background image
322
cdk vol. 34 no. 6/159 Nov - Des 2007
Pendekatan baru penanganan anemia
Para peneliti dari Universi-
tas Kalifornia, San Diego
(UCSD) telah menemukan
kunci mekanisme bagaima-
na tubuh mengatur me-
tabolisme zat besi, sebuah
temuan yang menghasil-
kan pendekatan baru bagi
terapi anemia. Temuan
yang dilaporkan dalam
publikasi online
The Jour-
nal of Clinical Investigation,
edisi Juli 2007, merupakan
usaha kolaborasi Randall
Johnson, Ph.D., profesor
biologi dari UCSD dan Vic-
tor Nizet, MD., profesor pe-
diatri dan farmasi di UCSD
School of Medicine dan
Scaggs School of Phar-
macy and Pharmaceutical
Sciences.
Zat besi adalah bahan esensial bagi
sejumlah proses biologis normal,
termasuk produksi sel darah merah
yang menghantarkan oksigen ke
dalam jaringan tubuh. Dengan mem-
pelajari pengaturan zat besi dan
produksi sel darah merah tikus, para
ahli mengungkapkan hubungan an-
tara sepasang protein yang memain-
kan peran sentral dalam memantau
hormon yang disebut
hepcidin.
Hormon hepcidin adalah sebuah pep-
tida atau protein kecil yang dihasilkan
di hati dan mengatur kadar zat besi
dalam tubuh.
Hepcidin mencegah tu-
buh menyerap zat besi berasal dari
makanan atau suplemen lebih dari
yang diperlukan dan menahan pe-
ngambilan zat besi dari sel-sel.
Pasien dengan kanker, inflamasi kro-
nik dan infeksi sering mengandung
kadar
hepcidin tinggi, yang menu-
runkan persediaan zat besi. Kon-
sekuensinya, pasien-pasien ini men-
derita anemia karena produksi sel
darah merah yang rendah.
Untuk merespon anemia dengan te-
pat, tubuh harus menurunkan
hep-
cidin agar dapat meningkatkan pe-
nyerapan zat besi yang diperlukan.
Sampai saat ini, para peneliti tidak
memahami dengan jelas mekanisme
kerja hepcidin.
Tim peneliti UCSD menemukan
bahwa protein yang dikenal sebagai
hypoxia-inducible transcription factor
(HIF) berperan kritis dalam menga-
tur harmoni respon
hepcidin dalam
hati. Sebaliknya, kadar HIF diatur
oleh aksi protein lain yang dikenal se-
bagai faktor
von-Hippel Lindau (vHL).
Faktor vHL bekerja menurunkan ka-
dar HIF saat oksigen tinggi atau zat
besi melimpah.
Penelitian sebelumnya menunjukkan
bahwa HIF bertanggung jawab men-
stimulasi eritropoietin (EPO), hormon
yang menginstruksikan sumsum tu-
lang belakang untuk menghasilkan
sel-sel darah merah baru. Tim UCSD
juga mengamati bahwa HIF juga se-
cara kuat menghambat produksi
hep-
cidin di dalam hati.
Carole Peyssonnaux, Ph.D., pimpi-
nan dan peneliti pendahulu bersama
Nizet dan Johnson, mengatakan bah-
wa temuan ini menunjukkan peranan
sentral protein vHL dan HIF dalam
mengatur kadar zat besi. Pada ane-
mia, tubuh merespon rendahnya zat
besi dan kadar oksigen dengan me-
ningkatkan HIF, yang menekan
hep-
cidin dan memacu EPO untuk meng-
hasilkan zat besi dan sel-sel darah
merah baru untuk memperbaiki ma-
salah.
Yang penting, para ahli mengamati
bahwa HIF mampu menekan hepci-
din walaupun pada tikus yang men-
derita perubahan inflamasi. Nizet
mengatakan, temuan kunci ini me-
nyarankan strategi terapi obat baru
untuk memacu HIF atau mengham-
bat vHL yang dapat menormalkan
kadar hepcidin tinggi pada penderita
infeksi kronis atau penyakit inflamasi
yang anemis.
Sumber : Journal of Clinical Investigation,
edisi online Juli 2007
.
Berita Terkini