263
cdk vol.34 no.5/158 Sep-Okt 2007
Fruktosa meningkatkan faktor risiko
penyakit jantung dan berat badan
BERITA TERKINI
P
emanis yang kita sebut gula
sebenarnya adalah gula ganda.
Setengahnya gula yang disebut
glukosa, bahan dasar energi
tubuh. Setengahnya lagi gula
yang disebut fruktosa. Para
peneliti mencurigai fruktosa
berdampak jelek, tapi bukti
sampai sejauh ini masih ter-
gantung keadaan. Fruktosa
lebih buruk dibandingkan glu-
kosa ?
Para peneliti di Universitas
Kalifornia yaitu Peter J. Havel,
Ph.D., Kimber Stanhope dan ko-
leganya mendisain sebuah studi
cerdas untuk mengetahui hal
tersebut. Pertama, mereka mem-
bawa 23 orang dewasa kelebihan
berat badan (overweight) dan
kegemukan (obese), berumur 43
tahun sampai 70 tahun, ke pusat
klinik mereka.
Selama dua minggu, para re-
lawan diet yang dikontrol
dengan sangat ketat. Mereka
mendapat diet tinggi karbohidrat
(55%), lemak sedang (30%) yang
telah diseimbangkan agar tidak
ada kelebihan energi kepada
mereka selain yang dikeluarkan
untuk olah raga.
Setelah pengukuran faktor-faktor
risiko penyakit jantung mereka,
seperti lemak darah, kolesterol,
dan berat badan, para peneliti
memberi mereka kebebasan.
Lalu, selama 8 minggu para
relawan dibiarkan makan apapun
yang mereka inginkan kecuali satu
hal. Setiap orang harus minum
3 minuman ringan manis setiap
harinya, yang memberikan 25%
dari asupan energi harian yang
direkomendasikan.
Setengah subyek minum dengan
glukosa murni. Setengahnya lagi
mendapatkan minuman ringan
dengan pemanis fruktosa murni.
Para peneliti meneruskan menguji
faktor risiko penyakit jantung
mereka. Setelah 8 minggu, para
relawan diminta kembali ke pusat
klinik, dimana mereka melanjut-
kan minum minuman ringan tapi
harus kembali pada diet energi
seimbang. Dua minggu setelah
mereka mulai minum minuman
ringan, sisi gelap gula menjadi
lebih nyata. Mereka yang minum
minuman ringan dengan pema-
nis fruktosa menunjukkan tanda-
tanda peningkatan risiko penyakit
jantung. Yang minum minuman
ringan dengan pemanis glukosa
tidak demikian. Peminum fruktosa
terjadi peningkatan LDL (kolesterol
jahat), lemak darah, dan tanda-
tanda risiko penyakit jantung yang
memburuk. Sensitivitas insulin
mereka menurun, suatu tanda
risiko diabetes mereka juga
meningkat.
Sebagai tambahan, peminum
fruktosa memperoleh berat tam-
bahan sekitar 1,5 kg, sedangkan
peminum glukosa tidak . Kabar ini
mungkin buruk. Stanhope men-
gatakan, data pendahuluan dari
studi baru menunjukkan bahwa
gula rutin dan sirup jagung tinggi
fruktosa masing-masing berefek
sama dengan fruktosa sendiri,
walaupun keduanya hanya men-
gandung setengah fruktosa dan
setengah glukosa (biasanya sirup
normal mengandung 100% glu-
kosa).
Masih terlalu awal untuk memberi-
kan gambaran dari studi baru ini.
Namun Stanhope menyayangkan
setiap orang yang memberikan
label makanan kesehatan pada
minuman ringan dengan pema-
nis. "Bukan ide yang baik untuk
minum banyak minuman ringan.
Kita memberikan orang-orang
sebanyak 3 soda sehari. Seba-
gian minum sebanyak itu, be-
berapa orang lebih dari itu, dan
beberapa hanya minum 1 kali
sehari. Berikan saya waktu dua
tahun dan kita akan mengetahui
lebih banyak mengenai tingkat
keamanannya".
Stanhope melaporkan temuan
ini pada 67th Annual Scientific
Sessions the American Diabetes
Association pada tanggal 22-26
Juni 2007 di Chicago.
Sumber : Web MD Medical News, 25 Juni
2007