46
Atresia Bilier
Dr. Parlin Ringoringo
Bagian Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta
PENDAHULUAN
Penyebab kolestasis ekstrahepatik neonatal yang terbanyak
adalah atresia bilier
(1)
. Atresia bilier terjadi karena proses infla-
masi berkepanjangan yang menyebabkan kerusakan progresif
pada duktus bilier ekstrahepatik sehingga menyebabkan ham-
batan aliran empede. Jadi, atresia bilier adalah tidak adanya
atau kecilnya lumen pada sebagian atau keseluruhan traktus
bilier ekstrahepatik yang menyebabkan hambatan aliran em-
pedu
(1)
. Akibatnya di dalam hati dan darah terjadi penumpukan
garam empedu dan peningkatan bilirubin direk. Hanya tindakan
bedah yang dapat mengatasi atresia bilier. Bila tindakan bedah
dilakukan pada usia 8 minggu, angka keberhasilannya adalah
86%, tetapi bila pembedahan dilakukan pada usia > 8 minggu
maka angka keberhasilannya hanya 36%
(3)
. Oleh karena itu
diagnosis atresia bilier hams ditegakkan sedini mungkin, sebe-
lum usia 8 minggu.
ANGKA KEJADIAN
Insidens atresia biller adalah 1/10.000 sampai 1/14.000
kelahiran hidup
(1,4)
. Rasio atresia bilier pada anak perempuan dan
anak laki-laki 1,4 : 1
(5)
. Dari 904 kasus atresia bilier yang terdaftar
di lebih 100 institusi, atresia bilier didapat pada ras Kaukasia
(62%), berkulit hitam (20%), Hispanik (11%), Asia (4,2%) dan
Indian Amerika (1,5%)
(5)
.
ETIOLOGI DAN PATOFISIOLOGI
Etiologi atresia bilier masih belum diketahui dengan pasti.
Sebagian ahli menyatakan bahwa faktor genetik ikut berperan,
yang dikaitkan dengan adanya kelainan kromosom trisomi 17,18
dan 21; serta terdapatnya anomali organ pada 10 30% kasus
atresia bilier
(4,6)
. Namun, sebagian besar penulis berpendapat
bahwa atresia bilier adalah akibat proses inflamasi yang merusak
duktus bilier, bisa karena infeksi atau iskemi
(1)
.
Patofisiologi atresia bilier juga belum diketahui dengan
pasti. Berdasarkan gambaran histopatologik, diketahui bahwa
atresia bilier terjadi karena proses inflamasi berkepanjangan
yang menyebabkan duktus bilier ekstrahepatik mengalami ke-
msakan secara progresif. Pada keadaan lanjut proses inflamasi
menyebar ke duktus bilier intrahepatik, sehingga akan meng-
alami kerusakan yang progresif pula
(1)
.
Kasai mengajukan klasifikasi atresia bilier sebagai berikut
(1)
(Gambar 1) :
I. Atresia (sebagian atau total) duktus bilier komunis, segmen
proksimal paten.
IIa. Obliterasi duktus hepatikus komunis (duktus bilier komu-
nis, duktus sistikus, dan kandung empedu semuanya
ABSTRAK
Penyebab kolestasis ekstrahepatik neonatal yang terbanyak adalah atresia bilier.
Atresia bilier terjadi karena proses inflamasi berkepanjangan yang menyebabkan ke-
rusakan progresif pada duktus bilier ekstrahepatik sehingga menyebabkan hambatan
aliran empedu. Hanya tindakan bedah dilakukan pada usia 5 8 minggu maka angka ke-
berhasilannya adalah 86%, tetapi bila pembedahan dilakukan pada usia > 8 minggu maka
angka keberhasilannya hanya 36%. Oleh karena itu diagnosis atresia bilier harus
ditegakkan sedini mungkin sebelum usia $ minggu.
47
normal).
IIb. Obliterasi duktus bilierkomunis, duktus hepatikus komunis,
duktus sistikus. Kandung empedu normal.
III. Semua sistem duktus bilier ekstrahepatik mengalami obli-
terasi, sampai ke hilus.
Tipe I dan II merupakan jenis atresia bilier yang dapat dioperasi
(correctable), sedangkan tipe III adalah bentuk yang tidak dapat
dioperasi (non-correctable). Sayangnya dari semua kasus atresia
bilier, hanya 10% yang tergolong tipe I dan II
(1,7)
.
MANIFESTASI KLINIS
Tanpa memandang etiologinya, gejala dan tanda klinis utama
kolestasis neonatal adalah iktcrus, tinja akolik, dan urin yang
berwarna gelap
(8)
. Namun, tidak ada satu pun gejala atau tanda
klinis yang patognomonik untuk atresia bilier. Keadaan umum
bayi biasanya baik. Ikterus bisa terlihat sejak lahir atau tampak
jelas pada minggu ke 3 5. Kolestasis ekstrahepatik hampir
selalu menyebabkan tinja yang akolik
(9,10)
. Sehubungan dengan
itu sebagai upaya penjaring kasar tahap pertama, dianjurkan
melakukan pengumpulan tinja 3 porsi. Bila selama beberapa hari
ketiga porsi tinja tctap akolik, maka kemungkinan besar
diagnosisnya adalah kolestasis ekstrahepatik. Sedangkan pada
kolestasis intrahepatik, warna tinja dempul berfluktuasi pada
pcmcriksaan tinja 3 porsi.
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Belum ada satu pun pemeriksaan penunjang yang dapat
sepenuhnya diandalkan untuk membedakan antara kolestasis
intrahepatik dan ekstrahepatik. Secara garis besar, pemeriksaan
dapat dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu pemeriksaan :
1) Laboratorium rutin dan khusus untuk menentukan etiologi
dan mengetahui fungsi hati (darah, urin, tinja);
2) Pencitraan, untuk menentukan patensi saluran empedu dan
menilai parenkim hati;
3) Biopsi hati, terutama bila pemeriksaan lain belum dapat
menunjang diagnosis atresia bilier.
1) Pemeriksaan laboratorium
a) Pemeriksaan rutin
Pada setiap kasus kolestasis harus dilakukan pemeriksaan
kadar komponen bilirubin untuk membedakannya dari hiper-
bilirubinemia fisiologis. Sclain itu dilakukan pemeriksaan darah
tepi lengkap, uji fungsi hati, dan gamma-GT. Kadar bilirubin
direk < 4 mg/dl tidak sesuai dengan obstruksi total. Peningkat-
an kadar SGOT/SGPT> 10 kali dengan pcningkatan gamma-GT
< 5 kali, lebih mengarah ke suatu kelainan hepatoseluler. Se-
baliknya, peningkatan SGOT< 5 kali dengan peningkatan gamma-
GT > 5 kali, lebih mengarah ke kolestasis ekstrahepatik.
Menurut Fitzgerald, kadar gamma-GT yang rcndah tidak me-
nyingkirkan kemungkinan atresia bilier
(9)
. Kombinasi peningkat-
48
an gamma-GT, bilirubin serum total atau bilirubin direk, dan
alkali fosfatase mempunyai spesifisitas 92,9% dalam menen-
tukan atresia bilier
(10)
.
b) Pemeriksaan
khusus
Pemeriksaan aspirasi duodenum (DAT) merupakan upaya
diagnostik yang cukup sensitif, tetapi penulis lain menyatakan
bahwa pemeriksaan ini tidak lebih baik dari pemeriksaan visuali-
sasi tinja
(9,12)
. Pawlawska menyatakan bahwa karena kadar biliru-
bin dalam empedu hanya 10%, sedangkan kadar asam empedu di
dalam empedu adalah 60%, maka asam empedu di dalam cairan
duodenum dapat menentukan adanya atresia bilier
(13)
.
2) Pencitraan
a) Pemeriksaan ultrasonografi
Theoni mengemukakan bahwaakurasi diagnostikUSG 77%
dan dapat ditingkatkan bila pemeriksaan dilakukan dalam 3 fase,
yaitu pada keadaan puasa, saat minum dan sesudah minum
(14)
.
Bila
pada saat atau sesudah minum kandung empedu berkon-
traksi, maka atresia bilier kemungkinan besar (90%) dapat di-
singkirkan. Dilatasi abnormal duktus bilier, tidak ditemukannya
kandung empedu, dan meningkatnya ekogenitas hati, sangat
mendukung diagnosis atresia bilier
(9)
. Namun demikian, adanya
kandung empedu tidak menyingkirkan kemungkinan atresia
bilier, yaitu atresia bilier tipe I/distal
(15)
.
b) Sintigrafi hati
Pemeriksaan sintigrafi sistem hepatobilier dengan isotop
Technetium 99m mempunyai akurasi diagnostik sebesar 98,4%
(16)
.
Sebelum pemeriksaan dilakukan, kepada pasien diberikan feno-
barbital 5 mg/kgBB/hari per oral, dibagi dalam 2 dosis selama 5
hari.
Pada kolestasis intrahepatik pengambilan isotop oleh hepa-
tosit berlangsung lambat tetapi ekskresinya ke usus normal,
sedangkan pada atresia bilier proses pengambilan isotop normal
tetapi ekskresinya ke usus lambat atau tidak terjadi sama sekali.
Di lain pihak, pada kolestasis intrahepatik yang berat juga tidak
akan ditemukan ekskresi isotop ke duodenum.
Untuk meningkatkan sensitivitas dan spesifisitas pemeriksaan
sintigrafi, dilakukan penghitungan indeks hepatik (penyebaran
isotop di hati dan jantung), pada menit ke-10. Indeks hepatik > 5
dapat menyingkirkan kemungkinan atresia bilier, sedangkan
indeks hepatik < 4,3 merupakan petunjuk kuat adanya atresia
bilier
(17)
. Teknik sintigrafi dapat digabung dengan pemeriksaan
DAT, dengan akurasi diagnosis sebesar 98,4%
(1,6)
. Torrisi
mengemukakan bahwa dalam mendetcksi atresia bilier, yang
terbaik adalah menggabungkan basil pemeriksaan USG dan
sintigrafi
(l8)
.
c) Pemeriksaan
kolangiografi
Pemeriksaan ERCP (Endoscopic Retrograde Cholangio
Pancreaticography) mcrupakan upaya diagnostik dini yang
berguna untuk membedakan antara atresia bilier dengan kolesta-
sis intrahepatik. Bila diagnosis atresia bilier masih meragukan,
dapat dilakukan pemeriksaan kolangiografi durante operasionam.
Sampai saat ini pemeriksaan kolangiografi dianggap sebagai
baku emas untuk membedakan kolestasis intrahepatik dengan
atresia bilier
(7)
.
3) Biopsi hati
Gambaran histopatologik hati adalah alat diagnostik yang
paling dapat diandalkan. Di tangan seorang ahli patologi yang
berpengalaman, akurasi diagnostiknya mencapai 95%
(1)
, sehingga
dapat membantu pengambilan keputusan untuk melakukan la-
paratomi eksplorasi, dan bahkan berperan untuk penentuan operasi
Kasai. Keberhasilan aliran empedu pasca operasi Kasai diten-
tukan oleh diameter duktus bilier yang paten di daerah hilus hati.
Bila diameter duktus 100 200 u atau 150 400 u maka aliran
empedu dapat terjadi
(1,19)
. Desmet dan Ohya menganjurkan agar
dilakukan frozen section pada saat laparatomi eksplorasi, untuk
menentukan apakah portoenterostomi dapat dikerjakan
(1,20)
.
Gambaran histopatologik hati yang mengarah ke atresia
bilier mengharuskan intervensi bedah secara dini. Yang menjadi
pertanyaan adalah waktu yang paling optimal untuk melakukan
biopsi hati. Harus disadari, terjadinya proliferasi duktuler
(gambaran histopatologik yang menyokong diagnosis atresia
bilier tetapi tidak patognomonik) memerlukan waktu. Oleh ka-
rena itu tidak dianjurkan untuk melakukan biopsi pada usia < 6
minggu
(1)
.
DIAGNOSIS
Diagnosis atresia bilier ditegakkan berdasarkan anamnesis,
pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Manifestasi klinis
utama atresia bilier adalah tinja akolik, air kemih seperti air teh,
dan ikterus. Ada empat keadaan klinis yang dapat dipakai sebagai
patokan untuk membedakan antara kolestasis intrahepatik dan
ekstrahepatik, yaitu: berat badan lahir, warna tinja, umur pende-
rita saat tinja mulai akolik, dan keadaan hepar
(6)
.
Kriteria ini (Tabel 1) mempunyai akurasi diagnostik sampai
82%. Moyer dkk. menambahkan satu kriteria lagi, yaitu gam-
baran his topatologik hati
(11)
.
Tabel 1. Empat kriteria klinis terpenting untuk membedakan Kolestasis
Intrahepatik
dan
Ekstrahepatik
(11)
Data klinis
Kolestasis
ekstrahepatik
Kolestasis
intrahepatik
Wama tinja selama dirawat
Pucat
79% 26%
Kuning
21%
74%
Berat lahir (gram)
3200
2700
Usia saat tinja akolik (hari)
16
30
Ukuran dan konsistensi hati
yang abnormal
87%
53%
Biopsi hati
Fibrosis
portal
94%
47%
Proliferasi
duktular
86%
30%
Trombus empedu intraportal
63%
1%
DIAGNOSIS BANDING
Diagnosis banding kolestasis pada bayi adalah :
1. KELAINAN EKSTRAHEPATIK
A. Atresia
bilier
B. Hipoplasia bilier, stenosis duktus bilier
C. Perforasi spontan duktus bilier
D. Massa (neoplasma, batu)
E. Inspissated bile syndrome
II. KELAINAN INTRAHEPATIK
A. Idiopatik
1) Hepatitis neonatal idiopatik
2) Kolestasis intrahepatik persisten, antara lain :
a) Displasia arteriohepatik (sindrom Alagille)
b) Sindrom Zellweger (sindrom serebrohepatorenal)
c) Intrahepatic bile duct paucity
B. Anatomik
1) Hepatik fibrosis kongenital atau penyakit polikistik infantil
(pada hati dan ginjal)
2) Penyakit Caroli (pelebaran kistik pada duktus intrahepatik).
C. Kelainan metabolisme
1) Kelainan metabolisme asam amino: tyrosinemia
2) Kelainan metabolisme lipid: penyakit Wolman, Niemann-
Pick dan Gaucher
3) Kelainan metabolisme karbohidrat: galaktosemia, frukto-
semia, glikogenosis IV
4) Kelainan metabolisme asam empedu
5) Penyakit metabolik tidak khan, antara lain: defisiensi alfa- 1-
antitripsin, fibrosis kistik, hipopituitarisme idiopatik, hipoti-
roidisme
D. Hepatitis
1) Infeksi (hepatitis pada neonatus), antara lain: TORCH, virus
hepatitis B, Reovirus tipe 3
2) Toksik: kolestasis akibat nutrisi parenteral, sepsis
E. Genetik atau kromosomal: Trisomi E, Sindrom Down,
Sindrom Donahue
F. Lain-lain: Histiositosis X, renjatan atau hipoperfusi,
obstruksi intestinal, sindrom polisplenia, lupus neonatal.
TATALAKSANA
Selama evaluasi, pasien dapat diberi :
A) Terapi medikamentosa yang bertujuan untuk :
1) Memperbaiki aliran bahan-bahan yang dihasilkan oleh hati
terutama asam empedu (asam litokolat), dengan memberikan :
Fenobarbital 5 mg/kgBB/hari dibagi 2 dosis, per oral.
Fenobarbital akan merangsang enzim glukuronil transferase
(untuk mengubah bilirubin indirek menjadi bilirubin direk);
enzim sitokrom P-450 (untuk oksigenisasi toksin), enzim
Na
+
K
+
ATPase (menginduksi aliran empedu).
Kolestiramin 1 gram/kgBB/hari dibagi 6 dosis atau sesuai
jadwal pemberian susu. Kolestiramin memotong siklus entero-
hepatik asam empedu sekunder
(8)
.
2) Melindungi hati dari zat toksik, dengan memberikan :
Asam ursodeoksikolat, 310 mg/kgBB/hari, dibagi 3 dosis,
per oral. Asam ursodeoksikolat mempunyai daya ikat kompetitif
terhadap asam litokolat yang hepatotoksik
(21)
.
B) Terapi nutrisi, yang bertujuan untuk memungkinkan anak
tumbuh dan berkembang seoptimal mungkin, yaitu :
1) Pemberian makanan yang mengandung medium chain tri-
glycerides (MCT) untuk mengatasi malabsorpsi lemak.
2) Penatalaksanaan defisiensi vitamin yang larutdalam lemak.
C) Terapi bedah
Bila semua pemeriksaan yang diperlukan untuk menegakkan
diagnosis atresia bilier hasilnya meragukan, maka Fitzgerald
menganjurkan laparatomi eksplorasi pada keadaan sebagai
berikut:
Bila feses tetap akolik dengan bilirubin direk> 4 mg/dl atau
terus meningkat, meskipun telah diberikan fenobarbital atau
telah dilakukan uji prednison selama 5 hari
(22)
.
Gamma-GT meningkat > 5 kali
Tidak ada defisiensi alfa-1 antitripsin
Pada sintigrafi hepatobilier tidak ditemukan ekskresi ke
usus.
Setelah diagnosis atresia bilier ditegakkan, maka segera
dilakukan intervensi bedah portoenterostomi terhadap atresia
bilier yang correctable yaitu tipe I dan II
(1)
. Pada atresia bilier
yang non-correctable terlebih dahulu dilakukan laparatomi
eksplorasi untuk menentukan patensi duktus bilier yang ada di
daerah hilus hati dengan bantuan frozen section. Bila masih ada
duktus bilier yang paten, maka dilakukan operasi Kasai. Tetapi
meskipun tidak ada duktus bilier yang paten, tetap dikerjakan
operasi Kasai dengan tujuan untuk menyelamatkan penderita
(tujuan jangka pendek) dan bila mungkin untuk persiapan trans-
plantasi hati (tujuan jangka panjang)
(23)
. Ada peneliti yang men-
yatakan adanya kasus-kasus atresia bilier tipe III dengan keber-
hasilan hidup > 10 tahun setelah menjalani operasi Kasai
(24,25)
.
Di negara maju dilakukan transplantasi hati terhadap pen-
derita :
atresia bilier tipe III
yang telah mengalami sirosis
* kualitas hidup buruk, dengan proses tumbuh kembang yang
sangat terhambat
pasca operasi portoenterostomi yang tidak berhasil mem-
perbaiki aliran empedu
(26)
.
PROGNOSIS
Keberhasilan portoenterostomi ditentukan oleh usia anak
saat dioperasi, gambaran histologik porta hepatis, kejadian
penyulit kolangitis, dan pengalaman ahli bedahnya sendiri
(4)
.
Bila operasi dilakukan pada usia < 8 minggu maka angka keber-
hsilannya 7186%, sedangkan bila operasi dilakukan pada usia
> 8 minggu maka angka keberhasilannya hanya 3443,6%
(4)
.
Bila operasi Kasai dilakukan pada usia 160 hari, 6170 hari,
7190 hari dan > 90 hari, maka masing-masing akan memberi-
kan kebcrhasilan hidup > 10 tahun sebesar 73%, 35%, 23%, dan
11%(
'^
). Scdangkan bila operasi tidak dilakukan, maka angka
keberhasilan hidup 3 tahun hanya 10%
(5)
dan meninggal rata-rata
pada usia 12 bulan
(1)
. Anak termuda yang mengalami operasi
Kasai berusia 76 jam
(1)
.
Jadi, faktor-faktor yang mempengaruhi kegagalan operasi
adalah usia saat dilakukan operasi > 60 hari, adanya gambaran
sirosis pada sediaan histologik had, tidak adanya duktus bilier
ekstrahepatik yang paten, dan bila terjadi pcnyulit hipertensi
portal
(5)
.
KEPUSTAKAAN
1. Desmet VJ, Callca F. Cholestatic syndromes of infancy and childhood. In:
50
Zakim, Boyer, Hepatology. A textbook of liver diseases. Philadelphia/
Tokyo: Saunders 1990; 2: 1355-95.
2. Desmet VJ. Pathology of paediatric cholestasis. In: Lentze, Reichen: Falk
symposium 63. Paediatric Cholestasis, Novel approaches to treatment.
Dordrecht/London, Kluwer Academic Publ 1991: 55-74.
3. Lentze MI. Cholestasis in cystic fibrosis. In: Lrntze, Reichen: Falk
symposium 63. Paediatric Cholestasis, Novel approaches to treatment.
Dordrecht/London, Kluwer Academic Publ 1991: 159-64.
4. Howard ER. Biliary atresia - complications and results of non-transplant
surgery. In: Lentze, Reinchen: Falk symposium 63. Paediatric Cholestasis,
Novel approaches totreatment. Dordrecht/London, Kluwer Academic Publ
1991: 273-84.
5. Karrer FM, Hall RJ, Stewart BA, Lily JR. Biliary atresia registry, 1976 to
1989. J. Pediatr. Surg. 1990; 25: 1076-80.
6. Alagille D. Management of paucity of interlobular bile duct. J. Hepatol.
1985; 1: 561-5.
7. Tschappeler H. Imaging diagnosis of cholestasis in children. In: Lentze,
Reichen: Falk symposium 63. Paediatric Cholestasis, Novel approaches to
treatment. Dordrecht/London, Kluwer Academic Publ 1991: 207-14.
8. Haber BA, Lake AM. Cholestatic jaundice in the newborn. Clin Perinatol
1990; 17: 483-506.
9. Fitzgerald IF. Cholestatic disorders of infancy. Pediatr Clin N Am 1988; 35:
357-73.
10. Maggiore G, Bernard D, Hadchouel M, Lemonnier A, Alagille D. Diagnos-
tic value of serum gamma-glutamyl transpeptidase activity in liver diseases
in children. J Paediatr Gastroenterol Nutr 1991; 12: 21-6.
11. Moyer MS, Balister WF. The liver and biliary tree. Prolonged neonatal
obstructive jaundice. In: Walker, Durk, Hamilton, Walker-Smith,
Watkins. Pediatric gastro-intestinal disease. Patophysiology, diagnosis,
management. Philadelphia/Toronto: Decker 1991: 835-48.
12. Halimun EM. Kolestasis pada bayi dan anak. Dalam: Naskah lengkap
Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan Dmu Kesehatan Anak. Penanganan
mutakhir beberapa penyakit gastrointestinal anak. Jakarta. Bagian Dmu
Kesehatan Anak, FKUI 1988.
13. Pawlawska J, Bogoniowska Z, Szczgielska-Kozak M, Wroblewska Z,
Socha J. Value of bile acid determination and hepatic scintigraphy for the
diagnosis of neonatal jaundice. In: Lentze, Reichen. Falk symposium 63.
Paediatric Cholestasis, Novel approaches to treatment. Dordrecht/London:
Kluwer Academic Publ 1991: 237-44.
14. Toeni RF, Goldberg HI. Radiologic evaluation of disorders of the liver and
biliary system. In: Zakim, Boyer, Hepatology. A textbook of liver diseases.
Philadelphia: Saunders 1990: 667-97.
15. Tanner S. Cholestasis in infancy. In: Green: Pediatric hepatology. Edin-
burgh: Churchill Livingstone, 1989: 50-68.
16. Hung WT, Su Cr. Diagnosis of atretic prolonged obstructive jaundice;
technetium 99m hepatolite excretion swdy. J Pediat Surg 1990; 25: 797-800.
17. El Tumi MA, Clarke MB, Barret JJ, Mowat AP. Ten minute radio pharma
ceuticals test in biliary atresia. Arch Dis Child 1987; 62: 180-4.
18. Torrisi JM, Haller JO, Velcek FT. Choledochal cyst and biliary atresia in
the neonate: imaging findings in five cases. Am J Roentgenol 1990; 155:
1273-6.
19. Deguchi E, Yanagihara J, Iwai N. Bile duct patterns in the hilar region of
the liver in two cases of biliary atresia. J Pediatr Surg 1990; 25: 307-10.
20. Ohya T, Miyano T, Kimura K. Indication for portoenterostomy based on
103 patients with Suruga II modification. J Pediau Surg 1990; 25: 801-4.
21. Wiharta SA. Kolestasis pada bayi dan anak. Aspek pediatri. Dipresenta
sikan pada simposium hepatologi, Kongres Nasional Dmu Kesehatan Anak
VIII, Ujung Pandang, 1990.
22. Mowat AP. Extrahepatic biliary atresia and other disorders of the extra
hepatic bile ducts presenting in infancy. In: Mowat. Liver disorders in
childhood. London: Butterworths 1987; 72-88.
23. Wood RP, Langnas AN, Stratta RJ, Pillen TJ, Williams L, Lindsay S,
Meiergerd D, Shaw BW. Optimal therapy for patients with biliary atresia:
Portoenterostomy ("Kasai" procedures) versus primary transplantation. J
Pediatr Surg 1990; 25: 153-9.
24. Ohi R, Nio M, Chiba T, Endo M, Coto M, Ibrahim M. Longtenn follow-up
after surgery for patients with biliary atresia. J Pediatr Surg 1990; 25:
442-5.
25. Raffensperger JG. A longterm follow-up of three patients with biliary
atresia. J Pediatr Surg 1991; 26: 176-7.
26. Lily JR. Biliary atresia. The jaundice infants. In: Welch, et al, Pediatric
surgery. Chicago: Year Book Med Publ 1986: 1047-55.
Know your own faults before blaming others for theirs