ULASAN
Aplikasi Teknik Nuklir
untuk Kesehatan Manusia
Dr. Rochestri Sofyan
Pusat Pengkajian Teknologi Nuklir, BA TAN, Jakarta
PENDAHULUAN
Aplikasi teknik nuklir, baik aplikasi radiasi maupun radio-
isotop, sangat dirasakan manfaatnya sejak program penggunaan
tenaga atom untuk maksud damai dilancarkan pada tahun 1953.
Dewasa ini penggunaannya di bidang kedokteran sangat luas,
sejalan dengan pesatnya perkembangan bioteknologi, serta di-
dukung pula oleh perkembangan instrumentasi nuklir dan pro-
duksi radioisotop umur pendek yang lebih menguntungkan di-
tinjau dari segi medik.
Energi radiasi yang dipancarkan oleh suatu sumber radiasi,
dapat menyebabkan peruba.hari fisis, kimia dan biologi pada
materi yang dilaluinya. Perubahan yang terjadi dapat dikendali-
kan dengan jalan memilih jenis radiasi (, , atau neutron)
serta mengatur dosis terserap, sesuai dengan efek yang ingin
dicapai. Berdasarkan sifat tersebut, radiasi dapat digunakan
untuk penyinaran langsung seperti antara lain pada radioterapi,
dan sterilisasi. Selain itu, radiasi yang dipancarkan oleh suatu
radioisotop, lokasi dan distribusinya dapat dideteksi dari luar
tubuh secara tepat, serta aktivitasnya dapat diukur secara
akurat; sehingga penggunaan radioisotop sebagai tracer atau
perunut, sangat bermanfaat dalam studi metabolisme, serta
teknik pelacakan dan penatahan berbagai organ tubuh, tanpa
harus melakukan pembedahan.
KEDOKTERAN NUKLIR
Dalam bidang kedokteran dikenal cabang kedokteran nuklir,
yaitu ilmu kedokteran yang dalam kegiatannya menggunakan
radioaktif terbuka (unsealed), baik untuk diagnosis maupun
dalain pengobatan penyakit atau dalam penelitian kedokteran.
Dalam kedokteran nuklir, diagnosis dan terapi dilaksanakan
berdasarkan padapemanfaatan emisi radioaktifdari radionuklida
tertentu. Akhir-akhir in kedokteran nuklir berkembang pesat
dan sangat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Tercatat
bahwa hampir tidak ada satupun rumah sakit di negara-negara
maju yang tidak mempunyai unit kedokteran nuklir. Negara
sedang berkembang seperti Indonesia juga tidak ketinggalan.
Dewasa i, hampir semua kota besar di Pulau Jawa mempunyai
sedikitnya satu rumah sakit yang dilengkapi dengan unit ke-
dokteran nuklir.
Seorang ahli kimia berkebangsaan Hongaria, George Hevesy,
pada tahun 1923 mengukur distribusi timbal (Pb) radioaktif
denganjalan memasukkan Pb-210 dan Pb-212 pada batang dan
akar kacang dalam jumlah yang tidak menimbulkan efek toksik
pada tanaman. Pada tahun 1924, dipelajari distribusi Pb dan
Bismut (Bi) pada hewan percobaan. ini merupakan langkah
pertama penggunaan perunut untuk penelitian biomedik, se-
hingga pada tahun 1943 George Hevesy mendapat hadiah Nobel
di bidang Kimia. Radionuklida pertama yang digunakan secara
luas dalam kedokteran nuklir adalah I-131, yang ditemukan oleh
Glenn Seaborg pada tahun 1937. Pertama kali I-131 digunakan
sebagai indikator fungsi kelenjar tiroid denganjalan mendeteksi
sinar yang diemisikan, dengan pencacah Geiger yang ditem-
patkan di dekat kelenjar tiroid. Diikuti dengan pemakaiannya
untuk pengobatan hipertiroid pada tahun 1940. Penemuan Sea-
borg berikutnya yaitu radionuklida Tc-99m dan Co-60, yang
merupakan tonggak sejarah di bidang Kedokteran Nuklir. Berkat
jasanya tersebut, Seaborg mendapat hadiah Nobel untuk bidang
Kimia pada tahun 1951. Pada periode berikutnya, kedokteran
nuklir berkembang pesat setelah ditemukan kamera gamma oleh
Hal Anger pada tahun 1958. Alat tersebut mampu mendeteksi
distribusi foton yang dipancarkan dari dalam tubuh, yang dapat
menggambarkan fungsi suatu organ. Metode ini disebut imaging
nuklir, yang digunakan untuk diagnosis in vivo.
Pada imaging nuklir, suatu senyawa organik bertanda
Cermin Dunia Kedokteran No. 102, 1995 57
(radiofarmaka) pemancar sinar gamma/positron yang telah di-
ketahui metabolismenya secara spesifik pada organ tubuh yang
diselidiki, dimasukkan ke dalam tubuh pasien melalui penyun-
tikan, oral atau pernafasan. Radiofarmaka bergabung dengan
proses metabolisme dalam tubuh, akhirnya terkumpul dan ter-
distribusi pada tempat-tempat tertentu. Kemudian suatu detektor
radiasi didekatkan pada tubuh pasien, untuk menetapkan tempat
di dalam tubuh asal sinar itu dipancarkan, sehingga pola dis-
tribusinya pada tempat tersebut serta perpindahannya dari satu
tempat ke tempat lain dapat diketahui secara tepat. Keuntungan
imaging nuklir adalah tracer dapat bertindak sebagai pemeriksa
fisiologi fungsional yang sanggup menggambarkan fungsi bio-
kimiawi, karena adanya transpor biologi aktifdari radiofarmaka
melalui organ tubuh dapat divisualisasi terhadap waktu. Gambar
yang diperoleh merupakan gambar secara fungsional dalam
framework anatomi. Bila berfungsi normal, distribusi radiofar-
maka menunjukkan pola tertentu yang karakteristik, sedang pada
bagian yang mempunyai fungsi patologis distribusinya tidak
normal. Berbeda dengan foto sinar-X pada radiografi. Jaringan
merupakan objek pasif, sehingga yang divisualisasikan hanya
berupa seleksi dari sinar-X yang melewati jaringan. Gambar
yang diperoleh tidak menggambarkan fungsi dari suatu organ.
Jadi akan sama saja apakah organ itu masih hidup atau sudah
mati.
Aktivitas radioisotop yang digunakan pada imaging nuklir
sangat kecil dalam orde beberapa mCi, dan mempunyai sifat
kimia yang sama dengan isotopnya yang tidak aktif, sehingga
secara faal tidak berpengaruh terhadap keadaan normal. Alat
yang digunakan adalah Kamera Gamma (Gambar 1) yang di-
lengkapi dengan detektor sintilasi (kristal Na! atau Tl), untuk
mengubah foton sinar gamma menjadi kilatan cahaya yang di-
lipatgandakan oleh tabung pelipat ganda foto (photomultiplier).
Gambar 1
Selanjutnya sintilasi diubah menjadi pulsa elektronik dan
terakhir menjadi pulsa-pulsa tegangan yang tingginya sebanding
dengan energi foton terpancar dari dalam tubuh. Dengan bantuan
komputer, pulsa direkam dan diolah, kemudian ditampilkan
pada layar. Pada pertengahan tahun 1970, ihstrumen semacam
ini dikembangkan lagi dengan teknik tiga dimensi. Dengan
mengubah konfigurasi detektor serta meningkatkan daya
komputasi secara elektronik, dapat dibuat gambar tiga dimensi
dan distribusi radionuklida dalam tubuh. Teknik ini dikenal
dengan teknik computed tomography. Karena isotop yang
digunakan merupakan pemancar gamma tunggal, kemudian
diberi nama single photon computed tomography lazim
dsingingkat SPECT. Alat Kamera Gamma SPECT telah
dimiliki oleh beberapa rumah sakit di Indonesia.
Untuk diagnosis in vivo salah satu radionuklida yang banyak
digunakan adalah Tc-99m. Penggunaannya berkembang pesat
sejak tahun 1961, karena ditunjang oleh beberapa kelebihan sifat
inti radionuklida tersebut yakni : pemancar gamma murni dan
tunggal, energinya memadai untuk deteksi (140 keV) dan umur
paruhnya pendek, yaitu 6 jam. Beberapa contoh penggunaannya
adalah sebagai berikut:
1) Tc-99m sulfur koloid, untuk pemeriksaan jantung, hati dan
limpa.
2) Tc-99m diethylenetriamine pentaacetic acid (DTPA), untuk
pemeriksaan otak.
3) Tc-99m sodium tripoliphospate (STPP), untuk penatahan
tulang.
Radionuklida 1-123 juga banyak dipilih untuk imaging.
Merupakan pemancar gamma dengan umur paruh 13 jam, se-
hingga sangat cocok untuk studi dalam waktu yang tidak terlalu
pendek. Imaging dengan kamera gamma cukup jelas karena
energi gamma yang dipancarkan optimal yaitu 159 keV. Ke-
untungan lain ialah mudah berikatan dengan antibodi, sehingga
sangat baik untuk menanda antibodi pada pelacakan kanker.
Selain radioisotop pemancar gamma, radioisotop pemancar
positron juga mulai dikenal pemakaiannya. Untuk imaging
digunakan alat positron emission tomography (PET). Dalam
diagnosis, banyak digunakan gas radioaktif pemancar positron
umur pendek, yaitu antara lain untuk mengamati berbagai pe-
nyakit dan kelainan pada pernafasan, serta sistem sirkulasi
cairan tubuh. Gas rádioaktif tersebut O-15, C-11 dan N-13
yang dihasilkan dari siklotron dengan umur paruh masing-
masing 2, 20 dan 10 menit. Sebagai contoh, C
15
O
2
dan
11
CO
atau C
15
O digunakan untuk mempelajari fungsi paru. Hal lain
yang dapat dipelajari adalah gambaran metabolisme serta
konsumsi oksigen dalam otak dan jantung.
Perkembangan dalam kedokteran nuklir ditunjang pula oleh
penemuan di bidang bioteknologi antara lain ditemukannya
teknologi hibridoma untuk memproduksi berbagaijenis antibodi
klon tunggal atau monoclonal antibody (MAb), terutama untuk
diagnosis dan terapi penyakit kanker. Dalam penggunaannya di
bidang kedokteran nuklir, terutama untuk diagnosis dan terapi,
antibodi klon tunggal harus ditanda dengan isotop radioaktif.
Prinsip penggunaan teknik ini cukup sederhana. MAb terhadap
tumor ganas tertentu yang bertanda radioaktif pemancar sinar
Cermin Dunia Kedokteran No. 102, 1995
58
gamma (misalnya
123
I), bila disuntikkan ke dalam tubuh pasien
yang diduga menderita tumor tersebut, akan terbawa oleh aliran
darah dan akhirnya terakumulasi pada jaringan tumor. Dalam hal
ini, antibodi anti tumor berikatan secara spesifik dengan jaringan
tumor yang berfungsi sebagai antigen. Oleh karena antibodi yang
digunakan monospesifik, maka antibodi yang disuntikkan hanya
akan terakumulasi padajaringan tumor, tidak terjadi penyebaran
keradio aktifan padajaringan lain. Dengan teknik imaging nuklir,
lokasi tumor dengan metastasisnya dapat diamati secara jelas,
tanpa harus melakukan biopsi atau cara lain. Jika yang dikaitkan
dengan AbM tadi suatu pemancar sinar alfa yang jarak tempuh-
nya pendek dan dipilih yang mempunyai linear energy transfer
(LET) yang tinggi, maka pengumpulan antibodi juga dibantu
oleh penyembuhan lewat penyinaran (radioterapi). Teknik lain
yang menggunakan MAb adalah Boron Neutron Capture Therapy.
Pertama-tama pasien disuntik dengan konyugat boron-MAb
setelah boron-MAb terlokalisasi dalam sel kanker, kemudian
daerah tumor tersebut diiradiasi dengan netron lambat yang ber-
energi sangat rendah (sekitar 0,025 eV). Reaksi nuklir
(10)
B(n,)
7Li di dalam sel tumor, dapat diatur sedemikian agar radiasi
yang dihasilkan merupakan dosis terapi bagi sel tumor, tetapi
paparan radiasi pada jaringan sel normal tetap sangat kecil.
Penggunaan radioisotop dalam kedokteran nuklir juga sangat
bermanfaat dalam diagnosis yang dilakukan di luar tubuh atau
diagnosis in vitro, setelah ditemukannya teknik radioimmuno-
assay (RIA) pada tahun 1977. Teknik RIA adalah suatu teknik
penentuan berdasarkan reaksi imunologi yang menggunakan
tracer radioaktif. Teknik ini merupakan perpaduan antara dua
keampuhan metode penentuan. Pertama, penggunaan teknik
nuklir. Pengukuran radioaktivitas memberikan kepekaan dan
ketelitian yang tinggi, serta tidak terpengaruh oleh faktor-faktor
lain yang terdapat dalam sistem. Kedua, berdasarkan reaksi
imunologi yaitu terjadinya komplek antara dua senyawa kom-
plementer antigen dan antibodi, yang berlangsung secara sangat
spesifik. Karena sifat kerja antiserum yang sangat spesifik tadi,
maka adanya senyawa-senyawa lain dalam sistem reaksi dalam
ribuan sampai jutaan kali sekalipun, tidak akan mempengaruhi
reaksi. Mudah dipahami bila penggabungan antara pengukuran
radioaktivitas dan kespesifikan reaksi imunologi menghasilkan
penentuan yang sangat sensitif dan spesifik, sehingga sanggup
mengukur senyawa tertentu dalam orde pikogram (10
-12
gram)
bahkan sampai orde pentogram (10
-15
gram) untuk setiap 1 ml
contoh.
Sebelum penentuan secara radioimunologi ditemukan, peng-
ukuran senyawa bioaktif berkadar rendah dalam cairan tubuh,
seperti hormon, vitamin, enzim, protein dan antigen, ditetapkan
dengan metode biologi (bioassay) dan kimia. Baik pada penetap-
an dengan metode biologi maupun kimia, diperlukan contoh
darah/serum atau cairan tubuh lain, dalam jumlah yang cukup
banyak. Selain itu, diperlukan pemisahan dan pemurnian sebe-
lum pengukuran, tetapi jenis senyawa yang dapat ditentukan
tetap terbatas. Sering kali kelainan tidak terdiagnosis karena
batas deteksi pengukuran yang tinggi. Hingga kini ketelitian pe-
nentuan in vitro secara radioimunologi, belum tertandingi oleh
metode apapun, serta telah banyak membantu dalam diagnosis
secara dini berbagai penyakit yang disebabkan oleh kelainan
hormonal, kanker, terkena racun dan infeksi.
Prinsip kerjanya sederhana adalah sebagai berikut:
Ag +
Ab >
komplek AgAb.
Dalam reaksi ini, senyawa yang hendak ditentukan adalah
antigen. Agar reaksi ini dapat dilacak, maka dimasukkan suatu
senyawa penanda yang dapat diukur secara kuantitatif, yaitu
radioisotop misalnya 1-125. Penandaan dapat diberikan pada
antigennya, atau pada antibodinya. Antigen yang terdapat dalam
cairan tubuh dapat ditentukan karena adanya reaksi kompetisi
antara Ag/Ab dengan Ag/Ab bertanda untuk membentuk kom-
plek Ag-Ab, yaitu dengan jalan mengukur Ag/Ab bertanda yang
tidak berikatan membentuk komplek atau yang bebas dengan
pencacah gamma.
TELETERAPI
Teleterapi adalah perlakuan radiasi dengan sumber radiasi
tidak secara langsung berhubungan dengan tumor. Sumber
radiasi pemancar gamma seperti Co-60 pemakaiannya cukup
luas, karena tidak memerlukan pengamatan yang rumit dan
hampir merupakan pemancar gamma yang ideal. Sumber ini
banyak digunakan dalam pengobatan kanker/tumor, dengan jalan
penyinaran tumor secara langsung dengan dosis yang dapat
mematikan sel tumor, yang disebut dosis letal. Kerusakan terjadi
karena proses eksitasi dan ionisasi atom atau molekul.
Pada teleterapi, penetapan dosis radiasi sangat penting,
dapat berarti antara hidup dan mati. Masalah dosimetri ini di-
tangani secara sangat ketat di bawah pengawasan Badan Inter-
nasional WHO dan IAEA bekerjasama dengan laboratorium-
laboratorium standar nasional.
STERILISASI ALAT KEDOKTERAN
Alat/bahan yang digunakan di bidang kedokteran pada
umumnya harus steril. Banyak di antaranya yang tidak tahan
terhadap panas, sehingga tidak bisa disterilkan dengan uap air
panas atau dipanaskan. Demikian pula sterilisasi dengan gas
etilen oksida atau bahan kimia lain dapat menimbulkan residu
yang membahayakan kesehatan. Satu-satunya jalan adalah ste-
rilisasi dengan radiasi, dengan sinar gamma dan Co-60 yang
dapat memberikan hasil yang memuaskan. Sterilisasi dengan
cara tersebut sangat efektif, bersih dan praktis, serta biayanya
sangat murah. Untuk transpiantasi jaringan biologi seperti tulang
dan urat, serta amnion chorion untuk luka bakar, juga disterilkan
dengan radiasi.
PENUTUP
Dapat dikemukakan bahwa teknik nuklir sangat berperan
dalam penanggulangan berbagai masalah kesehatan manusia.
Banyak masalah yang sebelumnya dengan metode konvensional
tidak terpecahkan, dengan teknik nuklirdapatterpecahkan. Yang
terpenting adalah kemajuan-kemajuan baik di bidang diagnosis
maupun terapi haruslah ditujukan untuk keselamatan, kemu-
dahan, kesembuhan dan kenyamanan pasien. Dengan kemajuan
iptek di bidang instrumentasi nuklir, bioteknologi dan produksi
isotop umur pendek yang menguntungkan ditinjau dan segi
Cermin Dunia Kedokteran No. 102, 1995 59
medik dan pendeteksian/pengukuran; diharapkan bahwa ha-
rapan hidup yang lebih nyaman dan panjang bagi mereka yang
terkena penyakit dapat tercapai.
KEPUSTAKAAN
1. Ganatra R, Noval M. Promoting nuclear medicine in developing countries,
Bul IAEA 1986; 28(2): 5.
2. Yalow RS. Radioimmunoassay for the developing countries. In: Nuclear
Medicine and Related Radionuclide Applications in Developing Countries.
Proc. Symposium Vienna, 1985. Vienna: IAEA 1988; 12.
3. Keenan AM, Habari IC, Larson SM. Monoclonal antibody in nuclear medi
cine, J Nuci Med 1985; 26: 531.
4. Stubbs JB, Wilson LA. Nuclear medicine: a state-of-the-art review.
Nuclear News, 1991; 34(7): 50.
Cermin Dunia Kedokteran No. 102, 1995
60