background image
249
cdk vol.34 no.5/158 Sep-Okt 2007
PENDAHULUAN
Kematian maternal adalah kematian wanita saat hamil,
melahirkan atau dalam 42 hari setelah berakhirnya
kehamilan. Tingkat kematian maternal (maternal mortality rate)
atau Angka Kematian Ibu (AKI) didefinisikan sebagai jumlah
kematian maternal selama satu tahun dalam 100.000
kelahiran hidup. Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia
tertinggi di ASEAN, sebesar 307/100.000 kelahiran
hidup (Survei Demografi Kesehatan Indonesia SDKI 2002
­ 2003); artinya lebih dari 18.000 ibu tiap tahun atau dua
ibu tiap jam meninggal oleh sebab yang berkaitan dengan
kehamilan, persalinan dan nifas.
(1)
Kematian ibu berpengaruh besar terhadap kesejahteraan
keluarga dan masyarakat dengan implikasi sosial dan
ekonomi yang bermakna karena satu atau lebih anak
menjadi piatu, penghasilan keluarga berkurang atau hilang
sama sekali. Saat ini jumlah perempuan yang bekerja makin
banyak sehingga kontribusi mereka terhadap kesejahteraan
keluarga juga meningkat. Setiap tahun diperkirakan 1 juta
anak meninggal menyusul kematian ibu mereka. Anak
HASIL PENELITIAN
Gambaran Penyebab Kematian
Maternal di Rumah Sakit
(Studi di RSUD Pesisir Selatan, RSUD Padang Pariaman, RSUD Sikka,
RSUD Larantuka dan RSUD Serang, 2005)
Rukmini, LK. Wiludjeng
Pusat Penelitian dan Pengembangan Sistim dan Kebijakan Kesehatan Departemen Kesehatan RI, Surabaya
ABSTRAK
Kematian maternal di Indonesia termasuk yang tertinggi di Asia Tenggara dan paling banyak terjadi di rumah sakit.
Tulisan ini akan membahas penyebab kematian ibu yang terjadi di rumah sakit yaitu dengan mempertimbangkan
faktor reproduksi ibu, sosioekonomi, akses terhadap pelayanan kesehatan, komplikasi obstetrik penyebab
kematian ibu dan saat kematian ibu. Data dikumpulkan dari catatan medis kematian maternal, di lima rumahsakit:
RSUD Pesisir Selatan dan RSUD Padang Pariaman di Sumatra Barat, RSUD Sikka dan RSUD Larantuka di NTT
dan RSUD Serang di Banten. Data kematian maternal yang diteliti adalah yang terjadi dalam kurun ± satu tahun
yaitu dari bulan Maret 2005 sampai April 2006. Hasil menunjukkan, kematian ibu paling banyak terjadi pada
usia reproduksi yaitu usia 20-30 tahun dengan kondisi sosioekonomi rendah. Akses pelayanan kesehatan pada
ibu masih sangat rendah, dilihat dari rendahnya pemeriksaan antenatal, penolong pertama persalinan masih
didominasi oleh dukun dan banyak persalinan masih dilakukan di rumah. Perdarahan, eklampsia dan infeksi
masih merupakan penyebab kematian maternal yang terbanyak. Kematian maternal lebih banyak terjadi setelah
persalinan, tepatnya dalam 24 jam post partum.
Key words : kematian maternal, pemeriksaan antenatal, persalinan, perdarahan, eklampsia, infeksi,.
­ anak yang ibunya meninggal kurang mendapat perhatian
dan perawatan dibandingkan dengan yang memiliki ibu yang
masih hidup.
(2)
Penyebab kematian ibu cukup kompleks, dapat digolongkan
atas faktor- faktor reproduksi, komplikasi obstetrik,
pelayanan kesehatan dan sosio-ekonomi. Penyebab
komplikasi obstetrik langsung telah banyak diketahui dan
dapat ditangani, meskipun pencegahannya terbukti sulit.
Menurut SKRT 2001, penyebab obstetrik langsung sebesar
90%, sebagian besar perdarahan (28%), eklampsia (24%)
dan infeksi (11%). Penyebab tak langsung kematian ibu
berupa kondisi kesehatan yang dideritanya misalnya Kurang
Energi Kronis (KEK) 37%, anemia (Hb < 11 g%) 40% dan
penyakit kardiovaskuler.
(1, 3)
Akses ke pelayanan kesehatan mempunyai korelasi kuat
dengan kematian ibu, makin tinggi proporsi masyarakat
yang sulit ke pelayanan kesehatan makin tinggi AKI. Juga
terdapat hubungan kuat antara tempat melahirkan dan
penolong persalinan dengan kematian maternal; makin
tinggi proporsi ibu melahirkan di fasilitas non kesehatan
background image
cdk vol.34 no.5/158 Sep-Okt 2007
250
dan persalinan yang ditolong oleh dukun (non nakes), makin
tinggi risiko kematian maternal.
(4)
Tingginya kematian ibu sebagian besar disebabkan oleh
timbulnya penyulit persalinan yang tidak dapat segera dirujuk
ke fasilitas kesehatan yang lebih mampu. Keterlambatan
merujuk disebabkan berbagai faktor seperti masalah
keuangan, transportasi dsb. Berdasarkan Surkesnas 2001,
kematian ibu yang terjadi di rumah sakit 44%, lebih besar
bila dibandingkan dengan yang meninggal di rumah (41
%). Pada tahun 2004, angka kematian ibu di rumah sakit
10,5%, meningkat dibandingkan pada tahun 2001 sebesar
8,5%.
(1,5)
Tulisan ini bertujuan untuk menggambarkan penyebab
kematian maternal yang terjadi di rumah sakit dengan melihat
faktor ­ faktor penyebab kematian maternal yaitu faktor
reproduksi ibu, sosioekonomi, akses terhadap pelayanan
kesehatan, komplikasi obstetrik penyebab kematian ibu dan
waktu kejadian kematian ibu.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan
memanfaatkan data sekunder dari catatan medis kematian
maternal, di RSUD Pesisir Selatan dan RSUD Padang
Pariaman di Sumatra Barat, RSUD Sikka dan RSUD
Larantuka di NTT dan RSUD Serang di Banten. Data
kematian maternal yang diteliti adalah yang terjadi dalam
kurun ± satu tahun yaitu dari bulan Maret tahun 2005
sampai April 2006.
Data sekunder yang diperoleh diolah dan dianalisis secara
deskriptif, disajikan dalam bentuk narasi dan tabel sesuai
dengan tujuan penelitian.
HASIL
Jumlah kasus kematian maternal yang ditemukan pada
studi ini adalah masing dua kasus di RSUD Pesisir Selatan,
RSUD Padang Pariaman, RSUD Sikka dan RSUD Larantuka.
Kasus terbanyak ditemukan di RSUD Serang sebanyak
empat kasus kematian maternal, sehingga keseluruhan ada
12 kasus.
Faktor-faktor reproduksi ibu
Tabel 1. Persentase kematian maternal berdasarkan
faktor-faktor reproduksi ibu di RSUD Pesisir Selatan,
RSUD Padang Pariaman, RSUD Sikka, RSUD Larantuka
dan RSUD Serang, 2005.
Faktor
reproduksi
Kategori
Jumlah (%)
Umur ibu
< 20 thn
20 ­ 30 thn
>30 thn
0 (0%)
8 (66,7%)
4 (33,3%)
Paritas
1
2 ­ 3
>3
2 (16,7%)
4 (33,3%)
6 (50%)
Pada tabel 1 terlihat bahwa dari 12 kasus kematian
maternal di rumah sakit yang diteliti paling banyak pada
kelompok umur 20-30 thn sebesar 66,7 % dan jumlah
paritas lebih dari tiga orang sebesar 50%.
Tabel 2. Persentase kematian maternal berdasarkan
faktor-faktor sosioekonomi di RSUD Pesisir Selatan,
RSUD Padang Pariaman, RSUD Sikka, RSUD Larantuka
dan RSUD Serang, 2005.
Faktor sosioekonomi
Kategori
Jumlah (%)
Pendidikan ibu
Tidak sekolah
SD
SMP
1 (8,3%)
9 (75%)
4 (16,7%)
Pekerjaan
Bekerja
Tidak bekerja
0 (0%)
12 (100%)
Pekerjaan suami
Buruh
Tani,nelayan
Swasta
4 (33,3%)
6 (50%)
2 (16,7%)
Faktor-faktor sosioekonomi
Faktor-faktor sosioekonomi yang dilihat adalah pendidikan
ibu, pekerjaan/penghasilan ibu dan pekerjaan suami. Semua
ibu tidak ada yang bekerja (berpenghasilan), sebagian besar
ibu hanya berpendidikan SD (75%). Sedangkan pekerjaan
suaminya kebanyakan hanya petani dan buruh.
Akses Pelayanan Kesehatan
Akses terhadap pelayanan kesehatan dinilai berdasarkan
riwayat pemeriksaan antenatal, tempat pemeriksaan
antenatal, penolong pertama persalinan dan tempat
melahirkan.
Kebanyakan ibu tidak pernah melakukan pemeriksaan
antenatal (ANC) - 66,7%, dan ibu yang pernah melakukan
ANC, terbanyak antara 1-3 kali (25%) , hanya satu orang
yang > 4 kali.
Tabel 3. Persentase kematian maternal berdasarkan
pemeriksaan ANC di RSUD Pesisir Selatan, RSUD
Padang Pariaman, RSUD Sikka, RSUD Larantuka dan
RSUD Serang, 2005.
ANC
Jumlah (%)
Tidak Pernah
8 (66,7%)
Pernah 1 ­ 3 x
4 x
3 (25%)
1 (8,3%)
Total
12 (100%)
Dari empat kasus yang melakukan pemeriksaan kehamilan,
dua kasus memeriksakan kehamilannya di posyandu dan
dua kasus di bidan praktek.
Tabel 4. Persentase kematian maternal berdasarkan
penolong pertama persalinan dan tempat melahirkan di
RSUD Pesisir Selatan, RSUD Padang Pariaman, RSUD
Sikka, RSUD Larantuka dan RSUD Serang, 2005.
Gambaran Penyebab Kematian...
Gambaran Penyebab Kematian ...
background image
251
cdk vol.34 no.5/158 Sep-Okt 2007
Penolong
pertama
persalinan
Tempat Melahirkan
Jumlah
Rumah
RSUD
Dukun
Bidan
Dokter Umum
Dokter Obgin
9
0
0
0
0
1
1
1
9
1
1
1
Total
9
3
12
Akses ibu terhadap penolong persalinan dan tempat
melahirkan ditunjukkan pada tabel 4. Sebagian besar ibu
mencari pertolongan pertama persalinan di dukun dan
memilih rumah untuk tempat melahirkan (9 kasus - 75%).
Komplikasi Obsterik Penyebab Kematian Ibu
Penyebab kematian ibu terutama adalah eklampsia dan
perdarahan, masing-masing 5 kasus (41,7%) (tabel 5).
Tabel 5. Persentase Kematian Maternal berdasarkan Penyebab
Kematian di RSUD Pesisir Selatan, RSUD Padang Pariaman,
RSUD Sikka, RSUD Larantuka dan RSUD Serang, 2005.
Diagnosis Penyebab
Kematian
J u m l a h
kasus
%
Eklampsia
· antepartum
· postpartum
1
4
8,3%
33,3%
Perdarahan
· antepartum*
· post partum**
1
4
8,3%
33,3%
Infeksi
1
8,3%
D e k o m p e n s a s i
kordis
1
8,3%
Total
12
100%
* Perdarahan antepartum : 1 kasus solusio plasenta
** Perdarahan postpartum : 2 kasus ruptur uteri
1 kasus late HPP (penyebab tidak jelas)
Kematian ibu karena perdarahan dan eklampsia yang
terbanyak adalah pada jumlah paritas lebih dari tiga, masing-
masing tiga kasus (tabel 6).
Tabel 6. Persentase kematian ibu berdasarkan penyebab
dan jumlah paritas di RSUD Pesisir Selatan, RSUD
Padang Pariaman, RSUD Sikka, RSUD Larantuka dan
RSUD Serang, 2005.
Penyebab Kematian
Jumlah paritas
Total
1
2- 3
> 3
Eklampsia
1
1
3
5
Perdarahan
0
2
3
5
Decompensasi cordis
1
0
0
1
Infeksi
0
1
0
1
Total
2
4
6
12
Saat Kematian
Saat kematian ibu dibedakan atas kematian yang terjadi
sebelum persalinan (antepartum), selama persalinan
(inpartu) dan sesudah persalinan (post partum); paling
banyak ditemukan setelah persalinan (10 kasus - 83,3 %)
(Grafik 1).
Grafik 1. Persentase kematian maternal berdasarkan saat
persalinan di RSUD Pesisir Selatan, RSUD Padang Pariaman,
RSUD Sikka, RSUD Larantuka dan RSUD Serang, 2005.
Dari 10 kasus kematian ibu setelah melahirkan (post
partum), terbanyak terjadi pada 24 jam pertama sebanyak
5 kasus ( 50 %) (grafik 2).
Grafik 2. Persentase kematian maternal setelah persalinan (post
partum) di RSUD Pesisir Selatan, RSUD Padang Pariaman,
RSUD Sikka, RSUD Larantuka dan RSUD Serang, 2005.
PEMBAHASAN
Setiap kehamilan dan persalinan mempunyai risiko meskipun
bagi perempuan yang tidak mempunyai masalah kesehatan
sebelumnya, kira ­ kira 40 % ibu hamil mempunyai masalah
kesehatan yang berkaitan dengan masalah kehamilan dan
15 % ibu hamil menderita komplikasi jangka panjang.
(6)
Oleh karena itu pada usia reproduksi, banyaknya kehamilan
akan meningkatkan risiko perempuan untuk mendapatkan
masalah kesehatan. Studi ini menunjukkan kematian ibu
paling banyak terjadi pada usia antara 20 sampai 30 tahun,
usia paling produktif untuk hamil dan melahirkan sehingga
berisiko menderita penyakit baik akibat langsung dari
kehamilan maupun tidak langsung karena penyakit yang
Gambaran Penyebab Kematian...
Gambaran Penyebab Kematian ...
background image
cdk vol.34 no.5/158 Sep-Okt 2007
252
dideritanya.
Berdasarkan status pendidikan, kebanyakan ibu hanya
sampai sekolah dasar, bahkan ada yang tidak bersekolah.
Rendahnya pendidikan ibu akan berdampak pada rendahnya
pengetahuan ibu yang berpengaruh pada keputusan ibu
untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Makin rendah
pengetahuan ibu, makin sedikit keinginannya untuk
memanfaatkan pelayanan kesehatan. Pendidikan ibu adalah
faktor yang paling besar pengaruhnya terhadap pencarian
pertolongan persalinan di pedesaan di samping faktor jarak
ke tempat pelayanan kesehatan dan status ekonomi.
(7)
Semua ibu pada kasus ini tidak ada yang bekerja (tidak
berpenghasilan), sehingga pendapatan keluarga hanya
bertumpu pada suami, apalagi sebagian besar pekerjaan
suami ibu hanya buruh dan tani. Padahal perempuan yang
bekerja (mempunyai penghasilan) memberikan kontribusi
besar pada kesejahteraan keluarga karena perempuan
cenderung memanfaatkan penghasilannya untuk perawatan
kesehatan, membeli makanan tambahan, peralatan sekolah
dan pakaian untuk anak ­ anaknya.
(8)
Kurangnya
pendapatan
keluarga
menyebabkan
berkurangnya alokasi dana untuk pembelian makanan sehari-
hari sehingga mengurangi jumlah dan kualitas makanan
ibu perhari yang berdampak pada penurunan status gizi.
Gangguan gizi yang umum pada perempuan adalah anemia,
karena secara fisiologis mengalami menstruasi tiap bulan.
Sumber makanan yang diperlukan untuk mencegah anemia
umumnya berasal dari sumber protein yang lebih mahal, dan
sulit terjangkau oleh mereka yang berpenghasilan rendah.
Kekurangan tersebut memperbesar risiko anemia pada
remaja dan ibu hamil serta memperberat risiko kesakitan
pada ibu dan bayi baru lahir.
(9)
Hanya empat ibu yang melaksanakan pemeriksaan antenatal
dan frekuensinya hanya berkisar 1-3 kali (3 kasus) dan 4
kali (1 kasus) dilakukan di posyandu dan bidan. Pemeriksaan
antenatal penting untuk deteksi dini komplikasi kehamilan
dan pendidikan tentang kehamilan. Di Republik Demokrasi
Kongo, pelayanan antenatal terbukti berkontribusi pada
penurunan kematian ibu melalui penurunan anemia berat
dan kasus persalinan macet.
(3)
Namun masih menjadi
pertanyaan apakah pemeriksaan antenatal sudah mampu
mendeteksi risiko tinggi pada ibu hamil, apalagi jika hanya
dilakukan satu, dua atau empat kali.
Dari empat kasus ibu yang melakukan pemeriksaan
antenatal, pada riwayat pemeriksaan tidak ditemukan
tanda-tanda komplikasi kehamilan. Hal ini menunjukkan
bahwa pemeriksaan antenatal yang dilakukan tidak mampu
mendeteksi komplikasi kehamilan dan persalinan yang akan
terjadi. Keadaan ini mungkin karena frekuensi pemeriksaan
antenatal yang sangat sedikit sehingga tidak mampu
mendeteksi kompliksi kehamilan yang bisa terjadi setiap
saat.
Dampak pelayanan antenatal terhadap kematian ibu
masih simpang siur. Studi di Gambia dan Tanzania tidak
menunjukkan pengaruh kunjungan antenatal atas kematian
ibu. Pada umumnya, pelayanan antenatal saja tidak
menghasilkan penurunan kematian ibu yang bermakna.
Pada Proyek Kasongo (Republik Demokrasi Kongo), 90%
kasus rujukan rumah sakit dengan riwayat obstetrik buruk
(risiko tinggi persalinan macet) ternyata tidak mengalami
persalinan macet. Penjaringan risiko pada pemeriksaan
antenatal menurut umur, tinggi badan, paritas dan riwayat
obstetri secara umum tidak terbukti efektif. Kematian ibu
tidak hanya ditentukan oleh faktor medis saja tetapi juga
dilatarbelakangi oleh faktor sosial, budaya, ekonomi dan
politik kompleks yang tidak mudah diatasi.
(3)
Isi pelayanan antenatal di berbagai negara sangat bervariasi.
Di Indonesia pelayanan antenatal adalah pelayanan
kesehatan yang dilakukan oleh tenaga profesional (dokter
spesialis kebidanan, dokter umum, bidan, perawat bidan)
pada ibu hamil selama masa kehamilannya, yang sesuai
dengan standar pelayanan minimal pelayanan antenatal
meliputi 5 T yaitu Timbang berat badan dan ukur tinggi badan,
ukur Tekanan darah, imunisasi TT, ukur Tinggi fundus uteri dan
pemberian Tablet besi minimal 90 tablet selama kehamilan.
Dengan demikian secara operasional pelayanan antenatal
yang tidak memenuhi 5 T belum dianggap pelayanan
antenatal. Ditetapkan pula frekuensi pelayanan antenatal
minimal 4 kali selama kehamilan yaitu 1 kali pada triwulan
pertama dan kedua dan dua kali pada triwulan ketiga.
(1)
Pelayanan antenatal seharusnya mencakup berbagai jenis
pelayanan ; komponen penting yang harus ada yaitu : 1)
Skrining dan pengobatan penyakit anemia, malaria dan
penyakit menular seksual, 2) Deteksi dan penanganan
komplikasi seperti kelainan letak (malpresentasi), hipertensi,
edema, dan preklampsia, 3) Penyuluhan tentang komplikasi
esensial, kapan dan bagaimanan cara mendapatkan
pelayanan rujukan.
(3)
Sebaiknya standar tersebut lebih
ditingkatkan, agar mampu memberikan pelayanan terbaik
pada ibu hamil agar melahirkan dengan selamat.
Melahirkan di rumah dan ditolong oleh dukun masih
merupakan pilihan utama pada studi kasus ini. Setelah
dukun tidak mampu mengatasi komplikasi yang terjadi, ibu
dirujuk ke rumah sakit. Kondisi ini berkaitan dengan faktor
ekonomi, karena sebagian besar ibu tidak berpenghasilan
dan rata - rata pekerjaan suami yang hanya buruh dan tani.
Selama ini pertolongan persalinan oleh non nakes lebih tinggi
di daerah pedesaan daripada perkotaan dan lebih tinggi di
Indonesia bagian Timur dibandingkan dengan di Sumatra,
Jawa dan Bali.
(10)
Umumnya masyarakat lebih memilih
melahirkan di rumah daripada di pondok bersalin karena
alasan tradisi, keterbatasan bidan di desa, dan alasan jarak
ke tempat pelayanan. Pemanfaatan pondok bersalin hanya
terbatas pada pelayanan KIA (antenatal, imunisasi, dll) dan
pengobatan.
(11)
Kenyataan membuktikan masih banyak ibu yang
Gambaran Penyebab Kematian...
Gambaran Penyebab Kematian ...
background image
253
cdk vol.34 no.5/158 Sep-Okt 2007
memanfaatkan dukun untuk pelayanan kehamilan dan
persalinan dan besarnya risiko jika terjadi komplikasi
persalinan yang ditangani oleh dukun tak terlatih. Berbagai
upaya telah dilakukan oleh pemerintah.untuk mengatasi hal
tersebut yaitu dengan melakukan kemitraan dengan dukun,
kader dan masyarakat terutama dalam upaya peningkatan
rujukan oleh tenaga nonprofesional, melatih dukun dan
kader untuk meningkatkan pengetahuan tentang persalinan
yang bersih dan mampu mendeteksi risiko tinggi, dan
pendampingan persalinan dukun oleh tenaga kesehatan.
(12)
Penyebab kematian utama maternal pada studi ini masih
didominasi (91,7 %) oleh kematian obstetrik langsung
(komplikasi kehamilan, persalinan dan nifas) yaitu perdarahan,
eklampsia dan infeksi. Penyebab kematian lain adalah kasus
dekompensasi kordis yang merupakan kematian obstetrik
tidak langsung (akibat penyakit yang telah diderita atau
yang timbul saat hamil). Trias klasik penyebab kematian ibu
yaitu perdarahan, eklampsia dan infeksi masih merupakan
masalah utama.
Kasus kematian ibu karena perdarahan sebesar 41,7%
terdiri dari perdarahan antepartum (kasus solusio plasenta
) dan perdarahan post partum (kasus ruptur uteri, late HPP
dan retensi plasenta). Kasus perdarahan meningkat dengan
bertambahnya jumlah paritas.
Solusio plasenta adalah lepasnya plasenta dari uterus
sebelum janin lahir, merupakan salah satu penyebab
perdarahan antepartum (perdarahan setelah kehamilan 22
minggu), di samping plasenta previa. Pada kasus ini umur
kehamilan ibu adalah 39 minggu.
Perdarahan post partum adalah perdarahan lebih dari 500
ml yang terjadi setelah persalinan ; terbagi dua yaitu 1)
Perdarahan post partum dini (early postpartum hemorrhage)
yang terjadi dalam 24 jam setelah anak lahir dan 2)
Perdarahan post partum lanjut (late postpartum hemorrhage)
yang terjadi setelah 24 jam anak lahir ; biasanya hari ke 5-
15 post partum.
(6)
Kematian karena perdarahan postpartum dini pada kasus
ini disebabkan ruptur uteri (kasus pertama : kematian 4
jam post partum, kasus 2 : kematian 15 jam post partum)
dan retensi plasenta : terjadi 1 jam setelah persalinan.
Pada kasus late HPP tidak jelas penyebab perdarahannya,
kematian terjadi setelah 40 hari persalinan.
Sebab paling umum perdarahan post partum dini yang berat
adalah atonia uteri, retensi plasenta, uterus dan vagina
yang terkoyak, dan uterus yang turun (inversi). Sedangkan
perdarahan post partum lanjut sering diakibatkan oleh
infeksi, penyusutan rahim yang tidak baik atau sisa plasenta.
(6)
Selain perdarahan, penyebab terbesar kematian ibu
pada studi ini disebabkan oleh eklampsia (41,7%). Posisi
sosioekonomi rendah dan kurangnya akses pelayanan
kesehatan meningkatkan risiko eklampsia. Preeklampsia-
eklampsia merupakan penyakit kehamilan sistemik yang
banyak dijumpai di daerah-daerah di luar jangkauan rumah
sakit yang mempunyai fasilitas memadai dan pada umumnya
diderita oleh golongan sosio ekonomi lemah.
(13)
Di Indonesia
kematian ibu akibat eklampsia cukup tinggi, berkisar 24%
(SKRT 2001).(1) biasanya disebabkan oleh perdarahan otak,
dekompensasi kordis dengan edema paru, payah ginjal, dan
aspirasi saluran pernapasan saat kejang.
(14)
Kematian ibu paling banyak terjadi pada 24 jam pertama
post partum, terbanyak adalah kasus perdarahan. Hal
ini sesuai dengan data WHO. Perdarahan postpartum
umumnya terjadi selama persalinan kala tiga. Pada kasus
ini, persalinan ibu ditolong oleh dukun padahal penanganan
saat jam-jam pertama pasca persalinan sangat penting
untuk pencegahan, diagnosis dan penanganan perdarahan.
Ketidakmampuan penolong persalinan untuk mencegah
dan menangani perdarahan pasca persalinan dapat
berakibat fatal pada ibu. Kondisi ini banyak terjadi di negara
berkembang dimana wanita lebih sering mendapatkan
perawatan antenatal atau perawatan sebelum melahirkan
dibandingkan dengan perawatan kebidanan yang seharusnya
diterima saat persalinan dan pasca persalinan.
(6)
KESIMPULAN
1. Kematian ibu paling banyak terjadi pada usia
reproduksi yaitu umur 20- 30 thn dan dengan
bertambahnya paritas.
2. Ibu yang mengalami kematian, mempunyai status
ekonomi yang rendah.
3. Akses pelayanan kesehatan pada ibu masih
sangat rendah, dilihat dari rendahnya pemeriksaan
antenatal, penolong pertama persalinan masih
didominasi oleh dukun dan banyak persalinan masih
dilakukan di rumah.
4. Perdarahan, eklampsia dan infeksi masih merupakan
penyebab kematian maternal yang terbanyak.
5. Kejadian kematian maternal karena eklampsia
dan perdarahan meningkat dengan bertambahnya
paritas.
6. Kematian maternal lebih banyak terjadi dalam
waktu 24 jam post partum.
SARAN
1. Meningkatkan akses terhadap penolong persalinan
dan petugas terlatih perawatan pasca melahirkan
2. Meningkatkan penyuluhan oleh petugas kesehatan
dan kader kepada ibu hamil mengenai penyakit dan
komplikasi yang dapat timbul selama kehamilan
khususnya kepada ibu hamil dengan sosioekonomi
rendah yang tidak berkujung ke fasilitas kesehatan
dengan melakukan kunjungan rumah di wilayah
kerjanya.
3. Meningkatkan kemampuan petugas kesehatan
Gambaran Penyebab Kematian...
Gambaran Penyebab Kematian ...
background image
cdk vol.34 no.5/158 Sep-Okt 2007
254
dalam pelayanan obstetri emergensi dasar dan
pelayanan obstetri emergensi komprehensif
4. Memberi motivasi ibu untuk mengikuti program KB
dengan meningkatkan akses terhadap pelayanan KB
yang bermutu.
KEPUSTAKAAN
1. Depkes RI,Dirjen Binkesmas. Prinsip Pengelolaan Program KIA. Dalam:
Pedoman Pemantauan Wilayah Setempat Kesehatan Ibu dan Anak
(PWS-KIA). 2004. Hal. 1-11.
2. Coeytaux, Leonard A, Bloomer C, Aborsi. Dalam: Koblinsky M, Timyan J
, Gay J eds. Kesehatan Wanita sebuah Perspektif Global, Gajah Mada
University Press. 1997.Hal. 193-207.
3. Keselamatan ibu : Keberhasilan dan Tantangan. OutLook 1999;
16(Jan.).
4. Soemantri S dkk. Kajian Kematian Ibu dan Anak di Indonesia, Badan
Litbangkes, Depkes, RI. 2004.
5. Depkes RI, Dirjen Yanmedik. Derajat Kesehatan. Dalam : Morbiditas dan
Mortalitas. 2005.
6. Mencegah Perdarahan Pasca Persalinan : Menangani persalinan Kala
Tiga. OutLook. 2002 ; 19(Jun).
7. Agus Suprapto, Julianto Pradono, Dwi Hapsari. Determinan Sosial
Ekonomi pada Pertolongan Persalinan di Indonesia. Maj. Kes. Perkotaan
2002;11(2) : 18-29.
8. Koblinsky M, Timyan J, Gay J. Akses Pelayanan Bukan Hanya Sekedar
Jarak. Dalam Kesehatan Wanita Sebuah Prespektif Global. Gajah Mada
University Press. Yogyakarta ; hal.331 ­ 354.
9. Iskandar B, Meiwita. Dampak Krisis Moneter dan Bencana Alam terhadap
Kesehatan dan Gizi Wanita. Dalam Lokakarya Nasional Dampak Krisis
Ekonomi terhadap Kesehatan Masyarakat Rentan. Pusat Komunikasi
Kesehatan Berperspektif Jender dan Yayasan Lembaga Konsumen
Indonesia dan Ford Foundation.1999. Hal. 47 -48.
10.Depkes RI, Badan Litbangkes. Pelayanan Kesehatan ibu dan Anak.
Dalam: Susenas, Status Kesehatan, Pelayanan Kesehatan, Perilaku
Hidup Sehat, dan Kesehatan Lingkungan. Jakarta. 2004Hal. 52-53.
11. Handayani, Lestari, dkk. Model Pelayanan Persalinan Dukun Bayi-
Bidan, Tinjauan Aspek Sosiobudaya untuk Rancangan Intervensi. Pusat
Penelitian Kependudukan Universitas Gadjahmada, Yogyakarta. 1994.
hal. 59
12.Depkes RI, Direktorat Jendral Bina Kesehatan Masyarakat, Paket
Informasi Program Safe Motherhood di Indonesia, Jakarta. 2002. hal.
41
13. Lutan D (ed). Sinopsis Obstetri : Obstetri Fisiologi & Obstetri Patologi.
Jilid I ed 2. Jakarta : EGC. 1998.hal. 298-306.
14.Rambulangi J. Penanganan Pendahuluan Prarujukan Penderita
Preeklampsia Berat dan Eklampsia. Cermin Dunia Kedokt.
2003 ;139 :16-18.
Gambaran Penyebab Kematian...