background image
HASIL PENELITIAN
Disolusi dan Penetapan Kadar
Alopurinol Sediaan Generik
dan Sediaan dengan Nama Dagang
Sukmayati Alegantina, Ani Isnawati, Kelik M Arifin
Pusat Penelitian dan Pengembangan Farmasi, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Departemen Kesehatan RI, Jakarta
ABSTRAK
Sediaan alopurinol dalam bentuk tablet selain generik berlogo juga tersedia dengan
nama dagang. Untuk memasyarakatkan obat generik berlogo diperlukan informasi
tentang mutu obat yang bersangkutan. Mutu obat generik berlogo yang sering
dipertanyakan. Untuk itu dilakukan penelitian disolusi dan penetapan kadar alopurinol
dalam 1 sediaan generik dan 3 sediaan dengan nama dagang (A, B dan C). Metode
disolusi dan penetapan kadar alopurinol berdasarkan pada Farmakope Indonesia IV,
1995, disolusi menggunakan spektrofotometer UV dan penetapan kadar menggunakan
kromatografi cair kinerja tinggi (KCKT).
Disolusi tablet alopurinol generik berlogo dan sediaan dengan nama dagang A, B
dan C dalam waktu 15 menit memberikan hasil masing-masing 101,47%; 95,13%;
102,55% dan 97,635. Menurut persyaratan Farmakope Indonesia edisi IV, 1995 dalam
waktu 60 menit kadar alopurinol (C
5
H
4
N
4
O) harus larut tidak kurang dari 75%.
Penetapan kadar tablet alopurinol dalam tablet generik dan 3 tablet dengan nama
dagang (A, B dan C) masing-masing 96,98%; 95,21%; 106,76% dan 99,87%.
Farmakope Indonesia IV mensyaratkan kadar alopurinol tidak kurang dari 93,0% dan
tidak lebih dari 107,0%.
Semua sediaan alopurinol generik berlogo dan 3 sediaan dengan nama dagang (A, B
dan C) memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh Farmakope Indonesia Edisi IV,
1995 baik dalam disolusi dan kadar zat berkhasiat.
PENDAHULUAN
Alopurinol adalah obat pirai dengan cara kerja menurun-
kan kadar asam urat dengan cara menghambat xantin oksidase,
enzim xantin oksidase ini bekerja menghambat hipoxantin
menjadi xantin dan selanjutnya menjadi asam urat. Oksipurinol
merupakan metabolisme dari alopurinol yang juga menginhibisi
xantin oksidase. Obat ini terutama mengobati penyakit pirai
kronik dengan insufisiensi ginjal dan batu urat dalam ginjal,
tetapi dosis awal harus dikurangi. Alopurinol tidak bersifat
sitotoksik dan tidak mempunyai efek transplantable tumor,
obat ini tidak bersifat analgesik, anti inflamasi atau uricosuric
activity. Pengobatan jangka panjang mengurangi frekuensi
serangan, menghambat pembentukan tofi, memobilisasi asam
urat dan mengurangi besarnya tofi mobilisasi asam urat ini,
tidak ditingkatkan dengan memberikan urikosurik
(1,2)
.
Dosis untuk penyakit pirai ringan 200 - 400 mg sehari,
untuk penyakit lebih berat 400 - 600 mg sehari. Untuk
penderita gangguan fungsi ginjal dosis cukup 100 - 200 mg
sehari, untuk hiperuresimia sekunder 100 - 200 mg sehari,
untuk anak 6 - 10 tahun 300 mg sehari dan anak di bawah 6
Cermin Dunia Kedokteran No. 127, 2000 45
background image
tahun 150 mg sehari. Alopurinol menghambat oksidasi merkap-
topurin bila diberikan bersamaan dosis merkaptopurin harus
dikurangi 25 - 30%
(3)
.
Berdasarkan hasil penelitian tahun 1991 ternyata dari 6
jenis obat yang diteliti terlihat perbandingan Harga Jual Apotik
(HJA) obat generik dengan obat paten yang sejenis sangat
bervariasi berkisar 6,03 -17,94 x HJA obat generik
(2)
. Harga
Netto Apotik (HNA) tahun 1998 untuk alopurinol nama dagang
pabrik PMA 12 x harga generik dan HNA pabrik PMDN 6 x
harga generik. Mutu obat generik dengan harga yang sangat
murah sering dipertanyakan; untuk itu perlu dimantapkan
dengan data laboratorium agar dapat diinformasikan kepada
masyarakat luas.
Penelitian ini bertujuan membandingkan mutu obat generik
berlogo sediaan alopurinol dengan sediaan nama dagang A, B
dan C. Pada penelitian ini dilakukan disolusi dan penetapan
kadar sediaan alopurinol generik berlogo dan sediaan dengan
nama dagang A, B dan C.
METODOLOGI
(4)
Sampel terdiri dari 1 sediaan alopurinol berlogo dan 3
sediaan dengan nama dagang A, B dan C. Tiap sediaan terdiri
dari 10 tablet, jadi jumlah keseluruhan sampel yang diteliti
sebanyak 40 tablet.
Disolusi dan penetapan kadar alopurinol (C
5
H
4
N
4
O) di-
lakukan menurut Farmakope Indonesia IV, 1995.
a) Disolusi
Digunakan alat disolusi tipe 2 (metode pedal) dengan
kecepatan 75 rpm dan media disolusi asal klorida 0,1 N
sebanyak 900 ml. Dilakukan penetapan jumlah alopurinol
(C
5
H
4
N
4
O) yang terlarut dengan menggunakan serapan filtrat
larutan uji, diencerkan dengan asam klorida 0,1 N dan serapan
larutan baku alopurinol BPFI dalam media yang sama pada
panjang gelombang serapan maksimum
± 250 nm. Dalam
waktu 45 menit harus larut tidak kurang dari 75% C
5
H
4
N
4
O
dari jumlah yang tertera dalam etiket.
b) Penetapan kadar
Penetapan kadar dilakukan dengan menggunakan kromato-
grafi cair kinerja tinggi dilengkapi detektor UV 254 nm dengan
menggunakan kolom 4 mm x 30 cm dan bahan pengisi L1
(Oktadesil silana terikat secara kimiawi pada partikel mikro-
silika berpori atau artikel mikrokeramik dengan diameter 5
µM
- 10
µm), laju aliran kurang 1,5 ml/menit dengan fase gerak
larutan ammonium monobasa 0,05 M.
Larutan baku internal
Dilarutkan
± 50 mg hipoksantin P dalam 10 ml natrium
hidroksida 0,1 N, dikocok selama 10 menit hingga larut,
diencerkan dengan air hingga 50 ml. Larutan ini dibuat pada
saat akan digunakan.
Larutan baku
Ditimbang dengan seksama
± 50 mg alopurinol BPFI,
dimasukkan ke dalam labu 50 ml ditambahkan 10 ml natrium
hidroksida 0,1 N dikocok selama 10 menit, diencerkan dengan
air. Dimasukkan 4,0 ml larutan ini dan ditambah 2,0 ml larutan
baku internal ke dalam labu tentukur 200 ml, diencerkan
dengan fase gerak sampai tanda. Larutan ini dibuat pada saat
akan digunakan.
Larutan uji
Sebanyak 20 tablet ditimbang dan kemudian diserbukkan.
Ditimbang sejumlah serbuk setara dengan 50 mg alopurinol,
dimasukkan ke dalam labu tentukur 50 ml, ditambah 10 ml
larutan natrium hidroxsida 0,1 N dikocok selama 10 menit,
ditambah air sampai tanda. Disaring, di buang 10 ml filtrat
pertama kemudian dimasukkan 4,0 ml filtrat dan 2,0 ml larutan
baku internal ke dalam labu tentukur 200 ml, diencerkan
dengan fase gerak sampai tanda. Disuntikkan secara terpisah
sejumlah volume sama (lebih kurang 15
µl) larutan baku dan
larutan uji ke dalam kromatograf, di ukur tinggi puncak utama.
Waktu retensi relatif dari hipoksantin 0,6 dan alopurinol 1,0.
Untuk menghitung jumlah C
5
H
4
N
4
O dalam serbuk tablet yang
digunakan, dipakai rumus :
2,5
C
(RU)
(RS)
C adalah kadar alopurinol BPFI dalam
µg per ml. Larutan baku
Ru dan Rs berturut-turut adalah perbandingan respon puncak
antara alopurinol dan baku internal dari larutan uji dan larutan
baku.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Alopurinol
Gambar 1. Kurva profil disolusi sediaan alopurinol generik dan 3 sediaan
alopurinol dengan nama dagang.
Tabel 1. Disolusi sediaan alopurinol
konsentrasi (%)
No
Tablet
15 menit
30 menit
45 menit
1. Generik
101,470
102,130
104,930
2. A
95,130
99,210
100,170
3. B
102,550
103,440
103,305
4. C
97,630
99,810
104,470
Menurut Farmakope Indonesia IV, 1995 dalam waktu 45
ment tidak kurang dari 75% kadar alopurinol (C
5
H
4
N
4
O) harus
Cermin Dunia Kedokteran No. 127, 2000
46
background image
larut. Dari profil disolusi menunjukkan bahwa dalam waktu 15
menit sediaan generik dan 3 macam sediaan dengan nama
dagang telah larut > 75% seperti terlihat pada Tabel 1. Dengan
demikian keempat sediaan tersebut telah memenuhi persyaratan
Farmakope Indonesia Edisi IV, 1995.
Gambar 2. Kromatogram kadar baku alopurinol
Gambar 3. Kromatogram kadar alopurinol generik.
Kadar zat berkhasiat sediaan alopurinol generik dan 3
sediaan dengan nama dagang memenuhi persyaratan
Farmakope Indonesia IV, 1995, yaitu kadar alopurinol tidak
kurang dari 93,00% dan tidak lebih dari 107,00%.
Gambar 4. Kromatogram kadar alopurinol dengan nama dagang A.
Gambar 5. Kromatogram kadar alopurinol dengan nama dagang B.
Tabel 2. Perhitungan kadar alopurinol
No. Tablet
Kadar
(%)
1. Generik
96,98
2. A
95,21
3. B
106,76
4. C
99,87
Cermin Dunia Kedokteran No. 127, 2000 47
background image
Dari hasil disolusi dari kadar zat berkhasiat yang didapat,
obat alopurinol generik tidak kalah mutunya dibandingkan
dengan nama dagang walaupun harga obat generik lebih murah
dari harga obat dengan nama dagang.
SARAN
Dalam rangka peningkatan pemasyarakatan obat generik
berlogo, seyogyanya hasil-hasil penelitian di laboratorium
hendaknya disebarluaskan melalui brosur-brosur oleh produ-
sen obat generik berlogo (OGB) atau buku panduan yang
diterbitkan oleh DepKes RI agar penggunaannya terjangkau
oleh semua lapisan masyarakat.
KEPUSTAKAAN
1.
Mc Euoy K. Drug Information. Am Soc of Health System Pharmacists
Inc. 1996.
2.
Sasanti Handayani dkk. Perbandingan Harga Jua1 Apotik Beberapa Obat
dengan Obat Paten yang Sejenis di Jakarta. Cermin Dunia Farmasi 1992;
12.
3.
Sulistia G. dkk. Farmakologi dari Terapi Edisi IV Farmakologi FK UI.
Jakarta, 1995.
4.
Farmakope Indonesia. Edisi IV. Jakarta. Direktorat Jenderal Pengawasan
Obat dan Makanan Departemen Kesehatan RI, 1995.
5.
IIMS MIM/S Indonesia. 1996; 25 (2).
6.
ISO Indonesia Edisi Farmakoterapi. Jakarta ISFI 1997.
7.
Kadarwati, U. Penelitian Studi Penyebarluasan dan Pemasyarakatan Obat
Generik Berlogo Sektor Swasta. Jakarta. Puslitbang Farmasi BPPK
DepKes RI, 1993.
Gambar 6. Kromatogram kadar alopurinol dengan nama dagang C.
8. Lastari P, Mutiatikum D, Raaini M. Penelitian Pemantapan Metoda
Penetapan Kadar Propanolol Beberapa Sediaan Generik dan Sediaan
dengan nama dagang, Jakarta. Puslitbang Farmasi BPPK Depkes RI,
1991.
KESIMPULAN
Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa disolusi dari
kadar zat berkhasiat sediaan alopurinol generik dart 3 sediaan
nama dagang (A, B dart C) semuanya memenuhi syarat Farma-
kope Indonesia IV, 1995.
9.
Lastari P, Mutiatikum D, Isnawati A. Penetapan Kadar tetrasiklin dalam
Sediaan Generik dan Dalam 16 Sediaan dengan Nama Dagang
Menggunakan Kromatografi Cair Kinerja Tinggi, Jakarta. Puslitbang
Farmasi BPPK DepKes RI, 1993.
Do not tell a friend anything that you would conceal from an enemy
Cermin Dunia Kedokteran No. 127, 2000
48