background image
cdk vol. 34 no. 6/159 Nov - Des 2007
285
Hasil Penelitian
Joefl!Hmjtfnjl!2!Kbn!Qptuqsboejbm!Cbibo!
Nblbobo!Qplpl!Kfojt
Obtj-!!Kbhvoh-!!ebo!Lfouboh
Exj!Qsjkbunplp
Cbhjbo!!Jmnv!Hj{j!!Gblvmubt!Lfeplufsbo!ebo!Gblvmubt!Lfeplufsbo!Hjhj
Vojwfstjubt!Kfncfs-!Kbxb!Ujnvs-!Joepoftjb
BCTUSBL
Karbohidrat merupakan faktor penting dalam kontrol glukosa darah terutama dalam penyediaan kebutuhan energi untuk
aktifi tas fi sik sehari-hari. Indek glisemik yaitu kemampuan karbohidrat untuk menaikkan kadar glukosa darah dalam
waktu tertentu dan dipengaruhi oleh variasi individual, panjang rantai molekul karbohidrat, dan besarnya kandungan
serat dalam suatu bahan makanan.
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui perbedaan indek glisemik 3 jenis makanan pokok yaitu, nasi, jagung, dan ken-
tang. Penelitian ini melibatkan 15 laki-laki dewasa muda (18-20 tahun) dengan usia dan indek massa tubuh seimbang.
Setelah puasa 12 jam, 2 ml. darah diambil dari vena kubital sebelum dan satu jam sesudah mengkonsumsi 200g.
bahan makanan yang diteliti. Pengukuran konsentrasi gula darah dilakukan satu minggu sekali.
Indek massa tubuh sukarelawan berada pada rentang indek massa tubuh ideal (20,73 ± 1,17). Hasil uji anova untuk
kadar glukosa darah puasa pada minggu, I, II, dan III, menunjukkan tidak ada perbedaan bermakna. Sedangkan konsen-
trasi glukosa darah 1 jam
dengan beban bahan makanan nasi, jagung, dan kentang menunjukkan perbedaan
bermakna (p<0,05.)
Hasil uji LSD menunjukkan bahwa nasi memiliki indek glisemik tertinggi secara nyata, kemudian kentang, dan yang te-
rendah jagung. Perbedaan indek glisemik ini mungkin karena jumlah dan jenis kandungan serat tidak larut lebih banyak
pada jagung. Dari ketiga bahan makanan tersebut, nasi mampu menaikkan kadar glukosa darah puasa sebesar 35,9mg/
dL, kentang 18,1 mg/dL serta jagung 13,4 mg/dL untuk setiap 200 g. yang dikonsumsi.
Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa dari tiga bahan makanan tersebut, jagung mempunyai indek glisemik te-
rendah. Dibutuhkan jagung yang lebih banyak untuk dapat meningkatkan konsentrasi glukosa darah sebesar peningkatan
yang dihasilkan oleh nasi atau kentang.
Kata Kunci: Indek Glisemik, nasi, kentang, jagung
QFOEBIVMVBO
Indek glisemik adalah pengukuran kecepatan penyera-
pan karbohidrat serta kemampuan karbohidrat untuk
menaikkan konsentrasi glukosa darah dalam waktu
tertentu. Indek glisemik dapat pula didefinisikan se-
bagai respon glukosa darah terhadap makanan yang
mengandung karbohidrat dalam takaran dan waktu
tertentu
(1)
.
Istilah glukosa darah dektrosa (d-dektrosa) secara be-
bas digunakan untuk glukosa dan gula-gula lainnya ser-
ta kadang-kadang zat-zat pereduksi lain yang mungkin
terdapat dalam darah
(2)
. Glukosa darah seseorang
akan naik segera setelah mengkonsumsi makanan
dan relatif stabil pada konsentrasi 0,1%, yaitu 80-120
mg/dL. walau banyak glukosa yang diambil oleh jari-
ngan dan organ. Dalam waktu 30-60 menit
postpran-
dial
, biasanya kadar glukosa darah mencapai maksi-
mum kemudian menurun dalam waktu 2 jam
(3)
.
Glukosa darah berasal dari dua sumber, berasal dari
darah sendiri termasuk plasma dan yang terbanyak
adalah yang berasal dari karbohidrat yang dikonsum-
si. Semua jenis karbohidrat harus dihidrolisis menjadi
monosakarida agar dapat diabsorbsi melalui dinding
usus, selanjutnya sebagian besar melalui sirkulasi
vena portal menuju ke hati untuk dimetabolisme. Ke-
cepatan/kemampuan suatu bahan makanan untuk
meningkatkan glukosa darah akan sangat mempenga-
ruhi sekresi dan aktivitas insulin ke dalam darah
(4)
.
Padi, jagung, dan serealia merupakan bahan makanan
pokok sumber karbohidrat (65-78%) di Indonesia, se-
dangkan kentang mengandung karbohidrat yang jauh
lebih sedikit (20%). Digestibilitas serealia terutama
tergantung pada jumlah serat larut yang dikandung ba-
han serealia tersebut. Jagung mengandung 1,5%se-
rat, kentang 0,9%, dan nasi 0,5%
(5)
. Peningkatan kon-
background image
286
cdk vol. 34 no. 6/159 Nov - Des 2007
Ubcfm!2/!Cfsbu!cbebo-!ujohhj!cbebo!ebo!joefl!nbttb!uvcvi!tvckfl/
Rata-rata Indek Massa Tubuh partisipan sebesar
20,73; terendah 19,73 dan tertinggi 23,51, sesuai
dengan rata-rata IMT normal untuk kabupaten Jem-
ber
(6)
. Karakteristik subjek menunjukkan IMT terletak
pada batas tengah nilai BMI
(7)
; dengan demikian dapat
diasumsikan bahwa keadaan hidrasi semua anggota
populasi dalam keadaan konstan pada tingkat moleku-
ler, seluler maupun jaringan
(8)
. Data juga menunjukkan
kondisi cadangan lemak tubuh (
Total Body Fat
) yang
normal untuk semua subjek
(9)
.
Hasil pengukuran kadar glukosa darah puasa pada
minggu pertama, kedua dan ke tiga terlihat pada tabel
2. Karena rata-rata kadar glukosa darah puasa pada
minggu pertama, kedua dan ketiga tidak berbeda,
maka rata-rata keseluruhan kadar glukosa darah pua-
sa pada ketiga pengukuran tersebut dipakai sebagai
kontrol untuk dibandingkan dengan kadar glukosa da-
rah 1 jam
postprandial
. Konsentrasi rata-rata glukosa
darah puasa adalah 79,60 ± 0,43 mg/dL.
Ubcfm!3/!Sbub.sbub!lbebs!hmvlptb!ebsbi!qvbtb!qbeb!!!!njohhv!J-!JJ-!JJJ/+!
)nh0eM*
* Tidak bermakna
Kadar Glukosa Darah 1 Jam Postprandial (PP) pada
Nasi, Jagung, Kentang.
Hasil pengukuran rata-rata kadar glukosa darah 1
jam
post-prandial
untuk bahan makanan nasi adalah
115,53 ± 1,09 mg/dL, jagung 93 ± 0,96 mg/dL ,
dan kentang 97,67 ± 0,78 mg/dL. (Grafik 1 ).
sumsi serealia berserat dalam diet penderita diabetes
telah dilaporkan dapat mencegah perkembangan pe-
nyakit diabetes, sehingga dapat menurunkan kebutu-
han insulin pada penderita diabetes.
Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan indek
glisemik jenis bahan makanan pokok nasi, kentang dan
jagung pada sukarelawan laki-laki muda.
NFUPEF!QFOFMJUJBO
Jenis penelitian ini adalah eksperimental laborato-
rik menggunakan desain menyilang. Sebagai populasi
adalah 22 orang mahasiswa laki-laki Fakultas Kedok-
teran Gigi Universitas Jember angkatan 2005. Par-
tisipan adalah mahasiswa yang bersedia mematuhi
segala perlakuan dan perilaku pola konsumsi pangan
yang telah ditetapkan dalam prosedur penelitian.
Partisipan harus bersedia mengkonsumsi bahan
makanan yang akan diteliti, sehat, tidak dalam pe-
rawatan dokter untuk suatu penyakit, termasuk tidak
pernah menderita penyakit yang dapat mengganggu
pencernaan dan metabolisme glukosa serta bersedia
diambil sampel darah puasa dan 1 jam postprandial
tiga kali selama 3 minggu berturut-turut.
Setelah puasa selama 12 jam, pada pagi hari 2 ml
sampel darah diambil dari vena kubiti, kemudian selu-
ruh partisipan mengkonsumsi 200 g nasi. Setelah 1
jam sampel darah kedua diambil dari vena yang sama
untuk perhitungan indek glisemik bahan makanan
nasi. Selang 1 minggu, prosedur penelitian diulang un-
tuk menghitung indek glisemik kentang rebus, dan 1
minggu kemudian prosedur yang sama diulang untuk
perhitungan indek glisemik jagung rebus.
Pengukuran kadar glukosa darah dilakukan di Labora-
torium Klinik Universitas Jember. Pengukuran indek
glisemik untuk tiap bahan makanan dilakukan pada
subjek yang sama dengan beda waktu satu minggu.
Kadar glukosa darah diukur dengan menggunakan
Spektrofotometer 546.
Data dianalisis menggunakan uji ANOVA yang dilanjut-
kan dengan uji LSD (
Least Significant Difference
) .
IBTJM!EBO!BOBMJTJT!EBUB
Populasi yang bersedia dan memenuhi persyaratan
penelitian sejumlah 20 orang mahasiswa laki-laki.
Pada akhir penelitian, hanya 15 orang yang berhasil
menyelesaikan seluruh prosedur penelitian. Tabel 1
menunjukkan karakteristik partisipan yang dapat me-
nyelesaikan seluruh prosedur penelitian.
No
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
N=15
Berat Badan (kg)
61,0
58,5
60,0
58,0
61,0
57,0
64,0
61,0
60,0
57,0
57,0
56,0
57,0
57,0
54,0
57,9 ± 0,06
Tinggi Badan (m)
1,66
1,70
1,72
1,70
1,66
1,69
1,65
1,66
1,69
1,69
1,70
1,67
1,69
1,69
1,65
1,68 ± 0,54
IMT
22.14
20.24
20.28
20.07
22.14
19.96
23.51
22.14
21.01
19.96
19.73
20.08
19.96
19.96
19.84
20,73 ± 1,17
Waktu
Minggu I
Minggu II
Minggu III
Rata-rata
N
15
15
15
15
Mean
78,53
80,53
79,73
79.60 ± 1,01
SE Mean
0,83
0,54
0,80
0,72 ± 0,16
Indek Glisemik Makanan Pokok
background image
cdk vol. 34 no. 6/159 Nov - Des 2007
287
Hasil uji ANOVA menunjukkan perbedaan bermakna
antara kadar glukosa darah puasa, kadar glukosa da-
rah 1 jam
post-prandial
nasi, jagung, dan kentang (p <
0,0001) . Dari hasil uji LSD, dapat dilihat bahwa indek
glisemik 1 jam postprandial nasi lebih tinggi dibanding-
kan jagung (p<0,01) dan kentang (p<0,05). Sedangkan
kentang mempunyai indek glisemik lebih tinggi diban-
dingkan jagung (p<0,05); jagung mempunyai indek
glisemik terendah. Untuk 200 g nasi mampu menaik-
kan kadar glukosa darah puasa sebesar 35,9mg/dL;
dengan berat yang sama kentang rebus dapat menai-
kkan glukosa darah sebesar 18,1 mg/dL; sedangkan
jagung 13,4 mg/dL.
Hsbgjl!2/!Lpotfousbtj!hmvlptb!ebsbi!2!kbn!qq!cbibo!nblbobo!obtj-!lfo.
uboh!ebo!kbhvoh!sfcvt!tfsub!hmvlptb!ebsbi!tfufmbi!qvbtb!23!kbn/!!
Lpotfousbtj!hvmb!ebsbi!2!kbn!qq!efohbo!vkj!MTE!)nh0nM*
QFNCBIBTBO
Konsentrasi glukosa darah bervariasi tergantung pada
respon metabolisme yang dipengaruhi oleh banyak
faktor. Faktor tersebut antara lain, aktivitas hormon,
asupan karbohidrat, metabolisme asam lemak bebas
maupun IMT
(10)
.
Ukuran tubuh secara tidak langsung mempengaruhi
keseimbangan konsentrasi glukosa darah. Hal ini ber-
hubungan dengan fungsi keseimbangan cairan
(11)
. In-
dividu dengan indek massa tubuh tinggi jumlah kompo-
nen lemaknya tinggi. Sebaliknya mereka dengan indek
massa tubuh rendah akan mempunyai komponen
lemak relatif kecil. Sukarelawan yang berpartisipasi
dalam penelitian ini mempunyai rata-rata indek massa
tubuh yang ideal
(7)
dengan rata-rata 20,73 , nilai te-
rendah 19,73 dan nilai tertinggi 23,51.
Data ini menunjukkan keseimbangan antara jumlah
lemak dan non lemak terhadap berat badan. Secara
klinis menunjukkan bahwa para sukarelawan mempu-
nyai status komposisi tubuh yang relatif sama, se-
hingga dapat dianggap populasi homogen untuk studi
indek glisemik bahan makanan pokok yang diteliti.
Metabolisme glukosa dalam tubuh juga dipengaruhi
oleh usia dan jenis kelamin. Telah dilaporkan adanya
perbedaan pemakaian glikogen otot dan oksidasi kar-
bohidrat pada pria dan wanita. Pada wanita pemakaian
glikogen otot 25% lebih rendah daripada pria; sedang-
kan total oksidasi karbohidrat pada wanita 43% lebih
rendah daripada pria
(4)
. Pada penelitian ini dipilih su-
karelawan laki-laki, usia 18-20 tahun.
Indek glisemik dapat pula didefinisikan sebagai respon
glukosa darah terhadap makanan yang mengandung
karbohidrat dalam takaran dan waktu tertentu
(1)
. Ma-
kin kompleks suatu jenis karbohidrat makin lama pro-
ses hidrolisis dan absorbsinya dalam usus. Konsentra-
si glukosa dalam darah diatur oleh beberapa hormon,
terutama insulin dan glukagon
(2)
.
Pada penelitian ini faktor yang mempengaruhi kadar
glukosa darah dihilangkan dengan memakai sukarela-
wan laki-laki dengan usia dan indek massa tubuh yang
sama. Untuk menghilangkan pengaruh bahan maka-
nan lain yang dikonsumsi sebelumnya, maka setiap
subyek penelitian melakukan puasa selama 12 jam.
Pengambilan sampel darah dilakukan pada pagi hari
untuk menghindari masalah status hidrasi kulit.
Hasil analisis LSD pada penelitian ini menunjukkan
bahwa indek glisemik 1 jam postprandial tertinggi ber-
turut-turut adalah nasi ( 115,53 ± 1,09 mg/dL ), ken-
tang ( 97 ± 0,78 mg/dL), dan yang terendah adalah
jagung ( 93 ± 0,96 mg/dL). Perbedaan indek glisemik
1 jam postprandial ini sangat mungkin dipengaruhi
oleh kandungan serat masing-masing bahan makanan
tersebut (Szepesi B, 1990). Kandungan serat jagung
sebesar 1,5 %, kentang 0,9 %, dan nasi 0,5 % meru-
pakan faktor yang paling mungkin menyebabkan per-
bedaan tersebut.
Data ini menunjukkan bahwa indek glisemik karbohi-
drat pada makanan tidak tergantung kepada jumlah
berat komponen karbohidrat makanan tersebut
(12)
.
Banyaknya kandungan serat dapat memperpanjang
waktu pencernaan dan penyerapan glukosa. Makin be-
sar kandungan serat suatu bahan makanan, makin ren-
dah indek glisemiknya, karena absorbsi monosakarid
ke dalam darah sangat dipengaruhi oleh ada tidaknya
serat tidak larut; makin tinggi kandungan serat tidak
larut maka makin kecil kemampuan absorbsi mono-
sakarida oleh dinding usus. Walaupun jagung mempu-
nyai kandungan karbohidrat yang sama dengan nasi
tetapi patut diduga jagung mempunyai kandungan se-
rat tidak larut lebih tinggi dibanding kentang dan nasi
sehingga memiliki indek glisemik yang rendah.
Dari penelitian ini disimpulkan bahwa dari ketiga ba-
han makanan tersebut, nasi mempunyai indek glisemik
Nasi
Jagung
Kentang
115,5
93,0
97,7
Puasa
79,6
10
5
P<0,05
P<0,01
P<0,05
Indek Glisemik Makanan Pokok
background image
288
cdk vol. 34 no. 6/159 Nov - Des 2007
tertinggi, selanjutnya kentang, dan yang terendah ja-
gung. Penggunaan nilai indek glisemik bergantung
dengan tujuan pemberian. Pada kasus-kasus malnu-
trisi maka konsumsi bahan makanan pokok dengan in-
dek glisemik rendah tidak menguntungkan karena ren-
dahnya kemampuan bahan makanan tersebut dalam
meningkatkan konsentrasi glukosa darah. Jagung ha-
nya mampu meningkatkan glukosa darah puasa sebe-
sar 13,4 mg/dL. Dibutuhkan jumlah yang lebih besar
untuk dapat meningkatkan konsentrasi glukosa darah
sebanding dengan nasi atau kentang. Sebaliknya lebih
baik dikonsumsi oleh para penderita yang membutuh-
kan kontrol glukosa darah.
LFQVTUBLBBO!
1. Jenkins DJA. Modern Nutrition in Health and Disease: Fiber and co-
lonic disease. 9
th
ed. Washington DC : Lea & Febiger, A. Weverly Com-
pany. 1999: 1176-1181
2. Wahlqvist ML. Food & Nutrition in Australia: Carbohydrate.Ed Wahlqvist
ML. Methuen Australia. 1986: 177-88
3. Smith EL, Hill RL, Lohman IR. et al. Principles of Biochemistry. 7
th
ed.
McGraw-Hill. International ed. 1981: 481-88
4. William W, John TD. Food Nutrition, and Sport Performance. Was-
hington DC : E & FN Spoon. 1996: 207-75
5. Djaelani AS. Ilmu Gizi dan Ilmu Diet di Daerah Tropik. Jakarta: BP. 1976
6. Prijatmoko D. Pengaruh komposisi tubuh terhadap status kesehatan
sumber daya manusia. Pidato Ilmiah, Dies Natalis XXX Universitas
Jember, 1994
7. Prijatmoko D, Strauss BJG. Using low-cost body composition techno-
logy for health surveillance. Asia Pacific J Clin 1995; 4:15-7
8. Schoeller DA. Human body composition: Hydrometry. Roche AF, Heym-
field SB, Lohman TG. eds. GB Forbes 1996:25-40
9. Prijatmoko D, Strauss BJG. Medical Practice of Preventive Nutri-
tion: body habitus. Wahlqvist, Vobceky JS.(eds.) Smith-Gordon and
Nishimura Co.Ltd UK 1994:15-7
10. Anderson GH. Modern nutrition in health and disease: Metabolic regu-
lation of food intake. Shils ME, Young VR (eds.) 8th ed. Philadelphia:
Lea & Febiger. 1994:557-69
11. Guyton AC. Textbook of Medical Physiology. Philadelphia:WB Saunders Co.
1981:838-47.
12. Monro JA. Glycaemic glucose equivalent: combining carbohydrate
content, quantity and glycaemic index of foods for precision in glycae-
mia management. Asia Pacific J Clin 2002; 11
(3)
:217-25
13. Schneeman BO, Gallaher DD. dalam Present Knowledge in Nutrition:
Dietary Fiber. Washington DC : International Life Science Institute Nu-
trition Foundation. 1990:80-177