background image
312
cdk vol. 34 no. 6/159 Nov - Des 2007
Regulasi Siklus Sel: Kunci Sukses
Somatic Cell Nuclear Transfer
Ibssz!Nvsuj
2-3
-!!Bsjfg!Cpfejpop
3
-
!Cpfokbnjo!Tfujbxbo
2
-
!Gfssz!Tboesb
2
2
Ejwjtjpo!pg!Tufn!Dfmm-!Tufn!Dfmm!boe!Dbodfs!Jotujuvuf-!Kblbsub!24321-!Joepoftjb/
3
Mbcpsbupsz!pg!Fncszpmphz-!Gbdvmuz!pg!Wfufsjobsz!Nfejdjof-!Cphps!Bhsjdvmuvsbm!Vojwfstjuz-!Cphps!27791-!Joepoftjb/
ABSTRAK
Kebanyakan sel saat fase embrionik relatif berada pada kondisi membelah maupun persiapan untuk melakukan pembela-
han. Serangkaian proses yang meliputi penggandaan materi genetik (DNA) serta komponen sel lainnya, pembelahan inti
(karyokinesis), dan pembelahan sitoplasma (sitokinesis) disebut dengan siklus sel. Pemahaman terhadap regulasi siklus
sel merupakan poin penting dalam manipulasi dan rekayasa sel oosit maupun embrio, khususnya pada SCNT. Prinsip
transfer inti berkaitan erat dengan interaksi sitoplasma,
nuclear reprogramming
, dan efek siklus sel. Mayoritas proses
dalam siklus sel dikendalikan oleh interaksi protein
cyclin-dependent kinases
(Cdks). MPF telah diidentifi kasi sebagai
kompleks cyclin dan Cdk. Aktivitas MPF relatif tinggi saat sel oosit berada pada metafase II. Aktivitas MPF yang tinggi
saat dilakukan transfer inti dapat menyebabkan NEBD, PCC, dan reorganisasi sitoskleton. Mekanisme regulasi siklus
sel serta efek siklus sel donor dan resipien akan dibahas dalam artikel ini.
Kata Kunci: Siklus Sel, Transfer Inti Sel Somatis, MPF, cyclin, Cdk
Korespondensi:
Harry Murti. Division of Stem Cell, Stem Cell and Cancer Institute. Jl. Ahmad Yani No.2 (Bintang Toedjoe), Pulomas,
Jakarta 13210, Indonesia. hmurty@sci-indonesia.org
QFOEBIVMVBO
Siklus sel pada sel eukaryotik merupakan suatu taha-
pan kompleks meliputi penggandaan materi genetik, pe-
ngaturan waktu pembelahan sel, dan interaksi antara
protein dan enzim
1
. Siklus sel pada sel eukaryotik dapat
dibagi menjadi 4 tahap, yaitu: G
1
(
Gap
1), S (Sintesis),
G
2
(
Gap
2), dan M (Mitosis)
1,2
. Tahap G1 merupakan se-
lang antara tahapan M dengan S. Pada tahap ini sel terus
tumbuh dan melakukan persiapan untuk sintesis DNA. Sel
akan melakukan sintesis DNA dan terjadi proses replikasi
kromosom pada saat berada di tahap S
3,4
. Pada tahap G
2
,
sel yang telah mereplikasi kromosom akan menduplikasi
keseluruhan komponen seluler lainnya. Selain itu terjadi
pula sintesis mRNA dan beberapa protein tertentu
4
.
Secara umum tahap G
0
, G
1
, S, dan G
2
disebut juga se-
bagai tahap interfase
5
. Sedangkan pembelahan sel atau
sering disebut dengan tahap mitosis, terdiri dari empat
subtahapan, yaitu profase, metafase, anafase, dan telo-
fase
6
. Pada kondisi tertentu, sel-sel yang tidak mem-
belah, karena tidak berdiferensiasi, meninggalkan tahap
G
1
dan pindah ke dalam tahap G
0
. Sel-sel yang berada
dalam tahap G
0
sering disebut sedang beristirahat/ diam
(
quiescent
).
SFHVMBTJ!TJLMVT!TFM
Pada proses perkembangan sel dikenal beberapa tipe
siklus sel yaitu siklus sel embrionik, siklus sel somatis,
siklus endoreduplikasi, dan siklus sel miosis
7
. Masing-
masing tipe siklus sel mempunyai komponen protein dan
enzim yang berbeda dalam regulasi siklus sel. Dalam
artikel ini hanya akan dibahas regulasi pada siklus sel
embrionik dan sel somatis.
b/!!Qspufjo-!Fo{jn-!ebo!
Joijcjups
Enzim yang berperan secara dominan dalam regulasi sik-
lus pembelahan sel adalah MPF (
Maturation/ Meiosis/
Mitosis-Promoting Factor
)
8
, APC (
Anaphase-Promoting
Complex
)
7
dan CSF (
Cytostatic Factor
)
9
. Masing-masing
enzim mempunyai komponen protein dan
inhibitor
yang
spesifi k pada setiap tahap siklus pembelahan sel.
MPF merupakan suatu enzim heterodimer yang terdiri
dari p34
cdc2
sebagai suatu subunit katalitik dan cyclins
sebagai suatu subunit regulatorik. Cdk (
Cyclin depen-
dent kinase
) adalah nama lain dari p34
cdc2
; 34kDa. cdc2
merupakan gen siklus pembelahan sel yang mengkode
enzim Cdk pada siklus sel mamalia
6,10,11
. Cdk merupakan
protein kinase yang aktivitasnya diregulasi oleh keadaan
terfosforilasi pada saat berikatan dengan
cyclin
. Selama
siklus pembelahan sel, jumlah Cdk relatif sama, namun
jumlah
cyclin
bervariasi pada tiap tahapan
12
.
Pada keadaan
in vitro
, Cdk dapat memfosforilasi sejum-
lah protein yaitu
histone
H1,
nuclear lamins
, RNA
poly-
merase
II, p60src, antigen T, dan faktor elongasi
13
. Fos-
forilasi
histone
H
1
secara
in vitro
telah digunakan sebagai
dasar dalam teknik biokimia pada penentuan dan pengu-
kuran aktivitas enzim Cdk
14
. Pada keadaan
in vivo
, akti-
background image
cdk vol. 34 no. 6/159 Nov - Des 2007
313
Hbncbs!2/!Nflbojtnf!sfhvmbtj!tjlmvt!tfm!qbeb!ubibq!H
1
-!H
2
-!ebo!T.
Pada tahap G
0
sinyal faktor pertumbuhan ekstra seluler akan menginduksi
cyclin D, CDI, dan Cyclin E. Pada tahap G
1
serangkaian reaksi biokimia akan
membuat Rb terfosforilasi sehingga faktor transkripsi E2F terlepas dan aktif
menstimulasi sintesis protein tahap S.
Kedua CDI ini berikatan dengan
cyclin
D-Cdk4 tapi tidak
menghambat aktivitas kinasenya dan hasil penelitian
menunjukkan bahwa p21
cip1
dan p27
kip1
justru dibutuh-
kan untuk pembentukan dan impor
cyclin
D-Cdk4 oleh
inti. Kedua CDI tersebut efektif menghambat aktivitas cy-
clin E-Cdk2. Dengan demikian keberadaan protein CDI di
tahap G
1
adalah untuk memacu pembentukan kompleks
aktif
cyclin
D-Cdk4 dan pada saat bersamaan menunda/
menghambat aktivasi dari kompleks cyclin E-Cdk2
23
.
Protein Rb merupakan penghambat transkripsi, karena
keberadaannya menonaktifkan E2F yang berperan se-
bagai faktor transkripsi
7
. Setelah protein yang diperlukan
dalam tahap S dihasilkan dari transkripsi, maka
cyclin
D-Cdk4,
cyclin
D-Cdk6, dan
cyclin
E-Cdk2 akan bersama-
sama memfosforilasi protein Rb, p107 dan p130 men-
jadi tidak aktif sama sekali. Hal ini akan mengaktifkan
secara penuh proses transkripsi pada tahap S
23
. Den-
gan demikian sel tersebut telah memasuki tahap S pada
siklus sel. Pada sel mamalia jenis Cdk dan
cyclin
yang
ditemukan pada masa transisi tahap G
1
/S adalah Cdk2
(p33), Cdk4, Cdk6, serta
cyclin
A, D1, D2, D3, dan E
11
.
Pada tahap S, kompleks
cyclin
E-Cdk2 berperan mengini-
siasi replikasi DNA. Selain itu
cyclin
A-Cdk2 juga berpe-
ran dalam menginisiasi replikasi DNA secara lengkap dan
meningkatkan ekspresi histon dan beberapa gen/protein
yang akan dibutuhkan saat replikasi
23
.
Pada tahap G
2
, terjadi peningkatan sintesis
cyclin
B yang
akan mencapai tingkat konsentrasi maksimal pada saat
tahap M
6
. Pada sel mamalia jenis Cdk dan
cyclin
yang
ditemukan pada masa transisi tahap G
2
/M adalah Cdk1
(Cdc2) serta
cyclin
A, B1, dan B2
11
. Setelah tumbuh
dan menduplikasi komponen sel, maka sel akan melaku-
kan pembelahan menjadi dua sel anakan yang terjadi
pada tahap M.
Pada tahap M (profase, metafase, anafase, dan telofase),
defosforilasi dan aktivasi
cyclin
B-Cdk1 berpengaruh ter-
vasi Cdk akan memacu sel masuk ke dalam tahap M dan
menyebabkan pecahnya membran inti (NEBD=
Nuclear
Envelope Breakdown
)
15
, kromosom mengalami konden-
sasi16, penyusunan kembali sitoskeleton
17
, dan dup-
likasi
centrosome
18
. Aktivitas Cdk dikontrol oleh asosiasi
dengan cyclin, sintesis dan proteolisis oleh Cdk sendiri,
modifi kasi posttranslasi, dan interaksi dengan sejumlah
inhibitor
kinase alami (CDI=
Cyclin-dependent kinase In-
hibitor
). Faktor cekaman luar yang tinggi akan meningkat-
kan ekspresi CDI dan menyebabkan siklus sel terganggu/
terhenti
19
. Secara garis besar ada 2 golongan CDI, yaitu:
golongan Ink4 (p15, p16, p18, p19) dan golongan Cip/
Kip (p21
cip1
, p27
kip1
, p57
kip2
)
23
.
APC merupakan suatu
multi-subunit
ubiquitin ligase
yang berperan dalam regulasi transisi pada siklus sel.
APC tersusun oleh protein yang berasosiasi salah satu
atau kedua aktivatornya yaitu: Cdc20 dan Cdh1, untuk
mengarahkan
polyubiquitylation
pada
securin, cyclin
, dan
regulator siklus sel lain yang akan didegradasi oleh pro-
teasome. Cdc20 merupakan substrat target pada awal
mitosis, sedangkan Cdh1 merupakan substrat target
pada akhir mitosis dan selama memasuki tahap G
1
9
.
c/!!Nflbojtnf!Sfhvmbtj
Pada umumnya sel-sel eukaryotik yang telah menyele-
saikan pembelahan pada tahap M akan masuk ke dalam
tahap G
1
untuk kembali melakukan pembelahan atau ma-
suk ke dalam tahap G
0
untuk beristirahat/ diam
20
. Sel
dapat keluar dari tahap G
1
dan masuk ke dalam tahap G
0
,
apabila berada dalam suatu kondisi tanpa faktor pertum-
buhan. Sel-sel yang dikultur pada medium sedikit kadar
serum tetap akan melakukan siklus sel G
1
-S-G
2
-M, na-
mun setelah keluar dari tahap M akan langsung masuk
ke tahap G
0
. Penambahan serum atau faktor pertumbu-
han akan menginduksi sel untuk masuk kembali ke siklus
sel sampai ke titik restriksi untuk proses berikutnya
22
.
Setelah melewati titik restriksi (protein Rb terfosfo-
rilasi), regulasi siklus sel tidak bergantung pada sinyal
ekstraselular
21,23
.
Sel yang berada di tahap G
0
yang distimulus dengan fak-
tor pertumbuhan untuk masuk ke dalam G
1
, pada awal-
nya akan mengekspresikan
cyclin
D. Kemudian
cyclin
D
akan berikatan dengan Cdk4 dan Cdk6. Kompleks Cdk-
cyclin
tersebut lalu masuk ke dalam inti dan akan mem-
fosforilasi protein
Retinobla-stoma
(Rb), protein p107
dan p130. Fosforilasi terhadap Rb diikuti oleh aktivasi
faktor transkripsi famili E2F dan memicu transkripsi pro-
tein yang diperlukan pada tahap G
1
dan S. Sinyal mito-
genik yang menginduksi terbentuknya
cyclin
D, juga akan
menginduksi terbentuknya
cyclin
E dan dua CDI yaitu:
p21
cip1
dan p27
kip1
.
Regulasi Siklus Sel
background image
314
cdk vol. 34 no. 6/159 Nov - Des 2007
(4n) karena telah mengalami replikasi DNA pada tahap S,
maka tahap S mempunyai jumlah kromosom yang berva-
riasi antara diploid-tetraploid (2n-4n). Penelitian kloning
pada mamalia menggunakan teknik SCNT menunjukkan
keberhasilan ketika menggunakan inti donor sel somatis
pada tahap G0
31,32,33,34,35
, tahap G1
35,36,37
, tahap G2
36,38
, tahap M pada metafase
36,39,40,41
.
Hbncbs!3/!Tjlmvt!tfm!pptju!qbeb!tbbu!nfubgbtf!JJ.
Aktivitas MPF berada pada level tertinggi pada saat profase dan metafase.
Sebagian besar sel oosit mamalia diovulasikan pada saat metafase II. Sel oosit
matang mempunyai sepasang kromosom haploid dan sebuah
polar body I yang
diploid. Aktivitas CSF menyebabkan sel oosit dapat stabil berada pada kondisi
ini. Setelah sel oosit difertilisasi (diaktifasi) maka CSF akan terdegradasi dan
aktivitas APC menjadi meningkat serta aktivitas MPF menurun drastis.
c/!!Tjlmvt!Tfm!Pptju!Tfcbhbj!Sftj qjfo
Perbedaan kandungan protein yang terekspresi pada tiap
tahap siklus sel, menjadi faktor penentu untuk mempro-
gram kembali inti sel donor
42
. Sel oosit yang telah me-
ngalami ovulasi biasanya berada pada metafase meiosis
II (MII). Pada tahap tersebut konsentrasi MPF (cyclin
B-Cdk1) mencapai tingkatan maksimal
43
. Selain itu CSF
juga memegang kendali regulasi siklus sel dengan mem-
pertahankan kondisi stabil pada MII dan menghambat
masuk ke tahap anafase
9
. Penggunaan sel oosit pada
tahap MII sebagai resipien SCNT telah berhasil pada
kloning mencit
31,32,34
, babi
35
, domba
33
, ferret
37,39
, dan
kambing
44
.
Konsentrasi MPF sitoplasma sel oosit pada tahap MII
juga dipengaruhi oleh aktivasi
13
. Setelah sel oosit diak-
tivasi baik secara elektrik
37
maupun secara kimiawi de-
ngan SrCl2
47,48
maka konsentrasi MPF akan menurun
secara drastis.
EJTLVTJ!
b/!!Tjolspojtbtj!Tjlmvt!Tfm!
Dalam satu siklus sel secara normal, materi genetik
(DNA) hanya mengalami satu kali replikasi dan mitosis.
Hingga saat ini belum diketahui secara jelas mekanisme
yang mendasari hal tersebut
8
. Namun beberapa hasil
penelitian, menunjukkan bahwa diduga membran inti
mempunyai andil dalam terjadinya replikasi DNA
13
. Pada
transfer inti dengan resipien pada tahap MII, konsentrasi
MPF yang tinggi dapat menyebabkan inti donor mengala-
mi NEBD dan PCC (
Premature Chromosome Condensa-
tion
)
45
. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua inti
sel pada semua tahap siklus sel akan mengalami NEBD
hadap perubahan morfologi selama mitosis berlangsung.
Substrat dari
cyclin
B-Cdk1 adalah
nuclear lamins
, pro-
tein
nucleolar
, protein
centrosomal
, dan Eg5. Pada sub-
tahap profase ­ metafase, konsentrasi MPF berada pada
level tertinggi dan akan mengalami penurunan pada sub
tahap berikutnya.
Sebelum memasuki subtahap berikutnya (anafase), sel
oosit yang telah mencapai metafase pada meiosis II
(MII), akan tertahan pada kondisi tersebut karena pe-
ngaruh CSF. Komponen utama CSF adalah golongan Emi
yaitu Emi1 (
Early Mitotic Inhibition 1
) dan Emi2
9
. Apabila
terjadi fertilisasi atau partenogenesis, masuknya sperma
akan mengaktivasi Ca
2+
/
calmo-dulin-dependent protein
kinase
II (CaMKII) dalam sitoplasma. CaMKII akan mem-
fosforilasi protein yang mengekspresikan CSF, sehingga
ekspresi CSF terhambat. Selain itu CSF juga akan ter-
degradasi oleh sistem ubiquitin/
proteosome
. CSF yang
mengalami degradasi menyebabkan APC dapat berperan
aktif, sehingga sel oosit keluar dari tahap metafase dan
masuk ke dalam anafase
9
.
APC berperan sangat dominan pada tahap anafase. Salah
satu peranan APC adalah menghancurkan
cyclin
A dan
cyclin
B yang mengaktifkan MPF, sehingga konsentrasi
MPF akan turun drastis seiring selesainya tahap M
23
.
4/!!Ivcvohbo!Tjlmvt!Tfm!ebo!TDOU
Aplikasi SNCT (
Somatic Cell Nuclear Transfer
) dalam bi-
dang biomedis adalah sebagai salah satu teknik alternatif
untuk memproduksi ntESC (
nuclear transfer Embryonic
Stem Cell
)
24
. Transplantasi ntESC yang bersifat
autolo-
gous
diharapkan mampu mengatasi masalah penolakan
sistem imun pada penderita
25
. Konsep
therapeutic clo-
ning
ini dikembangkan untuk mengatasi berbagai je-
nis penyakit degeneratif
26
. Teknik SCNT pada dasarnya
meliputi enukleasi (pengeluaran inti sel oosit resipien),
transfer inti (inti sel somatis dimasukkan ke dalam si-
toplasma sel oosit resipien), dan aktivasi (menginduksi
sel oosit hasil rekontruksi untuk mengalami
nuclear re-
programming
dan berkembang seperti sel embrio yang
normal)
13,27
. Keberhasilan
nuclear reprogramming
pada
SCNT sangat dipengaruhi oleh sinkronisasi tahapan siklus
sel antara sel somatis sebagai donor inti dan sel oosit
sebagai resipien
28
. Hal ini menjadi faktor penting karena
interaksi antara inti sel somatis dengan sitoplasma sel
oosit merupakan kunci sukses pada awal perkembangan
embrionik
29
.
b/!!Tjlmvt!Tfm!Tpnbujt!Tfcbhbj!Epops!Jouj
Pada teknik transfer inti, salah satu faktor yang harus di-
perhatikan dari sel donor inti adalah jumlah kromosom
30
.
Sel somatis pada tahap G
0
/G
1
mempunyai kromosom
diploid (2n), tahap G
2
mempunyai kromosom tetraploid
Regulasi Siklus Sel
background image
cdk vol. 34 no. 6/159 Nov - Des 2007
315
dan PCC bila ditansfer ke sitoplasma sel oosit yang kon-
sentrasi MPFnya tinggi
13
. Namun bagaimana efek NEBD
dan PCC terhadap proses
nuclear reprogramming
belum
diketahui secara tuntas hingga saat ini
49
.
Inti donor pada tahap G
0
dan G
1
yang masing-masing
jumlah kromosomnya diploid (2n) bila ditransfer ke dalam
sel oosit resipien pada MII akan terjadi PCC pada kro-
matid tunggal, lalu mengalami
Nuclear Reformation
(2n)
dan akan terjadi replikasi DNA (menjadi 4n) kemudian
akan membelah menjadi dua sel dengan masing-masing
kromosom diploid
8
.
Inti donor pada tahap G
2
yang jumlah kromosomnya te-
traploid (4n) bila ditransfer ke dalam sel oosit resipien
pada MII akan terjadi PCC pada kromatid ganda, lalu
mengalami
Nuclear Reformation
(4n) dan akan terjadi
replikasi DNA (menjadi 8n) kemudian akan membelah
menjadi dua sel dengan masing-masing kromosom te-
traploid (4n). Hal ini menunjukkan bahwa inti donor tahap
G
2
tidak sinkron apabila ditransfer pada tahap MII sel
oosit resipien
8
.
Pada transfer inti ke dalam sel oosit dengan MPF ren-
dah yang dapat diperoleh dengan aktivasi secara cepat,
menunjukkan bahwa inti donor sel tahap G
0
, G
1
, dan
S akan tetap mengalami replikasi DNA, sehingga sel
anakan mempunyai kromosom diploid (2n). Sedangkan
inti donor tahap G
2
tidak melakukan replikasi DNA, se-
hingga pada kromosom sel anakannya tetap 2n. Hal ini
juga memperkuat dugaan bahwa faktor yang mempenga-
ruhi replikasi DNA bukan sekedar karena membran inti
yang pecah dan terjadi kondensasi prematur (PCC), tapi
diduga juga disebabkan oleh kandungan DNA (kromosom)
pada inti donor
8
.
Ada beberapa cara untuk memperoleh kultur sel soma-
tis pada tahap-tahap tertentu dalam siklus sel. Untuk
memperoleh sel pada tahap G
0
/G
1
, dapat dilakukan de-
ngan cara mengkultur sel dengan medium tanpa/rendah
serum
31
. Sinkronisasi tahap G
2
dapat dilakukan dengan
cara menambahkan cycloheximide pada medium kultur
13
.
Sedangkan tahap M pada metafase dapat diperoleh de-
ngan menambahkan demecolcine
39
atau nocodazole
41
(senyawa penghambat polimerisasi mikrotubuli) pada
medium kultur.
c/!!!Qfslfncbohbo!Fncsjp!Qbtdb!Bqmjlbtj!TDOU
Keberhasilan perkembangan dan pertumbuhan embrio
hasil SCNT cenderung menurun seiring dengan mening-
katnya jumlah pembelahan sel
50,51
. Jumlah embrio yang
berhasil bertahan dan hidup pada tahap embrio 2 sel
relatif lebih banyak daripada tahapan berikutnya, yaitu 4
sel, 8 sel, morula, dan blastula
46
. Beberapa penelitian
menggunakan parameter keberhasilan perkembangan
kultur embrio hingga mencapai tahap blastosis sebagai
salah satu tolok ukur keberhasilan SCNT dan
nuclear
reprogramming
52
. Sel embrio hasil SCNT yang berhasil
mencapai tahap blastosis dapat digunakan untuk keperlu-
an kloning reproduksi (diimplantasi ke hewan betina) dan
produksi
embryonic stem cell
(ntESC) dimana ICM diiso-
lasi dan dikultur dalam keadaan belum berdiferensiasi
24
.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ntESC mempunyai
sifat pluripoten dan dapat berdiferensiasi menjadi ber-
bagai macam sel, seperti
dopaminergic & seronergic
neuron
dan
germ cells
53
. Namun ntESC masih berpo-
tensi memiliki beberapa karakter yang berbeda dengan
ESC alami (hasil fertilisasi). Hal ini diduga dipengaruhi
oleh memori epigenetik yang tidak sepenuhnya dapat di-
hapus dalam proses nuclear reprogramming
54
.
TJNQVMBO
Jumlah kromosom dalam inti sel donor dan kandungan
MPF dalam sitoplasma sel oosit menentukan terjadinya
replikasi DNA. Sel oosit pada tahap MII merupakan re-
sipien bagi inti sel donor yang dapat memfasilitasi ter-
jadinya proses nuclear reprogramming. Aktivasi sel oosit
dapat menurunkan konsentrasi MPF secara drastis. Inti
sel donor pada berbagai tahap siklus sel mempunyai jum-
lah kromosom yang berbeda, sehingga perlu dilakukan
sinkronisasi sebelum melakukan transfer inti. Sinkronisa-
si tahapan sel donor dapat dilakukan dengan mengkultur
sel tanpa serum atau penambahan berbagai senyawa
kimia pada medium kultur. Pemahaman tentang regulasi
siklus sel oosit sebagai resipien dan sel somatis sebagai
inti donor merupakan faktor penting dalam keberhasilan
SCNT. Dengan demikian dapat diperoleh sumber ntESC
yang berpotensi tinggi untuk therapeutic cloning.
EBGUBS!QVTUBLB
1. Campbell MK, Farrell SO. Biochemistry. 4th ed. UK, London: Thomson
Learning Inc., 2003; Hal 272-3.
2. Johnson DG, Walker CL. Cyclins and cell cycle checkpoints. Ann Rev Phar-
macol Toxicol. 1999; 39: 295-312.
3. Rang HP, Dale MM, Ritter JM, Moore PK. Pharmacology. 5th ed. UK,
London: Churchill Livingstone, 2003; Hal 69-73.
4. Doree M, Hunt T. From Cdc2 to Cdk1: When did the cell kinase joint its
partner?. Cell Sci. 2002; 115: 2461-4.
5. Tyson JJ, Czikasz-Nagy A, Novak B. The dynamics of cell cycle regulation.
BioEssays. 2002; 24: 1095-109.
6. Koolman J, Rohm KH. Atlas berwarna dan teks biokimia. Alih bahasa:
Septelia Inawati. Jakarta: Penerbit Hipokrates, 2001; Hal 352-3.
7. Van den Heuvel S. Cell-cycle regulation. The C. elegans Research Com-
munity, WormBook, http://www.wormbook.org. 2005; doi/10.1895/
wormbook.1.28.1.
8. Campbell KHS, Loi P, Otaegui PJ, Wilmut I. Cell cycle co-ordination in
embryo cloning by nuclear transfer. Reprod Fert. 1996; 1: 40-6.
9. Schmidt A, Rauh NR, Nigg EA, Mayer TU. Cytostatic factor: an activity that
puts the cell cycle on hold. Cell Sci. 2006; 119: 1213-8.
10. Gilbert SF. Developmental Biology. 7th ed. Massachusetts, Sunderland:
Sinauer Associates Inc., 2003; Hal 222.
11. Gupta PK. Key regulators of cell cycle: 2001 nobel prize for physiology or
medicine. Current Science. 2001; 81: 1280-87.
Regulasi Siklus Sel
background image
316
cdk vol. 34 no. 6/159 Nov - Des 2007
12. Sherr CJ, Robets JM. Living with or without cyclins and cyclin-dependant
kinases. Gene Dev. 2004; 18: 2699-711.
13. Campbell KHS, Ritchie WA, Wilmut I. Nuclear-cytoplasmic interactions
during the fi rst cell of nuclear transfer reconstructed bovine embryos: im-
plications for deoxyribonucleic acid and development. Biol Reprod. 1993;
49: 933-42.
14. Loog M, Morgan DO. Cyclin specifi ty in the phosphorylation of cyclin-de-
pendent kinase substrates. Nature. 2005; 434: 104-8.
15. Kawahara M, Wakai T, Yamanaka KI, et al. Caffeine promotes premature
chromosome condensation formation and in vitro development in porcine
reconstructed embryos via a high level of maturation promoting factor
activity during nuclear transfer. Reprod. 2005; 130: 351-7.
16. El Achkar E, Gerbault-Seureau M, Muleris M, Dutrillaux B, Debatisse M.
Premature condensation induces break at the interface of early and late
replicating chromosome bands bearing common fragile sites. Proc Natl
Acad Sci USA. 2005; 102: 18069-74.
17. Pines J. Cyclins and cyclin-dependent kinases: a biochemical review.Bio-
chem. 1995; 308: 697-711.
18. Lacey KR, Jackson PK, Stearns T. Cyclin-dependent kinase control of cen-
trosome duplication. Proc Natl Acad Sci USA. 1999; 96: 2817-22.
19. Crews CM, Shotwell JB. Small-molecule inhibitors of the cell cycle: an
overview. Progress in cell cycle research. 2003; 5: 125-33.
20. Qu Z, MacLellan WR, Weiss JN. Dynamics of the cell cycle: checkpoints,
sizers, and timers. Biophysical. 2003; 85: 3600-11.
21. Hartwell LH, Weinert TA. Checkpoints: controls that ensure the order of
cell cycle events. Science. 1989; 246: 629-34.
22. Jones SM, Kazlauskas A. Growth factor-dependent signaling and cell cycle
progression. Federation of European Biochemical Societies. 2001; 490:
110-6.
23. McGowan CH. Regulation of the eukaryotic cell cycle. Progress in Cell
Cycle Research. 2003; 5: 1-4.
24. Gurdon JB, Colman, A. The future of cloning. Nature 1999; 402: 743-6.
25. Cibelli JB, Kiessling AA, Cunniff K, Richards C, Lanza RP, West MD.
Somatic cell nuclear transfer in humans: pronuclear and early embryonic
development. Regenerative Med. 2001; 2: 25-31.
26. Hipp J, Atala A. Tissue engineering, stem cells, cloning, and parthenogenesis:
new paradigms for therapy. Exp Clin Assist Reprod. 2004; I:3.
27. McLaren A. Cloning: pathway to a pluripotent future. Science. 2000; 288:
1775-80.
28. Stice SL, Robl JM, Ponce de Leon FA, Jerry J, Golueke PG, Cibelli JB,
Kane JJ. Cloning: new breakthroughs leading to commercial opportunities.
Theriogenology. 1998: 49: 129-38.
29. Colman A. Somatic cell nuclear transfer in mammals: progress and ap-
plications. Clon. 2000; 1: 185-200.
30. Kato Y, Tsunoda Y. Totipotency and pluripotency of embryonic nuclei in the
mouse. Mol Reprod Dev. 1993; 36: 276-8.
31. Wakayama T, Yanagimachi R. Mouse cloning with nucleus donor cells of
different age and type. Mol Reprod Dev. 2001; 58: 376-83.
32. Wakayama T, Perry ACF, Zuccotti M, Johnson KR, Yanagimachi R. Full-
term development of mice from enucleated oocytes injected with cumulus
cell nuclei. Nature. 1998; 394: 369-74.
33. McCreath KJ, Howcroft J, Campbell KHS, Colman A, Schnieke AE, Kind
AJ. Production of gene-targeted sheep by nuclear transfer from cultured
somatic cells. Nature 2000; 405: 1066-9.
34. Wakayama T, Yanagimachi R. Cloning of male mice from adult tail-tip cells.
Nature Gen. 1999; 22: 127-8.
35. Tomii R, Kurome M, Ochiai T, et al. Production of cloned pig by nuclear
transfer of preadipocytes established from adult mature adipocytes.
Cloning Stem Cell 2005; 7: 279-88.
36. Tian XC, Kubota C, Enright B, Yang X. Cloning animals by somatic cell
nuclear transfer-biological factors. Reprod Biol Endocr. 2003; I:98.
37. Li Z, Sabet MR, Zhou Q, et al. Developmental capacity of ferret embryos
by nuclear transfer using G0/G1-phase fetal fi broblast. Biol Reprod. 2003;
68: 2297-303.
38. Wilmut I, Beaujean N, de Sousa PA, et al. Somatic cell nuclear transfer.
Nature 2002; 419: 583-6.
39. Li Z, Chen X, Sun X, et al. Nuclear transfer of M-phase ferret fi broblasts
synchronized with the microtubule inhibitor demecolcine. Experimental
Zoology. 2005; 303: 1126-34.
40. Wakayama T, Rodriguez I, Perry ACF, Yanagimachi R, Mombaerts P. Mice
cloned from embryonic stem cells. Proc Natl Acad Sci USA. 1999; 96:
14984-89.
41. Ono Y, Scimozawa N, Muguruma K, et al. Production of cloned mice from
embryonic stem cells arrested at metaphase. Reprod. 2001; 122: 731-6.
42. Dinnyes A, Szmolenszky A. Animal cloning by nuclear transfer: state-of-
the-art and future perspectives. Acta Biochimica Polonica. 2005; 52: 585-8.
43. Mohamed Nour MS, Ikeda K, Takahashi Y. Bovine nuclear transfer using
cumulus cells derived from serum-starved and confl uent cultures. Reprod
Dev. 2000; 46: 85-92.
44. Baguisi A, Behboodi E, Melican DT, et al. Production of goats by somatic cell
nuclear transfer. Nature Biotech. 1999; 17: 456-61.
45. Wakayama T, Yanagimachi R. Effect of cytokinesis inhibitors, DMSO and the
timing of oocyte activation on mouse cloning using cumulus cell nuclei. Re-
prod. 2001; 122: 49-60.
46. Bing Y, Che L, Hirao Y, Takenouchi N, Nagai T. Development of porcine em-
bryos reconstructed by nuclear transfer of culutured cumulus cells into in
vitro maturated and enucleated oocytes. Reprod Dev. 2000; 46: 375-9.
47. Kato M, Hirabayashi M, Aoto T, Ito K, Ueda M, Hochi S. Strontium-induced
activation regimen for rat oocytes in somatic cell nuclear transplantation.
Reprod Dev. 2001; 47: 407-13.
48. Tomashov-Matar R, Tchetchik D, Eldar A, Kaplan-Kraicer R, Oron Y, Shalgi R.
Strontium-induced rat egg activation. Reprod. 2005; 130: 467-74.
49. Sung LY, Shen P, Jeong BS, et al. Premature chromosome condensation is
not essential for nuclear reprogramming in bovine somatic nuclear trans-
fer. Biol Reprod. 2006; DOI:10.1095/biolreprod.106.053561.
50. McEvoy TG, Robinson JJ, Sinclair KD. Developmental consequences of
embryo and cell manipulation in mice and farm animals. Reprod. 2001;
122: 507-18.
51. Liu SZ, Yao LJ, Jiang MX, et al. Apoptosis in rabbit embryos produced by
fertilization or nuclear transfer with fi broblast and cumulus cells. Reprod.
2005; 130: 359-66.
52. Ng SC, Chen N, Yip WY, et al. The fi rst cell cycle after transfer of somatic
cell nuclei in a non-human primate. Dev. 2004; 131: 2475-84.
53. Wakayama T, Tabar V, Rodriguez I, Perry ACF, Studer L, Mombaerts P.
Differentiation of embryonic stem cell lines generated from adult somatic
cells by nuclear transfer. Science. 2001; 292: 740-3.
54. Ng RK, Gurdon JB. Epigenetic memory of active gene transcription is
inherited through somatic cell nuclear transfer. Proc Natl Acad Sci USA.
2005;102:1957-62.