HASIL PENELITIAN
Beberapa Kebiasaan Masyarakat
yang Berkaitan dengan Hidup Sehat
berdasarkan Susenas 1995
Sarjaini Jamal
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Departemen Kesehatan RI, Jakarta
PENDAHULUAN
Tingkat kesadaran masyarakat akan pentingnya hidup sehat
dapat dilihat dari berbagai upaya, di antaranya melalui kebiasa-
an melakukan olahraga secara temtur, menggosok gigi, meng-
gunakan jamu untuk menjaga kesehatan dan makan secara se-
imbang.
Olahraga merupakan faktor protcktif terjadinya Penyakit
Jantung Koroner (PJK) melalui pencegahan kenaikan berat badan
di atas normal, menekan kadar triglerisida darah, memperbaiki
toleransi glukosa dan meningkatkan HDL kholesterol
(1)
. Di
samping im olahraga secara teratur dapat menjaga tingkat ke-
bugaran mbuh sehingga bermanfaat bagi kesehatan individu.
Kebiasaan menggosok gigi akan menjaga kebersihan
mulut dan mencegah terjadinya kcrusakan geligi. Gigi yang
terinfeksi menjadi sumber penularan bakteri Streptokokus yang
diduga dapat menimbulkan kemsakan katup jantung dan ginjal
serta organ-organ tubuh lainnya.
Jamu/obat tradisional dapat digunakan untuk menjaga dan
memelihara kesehatan di samping mengobati penyakit-penyakit
tertentu, pelangsing dan lain-lain
(2)
.
Pola makanan yang seimbang dan tidak berkelebihan adalah
kunci diperolehnya fisik yang proporsional dan sehat sehingga
akan menghasilkan sumber daya manusia dengan daya kerja
yang optimal untuk menunjang pembangunan. Makan berlebih-
an dapat menimbulkan kenaikan BMI (body mass index) yang
tidak seimbang danpadaakhirnyamenyebabkan "obesitas" yang
menjadi salah satu faktor risiko timbulnya PJK
(3)
.
Empat parameter di luas telah dikumpulkan melalui Survai
Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 1995 oleh Biro Pusat Statis-
tik (BPS) yang meliputi semua propinsi di Indonesia. Khusus
tentang penggunaan obat tradisional/jamu oleh masyarakat di-
kumpulkanjuga melalui Survei Kesehatan Rumah Tangga 1995.
Walaupun kedua survai tersebut dilakukan secara sendiri-sen-
diri, menggunakan insuumen dan pencacah yang berbeda namun
mempunyai kerangka sampel yang sama, sehingga dapat di-
lakukan linkage.
Tulisan ini menginfonnasikan beberapa hasil yang diper-
oleh melalui Susenas 1995 tentang berbagai upaya hidup sehat di
atas.
TUJUAN
Umum
Mengumpulkan data tentang berbagai upaya individu
menjaga dan memelihara kesehatan langsung dari masyarakat
(community base line data).
Khusus
1) Mengetahui kebasaan olahraga dari anggota masyarakat.
2) Mengetahui kebiasaan menggosok gigi di kalangan ma-
syarakat.
3) Mengetahui penggunaan jamu oleh masyarakat untuk men-
jaga/memelihara kesehatan.
4) Mengetahui pola makanan anggota masyarakat.
METODOLOGI
Data pada tulisan ini merupakan sebagian dari data
Susenas 1995 dan SKRT 1995.
Sampel yang digunakan Susenas 1995 dirancang sebagai
sampel bertabap tiga; pada tahap penama di setiap kabupaten/
kodya dipilih sejumlah wilayah pencacahan (wilcah) secara
sistematik. Pada tahap kedua dari setiap wilcah terpilih, dipilih
lagi satu kelompok segmen steam proportional probability to
size (PPS) dengan size adalah banyaknya rumah tangga. Pada
tahap ketigadipilih sebanyak 16 rumah tangga secara sistematik
dari masing-masing segmen terpilih. Sampel Susenas berjumlah
206.240 rumah tangga (kor) dan sampel modul sebanyak 65.664
rumah tangga yang merupakan bagian dari sampel kor. SKRT
1995 menggunakan sekitar 5% sampel susenas (modul) yaitu
Cermin Dunia Kedokteran No. 122, 1999 39
5.034 nnnah tangga atau 10.034 ART.
Data SKRT dikumpulkan oleh dokter umum yang telah
ditatar sedangkan data Susenas dikumpulkan oleh tenaga yang
berpendidikan minimal Sekolah Menengah tingkat Atas yang
telah ditatar.
Pengumpulan data dilakukan melalui kunjungan rump,
dengan responden adalah kepala keluarga/istri/ART yang sudah
dewasa yang mengetahui tentang keadaan keluarganya masing-
masing. Instrumen pengumpul data adalah close-ended ques-
tionnaire yang telah diuji.
Pengolahan data dengan komputer dan disajikan dalam
tabel-tabel distribusi frekuensi. Analisis dilakukan secara
deskriptif.
HASIL
1) Kebiasean olahraga
Frekuensi olahraga oleh sebagian besar masyarakat masih
pada tingkat 1-2 kali seminggu. Hanya ada 3 propinsi (Maluku,
Sumbar dan DI Auld yang sekitar 10% penduduknya melaku-
kan olahraga setiap hari. Terdapat 9 daerah yang lebib dari
10% penduduknya melakukan olahraga 3-5 kali seminggu, di
antaranya adalah DI Aceh, Jambi dan NTB. Persentase
penduduk yang paling sedikit melakukan olahraga tiap hari
adalah di daerah Riau, Bengkulu, Timor Timur, Kalimantan
Timur dan Sulawesi Utara
Tabel 1. Persentase penduduk berumur 10 tahun ke atas pada 3 bulan
terakhir
melakukan
olahraga
dan
frekuensinya
Frekuensi olahraga (%)
No. Propinsi 13 x per
3 bulan
13 x per
bulan
12 x per
minggu
35 x per
minggu
Tiap
hari
Jumlah
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
DI Aceh
Sumut
Sumbar
Riau
Jambi
Sumsel
Bengkulu
Lampung
DKI Jaya
Jabar
Jateng
DI Yogya
Jatim
Bali
NTB
NTT
Timtim
Kalbar
Kalteng
Kaltim
Kaltim
Sulut
Sulteng
Sulsel
Sultra
Maluku
Irja
0,37
2,65
1,61
104
1,39
2,83
3,30
3,17
4,08
4,66
1,58
1,64
2,32
1,76
4,88
4,11
0,61
296
1,98
1,41
4,15
6,57
2,41
3,31
1,83
4,05
0,90
4,23
10,04
8,04
7,07
6,07
10,58
7,52
4,83
8,89
12,74
6,21
5,39
5,75
4,50
5,23
3,68
6,71
9,12
6,76
5,73
10,55
14,21
6,30
13,70
4,46
13,87
4,26
61,39
67,21
71,54
79,57
66,75
78,74
82,98
82,33
74,88
73,15
77,47
81,21
70,86
83,09
64,01
78,59
89,02
75,09
72,03
83,03
72,74
63,59
73,03
67,88
81,78
59,02
80,39
22,67
13,33
8,52
924
20,73
4,38
4,75
4,36
6,99
6,14
8,89
7,71
11,43
6,65
19,95
8,32
1,22
5,92
10,49
5,84
10,18
12,97
11,96
7,78
5,77
8,34
7,61
11,33
676
10,29
1,09
5,06
3,47
1,45
5,31
5,16
3,31
5,85
4,05
9,63
4,01
5,94
5,30
2,44
6,91
8,74
4,00
2,39
2,66
6,30
7,33
6,16
14,72
6,84
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
Sumber : Susenas 1995
2) Kebiasaan menggosok gigi
Persentase penduduk yang mempunyai kebiasaan menggosok
gigi lebih banyak dibandingkan dengan yang tidak menggosok
gigi. Menggosok gigi sebelum tidur lebih banyak dilakukan di
perkotaan dibandingkan di pedesaan. Demikian juga menggosok
gigi setiap sudah makan. Di pedesaan lebih dari separuh pen-
duduk menggosok gigi sesudah bangun tidur. Secara nasional
hanya terdapat 11,73% penduduk yang mempunyai kebiasaan
menggosok gigi setiap sesudah makan dan 22,34% sebelum tidur
malam (Tabel 2).
Tabel 2. Persentase penduduk umur setahun ke atas yang mempunyai ke-
biasaan menggosok gigi di perkotaan dan pedesaan dibedakan
menurut
waktu
menggosok
gigi
No.
Waktu menggosok gigi Perkotaan Pedesaan
Perkotaan +
Pedesaan
1
2
3
4
5
Sesudah bangun tidur
Sebelum tidur malam
Setiap sudah makan
Lainnya
Tidak menggosok gigi
72,80
33,84
14,34
30,24
7,86
55,82
16,09
10,09
31,48
19,79
61,79
22,34
11,73
31,04
15,59
Sumber: Susenas 1995
3) Penggunaan jamu/obat tradiabnal oleh masyarakat
Sebanyak 25,36% penduduk menggunakan jamu untuk
pemeliharaan kesehatan, sedangkan untuk pengobatan penyakit
dilakukan hanya oleh 3,51% penduduk, Pengglmaannya untuk
pengobatan sedikit lebih banyak dilakukan oleh penduduk di
pedesaan dibandingkan di perkotaan. Jamu/obat tradisional un-
tuk penguat seks sedikit lebih banyak dilakukan oleh penduduk
di perkotaan dibandingkan di pedesaan. Di samping itu jamu/
obat tradisional juga dapat digunakan untuk peluntur kehamilan
dan penguat seks (Tabel 3).
Tabel 3. Persentase penduduk yang menggunakan jamu/obat tradisional
di
perkotaan
dan
pedesaan
dibedakan
menurut
keguaannya.
No.
Kegunaan jamu/obat
tradisional
Perkotaan pedesaan
Perkotaan +
Pedesaan
1
2
3
4
5
Pemeliharaan kesehatan
Pengobatan
Peluntur kehamilan
Penguat seks
Lain-lain
29,48
3,37
0,41
0,61
20,23
23,12
3,58
0,41
0,52
22,97
25,36
3,51
0,41
0,55
22,01
Sumber : Susenas 1995
4) Pola makan dan Jenis makanan penduduk
Beras merupakan jenis makanan paling utama yang dikon-
sumsi setiap hari oleh penduduk.
Persentase penduduk di perkotaan yang mengkonsumsi beras
tiap hari sedikit lebih banyak dibandingkan di pedesaan. Di
samping beras, gala dan minyak goreng serta MSG (Mono
Sodium Glutamat) merupakan bahan makanan yang dikon-
sumsi oleh lebih dari 50% penduduk setiap hari baik di perkota-
an maupun di pedesaan.
Sayur daun hijau dikonsumsi oleh lebih 40% penduduk di
perkotaan maupun di pedesaan. Tempe, tabu dan santan kelapa
dikonsumsi 25 kali seminggu oleh lebih dari 30% penduduk
baik di perkotaan maupundi pedesaan. Telur, ikan segar dan ikan
Cermin Dunia Kedokteran No. 122, 1999
40
Tabel 4. Pola makan dan jenis makanan di daerah perkotaan dihitung
berdasarkan
persentase
penduduk
Pola makan
No.
Jenis
makanan
Tiap
hari
25 x
seminggu
Tiap
minggu
23 x
sebulan
12 x
sebulan
Tidak
makan
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
18
19
20
Beras
Gula/sirup/
permen
Minyak
goreng
MSG
Sayur daun
Tempe
Tahu
Kue
Ikan segar
Kerupuk/
chip
Kelapa/
santan
Buah segar
Telur
Makanan
ringan
anak-anak
Susu serbuk
Bakso
Mie instant
Ikan
diawetkan
Terigu dan
olahannya
97,19
73,24
60,01
58,75
41,20
2623
23,09
20,71
17,15
13,67
13,48
11,91
11,21
11,20
6,57
6,13
5,88
3,86
3,82
0,64
14,70
26,83
20,41
36,84
45,16
45,55
27,52
31,40
29,04
31,49
28,06
40,33
10,85
4,74
24,96
26,06
16,19
14,18
0,39
5,43
6,12
5,58
11,25
15,14
17,09
22,23
21,08
24,41
27,76
28,20
27,58
10,95
3,32
28,17
24,89
18,73
21,19
0,34
2,32
2,27
2,82
3,68
6,43
7,33
13,53
10,31
13,81
14,14
12,46
17,24
7,21
4,26
19,98
13,82
16,32
23,95
0,38
0,87
0,81
1,40
1,03
1,92
1,86
5,07
11,72
4,97
4,71
6,12
4,5
4,26
3,46
6,74
5,06
8,12
12,99
1,05
3,44
3,95
11,05
5,47
3,14
0,69
10,94
26,07
14,11
8,41
7,07
1,50
51,50
76,76
14,02
22,29
36,78
23,86
Sumber : Susenas 1995
diawetkan termasuk bahan makanan yang dikonsumsi 25 kali
seminggu oleh lebih dari 20% penduduk, baik di perkotaan
maupun di pedesaan.
Sedangkan buah suer, kue, telur, santan kelapa, kerupuk, mie
instant dan bakso merupakan bahan makanan yang dikonsumsi
oleh lebih dari 20% penduduk setiap minggu. Persentase pen-
duduk yang mengkonsumsi mie instant 25 kali seminggu lebih
banyak di perkotaan dibandingkan di pedesaan. Sebaliknya
persentase penduduk yang mengkonsumsi ikan yang diawetkan
tiap hari atau 25 kali seminggu lebih banyak di pedesaan di-
bandingkan di perkotaan (Tabel 4 dan 5)
PEMBAHASAN
Kebiasaan olahraga sangat menunjang untuk memperoleh
daya tahan tubuh yang lebih baik sehingga meningkatkan kondisi
kesehatan individu. Frekuensi 12 kali seminggu merupakan
yang terbanyak dilakukan oleh penduduk selama ini. Fenomea
ini sesusi dengan pelaksanaan serum kesegaran jasmani (SKJ)
sekali seminggu di kantor-kantor pemerintah. Walaupun tingkat
kebugaran tubuh ditentukan oleh frekuensi dan endurance olah-
raga yang dilakukan, bukan oleh berat ringannya suatu olahraga,
namun upaya "mengolahragakan masyarakat dan memasyara-
katkan olahraga" tampaknya sudah mengenai sasaran. Walaupun
demikian masih perlu mendapat perhatian khusus tentang jenis
olahraga yang banyak dilakukan oleh masyarakat, terutama yang
berkaimn dengan pemupukan bibit untuk olahragawan di ke-
Tabel 5. Pola makan dan jenis makanan di daerah pedesaan dihitung
berdasarkan
persentase
penduduk
Pola makan
No
Jenis
makanan Tiap
hari
25 x
seminggu
Tiap
minggu
23 x
sebulan
12 x
sebulan
Tidak
makan
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
18
19
20
Beras
Gula/sirup/
permen
Minyak
goreng
MSG
Sayur daun
Tempe
Tahu
Kue
Ikan segar
Kerupuk/
chip
Kelapa/
santan
Buah segar
Telur
Makanan
ringan
anak-anak
Susu serbuk
Bakso
Mie instant
Ikan
diawetkan
Terigu dan
olahannya
94,00
66,89
50,31
55,04
40,11
18,60
14,13
12,58
14,64
10,15
18,16
6,83
4,76
8,49
0,84
2,42
2,10
9,77
2,07
2,56
15,78
33,46
20,72
36,88
36,03
34,85
19,73
21,20
23,33
33,42
19,70
2337
11,80
0,87
10,98
10,59
24,67
9,85
1,08
7,69
9,01
6,96
12,33
16,85
19,15
20,50
18,50
21,54
22,40
25,70
27,82
10,29
0,93
16,04
15,80
18,61
14,58
0,68
3,40
2,02
2,39
4,14
7,76
9,54
1623
15,79
13,76
13,00
22,17
22,93
7,33
1,64
19,17
1730
11,63
20,54
0,46
1,16
0,70
1,11
128
3,14
3,42
7,71
8,41
6,06
4,89
9,63
7,60
3,84
1,48
10,30
7,51
4,61
14,15
122
3,08
4,49
13,78
526
17,62
1891
2325
21,46
25,14
8,13
13,97
13,62
5825
94,33
41,09
06,70
30,71
38,41
Sumber: Susenas 1993
mudian hari.
Pada Tabel 2 dapat dilihat bahwa persentase penduduk ber-
umur sans tahun ke atas yang mempunyai kebiasaan menggosok
gigi di daerah perkotaan lebih banyak dibandingkan di daerah
pedesaan. Hal yang samajuga ditemukan pada survei yang di-
lakukan pada tahun 1986 oleh Badan Litbangkes
(4)
. Fenomena ini
dapat dimaklumi karena kesehatan gigi banyak dikaitkan dengan
penampilan pribadi. Orang kota lebih banyak memperhatikan hal
ini dibandingkan orang desa. Studi Morbiditas dan Kecacatan
(SKRT 1995) menemukan bahwa penyakit-penyakit periodontal
merupakan penyakit yang urutan pertama yang banyak diderita
oleh penduduk Indonesia
(5)
. Fenomena ini tidak selaras dengan
data yang ada pada Tabel 2 bahwa jumlah penduduk yang tidak
mempunyai kebiasaan menggosok gigi jauh lebih sedikit di-
bandingkan yang biasa menggosok gigi. Barangkali di samping
kebiasaan menggosok gigi masih ada lagi faktor lain yang
berpengaruh pada kerusakan gigi dan jaringan penunjangnya,
misalnya pola makan yang banyak mengandung gula dan lain-
lain. Hal ini sesuai dengan kedudukan gula dan produk gula
menjadi urutan kedua dari makanan yang banyak dikonsumsi
setiap hari oleh masyarakat sesudah beras (Tabel 4 dan 5). Di
damah perkotaan persentase penduduk yang mengkonsumsi
gula/produk gula lainnya lebih banyak dibandingkan dengan di
pedesaan. Di samping itu terdapat pula perbedaan kebiasaan
menggosok gigi antara di daerah perkotaan dan pedesaan; pen-
duduk pedesaan lebih banyak menggosok gigi sesudah bangun
Cermin Dunia Kedokteran No. 122, 1999 41
tidur dibandingkan sebelum tidur atau sesudah makan. Sebenar-
nya menggosok gigi yang dianjurkan adalah sebelum tidur dan
sesudah makan karena bekas makanan terutama "gula seder-
hana yang teradsorpsi di permukaan gigi yang mempercepat
terjadinya plaque dapat dihilangkan. Dapat ditambahkan bahwa
daerah perkotaan dibedakan dengan daerah pedesaan berdasar-
kan besarnya "skor" atas beberapa parameter yang dimiliki se-
perti kerapatan penduduk, mata pencaharian utama penduduk
dan fasilitas yang ada di tiap daerah tersebut, seperti panjang
jalan yang beraspal, adanya fasilitas telpon, listrik, pasar, sarana
kesehatan umum, saran pendidikan formal. transportasi umum
dan lain-lain'
(6)
.
Persentase penduduk yang meaggunakan obat tradisional
untuk memelihara kesehatan menurut Susenas 1995 adalah se-
besar 25,36% sedangkan SKRT 1995 menemukannya 23%
responden pernah menggunakan obat tradisional/jamu selama
sebulan terakhir
(7)
. Hampir 20 tahun yang silam. Muchtaruddin
menemukan angka tersebut sebesar 28,98%
(2)
. Tampaknya angka-
angka ini tidakjauh herbeda. Yang menarik umuk disimak ada-
lah adanya penggunaan jamu/obat tradisional untuk meningkat-
kan daya seks (0,55%) dan pduntarkehamilan (0,41%); angka
tersebut adalah 0,20% dan 1,91% padatahun 1976. Nampaknya
penggunaan jamulobat tradisional untuk gevah seks meningkat
lebih dari dua kali setelah hampir dua puluh tahun. Hal ini
mungkin terjadi karma makin meningkamya demand masya-
rakat untuk itu atau karena makin banyak iklan jamu/obat tra-
disional yang ditujukan untuk maksud tersebut. Kemungkinan
kedua tampaknya mendekati kebenaran yang dibuktikan melalui
semakin semaraknya berbagai iklan di media tulis, audio maupun
audio visual (TV) akhir-akhir ini. Pembenahan periklanan jamu
perlu diarahkan kepada hal-hal yang bersifat lebih positif
Penyakit-penyakit degeneratif dan kemunduran fungsi
organ seperti diabetes, jantung dan pembuluh derail lebih me-
nonjol pada tahun-tahun terakhir
(8)
. Peningkatan pendapatan
perkapita pertahun membawa pengaruh pula pada pergeseran
pola epidemiologi dan demografi penduduk. Umur harapan
hidup meningkat (6465 tahun) dan pola kematian penduduk
mengalami pergeseran dari penyakit infekai ke penyakit-penya-
kit degeneratif seperti jantung koroner dan kegagalan ginjal. Pola
makan mulai bergeser, makanan dengan tinggi kholesterol dan
pro-kholesterol seperti telor dan minyak goreng serta santan
kelapa mulai meningkat (Tabel 4 den 5). Demikian juga junk-
food seperti hamburger, fried-chicken, kerupuk chip dan lain-
lainnya mulai masuk sebagai menu baru masyarakat. MSG yang
masih kontroversial manfaatnya bagi kesehatan telah menduduki
ranking keempat sebagai balm makanan (walaupun sebagai
penyedap) yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat setiap hari,
baik di perkotaan maupun di pedesaan. Ikon diawetkan diasin
dengan garam, yang oleh sebagian peneliti dianggap punya
kontribusi pada meningkatnya peadcrita bipertcnsi di kalangan
penduduk pedesaan masih perlu diuji kebenarannya
(9,10)
.
KESMPULAN
1)
Kebiasaan olahraga terbanyak dilakukan oleh penduduk
Indonesia baru meliputi 12 kali seminggu.
2)
Kebiasaan menggosok gigi sebelum tidur dilakukan oleh
22,34% penduduk dan tiap sudah makan oleh 11,73%
penduduk.
3)
Secara nasional penggunaan jamu/obat tradisional untuk
pemeliharaan kesehatan dilakukan oleh 25,36% penduduk.
4)
Beras, gula dan produknya, minyak goreng serta MSG
merupakan bahan makanan yang dikonsumsi setiap hari oleh
lebih dari 50% penduduk Indonesia baik di perkotaan maupun
di pedesaan.
SARAN
Penyuluhan menggosok gigi sesudah bangun tidur perlu
diluruskan kembali menjadi sesudah makan dan sebelum tidur
dengan pertimbangan dayaguna dan hasilguna pada peningkatan
kesehatan gigi dan rongga mulut.
Iklan obat tradisional perlu dikoreksi jangan sampai terlalu
berlebih-Iebihan terutama mengenai hal-hal yang berkaitan
dengan tujuan peningkatan potensial seksual dan aborsi ter-
selubung.
Dalam upaya meningkatkan kemampuan fisik dan daya
tahan tubuh, penyuluhan gizi serta olahraga yang teratur perlu
lebih digiatkan.
KEPUSTAKAAN
1. , Incidence penyakit jantung koroner dan faktor resiko di kalangan
dokter preklinik, FKUI, 1988.
2. Muchtaruddin et al. Pemasaran dan Pemakaian Jamu, Badan Litbang
Kesehatan, Jakarta, 1976; halaman 37.
3. Kathleen Maha L, Arlin Marian. Food, Nutrition & Diet Therapy, WB
Saunders Co. Philadelphia; 8: 321.
4. Badan Litbangkes, survai penyakit periodontal pada penduduk usia pro-
duktif, Badan Litbangkes, Jakarta, 1986.
5. Dep. Kesehatan RI, Studi morbiditas dan KecacatanSKRT 1995, Dep.Kes
RI, Jakarta, 1997.
6. BPS, Profil statistik Wanita, Ibu dan Anak Indonesia, BPS,1994 : XXV.
7. Sarjaini, Penggunaan obat, obat tradisional, mendapatkan suntikan dan
health-food oleh ART berdasarkan SKRT 1995, Analisis lanjut SKRT
1995, Badan Litbangkes, Jakarta, 1997..
8. Dep.Kes RI. Analisis trend kesehatan, Dep. Kesehatan RI. Jakarta.1993.
9. Pikir Budi S. et al. Hipertensi di daerah pegunungan tandus Jawa Timur,
RSUP Dr. Karyadi, Surabaya, 1990.
10. Suharyo et al. Masalah hipertensi di suatu desa terpencil, kongres AIFI,
Bogor. 1979.
Cermin Dunia Kedokteran No. 122, 1999
42