background image
cdk vol. 34 no. 6/159 Nov - Des 2007
307
Kematangan Sosial Pada Anak
Dengan Obesitas Di Sekolah Dasar
Bromantakan, Surakarta
Exj!Ijebzbi-!!Foeboh!Efxj!Mftubsj-!!Tvdj!Nvsujlbsjoj-!!Ibstpop!Tbmjnp
Cbhjbo0TNG!Jmnv!Lftfibubo!Bobl!Gblvmubt!Lfeplufsbo!Vojwfstjubt!Tfcfmbt!Nbsfu0STVE!Es/!Npfobsej!Tvsblbsub
ABSTRAK
Mbubs!cfmblboh: Pada anak dan remaja dengan obesitas, konsekuensi yang paling luas adalah psikososial. Prevalensi
tingkat kematangan sosial rendah pada anak dengan obesitas, tinggi; tetapi belum ada laporan tentang pengaruh obe-
sitas terhadap kematangan sosial pada anak.
Uvkvbo: Mengetahui pengaruh obesitas terhadap kematangan sosial anak.
Nfupef: Penelitian ini dilakukan secara potong lintang pada SD Bromantakan Surakarta pada bulan Januari-Juli 2006.
Kriteria obesitas ditentukan secara antropometris dengan metode pengukuran IMT persentil ke-95 berdasar umur
dan jenis kelamin. Kematangan sosial diukur menggunakan skala kematangan sosial menurut Vineland. Faktor-faktor
yang mungkin berpengaruh terhadap kematangan sosial yaitu obesitas, jenis kelamin laki-laki, riwayat pernah tinggal
kelas, dan pengasuh bukan ibu kandung dianalisis dengan SPSS 12.0.
Ibtjm: Didapatkan 143 anak yang ikut dalam penelitian dengan prevalensi obesitas 9,8%. Prevalensi tingkat kema-
tangan sosial rendah pada anak dengan obesitas 14,3%, anak tanpa obesitas 8,5% dan keseluruhan populasi 9,1%.
Dari analisis regresi logistik didapatkan obesitas (OR=1,73, 95%CI 0,33-9,23), jenis kelamin (OR=2,39, 95%CI
0,67-8,47), kecerdasan (OR=4,59, 95%CI 0,70-29,98), sebagai faktor risiko kematangan sosial rendah tetapi secara
stasistik tidak bermakna.
Simpulan: Prevalensi tingkat kematangan sosial rendah pada populasi anak obesitas lebih tinggi dibandingkan dengan
anak tanpa obesitas. Anak obesitas mempunyai tingkat kematangan sosial rendah 2 kali lebih sering dibandingkan yang
lain.
>
QFOEBIVMVBO
Saat ini prevalensi obesitas pada anak dan rema-
ja mengalami peningkatan, dan membutuhkan per-
hatian yang lebih besar. Data hasil survai nasional
di Amerika
menunjukkan prevalensi obesitas pada remaja meningkat
dari 12% pada tahun 1991 menjadi 17,9% pada tahun
1998.
1
Di DKI Jakarta, prevalensi obesitas meningkat
dengan bertambahnya umur. Pada anak umur 6-12 ta-
hun ditemukan obesitas sekitar 4%, pada remaja 12-
18 tahun ditemukan 6,2%, dan pada umur 17-18 tahun
11,4%. Kasus obesitas pada remaja lebih banyak dite-
mukan pada wanita (10,2%) dibanding laki-laki (3,1%).
2
Di Yogyakarta, prevalensi obesitas pada anak-anak SD
pada tahun 2004-2005 adalah 7,9% pada anak perem-
puan dan 12,6 % pada anak laki-laki.
3
Data yang diambil
dari 58 SD di Surakarta pada tahun 2005 didapatkan
prevalensi obesitas pada anak-anak SD adalah 2,1%
dengan prevalensi tertinggi 6,2%.
4
Obesitas mempunyai dampak terhadap tumbuh kembang
anak terutama konsekuensinya terhadap aspek psikoso-
sial.
5,6
Anak laki-laki maupun perempuan dengan obesi-
tas merasa dirinya berbeda dari orang pada umumnya
karena kelebihan berat badannya dan merasa tidak puas
dengan dirinya.
7
Remaja dengan obesitas sering me-
ngalami depresi dan tidak percaya diri sedangkan anak
dengan obesitas usia prasekolah lebih sering mengalami
distress emosional dan gejala psikiatrik.
8
Kematangan sosial merupakan suatu evolusi perkem-
bangan perilaku, sehingga nantinya seorang anak dapat
mengekspresikan pengalamannya secara utuh dan dia be-
lajar secara bertahap untuk meningkatkan kemampuan-
nya untuk mandiri, bekerja sama dengan orang lain dan
bertanggung jawab terhadap kelompoknya.
9
Oleh karena
itu kematangan sosial erat kaitannya dengan keberhasi-
lan dan kebahagiaan pada masa anak dan masa kehidu-
pan selanjutnya. Penelitian sebelumnya pada populasi
anak dengan obesitas usia sekolah dasar di Surakarta
mendapatkan prevalensi tingkat kematangan sosial ren-
dah yang tinggi yaitu 32,5%,
10
tetapi belum pernah di-
laporkan pengaruh obesitas terhadap kematangan sosial
anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh
obesitas terhadap kematangan sosial pada anak.
background image
308
cdk vol. 34 no. 6/159 Nov - Des 2007
NFUPEF
Penelitian dilakukan setelah mendapat persetujuan dari
Komite Medik RSUD Dr. Moewardi, Surakarta. Peneli-
tian ini merupakan studi potong lintang yang dilakukan di
Surakarta mulai bulan Januari sampai dengan Juli 2006.
Populasi terjangkau adalah anak dengan obesitas dan
tanpa obesitas kelas 4-6 di SD Bromantakan, Kecamatan
Banjarsari, Kota Surakarta selama periode Januari-Juli
2006. Karena data prevalensi tingkat kematangan sosial
rendah yang ada hanya pada populasi anak dengan obe-
sitas saja maka penetapan besar sampel penelitian ini
menggunakan
.
Murid sekolah dimasukkan dalam penelitian jika orangtua-
nya telah memberikan pernyataan kesediaan secara ter-
tulis. Kriteria inklusi adalah semua siswa kelas 4-6 yang
masuk sekolah saat penelitian dilakukan. Kriteria eksklusi
adalah anak yang mempunyai cacat fi sik. Setiap anak yang
diteliti mengisi formulir untuk mendapatkan informasi kuan-
titatif dan deskriptif tentang identitas diri dan keluarga.
Pengukuran tinggi badan menggunakan alat Mikrotoise
yang sudah ditera untuk mengukur tinggi badan dengan
kapasitas maksimal 200 cm, dan ketelitian 0,1 cm. Anak
diukur tanpa sepatu, tumit menempel dinding dan kepala
tegak. Angka dibaca sampai dengan millimeter. Pengu-
kuran dilakukan 2 kali, apabila selisih keduanya >0,5
cm maka dilakukan pengukuran ke-3. Hasilnya adalah
rata-rata ketiganya. Pengukuran berat badan dengan
menggunakan timbangan injak geser merek International
produksi PT Medifortuna Farm Indonesia yang sudah di-
tera dapat menimbang dengan kapasitas maksimal 120
kg dan ketelitian 1 ons. Anak ditimbang dengan berpakaian
seragam tanpa sepatu, kaos kaki dan ikat pinggang. Angka
dibaca dalam kilogram. Pengukuran dilakukan 2 kali, apa-
bila selisih keduanya >0,5 kg maka dilakukan pengukuran
ke-3. Hasilnya adalah rata-rata ketiganya.
Obesitas ditentukan dengan indek massa tubuh (IMT)
atau
body mass index
(BMI) yang merupakan petunjuk
untuk menentukan kelebihan berat badan berdasarkan In-
deks Quatelet yang didapatkan dengan menghitung berat
badan dalam kilogram dibagi dengan kuadrat tinggi badan
(kg/m
2
). Anak dikatakan obesitas jika IMT persen-
til 95 menurut umur dan jenis kelamin berdasar
grafi k pertumbuhan Centers for Disease Control and
Prevention (CDC 2000). Tingkat kematangan sosial di-
ukur dengan panduan amatan skala kematangan sosial
Vineland (
) yang meliputi 8
kategori yaitu:
. Kematangan sosial rendah (tidak
matur) apabila skor < skor yang sesuai umur subyek
dan tinggi (matur) apabila skor skor yang sesuai umur
subyek menurut skala kematangan sosial Vineland (
Ubcfm!
2). Kecerdasan ditentukan dengan riwayat pernah ting-
gal dan tidak pernah tinggal kelas sedangkan pengasuh
dibedakan atas ibu kandung dan bukan ibu kandung.
Data diolah dengan bantuan program komputer SPSS
12.0. Metode analisis data yang digunakan adalah anali-
sis statistik univariat dan regresi logistik multivariat.
IBTJM
Jumlah subyek yang masuk sekolah saat dilakukan pen-
gambilan data adalah 143 anak terdiri dari laki-laki
53,1% dan perempuan 46,9%. Umur subyek antara 9
tahun 2 bulan ­ 13 tahun 7 bulan dengan rata-rata 10
tahun 4 bulan. Riwayat tinggal kelas yang digunakan se-
bagai indikator kecerdasan hanya dialami oleh sebagian
kecil subyek (4,2%). Begitu pula dengan anak yang dia-
suh bukan ibu kandungnya hanya 2,1%.
Pada penelitian ini didapatkan prevalensi obesitas yang
cukup besar yaitu 9,8%. Prevalensi tingkat kemata-
ngan sosial rendah pada populasi anak dengan obesitas
14,3%, populasi tanpa obesitas 8,5% dan keseluruhan
populasi adalah 9,1%.
Faktor-faktor risiko yang mungkin berpengaruh pada ke-
matangan sosial dapat dilihat pada
ubcfm!4!ebo!5. Dari
hasil analisis univariat maupun setelah dikontrol dengan
analisis regresi multivariat didapatkan jenis kelamin laki-
laki, riwayat pernah tinggal kelas, dan obesitas meru-
pakan faktor risiko kematangan sosial rendah meskipun
secara statistik tidak bermakna. Sedangkan pengasuh
bukan ibu kandung merupakan faktor protektif terhadap
kematangan sosial rendah tetapi secara statistik juga ti-
dak bermakna.
EJTLVTJ
Pada penelitian ini didapatkan prevalensi obesitas keselu-
ruhan populasi sebesar 9,8%. Temuan ini lebih besar
daripada penelitian sebelumnya di DKI Jakarta,
2
dengan
prevalensi obesitas anak umur 6-12 tahun sebesar 4%
dan pada remaja umur 12-18 tahun sebesar 6,2%.
Tetapi jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan hasil yang
didapat oleh Strauss yaitu sebesar 17%.
11
Prevalensi tingkat kematangan sosial rendah pada popu-
lasi anak dengan obesitas (14,3%) lebih tinggi dibanding
pada populasi anak tanpa obesitas (8,5%). Tetapi preva-
lensi tingkat kematangan sosial rendah pada populasi
anak dengan obesitas tersebut lebih rendah dibanding
hasil penelitian Lestari ED dkk.
10
Perbedaan prevalensi
ini mungkin disebabkan oleh perbedaan karakteristik in-
dividu karena sampel yang digunakan pada penelitian ini
hanya berasal dari sebuah sekolah dasar.
>
>
Kematangan Sosial Anak
Obese
background image
cdk vol. 34 no. 6/159 Nov - Des 2007
309
Hasil analisis univariat maupun setelah dikontrol dengan
analisis regresi multivariat menunjukkan jenis kelamin laki-
laki merupakan faktor risiko tingkat kematangan sosial
rendah tetapi secara statistik tidak bermakna. Hasil ini se-
suai dengan penelitian sebelumnya
10
- anak laki-laki dengan
obesitas mempunyai risiko terjadinya tingkat kematangan
sosial rendah 2,4 kali dibandingkan anak perempuan de-
ngan obesitas. Hal ini dapat dipahami karena budaya Jawa
khususnya di Surakarta seorang perempuan dituntut untuk
dapat menyelesaikan tugas rumah tangga sehingga anak-
anak perempuan lebih dibiasakan untuk menyelesaikan tu-
gas rumah tangga oleh lingkungannya dibandingkan anak
laki-laki. Tetapi Handayani
12
pada penelitiannya terhadap
anak-anak SMP di Semarang mendapatkan hasil yang se-
baliknya : jenis kelamin perempuan merupakan faktor risiko
tingkat kematangan sosial rendah.
Riwayat tinggal kelas yang digunakan sebagai indikator
tingkat kecerdasan yang rendah merupakan faktor risiko
kematangan sosial rendah meskipun secara statistik tidak
bermakna. Menurut Bayley
13
kemampuan mental antara
lain muncul dalam bentuk ketajaman persepsi sensoris,
daya ingat, komunikasi verbal, dan abstraksi. Kematangan
motoris sangat mendukung perkembangan kemampuan
mental tersebut, karena dengan kemampuan untuk me-
ngontrol tubuh, seseorang akan mempunyai peluang yang
lebih besar untuk menemui obyek dan pengalaman baru
serta memanipulasi obyek-obyek yang ditemui. Selanjutnya
kematangan dan ketrampilan motoris tersebut ikut menen-
tukan kualitas interaksi seseorang dengan lingkungannya.
Mengingat kematangan motoris dan kemampuan mental
seseorang melibatkan aspek lingkungan, maka kedua fak-
tor tersebut juga tidak terlepas dari kaitan dengan proses
sosialisasi secara umum atau kematangan sosial.
14
Hal
ini juga didukung oleh Hurlock
15
yang menyebutkan bahwa
perkembangan sosial dipengaruhi kecerdasan.
Pada penelitian ini didapatkan bahwa pengasuh bukan
ibu kandung justru merupakan faktor protektif terha-
dap tingkat kematangan sosial rendah. Pada akhir masa
kanak-kanak atau usia sekolah dasar adalah merupakan
usia berkelompok, suatu masa dengan perhatian utama
tertuju pada keinginan diterima oleh teman-teman seba-
ya sebagai anggota kelompok.
16
Pengasuh bukan ibu kan-
dung justru merupakan motivasi bagi mereka untuk bisa
mandiri dan diterima di kelompoknya. Tetapi pada pene-
litian sebelumnya pada populasi anak dengan obesitas
usia 5-14 tahun didapatkan pengasuh bukan ibu kandung
merupakan faktor risiko rendahnya kematangan sosial.
10
Menurut Hurlock
15
perkembangan sosial dipengaruhi
oleh bimbingan orang tua dan guru sehingga pada kondisi
keluarga yang bermasalah dapat menyebabkan gangguan
pada afek, disiplin dan rutinitas rumah tangga, seperti
makan dan waktu tidur. Kebanyakan anak dari orangtua
bermasalah lebih rentan terhadap masalah dibandingkan
anak dari keluarga utuh.
17
Hal ini juga sesuai dengan hasil
penelitian Costello EJ18 dan Racelli GP19 bahwa struktur
keluarga dan lingkungan yang rentan mempunyai hubungan
dengan obesitas dan psikopatologi pada anak.
Unsur penting dalam pembentukan kelekatan antara anak
dan pengasuhnya adalah peluang untuk mengembangkan
hubungan timbal balik yang nyata di antara anak dan pe-
ngasuhnya. Pembentukan interaksi yang
tersebut
memang membutuhkan waktu dan banyak pengulangan.
Di sinilah fungsi pengasuh, yaitu untuk memulai interaksi
dan bukan sekedar memberikan respon terhadap kebutu-
han anak pada perhatian. Tanggapan seorang pengasuh
terhadap kebutuhan anak, bukan hanya ditentukan oleh
apakah ia adalah ibu kandung dari anak tersebut tetapi
lebih kepada ikatan emosional antara pengasuh dan anak
yang tampak dalam bentuk sikap tanggap terhadap kebu-
tuhan anak, dan kelekatan anak terhadap pengasuh, ke-
hangatan kasih sayang, dan perawatan serta pemenuhan
kebutuhan anak secara optimal.
14
Pada penelitian ini didapatkan obesitas pada anak meru-
pakan faktor risiko tingkat kematangan sosial rendah
meskipun secara statistik tidak bermakna. Mustillo dkk
20
dari penelitian longitudinalnya terhadap anak-anak umur 9-
16 tahun mendapatkan bahwa pada populasi umum, obe-
sitas kronik berhubungan dengan psikopatologi. Beberapa
penelitian lain menghubungkan obesitas dengan rasa tidak
puas terhadap diri sendiri,
7
kehidupan yang terisolasi,
21
depresi
22
dan rasa percaya diri yang rendah.
11,23,24
Richardson
25
mendapatkan bahwa anak-anak laki-laki dan
perempuan usia 10-11 tahun lebih memilih anak tanpa
obesitas sebagai teman. Satu konsekuensi potensial
diskriminasi ini adalah anak dengan obesitas mungkin
lebih memilih anak-anak yang lebih muda untuk menjadi
temannya, yang tidak mendiskriminasi dan menghakimi
berat badannya dan lebih berani untuk bermain dengan
anak kecil yang gemuk juga. Rasa rendah diri dan tidak
berani untuk bermain atau bergaul dengan teman sebaya
atau yang lebih tua tersebut menghambat kemampuan
komunikasi dan sosialisasinya sehingga dapat menyebab-
kan hambatan perkembangan kematangan sosialnya.
Demikian juga dalam hal kemampuan mengerjakan tugas
sehari-hari dan kemampuan motoris anak dengan obesi-
tas mungkin lebih banyak mengalami keterbatasan karena
berat badannya dibanding anak tanpa obesitas. Sehing-
ga, dalam mengerjakan tugas sehari-hari, anak tersebut
lebih banyak mendapat bantuan. Bahkan penelitian Staffi -
eri JR26 pada anak-anak usia 6-10 tahun, mendapatkan
bahwa kelebihan berat badan berhubungan dengan karak-
ter yang tidak baik seperti pemalas dan penidur.
Kematangan Sosial Anak
Obese
background image
310
cdk vol. 34 no. 6/159 Nov - Des 2007
Kelemahan penelitian ini menggunakan desain potong
lintang sehingga meskipun menunjukkan obesitas pada
masa anak merupakan faktor risiko terhadap tingkat ke-
matangan sosial yang rendah, tetapi bukan merupakan
hubungan sebab-akibat. Selain itu tidak diteliti faktor lain
yang berhubungan dengan obesitas seperti peningkatan
tingkat depresi, yang mungkin memberikan kontribusi
pada rendahnya tingkat kematangan sosial pada anak.
Penelitian ini juga tidak membedakan efek penurunan
berat badan dan pertambahan berat badan terhadap
tingkat kematangan sosial.
TJNQVMBO
Dari hasil penelitian dan pembahasan di atas dapat di-
simpulkan bahwa prevalensi obesitas anak usia sekolah
dasar di Surakarta tinggi, dan prevalensi tingkat kema-
tangan sosial rendah pada populasi anak dengan obesi-
tas lebih tinggi dibandingkan dengan anak tanpa obesi-
tas. Obesitas pada anak merupakan faktor risiko tingkat
kematangan sosial rendah demikian juga dengan jenis
kelamin laki-laki, dan riwayat tinggal kelas.
TBSBO
Mengingat obesitas merupakan faktor risiko tingkat ke-
matangan sosial rendah maka sangat perlu dilakukan
deteksi dini dan intervensi dini terhadap dampak psiko-
sosial yang mungkin terjadi sehingga anak mendapatkan
tumbuh kembang optimal. Untuk selanjutnya, penelitian
longitudinal dengan sampel yang lebih besar diperlukan
untuk mengetahui pengaruh obesitas terhadap kemata-
ngan sosial anak.
Vdbqbo!ufsjnblbtji
Terimakasih kepada Kepala Sekolah, guru-guru dan mu-
rid-murid SD Bromantakan, Kecamatan Banjarsari, Kota
Surakarta atas partisipasinya pada penelitian ini.
EBGUBS!QVTUBLB
1. Mokdad AH, Serdula MK, Dietz WH, Bowman BA, Marks JS, Koplan JP.
The spread of the obesity epidemic in the United States, 1991-1998.
JAMA 1999; 282:1519-22.
2. Nasar SS. Obesitas pada anak. Aspek klinis dan pencegahan. Dalam:
Samsudin, Nasar SS, Sjarif DR, penyunting. Naskah lengkap PKB-IKA
XXXV. Masalah gizi ganda dan tumbuh kembang anak. Jakarta: Bina Rupa
Aksara; 1995. h. 68-81.
3. Himmah R, Paryanto E, Madarina, Yulian E, Ernawati. Perbandingan gam-
baran profi l lemak antara anak sekolah dasar yang obesitas dengan non
obesitas di Kotamadya Yogyakarta, pada suatu penelitian multicenter.
Disampaikan pada Pertemuan Ilmiah Tahunan Ilmu Kesehatan Anak II,
Batam, 12-14 Juli, 2004.
Kematangan Sosial Anak
Obese
4. Lestari ED, Hidayah D, Murtikarini S. Social maturity among obese chil-
dren. Pediatr. Res. 2005; 58(2):329.
5. Sjarif DR. Obesitas pada anak dan permasalahannya. Dalam: Trihono PP,
S. Purnamawati, Sjarif DR, penyunting. PKB-IKA XLV. Hot topics in pedi-
atrics II. Jakarta: Bina Rupa Aksara, 2002. h. 219-34.
6. Dietz WH. Health consequences of obesity in youth: childhood predictors
of adult disease. Pediatrics 1998;101(suppl):518-25.
7. Striegel-Moore, RH, Silberstein LR, Rodin J. T. An understanding of risk
factors for bulimia. Am Psychol 1986; 41:246-63.
8. Mills JK, Andrianopoulos GD. The relationship between childhood onset
obesity and psychopatology in adulthood. J Psychol 1993;127:547-51.
9. Soetjiningsih. Penilaian perkembangan anak. Dalam: Ranuh IGN, penyun-
ting. Tumbuh kembang anak. Edisi ke-1. Jakarta: EGC;1995. h.63-79.
10. Lestari ED, Hidayah D, Karini SM. Social maturity among obese children
in Surakarta, Indonesia. Paediatr Indon 2006;46:174-8.
11. Strauss RS. Childhood obesity and self-esteem. htpp//www.pediatrics.
org/cgi/content/full/105/1.
12. Mulyani S. Hubungan antara kematangan sosial dan prestasi belajar. Te-
sis. Semarang: FK UNDIP, 2000.
13. Bayley N. Manual of the Bayley scales of infant development. New York:
The Psychologic Corp. 1969. Dikutip dari: Hadiyati FNR. Perkembangan
perilaku adaptif anak ditinjau dari perilaku ibu saat bersama anak dan lama
anak menerima ASI. Tesis. Yogyakarta: Program Pasca Sarjana Universi-
tas Gadjah Mada, 1992.
14. Hadiyati FNR. Perkembangan perilaku adaptif anak ditinjau dari perilaku
ibu saat bersama anak dan lama anak menerima ASI. Tesis. Yogyakarta:
Program Pasca Sarjana Universitas Gadjah Mada, 1992.
15. Hurlock EB. Penyesuaian sosial. Dalam: Dhama A, penyunting. Perkem-
bangan anak. Jilid I. Edisi ke-6. Jakarta: Erlangga; 1995. h. 285-316.
16. Hurlock EB. Akhir masa kanak-kanak. Dalam: Sijabat RM, penyunting.
Psikologi perkembangan suatu pendekatan sepanjang rentang kehidupan.
Edisi ke-5. Jakarta: Erlangga;1994. h.146-82.
17. Amato PR. Life-span adjustment of children to their parents' divorce.
Future of Children 2004; 4:143-76.
18. Costello EJ, Keeler GP, Angold A. Poverty, race/ethnicity and psychiatric
disorder: a study of rural children. Am J Public Health 2001; 91:1494-8.
19. Racelli GP, Belmont L. Obesity in nineteen year old men: family size and
birth order association. Am J Epidemiol 1975; 109:66-77. Dikutip dari:
Mustillo S, Worthman C, Erkanli A, et.al. Obesity and psychiatric disor-
der: developmental trajectories. Pediatrics 2003; 111:851-9.
20. Mustillo S, Worthman C, Erkanli A et.al. Obesity and psychiatric disorder:
developmental trajectories. Pediatrics 2003; 111:851-9.
21. Strauss RS, Pollack HA. Social marginalization of overweight children.
Arch Pediatr Adolesc Med 2003;157:746-52.
22. Pine DS, Goldstein RB, Wolk S et al. The asscociation between childhood
depression and adulthood body mass index. Pediatrics 2001;107:1049-56.
23. Franklin J, Denyer G, Steinbeck KS, Caterson ID, Hill AJ. Obesity and risk
of low self-esteem: A statewide survey of Australian children. Pediatrics
2006; 118:2481-7.
24. Eisenberg ME, Neumark-Sztainer D, Story M. Associations of weight-
based teasing and emotional well-being among adolescents. ArchPediatr
Adolesc Med 2003;157:733-8.
25. Ricardson SA, Goodman N,Hastrof AH, Dornbusch SM. Cultural uniformity
in reaction to physical disabilities. Am Soc Rev 1961;26:241-7. Dikutip dari
Dietz WH. Health consequences of obesity in youth: childhood predictors
of adult disease. Pediatrics 1998;101(suppl):518-25.
26. Staffi eri JR. A study of social stereotype of body image in children.
J Perspect Soc Psychol.1967;7:101-4. Dikutip dari Dietz WH. Health
consequences of obesity in youth: childhood predictors of adult disease.
Pediatrics 1998;101(suppl):518-25.
background image
cdk vol. 34 no. 6/159 Nov - Des 2007
311
Ubcfm!2/!Tlps!lfnbubohbo!tptjbm!nfovsvu!wjofmboe
Umur (tahun)
Skor kematangan sosial
5 ­ 6
57 ­ 61
6 ­ 7
62 ­ 65
7 ­ 8
66 ­ 70
8 ­ 9
71 ­ 74
9 ­ 10
75 ­ 77
10 ­ 11
78 ­ 81
11 ­ 12
82 ­ 84
12 ­ 15
85 ­ 89
Ubcfm!3/!Lbsblufsjtujl!ebtbs!tvczfl!)o>254*
N
%
Jenis kelamin
Laki-laki
67
46,9
Perempuan
76
53,1
Kecerdasan
Pernah tinggal kelas
6
4,2
Tidak pernah tinggal kelas
137
95,8
Pengasuh
Bukan ibu kandung
3
2,1
Ibu
kandung 140
97,9
Pendidikan ibu
SD-SMP
21
14,7
SMA-PT
122
85,3
Pekerjaan ibu
IRT
64
44,8
Bekerja
79
55,2
Obesitas
obes
14
9,8
non
obes
129
90,2
Kematangan sosial
Rendah
13
9,1
Tinggi
130
90,9
Ubcfm!4/!Bobmjtjt!vojwbsjbu!gblups.gblups!zboh!cfsqfohbsvi!ufsibebq!ujohlbu!
lfnbubohbo!tptjbm!bobl!)o>254*!
Faktor risiko
OR
p
95%CI
Jenis kelamin (laki-laki)
2,79
0,10
0,82-9,53
Pernah tinggal kelas
5,73
0,06
0,94-34,85
Pengasuh bukan ibu kandung
0,01
0,82
0,00-7,6E+15
Obesitas
1,79
0,48
0,35-9,03
Ubcfm!5/!Bobmjtjt!nvmujwbsjbu!gblups.gblups!zboh!cfsqfohbsvi!ufsibebq
ujohlbu!lfnbubohbo!tptjbm!bobl!)o>254*
Faktor risiko
OR
p
95%CI
Jenis kelamin (laki-laki)
2,34
1,79
0,67-8,47
Pernah tinggal kelas
4,59
0,11
0,70-29,98
Pengasuh bukan ibu kandung
0,01
0,82
0,00-7,6E+15
Obesitas
1,73
0,52
0,33-9,23