233
cdk vol.34 no.5/158 Sep-Okt 2007
HASIL PENELITIAN
ABSTRAK
Usia wanita produktif yang aman untuk kehamilan dan persalinan adalah 20-35 tahun. Diduga risiko solusio
plasenta meningkat dengan bertambahnya usia ibu, terutama setelah usia 35 tahun. Penelitian ini bertujuan
untuk mengetahui angka kejadian solusio plasenta di RSUD Dr. Moewardi Surakarta antara Januari 2001 sampai
dengan Desember 2003, serta untuk mengetahui hubungan antara usia ibu hamil dengan solusio plasenta.
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. Pengambilan sampel
menggunakan teknik purposive random sampling. Bahan penelitian adalah catatan medik yaitu untuk mengetahui
banyaknya persalinan di atas 28 minggu serta kejadian solusio plasenta. Data yang diperoleh diolah dengan
metode statistik analisis korelasi dengan menggunakan rumus Pearson Product Moment. Kemudian pada koefisien
yang diperoleh dilakukan uji signifikansi.
Angka kejadian solusio plasenta antara tahun 2001-2003 adalah 32 kasus dari 4878 persalinan (0,65%), atau
1 kasus solusio plasenta tiap 154 persalinan. Frekuensi tertinggi ditemukan pada umur 40 tahun, (7 kasus
- 1,62%), dan pada paritas 7 (3 kasus dari 257 paritas ibu 7 - 1,18%). Frekuensi terendah pada umur < 20
tahun (2 kasus dari 602 persalinan - 0,33%) dan nullipara (4 dari 1682 kasus - 0,23%). Jenis solusio plasenta
terbanyak adalah solusio plasenta berat, (29 kasus - 90,63%). Frekuensi solusio plasenta meningkat sesuai
dengan bertambahnya umur ibu hamil.
Angka kejadian solusio plasenta di RSUD Dr. Moewardi cukup tinggi, namun lebih rendah bila dibandingkan
dengan hasil penelitian serupa di sentra pendidikan lain. Terdapat hubungan yang bermakna antara umur ibu
hamil dengan frekuensi solusio plasenta, makin meningkat umur ibu hamil maka makin meningkat pula frekuensi
solusio plasenta, terutama setelah berumur 35 tahun.
Kata kunci : solusio plasenta, umur ibu hamil.
PENDAHULUAN
Kurun reproduksi sehat adalah usia 20-35 tahun. Usia
kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun meningkatkan
risiko terjadinya komplikasi dalam kehamilan; salah satunya
solusio plasenta.
(1-3)
Solusio plasenta adalah terlepasnya plasenta yang letaknya
normal pada korpus uteri yang terjadi setelah kehamilan 20
minggu dan sebelum janin dilahirkan.
(4-8)
Di berbagai literatur
disebutkan bahwa risiko mengalami solusio plasenta
meningkat dengan bertambahnya usia.
Insidens solusio plasenta bervariasi di seluruh dunia.
Penelitian di Norwegia menunjukkan insidensi 6,6 per 1000
kelahiran.
(5)
Frekuensi solusio plasenta di Amerika Serikat
dan di seluruh dunia mendekati 1 %. Saat ini kematian
Hubungan Antara Umur Ibu Hamil
dengan Frekuensi Solusio Plasenta
di RSUD Dr. Moewardi Surakarta
Suyono, Lulu, Gita, Harum, Endang
Bagian Radiologi Fakultas Kedokteran Uiversitas Sebelas Maret /RSUD Dr. Moewardi Surakarta
maternal akibat solusio plasenta mendekati 6 %.
(4)
Solusio plasenta merupakan salah satu penyebab
perdarahan antepartum yang memberikan kontribusi
terhadap kematian maternal dan perinatal di Indonesia. Pada
tahun 1988 kematian maternal di Indonesia diperkirakan
450 per 100.000 kelahiran hidup. Angka tersebut tertinggi
di ASEAN (5-142 per 100.000) dan 50-100 kali lebih tinggi
dari angka kematian maternal di negara maju. Terdapat
faktor-faktor lain yang ikut memegang peranan penting
yaitu kekurangan gizi, anemia, paritas tinggi, dan usia lanjut
pada ibu hamil. Di negara sedang berkembang penyebab
kematian yang disebabkan oleh komplikasi kehamilan,
persalinan, nifas atau penanganannya (direct obstetric death)
adalah perdarahan, infeksi, preeklamsi/eklamsi. Selain itu
kematian maternal juga dipengaruhi faktor-faktor reproduksi,
cdk vol.34 no.5/158 Sep-Okt 2007
234
Hubungan Antara Umur Ibu Hamil .
500 ml, uterus tetanik, syok maternal sampai kematian
janin dan koagulopati.
Sistem IV
Berdasarkan luasnya bagian plasenta yang terlepas dari
uterus
a. Solusio plasenta ringan : kurang dari ¼ bagian bagian
plasenta yang terlepas. Perdarahan kurang dari 250
ml.
b. Solusio plasenta sedang :
Plasenta yang terlepas ¼ -
2
/
3
bagian. Perdarahan
<1000 ml, uterus tegang, terdapat fetal distress akibat
insufisiensi uteroplasenta.
c. Solusio plasenta berat
Plasenta yang terlepas > 2/3 bagian , perdarahan
>1000 ml., terdapat fetal distress sampai dengan
kematian janin, syok maternal serta koagulopati.
FREKUENSI
Solusio plasenta terjadi sekitar 1 % dari semua kehamilan
di seluruh dunia.
ETIOLOGI
Belum diketahui dengan jelas, namun terdapat beberapa
keadaan tertentu yang menyertai: hipertensi, riwayat
trauma, kebiasaan merokok, usia ibu < 20 atau >35 tahun,
multiparitas, tali pusat yang pendek, defisiensi asam folat,
perdarahan retroplasenta, penyalahgunaan alkohol dan
obat-obatan.
PATOFISIOLOGI
Perdarahan dapat terjadi dari pembuluh darah plasenta
atau uterus yang membentuk hematoma di desidua,
sehingga plasenta terdesak dan akhirnya terlepas.
Perdarahan berlangsung terus menerus karena otot uterus
yang telah meregang oleh kehamilan tidak mampu lebih
berkontraksi untuk menghentikan perdarahan. Akibatnya,
hematoma retroplasenter akan bertambah besar,
sehingga sebagian dan akhirnya seluruh plasenta terlepas
dari dinding uterus. Sebagian darah akan menyelundup di
bawah selaput ketuban keluar dari vagina, atau menembus
selaput ketuban masuk ke dalam kantong ketuban, atau
ekstravasasi di antara serabut-serabut otot uterus. Apabila
ekstravasasinya berlangsung hebat, seluruh permukaan
uterus akan berbercak biru atau ungu dan terasa sangat
tegang serta nyeri. Hal ini disebut uterus couvelaire.
Nasib janin tergantung dari luasnya plasenta yang
terlepas dari dinding uterus. Apabila sebagian besar atau
Solusio plasenta
terjadi sekitar 1 % dari
semua kehamilan di seluruh dunia
Solusio plasenta
terjadi sekitar 1 % dari
semua kehamilan di seluruh dunia
pelayanan kesehatan, dan sosioekonomi. Salah satu faktor
reproduksi ialah usia ibu hamil dan paritas.
DEFINISI
Solusio plasenta adalah terlepasnya plasenta yang letaknya
normal di korpus uteri yang terjadi setelah kehamilan 20
minggu dan sebelum janin dilahirkan.
(1-8)
Solusio plasenta diklasifikasikan menjadi beberapa tipe:
Sistem I
Berdasarkan gejala klinik yang ditimbulkan:
a. Kelas 0
: Asimptomatik. Diagnosis ditegakkan
secara retrospektif dengan menemukan hematoma
atau daerah yang mengalami pendesakan pada
plasenta. Ruptur sinus marginal juga dimasukkan dalam
kategori ini.
b. Kelas 1
: Gejala klinis ringan dan terdapat pada
hampir 48 % kasus. Gejala meliputi: tidak ada perdarahan
pervaginam sampai perdarahan pervaginam ringan;
uterus sedikit tegang; tekanan darah dan denyut
jantung maternal normal; tidak ada koagulopati; dan
tidak ditemukan tanda-tanda fetal distress.
c. Kelas 2
: Gejala klinik sedang dan terdapat + 27
% kasus. Perdarahan pervaginam bisa ada atau tidak
ada; ketegangan uterus sedang sampai berat dengan
kemungkinan kontraksi tetanik; takikardi maternal
dengan perubahan ortostatik tekanan darah dan denyut
jantung; terdapat fetal distress, dan hipofibrinogenemi
(150-250 mg/dl).
d. Kelas 3
: Gejala berat dan terdapat pada hampir
24% kasus, perdarahan pervaginam dari tidak ada
sampai berat; uterus tetanik dan sangat nyeri; syok
maternal; hipofibrinogenemi (<150 mg/dl); koagulopati
serta kematian janin.
Sistem II
Berdasarkan ada atau tidaknya perdarahan pervaginam:
a. Solusio plasenta yang nyata/tampak (revealed )
Terjadinya perdarahan pervaginam, gejala klinis sesuai
dengan jumlah kehilangan darah, tidak terdapat
ketegangan uterus, atau hanya ringan.
b.
Solusio plasenta yang tersembunyi (concealed)
Tidak terdapat perdarahan pervaginam, uterus tegang
dan hipertonus, sering terjadi fetal distress berat. Tipe ini
sering disebut Perdarahan Retroplasental.
c.
Solusio plasenta tipe campuran (mixed)
Terjadi perdarahan baik retroplasental atau pervaginam;
uterus tetanik.
Sistem III
Berdasarkan jumlah perdarahan yang terjadi
a. Solusio plasenta ringan : perdarahan pervaginam <100 ml.
b. Solusio plasenta sedang : perdarahan pervaginam
100-500 ml, hipersensitifitas uterus atau peningkatan
tonus, syok ringan, dapat terjadi fetal distress.
c. Solusio plasenta berat : perdarahan pervaginam luas >
235
cdk vol.34 no.5/158 Sep-Okt 2007
seluruhnya terlepas, anoksia akan mengakibatkan kematian
janin. Apabila sebagian kecil yang terlepas, mungkin tidak
berpengaruh sama sekali, atau mengakibatkan gawat janin.
Waktu, sangat menentukan beratnya gangguan pembekuan
darah, kelainan ginjal, dan nasib janin. Makin lama selang
waktu solusio plasenta sampai persalinan selesai, umumnya
makin hebat komplikasinya.
GAMBARAN KLINIS
Solusio plasenta ringan
Salah satu tanda kecurigaan solusio plasenta adalah
perdarahan pervaginam yang kehitam-hitaman, berbeda
dengan perdarahan pada plasenta previa yang berwarna
merah segar.
Solusio plasenta sedang
Plasenta telah terlepas > 1/4 tapi < 2/3 bagian. Walaupun
pendarahan pervaginam tampak sedikit, seluruh perdarahan-
nya mungkin telah mencapai 1000 ml. Dinding uterus
teraba tegang terus menerus dan nyeri tekan sehingga
bagian-bagian janin sukar teraba. Apabila janin masih hidup,
bunyi jantungnya sulit didengar dengan stetoskop biasa,
harus dengan stetoskop ultrasonik. Tanda-tanda persalinan
biasanya telah ada, dan persalinan akan selesai dalam 2
jam. Kelainan pembekuan darah dan kelainan ginjal mungkin
telah terjadi, walaupun kebanyakan terjadi pada solusi
plasenta berat.
Solusio plasenta berat
Plasenta telah terlepas lebih dari 2/3 permukaannya. Dapat
terjadi syok, dan janin meninggal. Uterus tegang seperti
papan, dan sangat nyeri.
DIAGNOSIS
Diagnosis solusio kadang sukar ditegakkan.
(2,3)
Penderita
biasanya datang dengan gejala klinis : perdarahan
pervaginam (80%), nyeri abdomen atau pinggang dan nyeri
tekan uterus (70%), gawat janin (60%), kelainan kontraksi
uterus (35%), kelahiran prematur idiopatik (25%), dan
kematian janin (15%).
(4)
Syok yang terjadi kadang tidak
sesuai dengan banyak perdarahan.
(5)
Pemeriksaan laboratrium untuk menyingkirkan diagnosis
banding solusio plasenta antara lain : 1) Hitung sel darah
lengkap; 2) Fibrinogen; 3) Waktu prothrombin/waktu
tromboplastin parsial teraktifasi untuk mengetahui terjadinya
DIC; 4) Nitrogen urea/kreatinin dalam darah; 5) Kleithauer-
Betke test untuk mendeteksi adanya sel darah merah janin
di dalam sirkulasi ibu.
(5,9-10)
Pemeriksaan penunjang ultrasonografi (USG) membantu
menentukan lokasi plasenta (untuk menyingkirkan
kemungkinan plasenta previa). Saat ini lebih dari 50 %
pasien yang diduga mengalami solusio plasenta dapat
teridentifikasi melalui USG. Hematom retroplasentar
dapat dikenali sekitar 2-15 % dari semua solusio plasenta.
Pengenalan hematoma tergantung pada derajat hematoma
(besar dan lamanya) serta keahlian operator.
(4,5)
Pemeriksaan histologik, setelah plasenta dikeluarkan dapat
memperlihatkan hematoma retroplasentar. Penemuan
lain yang mungkin adalah adanya ekstravasasi darah ke
myometrium, yang tampak sebagai bercak ungu pada
tunika serosa uterus yang dikenal sebagai Uterus Couvelaire.
Secara klinis diketahui dari adanya nyeri dan tegang pada
uterus.
(5,11,12)
Diagnosis banding lain perdarahan pada trimester ketiga
selain plasenta previa adalah vasa previa, trauma vaginal,
serta keganasan (jarang).
(6,13)
KOMPLIKASI
Komplikasi dapat terjadi baik pada ibu maupun janin.
Komplikasi yang dapat terjadi pada ibu antara lain: 1)
Perdarahan baik antepartum, intrapartum, maupun post-
partum
(3,4)
; 2) Koagulopati konsumtif, DIC; solusio plasenta
merupakan penyebab koagulopati konsumtif yang tersering
pada kehamilan.
(2,3,7)
3) Utero-renal reflex; 4) Ruptur uteri.
Komplikasi yang dapat terjadi pada janin antara lain hipoksi,
anemi, retardasi pertumbuhan, kelainan susunan saraf
pusat, dan kematian janin.
(4,13-19)
PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan bervariasi tegantung kondisi/status ibu
dan janin.
(4)
Perdarahan antepartum yang sedikit, dengan
uterus yang tidak tegang, pertama kali harus ditangani
sebagai kasus plasenta previa. Apabila kemudian ternyata
kemungkinan plasenta previa dapat disingkirkan, barulah
ditangani sebagai solusio plasenta.
Penggunaan tokolitik pada penatalaksanaan solusio plasenta
masih kontroversial, dan dipertimbangkan hanya pada pasien
yang hemodinamik stabil, tidak terdapat gawat janin, dan pada
janin prematur di mana penggunaan kortikosteroid masih
bermanfaat, serta untuk memperlambat kelahiran.
(4,5,20)
Penggunaan tokolitik harus di bawah pengawasan karena
gawat janin ataupun ibu dapat berkembang cepat. Secara
umum. Magnesium sulfat digunakan sebagai tokolitik (drug
of choice) karena agen beta simpatomimetik mempunyai
pengaruh yang tidak diinginkan terhadap jantung pasien.
Tokolisis diberikan untuk mengefektifkan terapi glukokortikoid
pada janin prematur, untuk mempercepat kematangan
paru janin. Dosis magnesium sulfat : 4-6 g. intravena bolus
selama 20 menit, kemudian dilanjutkan dosis pemeliharaan
2-4 g/jam, dititrasi bila perlu, untuk menekan kontraksi.
Kontraindikasi : riwayat hipersensitifitas terhadap agen ini,
hipokalsemi, miastenia gravis, dan gagal ginjal.
(5)
Penggunaan tokolitik pada
penatalaksanaan solusio plasenta
masih kontroversial
Penggunaan tokolitik pada
penatalaksanaan solusio plasenta
masih kontroversial
Hubungan Antara Umur Ibu Hamil ...
cdk vol.34 no.5/158 Sep-Okt 2007
236
Hubungan Antara Umur Ibu Hamil
2003) tercatat 4878 persalinan di UPF Kebidanan RSUD
Dr. Moewardi Surakarta.
Terdapat 32 kasus solusio plasenta dalam kurun 3 tahun
(0,65%), dengan frekuensi yang berbeda tiap tahunnya.
(tabel 1). Terdapat 1 kasus solusio plasenta tiap 154
persalinan
Tabel 2. Frekuensi Solusio Plasenta menurut usia ibu
Umur (th)
Solusio Plasenta
J u m l a h
Persalinan
Frekuensi (%)
15-19
2
602
0,33
20-24
4
1140
0,35
25-29
5
1145
0,44
30-34
6
807
0,74
35-39
8
752
1,06
40-44
7
432
1,62
Jumlah
32
4878
0,65
Sumber : data sekunder
Dari tabel 2 dapat dilihat bahwa frekuensi solusio plasenta
yang terbanyak adalah pada umur 40-45 tahun yaitu 7 dari
431 persalinan (1,62%) atau 1 kasus setiap 62 persalinan.
Diikuti oleh umur 35-39 tahun, yaitu 8 dari 752 persalinan
(1,06%). Frekuensi terendah terdapat pada umur 15-19
tahun yaitu 2 dari 602 persalinan (0,33%) atau 1 kasus
tiap 303 persalinan usia 15-19 tahun. Tabel tersebut juga
menunjukkan bahwa frekuensi solusio plasenta meningkat
sesuai dengan meningkatnya umur ibu hamil.
Tabel 3. Frekuensi solusio plasenta menurut paritas ibu
Paritas
Solusio Plasenta
Persalinan
Frekuensi (%)
0
4
1682
0,23
1-3
13
1875
0,69
4-6
12
1064
1,13
7-
3
257
1,18
Jumlah
32
4878
0,65
Dari tabel 3 dapat dilihat bahwa frekuensi solusio plasenta
juga meningkat dengan meningkatnya paritas ibu. Frekuensi
tertinggi terdapat pada ibu dengan paritas 7 atau lebih
yaitu 3 dari 257 persalinan (1,19%), sedangkan frekuensi
terendah ditemukan pada ibu dengan paritas 0 (nullipara)
yaitu 4 orang dari 1682 persalinan (0,23%).
Dari tabel 4 tampak bahwa di RSUD Dr. Moewardi Surakarta
antara tahun 2001-2003, sebagian besar merupakan
solusio plasenta berat (29 kasus - 90,63%).
Tabel 4. Frekuensi Solusio Plasenta berdasarkan jenis dan gambaran
klinisnya
Jenis Solusio Plasenta
Jumlah Kasus
Frekuensi (%)
Solusio plasenta ringan
0
0
Solusio plasenta sedang
3
9,37
Solusio plasenta berat
29
90,63
Jumlah
32
100
Data solusio plasenta dan umur ibu hamil diuji menggunakan
teknik analisis korelasi untuk mencari hubungan antara
2 variabel atau lebih yang sifatnya kuantitatif. Dengan
menggunakan rumus Pearson Product Moment didapatkan
Persalinan pervaginam dilakukan jika kondisi pasien
memenuhi syarat, yakni kekuatannya yang ditandai dengan
stabilitas hemodinamiknya.
(7-9)
Bila diperkirakan persalinan
tidak selesai dalam 6 jam setelah terjadinya solusio plasenta,
dapat dilakukan seksio sesarea untuk menghentikan sumber
perdarahan.
(2-6)
Jika perdarahan tidak dapat dikendalikan
atau diatasi setelah persalinan, histerektomi dapat dilakukan
untuk menyelamatkan hidup pasien. Sebelum histerektomi,
prosedur lain seperti mengatasi koagulopati, ligasi arteri
uterina, pemberian obat uterotonik jika terdapat atonia dan
kompresi uterus dapat dilakukan.
(1-8,19)
PROGNOSIS
Prognosis ibu tegantung dari luasnya plasenta yang
terlepas dari dinding uterus, banyaknya perdarahan, derajat
koagulopati, adanya hipertensi menahun atau preeklamsia,
tersembunyi tidaknya perdarahannya, dan jarak waktu
antara terjadinya solusio plasenta sampai pengosongan
uterus.
(3)
Angka kematian ibu 0,5%-5% di seluruh dunia. Kebanyakan
karena perdarahan (segera atau lambat) atau gagal jantung
atau ginjal.
(8)
Prognosis janin pada solusio plasenta berat
sekitar 50%-80% mengalami kematian. 15% sudah tidak
terdengar denyut jantung janin saat tiba di Rumah Sakit, dan
50% dalam kondisi gawat janin.
(8,9)
Pada solusio plasenta
ringan dan sedang kematian janin tergantung dari luas
plasenta yang terlepas dan usia kehamilan.
(3)
METODE PENELITIAN
Penelitian ini adalah penelitian deskriptif analitik dengan
pendekatan cross sectional. Subjek penelitian adalah
seluruh ibu yang bersalin di bagian kebidanan dan penyakit
kandungan RSUD Dr. Moewardi Surakarta dalam kurun
waktu Januari 2001-Desember 2003, yang memenuhi
kriteria inklusi dan eksklusi. Kriteria inklusi meliputi: umur
kehamilan > 28 minggu, kehamilan tunggal, melahirkan bayi
hidup ataupun meninggal. Kriteria eksklusi meliputi usia
kehamilan < 28 minggu, plasenta previa, trauma genital,
gemelli, preeklamsi/eklamsi.
HASIL PENELITIAN
Tabel 1. Frekuensi Solusio Plasenta di RSUD Dr. Moewardi Surakarta
(2001-2003)
Tahun
Solusio Plasenta
Persalinan
Frekuensi(%)
2001
12
1722
0,69
2002
13
1686
0,77
2003
7
1470
0,47
Jumlah
32
4878
0,65
Teknik yang digunakan adalah purposive random sampling atas
data catatan medis untuk mengetahui banyaknya persalinan
dengan atau tanpa disertai perdarahan antepartum pada
usia kehamilan di atas 28 minggu serta banyaknya kejadian
solusio plasenta.
Dalam kurun waktu 3 tahun (Januari 2001-Desember
237
cdk vol.34 no.5/158 Sep-Okt 2007
Hubungan Antara Umur Ibu Hamil ..
koefisien korelasi (r) sebesar 0,841. Uji t (significancy test
for t) untuk menguji hubungan antara variabel tersebut
mendapatkan harga t sebesar 5,81613 sedangkan nilai
gawat t table untuk p = 0,05 dan derajat kebebasan (n-2)
adalah 2,145. Oleh karena t
hitung
>t
tabel ,
hal ini merupakan
petunjuk statistik korelasi bermakna antara umur ibu hamil
dengan frekuensi solusio plasenta.
PEMBAHASAN
Frekuensi solusio plasenta di RSUD Dr. Moewardi Surakarta
antara tahun 2001 2003 adalah sebesar 0.65 % atau
1 : 154 persalinan. Frekuensi ini mendekati hasil penelitian
retrospektif di Norwegia (1967 sd. 1996) yaitu 6.6
perseribu kelahiran atau 0.66 %
(21)
. Namun lebih rendah bila
dibandingkan dengan penelitian di Amerika Serikat (2002)
yang mendapatkan bahwa frekuensi solusio plasenta di
USA maupun di seluruh dunia mendekati 1 % atau 1:100
persalinan
(4.5)
. Hasil ini juga jauh lebih rendah dibandingkan
dengan frekuensi solusio plasenta di RS CiptoMangun
Kusumo Jakarta (1971-1975) yaitu sebesar 2.6%
(3)
.
Hal ini mungkin karena penelitian ini menggunakan kriteria
eksklusi sehingga tidak semua kasus solusio plasenta
disertakan sebagai sampel penelitian. Di samping itu
penelitian lain pada umumnya mengambil sampel dengan
umur kehamilan >20 minggu, sedang pada penelitian ini
diambil sampel dengan umur kehamilan >28 minggu. Hal ini
dilakukan mengingat di Indonesia kemungkinan hidup bayi
yang lahir saat usia kehamilan <28 minggu masih sangat
kecil. Faktor ini meneyebabkan frekuensi yang diperoleh
dalam penelitian ini lebih rendah.
Pada penelitian ini dijumpai bahwa frekuensi solusio plasenta
meningkat dengan bertambahnya umur ibu hamil, terutama
setelah 35 tahun. Hal ini karena dengan meningkatnya
usia akan terjadi perubahan - perubahan pada pembuluh
darah dan menurunnya fungsi hormonal pengatur siklus
endometrium
(21,22)
. Di samping itu dengan meningkatnya usia
akan meningkat pula risiko hipertensi baik esensial maupun
hipertensi dalam kehamilan, diabetes mellitus maupun
penyakit kronis lainnya yang merupakan faktor predisposisi
terjadinya solusio plasenta.
Faktor lain yang sering dihubungkan dengan solusio plasenta
antara lain riwayat pernah mengalami solusio plasenta,
serta preeklampsia dan eklampsia.
Pada penelitian ini ditemukan bahwa frekuensi solusio
Pada penelitian ini dijumpai bahwa
frekuensi solusio plasenta meningkat
dengan bertambahnya umur ibu hamil,
terutama setelah umur 35 tahun
Pada penelitian ini dijumpai bahwa
frekuensi solusio plasenta meningkat
dengan bertambahnya umur ibu hamil,
terutama setelah umur 35 tahun
plasenta tertinggi pada usia > 40 tahun. Ditemukan juga
bahwa sebagian besar merupakan solusio plasenta berat
(90.63%). Hal ini mungkin akibat keterlambatan deteksi dini
solusio plasenta. Frekuensi solusio plasenta sedang yang
ditemukan pada penelitian + 9.37 % sedangkan frekuensi
solusio plasenta ringan 0%. Mungkin karena solusio plasenta
ringan jarang terdiagnosis.
Hasil penelitian ini mendekati hasil penelitian di RSCM,
yakni frekuensi solusio plasenta sedang 14 % dan solusio
plasenta berat 86 %.
KESIMPULAN
1. Angka kejadian kasus solusio plasenta di RSUD
Dr. Moewardi Surakarta dari tahun 2001 sampai
dengan 2003 termasuk cukup tinggi, yakni 0.65 %
atau 1:154 persalinan.
2. Frekuensi solusio plasenta terbanyak terdapat pada
usia 40 tahun ke atas dan paritas 7 atau lebih.
3. Terdapat hubungan yang bermakna antara umur
ibu hamil dengan frekuensi solusio plasenta,
frekuensi solusio plasenta meningkat dengan
bertambahnya umur ibu hamil, terutama setelah
berumur 35 tahun.
KEPUSTAKAAN
1.
Hayashi RH, Castillo MS. Bleeding in Pregnancy. dalam Knuppel R.
A., Drukker JE. (eds.) High Risk Pregnancy, A Team Approach, WB
Saunders Co., 1986 : 425-30.
2.
Cunningham, MacDonald, Gant, Obstetrical Hemorrhage, dalam
Cunningham, MacDonald, Gant, Williams Obstetric, 18th ed. Prentice-
Hall International Inc, 1989 : 695-712.
3.
Wiknjosastro H, Perdarahan Antepartum, dalam Wiknjosastro H,
Saifuddin AB, Rachimhadi T, eds. Ilmu Kebidanan, Edisi Ketiga, Yayasan
Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta, 1997 : 376-85.
4.
Gaufberg SV. Abruptio Placentae, available from http:www.eMedicine.
com/e merg/topic12.htm,inc, view article, 2003.
5.
Deering SH. Abruptio Placentae, available from http: www.eMedicine.
com/med/topic 6.htm, inc, view article, 2002.
6.
Anonim. Abruptio Placentae, Women's Health Care Issues, available from
http://www.wramc.amedd.armymill/education/pat.edu/women
health/pregnancy.htm. view article, 2002.
7.
Cunningham, Gant. Hemorrhage, dalam Gant NF, Cunningham FG eds.
Basic Gynecology and Obstetrics, Appleton and Lange Business and
Professional Group, Connecticut, USA, 1993 : 432-4.
8.
Pernoll ML. Third-Trimester Hemorrhage, dalam De Cherney AH,
Pernoll ML. eds. Current Obstetric and Gynecologic Diagnosis and
Treatment, 8
th
ed. Appleton and Lange Business and Professional
Group, Connecticut, USA, 1994 : 398 404.
9.
Taber BZ. Abrupsio Plasenta, dalam Taber BZ. Kapita Selekta
Kedaruratan Obstetri dan Ginekologi, Penerbit Buku Kedokteran EGC,
1994 : 330-5.
10. Anonim, Prenatal Assesment of Infant Well Being, available from http://
www.medal.org/adocs/docs_chis/doc_chis.11.html, 2003.
11. Heath C. Abruptio Placentae, available from http://www.3mcc.com/
Assets/Sumary/ t.P0002. html, 2002.
cdk vol.34 no.5/158 Sep-Okt 2007
238
12. Klatt EC. Placenta Abruption, available from http://medlibs. med.utah.
edu/kw/human_reprod/mml/h_rob_placo222.html, 2002.
13. Toos AW, Wessel G. Hyperhomocysteinaemia as a Risk Factor for Abruptio
Placenta, available from http://www.bwhct.nhs.uk/ cats/library/
bwn.html 2001.
14. Thomson. Abruptio Placenta, available from http://www.medformation.
com/mf/mmqdis.nsf/qd/nd02899.html, 2002.
15. Rein D, Disease-Abruptio Placenta, available from http://www.
henryfordhealth.org/15460.cfm, 2003.
16. Abdul Aziz S. Abruptio Placenta (Accidental Hemorrhage), available from
http://www.arabicobgyn.net/doc/abruptio.html.
17. Anonim, Complications of Pregnancy, Hemorrhagic and Hematologic
Alterations, available from http://www.ecc.cc.mo.uc/ecc/library/
web/reserves/complications_of_pregnancy_2htm, 2002.
18. Sanders M, Abruptio Placenta, available from http://www.doh. gov.
za/docs, 2003.
19. Tolvonen S, Heinonen S., Reproductive Risk Factor, Doppler Findings, and
Outcome of Affected Births in Placental Abruption : A Population Based
Analysis, available from http://www.ncbi.nlm.nih.gov/ entrez/query.
fcgi, 2002 ; 451-60.
Hubungan Antara Umur Ibu Hamil ..
20. Bougere NH, Abruptio Placenta, available at http://www. healthatoz.
com/healthatoz/atoz.ency/placental_abruption.html, 2002.
21. Collins NJ. Abruptio Placenta, available at http://www. nursingcue.
com/NCEU/courses/placentanc, 2002.
22. Raymond EG, Cnattingius S, Kiely JI, Effects of Maternal Age, Parity,
and Smoking On the Risk of Still Birth, BPJ Obstetrics and Gynecology,
1994:301-6.
23. Jolly M, Sebire N, Harris J, et al. The Risk Associated with Pregnancy in
Women Aged Over 35 Years, Human Reproduction, 2000:2433-7.
24. Abu-Heija AT, Jallad MF, Abukteish F. Maternal and Perinatal Outcome
of Pregnancy After Age of 45, J. Obstetr. Gynecol. 2000:27-30.
25. Sumedha Panchal. Current Review: Considerations for the Parturient
with Advanced Maternal Age, available from http://www. soap.org/
newsletters/summer2001/index.html
26. Cragun J. Placental Abruption, available from http://folsomobgyn.
com/placental_abruption.htm, 2001.