu menegakkan diagnosis. Arasu
di
diare kroni
1)
ry
sark
istik feses
. Wate
ak), 3)
s cair)
ool (= feses
sebabkan oleh
pi, al
in kedele, def
on
al Bowel Syn
ses berlemak da
asi
fangiektasi usus, ko
nat
rdarah antara lain dis
rob
Dalam hal karakteristik feses yang diseba
t
mikroba termasuk virus, bakteri dan parasi
kombinasi ketiga sifat feses tersebut di atas.
background image
Cermin Dunia Kedokteran No. 85, 1993 57
AN SARAN
1)
is,
hipe
8.
W
KESIMPULAN D
Sebagian terbesar penderita diare persisten pada anak
balita adalah dari kelompok umur 1 tahun ke bawah (71,2%).
2)
Etiologi diare persisten pada anak balita meliputi Rotavirus
= 18,2%, kemudian menyusul berturut-turut ETEC = 6,1%,
Salmonella = 1,2%, Shigella = 2,4%, Entamuba histolytica =
2,4% dan infeksi ganda antara Rotavirus + Salmonella, Rota-
virus + ETEC, Rotavirus + Trichuris trichiura serta Salmonella
+ ETEC semuanya sebesar 5,8%.
3)
Beberapa jenis penyakit penyerta yang diketahui antara
lain adalah malnutrisi, malabsorpsi lemak, asidos
rbilirubin, ISPA, faringitis.
4)
Kuman-kuman penyebab diare persisten secara in-vitro
menunjukkan tingkat resistensi yang cukup tinggi dan beberapa
isolat Salmonella E. coli bersifat multiresisten terhadap anti-
biotik ampisilin, kanamisin, khloramphenikol, streptomisin,
tetrasiklin dan sulfametoxazol-trimetoprim.
5)
Masih diperlukan penelitian epidemiologi diare persisten di
masyarakat untuk dapat memberikan informasi hubungan diare
persisten dengan antibiotik atau obat-obatan, infeksi dan imuni-
tas, faktor-faktor risiko terjadinya diare persisten.
KEPUSTAKAAN
1.
Candy D. Diare persisten. Warta Diare 1990; IV(1): 1-3.
2.
Budiarso A. Pendekatan diagnostik-etiologik diare kronik. Warta Diare
Oktober) 1988; II(5): 1­3.
3.
Levine MM et al. Descriptive epidemiology of persistent diarrhoea among
young children in rural Northern India. Bull WHO 1989; 67(3): 281­8.
4.
WHO. Persistent Diarrhoea in Children in Developing Countries:
Memorandum from a WHO meeting. Bull WHO 1988; 66(6): 709-17.
5.
Oka Lely AA, Sunoto. Diare Persisten. Warta Diare 1990; IV(6): 4-7.
6.
Sunoto. Penggunaan glukosa polimer, MGT dan protein hidrolisat pada
diare kronik. Maj Kes Mas Indon (Januari) 1988; XVII(4): 219-27.
7.
Firmansyah A. Beberapa aspek penting pemberantasan diare di
Puskesmas. Maj Kes Mas Indon (Juli) 1990; XIX(4): 236-40.
HO/CDD/83.3, REV. 1 (1987). Manual for Laboratory Investigation of
Acute Enteric Infection.
9.
Suharyono, Iskak Koiman. Penelitian penyebab mikrobiologi (Rotavirus +
Enterobakteri) penyakit diare akut di klinik (1974­1982). Proc Pertemuan
Ilmiah Penelitian Penyakit Diare di Indonesia, Jakarta, 21­23 Oktober
1982. Hal. 199-211.