background image
Peran Dopamin pada Gangguan Spektrum Autistik
TINJAUAN PUSTAKA
Peran Dopamin
pada Gangguan Spektrum Autistik
Rizaldy Pinzon
SMF Saraf Rumah Sakit Umum Daerah Dr. M. Haulussy Ambon, Maluku, Indonesia
ABSTRAK
Autisme merupakan gangguan perkembangan pervasif. Penelitian terdahulu menunjukkan
kelainan neurotransmiter pada autisme. Telaah pustaka ini membahas peran dopamin pada
gangguan spektrum autistik. Beberapa penelitian menunjukkan kadar HVA atau homovanillic
acid (metabolit dopamin) ditemukan lebih tinggi pada anak autisme dengan gejala stereotipik
yang lebih berat. Percobaan pemberian obat agonis dopamin menghasilkan perburukan gejala
stereotipik, agitasi, dan hiperaktivitas pada anak dengan autisme. Berbagai uji klinis terdahulu
menunjukkan bahwa pemberian obat-obat antagonis dopamin akan memperbaiki gejala
autisme.
Keywords: Autism-dopamine-mechanism-dopamine antagonist-neuroleptic
PENDAHULUAN
Autisme merupakan gangguan perkembangan yang
terutama ditandai oleh ketidakmampuan dalam komunikasi,
sosialisasi, dan imajinasi
(1)
. Gangguan spektrum autisme
dinyatakan sebagai gangguan dalam empati dan defisit pada
fungsi perhatian, kontrol motorik dan persepsi
(2)
. Penderita
autisme akan menunjukkan disabilitas dalam interaksi sosial,
disabilitas komunikasi dan kelambatan fungsi berbahasa,
perilaku yang terbatas dan stereotipik, dengan onset sebelum
usia 3 tahun
(2)
.
Autisme terjadi pada rata-rata 5 kasus per 10000 kelahiran
hidup
(1)
. Kecenderungan peningkatan prevalensi autisme dari
waktu ke waktu diperkirakan karena perangkat diagnosis yang
lebih sensitif dan peranan faktor lingkungan seperti pajanan
zat kimiawi, vaksin, dan logam berat. Peranan faktor
lingkungan masih menjadi perdebatan karena belum adanya
bukti ilmiah yang akurat.
Gangguan sistem neurotransmiter sering dijumpai pada
penderita autisme, dan berhubungan dengan munculnya gejala
gangguan perilaku
(3)
. Berbagai penelitian terdahulu
memperlihatkan adanya disfungsi sistem neurokimiawi pada
penderita autisme yang meliputi sistem serotonin,
norepinefrin, dan dopamin. Gangguan sistem neurokimiawi
tersebut berhubungan dengan perilaku agresif, obsesif
kompulsif, dan stimulasi diri sendiri (self stimulating) yang
berlebih
(4)
.
Permasalahan yang ada adalah bagaimana keterlibatan
disfungsi sistem dopamin pada gangguan spektrum autistik.
Tinjauan pustaka ini akan secara mendalam membahas peran
disfungsi sistem dopamin pada autisme. Berbagai terapi
farmaka yang bekerja pada sistem dopamin akan dibahas pula.
Pembahasan dititikberatkan pada peran obat-obat tersebut
pada gangguan spektrum autistik.
Cermin Dunia Kedokteran No. 156, 2007
158
background image
Peran Dopamin pada Gangguan Spektrum Autistik
METODE
Studi pustaka ini dilakukan secara kualitatif dengan
mengkaji berbagai penelitian terkini. Pelacakan kepustakaan
dilakukan dengan menggunakan internet, MEDLINE
database, dan pelacakan manual berbagai penelitian dan
kajian tentang hubungan disfungsi dopamin dan autisme. Kata
kunci yang dipergunakan adalah: autism, dopamine,
neuroleptic drugs, treatment, mechanism, dan
pathophysiology.
PEMBAHASAN
Fisiologi neurotransmiter dopamin
Dopamin merupakan kelompok neurotransmiter
katekholamin. Jumlah total neuron dopaminergik di otak
manusia, tidak termasuk di retina dan bulbus olfaktorius
diperkirakan berjumlah antara 300.000 sampai dengan
400.000. Nukleus dopaminergik yang utama dijumpai pada
substansia nigra pars compacta, daerah tegmental sentral, dan
nukleus arcuatus
(5)
. Dari substansia nigra dan daerah tegmental
sentral neuron tersebut akan berproyeksi ke daerah
mesolimbik, mesokortikal, dan daerah striatum
(6)
.
Dopamin disintesis dari tyrosine di bagian terminal
presinaps untuk kemudian dilepaskan ke celah sinaps
(5)
.
Langkah pertama sintesis dopamin adalah proses uptake asam
amino L-tyrosine dari aliran darah. Tyrosine akan dikonversi
menjadi 3-4-dihidroxyphenylalanine (L-DOPA) oleh enzim
tyrosine hydroxylase, dan kemudian L-DOPA dikonversi
menjadi dopamin oleh enzim dopa decarboxylase. Dopamin
disimpan dalam granula-granula di ujung presinaptik saraf,
dan akan dilepaskan apabila ada rangsangan
(5)
. Dopamin yang
dilepaskan ke celah sinaps dapat mengalami satu atau lebih
keadaan berikut: (1) mengalami pemecahan oleh enzim
COMT/ Catechol-O-Methyl-Transferase atau enzim MAO/
Monoamine Oxidase, (2) mengalami difusi dari celah sinaps,
(3) mengaktivasi reseptor pre sinaptik, (4) mengaktivasi
reseptor post sinaptik, dan (5) mengalami ambilan kembali
(reuptake) ke terminal pre sinaptik
(5)
.
Reseptor dopamin memiliki 2 sub tipe utama yaitu
reseptor seperti D
1
(D
1
dan D
5
) dan reseptor seperti D
2
(D
2
, D
3
,
dan D
4
)
(5,6)
. Variasi tipe reseptor ditentukan oleh urutan asam
amino DNA. Reseptor D
2
memiliki 2 bentuk isoform yaitu
D
2short
dan D
2long.
Tabel 1 menunjukkan reseptor dopamin,
lokasi, agonis, dan antagonisnya.
Perangsangan reseptor D
2
post sinaps akan merangsang
proses interseluler. Secara fungsional tidak ada perbedaan
antara kedua bentuk reseptor D
2
yang isoform tersebut.
Pemahaman akan fungsi masing-masing reseptor akan
berguna dalam aplikasi klinik terapi
(5)
.
Reseptor dopaminergik D
2
dapat berperan sebagai
autoreseptor. Reseptor dopaminergik D
2
terletak di pre sinaps
maupun post sinaps. Dopamin yang dilepaskan dari terminal
saraf dapat mengaktivasi reseptor D
2
pada terminal pre
sinaptik yang sama, dan akan mengurangi sintesis atau
pelepasan dopamin yang terlalu berlebihan, sehingga reseptor
D
2
akan berperan sebagai mekanisme umpan balik (feedback)
negatif yang dapat memodulasi atau menghentikan pelepasan
dopamin pada sinaps tertentu
(5)
.
Pada otak manusia terdapat 3 nukleus dopaminergik yang
utama yaitu: (1) substansia nigra pars compacta yang
berproyeksi ke striatum, (2) area tegmental ventral yang
berproyeksi ke nukleus accumbens dan korteks serebri, dan (3)
nukleus arcuatus hipotalamus yang berproyeksi ke area
tuberoinfundibular dan hipofisis
(5)
.
Tabel 1. Reseptor Dopamin dan obat-obat yang berperan
(5)
Reseptor
Agonis Antagonis
Lokasi
D
1
- Haloperidol
Neostriatum,
korteks
serebri, tuberkel
olfaktorius, n. accumbens
D
2
Bromocriptine
Haloperidol,
Raclopride,
Sulpride
Neostriatum, tuberkel
olfaktorius, n. accumbens
D
3
Quinpirole Raclopride Nucleus
accumbens
D
4
- Clozapine
Amygdala
D
5
- -
Hipokampus
dan
hipotalamus
Gangguan sistem dopaminergik pada autisme
Kajian Jones dan Pilowsky
(6)
menunjukkan tempat
gangguan reaksi dopamin akan menentukan sifat gejala yang
muncul pada psikosis. Reaksi overaktif transmisi dopamin di
sistem limbik yang terdiri dari amygdala dan nukleus
accumbens menyebabkan munculnya interpretasi yang salah
terhadap stimulasi eksternal, yang berakibat munculnya delusi;
dan ketidakmampuan menseleksi persepsi yang berakibat
munculnya halusinasi. Reaksi dopamin rendah atau tidak
reaktif pada regio kortikal (korteks frontal dan prefrontal)
akan memunculkan gangguan fungsi eksekutif, kemiskinan isi
pikir, bicara, dan motivasi yang rendah, sehingga pemberian
antagonis dopamin yang bekerja pada korteks frontal dan
prefrontal akan memperburuk gejala
(6)
.
Peranan gangguan dopamin pada autisme sering
didasarkan pada pengukuran kadar HVA - suatu metabolit
dopamin dan percobaan pemberian obat-obat agonis dopamin.
Sebagian penelitian terdahulu menunjukkan bahwa kadar
HVA ( homovanillic acid ) ditemukan lebih tinggi pada anak
autisme yang gejala stereotipiknya lebih berat. Pemberian
Cermin Dunia Kedokteran No. 156, 2007 159
background image
Peran Dopamin pada Gangguan Spektrum Autistik
obat agonis dopamin memperburuk gejala stereotipi, agitasi,
dan hiperaktivitas pada anak dengan autisme
(7)
.
Penggunaan obat-obat penghambat dopamin pada autisme
Obat-obat anti psikotik menimbulkan efek, baik terapetik
maupun efek samping atas dasar kerjanya pada reseptor D
2
.
Obat anti psikotik yang efektif merupakan antagonis terhadap
reseptor D
2
. Efek samping yang muncul adalah gangguan
gerak, akibat hambatan reseptor D
2
striatal, dan
hiperprolaktinemia akibat hambatan reseptor D
2
di hipofisis.
Efektifitas dan keamanan terapi tidak berbanding lurus dengan
kadar blokade reseptor D
2
(6)
.
Penelitian pada obat-obat anti psikotik atipikal dengan
efek samping ekstra piramidal dan hiperprolaktinemia yang
rendah memperlihatkan bahwa rasio afinitas reseptor 5-HT
2A
terhadap D
2
merupakan penentu sifat atipikal suatu obat anti
psikotik. Ikatan yang tinggi pada reseptor 5-HT
2A
ikut
berperan dalam menentukan sifat atipikal, namun ikatan yang
tinggi pada reseptor 5-HT
2A
semata tidak berbanding lurus
dengan efektifitas terapi. Adanya pengurangan gejala dan
induksi efek samping akibat penggunaan obat-obat anti
psikotik ditentukan oleh terlampaui atau tidaknya ambang
batas blokade reseptor D
2
. Blokade reseptor D
2
yang terlampau
tinggi (>70%) akan menimbulkan efek samping gangguan
ekstra piramidal dan hiperprolaktinemia
(6)
.
Antagonis dopamin atipikal
(terutama risperidon) terbukti
bermanfaat mengurangi
gangguan perilaku dan
memperbaiki fungsi sosialisasi
pada autisme
Obat antipsikotik yang efektif dan aman adalah yang
menstabilkan fungsi dopamin secara regional, dan bukan
dengan memparalisiskan sistem dopaminergik
(6)
. Obat-obat
antipsikotik tipikal memiliki afinitas tinggi pada reseptor D
2
,
yang dijumpai dalam kadar lebih tinggi di nukleus kaudatus,
putamen, dan nukleus accumbens daripada di amygdala,
hipokampus, dan korteks serebri. Golongan obat antipsikotik
atipikal mampu menghambat kelompok reseptor D
2
secara
selektif pada amygdala dan hipokampus. Obat antipsikotik
atipikal memiliki afinitas yang tinggi pada kelompok reseptor
D
2
, terutama D
3
dan D
4
yang banyak pada neuron di sistem
limbik dan korteks, dan hanya sedikit di ganglia basalis
(6)
.
Penggunaan antagonis dopamin tipikal (haloperidol)
untuk autisme
Sistem dopaminergik berperan dalam pengaturan perilaku
motorik. Dopamin yang berlebih akan menyebabkan
munculnya gerakan motorik berlebih, stereotipik seperti yang
diamati pada penderita autisme. Penggunaan antagonis
dopamin diharapkan memperbaiki gejala-gejala motorik
seperti hiperaktivitas dan stereotipi, sehingga proses belajar
menjadi lebih efektif
(8)
. Tabel 2 menunjukkan kajian Perry
dan Kuperman terhadap penggunaan haloperidol dalam terapi
autisme.
Efek samping utama haloperidol adalah diskinesia yang
muncul pada 25% kasus setelah 11 bulan terapi, dan 75%
kasus setelah 3,5 tahun terapi
(8)
. Diskinesia muncul akibat
ketidakseimbangan dopamin pada sistem nigro-striatal
(9)
.
Kajian Perry dan Kuperman
(8)
menyatakan bahwa walaupun
haloperidol terbukti cukup efektif dalam terapi autisme,
penggunaannya harus dipertimbangkan karena risiko efek
samping yang sering muncul.
Penggunaan obat antagonis dopamin atipikal untuk
autisme
Antipsikotik atipikal memblokade pula reseptor serotonin
post sinaptik, sehingga melindungi terhadap munculnya efek
samping ekstra piramidal
(10)
.
Penelitian uji klinik acak dilakukan oleh McDougle
dkk
(11)
pada 31 penderita gangguan autisme dewasa. Respon
terapi diukur dengan Global Improvement Scale dengan skala
Likert. Perbaikan gejala didapatkan secara bermakna pada
kelompok terapi risperidon dibanding plasebo (57% vs. 0%, p
<0,002). Perbaikan gejala dijumpai pada penurunan perilaku
repetitif, agresi, kecemasan, depresi, dan iritabilitas. Efek
samping yang terjadi adalah sedasi ringan. Pada seluruh pasien
tidak didapatkan efek samping gangguan ekstrapiramidal dan
perubahan gambaran EKG.
Penelitian uji klinik acak buta ganda (Randomized
Clinical Trial) risperidon lebih baru dilakukan oleh
McCracken dkk
(10)
dengan subyek 101 anak autisme yang
berusia antara 2-8 tahun. Risperidon diberikan selama 8
minggu dengan dosis 0,5 mg sampai 3,5 mg per hari, dengan
plasebo yang identik bagi kelompok kontrol. Respon positif
didefinisikan dengan pengurangan skor iritabilitas minimal
25%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa respon positif
secara bermakna didapatkan pada kelompok terapi risperidon
dibanding kelompok plasebo (69% vs. 12%, p<0,01).
McCracken dkk
(10)
mendapatkan efek samping yang
Cermin Dunia Kedokteran No. 156, 2007
160
background image
Peran Dopamin pada Gangguan Spektrum Autistik
ringan, dan akan menghilang sendiri setelah beberapa minggu.
Efek samping konstipasi, pandangan kabur, mulut kering, dan
mengantuk disebabkan oleh perangsangan sistem anti-
kolinergik pada pemberian antipsikotik. Perangsangan anti
histamin akan menyebabkan penambahan berat badan dan
mengantuk. Sifat antagonistik pada reseptor alfa satu akan
menyebabkan penurunan tekanan darah, dizziness, dan
mengantuk
(9)
.
SIMPULAN
Autisme merupakan kelainan yang kompleks, terutama
ditandai oleh gangguan fungsi berbahasa, interaksi sosial, dan
gangguan perilaku. Gangguan neurotransmiter berperan dalam
patofisiologi autisme. Gangguan yang terjadi terutama pada
sistem dopaminergik, serotoninergik, dan GABA. Penata-
laksanaan farmakologis dengan prinsip menyeimbangkan
fungsi neurotransmiter merupakan dasar pendekatan terapi
yang rasional. Hasil kajian ini mendapatkan bahwa antagonis
sistem dopaminergik merupakan modalitas terapi yang cukup
didukung oleh bukti-bukti ilmiah yang baik. Antagonis
dopamin atipikal (terutama risperidon) terbukti bermanfaat
mengurangi gangguan perilaku dan memperbaiki fungsi
sosialisasi pada autisme.
KEPUSTAKAAN
1.
Herman A. Neurobiological Insights into Infantile Autism. The Harvard
Brain 1996 (Spring): 19-25.
2. Tonge BJ. Autism, Autistic Spectrum and The Need for Better
Definition. MJA 2002; 176: 412-413.
3.
Belmonte M, Carper R. Neuroanatomical and Neurophysiological Clues
to The Nature of Autism, Springer-Verlag, 2000.
4.
Rapin I. Autism: Current Concept. N Engl J Med.1997;337 (2): 97-104.
5.
Nestler EJ, Hyman SE, Malenka RC. Molecular Neuropharmacology: A
Foundation for Clinical Neuroscience. McGraw-Hill Co., 2001.
6. Jones HM, Pilowsky LS. Dopamine and Antipsychotic Drug Action
Revisited. Br.J.Psychiatr. 2002;181;271-75 .
7. Schultz T. Neural Basis of Autism. Social and Behavioral Science,
Elsevier Science Ltd, 2001.
8.
Perry P, Kuperman S. Pediatric Psychopharmacology: Autism, Clinical
Psychopharmacology Seminar.University of Iowa , 2003
9. Stahl SM. Essential Psychopharmacology: Neuroscientific Basis and
Practical Applications, Cambridge University Press, 2000.
10. McCracken JT, McGough J, Shah B dkk. Risperidone in Children with
Autism and Serious Behavioral Problems, N Engl J Med 2002;347 (5):
314-21
11. McDougle CJ,Holmes JP dkk.A Double-Blind,Placebo-Controlled Study
of Risperidone in Adults with Autistic Disorder and Other Pervasive
Developmental Disorders. Arch Gen Psychiatr. 1998;53: 633-41
Tabel 2. Uji klinik Haloperidol untuk terapi Autisme
(8)
Peneliti
(tahun)
Rancangan Dosis Subyek
Hasil
Anderson
(1984)
Uji klinik acak, buta
ganda, cross over
0,5-3,0 mg/hari
40 anak autisme,
usia 2-7 tahun
- Perbaikan dalam skor Corner Parent-Teacher
Questionnaire, Global Improvement, dan Children's
Rating Scale
- Penurunan
perilaku
maladaptif
- 36 tetap meneruskan haloperidol
Anderson
(1988)
Uji klinik acak, buta
ganda, cross over
0,25-0,40 mg/hari 45 anak autisme,
usia 2-7 tahun
- Perbaikan dalam skor Corner Parent-Teacher
Questionnaire, Global Improvement, dan Children's
Rating Scale
- Penurunan hiperaktivitas dan stereotipi
Tabel 3. Hasil penelitian terapi Risperidon pada Autisme
Peneliti (tahun)
Metode
Subyek
Hasil
McDougle (1998)
(11)
RCT dengan dosis
risperidon harian 2,9
± 1,4
mg/ hari
31 penderita
autisme dewasa
Perbaikan gejala secara bermakna pada kelompok
terapi risperidon dibanding plasebo (57% vs. 0%, p
<0,002).
Efek samping utama sedasi ringan
McCracken (2002)
(10)
RCT dengan dosis
risperidon awal 0,25 mg/
hari
101 anak dengan
autisme
Respon positif secara bermakna pada kelompok terapi
risperidon dibanding kelompok plasebo (69% vs.
12%, p<0,01).
Cermin Dunia Kedokteran No. 156, 2007 161

Document Outline