Proporsi Gangguan Depresi pada Penyalahguna Zat
HASIL PENELITIAN
Proporsi Gangguan Depresi
pada Penyalahguna Zat
yang Menjalani Rehabilitasi
di RS Marzoeki Mahdi
Ashwin Kandouw, JES Kandouw, Sylvia Detri Elvira, Iwan Ariawan
*)
Departemen Psikiatri, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta
*
)
Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Jakarta, Indonesia
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mencari proporsi gangguan depresi pada penyalahguna zat
yang sedang menjalani rehabilitasi di RS Marzoeki Mahdi. Penelitian ini adalah suatu
penelitian cross sectional yang dilakukan pada 52 orang responden peserta rehabilitasi sejak
bulan September 2003 hingga Mei 2004. Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah
kuesioner dan SCID ( Structured Clinical Interview for DSM IV). Dari seluruh responden
yang ikut serta didapatkan proporsi responden yang menderita depresi adalah 48,1% (25
responden). Dari ke 25 responden yang menderita depresi, proporsi jenis gangguan depresi
yang diderita responden adalah sebagai berikut: gangguan depresi mayor saat ini sebesar
26,9% (14 responden), gangguan depresi mayor saat ini disertai distimia 11,5% (6
responden), gangguan distimia 1,9% (1 responden), gangguan depresi minor 7,7% (4
responden). Selanjutnya dilakukan analisis statistik antara beberapa variabel seperti umur,
jenis kelamin, tingkat pendidikan, status pernikahan, status pekerjaan, lama rehabihtasi,
motivasi rehabilitasi, lama menyalahgunakan zat, frekuensi kekambuhan. frekuensi
rehabilitasi, status HIV dan status hepatitis C dengan gangguan depresi yang diderita
responden. Hasil analisis statistik menyatakan hanya pada variabel motivasi rehabilitasi
yang secara statistik terdapat perbedaan proporsi depresi yang bermakna. Sebagai
tambahan didapatkan data bahwa angka infeksi HIV pada responden penelitian adalah
sebesar 40,4%. dan angka infeksi hepatitis C pada responden sebesar 63,5%. Fakta ini
tentunya memerlukan perhatian yang lebih besar dalam usaha pencegahan agar penularan
dapat ditekan. Pada akhirnya disarankan agar penelitian sejenis dilakukan di pusat
rehabilitasi lain; responden penderita depresi diberi penatalaksanaan untuk kondisi
depresinya, kemudian dilakukan penelitian prospektif lanjutan untuk mengkaji angka
kekambuhan dan lama abstinensi pada responden yang telah ditatalaksanai kondisi depresinya.
Kata kunci: depresi, penyalahguna zat yang menjalani rehabilitasi.
Keywords: depression, drug abusers in rehabilitation program
Cermin Dunia Kedokteran No. 156, 2007
136
Proporsi Gangguan Depresi pada Penyalahguna Zat
PENDAHULUAN
Penyalahgunaan zat telah menjadi masalah global yang
perlu mendapat perhatian serius; sebagian besar
penyalahguna zat memulai kebiasaannya pada kisaran usia
remaja atau usia 20-an yang kemudian terus berlanjut. Sekitar
5,5 juta individu atau 2,7% dari seluruh penduduk Amerika
Serikat yang berusia di atas 12 tahun memerlukan
penatalaksanaan untuk masalah gangguan penggunaan zat dan
ada tambahan sekitar 13 juta lagi yang memerlukan
penatalaksanaan untuk masalah penggunaan alkohol
2
. Setiap
tahunnya ketergantungan zat non nikotin bertanggung jawab
secara langsung ataupun tidak langsung terhadap 40% kasus
di rumah sakit dan sekitar 25% kematian (500.000 kasus per
tahun)
3
'
4
.
Banyak usaha preventif, kuratif. maupun rehabilitatif
telah dilakukan, tetapi pada kenyataannya kasus baru terus
bertambah dan kasus lama terus berlanjut. Tak bisa
dilupakan pula akibat dari kebiasaan menyalahgunakan zat
tertentu, penyalahguna zat akan menghadapi berbagai
masalah medis seperti infeksi hepatitis ataupun HIV; masalah
psikologis yang paling sering adalah depresi dan berbagai
masalah sosial seperti stigma, masalah perkawinan, pekerjaan
dan lain-lain. Banyak kepustakaan mengenai penyalahgunaan
zat me-nyebutkan bahwa sekitar 90% orang yang
menyalahgunakan zat menderita gangguan psikiatrik, dan
yang tersering adalah gangguan depresi
1
-
5
'
6
'
7
'
8
. Deykin et al
dalam penelitiannya di tahun 1992 yang mengikutsertakan
233 partisipan yang dirawat karena ketergantungan zat,
menemukan bahwa 24,7% di antaranya memenuhi kriteria
DSM IIIR untuk depresi
9
. Depresi yang diderita oleh
penyalahguna zat merupakan masalah yang perlu
diperhatikan secara serius, karena jika tak dikenali dan
ditatalaksana dengan baik, maka depresi tersebut
selanjutnya akan dapat menjadi salah satu alasan untuk
mengulangi kebiasaannya, dengan tujuan mengobati diri
sendiri dari nyeri atau sakit yang dirasakan-nya
10
. Dalam
praktek penatalaksanaan penyalahguna zat yang menderita
depresi, ternyata dengan abstinens saja tidak memberikan
perbaikan yang cukup bermakna pada gejala depresi,
sebaliknya hanya menatalaksanai gangguan depresi saja
juga tidak memberikan pengaruh yang efektif terhadap
masalah ketergantungan zat. Bila hal ini terus berlanjut maka
akan terjadi suatu lingkaran penyalahgunaan zat dan
depresi yang tak ada hentinya. Dalam setting rawat inap atau
rehabilitasi maka yang didapat adalah depresi pada saat
abstinens. Hasin et al menyatakan bahwa depresi pada saat
abstinens berhubungan dengan kemungkinan yang lebih besar
untuk kambuh. Seperti diketahui bersama, salah satu masalah
terbesar dalam menatalaksanai penyalahguna zat adalah
menekan tingkat kekambuhan. Sampai saat ini belum ada
penelitian di Indonesia yang menyatakan berapa angka
depresi pada penyalahguna zat yang sedang menjalani
rehabilitasi. Berdasarkan pada fakta di atas maka
penelitian ini bertujuan mencari proporsi depresi pada
penyalahguna zat yang sedang menjalani rehabilitasi atau
depresi pada saat abstinens, dengan harapan agar hasil
penelitian ini dapat berguna untuk menatalaksanai depresi
yang selanjutnya juga dapat berguna untuk menekan tingkat
kekambuhan.
BAHAN DAN CARA KERJA
Rancangan penelitian
Penelitian ini adalah suatu penelitian Cross Sectional
untuk mengetahui proporsi gangguan depresi pada
penyalahguna zat yang menjalani rehabilitasi. Penelitian
dilakukan di pusat rehabilitasi penyalahgunaan zat RS
Marzoeki Mahdi, dimulai pada bulan September 2003
hingga bulan Mei 2004
Kriteria Inklusi.
Penyalahguna zat laki - laki dan perempuan yang sedang
menjalani program rehabilitasi dan menetap di RS
Marzoeki Mahdi, dan paling tidak telah 1 bulan
menjalani program; dan bersedia menjadi responden
Kriteria Eksklusi:
Menderita gangguan jiwa berat seperti skizofrenia,
skizofreniform, gangguan waham, gangguan manik
dan hipomanik.
Cara kerja
Berdasarkan perhitungan dengan menggunakan rumus
2
2
d
PQ
Zalfa
n
=
Proporsi standar = 25 %
Tingkat kemaknaan = alfa, ditetapkan sebesar 0,05
Zalfa = Zl-alfa/2= 1,960 Q=1-P= 1-0,25
d = tingkat ketepatan absolut = 0,12
Didapatkan nilai n = 50.
Sampel diambil dari seluruh peserta rehabilitasi di RS
Marzoeki Mahdi yang memenuhi kriteria inklusi, dan
didapatkan 52 orang responden.
Perangkat Kerja
1. SCID untuk depresi dan gangguan jiwa berat. SCID
Cermin Dunia Kedokteran No. 156, 2007 137
Proporsi Gangguan Depresi pada Penyalahguna Zat
(Structured Clinical Interview for DSM IV) suatu
instrumen yang digunakan dalam riset maupun praktek
untuk menentukan diagnosis melalui wawancara klinis
terstruktur berdasarkan DSM IV. Di Indonesia SCID
telah digunakan oleh Departemen Psikiatri, dan dalam
penggunaannya tidak ada bias kultural. Dalam penelitian
ini ada 2 modul SCID yang dipergunakan yaitu modul
gangguan jiwa berat yang digunakan untuk
mengeksklusi calon responden yang menderita
gangguan jiwa berat (seperti yang tertera pada faktor
eksklusi) dan kemudian modul untuk gangguan depresi
digunakan untuk mencari proporsi responden yang
menderita gangguan depresi saat ini maupun yang tidak
menderita depresi.
2. Kuesioner
HASIL PENELITIAN
Tabel 1 Tabel proporsi gangguan depresi responden
Responden Jumlah
Persentase
Gangguan depresi
25
48,1%
Tidak depresi
27
51,9%
Total 52
100%
Tabel 2 Tabel proporsi jenis gangguan depresi
Gangguan depresi
Jumlah Responden
Persentase
GD mayor saat ini
14
26,9%
GD major saat ini + distimia
6
11,5%
Gangg Distimia
1
1,9%
GD minor
4
7,7%
Total 25
48,1%
PEMBAHASAN
DEPRESI
Proporsi gangguan depresi pada penyalahguna zat
yang sedang menjalani rehabilitasi di RS Marzoeki Mahdi
adalah sebesar 48,1%. Depresi ini meliputi Gangguan
Depresi Mayor saat ini, Gangguan Distimia dan Gangguan
Depresi Minor. Jika difokuskan pada gangguan depresi
mayor saat ini maka didapatkan angka sebesar 38,5%.
Angka ini lebih besar dari hasil penelitian Deykin et al
yang menyatakan angka depresi mayor sebesar 24,7%
(9)
,
juga lebih besar dari angka depresi mayor saat abstinens
(Hasin et al) yaitu 28%.
UMUR
Rerata usia responden yang menderita depresi adalah
21,4 tahun. Comprehensive Textbook of Psychiatry
menyebutkan bahwa onset seseorang untuk menderita
depresi pada populasi umum berkisar antara umur 20 dan 40
tahun, sedangkan DSM-IV menyatakan bahwa usia rerata
onset depresi pada populasi umum adalah pertengahan 20-an
12
.
Perlu diingat dari 25 responden penderita depresi, hanya
3 responden yang menderita depresi untuk pertama kalinya;
22 responden lain sudah pernah menderita depresi
sebelumnya. Berarti 22 responden tersebut menderita
depresi dengan onset usia yang lebih dini. Hal ini juga sesuai
dengan pernyataan Allan CA maupun National Household
Survey on Drug Abuse bahwa kebanyakan kasus
penyalahgunaan zat dimulai pada akhir usia belasan atau
awal usia 20, sedangkan sisanya dimulai pada pertengahan
atau akhir usia dewasa
13
'
14
.
JENIS KELAMIN
Ada 7 (70%) dari 10 responden perempuan yang
menderita depresi, dan ada 18 (42,9%) dari 42 responden laki-
laki yang menderita depresi. Buckstein et al juga menemukan
angka depresi yang lebih tinggi pada perempuan
penyalahguna zat bila dibandingkan dengan pria
penyalahguna zat
8
, Deykin et al menyatakan bahwa jumlah
perempuan penyalahguna zat yang menderita depresi dua
setengah kali lebih banyak dibanding dengan pria
penyalahguna zat
9
.
Lebih tingginya angka depresi pada perempuan
dijelaskan melalui teori psikososial, yaitu bahwa berbagai
peran yang disandang seorang perempuan yaitu sebagai
pengelola rumah tangga, pekerja, istri dan ibu merupakan
stresor yang berperan terhadap meningkatnya stres. Secara
biologi juga ada penjelasan mengapa perempuan
mempunyai angka depresi yang lebih tinggi, yaitu
faktor ketidakseimbangan hormonal, misalnya depresi
prahaid; hal ini tentu saja menambah tingginya prevalensi
depresi pada perempuan. Dari wawancara langsung terhadap
responden juga terungkap banyak di antara responden
perempuan yang cukup khawatir mengenai citranya sebagai
perempuan. apakah akan ada pria yang mau menjadi pasangan
hidupnya menimbang status mereka sebagai seorang yang
berusaha pulih dari ketergantungan zat dengan segala masa
lalunya, juga keadaan kesehatan mereka yang menyandang
berbagai masalah medis seperti HIV dan Hepatitis C
(40% responden perempuan penderita infeksi HIV dan
90% penderita infeksi Hepatitis C)
TINGKAT PENDIDIKAN
Sebaran tingkat pendidikan dari 25 responden yang
Cermin Dunia Kedokteran No. 156, 2007
138
Proporsi Gangguan Depresi pada Penyalahguna Zat
menderita gangguan depresi adalah sebagai berikut:
- dari 4 responden yang berpendidikan setingkat SLTP, 1
orang menderita depresi (25%).
- dari 42 responden yang berpendidikan setingkat
SLTA, 21 responden menderita gangguan depresi (50%).
- dari 6 responden yang berpendidikan setingkat akademi
atau perguruan tinggi, 3 responden menderita gangguan
depresi (50%).
DSM IV menyatakan bahwa prevalensi depresi tampaknya
tidak berhubungan dengan tingkat pendidikan
12
, hal ini juga
sesuai dengan pernyataan Greenfield et al
15
.
Hasil penelitian ini juga menyatakan bahwa secara
statistik tak terdapat perbedaan yang bermakna antara
berbagai tingkat pendidikan responden dengan
kemungkinan untuk menderita gangguan depresi.
STATUS PEKERJAAN
Sebaran berdasarkan status pekerjaan 25 responden
yang menderita gangguan depresi adalah sebagai berikut:
- dari 17 responden yang bekerja atau pernah bekerja
terdapat 7 responden (41,1%) yang menderita gangguan
depresi
-
dari 35 responden yang belum pernah bekerja terdapat
18 responden (51,4%) yang menderita gangguan depresi
Diasumsikan bahwa responden yang belum pernah bekerja
akan mempunyai kemungkinan yang lebih besar untuk
menderita depresi dibandingkan dengan yang sudah pernah
bekerja ataupun yang saat ini sudah bekerja.
Secara statistik hasil penelitian ini tak menyatakan
adanya perbedaan proporsi depresi yang bermakna antara
kedua kelompok. Lebih tingginya persentase responden
penderita depresi pada yang tidak atau belum pernah
bekerja sesuai dengan kepustakaan yang menyatakan bahwa
orang yang tidak bekerja mempunyai kemungkinan lebih besar
untuk menderita depresi.
STATUS PERNIKAHAN
Sebaran berdasarkan status pernikahan dari 25
responden yang menderita gangguan depresi adalah:
- dari 6 responden yang statusnya menikah, 4
responden (66,7%) menderita gangguan depresi
-
dari 3 responden dengan status telah bercerai, 1
responden (33,3%) menderita gangguan depresi
-
dari 43 responden yang tidak menikah, 20 responden
(46,5%) menderita gangguan depresi.
Hasil ini menunjukkan angka gangguan depresi
paling tinggi terdapat pada yang berstatus menikah,
selanjutnya menurun pada yang berstatus lajang/tidak
menikah dan paling rendah pada responden yang berstatus
cerai.
Peneliti sebelumnya menyatakan bahwa gangguan
depresi mayor paling sering ditemukan pada orang yang tak
mempunyai hubungan interpersonal yang akrab atau pada
orang yang telah bercerai
16
; angka depresi tertinggi ditemukan
pada orang yang telah bercerai/berpisah dan angka depresi
rendah pada orang yang berstatus menikah dan lajang
17
.
Penelitian mengenai karakteristik demografi, keluarga dan
pekerjaan yang dihubungkan dengan gangguan depresi
mendapatkan bahwa perempuan yang bercerai mempunyai
kemungkinan yang lebih besar untuk menderita gangguan
depresi
18
.
Ketidaksesuaian berupa tingginya angka depresi pada
responden yang berstatus menikah mungkin karena beban
tanggung jawab sebagai pasangan hidup dan mungkin juga
beban sebagai orangtua, pernikahan yang bermasalah karena
banyak penyalahguna zat menikah dengan sesama
penyalahguna, pasangan hidup responden ingin berpisah
dari responden atau dipisahkan dari responden oleh
orangtuanya. Lebih rendahnya angka depresi pada
responden yang berstatus cerai mungkin karena responden
yang bercerai berhasil keluar dari hubungan pernikahan
yang bermasalah, dan hal inipun diakui oleh responden yang
berstatus cerai.
LAMA MENJALANI REHABILITASI SAAT INI
Sebaran berdasarkan lamanya responden menjalani
program rehabilitasi saat ini adalah:
- dari 21 responden yang telah menjalani rehabilitasi 6
bulan atau lebih, 10 responden (47,6%) menderita
gangguan depresi
- dari 31 responden yang menjalani rehabilitasi
kurang dari 6 bulan, 15 responden (48,4%) menderita
gangguan depresi
Diasumsikan bahwa sebelum periode 6 bulan
responden masih harus berusaha menyesuaikan diri, sehingga
responden dengan lama rehabilitasi di bawah 6 bulan akan
lebih mungkin menderita depresi. Ada juga asumsi tambahan
bahwa rehabilitasi akan menjadi rumah kedua bagi para
penyalahguna zat sehingga setelah tinggal di pusat rehabilitasi
lebih dari 6 bulan maka responden sudah menganggap pusat
rehabilitasi menjadi rumahnya sendiri dan dapat
menjalankan kegiatannya dari pusat rehabilitasi. Tetapi hasil
penelitian ini menyatakan bahwa secara statistik tak terdapat
perbedaan proporsi penderita depresi yang bermakna
antara kedua kelompok.
Cermin Dunia Kedokteran No. 156, 2007 139
Proporsi Gangguan Depresi pada Penyalahguna Zat
MOTIVASI RESPONDEN UNTUK MENJALANI
REHABILITASI
Sebaran responden berdasarkan motivasi responden
untuk menjalani rehabilitasi adalah sebagai berikut:
-
dari 38 responden yang menjalani rehabilitasi atas
keinginan sendiri, 15 responden (39,4%) menderita
gangguan depresi
-
dari 14 responden yang menjalani rehabilitasi bukan
atas keinginannya sendiri, 10 responden (71,4%) menderita
gangguan depresi.
Diasumsikan bahwa responden yang atas keinginannya
sendiri menjalani rehabilitasi akan mempunyai kemungkinan
lebih kecil untuk menderita gangguan depresi. Belum ada
penelitian yang menyatakan adanya hubungan antara
motivasi untuk menjalani rehabilitasi dengan kemungkinan
terjadinya depresi.
Hasil penelitian ini menyatakan bahwa responden yang
menjalani rehabilitasi atas keinginannya sendiri mempunyai
proporsi depresi yang lebih rendah secara bermakna jika
dibandingkan dengan responden yang menjalani rehabilitasi
atas dorongan orang lain; jadi hasil penelitian ini sesuai
dengan asumsi. Kepustakaan menyatakan bahwa
penyalahguna zat yang tidak mempunyai motivasi sendiri
untuk menjalani rehabilitasi, apabila dipaksa ikut program
rehabilitasi tetap dapat memperoleh keuntungan dari
program rehabilitasi tersebut.
LAMA RESPONDEN MENYALAHGUNAKAN ZAT
Sebaran responden berdasarkan lamanya responden
menyalahgunakan zat adalah sebagai berikut:
- dari 8 responden dengan lama penyalahgunaan zat
kurang dari 5 tahun, 5 responden (62,5%) menderita
depresi
- dari 44 responden dengan lama penyalahgunaan
zat 5 tahun atau lebih, 20 responden (45,4%) menderita
depresi
Diasumsikan bahwa makin lama seseorang
menyalahgunakan zat, makin lama pula ia harus
menanggung segala masalah dan akibat dari kebiasaannya
tersebut sehingga akan makin mudah menderita gangguan
depresi. Pada penelitian ini tidak didapatkan perbedaan yang
bermakna secara statistik antara penyalahguna zat yang
kurang dari lima tahun dengan yang lebih dari lima tahun
dalam kaitannya dengan kemungkinan untuk menderita
gangguan depresi
FREKUENSI KEKAMBUHAN RESPONDEN
Sebaran responden berdasarkan kekerapan kekambuhan
responden adalah sebagai berikut:
- dari 21 responden yang mengalami kekambuhan kurang
dari 5 kali, 7 responden (33,3%) menderita gangguan
depresi
- dari 31 responden yang mengalami kekambuhan 5 kali
atau lebih, 18 responden (58,1%) menderita gangguan
depresi
Diasumsikan bahwa makin sering seseorang gagal
dalam perjuangannya mengatasi ketergantungannya
terhadap zat akan membuat orang tersebut makin rentan
untuk mengalami gangguan depresi.
Hasil penelitian ini menyatakan bahwa secara statistik tak
ada perbedaan proporsi yang bermakna antara kedua
kelompok responden dalam hal kemungkinan menderita
gangguan depresi meskipun persentase depresi di kalangan
responden yang mengalami kekambuhan 5 kali atau lebih,
lebih tinggi.
FREKUENSI REHABILITASI RESPONDEN
Sebaran responden berdasarkan kekerapan responden
menjalani rehabilitasi adalah sebagai berikut
- dari 36 responden yang menjalani rehabilitasi 2
kali, 18 responden (50%) menderita gangguan depresi
- dari 16 responden yang telah menjalani rehabilitasi > 2
kali, 7 responden (44%) menderita gangguan depresi
Diasumsikan bahwa makin sering seseorang harus
menjalani rehabilitasi dapat berdampak kepada kurangnya
kepercayaan bahwa program rehabilitasi dapat membantu
seorang penyalahguna zat untuk pulih dari ketergantungannya.
Selanjutnya penyalahguna zat akan merasa bahwa ia makin
tidak mempunyai kesempatan untuk pulih dari
ketergantungannya dan menjadi lebih rentan untuk menderita
depresi.
Pada penelitian ini secara statistik tak terbukti ada
perbedaan proporsi depresi pada responden yang telah
menjalani rehabilitasi > 2 kali dengan responden yang
menjalani rehabilitasi 2 kali. Mungkin hal ini karena
masyarakat Indonesia masih banyak percaya dengan
pengobatan di luar kedokteran modern, dan cukup banyak
tersedia pelayanan pemulihan ketergantungan zat yang
bersifat religius ataupun berbagai macam metode alternatif.
STATUS HIV
Sebaran responden berdasarkan status HIV responden
adalah sebagai berikut:
- dari 31 responden yang tidak terinfeksi HIV, 18
responden (58,1%) menderita gangguan depresi
Cermin Dunia Kedokteran No. 156, 2007
140
Proporsi Gangguan Depresi pada Penyalahguna Zat
- dari 21 responden yang terinfeksi HIV, 7 responden
(33,3%) menderita gangguan depresi
Data
HIV/AIDS
Mental Health Services
Demonstration Program (MHSDP) menunjukkan angka
depresi sebesar 60%
19
, sedangkan American Psychiatric
Association (APA) mencatat antara 25-35% penderita
HIV/AIDS mengalami gangguan depresi mayor
20
.
Pada penelitian ini 33,3% responden yang terinfeksi HIV
menderita depresi, sedangkan penderita infeksi HIV yang
menderita gangguan depresi mayor adalah sebanyak 6
responden (28,6%). Hasil ini cukup sesuai dengan data APA.
STATUS HEPATITIS C
Sebaran responden berdasarkan status Hepatitis C
adalah sebagai berikut:
- dari 19 responden yang tidak terinfeksi Hepatitis C, 11
responden (57,9%) menderita gangguan depresi
- dari 33 responden yang terinfeksi Hepatitis C, 14
responden (42,4%) menderita gangguan depresi
Crone et al menyatakan bahwa angka depresi pada
responden yang menderita infeksi hepatitis C adalah 62%
21
.
Lebih rendahnya angka depresi pada penelitian ini
mungkin karena perbedaan setting penelitian. Dalam
setting rehabilitasi penderita mendapatkan terapi tambahan
yaitu terapi kelompok dan lingkungan yang bersifat suportif
terhadap dirinya.
SIMPULAN
1. Proporsi gangguan depresi pada penyalahguna zat yang
sedang menjalani rehabilitasi di RS Marzoeki Mahdi
adalah 48,1%
2. Analisis statistik tak menemukan perbedaan proporsi
yang bermakna antara variabel dependen dalam hal ini
depresi dengan variabel independen yang diteliti yaitu :
umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, status pekerjaan,
status pernikahan, lama responden menjalani rehabilitasi, lama
responden menyalahgunakan zat, frekuensi kekambuhan,
frekuensi rehabilitasi, status HIV, status hepatitis C.
3. Perbedaan proporsi depresi yang secara statistik bermakna
terdapat pada satu variabel yaitu motivasi responden
menjalani rehabilitasi.
KEPUSTAKAAN
1. Kaplan HI, Sadock BJ. Substance Related Disorder. Dalam:
Synopsis of Psychiatry. Ed 8. Baltimore: Williams & Wilkins,
1998;375-391
2.
Institute of Medicine. Broadening the Base of Treatment for Alcohol
Problems. Washington DC: National Academy Press, 1990
3.
Annual Medical Examiner Data 1990: Data from the Drug Abuse
Warning Network (DAWN) Statistical Series:series 1, number 10-B,
DHHS Publication (ADM) 91-1840. Rockville,Md, US Department of
Health and Human Services, National Institute on Drug Abuse, 1991.
4. US Centers for Disease Control: Alcohol related mortality and
years of potential lost. United States,1987. Morbidity Mortality Weekly
Report 1990;39:173-177.
5.
Doweiko HE. The Dual Diagnosis Client: Chemical Addiction and
Mental Illness. Dalam: Doweiko HE. Concepts of Chemical
Dependency. Edisi ke-5. Sydney:Brooks and Cole, 1999;271-282.
6. Brady KT, Halligan P, Malcolm RJ. Dual Diagnosis. Dalam:
Galanter M, Kleber HD, penyunting. Textbook of Substance Abuse
Treatment. Ed. 2. Washington DC: American Psychiatric Press, 1999;
475-481.
7. Simkin DR. Adolescent Substance Use Disorders and Comorbidity.
Pediatr. Clin. North Am. 2002;'49: 1-14.
8. Bukstein OG, Glancy LJ, Kaminer Y. Patterns of Affective
Comorbidity in a Clinical Population of Dually Diagnosed Adolescent
Substance Abusers. J. Am. Acad. Child Adolescent Psychiatry 1992; 31:
1041-1045.
9.
Deykin EY, Buka SL, Zeena TH. Depressive Illness Among Chemically
Dependent Adolescents. Am J Psychiatr. 1992; 149:1341-1347.
10. Khantzian E. The self-medication hypothesis on addictive disorders :
Focus on heroin and cocaine dependence. Am J Psychiatr.. 1985;
142:1259-1264.
11. Doweiko HE. What do we mean when we say substance abuse and
addiction. Dalam: Doweiko HE. Concepts of Chemical Dependency.
Edisi ke-5. Sydney:Brooks and Cole, 1999; 11-14.
12. American Psychiatry Association. Diagnostic and Statistical Manual of
Mental Disorders, 4* ed (DSM IV). Washington DC, American
Psychiatric Association,1994.
13. Allen CA, Cooke DJ. Stressfull life events and alcohol misuse in
women: a critical review. J Stud Alcohol 1985; 46:147-152.
14. National Household Survey on Drug Abuse: Main Findings, 1992.
Washington, DC, US Department of Health and Human Services, 1992.
15. Greenfield SF, Sugarman DE, Muenz LR, Patterson MD, He DY,
Weiss RD. The Relationship between Educational Attainment and
Relapse among Alcohol Dependent Men and Women : A Prospective
Study. Alcoholism: Clinical and Experimental Research 2003;27:1278-
1285.
16. Kaplan HI, Sadock BJ. Mood Disorder. Dalam: Synopsis of
Psychiatry. Ed. 8 Baltimore: Williams & Wilkins, 1998:524-580.
17. Blazer DG. Mood Disorders : Epidemiology. Dalam: Comprehensive
Textbook of Psychiatry. ed. 7. Philadelphia: Lippincott Williams and
Wilkins, 2000; 1298-1308.
18. Harlow BS, Cohen LS, Otto MW, Liberman RF, Spiegelman D, Cramer
DW. Demographic, Family and Occupational Characteristics
Associated with Major Depression: The Harvard Study of Mood
and Cycles. Acta Psychiatr. Scand. 2002;105:209-217.
19. Grant I. Neuropsychiatric Aspect of HIV Infections and AIDS.
Dalam: Comprehensive Textbook of Psychiatry. Edisi ke-1.
Philadelphia:Lippincott Williams and Wilkins, 2000; 1298-1308.
20. American Journal of Psychiatry Suppl. 157 HIV/AIDS. November 2000.
21. Crone C, Gabriel GM. Comprehensive Review of Hepatitis C for
Psychiatrist: Risk, Screening, Diagnosis, Treatment, and Interferon-
Based Therapy Complications. J. Psychiatr. Practice 2003;9:93-110.
Cermin Dunia Kedokteran No. 156, 2007 141
Proporsi Gangguan Depresi pada Penyalahguna Zat
Tabel 3. Analisa Bivariat
VARIABEL KET.
DEPRESI
TIDAK
DEPRESI
TOTAL X
2
P HASIL
UMUR UU> 25
< 25
TOTAL
16
9
25
18
9
27
34
18
52
0,041 0,840
Tak
bermakna
KELAMIN Perempuan
Laki-Laki
Total
7
18
25
3
24
27
10
42
52
2,429 0,119
Tak
bermakna
PENDIDIKAN SLTP
SLTA
Tinggi
TOTAL
1
21
3
25
3
21
3
27
4
42
6
52
0,970 0,616
Tak
bermakna
PERNIKAHAN Lajang
Menikah
Ceria
TOTAL
20
4
1
25
23
2
2
27
43
6
3
52
1,152 0,562
Tak
bermakna
PEKERJAAN Tak
Bekerja
Bekerja
TOTAL
18
7
25
17
10
27
35
17
52
0,484 0,487
Tak
bermakna
LAMA
REHABILITASI
< 6 Bulan
> 6 Bulan
TOTAL
15
10
25
16
11
27
31
21
52
0,003 0,957
Tak
bermakna
MOTIVASI
REHABILITASI
Orang Lain
Sendiri
TOTAL
10
15
25
4
23
27
14
38
52
4,277
0,039 Bermakna
LAMA PAKAI
> 5 tahun
< 5 tahun
TOTAL
20
5
25
24
3
27
44
8
52
0,793 0,373
Tak
bermakna
FREKUENSI
KAMBUH
> 5 tahun
< 5 tahun
TOTAL
20
5
25
13
14
27
31
21
52
3,112 0,078
Tak
bermakna
FREKUENSI
REHABILITASI
< 2 bulan
> 2 bulan
TOTAL
18
7
25
9
18
27
16
36
52
0,174 0,677
Tak
bermakna
STATUS HIV
Positif
Negatif
TOTAL
7
18
25
14
13
27
21
31
52
3,112 0,078
Tak
bermakna
STATUS
HEPATITIS
Positif
Negatif
TOTAL
14
11
25
19
8
27
33
19
52
1,159 0,282
Tak
bermakna
Good and evil are names that signify
our appetites and aversions
(Hobbes)
Cermin Dunia Kedokteran No. 156, 2007
142
Document Outline