320
cdk vol. 34 no. 6/159 Nov - Des 2007
Merokok, rendahnya tingkat pendidikan dan toleransi
glukosa meningkatkan risiko rheumatoid arthritis
Data baru yang dipresentasi-
kan di EULAR 2007,
the An-
nual Congress of Rheuma-
tology di Barcelona, Spanyol,
menyoroti peranan faktor
risiko lingkungan dan gene-
tik dalam
rheumatoid arthritis
(RA). Dua studi baru yang
dilakukan oleh tim Swedia
telah mengidentifikasi mero-
kok, rendahnya tingkat pen-
didikan formal dan indika-
tor metabolisme tertentu
sebagai faktor risiko penting
dalam perkembangan RA.
Temuan ini bermakna untuk
memahami lebih baik faktor
risiko RA dan dapat berkon-
tribusi untuk pencegahan
dan penanganan penyakit ini
di masa depan.
Studi pertama menunjukkan bahwa
merokok dan rendahnya tingkat pen-
didikan formal, seperti pendidikan
sekolah dasar saja vs. status lulusan
S1, dapat meningkatkan risiko RA
secara independen.
Studi ke dua hampir serupa men-
yoroti kaitan antara merokok dan RA,
tapi berlawanan dengan sebelumnya
yang mencatat hubungan antara RA
dengan inflamasi aktif dan gang-
guan toleransi glukosa, mengamati
bahwa toleransi glukosa lebih baik
merupakan prediktor RA. Dalam
model multivarian, diketahui kadar
glukosa rendah 120 menit setelah tes
toleransi glukosa oral dan merokok,
keduanya merupakan prediktor inde-
penden RA. Oleh karena itu, faktor-
faktor seperti diet dan genetik yang
mempengaruhi metabolisme dapat
berperan penting sebagai bagian
dalam penanganan RA.
Dr Ulf Bergstram pimpinan peneliti
kedua studi dari
Malmoe University
Hospital, Swedia, mengatakan "Fak-
tor penentu RA di setiap populasi
merupakan hal yang kompleks dan
seringkali tidak berkaitan. Kedua
studi ini membantu kita menambah
pengertian pada teka teki besar fak-
tor-faktor risiko penyakit otoimun,
yang mengenai kira-kira 1% orang
dewasa di seluruh dunia. Kami ber-
harap temuan ini berkontribusi un-
tuk pemahaman lebih baik dalam
pencegahan dan penanganan RA.
Meskipun temuan toleransi berlawa-
nan dengan studi sebelumnya yang
menghubungkan gangguan toleransi
terhadap RA, diduga ada mekanisme
lain yang mungkin penting beberapa
tahun sebelum
onset RA. Hasil ini
akan membuka jalan penelitian pe-
nyebab definitif di masa depan."
Kedua studi melibatkan 30.447 orang
dalam the
Malmoe Diet and Cancer
Study (MDCS) antara tahun 1991
dan 1996 dan 33.346 orang dalam
Preventive Medicine Program (PMP)
antara tahun 1974 dan 1992. Para
peneliti menguji faktor-faktor gaya
hidup menggunakan kuesioner swa
kelola dan penentuan toleransi glu-
kosa dan kadar lipid oleh profesional
kesehatan. Individu-individu yang
mengidap RA setelah partisipasi di
dalam survai kesehatan dibanding-
kan terhadap kontrol dari PMP dan
MDCS yang tidak mengalami RA,
dicocokkan menurut umur, jenis kela-
min dan tahun penapisan.
Sumber : EULAR 2007, the Annual Congress
of Rhematology
Berita Terkini