background image
Dampak Proses Chlorinasi Air
pada Kesehatan
Inswlasri , Agustina Lubis
Pusat Penelitian Ekologi Kesehatan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Departemen Kesehatan RI, Jakarta
ABSTRAK
Senyawa-senyawa trihalomethane (THM) tclah ditemukan dalam air bersih untuk
rumah tangga, air tanah, air permukaan dan dalam air kolam renang atau pemandian.
Kadar paling tinggi terdapat dalam kolam renang.
Untuk menghindari atau mereduksi terbentuknya THM, harus dihilangkan zat-zat
organik terlebih dahulu sebelum proses' chlorinasi atau mengganti jenis disinfektan
dengan jenis lain yang tidak menyebabkan terbentuknya THM. Tetapi dalam keadaan
darurat THM dapat dihilangkan dengan merebus air selama 3ญ5 menit. Untuk kolam
renang dengan sistem tertutup, sirkulasi udara harus dibuat sebaik mungkin, sehingga
THM yang terdapat dalam udara di was permukaan air kolam tidak akan mengambang di
tempat tetapi dapat pindah/mengalir mengikuti sirkulasi udara.
PENDAHULUAN
Air selalu berada dalam sildus hidrologik sehingga relatif
jumlahnya tetap. Air hujan turun ke bumi, sebagian meresap ke
tanah menjadi air tanah dan sebagian lagi tinggal/mengalir di
pennukaan tanah seperti danau dan sungai yang disebut dengan
air permukaan. Air permukaan ini divapkan oleh panas matahari
naik ke atas menjadi awan yang akhirnya terkondensasi menjadi
embun atau hujan.
Air yang sehat bagi kehidupan manusia adalah air yang tidak
terkontaminasi dan tidak dapat menimbulkan penyakit yang
disebarkan melalui air, bebas dari unsur-unsur yang beracun, dan
bebas dari sejumlah mineral dan zat organik yang berlebihan
(1)
.
Pencemaran di kota-kota besar yang berasal dari limbah rumah
tangga dan industri dapat menurunkan kualitas air.
Air merupakan kebutuhan pokok dalam kehidupan. Kualitas
dan kuantitas air sangat bervariasi tergantung dari peruntukan-
nya. Standar kualitas air untuk kebutuhan hidup manusia (disebut
air bersih) lebih tinggi apabila dibandingkan dengan kualitas air
untuk keperluan yang lain.
Pertumbuhan penduduk yang pesat, urbanisasi dan indus-
trialisasi menyebabkan masalah lingkungan makin besar dan
membahayakan kesehatan manusia. Untuk memenuhi kebutuh-
an air sehari-hari sangat sulit ditemukan air dengan kualitas yang
memenuhi syarat. Oleh karena itu diperlukan pengolahan air
yang ada agar sesuai dengan kualitas yang diinginkan seperti
untuk air minum, air kolam renang dan sebagainya.
PENGOLAHAN AIR
Proses pengolahan air ini sangat tergantung dari karakteris-
tik aii baku dan kualitas air yang diinginkan. Proses pengolahan
air scara garis besar terdiri dari proses biologik, mekanik dan
kimiawi. Dalam suatu unit pengolahan air biasanya digunakan
kombinasi antara proses-proses tersebut. Khusus untuk proses
kimiawi di antaranya adalah proses netralisasi dengan asam atau
basa, chlorinasi/ozonisasi, pertukaran ion dan sebagainya.
Proses chlorinasi adalah pembubuhan chlor atau senyawa
chlor ke dalam air dengan tujuan untuk membunuh kuman atau
menghilangkan bau (untuk industri). Senyawa-senyawa chlor
Cermin Dunia Kedokteran No. 82, 1993 39
background image
yang banyak digunakan dalam proses chlorinasi pada umum-
nya adalah gas chlorin, senyawa hipochlorit, chlorine dioksida,
bromine chlorida, dihydroisocyanurate dan chloramine. Proses
chlorinasi ini banyak digunakan dalam mengolah limbah in-
dustri, air kolam. renang, air minum di negara-negara yang
sedang berkembang karena biayanya relatif murah, mudah dan
efektif sebagai disinfektan. Reaksi kimia yang terjadi pada saat
chlorinasi dengan gas chlor atau dengan kaporit adalah sebagai
berikut :
C1
2
+ 2H
2
O ญญญญญญญญญ> HOCl +
H
+
+ Cl
Ca (OC1)
2
+ 2 H
2
O ญญญญญญญญญ> 2 HOCI + Ca
++
+ (OH)
HOCI inilah yang membunuh kuman (sebagai disinfektan)
(2)
.
TERBENTUKNYA SENYAWA TRIHALOMETHANE
Senyawa halogen organik yang mudah menguap (volatile
halogenated organics) yang biasa disingkat dengan VHO terjadi
pada proses chlorinasi dalam air yang mengandung bahan-bahan
organik dengan konsentrasi tinggi. Senyawa-senyawa VHO ter-
sebut sebagian besar ditemukan dalam bentuk trihalomethane
(THM).Senyawa THM ini antara lain adalah Chloroform (CHC1
3
),
Bromodichloromethane (CHC1
2
Br), Dibromochloromethane
(CHClBr
2
), dan Bromoform (CHBr
3
)
(3)
.
Jika dalam proses chlorinasi di dalam air mengandung Br
maka terjadilah reaksi sebagai berikut :
Br
+ HOC1 ญญญญญญญญญญ> HOBr + Cl
Dengan demildan di dalam air tersebut terdapat senyawa HOBr
dan HOCI yang akan bereaksi dengan zat-zat organik memben-
tuk THM
(2)
.
Terbentuknya THM dalam air minum
Suatu penelitian yang dilakukan oleh Aggazzotti G. me-
nemukan adanya senyawa THM dalam air minum setelah proses
chlorinasi baik dengan gas Chlorine, sodium hypochlorite
(NaC1O) maupun dengan chlorine dioksida (C1O). Air yang
sama tidak mengandung THM ketika dianalisa sebelum proses
chlorinasi dan bahan organiknya telah dihilangkan. Kadar THM
maksimum yang terdeteksi adalah 41,8 ug/1
(4)
.
THM dalam kolam renang dan pemandian air panas
Penelitian yang sama jugamenunjukkanbahwadalam kolam
renang yang telah didesinfeksi dengan NaC1O atau dengan
dichloroisocyanurate juga terbentuk senyawa THM, dan kadar-
nya lebih tinggi daripada dalam air minum. Hal ini disebabkan
karena dalam kolam renang kandungan bahan organiknya lebih
besar (karena mendapat tambahan bahan organik dari orang-
orang yang memakai kolam renang tersebut misalnya dari ke-
ringat dan urine). Perlu diketahui pula bahwa THM dalam kolam
renang ini dapat dibebaskan ke udara di atas permukaan air
tersebut (THM mudah menguap). Kadang-kadang THM ini bisa
mencapai konsentrasi yang tinggi, khususnya dalam kolam re-
nang yang tertutup (indoor pool). Dalam penelitian ini kadar
THM dalam udara di atas permukaan kolam renang maksimum
mencapai 787 ug/m
3(4)
. Senyawa THM inilah yang akan terhirup
oleh orang-orang yang secara teratur berkunjung ke kolam re-
nang tersebut. Kadar THM maksimum dalam kolam renang
mencapai 177,4 ug/1
(4)
.
Penelitian pada tahun 1983 yang dilakukan oleh Chambon
dkk menemukan kadar chloroform dalam kolam renang berkisar
antara 83 ญ 665 ug/1
o
), sedangkan dalam penelitian Lahl dkk
tahun 1981 ditemukan kadar chloroform dalam kolam renang
berkisar antara 50 ญ 980 ug/P. Penelitian yang dilakukan oleh
Frank M. Benoit tahun 1986 di tempat-tempat pemandian air
panas untuk umum menyatakan bahwa kadar chloroform dan
bromoform dalam air adalah 35 ญ 674 ug/1 dan 37 ญ 3600 ug/1.
Sedangkan kadar chloroform dan bromoform dalam udara di atas
air tersebut berkisar antara 4 ญ 750 ug/m
3
dan 0 ญ 910 ug/m
3(6)
.
Pembentukan THM akan meningkat pada proses thlorinasi air
yang mengandung zat-zat organik (berasal dari asam humus,
urine, keringat) suhu dan pHnya agak tinggi
(7)
.
THM dalam air permukaan dan air tanah
Penelitian yang mendeteksi adanya THM dalam air per-
mukaan maupun air sumur dalam menunjukkan bahwa air per-
mukaan mengandung THM maksimum 25,3 ug/l
(8)
dicapai pada
musim pans (di sungai Tone Jepang) dan maksimum 263 ug/1 di
Itali
(4)
. THM ini muncul karena air limbah yang pada umumnya
terchlorinasi dan yang secara luas digunakan dalam aktivitas
industri. Selain itu hasil penelitian ini menyatakan bahwa beber-
apa air tanah mengandung bahan-bahan organik yang tinggi
walaupun berasal dari lapisan-lapisan yang dalam. Kadar THM
maksimum yang terdeteksi dalam air tanah adalah 20 ug/1
(4)
.
BAHAYA THM
Senyawa THM diduga potensial karsinogenik terhadap
manusia, sebab sifat ini telah terbukti pada percobaan terhadap
tikus. Hasil percobaan menunjukkan bahwa terdapat tumor
ginjal pada tikus jantan dan tumor tiroid pada tikus betina yang
diberi ransum makanan yang mengandung chloroform. Pada
tikus, lemak tubuh adalah tempat penyimpanan chloroform yang
sangat penting, dan jumlah yang lebih kecil didapatkan dalam
hati, paru, urat dan ginjal
(3)
.
Dalam tubuh manusia, lebih dari 50,6% THM yang masuk
melalui mulut (7 mg/kg berat badan) diubah menjadi CO
2
; tetapi
ini tergantung pada kepekaan individu masing-masing. Dengan
dosis 500 mg yang dihirup oleh seseorang, 18 ญ 67% dikeluarkan
lagi dalam bentuk yang tidak berubah dalam waktu 8 jam.
Sebagian besar metabolisme dari chloroform dikeluarkan me-
lalui paru-paru sebagai CO
2
atau melalui ginjal sebagai chlorine
anorganik.
Chloroform adalah suatu depresan sistim saraf pusat yang
juga berpengaruh pada hati dan ginjal. Akibat yang paling cepat
adalah kehilangan kesadaran yang mungkin diikuti dengan koma
dan kematian. Bahaya pada ginjal dicatat 24 ญ 48 jam setelah
terpapar dan bahaya pada hati setelah 2 ญ 5 hari, sehingga gejala
keracunan muncul beberapa hari setelah terpapar. Dosis yang
mematikan kira-kira 44 g atau 630 mg/kg berat badan untuk
orang yang berat badannya kira-kira 70 kg. Dosis mematikan
yang paling rendah yang pemah dicatat adalah 210 mg/kg berat
badan. Penelitian lain yang menggunakan analisa statistik (ana-
lisa regresi) hasilnya hampir sama dengan studi-studi sebelum-
Cermin Dunia Kedokteran No. 82, 1993
40
background image
nya yang menunjukkan bahwa ada hubungan positif antara angka
kematian kanker kandung kemih dan kadar chloroform dalam air
minum. Kadar total THM 30 ug/1 dalam air minum telah di-
rekomendasi dengan konsumsi rata-rata 2 liter/hari.
Akibat lain bila dalam air buangan timbul senyawa-senyawa
THM yaitu akan memberi akibat yang besar terhadap lingkung-
an sumber air penerima dan mengganggu kehidupan ikan. Oleh
karena itu United States Environmental Protection Agency
(USEPA) telah menetapkan kadar maksimum kontaminasi total
THM yang diperbolehkan dalam air minum adalah 0,10 mg/1.
Pada saat ini, ada indikasi kuat bahwa standar total THM tersebut
akan ditetapkan lebih rendah lagi. Dan lebih dari itu, mungkin
standar yang lebih khusus untuk masing-masing jenis THM
perlu ditentukan.
CARA MENGHILANGKAN THM
Untuk mereduksi THM harus dihilangkan penyebabnya
yaitu zat-zat organik sebelum proses chlorinasi atau meng-
ganti jenis disinfektan yang tidak menyebabkan terbentuknya
THM
(9.10,11.12,13)
.
Untuk menghilangkan penyebabnya ada beberapa alternatif
yaitu :
1)
Memindahkan proses chlorinasi pada bagian yang paling
akhir dengan tujuan bahan-bahan organiknya sudah dihilangkan
sebelum proses chlorinasi.
2)
Jika proses chlorinasi dipakai setelah proses koagulasi dan
pengendapan atau setelah proses softening dan pengendapan,
proses-proses tersebut perlu diperbaiki untuk mengoptimasi
penghilangan bahan-bahan organik.
3)
Mengoptimasi proses-proses pendahuluan sebelum proses
chlorinasi untuk menghilangkan bahan-bahan organik.
4)
Penggunaan adsorben (karbon aktif) untuk menghilangkan
bahan-bahan organik sebelum proses chiorinasi.
5)
Memperbaiki kualitas air baku atau memilih sumber-sum-
beralternatif yang tidak mengandung bahan-bahan organik tinggi.
6)
Menggunakan kombinasi cara-cara tersebut di atas.
Untuk mengganti jenis disinfektan ada beberapa disinfektan
alternatif yang menghasilkan THM kecil sekali atau bahkan
tidak menghasilkan sama sekali antara lain yaitu :
-
chlorine yang bebas chlorine dioksida
-
chloramine
-
ozone
Dalam keadaan danurat, untuk mengatasi masalah sumber
air minum yang telah tercemar oleh THM maka air tersebut harus
direbus dahulu sebelum dipakai sebagai air minum. THM akan
hilang bila air tersebut direbus sampai mendidih selama 3 ญ 5
menit.
KESIMPULAN
Senyawa organik yang mudah menguap terjadi pada proses
chlorinasi dalam air yang banyak mengandung zat organik.
Senyawa ini sebagian besar ditemukan dalam bentuk trihalo-
methane(THM).Pembentukan THM akan meningkat pada proses
chlorinasi air yang mengandung zat-zat arganik (berasal dari
asam humus, urine, keringat), suhu dan pH tinggi.
Trihalomethane yang terdeteksi dalam air tanah, air per-
mukaan,air minum,air kolam renang dan pemandian umum,dan
dalam udara di atas kolam renang, kadar tertinggi terdapat dalam
air kolam renang.
Karena THM tenmasuk senyawa yang bersifat karsinogenik
makahanlsdihilangkan. Untuk menghindari terbentuknya THM
perlu dihilangkan zat-zat organik sebelum proses chlorinasi
atau dipilih disinfektan lain yang tidak menyebabkan terben-
tuknya THM. Dalam keadaan darurat THM dalam air minum
dapat dihilangkan dengan cara merebus air sampai mendidih
selama 3 ญ 5 menit.
KEPUSTAKAAN
1.
Fair GM, Geyer OC. Water Supply and Waste Disposal; John Wiley and
Sans 1967. p. 9.
2.
Lahl U et al. Distribution and balance of volatile halogenated hydrocar-
bons in the water and air of covered swimming pools using chlorine for
water disinfection. Water Res 1981; 15: 803-14.
3.
World Health Organization. Guidelines for Drinking-water Quality; vol. 2;
Health Criteria and Other Supporting Information, p. 240-245, Geneva
1984.
4.
Aggazzotti G, Predieri G. Survey of Volatile Halogenated Organics (VHO)
in 1ta1y; Water Item 1986; 20 (8): 959-634.
5.
Chambon P et aL Survey of trihalomethane levels on Rhone-Alps water
supplies; Water Res 1983; 17: 65-9.
6.
Benoit FM, Jackson R. Trihalomethane formation in whirlpool Spas;
Water Res 1987; 21 (3): 353-7.
7.
El-Rehaili AM, Webber Jr. WJ. Correlation of humic substance trihalo-
methane formation potential and adsorption behavior to molecular weight
distribution in raw and chemically treated waters; Water Res 1987; 21(5):
573-83.
8.
Uchiyama M. et aL Changes of trihalomethane formation potentials in the
Tone River; Water Res 1986; 20 (8): 999-1003.
9.
Reinhhold GW. Environmental Engineering Series; USA 1978, p. 355-55.
10.
Sakoda A. et aL Trihalomethane adsorption on activated carbon fibers;
Water Res 1991; 25 (2): 219-25.
11.
Any GL et aL The effects of ozanation and activated carbon adsorption on
trihalomethane speciatian, Water Res 1991; 25(2): 191-202.
12.
Taylor IS. et aL Trihalomethane Precursor Removal by the Magnesium
Carbonate Process; Research and Development of United States Environ-
mental Protection Agency, 1984.
13.
Watanabe H. The prevention of formation and removal of chlorinated
organics in wastewater, the sixth US Japan Conference an Sewage Treat-
ment Technology; Japan, 1979.