239
cdk vol.34 no.5/158 Sep-Okt 2007
Peran Korioamnionitis Klinik, Lama Ketuban Pecah,
dan Jumlah Periksa Dalam pada Ketuban Pecah Dini
Kehamilan Aterm terhadap Insiden Sepsis Neonatorum Dini
Ketut Suwiyoga, AA Raka Budayasa
Sub Divisi Obstetri Sosial Bagian Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Bali, Indonesia
ABSTRAK
ABSTRAK
Tujuan: Mengetahui peran korioamnionitis klinik, lama ketuban pecah, dan jumlah kali periksa dalam terhadap
insiden sepsis neonatorum dini.
Bahan dan Cara: Penelitian kohort di RS Sanglah Denpasar selama tahun 2002 untuk Sampel adalah ketuban
pecah dini, kehamilan tunggal hidup aterm, partus fisiologis, dan bersedia sebagai subjek penelitian. Variabel yang
dikontrol adalah umur, paritas, hemoglobin, kelainan mayor kongenital, asfiksia neonatorum, dan trauma janin.
Besar sampel dihitung dengan rumus Pocock, dilakukan uji K-S dan multivariat serta hasil analisis disajikan dalam
bentuk tabel dan narasi.
Hasil: Sejumlah 113 sampel yang diikuti sampai hari ke 4 pospartum, didapatkan insiden sepsis neonatorum dini
adalah 4,4% (5/113). Risiko relatif sepsis neonatorum dini pada korioamnionitis klinik adalah 46 kali (RR=46,22 ci
95% 5,75-371,02) lebih besar dibandingkan dengan tidak korioamnionitis klinis. Risiko relatif sepsis neonatorum
dini pada lama ketuban pecah 12-18 jam adalah 6 kali (RR=6,21 ci 95% 1,89-33,09) dan pada 18-24 jam
adalah 9 kali (RR=9,29 ci 95% 1,08-80,12) lebih besar dibandingkan dengan ketuban pecah dini kurang dari 12
jam. Risiko relatif sepsis neonatorum dini pada jumlah kali periksa dalam 8 kali adalah 9 kali (RR=9,16 ci 95%
1,42-59,30) dibandingkan dengan bukan < 8 kali pada non sepsis neonatorum dini.
Simpulan: Terdapat hubungan bermakna antara korioamnionitis klinik, lama ketuban pecah, dan jumlah kali
periksa dalam terhadap insiden sepsis neonatorum dini.
Kata kunci: korioamnionitis, lama ketuban pecah, jumlah kali periksa dalam, sepsis neonatorum dini
PENDAHULUAN
Sepsis neonatorum dini (SND) masih merupakan masalah
baik pada bayi aterm terlebih lagi pada bayi prematur.
Prevalensi SND berkisar antara 3-5%, prognosisnya
buruk dengan mortalitas mencapai 90,0%; lebih buruk
dibandingkan dengan sepsis neonatorum lanjut (SNL)
1,2
.
SND sering dihubungkan dengan ketuban pecah dini (KPD)
karena infeksi dengan KPD saling mempengaruhi. Infeksi
genitalia bawah dapat mengakibatkan KPD, demikian pula
KPD dapat memudahkan infeksi asendens
2,3
. Infeksi asenden
ini dapat berupa amnionitis dan korionitis, gabungan
keduanya disebut korioamnionitis. Selain itu, korioamnionitis
dapat dihubungkan dengan lama pecah selaput ketuban,
jumlah kali periksa dalam, dan pola kuman terutama grup
Stafilokokus
2,4,5
. SND sering dihubungkan dengan infeksi
intranatal, sedangkan SNL sering dihubungkan dengan
infeksi postnatal terutama nosokomial
6
.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara
korioamnionitis klinik, lama ketuban pecah, dan jumlah kali
periksa dalam terhadap insiden SND pada KPD kehamilan
aterm. Manfaat yang diharapkan adalah sebagai masukan
tentang peran ketiga variabel tersebut dalam hubungannya
dengan insidens SND di RS Sanglah Denpasar dalam
upaya meningkatkan pelayanan obstetri dan neonatus dini.
Selanjutnya, dapat dipakai untuk langkah pencegahan dan
terapi dalam upaya menurunkan angka kematian perinatal.
BAHAN DAN CARA
Rancangan penelitian adalah studi kohort dengan populasi
kehamilan aterm tunggal hidup dengan KPD, partus fisiologi,
dan bersedia sebagai subjek penelitian. Kriteria eksklusi
adalah asfiksia neonatorum dan kelainan kongenital mayor
serta berat badan lahir < 2500g. Kasus diikuti sampai
dengan 4 hari postnatal. Dilakukan matching analisis atas
umur, paritas, dan hemoglobin. Pemilihan sampel secara
consecutive dan besar sampel dihitung dengan rumus
Pocock:
[z
2PQ + z{P1Q1+P2Q2}]
n =
{P1- P2}
cdk vol.34 no.5/158 Sep-Okt 2007
240
Peran Korioamnionitis Klinik,...
Insiden sepsis neonatorum pada KPD kehamilan aterm=2,6
(Seaward, 1998), prakiraan risiko relatif (RR) =5,0, kekuatan
() = 80%, dan tingkat kemaknaan (
)=95% maka besar
sampel adalah 108 dan jumlah population at risk yang
diamati adalah 130. SND adalah kelompok kasus dan Tidak
NSD adalah kelompok kontrol. Hasil penelitian dicatat di
formulir khusus, kemudian dilakukan uji multivariat dengan
program SPSS 10 for windows. Hasil analisis disajikan dalam
bentuk tabel dan narasi.
Definisi operasional variabel
1. Sepsis neonatorum dini adalah sepsis neonatal yang
memenuhi kriteria Erwin Sarwono yang dipakai sebagai
prosedur tetap di Bagian Anak RS Sanglah Denpasar.
2. Kehamilan aterm tunggal hidup adalah kehamilan
dengan janin presentasi bujur kepala di bawah, satu janin,
umur kehamilan 37 minggu menurut hukum Naegele dan
denyut jantung janin dalam batas normal.
3. Ketuban pecah dini adalah selaput ketuban pecah
sebelum inpartu dan setelah satu jam tidak menunjukkan
tanda inpartu.
4. Korioamnionitis klinis adalah infeksi pada amnion dan
korion menurut kriteria Gjoni.
5. Lama ketuban pecah adalah jarak waktu keluhan keluar
air ketuban pervaginam sampaidengan pemeriksaan
pertama di RS Sanglah Denpasar.
6. Jumlah kali periksa dalam adalah jumlah vaginal toucher
yang dilakukan sejak diperiksa pertama kali di RS Sanglah
Denpasar sampai dengan persalinan berakhir.
7. Partus fisiologis adalah persalinan pervaginam spontan
belakang kepala.
8. Asfiksia neonatorum adalah jika skor APGAR bayi baru
lahir 1-6.
9. Kelainan kongenital adalah bayi menderita kelainan
kongenital mayor.
10. Umur ibu adalah usia dalam tahun seperti yang tertera
pada kartu tanda penduduk.
11. Paritas adalah jumlah bayi hidup yang pernah dilahirkan.
12. Hemoglobin adalah kadar hemoglobin (g%) dengan cara
spektrofotometer di Lab RS Sanglah Denpasar.
13. Trauma janin adalah trauma pada janin pasca persalinan
seperti laserasi, sefalhematom, perdarahan intrakranial,
dan lainnya.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Dari 120 sampel yang memenuhi kriteria, yang dapat
dianalisis 113; 7 sampel drop out karena asfiksia neonatorum,
persalinan ekstraksi vakum/forseps, dan seksio cesarea.
Pengamatan selama 4 hari di ruang Neonatologi RS Sanglah
Denpasar mendapatkan 5 NSD; jadi insiden NSD pada KPD
kehamilan aterm adalah 4,4% (5/113).
Selanjutnya, dilakukan uji komparasi variabel umur, paritas,
dan hemoglobin untuk melihat homogenitas sampel sebagai
population at risk (tabel 1).
Tabel 1. Distribusi umur, paritas, dan kadar hemoglobin
pada kedua kelompok
Kelompok SND
(n=5)
Kelompok Tidak SND
(n=108)
p
Rerata
SD
Rerata
SD
Umur
26,10
4,48
27,51
4,82
0,234
Paritas
2,13
0,03
2,49
0,04
0,087
Hb
11,97
0,85
11,99
0,86
0,892
Variabel umur ibu, paritas, kadar hemoglobin antara
kelompok NSD dan Tidak NSD berbeda tidak bermakna atau
homogen (p > 0,05). Sedangkan atas variabel pengganggu
asfiksia neonatorum, kelainan kongenital mayor, dan berat
badan lahir < 2500g dilakukan controlled by design. Dengan
demikian semua populasi yang menjadi sampel penelitian
adalah homogen.
Selanjutnya, dilakukan uji multivariat faktor korioamnionitis,
lama ketuban pecah, dan jumlah periksa dalam terhadap
insiden SND seperti terlihat pada tabel 2.
Tabel 2. Risiko relatif terjadinya SND pada
krioamnionitis klinik, lama ketuban pecah lebih 12 jam,
dan jumlah kali periksa dalam lebih delapan kali
SND
(n=5)
Tidak SND
(n=108)
RR
CI
Korioamnionitis
klinik
+
4
11
46,22
5,75-
371,02
-
1
97
Lama ketuban
pecah > 12 jam
+
4
88
8,63
1,45-33,09
-
1
20
Jumlah periksa
dalam >
delapan kali
+
3
80
9,16
1,42-59,30
-
2
28
Risiko relatif SND pada korioamnionitis klinis adalah 46 kali
(RR=46,22 95%CI 5,75-371,02) lebih besar dibandingkan
dengan tidak korioamnionitis klinis. Ditemukan 9 kasus
korioamnionitis (8,0%), 4 (44,4%) mengakibatkan SND.
Seaward (1998) mendapatkan 7,0% korioamnionitis
klinis pada KPD kehamilan aterm dan korioamnionitis
tersebut mengakibatkan SND sebesar 44,4%. Benitz
(1999) melaporkan 80% tanda infeksi neonatus
didapatkan dari korioamnionitis klinis. Selain itu risiko SND
pada koriomanionitis klinis adalah 6,42 kali lebih besar
dibandingkan dengan bukan korioamnionitis klinis. Hal ini
tidak jauh berbeda dibandingkan dengan hasil penelitian
ini. Hal ini mungkin disebabkan karena pemberian rutin
antibiotika spektrum luas ampisilin pada KPD sesuai dengan
protap Bagian Obstetri dan Ginekologi RS Sanglah Denpasar
tentang penanganan KPD.
Tampaknya,
infeksi
asenden
merupakan
sumber
korioamnionitis. Hal ini dapat dilihat dari hubungan lama
ketuban pecah terhadap risiko SND yaitu pada ketuban
pecah 6-12 jam berbeda tidak bermakna (p=0,560),
sedfangkan pada ketuban pecah 12-18 jam dan 12-18 jam
risiko SND berhubungan bermakna (nilai p masing-masing
adalah 0,001 dan 0,009). Selain itu, risiko SND pada
ketuban pecah sesudah 12-18 jam adalah 7 kali (RR= 7,98
95%CI 1,12-61,53) dan pada 18-24 jam adalah 9 kali (RR=
241
cdk vol.34 no.5/158 Sep-Okt 2007
Peran Korioamnionitis Klinik,.
9,29 95%CI 1,08-80,12). Koloni kuman vagina yang dapat
diisolasi adalah E.coli (32,7%), Streptokokus grup (23,0%),
Enterobakter (24,8%), Stafilokokus (23,9%), dan sisanya
adalah Klebsiela, Streptokokus grup
, Pseudomonas,
Proteus, Bakterioides, Mikrokokus, dan Kandida yang
sebagian besar merupakan flora vagina
8
. Benitz (1999)
melaporkan bahwa Streptokokus grup pada perempuan
dapat menyebabkan bakteriuria asimptomatis, infeksi
saluran kencing (ISK), amnionitis, endometritis pospartum,
dan infeksi luka operasi. Di samping itu, 15-30% perempuan
adalah carrier kuman tersebut
7
.
KPD sebagian besar (80%) terjadi setelah 18 jam. Insiden
SND pada KPD kurang 12 jam adalah 2,7%, pada 12-18
jam adalah 4,6%, dan pada 18-24 jam 8,6% ; risiko SND
masing-masing adalah 1,5 kali (RR=1,8 95%CI 0,21-16,14),
6 kali (RR=6,21 95%CI 1,89-33,09), dan 9 kali (RR=9,29
95%CI 1,08-80,12). KPD dapat merupakan akibat dari
infeksi maupun sebagai penyebab infeksi asenden. Selain
itu, KPD merupakan faktor risiko utama prematuritas
yang merupakan penyumbang utama NSD dan kematian
perinatal
2,9
.
Jumlah kali periksa dalam juga merupakan risiko SND;
periksa dalam 5-8 kali berhubungan tidak bermakna
dengan insidens SND (p= 0,656) dan periksa dalam >8 kali
berhubungan dengan insidens SND (p= 0,016). Risiko SND
pada periksa dalam >8 kali adalah 9 kali (RR=9,16 95%CI
1,42-59,30) lebih besar dibandingkan dengan < 8 kali. Benitz
(1999) mendapatkan kejadian SND pada KPD dengan
jumlah periksa dalam >8 kali adalah 40,0%
4
dan Seaward
(1999) mendapatkan risiko SND pada KPD kehamilan
aterm adalah 4,0 kali (RR= 4,12 95%CI 2,32-5,45)
3
.
Pada penelitian ini juga didapatkan bahwa lekositosis
(lekosit >15,0 k/uL) akibat infeksi non obstetrik dan
obstetrik menyebabkan peningkatan SND secara bermakna
(p<0,05).
Pada penelitian ini lekositosis kemungkinan besar akibat
obstetrik yaitu korioamnionitis klinis; kriteria amnionitis klinis
adalah febris 36,7
0
C, takikardi maternal (nadi 100/m),
takikardi fetus (denjut jantung janin 160/m), lekositosis
(>15,0 k/uL), cairan ketuban berbau, dan nyeri tekan perut
bawah
1,9
.
SIMPULAN DAN SARAN
Insiden sepsis neonatorum dini pada ketuban pecah
dini kehamilan aterm adalah 4,4% (5/113). Risiko
relatif sepsis neonatorum dini pada ketuban pecah dini
kehamilan aterm adalah:
1. Risiko relatif SND pada korioamnionitis klinis
adalah 46 kali (RR=46,22 95%CI 5,75-
371,02) lebih besar dibandingkan dengan tidak
korioamnionitis klinis.
2. Risiko relatif SND pada lama ketuban pecah 12-18
jam adalah 6 kali (RR=6,21 95%CI 1,89-33,09)
dan pada 18-24 jam adalah 9 kali (RR=9,29
95%CI 1,08-80,12) lebih besar dibandingkan
dengan ketuban pecah < 12 jam.
3. Risiko relatif SND periksa dalam periksa dalam >8
kali adalah 9 kali (RR=9,16 95%CI 1,42-59,30)
lebih besar dibandingkan dengan < 8 kali.
DAFTAR PUSTAKA
1.
Monintja HE. Beberapa masalah perwatan intensif neonatus. Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta:217-29.
2.
Jerome O, Remington JS. Current concept of infection of the fetus
and newborn infant. In: Infectious Disease of Fetus and Newborn. 4th
ed. WB Saunders Co, NewYork 1998:1-17.
3.
Seaward P, Hannah M, Myhr D et al. International multicentre term
PROM study. Evaluation of predictor of neonatal infection in infant
born to patient with premature ruptutre of membranes. Am J Obstet
Gynecol 1998;179: 653-9.
4.
Benitz W, Gould JB, Druzin ML. Risk factors of early onset group
streptococcal sepsis: Estimation of odds ratios by critical literature
review. Pediatrics 1999;103:72-7.
5.
Factors SH, Levine OS, Potter J. Impact of risk base prevention policy
on neonatal goup Streptococcal disease. Am J Obstet Gynecol
1998; 179: 569-71.
6.
Powell KR, Marcy M. Laboratory aids for diagnosis of neonatal sepsis.
In: Infectious disease of fetus and newborn. 4th ed. WB Saunders Co,
NewYork 1998:1223-35.
7.
Newton ER. Chorioamnionitis and intramniotic infection. Clin J Obstet
Gynecol 2000; 36 (4): 795-808.
8.
Schuchat A, Zywicki S, Dinsmoor MJ et al. Risk factors and
opportunities for prevention of early onset neonatal sepsis 2000;
105:21-6.
9.
Cunningham FG, Mac Donald PC, Gant NF. Fetal Growth Restriction.
In: William Obstetrics, 20th ed. London 2001: 766-67.