269
cdk vol.34 no.5/158 Sep-Okt 2007
BERITA TERKINI
Guideline
Alergic Rhinitis and Its Impact
on Asthma
(ARIA) baru
U
pdate guideline
ARIA per-
tama kali dipresentasikan di
konferensi European Academy
of Allergology and Clinical Im-
munology
(EAACI) di Goteborg,
Swedia. Guideline menekankan
kaitan radang selaput lendir
hidung (rhinitis) menetap dan
asma serta merekomendasikan
kombinasi pengananan kedua
kondisi jika mungkin.
Ketua ARIA, Profesor Jean
Bousquet dari Montpellier,
Perancis mengatakan, "Rhinitis
seringkali berkembang menjadi
asma dan juga sebaliknya.
Faktanya, tanda inflamasi terde-
teksi di dalam paru-paru pasien
rhinitis
meskipun mereka tidak
mengalami gejala asma. Oleh
karena itu, kami merekomendasi-
kan agar pasien-pasien dengan
rhinitis
menetap harus dievaluasi
asmanya dan yang mengalami
asma menetap diperiksa rhinitis-
nya."
Rhinitis
alergi dan asma, keduanya
merupakan kondisi inflamasi
sistemik yang masing-masing
mempengaruhi saluran napas
atas dan bawah. Rhinitis alergi
memperparah asma, meningkatkan
risiko masuk rumah sakit dan
meningkatkan eksaserbasi asma.
Guideline
ARIA baru melapor-
kan bahwa 80% orang-orang
dengan asma juga mendapat
rhinitis.
Profesor Bousquet
menganggap perlunya dokumen
global yang menyoroti interaksi
antara saluran napas atas dan
bawah dalam kaitan diagnosis,
epidemiologi, faktor-faktor risiko
umum, manajemen dan pence-
gahan.
Rekomendasi ini di dalam
laporan update ditampilkan
dalam algoritma baru dan mudah
digunakan. Kortikosteroid intra-
nasal masih dipertimbangkan
sebagai terapi lini pertama pada
pasien-pasien dengan penya-
kit sedang sampai berat dan
antihistamin-H1 penting bagi
penanganan semua pasien.
Antagonis reseptor leukotrien
menjadi penting karena dapat
menangani baik asma dan rhinitis.
Imunoterapi sublingual dipertim-
bangkan untuk penanganan yang
aman dan efektif.
Bagian lain yang diupdate men-
cakup penggunaan pengobatan
alternatif dan komplementer,
menghadapi rhinitis selama lati-
han dan olahraga, dan kaitan
antara rhinitis dan asma pada
anak-anak pra-sekolah.
Guideline ARIA pertama kali
dikembangkan tahun 1999 oleh
WHO, dipublikasikan sebagai
acuan bagi para dokter umum
dan dokter di rumah sakit untuk
meningkatkan pengetahuan me-
reka tentang rhinitis alergi dan
untuk menyoroti dampak rhinitis
alergi dan asma.
Hasil revisi ini berbasis bukti
praktek penanganan dan diagnosis
terkini ditambah usulan manaje-
men pendekatan bertahap,
merupakan kolaborasi GA2LEN
(the Global Allergy and Asthma
Network
, EU dan Allergen
(Kanada) yang telah dikembang-
kan sejak tahun 2004 dan dipa-
cu dengan sejumlah penelitian
yang diterbitkan sejak guideline
pertama kali dikembangkan.
Update
total guideline ARIA
akan dibuat berdasarkan per-
temuan di Roma 20 Juni 2007.
Bukti dan rekomendasi untuk
manajemen guideline akan diuji
menggunakan sistem tingkatan
baru yaitu GRADE (Grading of
Recommendations Assessment,
Development and Evaluation
)
yang mengkombinasikan manfaat
intervensi, beban pokok dan
risiko-risiko. Mungkin beberapa
rekomendasi yang ditawarkan
melalui update ARIA akan ber-
beda dari laporan asli.
Sumber: www.whiar.org