OBSTETRI
ONCOLOGI
ABSTRAK ABSTRAK
ABORTUS DI AMERIKA
Pada tahun 1974 di 50 distrik dari negara bagian Columbia (Amerika) telah dilapor-
kan 763476 abortus legal. Suatu peningkatan 24 % dibanding tahun 1973. Ratio abor-
tus meningkat 23 % dari 196 per 1000 kelahiran hidup pada tahun 1973 menjadi 242
pada tahun 1974. Jadi kira-kira satu abortus setiap empat kelahiran hidup. Angka rata-
rata abortus nasional meningkat dari 14 abortus per 1000 wanita dengan umur 15-44
tahun (pada tahun 1973) menjadi 17 pada tahun 1974, suatu kenaikan 21 %.
Abortus yang terjadi pada tahun 1974 condong pada wanita-wanita yang berumur
muda, tidak menikah, paritas rendah dan pada saat abortus dilakukan umur kehamil-
an adalah muda. Enam puluh lima persen dari wanita-wanita tersebut berumur diba-
wah 25 tahun. Tujuh puluh persen adalah golongan kulit putih serta 30 % golongan
kulit hitam dan ras lain. Tujuh puluh tiga persen dari wanita-wanita tersebut tidak me-
nikah dan hanya 27 % yang menikah. Empat puluh delapan persen tidak mempunyai
anak, 20 % mempunyai satu anak hidup dan hanya lima persen yang mempunyai lima
anak hidup atau lebih. Suction curettage merupakan prosedur yang paling banyak di-
gunakan, dimana 77 % dari seluruh abortus yang dilakukan merupakan suction curetta-
ge, 12 % curettage biasa, delapan persen uterine saline instillation dan hanya satu per-
sen perlaparotomia: Delapan puluh tujuh persen dari abortus yang dilakukan, umur
kehamilan adalah 12 minggu.
U S Dept of Health :
Abortion Surveillance 1974. (issued
April 1976).
KANKER V S VITAMIN B
6
Sepuluh tahun terakhir ini penelitian penyakit kanker maju dengan pesat
sekali berbagai penemuan dari berbagai pusat penelitian telah diperoleh dan banyak
yang berguna dalam penanggulangan penyakit kanker. Akan tetapi masih saja banyak
masalah-masalah yang belum terpecahkan.
Dibawah ini satu lagi penemuan baru tentang penyakit kanker yang dilapor-
kan oleh peneliti dari University of Wisconsin.
RAYMOND
BROWN melaporkan bahwa vitamin B
6
dapat menekan penyebaran
dari kanker kandung kencing. Ia meneliti 121 penderita (kanker kandung kencing),
yang belum penyebar ke bagian tubuh lain dengan memberikan vitamin B6. Penelitian
ini didasarkan atas laporan dari National Cancer Institut yang mengatakan bahwa vita-
min B
6
mempunyai efek yang
sama dengan Thiotepa. Akan tetapi hasilnya masih
bersifat tentatip. BROWN berspekulasi bahwa adanya zat penyebab kanker dalam tubuh
dapat diturunkan kadarnya dengan pemberian vitamin B
6
. Dia mengatakan bahwa
vitamin B
6
dapat memperkuat sistem immun dalam tubuh.
Pada saat yang hampir bersamaan pula
DAVID
ROSE juga dari University of
Wisconsin mendapatkan bahwa penderita kanker payu dara mempunyai kadar vitamin
B
6
dalam darah yang rendah. Ia mengatakan bahwa suplemen vitamin B
6
akan me-
nekan onset dari kanker payu dara, akan tetapi bila kanker ini sudah timbul maka
vitamin B
6
dalam dosis yang lebih tinggi lagi dibutuhkan dalam diet penderita. Pe-
nelitian mengenai efektivitas vitamin B
6
terhadap penyakit kanker masih terus di
lakukan.
Penelitian ROSE menunjukkan adanya kadar vitamin B
6
yang rendah dalam
darah penderita kanker walaupun ia mendapat vitamin B
6
dalam dosis yang cukup.
Ia menduga bahwa para penderita kanker mempunyai sejenis enzym yang dapat me-
rusak vitamin B
6
yang beredar dalam darah. Penurunan kadar vitamin dalam darah
juga dapat mempengaruhi sistem immun dalam tubuh.
Inside R D 7 (4),
Januari
1978.
Cermin Dunia Kedokteran No: 12, 1978
45
GERONTOLOGI
ORTHOPAEDI
ONCOLOGI
MASALAH USIA LANJUT
Pada suatu seminar yang diadakan di Stanford, dikemukakan bahwa Life expectan-
cy penduduk dunia diperkirakan 71 tahun untuk Amerika dan 45 tahun untuk Afrika/
Asia, angka ini dipengaruhi oleh keadaan nutrisi, penyakit-penyakit infeksi dan sebab-
sebab lain yang masih banyak terjadi di Asia dan Afrika.
Diperkirakan jumlah populasi yang berumur lebih dari 65 tahun pada tahun 1970
adalah 9,9 % dan pada tahun 2000 akan menjadi 10% serta 13 % pada tahun 2020.
Pada populasi yang berumur kurang dari 30 tahun, sebab kematian utama adalah ke-
celakaan lalu lintas. Sesudah umur 65 tahun, sebab kematian utama adalah penyakit
cardiovaskuler dan cerebrovaskuler (65%). Tiga puluh delapan persen dari populasi
dengan umur lebih dari 65 tahun mendapat pembatasan dari aktifitas sehari-hari,
16% tidak sanggup melaksanakan aktifitas sehari-hari. Sebab dari pembatasan aktifitas
tersebut adalah : penyakit jantung (21%), arthritis dan rheumatik (21%), gangguan
penglihatan (7%), hypertensi tanpa kelainan jantung (6%) dan gangguan mental (3 %).
Dengan meningkatnya Life expectancy pada masa-masa yang akan datang mungkin
para dokter akan dibebani masalah baru yang banyak hubungannya dengan usia lanjut.
EBAUGH: Geriatrics 32 : 39-42, 1977:
FIKSASI 1NTERNA PADA FRAKTURA PERTROCHANTERICA
Pada fraktura pertrochanterica sering ditemukan banyak kesulitan pada waktu
operasi, disamping itu juga sering dijumpai kesulitan pada masa post operasi serta
rehabilitasi penderita-penderita tersebut.
POIGENFURST
SCHNABL
melaporkan 266 penderita dengan fraktura pertro-
chanterica yang dioperasi dengan memakai intermedullary multiple nailling sebagai
fiksasi interna: Hasil yang didapat adalah : 50% dari
penderita sudah dapat berja-
lan pada minggu pertama post operasi. Hanya 63 penderita yang belum dapat berjalan
waktu dipulangkan: Seratus sebelas penderita (48%) tidak perlu lagi dibantu untuk ak-
tifitas hariannya pada minggu ke tiga post operasi. Sebagian besar penderita dipulang-
kan pada minggu ke dua post operasi (156 orang). Mortalitas adalah 11% dan kompli-
kasi post operasi adalah rendah.
POIGENFURST SCHNABL Injury 9 : 102-113, 1977
ANTIGEN CARCINOEMBRIONIC SEBAGAI INDIKATOR
ADANYA KEGANASAN
Para peneliti terdahulu mengatakan bahwa kenaikan dari antigen carcinoembrionic
dalam plasma merupakan gejala klinik yang dapat dipakai untuk menemukan kanker
saluran pencernaan. Akhir-akhir ini ternyata antigen carcinoembrionic juga dijumpai
dalam plasma dari penderita-penderita tumor ganas dari paru, mamma, cervix, ovarium
uterus, vulva, ginjal, kandung kencing, pancreas dan sebagainya.
NYSTROM
et al menyelidiki plasma dan cairan effusion dari 141 penderita. Cairan
effusion yang diperiksa adalah yang bera sal dari cairan ascites dan cairan pleura. Dari
penelitian ini didapatkan bahwa titer antigen carcinoembrionic dari cairan effusion
yang lebih besar atau sama dengan 10 ng/ml (5,0--9, 9 ng/ml).
Dan adanya cairan effusion yang mempunyai titer dua kali titer carcinoembrionic anti-
gen dalam plasma, menunjukkan adanya keganasan. Dikatakan bahwa untuk membe-
dakan sebab dari effusion apakah karena proses keganasan atau bukan perlu adanya
perbandingan antara titer plasma carcinoembrionic antigen dengan titer carcinoembrio-
nic antigen dalam
cairan effusion.
NYSTROM et
al.Arch Intern Med 137 : 875-879, 1977.
4 6
Cermin Dunia Kedokteran No: 12, 1978
I MUNOLOGI
ORTHOPAEDI
AKUPUNKTUR
SPLENECTOMY DAN RESPONS TERHADAP IMMUNITAS
Infeksi post splenectomy banyak sekali terjadi dan sering juga menimbulkan kema-
tian: Sudah diketahui adanya hubungan yang bermakna antara kematian dan hilangnya
fungsi limpa ini. Tetapi infeksi post splenectomy lebih sering terjadi pada penderita
dengan kelainan immunologik serta kelainan system reticulo endothelial, dari pada
penderita yang mengalami splenectomy akibat ruptura traumatika.
SULLIVAN
et al meneliti 31 penderita asplenia dimana sembilan penderita beru-
mur antara empat sampai 37 tahun disebabkan ruptura traumatika; enam penderita
berumur tujuh sampai 49 tahun dengan spherositosis congenital; empat penderita ber-
umur empat sampai 33 tahun dengan idiopatik thrombocytopenic purpura (1 T P);
lima penderita berumur antara 13-16 tahun dengan penyakit Hodgkin dan satu pende-
rita berumur tujuh tahun dengan hypertensi portal. Interval antara penelitian dengan
waktu splenectomy adalah antara dua minggu sampai 31 tahun.
SULLIVAN
memakai bacteriophag O X 174 trideca valent pneumococ polysaccha-
ride vaccine dalam penelitian ini: Pada penelitian ini ternyata semua penderita asplenia
tersebut, kecuali penderita dengan penyakit Hodgkin, memperlihatkan conversi dari
sera respons yang bermakan terhadap pneumococal polysaccharide antigen.
Oleh karena sebagian besar dari kasus infeksi post splenectomy disebabkan oleh
streptococcus pneumoniae, maka semua penderita baik dengan anatomical asplenia
maupun fungsional asplenia dianjurkan untuk mendapat vaccin pneumococcal poly-
saccharide ini.
SULLIVAN et alLancet I: 178-181, 1978
.
RUPTUR SPONTAN MUSCULUS GASTROCNEMIUS
Ruptur spontan dariM gastrocnemius sering terjadi pada pemain tenis dan disebut se-
bagai
tennis leg
.
Hal ini terjadi karena perubahan posisi kaki yang tiba-tiba, dari plantar-
fleksi ke dorso-fleksi dengan lutut dalam keadaan ekstensi penuh.
DURIG
et al melaporkan 19 penderita dengan ruptura spontan musculus gastroc-
nemius dimana 12 penderita mendapat pengobatan secara operatif dan sisanya diobati
secara konserfatif. Dikatakan bahwa penderita yang mendapat pengobatan operatif
mendapat hasil yang lebih baik dari pada penderita yang mendapat pengobatan konser-
fatif. Terutama untuk orang muda atau atlit . Enam sampai tujuh minggu sesudah ope-
rasi, penderita sudah dapat berjalan kembali sedang pada golongan yang mendapat pe-
ngobatan konserfatif membutuhkan waktu yang lebih lama.
D RIG
Injury 9 :
143-145, 1977
AKUPUNKTUR PADA GASTROSCOPY
Analgesia dengan akupunktur sering dibicarakan dan sampai saat ini masih banyak
perdebatan mengenai hal ini. Malah beberapa golongan ahli masih belum mau meneri-
ma akupunktur ini sebagai ilmu. Untuk membuktikan kebenaran dari pada akupunktur
analgesia
CAHN
et al mengadakan penyelidikan pada penderita yang dilakukan gas-
troscopy.
Sembilan puluh penderita dengan keluhan nyeri lambung kronik dibagi dalam dua
kelompok, pada 45 penderita dilakukan gastroscopy dengan memakai teknik akupunk-
tur yang sesungguhnya. Kelompok kedua dilakukan gastroscopy dengan memakai teh-
nik akupunktur yang palsu (akupunktur placebo). Semua penderita berumur lebih dari
15 tahun. Dikatakan bahwa penderita-penderita yang mendapat akupunktur yang se-
sungguhnya, gastroscopy dapat dilakukan tanpa banyak kesulitan. Juga didapatkan
perbedaan yang bermakna antara golongan yang mendapat akupunktur analgesia de-
ngan golongan yang mendapat placebo akupunktur.
CAHN et
al Lancet
I: 182-183, 1978.
Cermin Dunia Kedokteran No
. 12, 1978
47