Perubahan setelah Puasa Ramadhan
HASIL PENELITIAN
Perubahan Komposisi Tubuh,
Tekanan Darah dan Plasma Kolesterol
Sebelum dan Sesudah 20 Hari Puasa
pada Bulan Ramadhan :
Studi pada Mahasiswa FKG Universitas Jember , 2005
Hari Basuki
1
Dwi Prijatmoko
2
1
Bagian Biomedik,
2
Bagian Ilmu Kesehatan Gigi Masyarakat, Sub Gizi, Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Jember
Jember, Jawa Timur
ABSTRAK
Puasa dapat diartikan sebagai pembatasan asupan makanan dan minuman. Pengurangan
jumlah asupan makanan akan mempengaruhi keseimbangan energi selanjutnya akan dapat
menyebabkan perubahan komposisi tubuh. Perubahan komposisi tubuh terutama penurunan
massa lemak akan dapat mengurangi risiko kardiovaskuler.
Penelitian ini bertujuan untuk menghitung perbedaan komposisi tubuh, kadar plasma
kolesterol, tekanan darah sebagai faktor risiko kardiovaskuler sebelum dan sesudah puasa.
Pengukuran antropometri, tekanan darah dan plasma kolesterol dari 10 mahasiswa laki-laki
Fakultas Kedokteran Gigi yang bersedia menjadi sukarelawan dilakukan 5 hari sebelum dan
20 hari setelah puasa dalam bulan Ramadhan 2005. Selama puasa tidak ditemukan perbedaan
IMT, total kolesterol, dan HDL kolesterol serta tekanan sistolik maupun diastolik, tetapi ada
perbedaan rasio lingkar pinggang pinggul yang bermakna.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa puasa selama bulan Ramadhan dapat menurunkan
risiko kardiovaskuler melalui penurunan rasio lingkar pinggang dan pinggul.
Kata kunci : Puasa, Sistolik, Diastolik, Komposisi Tubuh, IMT, Rasio Lingkar Pinggang
Pinggul, Total Kolesterol, HDL Kolesterol.
PENDAHULUAN
Pengukuran komposisi tubuh adalah bagian integral dari
pemeriksaan status gizi
(1)
karena data ini cukup sensitif untuk
menentukan keparahan suatu penyakit
(2)
. Rasio lingkar
pinggang dan pinggul dilaporkan merupakan faktor prediktor
penyakit kardiovaskuler yang lebih kuat dibanding dengan
pemeriksaan indeks massa tubuh
(3)
.
Pengaruh pola makan dan asupan nutrisi terhadap
perubahan risiko penyakit kardiovaskuler sudah banyak
dilaporkan
(4)
. Perubahan tingkat risiko ini terutama melalui
perubahan komposisi tubuh
(5)
. Perubahan komposisi tubuh
terutama penurunan masa lemak dan rasio lingkar pinggang
dan pinggul akan dapat mengurangi risiko kardiovaskuler
(6)
.
Pengurangan asupan makanan selama puasa dapat
menyebabkan keseimbangan energi negatif, mengakibatkan
penurunan indeks massa tubuh (IMT) yang sering dipakai
sebagai indeks obesitas. Lebih lanjut pembatasan asupan
minuman akan dapat mempengaruhi tekanan darah melalui
perubahan status hidrasi, penurunan cairan total tubuh, Na,
defisiensi vitamin K
(7)
dan Mg.
Beberapa laporan juga menyatakan peningkatan aktivitas
fisik dengan keseimbangan energi negatif, dapat menyebabkan
peningkatan konsentrasi fraksi HDL-kolesterol disertai
penurunan trigliserida plasma pada populasi hiper-
Cermin Dunia Kedokteran No. 155, 2007
104
Perubahan setelah Puasa Ramadhan
kolesterolemi dan hipertrigliseridemi.
Puasa dapat diartikan sebagai pembatasan asupan
makanan dan minuman. Pengurangan jumlah asupan makanan
akan mempengaruhi keseimbangan energi jika tidak diimbangi
dengan pengurangan aktivitas fisik. Selama bulan Ramadhan,
perkuliahan dan praktikum di Fakultas Kedokteran Gigi
(FKG) Universitas Jember berjalan biasa. Dalam kondisi ini
keseimbangan energi negatif yang akan mengubah komposisi
tubuh dapat terjadi pada mahasiswa yang menjalani ibadah
puasa.
METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian dilakukan sebelum dan selama bulan
Ramadhan 2005 di Kampus FKG Universitas Jember pada
sore hari; pemeriksaan hematologi dan kolesterol dilakukan di
Laboratorium Klinik Mitra Jember. Pengukuran antropometri
meliputi berat badan, tinggi badan, lingkar pinggang dan
lingkar pinggul masing-masing diukur dengan timbangan
kamar mandi, stadiometer dan meteran yang dijual bebas
(merk Butterfly).
Tekanan darah diukur menggunakan pengukur tekanan
darah digital merk Osim. Semua pengukuran diulang tiga kali.
Pengambilan sampel darah dilakukan setelah pengukuran
antropometri. Analisis kadar kolesterol dilakukan di
laboratorium klinik Mitra Jember.
Pengukuran antropometri, tekanan darah dan kadar
kolesterol dilakukan pada 5 hari sebelum dan 20 hari sesudah
puasa pukul 5 sore. Sukarelawan yang bersedia mengikuti
penelitian ini dianjurkan menjalani puasa tanpa mengubah
aktivitas sehari-hari. Dalam penelitian ini tidak ada perlakuan
diet khusus selama malam hari.
Semua sukarelawan menandatangani lembar persetujuan
yang telah disediakan. Data sebelum dan sesudah puasa
dibandingkan /diuji dengan uji t-berpasangan.
HASIL DAN DISKUSI
Sepuluh sukarelawan dengan karakteristik umum seperti
pada tabel 1. IMT dan usia mereka relatif homogen; rata-rata
IMT pada batas ideal untuk Indonesia walaupun condong ke
arah berat badan kurang. Sukarelawan juga mempunyai
kisaran usia yang relatif sama.
Rata-rata rasio lingkar pinggang pinggul berada di 0,90
serta IMT yang ideal menunjukkan bahwa para sukarelawan
mempunyai risiko kardiovaskuler rendah.
Indeks Massa Tubuh
Puasa dapat dikategorikan sebagai pengurangan asupan
seluruh jenis nutrisi sehingga sering digunakan dalam upaya
menurunkan berat badan. Jika tidak disertai penurunan
aktivitas fisik, dapat diharapkan terjadi penurunan berat badan
terutama massa lemaknya
(8)
. Penurunan berat badan juga bisa
terjadi karena pembatasan konsumsi air dan mineral; turunnya
konsumsi NaCl menurunkan tekanan osmotik; akibatnya
ekskresi air lewat urine meningkat agar tekanan osmotik
kembali normal.
Tabel 1. Karakteristik responden
No
Berat
Badan
(kg)
Tinggi
Badan
(cm)
IMT -
BB/TB
(kg/m
2
)
Ratio
lingkar
pinggang/
pinggul
Umur
(tahun
)
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
49,0
51,4
49,5
53,2
55,3
55,0
56,0
52,5
52,5
50,7
158,4
163,6
162,5
164,0
168,0
171,0
162,7
166,4
169,6
160,2
19,5
20,1
18,5
19,8
19,6
18,8
21,1
19,0
19,2
19,8
0,89
0,90
0,91
0,88
0,89
0,90
0,91
0,89
0,88
0,90
20
20
19
20
19
19
19
20
20
19
Mean
± SD
52,5
±0,24
164,6
±4,05
19,5
±0,73
0.90
±0,01
19,5
±0,53
Pada penelitian ini tidak terjadi penurunan IMT mungkin
karena puasa yang dilakukan tidak mempunyai korelasi
dengan penurunan jumlah konsumsi energi dan zat gizi lain.
(tabel 2). Pembatasan asupan makanan pada siang hari
cenderung diganti pada malam hari
Beberapa peneliti melaporkan bahwa penurunan berat
badan jangka pendek biasanya terjadi karena dehidrasi sel-sel
tubuh sehingga apabila terjadi rehidrasi maka berat badan
akan normal kembali. Ini yang mungkin terjadi pada puasa
bulan Ramadhan. Dehidrasi pada siang hari segera normal
kembali pada malam hari, sehingga berat badan dan IMT pada
studi ini tidak berubah bermakna.
Tabel 2. Perbedaan berat badan dan IMT sebelum dan sesudah 20
haripuasa
Berat Badan (kg)*
IMT*
No
Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
49,00
51,40
49,50
53,20
55,30
55,00
56,00
52,50
52,50
50,70
48,50
49,60
49,00
52,00
53,00
53,60
55,00
50,00
51,00
59,00
19,5
19,1
18,5
19,8
19,6
18,8
21,1
19,0
18,2
19,8
19,4
18,4
18,4
19,3
19,5
18,7
20,7
18,1
17,6
19,5
Mean
± SD
52,5± 0,24
52,1 ± 3,22
19,5 ± 0,73
19,0 ± 0,88
* Tidak bermakna
Ratio lingkar pinggang pinggul
Sangat menarik karena di kelompok ini terjadi pergeseran
depo lemak, terlihat dari penurunan rasio pinggang pinggul
yang bermakna (p<0,05). (Tabel 3). Walaupun tidak diikuti
penurunan IMT, data ini menunjukkan bahwa puasa selama 20
hari pada bulan Ramadhan dapat menurunkan faktor risiko
kardiovaskuler melalui penurunan rasio ini. Untuk Asia rasio
>0.90 dikategorikan risiko kardiovaskuler tinggi (WHO, 2000)
Status kolesterol
Analisis data penelitian menunjukkan tidak terjadi
penurunan kadar kolesterol total maupun HDL dan LDL
kolesterol yang bermakna (tabel 4). Hal ini mungkin
Cermin Dunia Kedokteran No. 155, 2007
105
Perubahan setelah Puasa Ramadhan
disebabkan karena perubahan pola makan saat puasa yaitu dari
3 kali menjadi 2 kali dengan interval 12 jam tidak mengubah
pola konsumsi makanan, baik dari segi jumlah energi kalori
maupun jenis makanan yang dikonsumsi. Dan biasanya
kualitas gizi makanan yang dihidangkan pada saat sahur dan
buka puasa sebanding dengan kualitas makanan pada saat
tidak puasa.
Tabel
3.
Perbedaan rasio lingkar pinggang pinggul sebelum dan
sesudah 20 hari puasa
Ratio lingkar pinggang pinggul*
No
sebelum
sesudah 20 hari
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
0.89
0.90
0.91
0.88
0.89
0.90
0.91
0.89
0.88
0.90
0.87
0.88
0.90
0.86
0.86
0.87
0.87
0.88
0.88
0.89
Mean ± SD
0.90 ± 0.01
0,87 ± 0,01
* p<0.05
Tabel 4. Rata-rata kolesterol total dan HDL sebelum dan sesudah 20
hari puasa
Kolesterol total (mg/dL)*
HDL Kolesterol (mg/dL)*
No
Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
121
132
117
140
133
127
122
121
134
129
122
127
119
135
127
126
122
122
130
125
52
55
50
58
54
55
54
50
61
56
53
58
50
54
58
59
56
54
60
55
Mean±SD
127.7±7.3 125.5±4.4 54.5±3.2 55.7±3.1
* Tidak bermakna
Status tekanan darah
Pembatasan konsumsi air dan mineral selama 20 hari pada
penelitian ini tidak menyebabkan penurunan tekanan darah
sistolik maupun diastolik (tabel 5). Walaupun telah dilaporkan
bahwa pada minggu pertama puasa terjadi penurunan tekanan
sistolik dan diastolik meningkat
(6)
.
Puasa atau pembatasan asupan makanan akan dapat
mempengaruhi sekresi insulin dalam darah. Walaupun banyak
teori yang berusaha menerangkan adanya hubungan antara
teori resistensi insulin dan tekanan darah, akan tetapi
hubungan sebab akibat antara insulin dan tekanan darah belum
dapat dipastikan. Tidak adanya perbedaan antara IMT, tekanan
darah dan kolesterol dalam studi ini menunjukkan
kemungkinan adanya faktor lain selain insulin yang dapat
mempengaruhi tekanan darah.
Pada saat berpuasa, konsumsi air terbatas, hal ini bisa
menyebabkan asupan natrium berkurang. Untuk menjaga
keseimbangan maka kelenjar adrenal akan merangsang
pengeluaran hormon aldosteron. Hormon ini akan
meningkatkan reabsorbsi natrium, sehingga konsentrasi
natrium dalam sel-sel ginjal meningkat, akibatnya tubuli ginjal
akan mengabsorbsi air lebih banyak, sehingga volume plasma
akan meningkat dan tekanan darah akan normal lagi.
Mekanisme ini mungkin dapat menerangkan tidak adanya
penurunan tekanan sistolik maupun diastolik di kelompok ini.
Tabel 5. Rata-rata tekanan darah (mmHg) sebelum dan sesudah puasa
20 hari
Sistolik (mmHg)*
Diastolik (mmHg)*
No
Sebelum Puasa sebelum
Puasa
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
105
115
112
118
105
110
110
120
110
120
103
110
109
115
110
108
105
115
115
115
72
80
65
70
75
70
75
80
80
75
65
75
65
75
70
75
75
80
70
80
Mean ±SD
112,5±5,56 110,5±4,44 74,2±5,03
73,0±5,37
* Tidak bermakna
KESIMPULAN
Selama puasa tidak ditemukan adanya perbedaan IMT,
total kolesterol, dan HDL kolesterol serta tekanan sistolik
maupun diastolik, tetapi ada perbedaan rasio lingkar pinggang
pinggul yang bermakna. Penelitian ini menyimpulkan bahwa
puasa selama bulan Ramadhan dapat menurunkan risiko
kardiovaskuler melalui penurunan rasio lingkar pinggang dan
pinggul.
KEPUSTAKAAN
1. Ferland G, Sadowsky JA, O'Brien ME. Dietary induced subclinical
vitamin K deficiency in normal human subjects. J Clin Invest
1993;91:1761-8
2.
Husband AJ, Bryden WL. Nutrition, stress and immune activation. Proc
Nutr Soc Aust 1996;20: 60-70.
3. Prijatmoko D, Strauss BJG, Lambert JR et al. Body composition in
alcoholic cirrhosis. Gastroenterol. 1993;105:1839-45.
4.
Prijatmoko D. The effect of alcohol consumption on body composition
and health status. PhD Thesis, Monash University, Australia. 1993.
5. Prijatmoko D, Strauss BJG. Using low-cost body composition
technology for health surveillance. Asia Pacific J Clin Nutr 1995;4:15-7.
6. Sediaoetomo DA. Ilmu Gizi menurut Pandangan Islam. Jakarta, Dian
Rakyat 1990
7.
Simmons D, Mesui J. Decisional balance and stage of change in relation
to weight loss, exercise and dietary fat reduction among Pacific Island
people. 1999;8(1):39-45.
8. Venkatramana P, Reddy PC. Association of overall and abdominal
obesity with coronary heart disease risk factors: comparison between
urban and rural Indian men. Asia Pacific J Clin Nutr 2002;11(1):66-71.
9. Wahlqvist, ML, Dalais FS. Nutrition and cardiovascular disease. Asia
Pacific J Clin Nutr 1999;8(1):2-3.
10. Western Pacific Regional Office of the World Health Organization, The
International Association for the Study of Obesity, The International
Obesity Task Force. The Asia-Pacific Perspective: redefining obesity
and its treatment. Sydney: Health Communications Australia, 2000.
Cermin Dunia Kedokteran No. 155, 2007
106
Document Outline