background image
229
cdk vol.34 no.5/158 Sep-Okt 2007
HASIL PENELITIAN
PENDAHULUAN
Angka kematian maternal masih menjadi tolok ukur untuk
menilai baik buruknya keadaan pelayanan kebidanan dan
salah satu indikator tingkat kesejahteraan ibu
(1)
. Angka
kematian maternal di Indonesia tertinggi di Asia Tenggara.
Menurut SKRT tahun 1992 yaitu 421 per 100.000
kelahiran hidup, SKRT tahun 1995 yaitu 373 per 100.000
kelahiran hidup dan menurut SKRT tahun 1998 tercatat
kematian maternal yaitu 295 per 100.000 kelahiran hidup.
Diharapkan PJP II (2019) menjadi 60 - 80 per 100.000
kelahiran hidup
(2)
.
Penyebab terpenting kematian maternal di Indonesia adalah
perdarahan 40-60%, infeksi 20-30% dan keracunan
kehamilan 20-30%, sisanya sekitar 5% disebabkan penyakit
lain yang memburuk saat kehamilan atau persalinan
(3)
.
Perdarahan sebagai penyebab kematian ibu terdiri atas
perdarahan antepartum dan perdarahan postpartum.
Perdarahan antepartum merupakan kasus gawat darurat
yang kejadiannya berkisar 3% dari semua persalinan,
penyebabnya antara lain plasenta previa, solusio plasenta,
dan perdarahan yang belum jelas sumbernya
(4,5)
.
Plasenta previa adalah plasenta yang implantasinya tidak
normal, sehingga menutupi seluruh atau sebagian ostium
internum
(6)
; kasus ini masih menarik dipelajari terutama
di negara berkembang termasuk Indonesia, karena faktor
predisposisi yang masih sulit dihindari, prevalensinya masih
tinggi serta punya andil besar dalam angka kematian
maternal dan perinatal yang merupakan parameter
pelayanan kesehatan. Di RS Parkland didapatkan prevalensi
plasenta previa 0,5%. Clark dkk (1985) melaporkan
prevalensi plasenta previa 0,3%. Nielson dkk (1989)dengan
penelitian prospektif menemukan 0,33% plasenta previa
dari 25.000 wanita yang bersalin
(7)
, di Indonesia berkisar
2-7%, sedang di RS Sanglah kejadiannya 2,7%.
Plasenta previa pada kehamilan prematur lebih bermasalah
karena persalinan terpaksa; sebagian kasus disebabkan oleh
perdarahan hebat, sebagian lainnya oleh proses persalinan.
Prematuritas merupakan penyebab utama kematian
perinatal sekalipun penatalaksanaan plasenta previa sudah
dilakukan dengan benar. Di samping masalah prematuritas,
perdarahan akibat plasenta previa akan fatal bagi ibu jika
tidak ada persiapan darah atau komponen darah dengan
segera.
(7,8)
BAHAN DAN CARA
Rancangan penelitian ini adalah studi kasus-kontrol untuk
mencari hubungan faktor risiko dengan terjadinya plasenta
previa. Penelitian dilakukan di RS Sanglah Denpasar, mulai 1
Juli 2001 sampai dengan 1 Juli 2002 dengan besar sampel
Faktor Risiko Plasenta Previa
Gd. Alit Wardana, Md. Kornia Karkata
Bagian / SMF Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana/
RS Sanglah Denpasar, Bali
ABSTRAK
Tujuan : Mencari hubungan beberapa faktor risiko (umur, paritas, riwayat abortus dan riwayat seksio sesaria)
dengan kejadian plasenta previa.
Rancangan penelitian: Studi Kasus Kontrol
Tempat dan waktu penelitian: Bag /SMF Obstetri dan Ginekologi FK UNUD/ RS Sanglah Denpasar, Bali, Juli
2001 - Juli 2002.
Subyek : Sejumlah 140 sampel dibagi dua kelompok masing-masing 70 kasus dan 70 kontrol. Diagnosis plasenta
previa berdasarkan hasil pemeriksaan USG dan saat operasi seksio sesaria; penelusuran faktor risiko melalui
wawancara yang dicatat dalam formulir.
Hasil : Dari 70 wanita dengan plasenta previa, umur (Rasio Odd 2,105; 95% IK 0,644; 6,878), paritas (Rasio Odd
1,277 ;95% IK 0,601; 2,712), riwayat abortus (Rasio Odd 3,497 ;95% IK 1,183; 10,339;p = 0,016), riwayat
seksio sesaria (Rasio Odd 0,759 ;95% IK 0,292; 2,451) berperan terhadap kejadian plasenta previa.
Simpulan : Faktor risiko umur, paritas dan riwayat abortus berperan terhadap terjadinya plasenta previa tetapi
riwayat seksio sesaria tidak.
Kata kunci : faktor risiko, plasenta previa
background image
cdk vol.34 no.5/158 Sep-Okt 2007
230
baik pada kasus maupun pada kontrol didapatkan 85/140
x 100% = 60,7%.
Faktor risiko riwayat seksio sesaria ada pada 8 di kelompok
kasus dan 9 di kelompok kontrol. Jadi proporsi pada
kelompok kasus adalah 8/70 x 100% = 11,4%, sedang
pada kelompok kontrol 9/70 x 100% = 12,9%. Proporsi
risiko plasenta previa secara keseluruhan baik pada kasus
maupun pada kontrol didapatkan 17/140 x 100% =
12,1%.
Faktor risiko riwayat abortus pada kelompok kasus 15 dan
pada kelompok kontrol 5. Jadi proporsi pada kelompok kasus
adalah 15/70 x 100% = 21,4%, sedang pada kelompok
kontrol adalah 5/70 x 100% = 7,1%. Proporsi keseluruhan
baik pada kelompok kasus dan kontrol adalah 20/140 x
100% = 14,3%.
Hasil perhitungan regresi logistik rasio odd pada faktor risiko
umur sebesar 2,105 (95% IK 0.644; 6.878) artinya ibu
hamil dengan umur 35 tahun mempunyai risiko plasenta
previa 2 kali dibanding umur < 35 tahun; tapi secara statistik
tidak bermakna (p = 0,218).
Peningkatan umur ibu merupakan faktor risiko plasenta
previa, karena sklerosis pembuluh darah arteri kecil
dan arteriole miometrium menyebabkan aliran darah ke
endometrium tidak merata sehingga plasenta tumbuh
lebih lebar dengan luas permukaan yang lebih besar, untuk
mendapatkan aliran darah yang adekuat
(9,10,11)
Hershkowitz
dkk. (1995), pada penelitiannya di tahun 1985 ­1992, atas
248 kasus plasenta previa, mendapatkan peningkatan umur
ibu berhubungan dengan peningkatan frekuensi plasenta
previa - dari 0,19% pada umur ibu 20-24 tahun menjadi
0,96% pada umur ibu 35 tahun; dan dengan analisis
regresi multipel, umur ibu merupakan faktor risiko bebas
untuk terjadinya plasenta previa dengan rasio odd sebesar
1,09 (p < 0.0001)
(12)
. Archibong EI dan Ahmed ESM (2001)
pada penelitian tahun 1997-2000 menyatakan prevalensi
plasenta previa sesuai dengan peningkatan umur ibu, 1 kali
pada umur ibu 20-29 tahun, 3 kali pada umur ibu 30-39
tahun dan 9 kali pada umur ibu 40 tahun (p < 0.001)
(13)
Frye A. (1999) mengatakan prevalensi plasenta previa 3 kali
pada umur ibu >35 tahun
(14)
.
Tabel 2. Uji Regresi Logistik terhadap variabel Umur, Paritas,
Riwayat Seksio Sesarea, dan Riwayat abortus.
Step 1
B
S.E
Wald
Df
Sig.
Exp (B)
95,0% C.I. for
EXP (B)
Lower
Upper
Umur
0,744
0,604
1,517
1
0,218
2,105
0,644
6,878
Pari-
tas
0,245
0,384
0,405
1
0,525
1,277
0,601
2,712
SC
-0,283
0,559
0,256
1
0,613
0,753
0,252
2,254
Abor-
tus
1,252
0,553
5,123
1
0,024
3,497
1,183
10,339
Cons-
tant
-2,347
1,327
3,127
1
0,077
0,096
Paritas merupakan faktor risiko terjadinya plasenta previa
OR = 1,277 (95% IK 0.601; 2.712), artinya ibu hamil
70 kasus dan 70 kontrol. Subyek penelitian adalah wanita
hamil yang datang ke IRD atau poliklinik Ilmu Kebidanan dan
Penyakit Kandungan RS Sanglah Denpasar dengan usia
kehamilan > 28 minggu.
Kelompok Kasus adalah wanita hamil yang datang untuk
bersalin atau melahirkan ke IRD Kebidanan RS Sanglah
Denpasar yang didiagnosis plasenta previa melalui
pemeriksaan USG atau setelah operasi seksio sesaria dan
wanita hamil yang telah didiagnosis plasenta previa melalui
pemeriksaan USG yang datang kontrol hamil ke poliklinik
kebidanan RS Sanglah Denpasar. Kelompok kontrol adalah
wanita yang melahirkan dengan diagnosis bukan plasenta
previa baik pervaginam maupun seksio sesaria dan wanita
hamil bukan plasenta previa secara klinis atau dengan
pemeriksaan USG yang datang ke poliklinik Kebidanan RS
Sanglah Denpasar.
HASIL DAN DISKUSI
Dalam kurun waktu Juli 2001 - Juli 2002 tersebut didapat
140 sampel yang terdiri dari 70 kasus plasenta previa dan
70 kontrol ibu hamil bukan plasenta previa dalam periode
yang sama. Sampel penelitian ini yang dengan faktor risiko
riwayat abortus dianggap mendapat tindakan kuretasi;
banyaknya abortus tidak dianalisis; begitu juga dengan
riwayat seksio sesaria, banyaknya seksio sesaria tidak
dianalisis.
Tabel 1. Proporsi faktor risiko Umur, Paritas, Riwayat Seksio
sesarea, dan Riwayat abortus pada kasus dan kontrol.
Kelompok Risiko
Kasus
Kontrol
Proporsi
p
n %
n %
%
Umur
35 th
10 (14,3)
5 (7,1)
10,7
0,172
< 35 th
60 (85,7)
65 (92,9)
Paritas
Multipara
45 (64,3)
39 (55,7)
60,7
0,387
Primipara
25 (35,7)
31 (44,3)
Riw. SC
Ya
8 (11,4)
9 (12,9)
12,1
0,796
Tidak
62 (88,6)
61 (87,1)
Riw.
Abor-
tus
Ya
15 (21,4)
5 (7,1)
14,3
0,016
Tidak
55 (78,6)
65 (92,9)
Dari Tabel 1 dapat dilihat bahwa faktor risiko umur ibu
35 tahun didapat 10 di kelompok kasus dan 5 di kelompok
kontrol. Jadi proporsi di kelompok kasus adalah 10/70 x
100% = 14,3 %, sedangkan di kelompok kontrol adalah
5/70 x 100% = 7,1%. Hal ini menunjukkan proporsi dengan
faktor risiko umur 35 th lebih banyak di kelompok kasus
dibanding dengan di kelompok kontrol. Apabila dihitung
proporsi risiko plasenta previa secara keseluruhan baik
pada kasus maupun pada kontrol didapatkan 15/140 x
100% = 10,7%.
Pada faktor risiko multiparitas, didapat 45 di kelompok kasus
sedang di kelompok kontrol 39. Jadi proporsi di kelompok
kasus adalah 45/70 x 100% = 64,3% sedang proporsi di
kelompok kontrol adalah 39/70 x 100% = 55,7%. Apabila
dihitung proporsi risiko plasenta previa secara keseluruhan
Faktor Risiko Plasenta Previa
background image
231
cdk vol.34 no.5/158 Sep-Okt 2007
terganggu oleh jaringan parut di segmen bawah rahim
sehingga tidak terjadi plasenta previa. Dari penelitian tahun
1989 - 1991 terhadap 2527 kehamilan tunggal di the King
Edward Hospital for Woman, Subiaco, Western Australia,
didapatkan implantasi plasenta di dinding posterior uterus
lebih sering daripada di bagian anterior dan plasenta yang
berimplantasi di korpus posterior lebih sering bermigrasi
ke fundus daripada plasenta yang berimplantasi di anterior.
Walaupun pertumbuhan otot polos dinding anterior dan
posterior sama, pergerakan tampaknya lebih besar di
dinding uterus posterior, karena dindingnya lebih panjang
(18)
Riwayat abortus merupakan faktor risiko plasenta previa
dengan rasio Odd 3,497 (95% IK 1.183; 10.339); wanita
dengan riwayat abortus mempunyai risiko plasenta previa
4 kali lebih besar dibanding wanita dengan tanpa riwayat
abortus, dan terdapat hubungan bermakna faktor risiko
abortus dengan terjadinya plasenta previa (p = 0.024).
Miller et al, mengatakan 50% plasenta previa terjadi pada
wanita yang pernah mengalami kuretasi; diduga disrupsi
endometrium atau luka endometrium merupakan predisposisi
terjadinya kelainan implantasi plasenta
(19)
. Hershkowitz
et al (1995) menemukan kecenderungan peningkatan
sesuai jumlah abortus sebelumnya, prevalensi plasenta
previa sebesar 0,32% pada wanita dengan 1 kali abortus
sebelumnya dan 2,48% pada mereka yang 4 kali abortus
sebelumnya
(12)
. Hendricks et al (1999) pada penelitiannya
mengatakan pada wanita dengan riwayat abortus 2
kali, 2,1 kali lebih berisiko terjadi plasenta previa
(20).
Taylor
(1993) mengatakan rasio Odd wanita dengan satu kali
atau lebih induksi abortus adalah 1,28, sedang wanita yang
mengalami satu kali atau lebih abortus spontan mempunyai
rasio Odd 1,30
(21)
. Prakosa (2003), melaporkan riwayat
kuretase abortus merupakan faktor risiko plasenta previa
meskipun secara statistik tidak bermakna dengan rasio Odd
2,957. (95% IK 0.74; 11.86).
(22)
Dengan menghitung Population Attributable Risk dapat
diketahui berapa persen kejadian plasenta previa yang
dapat dikurangi dengan menghilangkan faktor - faktor
risikonya. Pada penelitian ini untuk faktor risiko riwayat
abortus didapatkan PAR 0,263. Ini berarti 26% plasenta
previa dapat dikurangi apabila faktor risiko riwayat abortus
dihilangkan. Untuk faktor risiko umur didapat PAR 0,105
ini artinya 11% terjadinya plasenta previa dapat dikurangi
dengan menghilangkan faktor risiko tersebut, sedang faktor
risiko paritas didapat PAR 0,143 artinya 14% terjadinya
plasenta previa dapat dikurangi dengan menghilangkan
faktor risiko tersebut.
Upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi kejadian ini
yaitu sebaiknya wanita merencanakan kehamilannya dengan
baik dan menghindari tindakan abortus, dan perlu diingatkan
agar hamil sebelum umur 35 tahun.
multigravida mempunyai risiko plasenta previa 1,3 kali
dibanding primipara. Meskipun paritas merupakan faktor
risiko tetapi secara statistik tidak bermakna (p = 0,525), hal
ini terjadi karena variabel baik pada kasus maupun kontrol
tidak berbeda bermakna sehingga pengaruhnya terhadap
variabel tersebut tidak ada, berbeda dengan penelitian
Archibong dan Ahmed (1997 ­ 2000) di Rumah Sakit Abha
Maternity dengan 6 kasus paritas 0 dan 95 kasus paritas
di atas 1; prevalensi plasenta previa meningkat secara
bermakna berdasarkan paritas (p < 0.001)
(13).
Hershkowitz
et al (1995)
(12)
mendapatkan jumlah persalinan sebelumnya
berhubungan dengan peningkatan prevalensi plasenta
previa; pada wanita yang mengalami 1 kali persalinan
sebelumnya prevalensi plasenta previa adalah 0,41% dan
yang mengalami persalinan 5 kali atau lebih prevalensi
plasenta previanya 0,64%. Pada analisis regresi logistik
multipel, rasio odd paritas 1,02 (95% IK 0.94; 1.10),
dikatakan jumlah persalinan sebelumnya bukan merupakan
faktor risiko yang bermakna.
Beberapa kepustakaan mengatakan plasenta previa lebih
sering pada wanita multipara, mungkin karena jaringan
parut uterus akibat kehamilan berulang. Jaringan parut
ini menyebabkan tidak adekuatnnya persediaan darah ke
plasenta sehingga plasenta menjadi lebih tipis dan mencakup
daerah uterus yang lebih luas.
Konsekuensi perlekatan plasenta yang luas ini adalah
meningkatnya risiko penutupan ostium uteri internum
(9,10,11)
.
Strassman menyatakan bahwa plasenta letak rendah
terjadi karena endometrium bagian fundus belum siap
menjadi tempat implantasi pada kehamilan yang sering
(15)
.
Mochtar R (1998) mengatakan paritas tinggi lebih berisiko
plasenta previa daripada paritas rendah
(16)
. Wiknjosastro
H (1999) mengatakan bahwa anggapan vaskularisasi yang
berkurang atau atrofi desidua akibat persalinan lampau
dapat menyebabkan plasenta previa tidaklah selalu benar
(17)
.
Dari beberapa penelitian terdahulu, riwayat seksio sesaria
dikatakan sebagai salah satu faktor risiko plasenta previa
dengan rasio Odd berkisar 1 sampai 4 kali; tetapi pada
penelitian ini riwayat seksio sesaria bukan merupakan risiko
terjadinya plasenta previa dengan rasio Odd 0,753 (95%
IK 0.252; 2.254) mungkin karena implantasi awal plasenta
tidak di anterior sehingga dalam perkembangannya tidak
Faktor Risiko Plasenta Previa
Risiko plasenta previa pada wanita
dengan riwayat abortus 4 kali lebih
besar dibandingkan dengan tanpa
riwayat abortus dan secara statistik
bermakna (p<0,05)
background image
cdk vol.34 no.5/158 Sep-Okt 2007
232
5.Rachimhadi T, Wibowo B. Perdarahan Antepartum. Dalam : Ilmu Kebidanan Prawiro-
hardjo S.,Wiknjosastro H., Saifuddin A.B., Rachimhadi T.,eds. Edisi ketiga. Jakarta:
Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, 1999. hal 362-376.
6.Perdarahan Antepartum dalam: Obstetri Patologi. Bagian Obstetri dan Ginekologi
Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Bandung. Elstar Offset Bandung, 1982.
hal. 110-120.
7.Cunningham FG, MacDonald PC, Gant NF.. Antepartum Bleeding. Williams Obstet-
rics. 20th ed. Norwalk: Appleton & Lange, 1997. pp. 755-60.
8.Tucker DE. Low Lying Placenta. 1998. Available from: http://www.womens.healt
co.uk/praevia.htm.
9.Laing FC, Ultrasound evaluation of obstetrics problem relating to the lower uterine
segment and cervix in sonography. In : Obstetrics and Gynecology. Fleisher AC. (ed) 5
ed. London: Prentice-Hall, 1996. pp. 709-726.
10.Maloney DS, Lee S. A reference guide for gross placental examination, 1998..
Available from: http://showcase.netins.net /web/placenta/section 1.htm.
11.Lee et al.
12.Hershkowitz R, Fraser D, Mazor M, Leiberman JR.. One or multiple previous cesar-
ean sections are associated with similar increased frequency of placenta previa. Eur.
J. Obstetr. Gynecol. 1995; 62: 185-88.
13.Archibong EI, Ahmed ESM. Risk Factor, Maternal and Neonatal Outcome in Major
Placenta Previa: A Prospective Study. 2001.Available from: http://www.kfshrc.edu.
sa/annals/213-214/01-076.htm.
14.Frye A. Placenta previa. Holistic Midewifery Vol 1. 1995. Available from: http://
www. naturalchildbirth.org/natural/resources/prebirth/ prebirth01.htm
15.Bernischke K., Kaufmann P. Placental Shape Aberration. In : Pathology of the Hu-
man Placenta, 3 rd ed, New York: Springer-Verlag, 1995.pp. 383-384.
16.Mochtar R. Perdarahan Antepartum dalam: Sinopsis Obstetri. Ed: Delfi Lutan, Edisi
kedua, Jakarta: EGC, 1998. hal. 269-279.
17.Wiknjosastro.
18.Magann EF, Evans SF. Placental Implantation at 18 Weeks and Migration Through-
out Pregnancy. Southern Med. J. 1998; 91(11): 1025-27.
19.Miller DA,Chollet JA,Goodwin TM. Clinical risk factors for placenta previa-placenta
accreta. Am. J.Obstetr. Gynecol. 1997.pp 210-214.
20.Hendricks MS, Chow YH, Bhagavath B, Singh K. Previous cesarean section and
abortion as risk factors for developing placenta previa. J Obstet Gynaecol Res. 1999;
25: 137-42.
21.Taylor VM, Kramer MD, Vaughan TL, Peacock S. Placenta previa in relation to
induced and spontaneous abortion: a population-based study. Obstet Gynecol. 1993;
82: 88-91.
22.Prakosa T. Hubungan Tindakan Kuretase pada Abortus dengan Plasenta Previa.
Tesis/Karya Ilmiah Akhir Program Pendidikan Dokter Spesialis I Bidang Studi Obstetri
dan Ginekologi. Bagian/SMF Obstetri Ginekologi FK Sebelas Maret Surakarta. Disam-
paikan pada KOGI XII POGI, Yogyakarta: Juli, 2003.
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
· Risiko plasenta previa pada wanita dengan umur
35 tahun 2 kali lebih besar dibandingkan dengan umur
< 35 tahun namun secara statistik tidak bermakna (p
> 0,05).
· Risiko plasenta previa pada multigravida 1,3 kali
lebih besar dibandingkan primigravida namun secara
statistik tidak bermakna (p > 0,05).
· Risiko plasenta previa pada wanita dengan riwayat
abortus 4 kali lebih besar dibandingkan dengan tanpa
riwayat abortus dan secara statistik bermakna (p <
0,05).
· Riwayat seksio sesaria tidak ditemukan sebagai
faktor risiko terjadinya plasenta previa
Saran
· Ibu hamil dengan riwayat abortus, umur 35 tahun
dan multipara perlu memeriksakan kehamilannya
lebih intensif karena risiko plasenta previa; dan untuk
pengenalan lebih dini sebaiknya dilakukan pemeriksaan
USG pada umur kehamilan di atas 28 minggu pada ibu
hamil dengan faktor-faktor risiko tersebut.
KEPUSTAKAAN
1.Saifuddin AB, Danakusuma M, Widjajakusumah MD, Bramantyo L, Wishnuwardhani
SD. Modul "Safe Motherhood" dalam Kurikulum Inti Pendidikan Dokter di Indonesia.
Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Konsorsium Ilmu Kesehatan, De-
partemen Kesehatan, dan WHO, 1997. hal 1-24.
2.Wahdi, Suhartono A, Praptohardjo U. Kematian maternal di RSUP dr. Kariadi,
Semarang tahun 1996-1998. Bagian/SMF Obstetri Ginekologi FK UNDIP-RSUP Dr.
Kariadi Semarang. Disampaikan pada PIT XI POGI, Semarang: Juli, 1999.
3.Pribakti.
4.Chalik TMA. Plasenta Previa. Dalam: Hemoragi Utama Obstetri dan Ginekologi. Ed.1.
Jakarta: Widya Medika, 1997. hal 129-143.
Faktor Risiko Plasenta Previa