background image
255
cdk vol.34 no.5/158 Sep-Okt 2007
HASIL PENELITIAN
Karakteristik
Kehamilan Ektopik Terganggu
di Rumah Sakit Umum Pusat Manado
1 Januari 2000 - 31 Desember 2001
Eddy Suparman, A. Suryawan
Bagian/SMF Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi/Rumah Sakit Umum Pusat Manado
PENDAHULUAN
Kehamilan ektopik merupakan kehamilan di mana ovum yang
telah dibuahi sperma berimplantasi dan tumbuh di tempat
yang tidak semestinya; bukan di dalam endometrium kavum
uteri. Istilah kehamilan ektopik lebih tepat daripada istilah
kehamilan ekstrauterin, karena beberapa jenis kehamilan
ektopik terjadi di uterus tetapi tidak di tempat yang normal
seperti di pars intertitialis tuba dan serviks uteri.
(1-6,8,10)
Kehamilan ektopik merupakan salah satu bentuk kom-plikasi
kehamilan yang cukup sering dijumpai, berhubungan dengan
status sosial ekonomi dan kejadian salpingitis.
1,2,10-12,14-16
Saat ini ada kecenderungan peningkatan angka kejadian
kehamilan ektopik di dunia.
Dalam penanganan kehamilan ektopik, diagnosis dini sangat
penting karena dapat menurunkan angka kematian ibu dan
meningkatkan/mempertahankan kualitas reproduksinya.
Diagnosis kehamilan ektopik secara umum ditegakkan
berdasarkan beberapa faktor yaitu :
1) Deteksi dini kelompok risiko tinggi.
2) Riwayat obstetrik dan pemeriksaan fisik.
3) Pemeriksaan
laboratorium
(tes
kehamilan),
kuldosentesis, USG dan laparoskopi.
Tujuan karya tulis ini adalah untuk memberikan gambaran
data dan penanganan kasus kehamilan ektopik terganggu
yang dirawat di Bagian Obstetri dan Ginekologi RSUP
Manado selama 2 tahun (1 Januari 2000 sampai 31
Desember 2001).
Jenis KET yang paling sering adalah KET ampula yaitu 56
kasus (83,58%) dengan lokasi terbanyak di bagian kanan
yaitu 41 kasus (61,12%). (tabel 2).
Tabel 3. Riwayat dan jenis kontrasepsi yang digunakan.
KET (N = 67)
N
%
Tanpa kontrasepsi
19
28,36
IUD
14
20,89
Susuk
7
10,44
Suntik
21
31,34
Pil
6
8,96
Sejumlah 21 orang (31,34%) menggunakan kontrasepsi
hormonal dalam bentuk suntikan (tabel 3).
Tabel 4. Riwayat pekerjaan suami.
KET (N = 67)
N
%
Pengangguran
10
14,95
Buruh tani
14
20,89
Sopir
17
25,37
Pedagang
11
16,41
PNS
10
14,92
Swasta
5
7,46
ABSTRAK
Tujuan : Mendapatkan gambaran KET di RSUP Manado selama 2 tahun dari 1 Januari 2000 sampai dengan
31 Desember 2001.
Tempat : Bagian Kebidanan dan Kandungan RSUP Manado.
Bahan dan cara kerja : Penelitian retrospektif pada 67 penderita KET di bagian Obstetri dan Ginekologi RSUP
Manado.
Hasil : Dari 67 kasus KET, frekuensi terbanyak usia 25-29 tahun - 23 kasus
(34,33%), paritas 2 - 31 kasus
(46,27%), tingkat pendidikan SMA - 21 kasus (31,34%) dan riwayat penggunaan kontrasepsi suntikan - 21 kasus
(31,34%). Lokasi kehamilan ampula 56 kasus (83,58%), ismus 4 kasus (5,92%), interstitial 2 kasus (2,29%), kornu
2 kasus (2,29%) dan ovarium 3 kasus (4,48%). Lokasi terjadinya KET di sebelah kanan (61,12%). Umur kehamilan
saat diagnosis KET adalah 5-9 minggu - 42 kasus (62,69%). Riwayat operasi ginekologi sebelumnya, yang terbanyak
didapatkan riwayat operasi apendektomi 4 kasus (5,97%), riwayat ginekologi dengan PID 21 kasus (31,34%).
Kesimpulan : KET berkaitan dengan beberapa faktor.
Kata kunci : KET, Karakteristik.
background image
cdk vol.34 no.5/158 Sep-Okt 2007
256
Sebagian besar bersuamikan sopir (19 orang - 25,37%) (tabel 4).
Tabel 5. Riwayat operasi ginekologi sebelumnya.
KET (N = 8)
N
%
Seksio sesar
2
2,99
Operasi apendiktomi
4
5,97
Operasi tuba
1
1,49
Operasi kista
1
1,49
Operasi sebelumnya dialami 8 orang, 4 orang (5,97%)
pernah menjalani apendektomi. (tabel 5).
Tabel 6. Riwayat ginekologi sebelumnya.
KET (N = 67)
N
%
PID
21
31,34
Keguguran spontan
19
28,35
Keguguran disengaja
8
11,94
Mola
2
2,99
Penyakit hubungan seksual
1
1,49
Sejumlah 21 orang (31,34%) telah mengalami PID
sebelumnya (tabel 6).
DISKUSI
Dalam dua dasawarsa ini terjadi peningkatan angka kejadian
KET. Walaupun demikian, angka kejadian KET masih
sulit untuk diperkirakan secara tepat. Di Hongkong KET
merupakan 0,77% dari semua kehamilan (18); angka ini
lebih rendah jika dibandingkan dengan negara lain, seperti
2% di Amerika Serikat (1992) dan 1,88% di Eropa Utara
(1993).
18
Adapun penyebab pasti peningkatan tersebut
masih diperdebatkan; mungkin berhubungan dengan
berbagai karakteristik tertentu pada penderita KET.
19
Pada penelitian ini ditemukan 67 kasus kehamilan ektopik
terganggu (KET); terbanyak pada kelompok usia 25-29
tahun (23 orang - 34,33%). Data ini hampir sama dengan
di Swedia, yang mendapatkan bahwa 34% penderita KET
berusia 26-30 tahun.
12
Akan tetapi hasil ini berbeda dengan
penelitian epidemiologi di beberapa negara maju yang
menunjukkan KET lebih sering terjadi pada usia yang lebih
tua yaitu 30-34 tahun. KET pada kelompok usia yang lebih
muda, seperti halnya di Indonesia, tampaknya berhubungan
dengan kebiasaan menikah di usia muda.
19
Kami juga menemukan bahwa KET terbanyak pada paritas 2
yaitu 31 orang (46,27%). Hasil ini berbeda dengan penelitian
di Seattle, USA, yang menyebutkan KET paling banyak terjadi
pada paritas 0-1.
5
Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa KET banyak terjadi
pada periode gestasi 5-9 minggu (42 orang - 62,69%).
Adapun lokasi KET tersering di bagian ampula tuba yaitu 56
kasus (83,58%). Hal ini sesuai dengan beberapa penelitian
lain yaitu sekitar 80-90% KET terjadi di bagian ampula
tuba
1,2,8,14,19
.
Lokasi KET sangat menentukan saat terjadinya ruptura
tuba.
Adapun KET pada populasi ini terutama pada wanita yang
menggunakan kontrasepsi hormonal suntikan (21 orang
- 31,34%) sedangkan IUD 12 orang (20,89%). Hasil ini
tidak sesuai dengan beberapa penelitian sebelumnya yang
menunjukkan bahwa pengguna IUD merupakan kelompok
yang terbanyak menderita KET.
1,3,6,9,13,18
Perbedaan ini
disebabkan karena di RSUP Manado pengguna kontrasepsi
suntikan jauh lebih besar daripada pengguna IUD.
Kejadian KET juga ditemukan pada wanita yang telah
mengalami operasi apendiktomi sebelumnya (4 orang
- 5,97%) dan pada wanita yang sebelumnya mengalami
PID (21 orang - 31,34%). Hal ini mungkin disebabkan
perlengketan yang terjadi setelah operasi dan PID sehingga
mempengaruhi patensi tuba.
2,10,16,19
KESIMPULAN
KET berhubungan dengan karakteristik tertentu yaitu infeksi
tuba, penggunaan kontrasepsi dan riwayat operasi serta
ginekologi sebelumnya.
Saran
Pelayanan kesehatan yang lebih menyeluruh diperlukan
untuk menurunkan angka kejadian KET. Informasi mengenai
KET harus lebih disebarluaskan kepada masyarakat, baik
bentuk penyuluhan/penataran maupun bentuk-bentuk
kegiatan kemasyarakatan lainnya.
KEPUSTAKAAN
1.
Cunningham FG, MacDonald PC, Grant NF, Levono KJ, Gilstrap LC, Hanskins
GDV, Clark SL eds. Ectopic Pregnancy. In : Williams Obstetrics. 20
th
ed. New
York : Appleton Century Crofts; 2000: p.607-29.
2.
Trijatmo R. Kehamilan ektopik. Dalam: Prawirohardjo S, Wiknjosastro M,
Sumapraja S, Saifuddin AB, eds. Ilmu Kebidanan. Edisi ke-3. Jakarta, Yayasan
Bina Pustaka; 1992: p.323-38.
3.
Stoval TG, McCord ML. Early Pregnancy Loss and Ectopic Pregnancy. In: Berek
JS, Adashi EY, Hillard PA, eds. Novak's Gynaecology. 12
th
ed. Baltimore: William
& Wilkins Co; 1996 : p. 487-524.
4.
Risk factors for ectopic pregnancy. A population-based study. JAMA 1988; 259:
1823-7.
5.
Durfee RB. Ectopic Pregnancy. In : Pernoll ML, Benson RC, eds. Current
Obstetric and Gynaecology Diagnosis and Treatment. 6
th
ed. Los Altos : Appleton
and Lange, 1996. p. 308-24.
6.
Mark VS. Ectopic Pregnancy Diagnosis. In : Brenner PF ed. Management of
common problems in obstetric and gynaecology. New Jersey :Medical Economic
Book; 1994 . p. 455-61.
7.
Tindall VR. Jeffcoate's Principles of Gynaecology. 5
th
ed. London : Butterworths;
1987. p. 212-21.
8.
Rossing MA, Daling JR, Voight LF, Stergachis AS, Weiss NS. Current use of
intrauterine device and risk of ectopic pregnancy. Epidemiology 1993; 4: 252-
8.
9.
Rock JA. Ectopic Pregnancy. In: Thompson JD, Rock JA, eds. Te Linde's Operative
Gynaecology. 7
th
ed. Philadelphia: JB Lippincott Co; 1992. p. 411-35.
10. Hanmond CB, Bachus KE. Ectopic Pregnancy. In : Danforth DN, Scott JR, eds.
Obstetrics and Gynaecology. 7
th
ed. Philadelphia : JB Lippincott Co; 1994. p.
187-198.
11. Assangga G, Johanes CM, Hidayat W. Diagnosa Ultasonografi pada Kasus
Kehamilan Ektopik di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung tahun 1989-
1990. Naskah lengkap POGI VIII. Solo, 1991.
12. Thornburn JO, Janson PO, Lindstedt G. Early diagnosis of ectopic pregnancy : A
review of 328 cases of a five year period. Acta Obstet Gynaecol Scand 1983;
62 : 543-7.
13. Chow WH, Daling JR, Weiss NS, Moore DE, Soderstrom RM, Metch BJ. IUD use
and subsequent tubal ectopic pregnancy. AJPH 1986; 76: 536-9.
14. Coste J, Job-Spira N, Fernandes H, Papiernik E, Spira A. Risk factor for ectopic
pregnancy : A case-control study in France, with special focus on infectious
factors. Am J Epidemiol 1991; 133: 839-49.
15. Prawirodihardjo L, Wewengkang MJ. Kehamilan Ektopik Terganggu pada
beberapa RS di Ujung Pandang. Dibacakan pada PTP IX Surabaya, 1995.
16. Sadek M, Anderson J. Ectopic Pregnancy. In : Lambrou NC, Morse AN, Wallach
EE, eds. The John Hopkins Manual of Gynaecology and Obstetrics. USA :
Lippincott Williams & Wilkins; 1999. p. 164-73.
17. DeCherney AH, Agel WO. Ectopic Pregnancy. In Sciarra JJ. ed. Sciarra
Gynaecology and Obstetrics. Revised Edition. Philadelphia : Lippincott-Raven
Publishers; 1997. p. 1-20.
18. Ting Chung Pung. Ectopic Pregnancy. J. Paediatr. Obstetr. & Gynaecol. 2001;
27 : 17-20.
19. Bastaman Basuki, Abdul Bari Saifuddin. Ectopic Pregnancy and its estimated
subsequent fertility problems in Indonesia. Maj Obstetr. Ginekol. Indon.1999; 23
: 173-234.
Karakteristik Kehamilan Ektopik Terganggu ...