296
cdk vol. 34 no. 6/159 Nov - Des 2007
Penanganan Psikologik pada Obesitas
Tzmwjb!E/!Fmwjsb
Cbhjbo!Qtjljbusj!Gblvmubt!Lfeplufsbo!Vojwfstjubt!Joepoftjb0
STVQO!Es/!Dj qup!Nbohvolvtvnp!Kblbsub
QFOEBIVMVBO
Obesitas merupakan suatu kondisi yang dahulu dianggap
sebagai lambang kesejahteraan dan tidak berkaitan dengan
penyakit. Insidens dan prevalensinya meningkat, baik di ne-
gara maju maupun di negara-negara berkembang, sejalan
dengan perkembangan teknologi yang memberikan kemuda-
han dan perubahan gaya hidup. Namun, berkaitan dengan
risiko kesehatan dan dampaknya terhadap kualitas hidup,
kini obesitas merupakan problem atau penyakit
1,3
Obesitas merupakan masalah yang diperhatikan karena
berkaitan dengan peningkatan morbiditas dan mortali-
tas berbagai penyakit, antara lain hipertensi, gangguan
kardiovaskuler, diabetes, gangguan endokrin lainnya, pe-
nyakit kandung empedu, problem paru dan pernafasan,
artritis, gangguan tidur, ketidakmampuan untuk berpar-
tisipasi pada aktivitas-aktivitas rekreasi dan olahraga,
rendahnya harga diri dan problem citra-tubuh
1,4
Akhir-akhir ini obesitas dinyatakan sebagai penyakit kronik
dengan penyebab multifaktorial. Dari penelitian-penelitian
didapatkan bahwa obesitas tidak disebabkan oleh penye-
bab tunggal melainkan oleh hubungan yang kompleks an-
tara faktor genetik, fi siologik, metabolik, psikologik, so-
sioekonomik, gaya hidup dan faktor budaya.
Bila ditinjau dan aspek psikologik, obesitas dapat meru-
pakan suatu kondisi tersendiri yang antara lain meru-
pakan gejala dari gangguan makan (misalnya bulimia
nervosa), atau merupakan kondisi yang berkaitan dengan
citra-diri dan harga-diri, yang mempunyai dasar psiko-
dinamika tertentu. Pada makalah ini hanya akan dibahas
mengenai obesitas sebagai gejala dari gangguan makan,
disertai penanganannya secara garis besar.
PCFTJUBT
Kata obesitas berasal dari bahasa Latin: obesus, obe-
dere, yang artinya gemuk atau kegemukan. Obesitas atau
gemuk merupakan suatu kelainan atau penyakit yang di-
tandai dengan penimbunan jaringan lemak tubuh secara
berlebihan. Pendapat lain mengatakan bahwa obesitas
merupakan gangguan medik kronik yang tidak dapat di-
sembuhkan dan hanya dapat diobati
4,5
.
Sebagian orang menggolongkan obesitas sebagai suatu
kelainan akibat kurangnya pengendalian diri dan hal terse-
but bisa jadi telah menjadi anggapan umum
3
. Pengenda-
lian diri yang dimaksud di sini tentunya pengendalian ter-
hadap keinginan untuk makan Bila kita melihat seseorang
dengan obesitas, yang terbayang adalah bahwa orang itu
telah makan sedemikian banyak sehingga tubuhnya men-
jadi seperti yang kita lihat. Mengapa ia makan sedemiki-
an banyak? Tidak merasa kenyangkah ia hingga tidak
berhenti makan? Atau, apakah porsi makannya memang
sedemikian besar dan hal itu telah menjadi kebiasaannya
sejak lama, atau bahkan sejak kecil? Mengapa ia tidak
dapat mengendalikan keinginan makannya?
UFSKBEJOZB!PCFTJUBT
Obesitas terjadi karena ketidakseimbangan antara asu-
pan dan keluaran energi sehingga terjadi kelebihan energi
yang selanjutnya disimpan dalam bentuk jaringan le-
mak
2
. Etiologinya multifaktorial, baik faktor individual
(biologik dan psikologik) maupun lingkungan. Bila faktor
yang dapat merupakan etiologi yang berasal dari individu
seperti gangguan endokrin, serta faktor organik lainnya
ternyata tidak ditemukan, kondisi ini dapat merupakan
konsekuensi seseorang yang tidak dapat mengendalikan
keinginannya untuk makan. Bagi orang tersebut., makan
dilakukan bukan untuk memenuhi kebutuhan untuk meng-
ganti energi yang telah digunakan dan dikeluarkan pada
aktivitas fi sik atau psikologik tertentu, melainkan karena
memang ingin makan dan makan, yang tidak mampu di-
kendalikan olehnya.
Kondisi ingin makan dan makan itu termasuk dalam ke-
lompok gangguan makan dalam PPDGJ-III (Pedoman
Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indone-
sia) maupun dalam DSM-IV (
Diagnostic and Statistical
Manual of Mental disorders
). Gangguan makan tersebut,
yang kondisi pasiennya biasanya tampak gemuk atau
mengalami obesitas, terdiri atas
binge-eating
disorder
dan bulimia nervosa
6,7
.
Pada
binge-eating
disorder gejala yang ditemui yaitu
seseorang makan pada suatu periode tertentu, dengan
jumlah yang lebih banyak dan lebih cepat daripada ke-
banyakan orang, hingga ia merasa benar-benar sangat
kenyang (
uncomfortably full
). Biasanya makan dilakukan
tidak pada saat lapar, seorang diri karena malu makan
dalam jumlah besar. Biasanya orang tersebut mengalami
depresi atau merasa bersalah setelah makan
6,9,10
.
** Dibacakan pada Simposium Penanganan gangguan obesitas dan metabolisme
androgen pada masa reproduksi, Jakarta 31 Agustus 2002*
Tinjauan Pustaka
cdk vol. 34 no. 6/159 Nov - Des 2007
297
Bulimia adalah kecenderungan atau dorongan untuk
makan banyak, berlebihan, mungkin disertai nafsu makan
besar mungkin pula tidak
11
. Gejalanya serupa dengan
disertai perilaku mengeluarkan kem-
bali makanan tersebut, baik dengan cara memuntahkan
atau dengan menggunakan pencahar
6,9,10
.
QTJLPEJOBNJL!PCFTJUBT
Obesitas terjadi karena makan berlebih (
). Pada
awal kehidupan, seorang bayi mempersepsikan makanan
sebagai pengekspresian rasa cinta, dan persepsi terse-
but sering masih tersisa. Pada saat pemberian makan,
seorang ibu dapat memindahkan perasaan cemas atau
ansietas yang dialaminya kepada anaknya. Makan dapat
menjadi cara untuk mengatasi kecemasan, yang terjadi
karena frustrasi yang dialami, karena adanya persepsi
bahwa cinta dan perhatian setara dengan makanan. Kele-
bihan makan mungkin merupakan indikasi adanya ansietas
dini tersebut
12
.
Menurut Hamburger, makan berlebih merupakan respons
terhadap ketegangan emosional yang tidak spesifi k, atau
merupakan substitusi dari gratifi kasi yang tidak dapat di-
toleransi pada situasi-situasi tertentu dalam kehidupan,
atau merupakan gejala dari gangguan emosional yang
mendasarinya, terutama depresi
12
.
Bulimia nervosa maupun
dapat di-
alami mungkin karena ketidakmampuan seseorang un-
tuk mengatasi masalah-masalah hidup secara praktis.
Ketidakmampuan tersebut biasanya dalam pengendalian
emosi, pemrosesannya, serta mengatasinya. Ini mung-
kin karena adanya depresi yang mendasarinya. Depresi
tersebut dapat terjadi mungkin karena terhambatnya
proses perkembangan mental seseorang sehingga ia
lebih nyaman menggunakan mekanisme adaptasi (atau
defensi) yang biasa digunakannya pada fase perkembangan
yang lebih dini, yaitu fase oral (fase di saat seseorang
mengatasi problem hidupnya terutama dengan mulut,
biasanya pada usia antara 0-18 bulan). Mekanisme de-
fensi yang digunakan adalah introyeksi, yaitu memasuk-
kan suatu objek ke dalam struktur psikis individu
11
; objek
ini semula bersifat kongkrit (karena kemampuan berpikir
yang masih terbatas dan didominansi oleh proses pikir
primer) berupa makanan, tetapi kemudian secara berta-
hap dapat berkembang menjadi lebih abstrak (misalnya
ibu atau orang lain yang dicintai atau dianggap dekat dan
nantinya dapat berupa ide, harga diri, prestasi, dsb)
lj
.
Depresi dapat pula terjadi secara sekunder karena obe-
sitasnya; individu mengalami obesitas namun mempu-
nyai keinginan atau bayangan mengenai bentuk tubuh
yang `ideal' bisa mengalami depresi karena bayangan
bentuk tubuh yang tidak dapat dicapainya. Kemungkinan
lain, depresi terjadi karena gangguan citra-tubuh (sering
berupa distorsi, yaitu bila melihat di depan cermin,
seseorang tidak melihat tubuhnya seperti apa adanya
dalam realitas); seseorang yang obes, jarang menyadari
seberapa gemuk dirinya
14
. Dua hal ini tidak akan dibahas
lebih mendalam dalam makalah ini.
QFOBUBMBLTBOBBO
Penatalaksanaan terhadap obesitas merupakan pendeka-
tan holistik dan komprehensif, termasuk meneliti latar
belakang terjadinya obesitas pada seseorang, apakah
murni karena gangguan metabolik atau gangguan organik
lainnya, atau berperan pula faktor psikologik tertentu se-
perti telah dibahas sebelumnya
610
. Biasanya penatalaksa-
naannya meliputi pemberian farmakoterapi, pengaturan
diet, latihan fi sik, pengubahan gaya hidup.
QFOBOHBOBO!QTJLPMPHJL
Pada pasien dengan obesitas yang dasarnya adalah
gangguan makan yang didasari oleh depresi, maka pe-
nanganannya sesuai dengan penatalaksanaan terhadap
gangguan depresi, yaitu pemberian psikofarmaka dan
psikoterapi. Psikofarmaka berupa antidepresi golongan
apa saja, antara lain:
(SSRI) (sertraline 1 x 50 mg per hari, atau fl uoxetine 1
x 20 mg per hari, atau fl uvoxamine Ix 50 mg per hari),
(RIMA) (moclobe-
mide 2 x 150 mg per hari), maupun trisiklik dan tetra-
siklik (imipramin, maprotilin), disesuaikan dengan kondisi
pasien (umur, pekerjaan dan kegiatan sehari-harinya ser-
ta sosio-ekonomi).
Psikoterapi yang diberikan dapat berupa psikoterapi dengan
pendekatan dinamik, atau non-dinamik, seperti terapi kog-
nitif-perilaku, atau modifi kasi perilaku. Pemilihan jenis
psikoterapi disesuaikan dengan kondisi dan kepribadian
pasien. Pada psikoterapi dinamik, tujuan utama adalah
pencapaian tilikan (
), yaitu mengajak pasien untuk
lebih memahami diri dan kehidupannya (termasuk kon-
fl ik dan pelbagai problem yang pernah dihadapi dan cara
mengatasinya), baik pasien maupun dokter berperan
aktif dalam proses. Pada setiap pertemuan, topik yang
dibahas disesuaikan dengan yang ingin dikemukakan oleh
pasien; topik mengenai hal-ihwal yang berkaitan dengan
depresi atau gangguan makan atau obesitas yang dialami
dapat dibahas sesuai dengan kebutuhan. Biasanya dilaku-
kan dalam jangka panjang, minimal 3-12 bulan.
Pada terapi kognitif-perilaku, pasien diajak untuk meni-
Penatalaksanaan terhadap obesitas merupakan
pendekatan holistik dan komprehensif
Psikologi Obesitas
298
cdk vol. 34 no. 6/159 Nov - Des 2007
lai cara berpikirnya selama ini yang lebih cenderung ke
arah irasional (sering berpikir negatif secara otomatis
tentang diri dan kondisi yang dialaminya), pasien diajak
mengubah cara berpikirnya ke arah yang lebih rasional;
pasien juga diajak untuk dapat menggunakan cara lain
dalam menghadapi stres dan perasaan-perasaan negatif
lainnya yang mengarah pada perilaku
dan makan
berlebihan
14
.
Pada terapi perilaku (
), tujuan te-
rapi adalah membantu pasien memodifi kasi kebiasaan
makannya, meningkatkan aktivitas fi sik, meningkatkan ke-
sadaran akan kedua hal tersebut (pengubahan kebiasaan
makan dan latihan fi sik). Pasien diminta mengidentifi kasi
dan mencatat saat, suasana dan tempat sewaktu ke-
inginan makan timbul serta frekuensi makannya; pasien
kemudian diarahkan untuk dapat mengontrol stimulus
agar dapat memutuskan rantai antara peristiwa yang
membangkitkan keinginan makan dengan perilaku makan-
nya (contohnya antara lain dengan membatasi tempat-
tempat makannya, atau dengan mengambil segelas air
putih di antara setiap gigitan makanan, mengunyah de-
ngan frekuensi tertentu). Kemudian pasien diajak untuk
memodifi kasi konsekuensi dari perilaku makannya un-
tuk
(termasuk mengembangkan kemampuan
, belajar menyatakan `tidak' serta mengembang-
kan
yang positif.).
6,14-16
TJNQVMBO
Obesitas merupakan gangguan yang disebabkan oleh pel-
bagai faktor, yang merupakan hubungan kompleks antara
faktor genetik, fi siologik, metabolik, psikologik, sosioeko-
nomik, gaya hidup dan faktor budaya. Faktor psikologik
juga berperan dalam terjadinya obesitas, antara lain
berupa terdapatnya gangguan makan yaitu bulimia nervo-
sa atau
, yang didasari oleh depresi.
Penanganan psikologik terhadap obesitas adalah sesuai
de-ngan yang dilakukan terhadap depresi, yaitu pemberi-
an psikofarrnaka berupa antidepresan, serta psikoterapi,
baik dengan pendekatan dinamik, atau terapi kognitif-
perilaku, atau modifi kasi perilaku yang disesuaikan de-
ngan kondisi dan kepribadian pasien.
KEPUSTAKAAN
1. Waspadji S. Kegemukan: pendekatan klinis dan pemilihan obatnya,
dalamProsiding Temu Ilmiah Akbar 2002. Pusat Informasi dan Pener-
bitan Bagian Imu Penyakit Dalam FKUI 2002: 69-71.
2. Sjarif DR Evaluasi dan tata laksana obesitas pada anak, dalam Prosi-
ding Temu Ilmiah Akbar 2002. Pusat Informasi dan Penerbitan Bagian
Imu Penyakit Dalam FKUI 2002.
3. Soegondo S. Obesitas dan permasalahannya, dalam Prosiding Temu
Ilmiah Akbar 2002. Pusat Informasi dan Penerbitan Bagian Imu Pe-
nyakit Dalam FKUI 2002: 64.
4. Anorexia Nervosa & Related Eating disorders, Inc. Obesity, is it an eat-
ing disorder? ANRED, 2002.
5. Myers MD. Comprehensive obesity treatment, 2000. www.weight.com.
6. Brownell KD , Wadden TA. Obesity dalam Comprehensive Textbook of
Psychiatry, ed. VII, Kaplan & Sadock. (ed) 2000: 1787, 1789, 1792.
7. Direktorat Kesehatan Jiwa -Ditjen Pelayanan Medik - Departemen Ke-
sehatan RI. Pedoman Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indo-
nesia edisi III (PPDGJ-III) -1995.
8. American Psychiatric Association. Diagnostic and statistical manual
for mentaldisorders -fourth edition (DSM-IV), 1994.
9. Schwartz M. Binge eating disorder: a new eating disorder category.
webmaster@ct. addictionprofessionals. com 1998.
10. Fairburn. Risk factors for binge eating disorder. Arch Gen Psychiatr.
1998,55: 425
11. Lubis DB. Pengantar psikiatri klinik. Jakarta, Balai Penerbit FKUI, 1989: 91.
12. Grinker RR,Robbins FP. Obesity, dalam Psychosomatic case book,
NewYork Toronto The Blakiston Co, Inc. 1954: 191-2
13. Psychological causes of obesity
14. Eating disorder and obesity www.austinpsych.com/services.eating dis.
html.
15. Palmer MP. Complexity of obesity by www.innerself.com.
16. Autres Traitements. Psychotherapy for obesity www.obesity-diet.com
17. Bray GA. Behavior modification in the treatment of obesity. Lousiana-
State University Jan 2000
Psikologi Obesitas