background image
cdk vol. 34 no. 6/159 Nov - Des 2007
289
BCTUSBL
Pczflujg : Untuk menilai adanya psikopatologi pada remaja obesitas, instrumen
Symptom CheckList-90
(SCL-
90), terdiri dari 90 pertanyaan yang merupakan pengembangan dari
(HSCL) berbentuk
self rating/self report
, digunakan untuk menilai psikopatologi secara umum, mengukur derajat gejala secara
kuantitatif serta menilai psikopatologi secara deskriptif.
Cut off score
nya adalah 61. Skor penilaian adalah skor
total (kondisi mental secara umum) atau skor dari masing-masing dimensi gejala, yaitu skala depresi, anksietas,
obsesif-kompulsif, fobia, somatisasi, sensitifitas interpersonal, hostilitas, paranoid, psikotik dan skala tambahan.
Sedangkan untuk menentukan obesitas digunakan Indek Massa Tubuh (IMT). Dikatakan obesitas jika IMT lebih dari
27 kg/m. Tujuan penelitian ini untuk mencari hubungan antara obesitas dengan psikopatologi pada remaja.
Nfupef : Subyek adalah siswa-siswa SMU di wilayah Jakarta Selatan yang
dan
yang memenuhi
kriteria inklusi. Untuk menentukan jumlah sekolah yang akan diikut sertakan dalam penelitian ini digunakan teknik
dua tahap dan untuk menentukan sekolah-sekolah yang akan mewakili setiap kecamatan digu-
nakan teknik
. Selanjutnya untuk pemilihan siswa dilakukan dengan teknik
. Kemudian data dianalisis
dengan uji statistik
dan uji statistik
, untuk melihat apakah terdapat hubungan antara obesitas
efohbo!qtjlpqbupmphj!qbeb!sfnbkb/
Ibtjm : Penelitian ini melibatkan 54 siswa (27 obesitas dan 27 tidak obesitas). Dari 27 siswa obesitas, yang memi-
liki psikopatologi sebanyak 15 orang (55,6%). Dari 27 siswa tidak obesitas yang memiliki psikopatologi sebanyak
17 orang (63,0%). Analisis
menghasilkan nilai p=0,58, CI 95% (0,25-2,19) dan OR=0,74 (tidak ber-
makna).
Simpulan : Tidak terdapat hubungan antara obesitas dengan terjadinya psikopatologi.
Hubungan Antara Obesitas dengan
Psikopatologi pada Siswa SMU
di Jakarta Selatan
Tpooz!Diboesb-!!Ovsnjbuj!Bnjs-!!Jlb!Xjezbxbuj
Efqbsufnfo!Qtjljbusj!Gblvmubt!Lfeplufsbo!Vojwfstjubt!Joepoftjb0
STVQO!Es/!Dj qup!Nbohvolvtvnp-!Kblbsub-!Joepoftjb
QFOEBIVMVBO
Obesitas adalah istilah yang sering digunakan untuk
menyatakan adanya kelebihan berat badan. Kata obe-
sitas berasal dari bahasa Latin yang berarti makan
berlebihan, tetapi saat ini obesitas didefinisikan sebagai
kelainan atau penyakit yang ditandai dengan penimbu-
nan jaringan lemak tubuh secara berlebihan.
1
Obesitas pada remaja sampai saat ini masih meru-
pakan masalah yang kompleks. Penyebabnya multifak-
torial sehingga menyulitkan penatalaksanaannya. Obe-
sitas mempunyai dampak terhadap perkembangan
remaja terutama aspek perkembangan psikososial.
Seorang remaja yang menderita obesitas sering te-
rasing dalam pergaulan, merasa rendah diri, menarik
diri dari pergaulan dan mengalami depresi. Selain itu
obesitas pada masa remaja berisiko tinggi menjadi
obesitas pada masa dewasa dan berpotensi mengala-
mi pelbagai kesakitan dan kematian antara lain penya-
kit kardiovaskuler, diabetes mellitus, dan lain-lain.
2
Obesitas saat ini sudah merupakan masalah global. Pre-
valensinya meningkat tidak saja di negara-negara maju
tetapi juga di negara-negara berkembang. Perkemba-
ngan teknologi dengan penggunaan kendaraan bermo-
tor dan berbagai media elektronika memberikan dampak
berkurangnya aktivitas fisik yang akhirnya mengurangi ke-
luaran energi.
3-5
Selain itu mendunianya makanan cepat
saji gaya barat mengubah pola makan lokal.
Dari hasil penelitian di Amerika, Daniel SP dkk (1997), me-
nyatakan terdapat hubungan antara psikopatologi dengan
obesitas pada remaja, terutama dalam bentuk depresi
5,6,7
Dikatakan juga remaja obesitas akan dijauhi oleh teman-
temannya, mempunyai masalah emosional yang serius,
merasa putus asa dan mencoba bunuh diri.
8-10
Foreyt & Goodrick (1992), mengemukakan bahwa
hubungan antara obesitas dengan gejala psikopatolo-
gi merupakan suatu lingkaran tidak terputus. Digam-
barkan bahwa obesitas akan membuat seseorang
merasa tersisih, yang selanjutnya akan memperburuk
keadaan apabila ia mengalami kegagalan dalam pena-
Hasil Penelitian
background image
290
cdk vol. 34 no. 6/159 Nov - Des 2007
talaksanaan sehingga dapat timbul psikopatologi.
11
Di Indonesia masih ada anggapan bahwa gemuk
merupakan suatu simbol kemakmuran, kesehatan dan
kewibawaan
4
. Oleh karena itu, masih banyak dijumpai
individu yang sengaja membiarkan dirinya dalam ke-
adaan obesitas. Sementara di negara maju seperti
Amerika dan negara-negara Eropa, obesitas sudah di-
anggap sebagai suatu penyakit yang harus mendapat
penanganan serius, mengingat dampaknya terhadap
kesehatan. Penelitian-penelitian di Amerika dan Eropa
menunjukkan bahwa remaja-remaja obesitas cende-
rung mengalami psikopatologi
6,7,12
Adanya perbedaan
persepsi tersebut menjadi latar belakang penelitian ini.
Berdasarkan uraian diatas dapat dirumuskan perta-
nyaan penelitian apakah terdapat hubungan antara
obesitas dengan psikopatologi pada remaja. Hipotesis
pada penelitian ini adalah terdapat hubungan antara
obesitas dengan psikopatologi pada remaja.
Tujuan penelitian ini adalah mencari hubungan antara
obesitas dengan psikopatologi pada remaja.
NFUPEPMPHJ
Penelitian ini merupakan penelitian studi analitik
cross
sectional
untuk mencari hubungan antara obesitas
dengan psikopatologi pada remaja.
Penelitian ini dilakukan di SMU Negeri dan Swasta
di wilayah Jakarta Selatan. Waktu penelitian 5 bulan,
Januari 2003 hingga Mei 2003.
Populasi umum adalah siswa-siswa SMU Negeri dan
Swasta di wilayah Jakarta Selatan. Populasi target
adalah siswa-siswa SMU Negeri dan Swasta di Ja-
karta Selatan yang memenuhi kriteria obesitas. Po-
pulasi terjangkau diambil siswa-siswa dari 15 SMU
Negeri dan Swasta di wilayah Jakarta Selatan yang
memenuhi kriteria obesitas pada bulan Januari 2003
hingga Mei 2003. Jumlah seluruh SMU di wilayah Ja-
karta Selatan 103 sekolah.
Sampel diambil berdasarkan populasi terjangkau
yaitu siswa-siswa SMU kelas 1 sampai kelas 3 yang
memenuhi kriteria obesitas maupun yang tidak me-
menuhi kriteria obesitas (sebagai kontrol) dengan jum-
lah sama banyak. Untuk menentukan jumlah sekolah
yang akan diambil sebagai sampel digunakan teknik
cluster sampling
dua tahap, dengan rumus :
n = jumlah
, m = rata-rata jumlah murid per
, p = proporsi 2 (0,48), v = 0,15 2 (0,0225), roh =
(1), q =1 - p.
Diperoleh 15 sekolah. Selanjutnya untuk menentukan
jumlah SMU yang diambil di tiap kecamatan dipakai ru-
mus : (Jumlah SMU di kecamatan : Jumlah SMU se
Jakarta Selatan) x 15. Berdasarkan hasil perhitungan
statistik dibutuhkan 27 siswa obesitas, jadi dibutuhkan
masing-masing 2 siswa obesitas per sekolah, sehing-
ga diperoleh 30 siswa obesitas; kemudian dikeluarkan
3 siswa secara acak agar menjadi 27 siswa obesitas.
Dari 15 sekolah yang sudah ditentukan berdasarkan ru-
mus di atas, dipilih secara acak sekolah-sekolah yang me-
wakili setiap kecamatan. Selanjutnya dari setiap sekolah
tersebut diambil sampel sebanyak 2 siswa obesitas dan
2 siswa tidak obesitas. Cara pemilihan siswa obesitas
secara purposif yaitu jika pada satu sekolah ditemukan
2 siswa yang memenuhi kriteria obesitas, maka ke 2
siswa obesitas tersebut langsung diambil sebagai sam-
pel. Begitu selanjutnya yang dilakukan di setiap sekolah.
Jika di satu sekolah tidak terdapat siswa obesitas, maka
dilakukan pemilihan sekolah lain di kecamatan yang sama
secara acak. Pemilihan siswa tidak obesitas dilakukan se-
cara acak dari populasi yang sama.
Lsjufsjb!Jolmvtj!ebo!Fltlmvtj
Kriteria inklusi :
1. Siswa SMU kelas I ­ III
2. Memenuhi kriteria obesitas
3. Bersedia menjadi responden
Kriteria eksklusi :
Sedang dalam penyalahgunaan zat
Setelah
disetujui, dilanjutkan dengan meminta
izin penelitian kepada Kepala Dinas Pendidikan dan
Kebudayaan Kotamadya Jakarta Selatan. Setelah
Lfdbnbubo
Tebet
Setiabudi
Mampang
Pancoran
Pasar Minggu
Jagakarsa
Kebayoran Baru
Kebayoran Lama
Pesanggrahan
Cilandak
Jumlah
Jumlah sekolah
17
6
2
5
9
11
18
15
8
12
103
Sampel sekolah
2
1
1
1
1
2
2
2
1
2
15
n =
pq
v x m
x roh (m ­ 1) + 1,
Obesitas dan Psikopatologi
background image
cdk vol. 34 no. 6/159 Nov - Des 2007
291
mendapat izin, peneliti mengunjungi beberapa SMU di
Jakarta Selatan yang sudah ditentukan.
Setelah mendapat izin dari kepala sekolah, peneliti
berkoordinasi dengan guru olah raga di masing-masing
sekolah dan mendapat daftar nama siswa kelas 1 ­ ke-
las 3 yang "gemuk". Pengambilan sampel 2 siswa SMU
yang gemuk dilakukan pada jam pelajaran olah raga.
Setelah pengukuran tinggi badan dan berat badan, kemu-
dian berdasarkan indek massa tubuh ditentukan apakah
memenuhi kriteria obesitas. Untuk siswa tidak obesitas
dipilih secara acak dari populasi yang sama. Kemudian
digunakan kuesioner
Symptom Check List
-90 (SCL-90),
kuesioner citra diri dan kuesioner stresor psikososial.
Pembuktian hipotesis penelitian menggunakan teknik uji
Kai-kuadrat (uji x
2
), dan uji statistik Fisher yang merupa-
kan uji hipotesis yang sering digunakan dalam penelitian
klinis karena cocok dengan data yang tersedia. Variabel
psikopatologi tersaji dalam skala nominal dikotom.
Seluruh perhitungan statistik dilakukan dengan pro-
gram SPSS versi 10.
IBTJM
Penelitian ini merupakan penelitian
untuk
melihat hubungan antara obesitas dengan psikopatolo-
gi pada siswa SMU di Jakarta Selatan; dilakukan di 15
SMU di Jakarta Selatan. Sebanyak 54 siswa SMU yang
telah memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi berparti-
sipasi dalam penelitian ini. Karena penelitian ini hanya
dilakukan di Jakarta Selatan maka hasil penelitian ini
tentu tidak dapat mewakili wilayah lain di Jakarta.
Karakteristik Responden
Tabel 1. Karakteristik subyek penelitian berdasarkan jenis kelamin, usia dan suku
Pada penelitian ini jumlah subyek penelitian yang obesi-
tas sama banyak dengan yang tidak obesitas, masing-
masing 27 orang. (Tabel 2). Analisis hubungan antara
obesitas dengan terjadinya psikopatologi mengguna-
kan uji statistik
menghasilkan nilai p=0,58, CI
95% (0,25 ­ 2,19) dan OR = 0,74 (tidak bermakna).
Hal ini berarti faktor obesitas cende-rung tidak mem-
pengaruhi terjadinya psikopatologi. Pada penelitian ini
hipotesis tidak terbukti. (Tabel 2)
3/!Kfojt!Lfmbnjo
Jumlah laki-laki dan perempuan pada penelitian ini
hampir sama banyak yaitu laki-laki 28 orang (51,9%)
dan perempuan 26 orang (48,1%). Proporsi yang obe-
sitas dan yang dengan psikopatologi selanjutnya dapat
dilihat di Tabel 3.
Ubcfm!3/!Ivcvohbo!pcftjubt!efohbo!bebozb!qtjlpqbupmphj
Ubcfm!4/!bobmjtjt!tubujtujl!bubt!ivcvohbo!boubsb!pcftjubt!efohbo!beb0
ujeblozb!qtjlpqbupmphj
4/!Vtjb
Usia berkisar antara 15 ­ 18 tahun karena subyek
penelitian merupakan siswa SMU. Pada penelitian ini
terbanyak adalah usia 16 tahun (35,2%).
5/!Tvlv
Subyek penelitian sebagian besar suku Jawa.
6/!Djusb!Ejsj
Pada penelitian ini dari 27 subyek penelitian obesitas
yang memiliki citra diri tinggi sebanyak 9 orang (3
orang psikopatologi positif dan 6 orang psikopatologi
negatif) dan yang memiliki citra diri rendah sebanyak
18 orang (12 orang psikopatologi positif dan 6 orang
psikopatologi negatif). Sedangkan dari 27 subyek
Variabel
Obesitas Tidak obesitas
n
%
n
%
Perempuan
Laki-laki
15 tahun
16 tahun
17 tahun
18 tahun
Jawa
Sunda
Betawi
Palembang
Minang
Tapanuli
Lain-lain
Jenis
kelamin
Usia
Suku
10
17
9
9
8
1
12
4
0
1
3
2
5
37,0
62,9
33,3
33,3
29,6
3,7
44,4
14,8
0
3,7
11,1
7,4
18,5
16
11
8
10
8
1
4
5
1
0
1
2
14
59,2
40,7
29,6
37,0
29,6
3,7
14,8
18,5
3,7
0
3,7
7,4
51,8
Psikopatologi
positif
Psikopatologi
negatif
Total
n
Uji
statistik
OR
(CI 95%)
Obesitas
Tidak
obesitas
15
17
12
10
27
27
Chi square
p=0,58
0,74
(0,25-2,19)
Psikopatologi
positif
Psikopatologi
negatif
Total
Uji
statistik
OR
(CI 95%)
n % n %
Perempuan
Obesitas 6 60,0 4 40,0 10
Tidak obesitas 13 81,3 3 18,8 16
Total
19 73,1 7 26,9 26
Fisher
0,235
0,346
(0,058-2,057)
Laki-laki
Obesitas 9
52,9 8 47,1 17
Tidak obesitas 4 36,4 7 63,6 11
Total
13 46,4 15 53,6 28
Fisher
0,390
1,969
(0,416-9,317)
Obesitas dan Psikopatologi
background image
292
cdk vol. 34 no. 6/159 Nov - Des 2007
penelitian tidak obesitas yang memiliki citra diri tinggi
sebanyak 14 orang (6 orang psikopatologi positif dan
8 orang psikopatologi negatif) dan yang memiliki citra
diri rendah sebanyak 13 orang (11 orang psikopatolo-
gi positif dan 2 orang psikopatologi negatif). (Tabel 4)
Ubcfm!5/!Ivcvohbo!Djusb!Ejsj!efohbo!Qtjlpqbupmphj
7/!Tusftps!Qtjlptptjbm
Pada penelitian ini dari 27 subyek penelitian obesitas
yang memiliki stresor psikososial tinggi sebanyak 23
orang (13 orang psikopatologi positif dan 10 orang
psikopatologi negatif) dan yang memiliki stresor psiko-
sosial rendah sebanyak 4 orang (2 orang psikopatologi
positif dan 2 orang psikopatologi negatif). Sedangkan
dari 27 subyek penelitian tidak obesitas yang memi-
liki stresor psikososial tinggi sebanyak 23 orang (17
orang psikopatologi positif dan 6 orang psikopatologi
negatif) dan yang memiliki stresor psikososial rendah
sebanyak 4 orang (4 orang psikopatologi negatif). (Ta-
bel 5)
Ubcfm!6/!Ivcvohbo!Tusftps!Qtjlptptjbm!efohbo!Qtjlpqbupmphj
8/!!Tlbmb!ejnfotj!qtjlpqbupmphj
Ubcfm!7/!Ejnfotj!Qtjlpqbupmphj
Berdasarkan
skala dimensi psikopatologi, rema-
ja obesitas kecenderungan psikopatologinya depresi,
anksietas dan somatisasi. Pada remaja tidak obesi-
tas kecenderungan psikopatologinya adalah obsesi
kompulsi, somatisasi, sensitivitas interpersonal dan
hostilitas.
EJTLVTJ
Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara
obesitas dengan psikopatologi, melibatkan 27 remaja
obesitas (indeks massa tubuh >27) dan 27 remaja ti-
dak obesitas. Dari 27 remaja obesitas, yang memiliki
psikopatologi yaitu 15 orang (55,6%). Sementara dari
27 remaja tidak obesitas yang memiliki psikopatologi
adalah 17 orang (63%); p= 0,58, CI 95% (0,25-2,19)
dan OR = 0,74. Hasil ini menunjukkan adanya hubu-
ngan antara obesitas dengan psikopatologi.
Terjadinya psikopatologi pada seorang remaja obesi-
tas dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain, citra
diri, sosial ekonomi, stresor psikososial dan faktor-
faktor biologis
5
Studi kohort dilakukan Pine dkk. di beberapa klinik gizi
di New York, Amerika tahun 1983 sd. 1992 untuk me-
lihat hubungan antara obesitas dengan psikopatologi
6
.
Jumlah sampelnya 664 remaja obesitas (indek massa
tubuh > 30), terdiri dari 310 laki-laki dan 354 perem-
puan. Penilaian pertama dilakukan ketika subyek beru-
sia antara 9 - 18 tahun (1983) dan penilaian kedua
ketika subyek berusia antara 17 - 28 tahun (1992)
menggunakan
Modifications of the Dianostic Interview
Schedule for Children
. Hasil psikopatologi yang ter-
banyak adalah depresi, gangguan perilaku dan cemas.
Penelitian itu menyimpulkan bahwa terdapat hubun-
gan antara obesitas de-ngan psikopatologi.
Adanya perbedaan antara hasil penelitian Pine dkk
dengan penelitian ini mungkin disebabkan oleh perbe-
daan jumlah sampel. Pada penelitian Pine dkk jumlah
sampel adalah 664 remaja obesitas (IMT > 30) se-
dangkan pada penelitian ini jumlah sampel 27 remaja
obesitas (IMT >27). Selain itu juga berbeda dalam hal
tempat pengambilan sampel; pada penelitian Pine dkk,
sampel diperoleh dari klinik gizi. Mungkin subyek yang
datang ke klinik gizi sudah menyadari bahwa obesitas
merupakan suatu penyakit atau kelainan yang perlu
pengobatan, sedangkan pada penelitian ini, sampel
diambil dari SMU yang mungkin belum menganggap
obesitas sebagai suatu masalah. Selain itu juga ter-
dapat perbedaan usia. Pada penelitian Pine dkk. usia
antara 17 - 28 tahun, sedangkan penelitian ini usia
sampel berkisar antara 15 - 18 tahun. Menurut Erik-
son, seseorang sejak berusia 21 tahun sampai 40 ta-
hun (stadium
) sudah membutuhkan seorang
No
Psikopatologi
Obesitas
Tidak obesitas
n % n %
1.
Depresi
8
29,6
0
0
2.
Anksietas
4
14,8
0
0
3.
Obsesi kompulsi 1
3,7
10 37,0
4.
Phobia 0
0
0
0
5.
Somatisasi
2
7,4
3 11,1
6.
Sensitivitas
0
0
2 7,4
interpersonal
7.
Hostilitas
0
0
2 7,4
8.
Ide Paranoid
0
0
0
0
9.
Psikotikisme
0
0
0
0
10.
Tambahan
0
0
0
0
Obesitas dan Psikopatologi
Obe
sitas
Citra
Diri
Psikopatologi
positif
Psikopatologi
negatif
Total
Uji
statistik
OR
(CI 95%)
ya rendah 12
6
18
tidak rendah 11
2
13
ya tinggi 3 6
9
tidak tinggi 6 8
14
Fisher
0,412
0,364
0,060- 2,194
Fisher
1,00
0,667
0,117- 3,813
Obe
sitas
Psikopatologi
positif
Psikopatologi
negatif
Total
Uji
statistik
OR
(CI 95%)
ya rendah 13
10
23
tidak rendah 17
6
23
ya tinggi 2 2
4
tidak tinggi 0 4
4
Chisquare
0,216
0,459
(0,132 - 1,591)
Fisher
0, 429
0,5
(0,188 - 1,332)
Strseor
psiko
sosial
background image
cdk vol. 34 no. 6/159 Nov - Des 2007
293
teman lawan jenis atau pasangan untuk dapat terlibat
dalam hubungan yang lebih intim dan serius
17
. Pada
rentang usia tersebut seseorang lebih menyadari
pentingnya penampilan fisik di dalam pergaulan.
15
Se-
dangkan usia antara 15 - 18 tahun berada dalam sta-
dium identity yang lebih mementingkan kekompakan
dalam kelompok sosialnya, mencoba melepaskan diri
dari ikatan yang kuat dengan orang dewasa dan men-
coba mandiri
17
. Ada dugaan bahwa usia turut mem-
pengaruhi hasil penelitian ini.
Selain itu juga terdapat perbedaan penggunaan ins-
trumen. Penelitian Pine dkk menggunakan adalah
Modification Interview Schedule for Children
, dan hasil-
nya dalam bentuk diagnosis. Pada penelitian ini instru-
men yang digunakan adalah
90 dan
hasilnya dalam bentuk ada atau tidaknya psikopatologi.
Perbedaan penggunaan instrumen dapat menyebab-
kan perbedaan hasil. Tetapi apabila ditelusuri butir-
butir psikopatologinya, sebenarnya hasil penelitian ini
tidak jauh berbeda dengan penelitian Pine dkk. Pada
penelitian ini butir depresi (29,6%), anksietas (14,8%)
dan somatisasi (7,4%).
Penelitian di Jerman tahun 2000 bersifat Cross Sec-
tional untuk melihat hubungan antara obesitas dengan
psikopatologi. Sampel dari pusat pengobatan obesitas
INSULA di Berchtesgaden terdiri dari 47 remaja obesi-
tas (indek massa tubuh > 40), 30 perempuan dan 17
laki-laki, usia antara 15 - 21 tahun. Penilaian adanya
psikopatologi menggunakan
Munich-Composite Inter-
national Diagnostic Interview
(M-CIDI). Psikopatologi
yang diperoleh terbanyak adalah cemas, somatoform
dan gangguan makan. Penelitian ini juga menyimpul-
kan bahwa terdapat hubungan antara obesitas dengan
psikopatologi. Juga berbeda dengan hasil penelitian ini.
Adanya perbedaan ini mungkin karena perbedaan jum-
lah sampel. (47 vs. 27 remaja obesitas). Selain itu juga
tempat pengambilan sampel berbeda. Pada penelitian
Britz dkk sampel diperoleh dari pusat pengobatan
obesitas dengan batasan indek massa tubuh >40; se-
dangkan pada penelitian ini sampel diambil dari SMU
dengan indek massa tubuh >27. Mungkin sampel
pada penelitian Britz dkk sudah menyadari keadaan
dan bentuk tubuhnya yang obesitas derajat berat
(IMT>40), dan merupakan suatu penyakit atau kelain-
an fisik dan perlu diobati, karena sangat mempenga-
ruhi penampilan dan aktivitas fisiknya.
13,15
, Selain itu
obesitas dapat berisiko penyakit kardiovaskuler, diabe-
tes melitus dan
1,23
. Di samping itu juga terdapat
perbedaan penggunaan instrumen. Penelitian B.Britz
dkk menggunakan instrumen
Munich-Composite Inter-
national Diagnostic Interview
(M-CIDI), yang hasilnya di-
peroleh dalam bentuk diagnosis, sedangkan penelitian
ini menggunakan
Sympton Check List
90 (SCL-90),
yang hasilnya berupa ada tidaknya psikopatologi. Jika
ditelusuri butir-butir psikopatologinya, sebenarnya ha-
sil yang diperoleh tidak jauh berbeda. Penelitian ini juga
menghasilkan adanya peningkatan butir cemas dan
somatisasi pada penderita obesitas.
Telch dan Agras (1992), melakukan penelitian
cross
sectional
di Amerika atas 72 remaja obesitas dari ras
kulit hitam (indek massa tubuh >30) yang terdiri dari
19 laki-laki dan 53 perempuan dari beberapa sekolah
menengah atas di Washington. Penilaian psikopatologi
menggunakan The Hopkins Symptom Checklist ter-
diri 46
items
yang sudah dimodifikasi oleh Derogatis.
8
Hasilnya psikopatologi yang terbanyak adalah depresi
dan cemas. Pada penelitian ini dikatakan terdapat hubu-
ngan antara obesitas dengan psikopatologi. Adanya
perbedaan kesimpulan dengan penelitian ini mungkin
karena perbedaan jumlah sampel (72 remaja obesitas
IMT >30) vs. 27 remaja obesitas (IMT > 27). Selain itu
pada penelitian Telch dkk sampel lebih banyak perem-
puan (53 perempuan dan 19 laki-laki), sedangkan pada
penelitian ini sampel lebih banyak laki-laki (17 laki-laki
dan 10 perempuan). Perempuan lebih memperhatikan
penampilan fisiknya dibandingkan laki-laki
16
. Keadaan
ini dapat menyebabkan perbedaan hasil. Adapun in-
strumen yang digunakan pada penelitian Telch dkk
adalah
The Hopkins Symptom
46 items yang sudah di-
modifikasi oleh Derogatis. Penelitian ini menggunakan
Sympton Check List
90. Apabila ditelusuri butir-butir
psikopatologinya, maka hasil penelitian Telch dkk dan
hasil penelitian ini terdapat kesamaan yaitu terjadi pe-
ningkatan pada butir depresi dan cemas.
Di Amerika Serikat dan di Eropa, obesitas sudah diang-
gap sebagai suatu penyakit
1,14
sedangkan di Indone-
sia masih ada anggapan bahwa obesitas merupakan
simbol kemakmuran, kesehatan dan kewibawaan
4
.
Adanya perbedaan persepsi ini mungkin dapat mem-
pengaruhi hasil penelitian yang dilakukan di Indonesia.
Untuk itu penelitian yang bertujuan untuk melihat per-
sepsi terhadap obesitas perlu dilakukan.
Untuk melihat hubungan antara obesitas dengan
psikopatologi pada kelompok laki-laki digunakan uji
statistik Fisher, hasilnya p=0,390, OR= 1,969, CI
95%= 0,416-9,317 (tidak bermakna). Untuk melihat
Obesitas dan Psikopatologi
Penelitian ini menunjukkan tidak ada hubungan antara
obesitas dengan psikopatologi. Perbedaan ini mungkin
karena perbedaan jumlah sampel, tempat pengambilan
sampel, penetapan indeks massa tubuh dan instrumen
yang digunakan.
background image
294
cdk vol. 34 no. 6/159 Nov - Des 2007
hubungan antara obesitas dengan psikopatologi pada
kelompok perempuan digunakan uji statistik Fisher,
p=0,235, OR= 0,346, CI 95%= 0,058-2,057 (tidak
bermakna). Sedangkan untuk melihat hubungan an-
tara obesitas de-ngan psikopatologi, dengan jenis
kelamin sebagai variabel kontrol digunakan uji statis-
tik Mantel-Haentzel, p=0,908 , OR= 0,936 , CI 95%=
0,304-2,879 (tidak bermakna). Berdasarkan analisis
tersebut maka pada penelitian ini jenis kelamin tidak
mempengaruhi terjadinya psikopatologi pada remaja
obesitas. Hal ini mungkin karena pada penelitian ini
sampel terbanyak adalah laki-laki, yang jika dibanding-
kan dengan perempuan, laki-laki lebih sedikit memper-
hatikan penampilan fisiknya.
Penilaian citra diri berdasarkan dimensi
self esteem
.
(Tabel 4). Hubungan antara obesitas dengan psikopa-
tologi pada kelompok citra diri tinggi tidak bermakna
(uji Fisher, p= 1,00, OR= 0,667, CI 95%= 0,117-
3,813). Selanjutnya hubungan antara obesitas dengan
psikopatologi dengan citra diri sebagai variabel peran-
cu juga tidak bermakna (uji statistik Mantel-Haentzel,
p=0,262, OR=0,492, CI 95%=0,142-1.701).
Analisis hubungan antara obesitas dengan psikopa-
tologi pada kelompok stresor psikososial tinggi meng-
gunakan uji statistik Chi square p=0,216 , OR=0,459,
CI 95%=0,132-1,591 (tidak bermakna). Untuk meli-
hat hubungan antara obesitas dengan psikopatologi
pada kelompok stresor psikososial rendah digunakan
uji statistik Fisher p=0,429, OR=0,5, CI 95%=0,188-
1,332 (tidak bermakna). Selanjutnya untuk melihat
hubungan antara obesitas dengan psikopatologi dengan
stresor psikososial sebagai variabel perancu digunakan
uji statistik Mantel-Haentzel, p=0,576 , OR=0,729, CI
95%= 0,241-2,204 (tidak bermakna) (tabel 5).
Pada penelitian ini faktor citra diri dan stresor psiko-
sosial tidak mempengaruhi terjadinya psikopatologi
pada remaja obesitas. Hal ini mungkin karena masih
adanya perbedaan persepsi antara remaja obes di
Amerika dan di Jerman dengan remaja obes di Indone-
sia; untuk itu perlu penelusuran lebih lanjut mengenai
persepsi diri pada remaja obes di Indonesia. Apakah
mereka masih menganggap obesitas sebagai simbol
kemakmuran, kesehatan dan kewibawaan atau sudah
menganggap obesitas sebagai suatu kelainan /penya-
kit yang perlu mendapat penanganan serius.
Pada penelitian ini ditemukan lebih banyak psikopatolo-
gi pada remaja tidak obes (17 orang - 63%) dibanding-
kan dengan remaja obes (15 orang - 55,6%). Remaja
perempuan tidak obes mempunyai psikopatologi lebih
besar (81%) dibandingkan dengan remaja perempuan
obes (60%). Sedangkan dalam literatur dikatakan bah-
wa remaja obesitas memiliki kecenderungan lebih be-
sar untuk mengalami psikopatologi
2,6
dan juga remaja
perempuan obes memiliki kecenderungan lebih besar
untuk mengalami psikopatologi
11
. Perbedaan ini mung-
kin disebabkan oleh faktor-faktor lain yang berperan
dalam terjadinya psikopatologi seperti faktor sosial
ekonomi yang perlu diteliti lebih lanjut.
Keterbatasan dan kelemahan penelitian
1. Penelitian ini hanya dilakukan di 15 SMU Jakarta
Selatan, sehingga hasilnya tentu tidak dapat mewakili
wilayah Jakarta lainnya.
2. Tidak ditelitinya faktor sosial ekonomi dan per-
sepsi terhadap obesitas yang dapat mempengaruhi
terjadinya psikopatologi. Hal ini disadari oleh peneliti
dapat mempengaruhi hasil penelitian.
TJNQVMBO
Penelitian ini menunjukkan tidak ada hubungan antara
obesitas dengan psikopatologi. Hasil ini berbeda dengan
beberapa hasil penelitian sebelumnya yang mengatakan
terdapat hubungan antara obesitas dengan psikopa-
tologi. Perbedaan ini mungkin karena perbedaan jum-
lah sampel, tempat pengambilan sampel, penetapan
indeks massa tubuh dan instrumen yang digunakan.
Tetapi bila dilihat dari butir-butir psikopatologi, hasil
penelitian hampir sama dengan penelitian lain. Fak-
tor lain yang juga bisa menyebabkan tidak terbuktinya
hipotesis, karena sampel tidak diambil secara acak
dan kontrolnya tidak
matched
. Selain itu penelitian ini
juga tidak mengevaluasi faktor persepsi terhadap obe-
sitas dan faktor sosial ekonomi. Penelitian ini dilakukan
berdasarkan latar belakang masih adanya persepsi
obesitas identik dengan kemakmuran, kewibawaan
dan kesehatan
(4)
. Apakah faktor persepsi terhadap
obesitas ini yang menyebabkan tidak terbuktinya hipo-
tesis? Untuk ini penelitian peranan persepsi pada ter-
jadinya psikopatologi pada obesitas perlu dilakukan.
Selain itu faktor-faktor lain seperti sosial ekonomi juga
perlu diteliti.
TBSBO
1. Diharapkan penelitian-penelitian yang akan datang,
dapat dilakukan di klinik-klinik gizi di wilayah Jakarta .
2. Jumlah sampel diharapkan lebih banyak diambil se-
cara acak dan pengambilan kontrol yang
match
.
3. Perlu dipikirkan penggunaan instrumen lain yang
hasil akhirnya berupa diagnosis untuk menilai adanya
psikopatologi.
4. Perlu penelitian terhadap faktor-faktor yang dapat
mempengaruhi terjadinya psikopatologi seperti status
sosial ekonomi dan faktor persepsi terhadap obesitas.
Obesitas dan Psikopatologi
background image
cdk vol. 34 no. 6/159 Nov - Des 2007
295
LFQVTUBLBBO
1. Sjarif DR. Obesitas pada anak dan permasalahannya, Hot topics inpe-
dia-trics, PKB IKA XLV, 2001; hal 219-224.
2. Brown KM, Mc Mahon RP. Changes in self esteem in black and white
girls between the age of 9 and 14 years, J. Adolescent Health 1998;
23 : 7 ­ 19.
3. Braet C, Marvielde I, : Psychological aspects of childhood obesity, J
Pediatr Psychol 1977 Feb ; 22 : 59 ­ 71.
4. Prihadi M. Patofisiologi obesitas. Simposium obesitas, kumpulan ma-
kalah lengkap, FK UNDIP Semarang 1981, hal 1 - 22.
5. Allen. C, Inova MY. Global and dimensional self esteem in preadoles-
cent and early adolescent children who are overweight : Age and
gender differences, Int. J Eat Disorder 2002;31: 424 ­ 429,
6. Pine DS, Cohen P. Psychiatric symptoms in adolescent as a predictor
of obesity in early adulthood, Am.J. Public Health 1987; 87( 8).
7. Telch CF, Agras WS. Obesity, binge eating and psychopathology, Int J
Eat Disord 1994; 15 : 53-61.
8. http://www.Emedicine.com/ped/topic 1699, htm, obesity from pe-
diatric/ nutrition
9. Krich FD, Rathner G. The relationship between overweight and psychologi-
cal problems in adult Czech population, Sb lek 1998 ; 99: 303 ­ 9.
10. Pesa JA, Syre TR. Psychosocial differences associated with body
weight among female adolescents, J.Adolescent Health 2000 ; 26
: 330 ­ 337.
11. Utami DS. Hubungan sindrom depresi dengan kegagalan dan keber-
hasilan diet pada wanita dewasa kegemukan di salah satu klinik swas-
ta di Jakarta (Tesis), Bagian Psikiatri FKUI,1996.
12. Britz B, Siegfried W. Rates of psychiatric disorder in clinical study
group of adolescents with extreme obesity and in obese adolescents
ascertained via a population based study. Internat.J. Obesity 2000;
707 ­ 1714.
13. Sobara M, Galiebter A. Body image disturbance in obese outpatiens
before and after weight loss in relation to race, gender, binge eating
and age of onset obesity. Int J Eat Disorder 31 ; 416 ­ 423 ; 2000.
14. Nasar SS. Obesitas pada anak, aspek klinis dan pencegahan. Naskah
lengkap PKB IKA XXXV FKUI 1995, hal 68 ­ 80.
15. Soerjodibroto W. Kegemukan ; masalah dan penanggulangannya,FKUI
Jakarta 1986, hal 1 ­ 7.
16. Tjokronegoro A. Obesitas. FKUI Jakarta, 1981, hal 23 - 27.
17. Kaplan HI, Saddock BJ (eds). Obesity. Comprehensive Textbook of Psy-
chiatry 6 th ed. William and Wilkins Baltimore, 1995; 1787 - 1797.