background image
Tumbuhan Narkotik : Wati
HASIL PENELITIAN
Komponen Tumbuhan Narkotik :
Wati (Piper methysticum)
Andria Agusta, Yuliasri Jamal
Laboratorium Treub, Balai Penelitian dan Pengembangan Botani
Pusat Penelitian dan Pengembangan Biologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Bogor
ABSTRAK
Wati (P. methysticum) telah dikenal sejak lama sebagai salah satu tumbuhan
narkotik. Dari analisis GCMS ekstrak batang wati terdeteksi sebanyak 61 komponen
kimia yang terdiri dari alkana, hidrokarbon beroksigen, asam lemak, steroida dan
alkaloida dengan 10 komponen utama yaitu 4,11,11-trimetil-8-metilen bisiklo-7,2,0-
unek-4-ena; 1-(2-metoksibenzoil)-2-(metoksi-metil)pirolidina; p-undesil anisol; dihidro-
metistisin; yangonin; 2,3-dihidro-3,5-dihidroksi-6-metil-4H-piran-4-on; asam levulinat
dan senyawa narkotik dihidrokawain serta dua senyawa yang tidak bisa diidentifikasi.
Limapuluh enam komponen minor lainnya akan didiskusikan.
Kata kunci : Tumbuhan narkotik; Piperaceae; P. methysticum; komponen kimia;
dihidrokawain; dihidrometistisin.
Key words : Narcotic plant; Piperaceae; P. methysticum; constituents; dihydro
kawain; dihydromethystisin
PENDAHULUAN
Wati atau Piper methysticum Forst. f. (Piperaceae) secara
empiris telah digunakan sejak lama sebagai tumbuhan yang
memabukkan atau bersifat narkotik. Efek narkotik ini disebab-
kan oleh beberapa senyawa yang terkandung pada akar
tumbuhan ini. Senyawa tersebut adalah kawain, dihidrokawain
(marindinin) dan senyawa metistisin serta dihidrometistisin
yang bersifat sedatif. Di samping keempat senyawa tersebut
akar tumbuhan ini juga mengandung yangonin.
(1,2)
Seperti juga akarnya, daun tumbuhan ini juga mengandung
kawain dan metistisin, di samping senyawa-senyawa lainnya
yaitu isokariofilena; sitosterol; stigmasterol; ergost-5-enol;
vitamin E; 2'-hidroksi-4,4',6-trimetoksi calkon; 5-(asetoksi)-
5,6-dihidro-1-(1-okso-3-fenilpropil)-2(1H)-piperidinon; asam
5-benziloksipirimidin-2-karboksilat; alternariol; 5-metil-N-
metilhistamina dan 4-piperidina karboksamida.
(3)
Pada tulisan ini akan dibahas komponen kimia yang
terkandung di bagian batang wati yang dianalisis dengan
teknik gabungan kromatografi gas dan spektrometri massa
(GCMS).
BAHAN DAN CARA KERJA
Bahan
Bahan penelitian berupa batang Wati (Piper methysticum
Cermin Dunia Kedokteran No. 157, 2007 211
background image
Tumbuhan Narkotik : Wati
Forst) hasil pengembangbiakan di kebun percobaan
laboratorium Treub, Puslitbang Biologi LIPI. Wati yang
dikembangbiakkan tersebut berasal dari desa Soa, Merauke,
Irian Jaya yang dikoleksi pada Desember 1995. Identifikasi
jenisnya dilakukan di Herbarium Bogoriense, Bogor.
Ekstraksi
Batang Wati yang sudah dikeringkan di bawah sinar
matahari selama dua hari, kemudian digiling halus. Serbuk
kering batang wati seberat 12 g diekstraksi secara ekstraksi
kontinu menggunakan berturut-turut pelarut heksana,
kloroform dan metanol. Masing-masing ekstrak yang diperoleh
kemudian diuapkan pelarutnya dengan rotary evaporator
sehingga diperoleh ekstrak kasar heksana sekitar 1,1 g., ekstrak
kloroform 1.45 g. dan ekstrak metanol 0.9 g. Selanjutnya
sebagian dari masing-masing ekstrak tersebut dilarutkan
kembali untuk dianalisis komponen kimianya dengan
menggunakan teknik gabungan kromatografi gas dan
spektrometri massa (GCMS).
Analisis GCMS
Masing-masing ekstrak yang telah diencerkan dianalisis
komponen kimianya menggunakan GCMS (Shimadzu Qp-
5000, Japan) dengan volume injeksi 0.1
µL dan kondisi alat
yang telah diprogram.
Untuk analisis ekstrak heksana digunakan kolom
Shimadzu CBP 1(p = 25 m, = 0.25 mm). Gas pembawa
adalah helium dengan kecepatan aliran 10 ml/menit dan
tekanan 80 kPa. Dalam analisis ekstrak heksana ini suhu kolom
diprogram dari 100
0
C sampai 300
0
C dengan 2 tahap kenaikan.
Pada tahap awal suhu kolom dibuat konstan 100
0
C selama 5
menit dan kemudian dinaikkan sampai suhu 200
0
C dengan
kecepatan kenaikan suhu 5
0
C/menit. Pada suhu 200
0
C ini suhu
dipertahankan selama 1 menit dan selanjutnya dinaikkan
menjadi 300
0
C dengan kecepatan 10
0
C/menit. Kondisi pada
suhu 300
0
C ini dipertahankan selama 14 menit. Suhu injektor
diprogram konstan pada suhu 280
0
C, sedangkan suhu detektor
(quadrupol) diprogram konstan pada 270
0
C dengan energi 1.25
kV.
Untuk analisis ekstrak kloroform digunakan kolom kapiler
Shimadzu CBP 5 (p = 20 m, = 0.25 mm) dengan suhu awal
kolom 100
0
C yang dibuat konstan selama 5 menit. Kemudian
suhu dinaikkan sampai 300
0
C dengan kecepatan kenaikan
10
0
C/menit. Pada suhu 300
0
C ini suhu dibuat konstan selama
15 menit
Sedangkan untuk analisis ekstrak metanol digunakan
kolom kapiler Shimadzu CBP 20 (p = 50 m, = 0.22 mm).
Suhu kolom diprogram dari 100
0
C (5 menit) sampai 250
0
C
(10 menit) dengan kecepatan kenaikan suhu 10
0
C/menit.
Spektrum massa masing-masing komponen daun Wati
yang diperoleh selanjutnya diidentifikasi dengan cara
membandingkannya dengan bank data NIST library yang
memuat 62.345 spektrum massa senyawa yang telah
diketahui.
HASIL DAN DISKUSI
Ekstrak Heksana
Analisis kromatgrafi gas ekstrak heksana daun Wati
mendeteksi sebanyak 26 komponen kimia; hanya 23
komponen yang bisa diidentifikasi dengan data NIST library.
Ke-23 senyawa tersebut terdiri dari 9 senyawa hidrokarbon
alifatik rantai panjang (
-farnesena; 2,6,10,14-tetrametil
heptadekana; 7,11,15-trimetil-3-metilen heksadeka-
1,6,10,14-tetraena; heksatriakontana; pentatrikontana;
triakontana; nonakosana, 2,6,10,15-tetrametil heptadekana), 6
senyawa seskiterpena (4,11,11-trimetil-8-metilen bisiklo-
7,2,0-undek-4-ena;
-kariofilena; -bisabolena; trans-
nerolidol; kariofilen oksida; d-kadinol), 1 asam lemak (asam
palmitat), 2 senyawa aldehida (stearaldehida, 13-
tetradekanal), 1 senyawa hidro-karbon aromatik (p-undesil
anisol), 1 senyawa alkaloida (5(asetoksi) - 5,6-dihidro - 1 -
(1-okso-3-fenilpropil-2(1H) -piperidinon), 2 senyawa dari
golongan steroida (
-5-ergostenol, -sitosterol) dan 1 jenis
vitamin yaitu vitamin E.
Pada ekstrak heksana ini hanya terdapat dua komponen
utama yaitu 4,11,11-trimetil-8-metilen bisiklo-7,2,0-undek-4-
ena dan senyawa yang tidak bisa diidentifikasi dengan data
base NIST library. Senyawa tersebut memiliki karakteristik
spektrum massa sebagai berikut :
Senyawa 1. Base peak senyawa ini terjadi pada m/z 127.
Fragmentasi yang dominan terjadi pada m/z (rel Int.) 43
(25.9), 51 (14.8), 53 (10.2), 54 (15.0), 55 (26.9), 59 (11.5),
65 (21.7), 67 (51.8), 68 (42.0), 69 (30.7), 71 (18.1), 77
(18.2), 78 (11.7), 79 (14.9), 81 (19.9), 82 (14.1), 91(66.5), 92
(20.3), 95 (25.5), 99 (20.4), 104 (13.9), 105 (15.0), 117
(43.7), 128 (13.9), 140 (21.2), 155 (16.3), 173 (11.2), 200
(24.9) dan 204 (10.3). Senyawa ini merupakan komponen
kedua terbanyak pada ekstrak heksana setelah 4,11,-trimetil-
8-metilen bisiklo-7,2,0-undek-4-ena (seskuiterpena) dan
memiliki ion molekul pada m/z 232 (18.8). Fenomena ini
mengindikasikan bahwa senyawa ini memiliki berat molekul
(BM) 232. Senyawa ini diperkirakan adalah dihidrokawain
yang bersifat narkotik karena jika dibandingkan dengan berat
molekul senyawa kawain (BM 230), hanya terdapat
Cermin Dunia Kedokteran No. 157, 2007
212
background image
Tumbuhan Narkotik : Wati
kelebihan dua atom hidrogen. Hal ini terjadi karena hilangnya
ikatan rangkap C
7
pada senyawa kawain sehingga berat
molekulnya bertambah seberat 2 atom hidrogen. Fenomena ini
dapat dibuktikan dengan melihat pola fragmentasi yang paling
dominan terjadi pada m/z 68, 91, 117, 127, 141, 200 dan 232
seperti terlihat pada Gambar 1.
O
O
O
CH
2
+
M+, m/z = 232
O
O
+
+
+
m/z = 91
m/z = 200
m/z = 127
m/z = 117
+
m/z = 140
CH
2
O
O
O
+
O
O
O
7
Gambar 1. Fragmen senyawa 1 (dihidrokawain)
Dua senyawa lainnya yang tidak bisa diidentifikasi pada
ekstrak ini memiliki karakteristik spektrum massa sebagai
berikut : Senyawa 2. Fragmentasi senyawa ini yang dominan
terjadi pada m/z (Rel. Int.) 41 (20.4), 43 (81.7), 51 (10.1), 71
(56.2), 85 (26.9), 99 (9.4), 113 (8.2), 154 (13.3), 155 (10.0),
168 (13.8), 169 (11.1) dengan base peak pada m/z 57. Melihat
karakteristik spektrum massanya, senyawa ini diperkirakan
adalah golongan hidrokarbon alifatik rantai panjang, karena
fragmentasi molekulnya lebih mirip dengan senyawa-senyawa
dari golongan tersebut.
Senyawa 3. Fragmentasi yang dominan dari senyawa ini
terjadi pada m/z (Rel. Int.) 41 (20), 43 (80), 55 (23), 56 (13),
69 (15), 71 (58), 83 (12), 85 (36), 97 (10), 99 (11) dengan base
peak pada m/z 53. Pola fragmentasi yang ditampilkan oleh
senyawa ini tidak jauh berbeda dengan pola fragmentasi dari
senyawa 2. Berdasarkan hal tersebut maka diperkirakan bahwa
senyawa 3 ini segolongan dengan senyawa 2.
Ekstrak Kloroform
Hasil analisis kromatografi gas ekstrak kloroform batang
Wati ini menunjukkan adanya 21 komponen kimia dengan 7
komponen utama. Ketujuh komponen utama tersebut masing-
masing adalah 1-(2-metoksibenzoil)-2-(metoksimetil)
pirolidina, p-undesil anisol, yangonin dan 4 senyawa yang
tidak bisa diidentifikasi dengan data base. Sedangkan
komponen minor pada ekstrak ini terdiri dari 1 senyawa
hidrokarbon beroksigen (1,2-dimetoksi-1-feniletana), 1
senyawa turunan monoterpena (7-metoksi-7-(p-
metoksifenil)-2-norbonena), 3 senyawa turunan fenol (1(2-
hidroksi-4,6-dimetoksifenil)-3-(4-hidroksifenil)-2-propen-1-
on; 2',4'-dihi-droksi-5'-metoksi calkon; 2'-Hidroksi-4,4',6-
trimetoksi calkon), 2 senyawa alkaloida (; asam 5-benziloksi
pirimidin-2-karboksilat; 5-(asetiloksi)-5,6-dihidro-1-(1-okso-
3-fenil-propoksi)-2(1H)-piridinon) serta dua senyawa lakton
yaitu kawain dan metistisin.
Masih terdeteksinya senyawa p-undesil anisol pada
ekstrak kloroform dan ekstrak heksana disebabkan karena
senyawa ini adalah senyawa semipolar yang bersifat sedikit
larut pada pelarut heksana dan larut baik pada pelarut
kloroform, sehingga senyawa ini akan terdistribusi pada
kedua pelarut tersebut dengan kandungan lebih tinggi pada
pelarut kloroform.
Senyawa turunan fenol yaitu 2'-hidroksi-4,4',6-
trimetoksi calkon memiliki aktifitas biologi untuk terapi
penyakit kolera di samping bersifat diuretik (Windholz et al.
(1996). Senyawa kawain merupakan senyawa narkotik pada
tumbuhan ini dan senyawa metistisin merupakan senyawa
sedatif. Akan tetapi dilihat dari pola kromatogram hasil
analisis dengan GCMS terlihat bahwa kedua senyawa ini
hanya merupakan komponen minor.
Jika dibandingkan dengan ekstrak heksana, pada ekstrak
kloroform ini jumlah komponen yang tidak bisa diidentifikasi
dengan data NIST library (data base) jauh lebih banyak yaitu
10 komponen. Masing-masingnya memiliki karakteristik
spektrum massa sebagai berikut:
Senyawa 4. Senyawa ini memiliki fragmentasi yang
dominan pada m/z (Rel. Int.) 43 (31.2), 45 (7.5), 51 (9.1), 53
(7.2), 65 (27.5), 67 (18.8), 92 (7.4), 97 (13.3), 116 (6.2), 141
(5.4), 173 (16.3) dengan base peak dan ion molekul masing-
masing pada m/z 91 dan 188 (17.8).
Senyawa 5. Fragmentasi yang dominan dari senyawa ini
terjadi pada m/z (Rel. Int.) 51 (20.3), 56 (11.9), 59 (12.0), 65
(24.5), 77 (15.2), 95 (10.3), 115 (22.1), 128 (19.0), 129
(17.6), 141 (26.4), 155 (12.1), 173 (67.9), 186 (10.0) dengan
base peak pada m/z 91. Sedangkan ion molekulnya sama
dengan ion molekul senyawa 4 yaitu pada m/z 188 (96.3).
Fenomena ini menyatakan bahwa kedua senyawa ini (4, 5)
Cermin Dunia Kedokteran No. 157, 2007 213
background image
Tumbuhan Narkotik : Wati
memiliki berat molekul yang sama yaitu 188. Di samping itu
pola fragmentasi kedua senyawa ini juga tidak terlalu jauh
berbeda. Mungkin sekali dua senyawa ini merupakan isomer ;
dengan kata lain kedua senyawa ini hanya berbeda pada
formasi struktur ruangnya saja.
Senyawa 6. Sama dengan senyawa 4 dan 5, senyawa ini
juga memiliki base peak pada m/z 188 yang sekaligus sebagai
ion molekulnya. Berdasarkan pola fragmentasinya, senyawa ini
diperkirakan masih merupakan isomer senyawa 4 dan 5 dengan
fragmentasi molekul yang dominan pada m/z 50 (11.1), 51
(25.7), 53 (15.8), 59 (20.2), 63 (10.1), 65 (22.42), 77 (22.8), 79
(11), 91 (56.3), 115(29.2), 128 (24.9), 129 (26.5), 141 (37.2),
155 (12.8), 156 (10.1) 157 (15.5), 173 (56.0).
Senyawa 7. Ion molekul senyawa ini muncul pada m/z 218
yang juga merupakan base peak. Fragmentasi molekul
dominan lainnya terjadi pada m/z (Rel. Int.) 53 (10), 59 (11.8),
78 (11.1), 78 (10.1), 91 (16.52), 115 (16.8), 121 (77.0), 128
(13.4), 144 (14.1), 145 (25.4), 146 (910.7), 171 (27.2), 186
(10.3), 187 (30.7), 203 (59.5).
Senyawa 8. Fragmentasi senyawa ini terjadi pada m/z (Rel.
Int) 51 (23.9), 53 (16,0), 55 (15.1), 59 (15.9), 63 (11.9), 65
(17.2), 77 (36.4), 78 (14.0), 79 (14.9), 91 (23.0), 115 (22.3),
121 (77.3), 128 (13.6), 135 (48.4), 144 (14.5), 145 (27.5), 146
(11.7), 159 (17.5), 161 (15.4), 171 (26.8), 172 (11.6), 173
(10.8), 186 (11.8), 187 (32.6), 203 (59.7), 219 (15.5) dengan
base peak pada m/z 218 dan ion molekul pada m/z 232. Pola
fragmentasi senyawa 8 ini tidak berbeda jauh dengan senyawa
7. Hanya terdapat kelebihan berat molekul 14 (CH
2
) dari
senyawa 7 (BM 218). Berdasarkan hal tersebut diduga senyawa
8 ini memiliki struktur inti yang sama dengan senyawa 7 ,
hanya berbeda pada formasi gugus samping.
Senyawa 9 dan senyawa 10. Kedua senyawa ini
merupakan 2 di antara 7 komponen utama ekstrak kloroform
batang Wati. Analisis spektromerti massa memperlihatkan
bahwa kedua senyawa ini memiliki karakteristik spektrum
massa yang identik satu sama lain dengan berat molekul sama
(232). Akan tetapi kromatogram hasil analisis kromatografi gas
jelas menunjukkan bahwa kedua senyawa ini memiliki waktu
retensi yang berbeda, yang mengisyaratkan bahwa kedua
senyawa ini juga berbeda. Berdasarkan fenomena ini sangat
mungkin dua senyawa ini memiliki struktur yang sama, hanya
berbeda pada formasi struktur ruangnya saja (isomer) yang
tidak bisa dibedakan hanya dengan melihat pola
fragmentasinya. Fragmentasi senyawa tersebut yaitu pada m/z
(Rel. Int.) 51 (24.3), 53 (13.5), 59 (15.4), 63 (13.8), 65 (11.4),
77 (27.9), 79 (12.1), 115 (35.0), 116 (10.5), 135 (57.5), 143
(13.9), 159 (35.5), 171 (11.2), 173 (27.0), 175 (13.7), 185
(32.0), 187 (16.5), 200 (11.6), 201 (24.4), 217 (64.8), 218
(10.0) dan base peak pada m/z 232.
Senyawa 11. Senyawa ini merupakan salah satu
komponen utama pada ekstrak kloroform. Pola fragmentasi
senyawa ini identik dengan pola fragmentasi senyawa 1
(dihidrokawain) yang muncul pada ekstrak heksana. Diduga
senyawa ini juga dihidrokawain yang memiliki sifat sedikit
larut dalam pelarut heksana dan larut baik dalam pelarut
kloroform di samping kandungannya yang besar dalam
sampel, sehingga senyawa ini akan terdistribusi ke dalam dua
jenis pelarut tersebut (heksana dan kloroform).
Senyawa 12. Senyawa ke-sembilan yang tidak bisa
diidentifikasi struktur kimianya pada ekstrak kloroform
batang Wati ini memiliki fragmentasi yang dominan pada
m/z (Rel. Int.) 50 (9.8), 51 (24.0), 53 (9.3), 59 (15.2), 63
(8.3), 69 (45.2), 77 (30.7), 102 (11.0), 103 (22.2), 115 (10.3),
125 (7.6), 127 (7.7), 128 (17.9), 129 (21.2), 131 (8.0), 157
(51.3), 158 (7.8), 185 (23.2), 199 (8.1), 200 (33.3), 211
(10.8), 229 (13.7) dengan base peak pada m/z 228. Ion
molekul senyawa ini muncul pada m/z 230 (2.6).
Senyawa 13. Senyawa terakhir yang tidak bisa
diidentifikasi pada ekstrak kloroform ini merupakan salah
satu komponen utama yang tidak bisa diidentifikasi
strukturnya dengan data base. Senyawa ini memiliki
fragmentasi yang dominan pada m/z (Rel. Int.) 51 (17.0), 65
(11.7), 67 (11.4), 69 (14.2), 77 (22.6), 91 (18.4), 127 (13.1),
131 (25.7), 136 (33.4), 140 (23.9), 147 (10.4) 161 (23.6), 167
(12.7) dengan base peak pada m/z 135. Sedangkan ion
molekulnya muncul pada m/z 276 (43.1). Jika dibandingkan
dengan spektrum massa senyawa metistisin maka terlihat
bahwa ion molekul senyawa ini hanya memiliki selisih dua
atom hidrogen dan sama-sama memiliki base peak pada m/z
135. Jadi diduga senyawa ini adalah senyawa metistisin yang
kehilangan ikatan tidak jenuhnya (ikatan rangkap) pada
posisi C
7
atau dihidrometistisin yaitu senyawa yang bersifat
sedatif (Perry)
(1)
. Dugaan ini dapat dibuktikan dengan melihat
hasil fragmentasi senyawa ini (Gambar 2).
Ekstrak Metanol
Hasil analisis kromatografi gas ekstrak metanol batang
Wati terlihat lebih sederhana dibanding dua ekstrak di atas
(heksana, kloroform). Pada ekstrak metanol ini hanya
terdeteksi 14 komponen kimia. Identifikasi dengan data NIST
library memperlihatkan bahwa komponen kimia pada ekstrak
metanol ini berbeda sama sekali baik dengan komponen
ekstrak heksana maupun komponen ekstrak kloroform tapi
tidak berbeda dengan komponen ekstrak metanol daun
Cermin Dunia Kedokteran No. 157, 2007
214
background image
Tumbuhan Narkotik : Wati
Wati
(3)
.
O
O
O
O
O
+
M+, m/z = 276
+
m/z = 127
O
O
m/z = 161
+
m/z = 140
CH
2
O
O
O
+
O
O
O
m/z = 135
+
CH
2
O
O
O
O
H
2
C
+
m/z = 148
Gambar 2. Fragmen senyawa 13 (dihidrometistisin)
Pada ekstrak metanol batang Wati ini hanya terdapat 2
komponen utama yaitu 2,3-dihidro-3,5-dihidroksi-6-metil-4H-
piran-4-on dan asam levulinat. Sedangkan komponen lainnya
terdiri dari 4 senyawa alkohol (glisidol, 2-(Eteniloksi)-etanol,
furfuril alkohol, hidroksimetilfurfurol), 1 senyawa asam
karboksilat (asam asetat), 2 senyawa alkaloida (5-metil-N-
metilhistamin, 4-piperidina karboksamida), 2 senyawa
hidrokarbon beroksigen (4-siklopentena-1,3-dion;; 5-hidroksi-
2-(hidroksimetil)-4H-piran-4-on), 1 senyawa hidrazona
(isobutiraldehida n-propylhidrazona) di samping dua senyawa
yang tidak teridentifikasi.
Dua senyawa yang tidak bisa diidentifikasi tersebut
masing-masing memiliki karakteristik spektrum massa sebagai
berikut:
Puncak 14. Fragmentasi dominan senyawa pada puncak 14
ini terjadi pada m/z (Rel. Int.) 42 (12.1), 44 (14.0), 45 (16.7),
55 (36.4), 73 (40.2), 74 (4.7), 85 (4.1), 95 (16.9), 101 (43.6),
110 (6.6) dengan ion molekul pada m/z 126 (1.9) dan ion
molekul pada m/z 43.
Puncak 15. Senyawa ini memiliki ion molekul 128 (23.9)
dengan base peak pada m/z 43. Sedangkan fragmentasi yang
dominan terjadi pada m/z (Rel. Int.) 42 (11.9), 44 (53.1), 45
(54.4), 55 (15.9), 56 (8.3), 57 (41.9), 58 (9.7), 73 (8.59), 85
(11.6).
Hubungan Struktur dengan Aktivitas
Komponen kimia yang bersifat narkotik (kawain,
dihidrokawain) dan sedatif (metistisin, dihidrometistisin)
pada batang Wati memiliki struktur dasar yang sama, begitu
juga dengan senyawa yangonin (Gb. 3). Reaktivitas senyawa
dihidrometistisin lebih lambat dibanding senyawa metistisin,
tetapi akan memberikan pengaruh yang jauh lebih lama
(1)
.
Jika dilihat dari struktur kedua senyawa tersebut, terlihat
bahwa efek tersebut hanya dipengaruhi oleh hilangnya ikatan
rangkap pada posisi C
7
senyawa metistisin (menjadi
dihidrometistisin). Hal yang sama jelas terjadi juga pada
senyawa kawain dengan dihidrokawain sehingga reaktifitas
senyawa dihidrokawain relatif lebih lambat dari kawain akan
tetapi pengaruhnya lebih lama.
Lain halnya jika dilihat dari perbedaan struktur
senyawa kawain dan metistisin. Jelas terlihat bahwa
penambahan gugus metilendioksi pada cincin fenil
senyawa kawain yang membentuk senyawa metistisin
berakibat hilangnya sifat narkotik senyawa tersebut,
sehingga senyawa metistisin hanya memiliki sifat sedatif;
begitu juga halnya dengan senyawa dihidrokawain dan
dihidro-metistisin. Berdasarkan fenomena ini dapat
diramalkan bahwa senyawa yangonin yang merupakan 12-
metoksikawain memiliki sifat narkotik lemah atau berada
di antara sifat senyawa kawain dan metistisin. Dugaan ini
didasarkan pada kenyataan bahwa penambahan gugus
samping pada cincin fenil baik dari senyawa kawain
maupun dihidrokawain berakibat menurunnya sifat
narkotik senyawa tersebut.
KESIMPULAN
Batang wati juga mengandung senyawa yang bersifat
narkotik yaitu senyawa kawain, dihidrokawain dan
yangonin serta senyawa metistisin dan dihidrometistisin
yang bersifat sedatif seperti yang terdapat pada bagian daun
dan akarnya. Kandungan senyawa dihidrometistisin pada
bagian batang wati jauh lebih tinggi dibanding
kandungannya pada bagian daun sehingga efek narkotik
jauh lebih kuat pada penggunaan bagian batang dibanding
Batang Wati juga
mengandung senyawa yang
bersifat narkotik
Cermin Dunia Kedokteran No. 157, 2007 215
background image
Tumbuhan Narkotik : Wati
penggunaan daunnya.
Tabel. Komponen kimia batang Wati
Ekstrak
No.
Komponen
Heksana Kloroform Metanol
1 4,11,11-Trimetil-8-metilen
bisiklo-7,2,0-undek-4-ena
+
2
-kariofilen
+
3
-Bisabolena
+
4
-Farnesena
+
5
trans-Nerolindol +
6 Kariofilena
oksida
+
7 d-Kadinol
+
8 2,6,10,14-Tetrametil
heptadekana
+
9 Asam
eksadekanoat
+
10 Stearaldehida
+
11 13-Tetradekanal
+
12 7,11,15-Trimetil-3-metilen
heksadeka-1,6,10,14-tetraena
+
13 5(Asetoksi)-5,6-dihidro-1-(1-
okso-3-fenilpropil)-2(1H)-
piperidinon
+
14
o-Undesil anisol
+
+
15 Heksatriakontana
+
16 Pentatriakontana
+
17 10-Metil
eikosana
+
18 Triakontana
+
19 Nonakosana
+
20 2,6,10,15-Tetrametil
heptadekana
+
21 Vitamin
E
+
22
-5-Ergostenol
+
23
-Sitosterol
+
24 1,2-Dimetoksi-1-feniletana
25 1-(2-Metoksibenzoil)-2-
(metoksi-metil)pirolidina
+
26 7-Metoksi-7-(p-metoksifenil)-2-
norbonen
+
27 5-(Asetiloksi)-5,6-dihidro-1-(1-
okso-3-fenilpropoksi)-2(1H)-
piridinon
+
28 Kawain
+
29 Metistisin
+
30 Yangonin
+
31 2',4'-Dihidroksi-5'-metoksi
calkon
+
32 2'-Hidroksi-4,4',6-trimetoksi
calkon
+
33 1(2-Hidroksi-4,6-dimetoksi
fenil)-3-(4-hidroksifenil)-2-
Propen-1-one
+
34 Asam
5-benziloksipirimidin-2-
karboksilat
+
35 Glisidol
+
36 Asam
asetat
+
37 2-(Eteniloksi)-etanol
+
38 5-Metil-N-metilhistamin
+
39 4-Siklopentena-1,3-dion
+
40 Furfuril
alkohol
+
41 4-Piperidina
karboksamida
+
42 Propylhidrazona
isobutiraldehida
+
43 2,3-Dihidro-3,5-dihidroksi-6-
metil-4H-piran-4-on
+
44 Hidroksimetilfurfurol
+
45 5-Hidroksi-2-(hidroksimetil)-4H-
piran-4-on
+
46 Asam
levulinat
+
O
O
O
H
O
O
O
H
K aw ain
D ihidrok aw ain
O
O
O
O
O
H
O
O
O
O
O
H
O
O
O
O
H
M etis tis in
D ihidrom etis tis in
Y angonin
7
12
Gambar 3. Struktur senyawa narkotik dan sedatif pada batang Wati
KEPUSTAKAAN
1. Agusta A, Jamal Y, Chairul. Analisis Komponen Kimia Daun Wati
(Piper methysticum). Berita Biologi.1997, 4(2): In Press.
2. Perry LM, Metzger J. Medicinal Plants of East and Southeast Asia:
Attributed Properties and Uses, The MIT Press, Cambridge,
Massachusetts, London. 1980, hal 198.
3. Windholz M, Budavari S, Stroumtsos LY, Fertig MN. The Merck
Index. An Encyclopedia of Chemicals and Drugs, 12
th
ed, Rahway,
New York: Merck & Co., Inc.,. 1996, hal 334, 1221, 1297.
UCAPAN TERIMA KASIH
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Dr. B. Paul Naiola yang
telah membawa material penelitian dari Papua (Irian Jaya) dan
mengembang biakkannya di kebun percobaan Lab. Treub, Puslitbang
Biologi LIPI serta masukannya pada tulisan ini.
Cermin Dunia Kedokteran No. 157, 2007
216

Document Outline