background image
Dampak Medis dan Psikososial Penyalahgunaan Inhalan
TINJAUAN PUSTAKA
Dampak Medis dan Psikososial
Penyalahgunaan Inhalan
Hervita Diatri
Departemen Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia / RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta,Indonesia
PENDAHULUAN
Penyalahgunaan inhalan sebenarnya cukup sering terjadi
di sekitar kita meskipun tingkat penyalahgunaannya lebih
jarang dibandingkan dengan mariyuana dan alkohol. Hal ini
masih sering dianggap enteng atau kurang mendapat perhatian
padahal dampak yang diakibatkan cukup besar. Satu sesi saja
dalam penyalahgunaan inhalan secara berulang, sudah dapat
mengakibatkan hambatan ritme jantung dan mengakibatkan
kematian akibat henti jantung atau kadar oksigen yang rendah
sehingga mengakibatkan mati lemas. Sedangkan
penyalahgunaan zat ini secara reguler dapat mengakibatkan
masalah serius pada organ vital termasuk otak, jantung, ginjal,
dan hati.
1
Berbagai macam produk di rumah atau tempat kerja
mengandung zat yang dapat diinhalasi. Banyak orang tidak
berpikir tentang zat-zat seperti hair spray, lem, atau cairan
pembersih sebagai zat psikoaktif karena umumnya digunakan
tanpa maksud untuk mencapai efek intoksikasi. Namun
demikian, anak-anak dan remaja dapat dengan mudah
memperolehnya dan menyalahgunakannya. Oleh karena itu
para orangtua seharusnya menyimpan produk-produk ini
secara hati-hati untuk mencegah terjadinya ketidaksengajaan
terhisapnya zat tersebut oleh anak-anak.
2
Hampir seluruh dunia mengkonsentrasikan penanganan
penyalahgunaan inhalan pada kelompok usia muda, terutama
pada kelompok sosial ekonomi rendah dengan masalah nutrisi,
kurangnya pelayanan kesehatan, dan tunawisma. Alasan
penggunaan zat-zat tersebut karena zat-zat ini mudah
diperoleh dan murah. Sehingga pada tahun 2000, pertemuan
multinasional yang disponsori oleh National Institute on Drug
Abuse (NIDA) dan WHO melaporkan bahwa penyalahgunaan
inhalan merupakan masalah terbesar di antara 10 juta anak dan
remaja yang hidup di jalanan.
2
Survei nasional oleh NIDA (2001) menunjukkan bahwa
lebih dari 22,9 juta orang Amerika telah menyalahgunakan
inhalan sedikitnya 1 kali seumur hidup. Monitoring the Future
Study (MTF) yang dilakukan oleh NIDA menunjukkan bahwa
17,3% anak-anak kelas 8 telah menyalahgunakan inhalan.
1
Grafik 1. Diagram batang perbandingan penyalahgunaan inhalan
berdasarkan tingkat pendidikan dan gender
Grafik 2. Diagram batang perbandingan penyalahgunaan berbagai jenis
zat psikoaktif berdasarkan tingkat pendidikan
Cermin Dunia Kedokteran No. 156, 2007
143
background image
Dampak Medis dan Psikososial Penyalahgunaan Inhalan
Hasil penelitian Dr. Li-Tzy Wu dkk. yang dipublikasikan
pada bulan Oktober 2004 menunjukkan bahwa sekitar 36.859
remaja usia 12-17 tahun yang mengikuti survei antara tahun
2000-2001 memiliki karakteristik sebagai pengguna,
penyalahguna, dan mengalami ketergantungan terhadap
inhalan. Sekitar 9% dari seluruh populasi survai, yaitu sekitar
2 juta remaja, dilaporkan pernah menjadi pengguna inhalan,
dan 11% memenuhi kriteria sebagai penyalahguna atau
mengalami ketergantungan. Tidak ada perbedaan jenis
kelamin pada prevalensi penyalahguna atau ketergantungan
inhalan.
3
DEFINISI DAN JENIS INHALAN
1,4,5
Tabel 1. Bahan kimia inhalan yang terkandung di berbagai benda/zat
Barang Bahan
kimia
perekat pesawat terbang
toluen, etil asetat
semen karet
heksan, toluen, metil etil keton, metil
butil keton
semen polivinil klorida
trikloro etilen
cat semprot
butan, propan, fluorokarbon, toluen,
hidrokarbon
semprotan rambut (hair spray)
butan, propan, fluorokarbon
deodoran semprot, pewangi ruangan
butan, propan, fluorokarbon
obat semprot pereda nyeri,
obat semprot asma
fluorokarbon
penghapus cat kuku
aseton, etil asetat
penghapus cat
toluen, metilen klorida, metanol
aseton, etil asetat
pengencer cat
hasil penyulingan minyak bumi,
ester, aseton
penghapus ketikan dan pengencernya triklor etilen, triklor etan
bahan bakar gas
propan
bahan bakar gas korek api
butan
bensin campuran
hidrokarbon
cairan untuk dry-cleaning
tetraklor etilen, triklor etilen
penghilang noda
xilen, hasil penyulingan minyak
bumi, kloro hidrokarbon
pencuci pelumas
tetraklor etilen, triklor etan, triklor
etilen
krim kocok (whipped cream)
nitrogen oksida
(gas gelak)
pengharum ruangan nitrit
alkil nitrit, (iso)amil nitrit, (iso)butil
nitrit, isopropil nitrit, butil nitrit
Inhalan adalah zat yang mudah menguap, dihisap untuk
menghasilkan efek psikoaktif (a mind-altering effect).
Dapat dikategorikan sebagai:
1. pelarut: pelarut dalam bidang industri, seni, kantor,
maupun di rumah tangga seperti tiner/penghilang cat, lem,
cairan dry-cleaning, penghilang cat kuku, correction
fluids, pembersih barang-barang elektronik
2. gas:
butane lighter, propan, krim cukur, gas pendingin,
hair spray, minyak sayur dalam bentuk spray, cat
semprot, deodoran, pelindung furniture, pembersih
komputer. Gas medis: eter, kloroform, halothane, oksida
nitrit (gas gelak)
3. nitrit: nitrit organik: sikloheksil nitrit, amil nitrit, dan butil
nitrit, pembersih video-head, pengharum ruangan,
pembersih bahan kulit, atau cairan aroma.
Jenis inhalan yang paling sering disalahgunakan adalah yang
mengandung toluena, karena zat ini paling mudah ditemukan,
yaitu pada lem, cat semprot, penghilang cat kuku, dan tiner.
Pelarut organik bersifat lipofilik, mudah larut dalam lemak
dibandingkan air. Akibatnya zat ini cepat hilang dari
peredaran darah dan terakumulasi pada sel lemak di otak,
jantung, hati, dan otot untuk beberapa waktu.
FAKTOR RISIKO
1,3, 6
Beberapa penelitian terbaru menunjukkan beberapa faktor
risiko penyalahgunaan inhalansia pada remaja.
Faktor tersebut di antaranya:
1. mereka yang pernah atau sedang menjalani penanganan
masalah kesehatan mental memiliki kecenderungan dua
kali lebih tinggi untuk mengalami ketergantungan
terhadap inhalan
2. mereka yang memiliki riwayat hidup di penampungan
anak-anak (foster care) memiliki kecenderungan lima kali
lebih tinggi untuk mengalami ketergantungan terhadap
inhalan
3. mereka yang telah melakukan penyalahgunaan atau
mengalami ketergantungan pada satu atau lebih zat
psikoaktif lainnya (seperti kokain, mariyuana, heroin,
halusinogen, sedatif, obat-obat penenang, penghilang rasa
sakit, dan stimulan) memiliki kecenderungan empat kali
lebih tinggi untuk mengalami ketergantungan terhadap
inhalan
4. remaja dengan riwayat penggunaan pertama di usia yang
dini, usia 13-14 tahun memiliki kecenderungan enam kali
lebih tinggi untuk mengalami ketergantungan terhadap
inhalan dibandingkan dengan mereka yang memulai
penyalahgunaan pada usia 15-17 tahun.
Cermin Dunia Kedokteran No. 156, 2007
144
background image
Dampak Medis dan Psikososial Penyalahgunaan Inhalan
Rosenberg dan Sharp mengidentifikasi empat kategori
utama penyalahguna inhalan :
1. Transient social user: riwayat penggunaan jangka pendek,
dilakukan bersama-sama teman, intelegensia rata-rata,
usia berkisar antara 10-16 tahun
2. Chronic social user: riwayat penggunaan jangka panjang
(>5 tahun), penggunaan sehari-hari bersama teman,
keterlibatan dalam masalah hukum ringan, ketrampilan
sosial buruk, pendidikan terbatas, kerusakan otak, usia
berkisar antara 20-30 tahun
3. Transient isolate user: riwayat penggunaan jangka
pendek, penggunaan sendiri, usia berkisar antara 10-16
tahun
4. Chronic isolate user: riwayat penggunaan jangka panjang
(>5 tahun), penggunaan sehari-hari sendiri, sering terlibat
masalah hukum, ketrampilan sosial buruk, pendidikan
terbatas, kerusakan otak, usia berkisar antara 20-29 tahun
ALASAN MENGGUNAKAN INHALAN
6
Beberapa alasan diberikan seseorang (terutama kaum
muda) untuk menggunakan inhalan, di antaranya: eksperimen
(coba-coba), tekanan dari kelompok sebaya, biaya, mudah
didapat, mudah dibawa, efek elevasi mood di awal pemakaian,
awitan intoksikasi yang cepat, tidak ada masalah hukum, efek
intoksikasi tidak berlangsung lama, perasaan tidak nyaman
yang diakibatkannya tidak seburuk penyalahgunaan alkohol,
membuat sensasi lebih nyaman (dingin, penghilang nyeri),
tidak adanya pengawasan, inkonsistensi kehidupan keluarga,
hidup penuh masalah, atau hanya sekedar menghilangkan
perasaan bosan.
CARA PENGGUNAAN INHALAN
1,7
Inhalan dapat dihisap melalui hidung atau mulut dengan
berbagai cara, seperti:
1. dihirup (sniffing) atau snorting dari uap/asap inhalan
tersebut
2. menyemprotkan aerosol langsung ke hidung atau mulut.
Efeknya lebih kuat.
3. bagging, menghirup atau menghisap uap/asap dari zat
yang telah disemprotkan atau ditampung ke dalam
kantung plastik atau kantung kertas
4. huffing, menghisap melalui bahan kain yang telah
direndam ke dalam zat inhalan
5. menghisap dari balon yang telah diisi oksida nitrit
MEKANISME EFEK INHALAN
1
Inhalan diabsorbsi cepat melalui paru dan diedarkan ke
seluruh tubuh melalui aliran darah dan didistribusikan cepat ke
otak dan organ lain. Dalam hitungan detik, pengguna
mengalami intoksikasi seperti yang dialami pada
penyalahgunaan alkohol, sehingga disebut alcohol like effects.
Banyak sistem otak yang mungkin terlibat dalam timbulnya
efek anestetik, intoksikasi, dan reinforcing effect dari berbagai
macam jenis inhalan. Hampir semua jenis inhalan yang
disalahgunakan (selain nitrit) menghasilkan efek
menyenangkan dengan cara menekan kerja susunan saraf
pusat seperti kerja alkohol, sedatif dan obat-obat anestetik.
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa toluen, jenis inhalan
yang paling sering disalahgunakan mengaktivasi sistem
dopamin otak, yang memegang peranan rewarding effects
pada banyak penyalahgunaan zat. Nitrit mengakibatkan
dilatasi pembuluh darah dan meningkatkan kerja saraf
simpatis.
EFEK PENGGUNAAN INHALAN
1,6
A. Efek penggunaan jangka pendek
Gejala alcohol like effects yang timbul selama
menggunakan atau beberapa waktu setelahnya sangat
bervariasi. Gejala yang timbul dapat berupa kehilangan
kontrol diri hingga memicu keinginan untuk berkelahi
(belligerence), apati, gangguan daya nilai, gangguan fungsi
pekerjaan dan sosial, gangguan bicara (slurred speech),
ketidakmampuan untuk mengkoordinasikan gerakan (clumsy
movements), euforia, pusing (dizziness), drowsiness, letargi,
penurunan refleks, kelemahan otot umum, hingga stupor.
Pengguna juga dapat merasakan nyeri kepala ringan,
halusinasi, dan delusi. Paparan terhadap dosis tinggi dapat
mengakibatkan confusion (kebingungan) dan delirium. Mual
dan muntah juga merupakan efek samping yang sering
ditemui.
Berbeda dengan zat inhalan lainnya, nitrit mengakibatkan
dilatasi pembuluh darah, peningkatan denyut jantung,
menghasilkan sensasi panas dan excitement dalam beberapa
menit. Efek lain dapat berupa flush, pusing dan nyeri kepala.
Penggunaan nitrit juga dipercaya dapat meningkatkan
kenikmatan dan performa seksual.
B. Efek penggunaan jangka panjang
Intoksikasi ini berlangsung hanya dalam beberapa menit,
akibatnya penyalahguna secara berulang mencari efek yang
lebih panjang dengan cara kembali menghisap, hingga
beberapa jam. Penggunaan secara kompulsif dan sindrom
putus zat ringan dapat terjadi pada penyalahgunaan jangka
panjang. Gejala yang timbul dapat berupa turun berat badan,
kelemahan otot atau kram, tremor tangan, cemas, keringat
berlebihan, disorientasi, halusinasi, kedinginan, nyeri kepala,
Cermin Dunia Kedokteran No. 156, 2007
145
background image
Dampak Medis dan Psikososial Penyalahgunaan Inhalan
nyeri perut, gangguan pemusatan perhatian, gangguan
koordinasi, iritabilitas, dan depresi.
Sebuah penelitian menggunakan inhalan golongan nitrit
pada hewan menunjukkan peningkatan kemungkinan untuk
berkembangnya dan memburuknya penyakit infeksi serta
tumor. Penelitian menunjukkan bahwa zat psikoaktif ini
menurunkan dan melumpuhkan mekanisme kerja sel-sel imun
dalam mengatasi penyakit infeksi. Studi terbaru menunjukkan
bahwa paparan terhadap butil nitrit, meskipun relatif kecil,
dapat mengakibatkan peningkatan dramatis insiden tumor dan
percepatan pertumbuhannya.
Secara garis besar, Lawton dan Malquest (1961) serta
Wyse (1973) mendeskripsikan 4 tahap perkembangan gejala
penyalahgunaan inhalan:
1. Tahap Pertama (Excitatory Stage): gejala dapat berupa
euforia, eksitasi, perasaan senang, pusing, halusinasi,
bersin-bersin, batuk, ekskresi saliva berlebihan,
intoleransi terhadap cahaya, mual dan muntah, rasa panas
di kulit, dan perilaku kacau.
Cermin Dunia Kedokteran No. 156, 2007
146
2. Tahap Ke dua (Early Central Nervous System
Depression): gejala dapat berupa kebingungan,
disorientasi, penumpulan, kehilangan kontrol diri, sensasi
mendenging dan mendengung di kepala, penglihatan
buram atau ganda, kram, nyeri kepala, tidak sensitif
terhadap rasa nyeri, dan pucat.
3. Tahap Ke tiga (Medium Central Nervous System
Depression): gejala dapat berupa drowsiness, inkoordinasi
otot, gangguan berbicara, penekanan refleks, nistagmus
atau gerakan cepat involunter bola mata.
4. Tahap Ke empat (Late Central Nervous System
Depression): gejala dapat berupa penurunan kesadaran
yang disertai mimpi yang kacau, kejang epileptiform, dan
perubahan pola EEG.
DAMPAK MEDIS PENYALAHGUNAAN INHALAN
1,4,7,8,9
Dampak medis akibat penyalahgunaan inhalan sangat luas
dan timbul dalam berbagai macam keadaan, di antaranya:
1. Sudden sniffing death. Menghirup zat kimia dengan
konsentrasi tinggi dalam waktu yang lama dapat
mengakibatkan ritme jantung menjadi cepat dan ireguler
yang akhirnya dapat mengakibatkan gagal jantung dan
kematian dalam beberapa detik pada sesi penghirupan itu.
Sindrom ini dikenal sebagai sudden sniffing death;
terutama berhubungan dengan penyalahgunaan butane,
propane, dan zat kimia aerosol.
2. Asfiksia. Inhalasi berulang mengakibatkan konsentrasi zat
inhalan dalam paru lebih tinggi daripada oksigen.
3. Mati lemas (suffocation). Udara terhambat masuk ke
dalam paru akibat penghisapan inhalan dengan cara
memasukkan kepala ke dalam kantung plastik tertutup.
4. Konvulsi atau kejang akibat abnormalitas aktivitas aliran
listrik di otak
5. Koma.
6. Tercekik/tersedak
(choking) akibat inhalasi atau muntah
setelah penggunaan zat inhalan
7. Trauma fatal akibat kecelakaan termasuk kecelakaan
kendaraan bermotor akibat intoksikasi
Dampak medis yang terjadi pun melibatkan multi organ,
di antaranya:
1. Otak
Keterangan gambar (ki-ka):
1,8
1. Kerusakan otak akibat penyalahgunaan zat yang mengandung
toluena. Tampak gambaran atrofi otak (B) dibandingkan individu
normal
2. Gambar MRI, usia 25 tahun, penyalahguna inhalan kronik: terjadi
perubahan difus dan parah area otak putih (pusat), yang normalnya
tampak hitam pada MRI. Keadaan ini diduga akibat adanya retensi
cairan abnormal
3. Gambar MRI, usia 28 tahun, penyalahguna inhalan kronik: terjadi
perubahan bilateral area talamus (2 daerah hitam berbentuk oval)
yang normalnya tampak abu-abu atau putih pada MRI. Keadaan ini
diduga akibat adanya deposit zat besi
background image
Dampak Medis dan Psikososial Penyalahgunaan Inhalan
Efek toksik terberat dari paparan kronik inhalan adalah
kerusakan luas dan dalam waktu lama sistem saraf dan otak.
Penelitian pada hewan dan patologi manusia menunjukkan
pada penyalahgunaan toluene timbul kerusakan lapisan
pelindung serat saraf otak dan sistem saraf perifer. Gambaran
serupa dapat ditemukan pada penyakit sklerosis multipel.
Efek neurotoksik penyalahgunaan inhalan jangka
panjang berupa sindrom neurologi yang merujuk pada
kerusakan beberapa bagian otak, di antaranya area pengontrol
kognisi, gerakan, penglihatan dan pendengaran. Abnormalitas
kognisi bervariasi dari ringan hingga demensia berat. Efek lain
berupa kesulitan koordinasi gerakan, spasme otot tungkai,
kehilangan sensasi, pendengaran, dan penglihatan.
Sebuah penelitian yang membandingkan kelompok
penyalahguna inhalan (penyalahgunaan lebih dari 10 tahun,
hampir setiap hari, zat inhalan mengandung toluena) dengan
penyalahguna kokain menemukan bahwa kelompok
penyalahguna inhalan lebih banyak menunjukkan
abnormalitas struktur otak (MRI scan) di empat area otak yaitu
talamus, ganglia basalis, pons, dan serebelum. Struktur otak
ini berperanan dalam penyaluran informasi sensoris dari
sistem saraf perifer dan saraf spinal ke otak yang akan
mengkoordinasikan dan mengontrol berbagai macam fungsi,
termasuk gerakan yang disadari atau tidak. Konsekuensi klinis
yang paling sering timbul adalah kesulitan koordinasi gerakan,
gangguan gait, dan spastisitas terutama di tungkai.
Grafik 3. Diagram batang perbandingan abnormalitas kelompok
penyalahguna inhalan dan penyalahguna kokain
Kelompok penyalahguna inhalan juga menunjukkan lebih
banyak abnormalitas dengan tingkat keparahan lebih tinggi di
daerah otak putih (brain white matter). Area ini terutama
disusun oleh sel pendukung dan serat saraf bermielin. Mielin
adalah pelindung yang bertanggung jawab dalam proses
transmisi sinyal saraf ke berbagai bagian otak, termasuk area
otak yang terlibat dalam fungsi kognitif seperti area berbahasa.
Abnormalitas area otak putih yang luas mengakibatkan
gangguan kognitif berat (Grafik 3).
Penelitian dengan membandingkan kedua kelompok ini
juga menunjukkan bahwa kelompok penyalahguna inhalan
menunjukkan hasil yang lebih buruk dalam tes kognitif untuk
menilai working memory, atensi, perencanaan dan
penyelesaian masalah (fungsi eksekutif). Penurunan lain
terjadi dalam sistem pengontrolan perilaku.
2. Organ lain :
a. Efek
ireversibel
· Hilangnya fungsi pendengaran (toluena dan trikloroetilen)
· Neuropati perifer atau spasme otot tungkai (hexana dan
oksida nitrit)
· Kerusakan sumsum tulang belakang (toluena)
· Gangguan penglihatan
b. Serius, tetapi reversibel
· Kerusakan jantung dan paru
· Kerusakan hati dan ginjal (toluena dan klorin
hidrokarbon)
· Penurunan kadar oksigen darah (nitrit alifatik dan metilen
klorid)
c. Dampak pada kehamilan
Penyalahgunaan inhalan saat kehamilan membawa risiko
pada janin berupa penurunan berat lahir, abnormalitas skeletal
tertentu, keterlambatan perkembangan saraf dan perilaku.
d. Dampak lain
Sebuah penelitian yang terutama menyoroti masalah
komorbiditas pada penyalahgunaan inhalan menemukan
bahwa kelompok penyalahguna inhalan lebih mudah
komorbid dengan penyalahgunaan zat psikoaktif lain seperti
alkohol, halusinogen, nikotin, kokain, dan amfetamin.
Kelompok penyalahguna ini juga lebih rentan berkomorbiditas
dengan gangguan depresi mayor, percobaan bunuh diri, dan
perilaku kekerasan dan penelantaran.
HUBUNGAN INHALAN DENGAN HIV/AIDS
1, 8
Hal ini terutama berhubungan dengan penyalahgunaan
inhalan golongan nitrit; terutama dari kelompok remaja dan
dewasa. Penyalahgunaan meningkat akibat efek peningkatan
kenikmatan seksual yang selanjutnya berhubungan dengan
praktik seksual tidak aman. Hal ini yang berhubungan dengan
peningkatan risiko penularan penyakit infeksi seperti
Cermin Dunia Kedokteran No. 156, 2007
147
background image
Dampak Medis dan Psikososial Penyalahgunaan Inhalan
HIV/AIDS dan hepatitis.
DAMPAK SOSIAL PENYALAHGUNAAN INHALAN
6
Lingkungan sosial terbesar bagi remaja adalah komunitas,
sekolah, keluarga, dan teman sebaya. Komunitas menyediakan
dasar terjadinya sosialisasi; konsekuensinya, komunitas
terkena efek yang paling besar, terutama berhubungan dengan
legalisasi penyalahgunaan inhalan di lingkungan teman
sebaya. Struktur keluarga terganggu akibat hubungan
interpersonal yang buruk, terlebih jika orangtua juga seorang
penyalahguna zat psikoaktif. Biasanya para penyalahguna itu
merasa bahwa keluarganya tidak peduli pada mereka, tidak
ada peraturan yang jelas dalam keluarga, ditambah dengan
masalah edukasi. Di sekolah, mereka sering membolos hingga
mengalami drop out, bermasalah dengan sekolah, dan
performa buruk. Mereka tidak menyukai sekolah, banyak
berhubungan dengan tindak kriminal. Zat inhalan juga
mengakibatkan perilaku agresif, kekerasan, dan berbagai
macam perilaku menyimpang.
8
Mereka juga seringkali merasa diasingkan, dan perasaan
ini mengakibatkan lingkaran penyalahgunaan tidak pernah
terputus; memiliki masalah emosional seperti mudah depresi,
lebih pencemas, merasa disalahkan dan memiliki amarah yang
lebih besar dibanding kelompok normal. Para penyalahguna
ini biasanya memiliki saudara atau teman sebaya yang juga
menyalahgunakan inhalan. Oleh karenanya teman sebaya
memiliki peran yang besar untuk mendukung atau menekan
penyalahgunaan.
PENUTUP
Masalah penyalahgunaan inhalan sebenarnya cukup
sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini terutama
akibat tersedianya berbagai macam jenis zat inhalan di rumah
tangga yang dapat disalahgunakan. Namun masalah ini masih
kurang mendapat perhatian dan seringkali dianggap enteng;
padahal dampak yang ditimbulkan baik secara medis maupun
sosial sangat bervariasi dan sangat parah. Sebuah penelitian
bahkan telah membuktikan bahwa kerusakan otak yang
dialami oleh penyalahguna inhalan lebih besar bila
dibandingkan kelompok penyalahguna kokain dan alkohol.
Hal ini tentu saja seharusnya menjadi keprihatinan dan fokus
perhatian kita bersama, terlebih lagi usia penyalahguna
inhalan termuda di antara penyalahguna zat psikoaktif lainnya.
Informasi yang tepat mengenai berbagai zat inhalan, cara
penggunaan, efek, serta dampaknya diharapkan dapat
mengurangi angka penyalahgunaan di masyarakat.
KEPUSTAKAAN
1.
NIDA's Research Report, Facts About Inhalant Abuse, Vol. 15, No. 6,
Januari 2001
2. Hanson GR. Rising to the Challenges of Inhalant Abuse, Director's
Column. Vol. 17, No. 4, November 2002
3. NIDA Research Identifies Factors Related to Inhalant Abuse. Addiction
28 September 2004
4. Teen Drug Use Declines 2003-2004 - But Concern Remain About
Inhalants and Painkillers, 21 Desember 2004
5. Penyalahgunaan inhalan. http://www.medicastore.com
6. National Inhalant Prevention Coalition. Inhalants Guidelines
7.
Rosenberg NL et al. Neuropsychologic Impairment and MRI
Abnormalities Associated with Chronic Solvent Abuse, J. Toxicology -
Clinical Toxicology 2002; 40 (1): 21-34.
8. Mathias R, Chronic Solvent Abusers Have More Brain Abnormalities
and Cognitive Impairments than Cocaine Abusers. Research Findings.
NIDA Notes Staff Writer, Vol. 17, No. 4, November 2004
9. Sakai JT, Hall SK, Mikulich-Gilbertson SK, Crowley TJ. Inhalant use,
abuse, and dependence among adolescent patients: Commonly comorbid
problems, J. Amer. Acad. Child and Adolescent Psychiatr. 2004; .43(9):
1080-1088,
10. Anderson CE, Loomis GA. Recognition and Prevention of Inhalant
Abuse. Am Fam Physician 2003; 68: 869-874, 876.
It is courage that conquers in war, not good weapons
Cermin Dunia Kedokteran No. 156, 2007
14

Document Outline