Tonsilitis Kronik dan Prestasi Belajar
HASIL PENELITIAN
Hubungan Tonsilitis Kronik
dengan Prestasi Belajar
pada Siswa Kelas II Sekolah Dasar
di Kota Semarang
Farokah, Suprihati, Slamet Suyitno
Bagian Ilmu Kesehatan THT-KL Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro/
SMF Kesehatan THT-KL Rumah Sakit Dr. Kariadi Semarang, Indonesia
ABSTRAK
Latar Belakang : Kualitas hidup anak dapat dinilai dari hasil/prestasi belajarnya. Salah
satu indikasi tonsilektomi adalah jika tonsilitis kronik menyebabkan penurunan kualitas
hidup. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan apakah tonsilitis kronik dapat
mengganggu prestasi belajar anak.
Metode : Penelitian secara belah-lintang pada 514 siswa kelas II SD Kota Semarang
yang memenuhi kriteria penelitian. Sebelum penelitian dilakukan skrining kesehatan
tenggorok melalui pemeriksaan fisik THT, pengukuran tinggi dan berat badan serta data hasil
prestasi belajar dan tes IQ dari sekolah. Orang tua siswa diminta mengisi kuesioner tentang
gangguan tenggorok dan penyakit lain pada anaknya. Data dianalisis dengan menghitung
rasio prevalensi, interval kepercayaan, uji Kai-Kuadrat dan regresi logistik untuk mengetahui
hubungan antara tonsilitis kronik dengan prestasi belajar. Faktor lain yang diteliti meliputi
tingkat pendidikan orang tua, jenis kelamin, les privat dan tingkat kecerdasan siswa.
Hasil : Sebanyak 301 anak yang memenuhi kriteria penelitian, 145 (48,2 %) laki-laki,
156 (51,8 %) perempuan ; 145 (48,2 %) siswa dengan tonsilitis kronik. Uji Kai-Kuadrat
menunjukkan terdapat hubungan bermakna antara tonsilitis kronik dengan prestasi belajar
siswa (p < 0,05; 95 % CI : 2,48-4,99). Siswa dengan tonsilitis kronik mempunyai risiko 3,5
kali lebih besar mempunyai prestasi belajar kurang dari rata-rata kelas dibandingkan yang
tidak tonsilitis kronik. Hasil analisis regresi logistik menunjukkan bahwa tonsilitis kronik dan
tingkat kecerdasan siswa berpengaruh terhadap prestasi belajar, sedangkan tingkat
pendidikan orang tua, jenis kelamin dan les privat tidak berpengaruh terhadap prestasi belajar
siswa yang menderita tonsilitis kronik.
Kesimpulan : Tonsilitis kronik menurunkan prestasi belajar.
Kata Kunci : Tonsilitis kronik, prestasi belajar, sekolah dasar.
PENDAHULUAN
Di Indonesia infeksi saluran pernafasan akut (ISPA)
masih merupakan penyebab tersering morbiditas dan
mortalitas pada anak. Pada tahun 1996/1997 cakupan temuan
penderita ISPA pada anak berkisar antara 30% - 40%,
sedangkan sasaran temuan pada penderita ISPA pada tahun
tersebut adalah 78% - 82% ; sebagai salah satu penyebab
adalah rendahnya pengetahuan masyarakat.
1
Di Amerika
Serikat absensi sekolah sekitar 66% diduga disebabkan ISPA.
2
Tonsilitis kronik pada anak mungkin disebabkan karena
anak sering menderita ISPA atau karena tonsilitis akut yang
tidak diterapi adekuat atau dibiarkan.
Cermin Dunia Kedokteran No. 155, 2007
87
Tonsilitis Kronik dan Prestasi Belajar
Berdasarkan data epidemiologi penyakit THT di 7
provinsi (Indonesia) pada tahun 1994-1996, prevalensi
tonsilitis kronik tertinggi setelah nasofaringitis akut (4,6%)
yaitu sebesar 3,8%.
3
Insiden tonsilitis kronik di RS Dr. Kariadi
Semarang 23,36% dan 47% di antaranya pada usia 6-15
tahun.
4
Sedangkan di RSUP Dr. Hasan Sadikin pada periode
April 1997 sampai dengan Maret 1998 ditemukan 1024 pasien
tonsilitis kronik atau 6,75% dari seluruh jumlah kunjungan.
5
Secara klinis pada tonsilitis kronik didapatkan gejala
berupa nyeri tenggorok atau nyeri telan ringan, mulut berbau,
badan lesu, sering mengantuk, nafsu makan menurun, nyeri
kepala dan badan terasa meriang.
4,6
Pada tonsilitis kronik hipertrofi dapat menyebabkan apnea
obstruksi saat tidur; gejala yang umum pada anak adalah
mendengkur, sering mengantuk, gelisah, perhatian berkurang
dan prestasi belajar jelek.
7
Kualitas hidup anak dengan apnea
obstruksi saat tidur dapat dinilai dari hasil/prestasi belajarnya.
8
Indikasi tonsilektomi pada tonsilitis kronik adalah jika
sebagai fokus infeksi, kualitas hidup menurun dan
menimbulkan rasa tidak nyaman.
6
Hal ini sesuai dengan kesan
masyarakat bahwa tonsilektomi dapat meningkatkan prestasi
belajar pada anak yang menderita penyakit amandel (tonsil)
sehingga banyak orang tua yang menginginkan operasi
amandel untuk meningkatkan prestasi belajar anaknya,
meskipun belum tentu tonsilnya sakit.
Belajar adalah aktivitas (usaha dengan sengaja) yang
dapat menghasilkan perubahan berupa kecakapan baru pada
diri individu. Proses dan hasil belajar dipengaruhi oleh
berbagai faktor antara lain kondisi fisiologis dan psikologis
diri individu. Perubahan perilaku akibat belajar tersebut
menandai keberhasilan proses belajar dan mengajar dan
digunakan sebagai indikator prestasi belajar.
9
Berdasarkan hal tersebut dapat dimengerti bahwa
tonsilitis kronik dapat mengganggu kondisi fisiologis dan
psikologis anak sehingga dapat mengganggu proses belajar.
(Gambar 1)
Masalahnya adalah, benarkah anak yang menderita
tonsilitis kronik prestasi belajarnya kurang.
Tujuan penelitian : (1) Membuktikan apakah tonsilitis
kronik dapat mengganggu prestasi belajar. (2) Menganalisis:
apakah ada hubungan antara tonsilitis kronik dengan prestasi
belajar siswa dan apakah ada perbedaan prestasi belajar siswa
dengan tonsilitis kronik dengan siswa yang tanpa tonsilitis
kronik.
METODE
Penelitian ini merupakan penelitian cross sectional
dengan tujuan untuk mengetahui prestasi belajar siswa
Sekolah Dasar yang menderita tonsilitis kronik. Lokasi
penelitian dipilih di wilayah kota Semarang dengan
pertimbangan bahwa sekolah dasar di kota mempunyai
administrasi yang relatif lebih baik, lokasi mudah dijangkau
dan kondisi sosial budaya yang memungkinkan kerjasama
yang lebih baik dengan kepala sekolah, guru maupun orang
tua/wali siswa.
Sampel penelitian adalah siswa kelas II sekolah dasar di
kota Semarang yang sekolahnya terpilih : (1) setuju ikut dalam
penelitian (2) administrasi pengisian rapor baik, (3) data tes IQ
lengkap. Kriteria Inklusi : Skor IQ siswa 90 129, mendapat
ijin dari orang tua (orang tua mengisi dan menandatangani
kuesioner). Kriteria Eksklusi : menderita penyakit kronik lain
(otitis media kronik, TBC, penyakit jantung/ginjal atau
anemia).
Kondisi fisiologis
terganggu
Gejala lokal
Gejala sistemik
Tonsilitis kronik
Prestasi belajar
< rerata kelas
Gb.1 Skema hubungan tonsilits kronis dengan prestasi belajar
Telah dilakukan penelitian pendahuluan pada bulan
September Desember 2003 berupa pemeriksaan THT pada
kelas I dan II Sekolah Dasar di kota Semarang (13 sekolah
dasar, di 5 kecamatan). Pada pemeriksaan tenggorok 1385
siswa tanpa anamnesis didapatkan 682 (49,24 %) tonsilitis
kronik ; 47,92 % pada 674 siswa kelas I dan 50,49 % pada 711
siswa kelas II.
Berdasarkan data tersebut dilakukan penelitian lanjutan
pada bulan Mei Juni 2004 dan didapatkan 301 siswa yang
memenuhi kriteria penelitian dari 514 siswa kelas II yang
diteliti (2 SD Negeri dan 1 SD Swasta). Siswa yang tidak
diikutkan dalam penelitian selain karena kriteria eksklusi juga
berbagai sebab antara lain data tidak lengkap dan tidak
mengembalikan kuesioner penelitian.
Analisis regresi logistik dan tabulasi silang 2 x 2
dilakukan untuk menghitung rasio prevalensi dengan tingkat
kepercayaan 95 %.
10
Dikatakan tonsilitis kronik apabila pada
siswa didapatkan gejala sakit tenggorok lebih dari 3 bulan
disertai tanda klinis berupa kripte melebar, tonsil membesar
atau tidak dan pembesaran kelenjar limfe subangulus
mandibula.
6,11,12
Data taraf inteligensi siswa diperoleh dari
sekolah : diikutkan dalam penelitian jika IQ 90 129. IQ
siswa dikategorikan biasa (90 109), cerdas (110 119) dan
Cermin Dunia Kedokteran No. 155, 2007
88
Tonsilitis Kronik dan Prestasi Belajar
sangat cerdas (120 129).
9
Status gizi diperoleh dengan pengukuran antropometri
berat badan dan tinggi badan berdasarkan indeks standar
internasional NCHS WHO.
13
Nilai Z-Score berat badan
menurut tinggi badan (BB/TB) adalah indikator terbaik
dalam
menganalisis status gizi; pada penelitian ini dilakukan
bersamaan dengan pemeriksaan variabel lainnya.
14
Data les
privat (pelajaran tambahan di luar jam sekolah) diperoleh dari
data kuesioner yang diisi oleh orang tua. Tingkat pendidikan
terakhir orang tua (ayah & ibu) dikelompokkan ke kategori
Sekolah Dasar (SD & SLTP), Menengah (SLTA) dan
Perguruan Tinggi.
Faktor-faktor eksternal sosial dan non sosial yang
mempengaruhi proses dan prestasi belajar, meliputi guru,
materi, dan alat-alat pelajaran, sarana dan fasilitas sekolah
adalah sama untuk masing-masing kelas. Prestasi belajar
masing-masing siswa dibandingkan dengan nilai rerata kelas
yang sama. Demikian halnya dengan waktu belajar dan
suasana kelas.
Faktor lingkungan yang berupa iklim, listrik, transportasi
diasumsikan sama karena tiga sekolah terpilih berada di satu
wilayah kota Semarang. Sosial ekonomi dianggap sama
karena orang tua siswa pada tiga sekolah terpilih mempunyai
tingkat sosial ekonomi menengah ke atas.
Bakat, konsentrasi, lingkungan keluarga tidak diperhitungkan
karena keterbatasan peneliti dan kesulitan memperoleh data
sifatnya sangat subyektif tiap individu.
Prestasi belajar diperoleh diukur/diperoleh berdasarkan nilai
rapor terakhir. Saat dilakukan penelitian ini rapor terakhir
siswa adalah semester II pada tahun ajaran 2003/2004. Nilai
rapor yang digunakan sebagai hasil/prestasi belajar siswa
meliputi semua mata pelajaran 1) Matematika, 2) Pendidikan
Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), 3) Bahasa Indonesia,
4) Pendidikan Agama, 5) Kerajinan Tangan dan Kesenian, 6)
Pendidikan Jasmani dan Kesehatan, 7) Muatan Lokal (Bahasa
Jawa, Bahasa Inggris).
HASIL
Usia subyek penelitian antara 7 sampai 9 tahun (89-113
bulan) terbanyak 8 tahun (69,8 %) terdiri dari 45 laki-laki
(48,2 %) dan 156 wanita (51,8 %). Distribusi siswa pada
ketiga SD dapat dilihat pada gambar 2,3 dan 4.
Gb 2. Distribusi Tonsilitis Kronik (TK) jumlah siswa per-kelas (SDN I)
Gb 3. Distribusi Tonsilitis Kronik (TK) jumlah siswa per-kelas (SDN-II)
Gb 4. Distribusi Tonsilitis Kronik (TK) jumlah siswa per-kelas (SDS)
Dari hasil pemeriksaan 301 siswa serta data kuesioner
orang tua didapatkan 145 siswa (48,2 %) menderita tonsilitis
kronik; 156 siswa yang tidak menderita tonsilitis kronik (51,8
%). Delapan puluh tiga siswa (79,4 %) menderita tonsilitis
kronik dengan ukuran tonsil T
1
dan T
2
sedangkan ukuran
tonsil T
3
yang diklasifikasikan sebagai tonsilitis kronik
hipertrofi didapatkan pada 62 siswa (20,6 %). Tidak
ditemukan tonsil ukuran T
4
. Dari 62 kasus tonsilitis kronik
hipertrofi ukuran T
3
didapatkan 39 siswa (62,9 %) mempunyai
keluhan tidur mendengkur (gambar 5).
Gambar 5. Prevalensi TK, ukuran tonsil & T3 mendengkur (M)
Pada semua siswa yang diteliti tidak ditemukan tanda-
tanda klinis hipertrofi adenoid; karena alasan teknis dan biaya,
pemeriksaan x-foto untuk melihat besarnya adenoid tidak
dilakukan.
54
29
12
52
32
14
53
38
13
54
36
15
0
10
20
30
40
50
60
9.6%
10.6%
12.6%
12.0%
Siswa
Sampel
TK
41
34
17
40
32
18
42
0
10
20
30
40
50
11.4
10,6
0,0
Sisw
a
Sampel
TK
27,6%
7,6%
45,2%
5,0%
1,6%
13,0%
27,6% TK + (T1 & T2)
45,2% TK (T1 & T2)
7,6% TK + (T3)
5,0% TK (T3)
13% TK + (T3) M
1,6% TK (T3) M
45
25
15
46
27
11
43
23
12
44
50
40
Siswa
25
30
Sampel
20
13
TK
10
0
8.3
9.0
7.6
8.3
Cermin Dunia Kedokteran No. 155, 2007
89
Tonsilitis Kronik dan Prestasi Belajar
Selain tonsilitis kronik, faktor-faktor yang juga
mempengaruhi proses dan prestasi belajar, ialah tingkat
kecerdasan, status gizi, les privat dan tingkat pendidikan
orang tua siswa.
Berdasarkan hasil tes IQ, siswa dengan kecerdasan biasa
sebanyak 157 (52,2 %), siswa cerdas 119 (39,5 %) dan cerdas
sekali 25 (8,3 %). Pendidikan orang tua, baik ayah maupun ibu
siswa sebagian besar tingkat perguruan tinggi (PT) dan sangat
sedikit yang tingkat pendidikan dasar (SD). Dari hasil
pengukuran antropometri berat dan tinggi badan semua siswa
ditentukan nilai Z-Score berat badan menurut tinggi badan
(NCHS-WHO). Siswa dengan gizi normal sebanyak 245
(81,4%) dan gizi lebih 56 (18,6 %).
Dari kuesioner yang diisi oleh orang tua siswa didapatkan
siswa yang mengikuti les privat sebanyak 128 (42,5 %). Nilai
rerata prestasi belajar siswa per kelas pada siswa yang diteliti
untuk semua mata pelajaran antara 7,4-8,4; untuk Matematika
7,5-8,8; Bahasa Indonesia 7,7-8,9 dan PPKn 7,8-8,8 (tabel 1).
Prestasi belajar siswa penderita tonsilitis kronik yang di
bawah rerata kelas sebesar 76,6 % (95 siswa), sedangkan yang
tidak tonsilitis kronik sebesar 23,4 % (29 siswa); berbeda
bermakna (p = 0,000, rasio prevalensi 3,52 dan 95 %CI 2,48-
4,99) (tabel 2).
Untuk melihat apakah perbedaan bermakna disebabkan oleh
pelajaran tertentu maka dianalisis hubungan prestasi belajar
siswa dengan nilai rerata kelas untuk mata pelajaran
Matematika, Bahasa Indonesia ataupun PPKn. Hasil uji Kai-
Kuadrat pada masing-masing mata pelajaran tersebut
menunjukkan perbedaan yang bermakna (tabel 3).
Tabel 1. Distribusi nilai rerata prestasi belajar per-kelas
Jumlah
Nilai Rerata per-kelas
No
Sekolah
Dasar
Siswa Keseluruhan
Matematika B.Indonesia PPKn
1 SDN I IIa 29
7,9
8,2
8,4
8,1
2
IIb 32
7,4
7,5
7,7
7,9
3
IIc 38
7,7
8,0
8,0
8,1
4
IId 36
7,4
7,6
7,7
7,8
5 SDN II
IIa 34
7,8
8,3
7,7
8,4
6
IIb 32
7,9
8,2
8,3
8,3
7 Swasta
IIa 25
8,1
8,2
8,6
8,6
8
IIb 27
8,2
8,4
8,5
8,6
9
IIc 23
8,4
8,8
8,9
8,8
10
IId 25
8,0
8,0
8,4
8,4
Jumlah
301
Tabel
2.
Hubungan tonsilitis kronik dengan prestasi belajar
keseluruhan mata pelajaran.
< rerata kelas
> rerata kelas
Jumlah
Tonsilitis Kronik +
95 (76,6 %)
50 (28,2 %)
145 (48,2 %)
Tonsilitis Kronik
-
29 (23,4 %)
127 (71,8 %)
156 (51,8 % )
Jumlah
124 (41,2 %)
177 (58,8 %)
301 (100,0 %)
Rasio prevalensi = 3,52; 95 % CI = 2,48 4,99; x
2
, p = 0,000
Tabel 3. Hubungan tonsilitis kronik dengan prestasi belajar mata
pelajaran tertentu.
Mata Pelajaran
x
2
, p
Rasio Prevalensi
95 % CI
Matematika
0,000
2,79
2,05 - 3,78
B. Indonesia
0,000
4,45
2,96 - 6,68
PPKn
0,000
2,50
1,86 - 3,35
Hasil analisis regresi logistik, untuk rerata keseluruhan
mata pelajaran menyatakan bahwa tonsilitis kronik
berpengaruh buruk terhadap prestasi belajar (p = 0,000). Siswa
penderita tonsilitis kronik mendapatkan nilai lebih rendah dari
rerata kelas 9 kali lebih besar dibandingkan bukan penderita
(RP = 8,79 dan 95 % CI 4,78 16,13). Tingkat kecerdasan
berpengaruh terhadap prestasi belajar (RP = 2,22 dan 95 % CI
1,27 3,86).
Tabel
4.
Faktor-faktor risiko terhadap prestasi belajar rerata
keseluruhan mata pelajaran.
Variabel
p
RP
95 % CI
Tonsilitis kronik
2.174 0.000 8.790
4,788 - 16,138
Tonsil hipertrofi (T
3
) -0.464 0.264 0.629
0,279 - 1,420
Tidur mendengkur
-0.068
0.884
0.934
0,373 - 2,338
Tingkat
IQ
0.799 0.005 2.223
1,278 - 3,868
Tingkat pendidikan
ayah
0.059 0.874 1.061
0,508 - 2,215
Tingkat pendidikan
ibu
0.454 0.168 1.574
0,826 - 3,002
Les
privat
0.028 0.920 1.029
0,589 - 1,799
Jumlah -3.954
0.000
0.019
Faktor tonsil hipertrofi (T
3
), keluhan tidur mendengkur,
les privat dan tingkat pendidikan orang tua tidak berpengaruh
terhadap prestasi belajar (tabel 4). Demikian juga untuk mata
pelajaran Matematika, Bahasa Indonesia maupun PPKn
menunjukkan bahwa tonsilitis kronik maupun tingkat
kecerdasan (siswa yang tidak cerdas) berpengaruh buruk
terhadap prestasi belajar untuk mata pelajaran tersebut (p <
0,05, RP dan 95 % CI > 1) sedangkan faktor lainnya tidak
berpengaruh terhadap prestasi belajar.
Prestasi belajar siswa cerdas yang menderita tonsilitis
kronik (n =119) dianalisis dengan uji Kai-Kuadrat (tabel 5
dan 6). Ternyata prestasi belajar untuk rerata mata pelajaran
tertentu maupun keseluruhan pada siswa cerdas yang
menderita tonsilitis kronik lebih rendah daripada siswa cerdas
yang tidak menderita tonsilitis kronik.
Tabel
5.
Hubungan tonsilitis kronik dengan prestasi belajar
keseluruhan mata pelajaran pada siswa cerdas.
< rerata kelas
> rerata kelas
Jumlah
Tonsilitis Kronik +
21 (65,6 %)
23 (26,4 %)
44 (37,0 %)
Tonsilitis Kronik
- 11 (34,2 %)
64 (73,6 %)
75 (63,0 %)
Jumlah
32 (26,9 %)
87 (73,1 %)
119 (100,0 %)
Rasio prevalensi = 3,25; 95 % CI = 1,73-6,09; x
2
, p = 0,000.
Tabel 6. Hubungan tonsilitis kronik dengan prestasi belajar mata
pelajaran tertentu pada siswa cerdas.
Mata Pelajaran
x
2
, p
Rasio Prevalensi
95 % CI
Matematika
0,000
3,28
1,88 - 5,72
B. Indonesia
0,000
6,25
2,75 - 14,23
PPKn
0,000
3,54
2,05 - 6,12
Cermin Dunia Kedokteran No. 155, 2007
90
Tonsilitis Kronik dan Prestasi Belajar
PEMBAHASAN
Prevalensi tonsilitis kronik pada siswa kelas II Sekolah
Dasar usia antara 7-9 tahun di Kota Semarang sebesar 48,2 %
(145/301). Penilaian prestasi belajar siswa diperoleh dari
laporan penilaian hasil belajar semester II pada tahun ajaran
2003/2004 yang merupakan prestasi belajar terakhir saat
dilakukan penelitian. Penilaian hasil semesteran sesuai dengan
kemajuan hasil belajar (prestasi belajar) siswa selama 4 bulan
atau 6 bulan .
9
Prestasi belajar siswa tonsilitis kronik yang kurang dari
nilai rerata kelas, baik untuk semua mata pelajaran maupun
mata pelajaran tertentu (Matematika, Bahasa Indonesia dan
PPKn) dapat merupakan dampak penyakit kronik pada siswa
antara lain kurang berprestasi di sekolah.
15
Hal ini karena
kondisi fisiologis pada umumnya berpengaruh terhadap proses
belajar.
9
Kondisi fisiologis pada siswa yang menderita tonsilitis
kronik terganggu karena adanya gejala lokal dan sistemik.
Gejala lokal berupa nyeri tenggorok atau rasa tidak enak di
tenggorok, nyeri telan ringan dan kadang-kadang seperti ada
benda asing (pancingan) di tenggorok. Gejala sistemik terjadi
akibat absorbsi bakteri atau toksin ke dalam sirkulasi darah.
Gejalanya antara lain badan lesu, sering mengantuk, sakit
kepala dan badan terasa meriang.
4,16,17
Tidak ada perbedaan prestasi belajar siswa penderita
tonsilitis kronik antara hipertrofi (T
3
) dan tidak hipertrofi (T
1
dan T
2
) ; pada tonsilitis kronik hipertrofi (T
3
) antara yang
disertai keluhan tidur mendengkur dan tidak mendengkur.
Mungkin tonsilitis kronik hipertrofi (T
3
) pada siswa tersebut
tidak/belum menimbulkan obstruksi saluran nafas atas
maupun apnea obstruksi waktu tidur.
Hipertrofi tonsil dan adenoid dapat menyebabkan
obstruksi saluran nafas atas
7-8,18
; yang dapat menyebabkan
gangguan tidur, sampai terjadi apnea obstruksi waktu tidur.
Gejala paling umum adalah tidur mendengkur yang dapat
diketahui dari anamnesis.
Keluhan tidur mendengkur pada hipertrofi tonsil (T
3
)
yang diduga dapat menyebabkan apnea obstruksi waktu tidur
pada penelitian ini diperoleh dari data kuesioner orang tua
siswa dan karena alasan teknis serta biaya tidak dilakukan
pemeriksaan Apnea Hypopnea Index (AHI).
19
Tonsilitis kronik hipertrofi yang menyebabkan apnea
obstruksi waktu tidur dengan hipoventilasi alveoli, hipoksia
dan retensi CO
2
pada malam hari dapat mengganggu fungsi
psikologis dan fisiologis.
18,20
Gejala yang ditimbulkan dapat
berupa prestasi belajar kurang.
8,18,20
Pada penelitian ini,
tonsilitis kronik hipertrofi (T
3
) mungkin belum menimbulkan
gangguan sehingga prestasi belajar siswa yang menderita
tonsilitis kronik baik yang hipertrofi maupun yang disertai
dengan keluhan tidur mendengkur tidak berbeda daripada
yang tidak hipertrofi maupun tidak mendengkur.
Prestasi belajar pada siswa cerdas dengan tonsilitis kronik
yang kurang dari nilai rerata kelas, baik untuk rerata semua
mata pelajaran maupun tertentu (Matematika, Bahasa
Indonesia dan PPKn) dapat merupakan dampak dari penyakit
kronik.
15
Selain pendapat beberapa ahli bahwa inteligensi
(kecerdasan) merupakan salah satu faktor penting yang
menentukan berhasil atau gagalnya belajar seseorang terutama
pada anak.
9,21
Pada umumnya pengetahuan orang tua sangat
menentukan pendidikan keluarga (anak-anaknya). Tingkat
pendidikan orang tua juga merupakan salah satu faktor yang
berpengaruh terhadap proses dan prestasi belajar siswa.
9
Analisis statistik menunjukkan bahwa faktor tingkat
pendidikan orang tua, jenis kelamin dan les privat siswa yang
menderita tonsilitis kronik, tidak berpengaruh terhadap
prestasi belajar siswa untuk rerata semua mata pelajaran.
Secara keseluruhan nilai rerata tiap kelas pada siswa yang
diteliti antara 7,4-8,9 dan sesuai kriteria dari penilaian hasil
belajar di Sekolah Dasar termasuk lebih dari cukup sampai
baik tetapi siswa yang menderita tonsilitis kronik
mendapatkan nilai yang lebih rendah. Pada sekolah yang
diteliti selain penyediaan alat-alat pelajaran serta perlengkapan
yang memenuhi syarat penempatan murid-murid juga diatur
secara baik di kelas.
Ada perbedaan bermakna
antara prestasi belajar siswa
yang menderita tonsilitis kronik
dengan yang tidak
Seorang siswa bila menderita penyakit kronik maka akan
sulit memperoleh kemajuan dalam pelajarannya.
9,15
Gejala-
gejala ringan akibat gangguan kondisi fisiologis siswa yang
menderita tonsilitis kronik merupakan penghalang sangat
besar untuk menyelesaikan pelajaran. Jika gejala makin berat
dan makin mengganggu kondisi fisiologis maka kemungkinan
besar mengakibatkan siswa yang menderita tonsilitis kronik
tidak dapat belajar sama sekali.
KESIMPULAN
1. Hasil penelitian pada anak Kelas II Sekolah Dasar di Kota
Semarang menunjukkan ada hubungan antara tonsilitis kronik
dengan prestasi belajar siswa.
2. Ada perbedaan bermakna prestasi belajar siswa antara
yang menderita tonsilitis kronik dengan yang tidak tonsilitis
kronik.
3. Faktor tingkat inteligensi, les privat, jenis kelamin dan
tingkat pendidikan orang tua siswa tidak berpengaruh terhadap
prestasi belajar siswa yang menderita tonsilitis kronik.
4. Tidak ada perbedaan prestasi belajar antara siswa dengan
tonsilitis kronik hipertrofi (T
3
) dan tidak hipertrofi (T
1
, T
2
)
maupun antara siswa tonsilitis kronik hipertrofi (T
3
) yang
mendengkur dan tidak mendengkur.
SARAN
Perlu penelitian prospektif untuk mempelajari/
membuktikan pengaruh tonsilitis kronik terhadap prestasi
Cermin Dunia Kedokteran No. 155, 2007
91
Tonsilitis Kronik dan Prestasi Belajar
belajar dengan mempertimbangkan variabel yang belum
diteliti dalam penelitian ini.
10. Sastroasmoro S, Ismael S. Dasar-dasar Metodologi Penelitian Klinis.
Edisi 2. Jakarta: CV Sagung Seto; 2002.
11. Primara IW, Losin K, Rianto BUD. Hubungan antara tanda klinis
dengan hasil pemeriksaan histopatologis pada tonsilitis kronis yang
telah dilakukan tonsilotomi Kumpulan naskah ilmiah KONAS XII
PERHATI, Semarang:BP Undip;1999: 253-64.
KEPUSTAKAAN
1.
Notosiswoyo M, Martomijoyo R, Supardi S, Riyadina W. Pengetahuan
dan Perilaku Ibu / Anak Balita serta persepsi masyarakat dalam
kaitannya dengan penyakit ISPA dan pnemonia. Bul. Penelit. Kes.
2003; 31:60-71.
12. Stevens W. Tonsilitis In : Mc Laughin E, Health Encyclopedia
(Reviewer).. North Memorial Health Care. 2002.
13.
WHO. Measuring change in nutritional status : Guidelines for assessing
the nutritional impact of supplementary feeding programmes for
vulnerable groups. Geneva : World Health Organization, 1983.
2.
Vetri RW, Sprinkle PM., Ballenger JJ. Etiologi Peradangan Saluran
Nafas Bagian Atas Dalam : Ballenger JJ. Ed. Penyakit telinga, hidung,
tenggorok, kepala dan leher. Edisi 13. Bahasa Indonesia, jilid I. Jakarta:
Binarupa Aksara; 1994 : 194-224.
14. Hadju V. Analisa status gizi anak Sekolah Dasar yang mendapat
program pemberian makanan tambahan pada anak sekolah (PMTAS) di
Sulawesi Selatan. J Epidemiol.Indon. 2001; 5:24-30.
3.
Suwento R. Epidemiologi Penyakit THT di 7 Propinsi. Kumpulan
makalah dan pedoman kesehatan telinga. Lokakarya THT Komunitas.
PIT PERHATI-KL, Palembang, 2001: 8-12.
15.
Smet B. Psikologi kesehatan. Jakarta: PT Grasindo; 1994.
16. Shah UK. Tonsilitis and peritonsillar abscess. :http://www.
emedicine.com/ent/topic 314.htm.2001.
4.
Aritomoyo D. Insiden tonsilitis akuta dan kronika pada klinik THT
RSUP Dr. Kariadi Semarang, Kumpulan naskah ilmiah KONAS VI
PERHATI, Medan, 1980: 249-55.
17. Fujita S. Pharyngeal surgery for obstructive sleep apnea and snoring.
In: Fairbanks DNF, Fujita S, eds. Snoring and Obstructive Sleep
Apnea. 2
nd
ed. New York: Raven Press 1994 : 83-5.
5.
Udaya R, Sabini TB. Pola kuman aerob dan uji kepekaannya pada apus
tonsil dan jaringan tonsil pada tonsilitis kronis yang mengalami
tonsilektomi. Kumpulan naskah ilmiah KONAS XII PERHATI,
Semarang:BP Undip;1999: 193-205.
18. Strohl KP, Roth T, Redline S. Cardiopulmonary and neurological
consequences of obstructive sleep apnea. In Fairbanks DNF, Fujita S,
eds. Snoring and Obstructive Sleep Apnea. 2
nd
ed. New York: Raven
Press 1994 : 31-40.
6.
Jackson C, Jackson CL. Disease of the Nose, Throat and Ear, 2
nd
ed..
Philadelphia: WB Saunders Co; 1959: 239-57.
19. Bailey CM, Craft CB, Sleep apnea. In : Kerr AG ed. Scott-Brown's
Otolaryngology-Paediatric Otolaryngology. 6
th
ed. Butterworth; 1997 :
1-10.
7. Lipton AJ. Obstructive sleep apnea syndrome.
:http://www.emedicine.com/ped/topic 1630.htm.2002.
20. Lind MG, Lundell PW. Tonsillar hyperplasia in children. Arch
Otolaryngol. 1982; 18: 650-4.
8.
Franco RA, Rosenfeld RM. Quality of life for children with obstructive
sleep apnea. Otolaryngol. Head and Neck Surg. 2000; 123:9-16.
9.
Suryabrata S. Psikologi pendidikan. Jakarta: Fajar Interpratama Offset;
2002.
21. Tirtonegoro S. Penanganan kesulitan belajar anak slow learner. Jurnal
Rehabilitasi dan Remediasi. 1995; 12:1-9.
Informasi Topik Utama Cermin Dunia Kedokteran Mendatang
Untuk edisi mendatang, Redaksi Cermin Dunia Kedokteran akan
memilih topik-topik :
-
masalah anak
-
kebidanan dan penyakit kandungan
-
neurologi/saraf
-
kesehatan jiwa
-
informatika kedokteran
sebagai topik utama.
Redaksi masih mengharapkan kesediaan sejawat untuk mengirimkan
naskah/hasil penelitian sejawat sekalian untuk diterbitkan/
dipublikasikan sehingga dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya dalam
praktek dunia kedokteran.
Cermin Dunia Kedokteran No. 155, 2007
92
Document Outline