Hubungan Gangguan Depresi Ibu dengan Gangguan Mental Anak
HASIL PENELITIAN
Hubungan antara
Gangguan Depresi Ibu
dengan Gangguan Mental Anaknya
yang Berusia 12-47 Bulan
dan Menderita Talasemia
Peony Suprianto, Lukas Mangindaan*, Irawati Marsubrin Ismail*, Iwan Ariawan**
PPDS,* Departemen Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/ RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo
** Fakultas Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Jakarta, Indonesia
ABSTRAK
Tujuan : Untuk mendapatkan hubungan antara gangguan depresi ibu dengan gangguan
mental pada anaknya yang berusia 12-47 bulan dan menderita Talasemia. Metode : Penelitian ini
merupakan penelitian potong lintang. Structured Clinical Interview for DSM-IV Axis I
Disorders (SCID-I) Versi Bahasa Indonesia digunakan untuk menentukan ada atau tidak adanya
gangguan depresi dari 68 ibu dari anak yang berusia 12-47 bulan dan menderita Talasemia. Pada
68 anak dari 68 ibu tersebut dilakukan pemeriksaan klinis psikiatrik berpedoman pada kriteria
diagnostik dari Diagnostic of Mental Health and Developmental Disorders of Infancy and Early
Childhood (DC: 0-3) untuk menentukan ada atau tidak adanya gangguan mental. Hasil : Anak dari
ibu yang menderita gangguan depresi 3,6 kali kemungkinannya untuk menderita gangguan
mental dibandingkan dengan anak dari ibu yang tidak menderita gangguan depresi. Anak yang
berusia > 18-47 bulan; 0,06 kali kemungkinannya untuk menderita gangguan mental
dibandingkan dengan anak yang berusia 12-18 bulan. Anak yang lama sakit Talasemianya >12
bulan; 0,14 kali kemungkinannya untuk menderita gangguan mental dibandingkan dengan anak
yang lama sakitnya <12 bulan.
Simpulan : Gangguan depresi ibu merupakan faktor kontribusi bermakna terhadap
timbulnya gangguan mental pada anak yang berusia 12-47 bulan dan menderita Talasemia.
Makin besar usia anak dan makin lama sakit Talasemia merupakan faktor protektif.
Kata Kunci: Anak Talasemia, gangguan depresi, gangguan mental.
PENDAHULUAN
Penyakit Talasemia Mayor (selanjutnya disebut Talasemia
saja) merupakan salah satu penyakit herediter yang diturunkan
menurut Hukum Mendel. Penyakit ini merupakan penyakit
genetik yang paling sering ditemukan di dunia. Tidak kurang
dari 250 juta penduduk dunia merupakan pembawa sifat
Talasemia, dan setiap tahun dilahirkan 300.000 bayi dengan
Talasemia.
1
Terapi kausal untuk Talasemia belum ditemukan,
sehingga pasien hanya mendapat terapi simtomatis. Terapi
Cermin Dunia Kedokteran No. 156, 2007
124
Hubungan Gangguan Depresi Ibu dengan Gangguan Mental Anak
simtomatis untuk Talasemia terdiri dari transfusi darah
periodik dan terapi khelasi untuk membuang kelebihan zat
besi (Fe) dari tubuh pasien.
2
Humris-Pleyte dalam penelitiannya menemukan bahwa dari
192 kasus Talasemia yang diteliti; 59,4 % kasus diagnosisnya
ditegakkan sebelum anak berusia 1 tahun, 33,3 % kasus pada saat
anak berusia 1-2 tahun, dan 7,3 % kasus diagnosisnya
ditegakkan pada waktu anak berusia 2-4 tahun.
3
Dari populasi
tersebut ditemukan 36,1% dari 108 ibu, dan 32,7 % dari 104
ayah yang diperiksa menderita gangguan mental; juga
ditemukan hubungan antara gangguan mental ibu dengan
gangguan mental anaknya, tetapi tidak ada hubungan antara
gangguan mental ayah dengan gangguan mental anaknya.
3
Lebih dari 90 % kasus Talasemia, diagnosisnya ditegakkan
sebelum anak berusia 2 tahun. Pada masa bayi dan kanak awal
terjadi hubungan ibu-anak yang khas, yang pertama kali
dikenalkan oleh Bowlby dengan teori kelekatan (attachment)
Menurut Erikson, perkembangan seorang anak adalah hasil
interaksi antara anak dan lingkungannya (nature dan nurture)
1
Pada usia 12-47 bulan, anak sangat membutuhkan bantuan dari
lingkungannya untuk berkembang. Tokoh utama dari
lingkungan adalah orangtua, khususnya ibu. Apabila ibu
menderita gangguan depresi, proses perkembangan anak mungkin
akan mengalami gangguan.
Belum ada penelitian yang meneliti hubungan antara
gangguan depresi pada ibu dengan gangguan mental pada
anaknya yang berusia 12-47 bulan dan menderita Talasemia.
Sehingga peneliti berminat untuk melakukan suatu penelitian
tentang hubungan antara gangguan depresi pada ibu dengan
gangguan mental pada anaknya yang berusia 12-47 bulan dan
menderita Talasemia.
METODE
Penelitian ini merupakan penelitian potong lintang dan
bersifat deskriptif analitik.
6
Lokasi penelitian di Unit Talasemia, Departemen Ilmu
Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia/Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Cipto
Mangunkusumo Jakarta, dilakukan pada bulan Oktober 2003
sampai dengan Maret 2004.
Populasi terjangkau penelitian ini adalah ibu dari anak
yang berusia 12-47 bulan dan menderita Talasemia yang
terdaftar di Unit Talasemia Bagian Ilmu Kesehatan Anak
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/Rumah Sakit
Umum Pusat Nasional Cipto Mangunkusumo Jakarta, beserta
dengan anak tersebut. Sampel yang dikehendaki dipilih dari
populasi terjangkau dengan cara consecutive sampling
7
. Besar
sampel adalah 68 ibu dari anak yang berusia 12-47 bulan dan
menderita Talasemia beserta dengan 68 anak tersebut.
Sampel anak merupakan penderita Talasemia yang berusia
antara 12-47 bulan, baik laki-laki maupun perempuan,
dibesarkan oleh ayah dan ibu kandung yang masih hidup dan
masih tinggal bersama dalam ikatan perkawinan, dan diperiksa
sesudah menerima transfusi darah, serta tidak sedang
menderita keadaan organik akut yang berat, misalnya demam
tinggi atau kesadaran menurun.
Sampel ibu merupakan ibu kandung dari sampel anak,
pendidikan minimal tamat Sekolah Dasar, dan bersedia
mengikuti penelitian dengan menandatangani Informed
Consent, serta tidak menderita penyakit fisik berat dan
skizofrenia atau gangguan psikotik lainnya.
KERANGKA KERJA
Peneliti melakukan seleksi terhadap ibu dari anak yang
berusia 12-47 bulan dan menderita Talasemia, yang datang
untuk berobat maupun kontrol di Unit Talasemia Bagian
Ilmu Kesehatan Anak FKUI/RSCM, yaitu menilai apakah
ibu dan anaknya tersebut memenuhi kriteria inklusi dan
eksklusi. Bila ibu dan anaknya tersebut memenuhi kriteria
inklusi dan eksklusi, maka mereka menjadi sampel penelitian.
Peneliti menjelaskan kepada sampel tentang maksud dan
tujuan penelitian. Bila sampel menyetujui untuk ikut serta
dalam penelitian, maka dilanjutkan dengan penandatanganan
Informed Consent. Setelah itu dilanjutkan dengan pengisian
kuesioner, wawancara terstruktur, dan pemeriksaan klinis
psikiatrik.
Pengisian kuesioner biodata dan wawancara terstruktur
pada ibu dilakukan setelah anak selesai menerima transfusi
darah. Sebagian besar anak akan mendapatkan transfusi darah
selama 2 hari. Selama 2 hari transfusi tersebut, peneliti
berusaha mendekati ibu dan anak untuk membina rapport.
Data demografi yang diambil adalah identitas anak (nama,
usia, jenis kelamin, suku, agama, umur diagnosis, dan lama
sakit) dan identitas ibu (nama, usia, pendidikan,
pekerjaan, dan sosial ekonomi keluarga). Setelah itu
dilanjutkan dengan wawancara terstruktur dengan instrumen
SCID-f untuk menyingkirkan skizofrenia dan gangguan
psikotik lainnya. Kemudian dilakukan wawancara terstruktur
dengan SCID-I untuk menegakkan diagnosis gangguan depresi.
Kepada ibu juga ditanyakan riwayat psikiatrik dari anaknya
(keluhan utama, riwayat gangguan psikiatrik, gangguan medik,
kehamilan, persalinan, tumbuh kembang, keluarga, dan riwayat
kehidupan sekarang).
Setelah anak selesai mendapatkan transfusi, peneliti
melakukan pemeriksaan klinis psikiatri pada anak dengan
berpedoman pada DC:0-3
9
Hasil pemeriksaan yang
Cermin Dunia Kedokteran No. 156, 2007 125
Hubungan Gangguan Depresi Ibu dengan Gangguan Mental Anak
dikumpulkan adalah deskripsi umum (penampilan, kesadaran,
perilaku, sikap), interaksi orangtua-anak, perpisahan dan
penyatuan kembali, orientasi, pembicaraan, mood, bermain,
dan perkiraan intelektual. Dari hasil pemeriksaan psikiatrik
ini dapat disimpulkan ada atau tidak ada gangguan mental
dan apa jenis gangguan mental tersebut.
Pada 7 sampel anak yang sudah diperiksa oleh peneliti,
diajak ke poliklinik psikiatri di bagian IKA RSCM untuk
menjalani pemeriksaan psikiatrik berpedoman DC: 0-3 oleh
psikiater yang sedang mengikuti fellowship Psikiatri Anak.
PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA
Data dikumpulkan dan kemudian ditabulasi dan diolah.
Analisis statistik menggunakan chi-square.
HASIL PENELITIAN
Sampel anak berusia rata-rata 32 ± 10 bulan (rentang, 13-
47 bulan). Sampel ibu rata-rata berusia 29,29 ± 6,6 tahun
(rentang, 18-48 tahun). Karakteristik lain dapat dilihat dalam
Tabel 1 dan Tabel 2.
Tabel 1. Distribusi Frekuensi Sampel Anak
Karakteristik
n = 68
%
Jenis Kelamin
Laki-Laki
Perempuan
35
33
51,5
48,5
Usia Anak
12 18 bulan
> 18 47 bulan
8
60
11,8
88,2
Suku
Sunda
Betawi
Jawa
Minang
Tionghoa
Lain-Lain
25
20
15
1
4
3
36,7
29,4
22,1
1,5
5,9
4,4
Agama
Islam
Kristen/Katolik
Budha
64
3
1
94,1
4,4
1,5
Usia Diagnosis
< 24 bulan
> 24 bulan
60
8
88,2
11,8
Lama Sakit
< 12 bulan
> 12 bulan
17
51
25,0
75,0
Pada penelitian ini didapatkan lebih banyak sampel anak
yang tidak mengalami gangguan mental (77,9 %). Jenis
gangguan depresi pada ibu sebagian besar adalah episode
depresi berat masa sebelumnya (94,1 %). Jenis gangguan
mental pada anak semuanya adalah gangguan penyesuaian.
Dari analisis bivariat didapatkan hasil yang bermakna (p
< 0,05) pada hubungan antara gangguan depresi pada ibu dan
gangguan mental pada anak, kelompok usia anak dengan
gangguan mental pada anak, dan lama sakit Talasemia
dengan gangguan mental pada anak. (Tabel 3)
Tabel 2. Distribusi Frekuensi Sampel Ibu dan Pengeluaran/Orang/-Bulan
Karakteristik
n = 68
%
Usia Ibu
18-40 tahun
> 40 tahun
64
4
94,1
5,9
Pendidikan Ibu
Rendah
Sedang
38
30
55,9
44,1
Pengeluaran/ Orang/Bulan
< 160.748
> 160.748
5
63
7,4
92,6
PEMBAHASAN
Penelitian ini membuktikan adanya hubungan antara
gangguan depresi ibu dengan gangguan mental pada anaknya
yang berusia 12-47 bulan dan menderita Talasemia (p 0,048).
Selain itu, pada Tabel 3 dapat dilihat pula variabel-variabel
yang memiliki nilai p yang bermakna, yaitu usia anak (0,002),
dan lama sakit (0,002).
Dari hasil analisis chi-square terlihat bahwa anak dari ibu
yang menderita gangguan depresi 3,6 kali lebih besar
kemungkinannya untuk menderita gangguan mental
dibandingkan dengan anak dari ibu yang tidak menderita
gangguan depresi. Hasil ini sesuai dengan penelitian
Humris-Pleyte pada 192 penderita Talasemia yang berusia 1-
17 tahun; salah satu hasilnya adalah apabila ibu menderita
gangguan jiwa maka risiko anaknya menderita gangguan jiwa
adalah 2,96 kali.
3
Weissman dkk, (dikutip oleh Pound),
meneliti 125 anak berusia 6-23 tahun dari orangtua depresi
menemukan bahwa anak-anak dari orangtua yang depresi
mempunyai risiko 1,6 kali untuk menderita depresi berat
semasa hidup dan beberapa kali untuk menyalahgunakan zat
psikoaktif dibanding kontrol.
10
Menurut Erikson, perkembangan seorang anak adalah
hasil interaksi antara anak dengan lingkungannya. Tokoh
utama dari lingkungan pada masa bayi dan kanak awal adalah
ibu. Apabila seorang ibu menderita gangguan depresi, maka
proses perkembangan anak akan terganggu. Tidak semua anak
dari ibu dengan gangguan depresi menderita gangguan mental.
Pada penelitian ini semua ibu mendapat bantuan dari orang
lain (ibu, ibu mertua, tante, kakak, adik, pembantu, baby
Cermin Dunia Kedokteran No. 156, 2007
126
Hubungan Gangguan Depresi Ibu dengan Gangguan Mental Anak
sitter, dan lain-lain) untuk mengasuh anaknya, saat ibu
tersebut menderita gangguan depresi. Orang yang
membantu pengasuhan anak saat ibu menderita depresi itulah
yang berperan sebagai figur ibu, sehingga anak tetap dapat
berkembang dengan baik.
4
Walaupun demikian, anak dari
ibu depresi lebih rentan terhadap gangguan pada
perkembangannya. Anak yang berusia > 18-47 bulan 0,06 kali
lebih kecil kemungkinannya untuk menderita gangguan
mental dibandingkan dengan anak yang berusia 12-18
bulan. Jadi usia yang makin besar merupakan faktor
protektif untuk terjadinya gangguan mental pada anak.
Hasil ini berbeda dengan penelitian terdahulu yang tidak
menemukan perbedaan bermakna dengan terdapatnya
gangguan mental pada ketiga fase perkembangan yang
diteliti (1-5 tahun, 6-10 tahun, dan 11-17 tahun).
3
Perbedaan ini mungkin karena pada penelitian Humris-Pleyte
tersebut kelompok usia 1-5 tahun disatukan, sedangkan tugas
perkembangan antara anak usia 0-18 bulan dan anak yang lebih
besar berbeda. Menurut Erikson, pada usia 0-18 bulan anak
berada dalam fase basic trust vs mistrust, dan pada usia 18-
36 bulan anak berada dalam fase autonomy vs shame and
doubt. Tugas dan kebutuhan perkembangan pada kedua
fase tersebut berbeda, sehingga gangguan perkembangan
yang terjadi mungkin akan berbeda pula.
Anak yang lama sakit Talasemianya >12 bulan 0,14 kali
lebih kecil kemungkinannya untuk menderita gangguan mental
dibandingkan dengan anak yang lama sakitnya 12 bulan.
Jadi lama sakit >12 bulan merupakan faktor protektif untuk
terjadinya gangguan mental pada anak. Hasil ini sesuai
dengan penelitian atas 92 anak usia sekolah dengan diabetes
melitus, 38 anak mengalami gangguan psikiatrik sebagai
respons dari diagnosis diabetes melitus tergantung insulin.
Dari 38 anak tersebut, 33 anak (87 %) mengalami gangguan
penyesuaian, semuanya sembuh paling lama setelah 247 hari
(rerata 92 hari, rentang 7-247 hari).
13
Seluruh gangguan mental
yang ditemukan pada penelitian ini adalah gangguan
penyesuaian. Gangguan penyesuaian adalah reaksi maladaptif
jangka pendek terhadap stresor psikososial, dalam hal ini
penyakit Talasemia. Gangguan penyesuaian diharapkan sembuh
spontan segera setelah stresor dihilangkan atau, jika stresor
menetap, setelah tercapai tingkat adaptasi yang baru.
Jenis gangguan depresi pada ibu sebagian besar adalah
episode depresi berat masa sebelumnya (94,1 %). Reaksi
orangtua apabila anak yang tadinya sehat kemudian menderita
suatu penyakit kronis menurut Graham adalah melalui fase-
fase kejutan, penyangkalan, kemarahan, depresi, dan
penerimaan.
12
Sebagian besar ibu yang berada pada fase
depresi menunjukkan gejala yang memenuhi kriteria episode
depresi berat masa sebelumnya menurut SCID-l, walaupun
demikian sebagian besar ibu-ibu tersebut mampu melewati
fase depresi dan akhirnya menerima keadaan anaknya yang
menderita Talasemia. Hanya 5,9 % dari ibu-ibu tersebut yang
masih tetap berada dalam fase depresi (memenuhi kriteria
gangguan distimik).
Walaupun ibu-ibu itu memenuhi kriteria diagnostik
episode depresi berat masa sebelumnya, tetapi pada ibu-ibu itu
juga dipikirkan diagnosis banding gangguan penyesuaian,
mengingat gejala-gejala tersebut timbul setelah stresor yang
jelas dan sembuh sendiri setelah 4-6 bulan. Gejala-gejala
tersebut berangsur berkurang sejak mereka menjalankan
pengobatan untuk anaknya di Unit Talasemia bagian IKA
RSCM, ketika mereka melihat bahwa jumlah penderita Tala-
semia ternyata banyak, dan juga karena hiburan dan dorongan
dari keluarga yang mengantar pasien-pasien tersebut, Sampel
anak lebih sedikit mengalami gangguan mental (22,1 %). Hasil
ini sesuai dengan penelitian Humris-Pleyte, bahwa penderita
Talasemia yang berusia 1-5 tahun lebih sedikit mengalami
gangguan jiwa (33,8 %).
3
Juga sesuai dengan penelitian Keren
dkk. pada 113 anak yang dirujuk ke klinik kesehatan
mental dan dibandingkan dengan 30 anak yang tidak dirujuk,
yaitu sebesar 18 %.
14
Jenis gangguan mental pada penelitian ini semuanya adalah
gangguan penyesuaian. Hasil ini sesuai dengan hasil
penelitian atas 92 anak usia sekolah dengan diabetes melitus,
yaitu 38 anak mengalami gangguan psikiatrik sebagai respons
dari diagnosis diabetes melitus tergantung insulin. Dari 38
anak tersebut, 33 anak (87 %) mengalami gangguan
penyesuaian
13
.
Perbedaannya mungkin karena usia sampel dan jenis
penyakit fisik yang berbeda. Jenis gangguan mental pada
penelitian ini berbeda dengan hasil penelitian Keren,
Feldman, dan Tyano yang distribusi diagnosisnya adalah
gangguan perilaku makan (30 %), gangguan penyesuaian (24
%), gangguan perilaku tidur (19 %), gangguan perlekatan (9
%), gangguan afek (7 %), perilaku menentang/agresi (7 %),
gangguan regulasi (3 %), dan gangguan stres traumatik (2 %).
14
Hal
ini mungkin disebabkan adanya perbedaan masalah anak.
Pada penelitian ini masalahnya adalah anak yang menderita
Talasemia dan setiap bulan mendapatkan terapi yang
menyakitkan (disuntik beberapa kali setiap bulan untuk
periksa darah, transfusi darah). Pada penelitian Keren,
Feldman dan Tyano terdapat 5 alasan utama untuk merujuk
anak ke klinik kesehatan mental, yaitu : masalah makan (27
%), masalah tidur (19 %), perilaku agresif (18 %), iritabilitas
(15 %), dan depresi pada ibu (8 %).
14
Inter-rater reliability test dilakukan terhadap 7 sampel
Cermin Dunia Kedokteran No. 156, 2007 127
Hubungan Gangguan Depresi Ibu dengan Gangguan Mental Anak
anak oleh seorang psikiater yang sedang mengikuti fellowship
di Bagian Psikiatri Anak FKU1/RSCM. Hasil inter-rater
reliability test pada 7 sampel menunjukkan nilai kappa-nya.
0,85. Reliabilitas pengukuran gangguan mental pada
penelitian ini baik.
KETERBATASAN
1. Sampel diambil dengan metode nonprobabilitas. Usaha
untuk mengatasi keterbatasan ini adalah dengan memilih
metode sampling non probabilitas yang terbaik, yaitu
consecutive sampling .
2. Salah satu instrumen yang digunakan adalah DC:0-3
yang merupakan klasifikasi diagnostik deskriptif dari
gangguan mental. Usaha untuk mengatasi keterbatasan ini
adalah dengan melakukan inter-rater reliability test.
3. Terdapat faktor-faktor lain yang tidak diteliti (misalnya
faktor perkembangan anak, temperamen anak,
neurokimiawi, genetik, komplikasi saat hamil, hubungan
ibu anak,pola asuh, gangguan keseimbangan keluarga,
dan talasemia) karena keterbatasan peneliti.
SIMPULAN DAN SARAN
Penelitian ini menemukan adanya hubungan antara
gangguan depresi pada ibu dengan gangguan mental pada
anaknya yang berusia 12-47 bulan dan menderita Talasemia.
Dari hasil analisis chi-square ditemukan bahwa anak dari ibu
yang menderita gangguan depresi 3,6 kali lebih besar
kemungkinannya untuk menderita gangguan mental
dibandingkan dengan anak dari ibu yang tidak menderita
gangguan depresi. Anak yang berusia > 18-47 bulan 0,06 kali
lebih kecil kemungkinannya untuk menderita gangguan
mental dibandingkan dengan anak yang berusia 12-18 bulan.
Anak yang lama sakit Talasemianya >12 bulan 0,14 kali lebih
kecil kemungkinannya untuk menderita gangguan mental
dibandingkan dengan anak yang lama sakitnya sampai dengan
12 bulan.
Jadi usia anak yang makin besar dan lama sakit Talasemia
yang makin lama merupakan faktor protekiif untuk terjadinya
gangguan mental pada anak.
Disarankan untuk melakukan penelitian lanjutan dengan
desain berbeda atau variabel yang belum diteliti. Juga perlu
melibatkan psikiater dalam penatalaksanaan pasien Talasemia
sejak awal {Consultation Liaison Psychiatry). Kegiatan yang
dapat dilakukan adalah mendampingi, memberikan konsultasi
atau psikoterapi, dan farmakoterapi jika perlu kepada keluarga
pasien Talasemia, khususnya ibu dan anak penderita
Talasemia; sehingga akhirnya mereka dapat menerima
keadaan tersebut.
KEPUSTAKAAN
1. Cooley's Anemia Progress Review Committee. Cooley's Anemia :
Progress in Biology and Medicine. Bethesda, 1995.
2.
Sub-bagian Hematologi Bagian IKA FKUI/RSCM. Petunjuk Diagnosis
dan Tatalaksana Kasus Talasemia. Jakarta: 1997.
3.
Humris-Pleyte. Penyakit Talasemia Mayor sebagai Faktor Pencetus
Psikopatologi pada Anak dan Orang-tuanya. Tesis diajukan untuk
mendapat gelar Doktor dalam Ilmu Kedokteran pada Universitas
Indonesia. Jakarta: 2001.
4.
Bowlby J. Attachment and Loss, Vol. I. Great Britain : Hazell Watson &
Viney Ltd. 1981;221-57.
5.
Prasetyo Y. Perkembangan Jiwa Anak. Dalam: Humris-Pleyte, Prasetyo
Y, Darmabrata W, penyunting. Simposium Masalah Kejiwaan pada
Proses Tumbuh Kembang Anak. Jakarta : PD Sistimatis, 1983; 1-36.
6.
Ghazali MV dkk. Studi Cross Sectional. Dalam: Sastroasmoro S, Ismael
S, penyunting. Dasar-dasar Metodologi Penelitian Klinis. Jakarta :
Binarupa Aksara, 1995; 66-76.
7.
Talogo RW. Sampel. Dalam: Tjokronegoro A, Sudarsono S, penyunting.
Metodologi Penelitian Bidang Kedokteran. Jakarta : Balai Penerbit
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 1999; 127 - 34.
8. Grup Genetik Bagian Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia. Structured Clinical Interview For DSM-IV Axis I Disorders
Versi Bahasa Indonesia V.I.01. Jakarta: 2000.
9. Zero to Three. National Center for Infants, Toddlers, and Families.
Diagnostic Classification: 0-3. Diagnostic Classification of Mental
Health and Developmental Disorders of Infancy and Early Childhood.
Washington DC; 1999.
10. Pound A. Parental Affective Disorder and Childhood Disturbance.
Dalam : Gopfert M, Webster J, Seeman MV, penyunting. Parental
Psychiatric Disorder: Distressed Parents and Their Families. Cambridge
: Cambridge University Press, 1996; 2018.
11. Erikson EH. Identity : Youth and Crisis. New York : WW Norton &
Company; 1968.
12. Graham P. Child Psychiatry A Developmental Approach. Oxford:
Oxford University Press, 1986;110-5.
13. Kovacs M, Ho V, Pollock MH.Criterion and Predictive Validity of the
Diagnosis of Adjustment Disorder : A Prospective Study of Youths with
New-Onset Insulin Dependent Diabetes Mellitus. Am J Psychiatry
152;4:523-8.
14. Keren M, Feldman R, Tyano S. Diagnoses and Interactive Patterns of
Infants Referred to a Community-Based Infant Mental Health Clinic. J
Am Acad Child Adolesc Psychiatry 40 : 72-82.
15. Tumbelaka AR, dkk. Pengukuran. .Dalam : Sastroasmoro S, Ismael S,
penyunting. Dasar-dasar Metodologi Penelitian Klinis. Jakarta: Binarupa
Aksara, 1995;27-41.
Cermin Dunia Kedokteran No. 156, 2007
128
Hubungan Gangguan Depresi Ibu dengan Gangguan Mental Anak
Tabel 3. Hubungan antara Variabel Bebas dengan Gangguan Mental pada Anak
Gangguan Mental Pada Anak
Variabel bebas
Tidak Ada
(n=53)
%
Ada
(n=15)
% Total
Nilai P
OR
95 % CI
Gangguan Depresi Ibu
Tidak Ada
Ada
30
23
88,2
67,6
4
11
11,8
32,4
34
34
0,048
1,000
3,587
1,011;12,731
Usia Anak
12 18 bulan
>18 47 bulan
2
51
25,0
85,0
6
9
75,0
15,0
8
60
0,002
1,000
0,059
0,010; 0,339
Lama Sakit Talesemia
< 12 bulan
> 12 bulan
9
44
53,0
86,3
8
7
47,0
13,7
17
51
0,002
1,000
0,136
0,039; 0,480
Jenis Kelamin
Laki Laki
Perempuan
25
28
71,4
84,8
10
5
47,0
13,7
35
33
0,188
1,000
0,446
0,134; 1,484
Saat Diagnosis Talasemia
< 24 bulan
> 24 bulan
46
7
76,6
87,5
14
1
28,6
15,2
60
8
0,658
1,000
0,824
0,349;1,944
Usia Ibu
18 - < 40 tahun
> 40 tahun
48
5
76,2
100,0
15
0
23,4
12,5
63
5
0,999
Pendidikan Ibu
Rendah
Sedang - Tinggi
29
24
76,3
80,0
9
6
23,7
20,0
38
30
0,716
1,000
0,806
0,251;2,585
Pekerjaan Ibu
Bekerja
Tidak Bekerja
14
39
93,3
73,6
1
14
6,7
26,4
15
53
0,135
1,000
0,199
0,024;1,656
Sosial Ekonomi Keluarga
>160.748
< 160.748
49
4
77,7
80,0
14
1
22,3
20
63
5
0,908
1,000
1,143
0,118;11,066
KALENDER KEGIATAN ILMIAH PERIODE JUNI JULI 2007
Bulan
Tanggal
Kegiatan
Tempat dan Informasi
01 - 03
1st Indonesian Symposium on Colorectal Disease :
A Multidisciplinary Approach
Hotel Borobudur Jakarta
Ph. : 021-31900938, 3148705, 081510772557
Fax. : 31909382 ; E-mail : isma@pharma-pro.com
01
15th International Meeting of the
European Society of Gynaecological Oncology
The Hotel InterContinental Berlin, Germany
Ph./Fax. : +41 22 908 0488 / +41 22 732 2852
E-mail : info@esgo.org http://www.esgo.org/esgo15
13 - 18
PERDICI
3rd National Congress of ISICM - Global Challenge in
Intensive Care Medicine : Patient-Centered Solutions
Hotel Borobudur Jakarta
Ph. / Fax.: 021-3149318, 3149319, 2305835 / 3153392
E-mail: marketing@geoconvex.co.id
http://www.geoconvex.com
21 - 24
5th Annual Clinical Care Options for Hepatitis
Symposium
Santa Barbara, California, USA
Ph. : 800.878.6260 ; Fax.: 646.674.9556
E-mail : CCOHepRegistration@clinicaloptions.com
http://www.clinicaloptions.com
JUNI
28 - 30
VII International Congress on Traumatic Stress
Panamericano Hotel & Resort, Buenos Aires, Argentina
Ph./Fax. : 005411-4903-0493 / 4903-0493
E-mail : info@psicotrauma.org.ar
http://www.psicotrauma.org.ar/marcosi.htm
04 - 06
KONKER PDPI XI 2007
New Perspective of Respiratory Disorders:
Identifying & Overcoming the Problems
Discovery Kartika Plaza Hotel, Bali
Ph. / Fax.: 0361-418838, 0361-222142 / 418838
Email : konker11pdpibali@yahoo.com
05 - 08
Biennial Scientific Meeting of
Indonesian Psychiatry Association
PIDT PDSKJI 2007
Aston Convention Centre, Palembang
Ph. : 021-30041026, 4532202, 3147150
Fax. : 30041027, 4535833, 3147151
E-mail : globalmedica@cbn.net.id;
pdskjijakarta@telkom.net
JULI
07 - 11
PIT POGI 2007
Hotel Grand Legi, Mataram, Lombok
Ph. / Fax. : 0370-631975-641008 / 631975
E-mail : pitpogi16_mtr@telkom.net
Informasi terkini, detail dan lengkap (jadual acara/pembicara) bisa diakses di http://www.kalbe.co.id/calendar
Cermin Dunia Kedokteran No. 156, 2007 129
Document Outline