background image
330
cdk vol. 34 no. 6/159 Nov - Des 2007
Dr. Retno Iswari Trang-
gono, SpKK :
Pelopor Medicated
Cosmetic Indonesia
Oleh Ari Satriyo Wibowo
Hidup dr. Retno Iswari Tranggono, SpKK tampaknya sudah
digariskan untuk menjaga tradisi kosmetika yang aman bagi
bangsa Indonesia. Ketika pada 1970-an Indonesia diban-
jiri produk-produk kosmetik dari China, Taiwan dan Thailand,
sebagai dokter ia melihat produk-produk itu meracuni banyak
orang. Ia pun melapor ke Departmen Kesehatan. Ia mengkritik
mengapa komposisi produk tidak dicantumkan dalam kemasan.
Setahun kemudian setelah diteliti di ITB dan Batan ternyata
produk-produk tersebut mengandung merkuri yang berbahaya
untuk otak, ginjal dan hati.
Dr. Retno pun sering menyaksikan bahwa kosmetik yang
dipakai bukanlah untuk mempercantik wajah melainkan meru-
sak kulit pasiennya. Hal ini disebabkan oleh ketidakpahaman
produsen saat itu pada kaidah-kaidah kesehatan dan lingku-
ngan alam serta ketidaktahuan masyarakat pada umumnya.
Berangkat dari kondisi tersebut dr. Retno terpanggil untuk me-
ngatasi masalah tersebut melalui tiga cara. Pertama, membuat
kosmetik yang sesuai dengan kulit tropis Asia, yang kemudian
menjadi inspirasi lahirnya perusahaan Ristra yang dimilikinya.
Kedua, mengabdi ke berbagai lembaga pemerintahan untuk
membenahi tata kosmetik di Indonesia. Ketiga, mendorong ke-
sadaran masyarakat Indonesia untuk memahami kecantikan
ilmiah jangka panjang.
Kecintaannya pada dunia kecantikan itulah yang membuat dr.
Retno langsung berjuang untuk mendirikan jurusan yang khu-
sus menangani masalah kosmetik dan kecantikan usai lulus
dari program spesialis pada 1968. Beruntung, ia memperoleh
dukungan dari Kepala Bagian Kulit dan Kelamin, Prof. Dr. M
. Djoewari. "Kalau kamu yakin ilmu itu diminati oleh para dok-
ter dan masyarakat juga membutuhkan, dirikan bagian itu," ujar
bosnya itu memberikan semangat kepada dr. Retno.
Akhirnya, 1 April 1970, Sub Bagian Kosmetik dan Bedah Ku-
lit (sekarang disebut Kosmeto-Dermatologi) diresmikan dan dr.
Retno diangkat sebagai kepalanya. Diubahnya paradigma se-
hingga penekanan yang semula pada bagian kulit dan kelamin
beralih ke kulit dan kosmetik. Serta merta kemudian jurusan
itu menjadi jurusan favorit. Sebab mulai saat itu banyak pasien
yang membutuhkan perawatan estetik yang kemudian mendo-
rong banyak dokter menekuni bidang tersebut.
Padahal, sebelum dr. Retno menciptakan terobosan itu jurusan
kulit dan kelamin bukanlah termasuk jurusan yang "luhur" dan
"lahan basah". Dokter kulit dan kelamin di masa itu malahan lazim
dinobatkan sebagai "dokter kere". "Para dokter enggan masuk
ke jurusan itu karena ada embel-embel kelaminnya. Maka keti-
ka saya masuk ke jurusan itu saya pun diterima dengan tangan
terbuka. Pada waktu itu yang wanita hanya 3 orang, termasuk
saya, " ujar dokter kelahiran Jakarta, 17 November 1939 itu.
Setelah cukup lama berpraktik sebagai dermatolog, semakin
jelas bagi dr. Retno bahwa terapi perawatan kulit yang selama
ini diterapkan di Indonesia menimbulkan masalah. Selain pola
terapi berdasarkan pengetahuan warisan zaman kolonial, dunia
farmasi juga belum menunjang. Produk obat tidak banyak terse-
dia. Kalau pun ada, produk impor itu belum tentu cocok dengan
kulit wanita tropis. Pendeknya malah menimbulkan masalah.
Obat jerawat yang tersedia sama sekali tidak ampuh.
"Di situ saya bertanya bagaimana cara mereka membersihkan
muka. Mereka tak pernah mengenal sabun untuk membersihkan
muka karena dilarang oleh para beautician. Sedangkan bila pergi
ke dokter diminta menghentikan pemakaian kosmetik dan disuruh
pergi ke salon," ujar wanita yang dikaruniai 3 anak dan 6 cucu itu.
Di salon pun praktiknya juga salah. Di sana tidak boleh meng-
gunakan sabun. "Karena itu ajaran Belanda untuk iklimnya yang
dingin dan kering. Jadi muka tidak boleh dibasuh tetapi malahan
diberi minyak. Di alam tropis kalau diberi minyak dan ditutup bedak
maka jerawat muncul dengan meriah," dr. Retno menambahkan.
Menurut Retno ada 4 faktor yang mempengaruhi hasil pe-
makaian kosmetik pada kulit yang akan memberikan hasil posi-
tif yang menguntungkan kulit atau hasil negatif yang merugikan
kulit. Keempat faktor itu adalah faktor manusia, faktor kosmetik,
faktor lingkungan dan interaksi ketiga faktor tersebut. Pengeta-
huan ini dinamakan dr. Retno sebagai The Science of Beauty.
Faktor manusia, misalnya, berupa perbedaan ras warna kulit
Asia yang coklat dan Eropa (Kaukasia) yang putih serta pan-
dangan mengenai kecantikan (aesthetic behaviour) yang berbe-
da menyebabkan efek kosmetik yang berbeda pula. Kurangnya
pengetahuan akan seluk beluk kosmetik dapat menimbulkan
kesalahan dalam pemakaian kosmetik.
Faktor kosmetik, misalnya, bahan baku tidak berkualitas tinggi,
formulasi tidak sesuai dengan jenis kulit dan lingkungan dan
prosedur pembuatan yang tidak canggih dan higienis dapat me-
nimbulkan iritasi, alergi, jerawat dan bersifat racun pada kulit.
Sedangkan yang ketiga adalah faktor lingkungan. Di negara-
negara tropis seperti Indonesia, kondisi matahari yang bersinar
terik praktis sepanjang hari sepanjang tahun menyebabkan
kulit lebih berkeringat dan berminyak. Karena itu, jika kosme-
tik pelembab (moisturizer) yang lengket berminyak untuk kulit
orang Eropa yang kering di iklim musim dingin digunakan oleh
orang Asia, kosmetik ini dapat merangsang terjadinya jerawat
(acnegenic). Begitu pula tabir surya yang mengandung PABA
(Para Amino Benzoic Acid) yang populer untuk mencoklatkan
kulit di Eropa, di Indonesia tidak disukai karena PABA bersifat
photosensitizer jika terkena sinar matahari terik.
Adapun faktor keempat adalah interaksi dari ketiga faktor terse-
but yakni manusia, kosmetik dan lingkungan.
Ketika remaja dulu Retno pernah terganggu masalah jerawat.
Begitu juga ketika menjadi mahasiswi tingkat awal FKUI se-
hingga sempat memperoleh julukan "janda bopeng". Oleh kare-
na itu, ketika menjadi staf pengajar di FKUI dr. Retno pun me-
nyiapkan disertasi meraih gelar doktor dengan tema jerawat.
"Kasus sudah saya kumpulkan, " ujar wanita yang tampak awet
muda di usianya yang ke-68.
Tetapi, pada 1983 Retno seolah tiba di persimpangan jalan
Qspgjm