262
cdk vol.34 no.5/158 Sep-Okt 2007
Endometriosis meningkatkan risiko kanker ?
BERITA TERKINI
W
anita yang mengalami nyeri
endometriosis cenderung
terkena kanker tertentu.
Dalam 3rd Annual Meeting of
the European Society of Human
Reproduction and Embryo-
logy (EHSRE 2007), 1-4 Juli
2007 di Lyon para peneliti
Perancis menjelaskan risiko
kanker ovarium, ginjal dan
tiroid meningkat lebih dari 3
kali dengan kondisi tersebut.
Sementara para peneliti Span-
yol
menjelaskan potensi pengo-
batan baru endometriosis. Dalam
endometriosis, jaringan yang
melapisi permukaan dalam rahim
ditemukan di bagian lain tubuh.
Ketika menstruasi, jaringan itu
juga mengalami degenerasi, me-
nyebabkan nyeri, rasa kembung,
pendarahan parah dan kelelahan.
Meskipun belum jelas, kondisi ini
diketahui berkaitan dengan sejum-
lah kanker.
Dr. Anna-Sofia Melin dkk. dari
Karolinska Institute di Stockholm,
Swedia mempelajari data 63.630
wanita penderita endometriosis.
Mereka mengidentifikasi 3.822 ka-
sus kanker di antara para wanita
tadi, yang tidak lebih besar dari
populasi umum. Namun demikian,
tipe tumor tertentu, termasuk tu-
mor ovarium dan otak, lebih sering
pada endometriosis.
Berbagai teori yang menghubung-
kan endometriosis dengan kanker
antara lain: mungkin adanya ke-
lainan dalam sistem imun mem-
buat endometriosis berkembang
dan juga membuat sel-sel kanker
berkembang di berbagai bagian
tubuh. Belum diketahui apakah
penanganan endometriosis dapat
mempengaruhi perkembangan
kanker.
Studi tersebut menunjukkan bah-
wa risiko kanker tetap sama tidak
tergantung dari jumlah kelahiran.
Hal ini menunjukkan bahwa
masalah fertilitas yang berkai-
tan dengan endometriosis tidak
berkaitan dengan meningkatnya
risiko kanker.
Dr. Edurne Novella-Maestre dkk.
dari the Valencia Infertility Institute
di Spanyol mengatakan bahwa
suatu pengobatan mungkin dapat
menghambat endometriosis dan
kanker yang berkaitan.
Pada tikus, bahan serupa dopa-
min otak (mirip dengan obat pe-
nyakit parkinson) menghentikan
pembentukan pembuluh darah
baru yang mensuplai pertumbuhan
abnormal.
Prof. Jan Brosens, konsultan dari
Imperial College London,
mengatakan : "Endometriosis me-
mang tergantung pada pertum-
buhan pembuluh darah baru. Se-
dangkan agonis dopamin adalah
obat yang aman, yang mungkin
berguna mengurangi kebocoran
pembuluh darah baru. Namun
endometriosis adalah penyakit
yang lambat dan progresif sehingga
manfaat kelas obat ini dalam
memperbaiki gejala-gejala
endometriosis masih bersifat
spekulatif." Endometriosis jangan
dilihat sebagai kondisi yang
mengarah ke kanker.
Mary Lou Ballweg dari Endome-
triosis Association mengatakan :
"Ada kemungkinan dokter merasa
bahwa para wanita tidak
ingin tahu mengenai risiko
kanker. Wanita perlu mengunjungi
dokter spesialis untuk memastikan
mereka mendapat bantuan ter-
baik."
Dr. Joanna Owens, dari Cancer
Research UK mengatakan :
"Peneliti sebelumnya menduga
bahwa endometriosis mempengaruhi
risiko kanker dan diperlukan studi
lebih lanjut.
Sumber : BBC News, 3 Juli 2007