background image
Hipertensi dan Komplikasi Serebrovaskular
TINJAUAN PUSTAKA
Hipertensi dan Komplikasi
Serebrovaskular
Edi Sugiyanto
Peserta didik Program Pendidikan Spesialis Ilmu Penyakit Dalam
Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro / RS Dr Kariadi Semarang
PENDAHULUAN
Hipertensi merupakan kelainan kardiovaskular yang
masih banyak dijumpai dalam masyarakat. Prevalensi
hipertensi dalam masyarakat Indonesia cukup tinggi meskipun
tidak setinggi di negara-negara yang sudah maju yaitu sekitar
10%. Penanganan penderita hipertensi di Indonesia masih
belum baik dan drop out terapi masih cukup tinggi, sehingga
tidak mengherankan bila komplikasi hipertensi masih sering
dijumpai dalam praktek sehari-hari
(1)
. Komplikasi hipertensi
dapat mengenai target organ jantung, otak (serebrovaskular),
mata dan ginjal. Komplikasi hipertensi pada otak dapat
berupa ensefalopati hipertensi, hipertensi maligna, stroke
hemoragik dan stroke non hemoragik (iskemik)
(1,2)
.
Penanganan penderita hipertensi dengan komplikasi otak
dibedakan menjadi 2 kelompok yaitu keadaan bukan krisis
hipertensi yang terjadi pada stroke non hemoragik, dan
keadaan krisis hipertensi yang didapatkan pada ensefalopati
hipertensi, stroke hemoragik dan hipertensi maligna
(1,3)
.
HIPERTENSI
Definisi
The Sixth Joint National Committee on Prevention,
Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure
(1997) mendefinisikan hipertensi sebagai tekanan darah
sistolik 140 mgHg atau lebih atau tekanan darah diastolik 90
mmHg atau lebih atau sedang dalam pengobatan anti
hipertensi
(4)
.
Klasifikasi
JNC VI membuat klasifikasi hipertensi sbb:
Tabel 1. Klasifikasi tekanan darah tinggi pada orang dewasa 18 tahun
ke atas (JNC VI).
Category
Systolic (mmHg)
Diastolic ( mmHg)
Optimal
< 120
dan
< 80
Normal <130
dan
<
85
Normal
Tinggi
130 ­139
atau
85 ­ 89
Hipertensi
Derajat 1
140 ­ 159
atau
90 ­ 99
Derajat 2
160 ­ 179
atau
100 ­ 109
Derajat 3
180
atau
110
Hipertensi sistolik terisolasi didefinisikan sebagai tekanan
sistolik 140 mmHg atau lebih dan tekanan diastolik di bawah
90 mmHg
(4)
.
Sedangkan JNC VII mengklasifikasikan hipertensi pada
orang berusia 18 tahun ke atas sebagai berikut (tabel 2)
(5)
.
Tabel 2. Klasifikasi tekanan darah tinggi pada orang dewasa 18 tahun
ke atas (JNC VII).
BP Classification
Systolic BP
(mmHg )
Diastolic BP
(mmHg)
Normal
120
and
< 80
Prehypertension
120 ­139
or
80 ­89
Stage 1 hypertension
140 ­159
or
90 ­99
Stage 2 hypertension
160
or
100
PATOGENESIS HIPERTENSI
Tekanan darah dipengaruhi oleh curah jantung dan
tahanan perifer. Berbagai faktor yang mempengaruhi curah
jantung dan tahanan perifer akan mempengaruhi tekanan darah
(gb. 1).
Tekanan darah membutuhkan aliran darah melalui
pembuluh darah yang ditentukan oleh kekuatan pompa jatung
(cardiac output) dan tahanan perifer (peripheral resistance).
Cermin Dunia Kedokteran No. 157, 2007 173
background image
Hipertensi dan Komplikasi Serebrovaskular
Sedangkan cardiac output dan tahanan perifer
dipengaruhi oleh faktor-faktor yang saling berinteraksi
(asupan natrium, stres, obesitas, genetik dan lain-lain).
Hipertensi terjadi jika terdapat abnormalitas faktor-faktor
tersebut
(2)
.
Gambar 1. Beberapa faktor yang terlibat pada kontrol tekanan darah
(2)
.
Awalnya kombinasi faktor herediter dan faktor
lingkungan menyebabkan perubahan homeostasis
kardiovaskular (prehypertension), namun belum cukup
meningkatkan tekanan darah sampai tingkat abnormal;
walaupun demikian cukup untuk memulai kaskade yang
beberapa tahun kemudian menyebabkan tekanan darah
biasanya meningkat (early hypertension). Sebagian orang
dengan perubahan gaya (pola) hidup dapat menghentikan
kaskade (proses) tersebut dan kembali ke normotensi.
Sebagian lainnya akhirnya berubah menjadi established
hypertension (hipertensi menetap), yang jika berlangsung
lama dapat menyebabkan komplikasi pada target organ
(2)
.
HIPERTENSI DAN KOMPLIKASI SEREBROVAS-
KULAR
Hipertensi yang tidak diobati dengan baik akhirnya
menyebabkan komplikasi pada target organ yaitu jantung,
mata, ginjal dan otak (serebrovaskular).
Komplikasi hipertensi pada otak dapat bersifat akut atau
kronik. Komplikasi hipertensi pada otak yang sifatnya akut
biasanya karena kenaikan tekanan darah yang cepat dan
mendadak seperti pada ensefalopati hipertensi. Sedangkan
komplikasi yang bersifat kronik berupa kelainan-kelainan
pembuluh darah otak berupa:
1. Nodular
atherosklerosis
(atheroma)
2. Charcot-Bouchard
aneurysm
3. Fibrinoid
necrosis
Ad.1. Nodular atherosklerosis (atheroma)
Hipertensi merupakan salah satu faktor risiko terpenting
untuk terjadinya atheroma di pembuluh darah otak. Faktor
risiko lainnya adalah: diabetes melitus, merokok,
hiperkolesterolemia. Mekanisme terjadinya atheroma dapat
dilihat pada gambar 6. Atheroma dapat menyebabkan
komplikasi stroke nonhemoragik
(1)
.
Ad. 2. Charcot-Bouchard aneurysm
Hipertensi dianggap sebagai satu-satunya faktor utama
untuk terjadinya aneurisma ini. Tekanan darah yang terus
menerus tinggi dan sudah disertai komplikasi aneurisma
Charcot-Bouchard dapat mengakibatkan komplikasi stroke
hemoragik
(1)
.
Ad. 3. Fibrinoid necrosis
Komplikasi lain hipertensi pada pembuluh darah otak
adalah terjadinya fibrinoid necrosis; mekanisme terjadinya
dapat dilihat pada gb. 5. Kelainan pembuluh darah ini akan
bermanifestasi klinis sebagai hipertensi maligna
(1)
.
Heredity - environment
Prehypertension (0 ­ 30 th)
Berdasarkan perubahan pembuluh darah otak akibat
hipertensi, maka komplikasi serebrovaskuler hipertensi dapat
berupa :
(1,6)
Early hypertension (20 ­ 40 th)
1. Ensefalopati hipertensi
Established hypertension (30 ­ 50 th)
2. Hipertensi maligna
Uncomplicated
Complicated
Gambar 2. Riwayat alamiah hipertensi primer yang tidak diterapi
Accelerated
Malignant
Course
Cardiac
hypertrophy
failure infarction
Large vessel
aneurysm
dissection
Cerebral
ischemia
thrombosis
hemorrhages
Renal
nephrosclerosis
failure
Cermin Dunia Kedokteran No. 157, 2007
174
background image
Hipertensi dan Komplikasi Serebrovaskular
3. Stroke hemoragik
Blood pressure
4. Stroke non hemoragik
ENSEFALOPATI HIPERTENSI
Intense reflex cerebral vasoconstriction
(Exaggerated autoregulation)
Hypertensive encephalopathy (HE) atau ensefalopati
hipertensi adalah sindrom klinik akut reversibel yang
dipresipitasi oleh kenaikan tekanan darah tiba-tiba sehingga
melampaui batas otoregulasi otak. HE dapat terjadi pada
normotensi yang tekanan darahnya mendadak naik menjadi
160/100 mmHg. Sebaliknya mungkin belum terjadi pada
penderita hipertensi kronik meskipun tekanan arteri rata-rata
mencapai 200 atau 225 mmHg
(1)
.
Cerebral blood flow
Focal cerebral ischemia
- Transient focal deficits
- Focal seizure
Vessel wall
ischemia
Global cerebral
ischemia
Selain akibat kegagalan atau keterlambatan pengobatan
penderita hipertensi, HE juga dapat terjadi akibat penyakit
tertentu (tabel 3).
Tabel 3. Etiologi hipertensi ensefalopati
(6)
.
Arteriolar and capillary
damage
Malignant hypertension of any cause
Acute glomerulonephritis
Eclampsia
Renovascular hypertension
Post coronary artery bypass hypertension
Abrupt withdrawal of antihypertensive therapy
Monoamine oxidase inhibitor-tyramine interaction
Pheochromocytoma
Phencyclidine poisoning
Phenylpropanolamine overdose
Acute renal artery occlusion
Transplant renal artery stenosis or acute rejection
Acute or chronic spinal cord injuries
Localized cerebral edema
Petechial hemorrhages
Gambar 3. Teori overregulasi pada Hipertensi ensefalopati
(6)
.
Patofisiologi HE
Ada 2 teori yang dapat menerangkan hal tersebut yaitu:
1. Reaksi otoregulasi yang berlebihan (The overregulation
theory of hypertensive encephalopathy).
Kenaikan tekanan darah yang mendadak menimbulkan reaksi
vasospasme arteriol yang hebat disertai penurunan aliran
darah otak dan iskemi. Vasospasme dan iskemi akan
menyebabkan peningkatan permeabilitas kapiler, nekrosis
fibrinoid, dan perdarahan kapiler yang selanjutnya
mengakibatkan kegagalan sawar darah-otak sehingga dapat
timbul edema otak. (gambar 3)
(2,6)
.
2. Kegagalan otoregulasi (The breakthrough theory of
hypertensive encephalopathy).
Tekanan darah tinggi yang melampaui batas regulasi dan
mendadak menyebabkan kegagalan otoregulasi sehingga tidak
terjadi vasokonstriksi tetapi justru vasodilatasi. Vasodilatasi
awalnya terjadi secara segmental (sausage string pattern),
tetapi akhirnya menjadi difus. Permeabilitas segmen endotel
yang dilatasi terganggu sehingga menyebabkan ekstravasasi
komponen plasma yang akhirnya menimbulkan edema otak
(gambar 4)
(2,6).
Secara patologi anatomi di dalam otak akan dijumpai
adanya edema, perdarahan kecil-kecil sampai infark kecil dan
nekrosis fibrinoid arteriol
(2,6)
.
Gejala klinik berupa nyeri kepala hebat, mual, muntah,
rasa ngantuk dan keadaan bingung. Bila berlanjut dapat
terjadi kejang umum, mioklonus dan koma. Jarang
menyebabkan gangguan saraf fokal seperti hemiparesis,
afasia, kejang-kejang fokal atau kebutaan akibat kelainan
retina atau kortikal
(1,2,6)
.
Jika tekanan darah tidak segera diturunkan penderita
akan jatuh dalam koma dan meninggal dalam beberapa jam.
Sebaliknya dengan menurunkan tekanan darah secepatnya
secara dini prognosis umumnya baik dan tidak menimbulkan
gejala sisa. Nyeri kepala, bingung, mual, muntah akan cepat
menghilang dalam beberapa jam. Faal ginjal akan membaik
dalam beberapa hari. Sedangkan hilangnya papil edema akan
memerlukan waktu beberapa minggu
(1)
.
Pengobatan menggunakan obat antihipertensi parenteral
dengan obat pilihan diazoxide; dapat juga digunakan
nitroprusid, trimethaphan atau klonidin. Obat yang harus
dihindari pada HE adalah reserpin dan metildopa karena efek
sedatifnya dapat menyulitkan evaluasi klinik
(1,7)
.
Cermin Dunia Kedokteran No. 157, 2007 175
background image
Hipertensi dan Komplikasi Serebrovaskular
HIPERTENSI MALIGNA
Hipertensi maligna (HM) merupakan keadaan klinik
yang berhubungan dengan terjadinya necrotizing arteriolitis
(fibrinoid necrosis) akibat tekanan tinggi (biasanya > 200/130
mmHg).
Blood Pressure
Failure of auto regulation
Forced vasodilatation
Endothelial permeability
- hyperperfusion
-
capillary hydrostatic pressure
Cerebral Edema
Hypertensive Encephalopathy
(headache, nausea, vomiting, altered
mental status, convulsions)
Gambar 4. Teori Breakthrough pada Ensefalopati hipertensi
(6)
.
Fibrinoid necrosis terutama terjadi di otak dan ginjal
menyebabkan retinopati hebat (Keith-Wagener III atau IV),
nefrosklerosis maligna disertai keadaan klinik yang cepat
memburuk; dapat disertai dengan payah jantung kiri akut dan
ensefalopati. Kadang-kadang penderita HM ditemukan
pertama kali dengan gejala transient ischemic attack (TIA),
stroke atau payah jantung kiri akut
(1,2)
Mekanisme kerusakan pembuluh darah dan iskemi
jaringan pada hipertensi maligna dilukiskan pada gambar 5.
Hipertensi berat baik primer atau sekunder dalam jangka
lama akan menyebabkan penebalan dan remodeling dinding
pembuluh darah sebagai adaptasi terhadap stres mekanik oleh
tekanan darah yang tinggi. Bila tekanan darah terus tinggi
maka akhirnya menyebabkan vasodilatasi yang merusak
pembuluh darah.
Meningkatnya beberapa hormon lain (katekolamin,
vasopresin dan lain-lain) akibat deplesi volume secara
sinergis menyebabkan kerusakan pembuluh darah.
Fibrinogen dan beberapa protein plasma lain yang
mengalami ekstravasasi akan mengaktifkan sistim pembekuan
darah yang akan menyebabkan deposisi fibrin pada dinding
dan lumen pembuluh darah yang akhirnya menyebabkan
nekrosis fibrinoid. Denudasi endothel akan menyebabkan
trombosit melepaskan PADAGF. PADAGF akan menyebab-
kan proliferasi otot polos, yang selanjutnya mengakibatkan
deposisi mukopolisakarida yang akhirnya bersama-sama
dengan nekrosis fibrinoid menyebabkan penyempitan lumen
pembuluh darah. Penyempitan pembuluh darah akan
menyebabkan iskemia pada organ target
(2,6)
.
Gambaran klinis HM merupakan gabungan gejala dan
tanda yang bervariasi seperti pada tabel 4.
Pada pemeriksaan urine didapatkan eritrosit, leukosit,
protein dan bermacam-macam silinder. Di darah perifer
sering didapatkan schistocytosis dan burr cell. Kadar ureum
dan kreatinin darah dapat meningkat akibat terganggunya faal
ginjal
(2,6)
.
Prognosis tergantung tingkat gangguan faal jantung,
ginjal dan otak. Bila tidak diobati mortalitas dapat mencapai
90 % dalam 1 tahun. Woods dan Blythe (1967) meneliti
pengobatan yang baik pada 20 penderita HM; 50 % masih
hidup setelah 1 tahun, 35 %setelah 2 tahun, 20 % setelah 5
tahun dan setelah 7 tahun 10 % dari penderita masih hidup
(1)
Tabel 4. Gambaran klinik hipertensi maligna
(2)
Blood pressure
Usually > 140 mmHg diastolic
Funduscopy
Hemorrhages, exudates, papilledema
Neurologic signs
Headache, confusion, somnolence, stupor,
vision loss, local deficits, seizure, coma
Renal status
Oliguria, azotemia
GI status
Nausea, vomiting
Pengobatan HM tergantung keadaan kliniknya, tekanan
darah perlu segera diturunkan dalam beberapa jam atau dalam
beberapa hari. Untuk itu perlu obat anti hipertensi parenteral,
meskipun pada kasus-kasus tertentu cukup dengan pemberian
obat antihipertensi peroral. Obat-obat antihipertensi yang
dianjurkan: diazoxide, nitroprussid, trimetaphan dan
clonidin
(1,2)
.
GANGGUAN PEREDARAN DARAH OTAK
Tekanan darah yang sangat tinggi dapat mengakibatkan
terjadinya gangguan peredaran darah otak/stroke hemoragik ;
yang dapat dibedakan atas 2 jenis yaitu: perdarahan
subarachnoid dan perdarahan intraserebral
(3,8)
.
PERDARAHAN SUBARACHNOID (PSA)
Pada perdarahan subarachnoid, darah keluar dari dinding
pembuluh darah menuju ke permukaan otak dan tersebar
Cermin Dunia Kedokteran No. 157, 2007
176
background image
Hipertensi dan Komplikasi Serebrovaskular
dengan cepat melalui aliran cairan otak (LCS) ke dalam
ruangan di sekitar otak. Perdarahan seringkali berasal dari
rupturnya aneurisma di basal otak (pada sirkulasi Willisii).
Umumnya PSA timbul spontan, 10% disebabkan karena
tekanan darah yang naik dan terjadi saat aktivitas
(8)
.
Gejala PSA
(8,9)
1) Serangan mendadak dengan nyeri kepala hebat didahului
suatu perasaan ringan atau ada sesuatu yang meletus di
dalam kepala.
2) Kaku kuduk merupakan gejala spesifik yang timbul
beberapa saat kemudian.
3) Kesadaran dan fungsi motorik jarang terganggu
4) CSS berwarna merah yang menunjukkan perdarahan
dengan jumlah eritrosit lebih dari 1000 /mm
3
PERDARAHAN INTRASEREBRAL (PIS)
Istilah perdarahan intraserebral melukiskan perdarahan
yang langsung masuk ke substansi otak. Sekitar 70-90 %
kasus PIS disebabkan oleh hipertensi. Perdarahan akibat
pecahnya arteri perforata subkortikal yaitu : a. lentikulostriata
dan a. perforata thalamika (ciri anatomis khas untuk PIS
akibat hipertensi)
(8)
.
Patogenesis PIS adalah akibat rusakya struktur vaskuler
yang sudah lemah akibat aneurisma, yang disebabkan oleh
kenaikan tekanan darah, atau pecahnya pembuluh darah otak
akibat tekanan darah yang melebihi toleransi (Yatsu dkk.)
Tole dan Utterback mengatakan bahwa penyebab PIS adalah
pecahnya mikroaneurisma Charcot-Bouchard akibat kenaikan
tekanan darah
(1,3,8)
.
Gejala dan tanda klinis berkaitan dengan lokasi,
kecepatan perdarahan dan besarnya hematom. Serangan
selalu terjadi mendadak, saat aktif baik aktivitas fisik maupun
emosi, jarang saat istirahat. Gejala awal merupakan
manifestasi kenaikan tekanan darah seperti : nyeri kepala,
mual dan muntah, epistaksis, penurunan daya ingat.
Penurunan kesadaran sampai koma akibat kegagalan
otoregulasi atau kenaikan tekanan intrakranial akibat adanya
hematom. Hematom >3 cm dapat menyebabkan penurunan
kesadaran
(8,9)
.
Kejang didapatkan pada 7-11% kasus. Kaku kuduk dapat
dijumpai jika perdarahan mencapai ruang subarachnoid. Pada
umumnya penderita mengalami kelemahan/kelumpuhan
separuh badan kontralateral terhadap sisi lesi dengan refleks
Babinski positif. Defisit motorik ini berkembang dalam
beberapa menit sampai beberapa jam
(8)
.
Di sekitar tempat perdarahan biasanya terjadi reaksi
spasme pembuluh darah; penurunan tekanan darah dapat
menghilangkan spasme yang bahkan akan memperbanyak
perdarahan. Dalam hal ini sebaiknya tekanan darah
diturunkan hati-hati dengan selalu mengevaluasi keadaan
neurologiknya
(1,8)
.
Prognosis tergantung dari luas kerusakan
jaringan otak dan lokasi perdarahannya
(1)
. Pengobatan
sebaiknya menggunakan antihipertensi parenteral yang dapat
dititrasi efeknya seperti nitroprusid
(1,3)
.
STROKE NON HEMORAGIK (SNH)
Stroke Non Hemoragik (SNH) akibat hipertensi, terjadi
akibat proses tromboemboli sebagai komplikasi
arteriosklerosis nodular pembuluh darah otak. Hipertensi
hanya merupakan salah satu faktor risiko arteriosklerosis di
samping faktor risiko lain seperti hiperlipidemi dan diabetes
melitus. Hipertensi dapat meningkatkan risiko aterotrombosis
sampai 4 kali
(3,8)
. Menurut hipotesis response to injury, aliran
darah dapat menyebabkan denudasi /kerusakan sel endotel di
tempat tertentu. Adanya faktor-faktor sistemik lain seperti
dislipidemi, hipertensi, merokok, hiperglikemi dan lain-lain
akan menyebabkan kaskade terjadinya atherosklerosis.
Sekarang diketahui bahwa bukan denudasi endothel
melainkan disfungsi endotellah yang merupakan salah satu
manifestasi dini atherosklerosis. Disfungsi endotel yang
disebabkan oleh faktor-faktor risiko tradisional tersebut dapat
terjadi secara lokal, akut dengan perubahan kronik yang
menngkatkan permeabilitas plasma lipoprotein, pengurangan
bioavailabilitas NO, hiperadhesi lekosit, gangguan
keseimbangan zat vasoaktif, zat perangsang dan penghambat
pertumbuhan, zat pro dan antithrombotik. Hal ini merupakan
permulaan proses proliferatif di dinding arteri yang akan
berkembang menjadi plak atherosklerosis. (Gb. 6)
(2,10,11)
.
PENANGANAN PENDERITA HIPERTENSI DENGAN
KOMPLIKASI SEREBROVASKULER
Dapat dibedakan menjadi 2 macam yaitu:
a. Keadaan bukan krisis hipertensi pada stroke non-
hemoragik.
Pada keadaan tidak terjadi krisis hipertensi, pengendalian
tekanan darah pada prinsipnya sama seperti pada penderita
hipertensi biasa dengan mengingat beberapa hal yang khas;
adalah dengan modifikasi gaya hidup dan obat anti hipertensi
sesuai dengan komplikasi yang ada, dalam hal ini stroke;
maka pilihannya adalah diuretik dan ACE inhibitor
(1,5,12)
.
b. Keadaan krisis hipertensi pada ensefalopati hipertensi,
hipertensi maligna dan stroke hemoragik.
Dibedakan menjadi 2 keadaan berdasar pengelolaannya :
hipertensi emergensi yaitu keadaan hipertensi yang
memerlukan penurunan tekanan darah segera untuk
Cermin Dunia Kedokteran No. 157, 2007 177
background image
Hipertensi dan Komplikasi Serebrovaskular
mencegah kerusakan organ target dan hipertensi urgensi
yang memerlukan penurunan tekanan darah dalam beberapa
jam
(7,13)
.
Yang termasuk hipertensi emergensi adalah hipertensi
ensefalopati dan hipertensi maligna dengan komplikasi stroke
hemoragik. Sedang yang termasuk hipertensi urgensi adalah
hipertensi maligna
(13)
.
Gambar 6. Diagram efek hipertensi pada dinding arteri
(2)
Tujuan pengelolaan krisis hipertensi adalah menurunkan
tekanan darah secara cepat dan seaman mungkin untuk
menyelamatkan jiwa penderita. Akan tetapi tetap harus diingat
bahwa tekanan darah yang terlalu rendah akan menyebabkan
hipoperfusi otak maupun jantung. Untuk menghindari hal ini
sebaiknya tekanan darah diastolik tidak lebih rendah dari 100
mmHg atau penurunan mean arterial blood pressure (MAP)
tidak lebih dari 25% dalam waktu antara beberapa menit
sampai 6 jam. Diperlukan perawatan di rumah sakit karena
menggunakan obat anti hipertensi secara parenteral
(7,13)
.
Khusus untuk hipertensi dengan komplikasi stroke
hemoragik dipakai konsensus bahwa tekanan darah harus
diturunkan untuk menurunkan risiko pembesaran hematom
dan perdarahan ulang. Dianjurkan tekanan darah turun < 20%,
sedangkan JNC VI menganjurkan kontrol tekanan darah
160/100 mgHg
(14)
.
Termasuk dalam pengelolaan ini adalah anamnesis
riwayat hipertensi, penggunaan obat antihipertensi ataupun
obat-obat lain, gejala serebral, kardiovaskular dan gangguan
visus, pemeriksan fisik yang meliputi tekanan darah,
funduskopi, status neurologi, status kardiopulmoner, dan
status hidrasinya. Pemeriksaan laboratorium yang dianjurkan
adalah pemeriksaan kadar hematokrit dan pemeriksaan darah
hapus, urinalisis, pemeriksaan kimia darah yang meliputi
kadar kreatinin, glukosa dan elektrolit. Di samping itu juga
pemeriksaan foto thorax dan elektrokardiogram
(13)
.
Obat anti hipertensi parenteral digunakan pada keadaan
hipertensi emergensi (tabel 5) ; antara lain:
(2,7,13)
· Sodium Nitroprusid, vasodilator yang dianggap terbaik
untuk krisis hipertensi karena efeknya mudah
dikendalikan. Sebaiknya tidak digunakan pada penderita
hamil.
· Trimetafan etamsilat, suatu penyekat ganglion
;
digunakan terutama pada diseksi aneurisma aorta.
· Labetalol, terutama digunakan pada kegawatan
perioperatif, tirotoksikosis dan faeokromositoma.
· Nitrogliserin digunakan terutama pada sebelum, saat dan
sesudah operasi pintas koroner dan jantung.
· Hidralasin, sering digunakan pada kehamilan.
· Metildopa, sering digunakan pada kehamilan.
· Diazoksid, tidak mempengaruhi aliran darah otak.
· Enalaprilat, digunakan pada penyakit jantung kongestif
· Nikardipin dan nimodipin, digunakan pada perdarahan
subarakhnoid.
· Reserpin, jarang digunakan karena efek antihipertensinya
sukar diduga dan membutuhkan dosis besar.
Klonidin, meskipun tidak disebut sebagai obat untuk
krisis hipertensi, sering digunakan karena mudah didapat di
Indonesia. Obat ini dapat digunakan secara bolus intravena,
jika perlu dapat diulang sampai tiga kali pemberian. Selain itu
dapat juga digunakan secara infus drip dengan dosis 0,9-1,05
mg. dalam larutan dekstrosa. Pemberian intramuskulerpun
cukup efektif
(1,13)
.
Selain klonidin parenteral, obat antihipertensi lain yang
dapat digunakan adalah diltiazem intravena meskipun belum
banyak pengalaman penggunaannya. Cara ini dapat
menurunkan tekanan darah dalam 5-10 menit dan bermanfaat
untuk proteksi vaskuler otak, jantung dan ginjal
(13)
.
Jika pemberian parenteral tidak mungkin, dapat
digunakan preparat peroral yang juga telah terbukti
menurunkan tekanan darah secara cepat; yaitu: klonidin,
kaptopril, labetalol dan nifedipin dengan dosis sama seperti
yang digunakan pada hipertensi urgensi
(2,13)
.
Joint National Committee on Detection Evaluation and
Treatment of High Blood Pressure merekomendasikan empat
obat antihipertensi peroral untuk keadaan hipertensi urgensi
yaitu klonidin, nifedipin, kaptopril dan labetalol.
Klonidin dapat diberikan secara loading dose 0,1-0,2 mg dan
dapat ditambah tiap jam sampai total dosis 0,6 mg. Selain itu
Cermin Dunia Kedokteran No. 157, 2007
178
background image
Hipertensi dan Komplikasi Serebrovaskular
dapat juga diberikan klonidin dosis awal 0,3 mg., diikuti 0,1
mg/jam sampai 0,7 mg. Kaptopril dapat diberikan dengan
dosis 25-50 mg, efeknya akan terlihat setelah 30 menit,
optimal setelah 50-90 menit dan bertahan selama 6 jam
(4,13)
.
Tabel 5. Obat parenteral untuk hipertensi emergensi
(4)
PENGELOLAAN SETELAH KRISIS HIPERTENSI
Setelah penderita terbebas dari krisis, selanjutnya
dianjurkan mencari etiologi hipertensi. Umumnya hipertensi
berat adalah akibat hipertensi sekunder renovaskuler.
Selanjutnya penderita akan mendapat terapi hipertensi secara
teratur yang pada umumnya merupakan kombinasi beberapa
obat anti hipertensi
(13)
.
KEPUSTAKAAN
1.
Imam Parsudi A. Penyakit pembuluh darah otak dan hipertensi. Dalam
Imam Parsudi A. Kumpulan karya ilmiah. Bagian Ilmu Penyakit Dalam
Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro.
2. Kaplan NM. Kaplan's Clinical Hypertension. 8 th ed. Philadelphia:
Lippincott Williams & Wilkins, 2002. p. 137-168
3. Bolton CF, Young GB. Neurological complications of renal disease.
Boston: Butterworths ; 1990. p 121-130
4. National Institutes of Health. The Sixth Report of the Joint National
Committee on Prevention Detection, Evaluation and Treatment of High
Blood Pressure. NIH Publication, 1977.
5. Chobanian AV, Bakris GL, Black HR, Chusman WC. The Seventh
Report of the Joint National Committee on Prevention Detection,
Evaluation and Treatment of High Blood Pressure. JAMA 2003; 289:
2561-2726
6. Nolan CR, Linas SL. Malignant hypertension and other hypertensive
crises. In Schrier RW, Schalk CW eds. Disease of the Kidney. 5 th ed.
Boston: Little Brown and Co. 1992. p. 1555-1606
Obat Dosis
Onset
Lama
kerja
Efek samping
Keterangan
Sodium
nitroprusid
0,25-10
µg/kgbb/mnt
segera
1-2 mnt
Mual, muntah, keringat
Hati-hati pada
uremia, pe
TIK
Nikardipin
HCl
5-15 mg/jam
5-10 mnt 1-4 jam
Takikardi, flushing
Hati-hati pada PJK
Fenoldepam
0,1-0,3
µg/kgbb/mnt
<5mnt
30 mnt Takikardi,
nausea,
flushing
Hati-hati pada
glaukoma
Nitrogliserin
5-100
µg/mnt
2-5 mnt
3-5 mnt
Nyeri kepala, muntah
Baik pada iskemia
koroner
Enaprilat
1,25-5 mg tiap 6 jam
15-30 mnt
6 jam
TD tiba-2 turun pada hiperenimia
Baik pada gagal jtg,
hindari pada IMA
Hidralazin
HCl
10-20 mg IV,
10-50 mg IM
15 mnt
25 mnt
3-8 jam
Takikardi, muntah,nyeri kepala
Baik pada eklamsi
Diazoksid
50-100 mg IV
2-4 mnt
6-12 mnt
Nausea, muntah, angina
Obat obsolete
Labetalol
20-80 mg IV
bolus/10mnt
5-10 mnt 3-6 jam
Muntah, rasa terbakar di leher
Hindari pada gagal
jantung akut
Esmolol HCl
250-500
µg/kgbb/mnt
1-2 mnt
10-20 mnt
Hipotensi, mual
Baik pada diseksi
aorta
Fentamin
5-15 mg IV
1-2 mnt
3-10 mnt
Takikardi, flushing, ,nyeri kepala
Baik pada kelebihan
katekolamin
7.
Endang Susalit. Penatalaksanaan krisis hipertensi. Dalam Alwi I,
Bawazier LA eds. Penatalaksanaan kedaruratan di bidang Ilmu Penyakit
Dalam. Jakarta: Pusat Informasi dan Penerbitan Bagian Ilmu Penyakit
Dalam FK UI. 2002. 109-116.
8. Toole JF. Cerebrovascular disorder, Intracerebral hemorrhge. New
York: Raven Press; 1990. 365 -77
9.
Mayer SA, Bernardini GL. Subarachnoid hemorrhage. In Rowland LP
ed. Merritt' Neurology. 10 th. ed. Philadelphia : Lippincott Williams &
Wilkins; 2000. 260-7
10. Tanuwidjoyo S. Recent development in pathogenesis of atherosclerosis.
Dalam Tanuwidjoyo, Sodiqur Rifqi eds. Atherosclerosis. Semarang:
Badan Penerbit Universitas Diponegoro; 2003. 13-8
11. The pathogenesis of atherosclerosis. Harrison's Principles of Internal
Medicine 15 th ed. CD-ROM Libby P. Mc Graw-Hill; 2001
12. PROGRESS Collaborative group. Randomised trial of the perindropil
based blood pressure lowering regiment among 6105 individual with
previous stroke or transient ischemic attack. Lancet 2001; 358; 1033-41
13. Arwedi Artanto. Hipertensi krisis. Dalam Soehardjono ed. Kedaruratan
Medik II. PIT V PAPDI Cabang Semarang. Semarang : Badan Penerbit
Universitas Diponegoro; 2001.203-9
14. Pranowo.
Pengendalian
tekanan darah dan perlindungan organ target.
Dalam Soehardjono ed. PIT VII ­PAPDI Semarang 2003.
Cermin Dunia Kedokteran No. 157, 2007 179
background image
Hipertensi dan Komplikasi Serebrovaskular
SEVERE HYPERTENSION
Renal Parenchymal Disease
Renal Artery Stenosis
Endocrine Hypertension
VASCULAR DAMAGE
Musculomucoid
Intimal Hyperplasia
Fibrinoid
Necrosis
ISCHEMIA
RETINAL
CNS
CARDIAC
RENAL
GI
Lumen
Prostacyclin
T-Cell Reactivity
Cytosolic Calcium
Kininogen
Glucocorticoid
EDRF/ Endothelin
HLA Bw35 / Cd
Coagulation
Localized
Intravascular
Spontaneous
Natriuresis
Volume
Depletion
Renin/ A II
Vasopressin
Catecholamines
(Sausage String)
Forced Vasodidation
Critical Level
or Rate of Rise
Endothelial
Permeability
Denudation of
Endothelium
Proliferation
Smooth Muscle
Deposition of
Mucopolysaccharide
Platelet
Adherence
Necrosis of
Smooth Muscle
Fibrin Deposition
Arteriolar Wall
Fibrinogen
Extravasation
Renal
Ischemia
Low K Diet
Narrowing of
Vascular Lumen
Essential
Hypertension
PANCREATIC
- Hemorrhag
es
- Papiledema
- Cotton-wool spots
- Intracerebral
hemorrhages
- Hypertensive
encephalopathy
- LV Dysfunction
- Intersti al
ti
atrophy
- Glomerular
fibrosis
- Hemorrhages
- Bowel
necrosis
- Hemorrhages
- Necrosis
Gambar 5. Patofisiologi hipertensi maligna.
6
Cermin Dunia Kedokteran No. 157, 2007
180