RISA untuk Bakteri OMSK Benigna Aktif
TINJAUAN PUSTAKA
Pendekatan Molekuler (RISA)
untuk Membedakan Spesies Bakteri
Otitis Media Supuratif Kronik
Benigna Aktif
Anton Christanto, Soepomo Soekardono, Agus Surono,
Novi Primadewi, Roikhan Harowi
Bagian Ilmu Penyakit Telinga Hidung Tenggorok Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada/
SMF THT Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Sardjito Yogyakarta, Indonesia
PENDAHULUAN
Pada mukosa cavum timpani penderita Otitis Media
Supuratif Kronik Benigna Aktif (OMSKBA), telah terjadi
banyak perubahan-perubahan yang menetap, sehingga resolusi
spontan sangat sulit terjadi dan biasanya ada gangguan
vaskularisasi di telinga tengah, sehingga antibiotika sistemik
sulit mencapai sasaran dengan optimal; oleh karena itu
diperlukan antibiotika topikal. Kronisitas dengan fase aktif
dan fase tenang yang bergantian dapat terjadi sepanjang umur
sehingga diperlukan antibiotika pada setiap fase aktif. Tidak
jarang kasus kasus OSMK membandel terhadap pengobatan
dengan kesembuhan yang tidak sempurna bahkan gagal sama
sekali.
Antibotika yang diberikan adalah atas dasar hasil uji
kepekaan in vitro terhadap bakteri aerob. Pada pemeriksaan
bakteriologik (mikrobiologik), penemuan jenis kuman yang
sama pada media kultur, sering kali menghasilkan hasil uji
kepekaan yang berbeda.
Pada akhir-akhir ini terlihat kecenderungan terjadinya
perubahan dalam jenis kuman penyebab penyakit infeksi serta
respon kuman terhadap antibiotika.
1
Akibat perkembangan terapi antibiotika, insidensi dan
prevalensi OMSK menurun, tetapi penurunan ini tidak sebaik
penyakit infeksi lainnya terutama pada kasus anak. Seperti
dimaklumi hilangnya fokus infeksi di telinga tengah penting
untuk penyembuhan spontan dari kerusakan akibat penyakit
infeksi tersebut.
2,3
Pada umumnya pemberian antibiotika untuk OMSKBA
didasarkan pada "educated guess" yaitu berdasarkan laporan
terakhir mengenai bakteri yang paling sering ditemukan pada
OMSKBA.
4
Pemeriksaan bakteriologik OMSKBA selama ini
dilakukan melalui pemeriksaan isolasi dengan media kultur.
Identifikasi kuman didapatkan dengan melihat morfologi
koloni kuman dalam media kultur dalam sebuah plate dan uji
biokimia. Dari hasil pemeriksaan bakteriologik tersebut
kuman yang sering ditemukan pada OMSK bervariasi. Pada
umumnya ditemukan Pseudomonas spp, dengan persentase
antara 16%-100%, Staphylococcus aureus 9%-32%,
Enterobacter spp 3%-30%, H. influenzae 12%, Streptococcus
15% dan kuman lain kadang-kadang ditemukan dalam
persentase kecil.
5,1,6,7
Temuan kuman anaerob meningkat dari
1% menjadi 43% berkat perbaikan teknik pemeriksaan
bakteriologik.
8
Secara taxonomy term (klasifikasi) pemeriksaan
bakteriologik dengan media kultur tersebut hanya bisa
mengidentifikasi jenis kuman setingkat genus maupun spesies.
Pemeriksaan bakteriologik dengan media kultur tidak bisa
membedakan jenis kuman yang masih dalam satu spesies.
Dengan kemajuan biologi molekuler, teknik PCR-RISA
dapat membedakan jenis kuman antar spesies atau strain dari
satu spesies.
9,10
Tujuan penelitian ini adalah melihat gambaran pola
kuman dari hasil isolasi sekret telinga OMSKBA pada media
kultur dengan pendekatan PCR.
TINJAUAN PUSTAKA
Otorea kronis adalah keluarnya cairan dari telinga lebih
dari 2 bulan. Selanjutnya dengan otoskopi dibedakan ada
tidaknya perforasi pada membran timpani. Apabila membran
timpani perforasi, diagnosis mengarah pada OMSK.
Definisi OMSK adalah radang kronis telinga tengah
dengan perforasi membran timpani dan riwayat keluarnya
sekret dari telinga (otorea) lebih dari 2 bulan, baik terus
menerus atau hilang timbul. Sekret mungkin serous, mukus
atau purulen.
11
Pada OMSK tanpa komplikasi dinilai apakah
ada kolesteatom atau tidak. OMSK tanpa kolesteatom disebut
sebagai OMSK benigna atau tipe mukosa dan yang disertai
Cermin Dunia Kedokteran No. 155, 2007
81
RISA untuk Bakteri OMSK Benigna Aktif
kolesteatom disebut sebagai OMSK maligna atau bahaya.
12
OMSK benigna dibagi menjadi fase tenang dan aktif.
Fase tenang jika OMSK tersebut adalah OMSK tipe mukosa
dalam keadaan kering. Jika ada discharge maka disebut fase
aktif (OMSKBA).
KEKERAPAN
Di seluruh dunia prevalensi OMSK 65330 juta jiwa, 60%
(39200 juta jiwa) mengalami gangguan pendengaran yang
sangat klinis bermakna. Diperkirakan 28000 mengalami
kematian dan < 2juta mengalami kecacatan; 94% terdapat di
negara berkembang.
13
Prevalensi OMSK di Indonesia secara
umum adalah 3,8%.
12
Pasien OMSK merupakan 25% dari
pasien-pasien yang berobat di poliklinik THT RS Dr Sardjito
Yogyakarta tahun 2004.
Gambaran bakteriologik pada OMSKBA
Beberapa penulis melaporkan P.aeruginosa merupakan
bakteri aerob yang paling sering ditemukan, walaupun
persentasenya berbeda-beda.
1,14-18
Friedman (1952) (dikutip oleh Shenoi
7
) menemukan
S.aureus sebesar 32,7% dari 318 kasus dan 41% resisten
dengan penisilin, Proteus 27%, Pseudomonas aeruginosa
16%, E.coli 10,7%.
Jonsson (1986)
1,6
menemukan 32% Pseudomonas spp,
dengan spesies tersering adalah Ps. aeruginosa. Staphylococus
aureus sebesar 30%, dan batang gram negatif lain 32%.
Spesimen diambil dari telinga tengah.
Fliss
16
mendapatkan Pseudomonas spp 100% dari 77
spesimen yang diperiksa, kuman enterik gram negatif (E.coli,
Enterobacter spp, Proteus mirabilis, lain lain) sebesar 33%,
Staphylococus 25%. Tidak dilakukan pemeriksaan terhadap
kuman anaerob
Papastavros
17
melaporkan bakteri aerob pada 84,03%
spesimen, dengan Pseudomonas sp sebesar 50,67%, S.aureus
36,00%.
Amadasun
18
melaporkan Pseudomonas sp sebesar 65%,
Proteus sp 26%, Streptococcus sp 15%, Staphylococcus sp
12%.
Leibermen
14
pada penelitian kuman aerob pada
OMSKBA mendapatkan Pseudomonas spp pada semua kasus
(100%), Enteric gram negative bacilli 33%, Staphylococcus
25%, Haemophylus influenzae 12%.
Kenna
5
(1986) melaporkan hasil pemeriksaan
mikrobiologik pada 51 biakan dari 36 penderita (anak)
OMSKBA terdiri dari 23 spesies, antara lain P.aeruginosa
sebesar 67% dan merupakan kultur murni pada 31% kasus (16
telinga). Pada 15 anak dengan OMSK bilateral, 73%
mengandung kuman yang sama di kedua telinga tengahnya.
S.aureus (beta lactamase positive species) sebesar 9,3%,
diphteroids 9,3%, S. epidermidis 6,4%.
Hariasri
19
pada penelitian kuman OMSKBA dengan
pengambilan spesimen menggunakan lidi kapas mendapatkan
Pseudomonas sebesar 59,01%, Staphylococcus 31,14%,
Difteroid 16,39% dan Proteus 9,84%.
Pemeriksaan bakeriologik dengan media kultur pada
OMSKBA
Saat pengambilan sekret telinga harus diperhatikan
sterilitasnya; diusahakan tidak ada kontaminasi dari kulit
canalis auditorius externus dengan teknik : kulit dibersihkan
dengan jodium dan alkuhol 70%; kontaminasi dari udara luar
dihindari dengan meletakkan lampu spiritus di depan lubang
botol steril berisi media transport saat memasukkan spesimen
ke dalamnya.
Pengambilan sekret/discharge menggunakan jarum no 20
yang dihubungkan dengan semprit ukuran 1 atau 2,5 ml.
2
Setelah sekret diambil, segera dimasukkan ke tabung yang
berisi media transport yaitu media setengah padat yang
tersusun oleh:
-
Medium Carry dan Blair (BBL) 2,5 gram
- Solutio
CaCl
2
1% 1,8 ml
-
Solutio Rezasurin 0,1 gram
-
L Cystein HCl 0,1 gram
-
Distillated water 198 ml
Selanjutnya tabung dikirim segera ke bagian
Mikrobiologi. Setiap bahan ditanam di dalam media agar
darah. Kemudian koloni yang tumbuh diisolasi dan
diidentifikasi dengan teknik pure culture (kultur murni).
Identifikasi kuman didasarkan pada morfologi koloni kuman
yang tumbuh pada media kultur (agar darah) dan uji biokimia.
Identifikasi bakteriologik dalam tubuh manusia (dalam hal ini
sekret telinga penderita OMSKBA) masih mengandalkan
teknik kultur murni.
PCR (Polymerase Chain Reaction) RISA (Ribosomal
Intergenic Spacer Analyse)
Sekarang telah dikembangkan teknik identifikasi
mikrobakterium dengan metode biologi molekuler seperti
PCR. Sebagian teknik ini sudah menggunakan analisis
molekuler yakni sekuen gen rRNA. Banyak laboratorium yang
menggunakan teknik molekuler berdasarkan rRNA untuk
mengidentifikasi kuman patogen dan kuman komensal.
Metode RISA (Ribosomal Intergenic Spacer Analysis)
berdasarkan panjang polimorphisme dari sekuen intergenic
spacer (IGS) antara gen subunit rRNA yang kecil (16s) dan
yang besar (23s) yang dapat mengamplifikasi primer
eubakterial universal langsung dari komunitas.
Kemajuan di bidang biologi molekuler telah dapat
mengembangkan komunitas bakterial dengan menggunakan
metode DNA fingerprinting sehingga dapat memantau
kompleks komunitas bakteri di lingkungan alamiah tanpa
isolasi.
Metode ini melibatkan ekstraksi DNA insitu dari
komunitas bakteri menggunakan amplifikasi sekuens PCR
sehingga didapatkan informasi genetik yang lebih detail.
Sekuens yang digunakan sebagai tanda dari komunitas
bakterial ini adalah gen dari ribosomal operon rRNA.
Ribosomal Intergenic Spacer Analysis (RISA) adalah metode
analisis mikrobiologi komunitas yang dapat memperkirakan
keanekaragaman agen mikrobiologi dalam komposisi
komunitas tanpa melihat bias yang dihasilkan dari pendekatan
Cermin Dunia Kedokteran No. 155, 2007
82
RISA untuk Bakteri OMSK Benigna Aktif
metode kultur. Metode ini melibatkan penggunaan amplifikasi
PCR berdasarkan panjang polimorphisme dari sekuen
intergenic spacer (IGS) dari regio kecil (16s) dan yang besar
(23s) dari gen subunit rRNA dalam rRNA operon, dengan
target primer oligonukleotida dalam regio 16s dan 23s. region
intergenic 16s-23s, yang mengkode tRNAs tergantung dari
macam species bakterial, yang diketahui dari heterogenitas
panjangnya dan sekuens nukleotida
Metode RISA merupakan metode ekologi molekuler
9
yang dapat digunakan untuk mengamati ekologi bakteria pada
lingkungan alamiah. Metode RISA memiliki prospek dalam
kegunaannya untuk mempelajari komposisi komunitas
mikrobia baik untuk identifikasi genus, spesies atau
pengelompokan phylogenetik dan mengamati perubahan
lingkungan yang terjadi.
9
RISA merupakan metode yang sangat baik untuk
mengamati struktur dan dinamisasi komunitas bakteri yang
sangat kompleks melalui perubahan pita-pita DNA. RISA
dapat digunakan untuk mengidentifikasi populasi yang terjadi
dalam suatu komunitas.
9
.
RISA merupakan analisis polimorfis dari bagian yang
memisahkan gen rrs dan rrl IGS (intergenic spacer) yang
memiliki variasi ukuran dari 50bs sampai 1,5 kb.
Rangkaian beberapa pita DNA dapat menunjukkan secara
spesifik keberadaan populasi dalam suatu komunitas. Variasi
bagian teramplifikasi dari IGS dapat dengan langsung
dipisahkan atas dasar ukurannya menggunakan gel
poliakrilamid. Variabilitas ukuran yang tinggi menunjukkan
adanya variabilitas yang tinggi dalam struktur genetik
komunitas.
9
Gambar di atas menunjukkan panjang daerah distribusi
IGS antara gen rrs dan rrl pada kelompok eubakteria &
menunjukkan rata-rata panjang daerah IGS untuk tiap filum.
Kelompok
-proteobacteria, terdiri atas :
Hyphomicrobium,
Blastobacter,
Rhodobacter,
Rhodopseudomonas, Bartonella, Nitrobacter, Azospirillum,
Agrobacterium, Rhizobium, Bradyrhizobium, Candidatus, Zy-
momonas, Gluconobacter, Acetobacter, Ochrobactrum,
Brucella, Caulobacter, dan Ehrlichia;
-proteobacteria,
terdiri atas: Acidithiobacillus, Thiobacillus, Ralstonia,
Nitrosospira, Nitrosomonas, Burkholderia, Xylophilus,
Nitrosolobus, Neisseria, dan Microvirgula;
-proteobacteria,
terdiri atas: Yersinia,
Photorhabdus,
Azotobacter,
Haemophilus, Enterobacter, Citrobacter, Xanthomonas,
Pseudomonas, Acinetobacter, Vibrio, Aeromonas, Klebsiella,
Escherichia,
Salmonella,
Pasteurella,
Actinobacillus,
Thiobacillus, Dichelobacter,Piscirickettsia, Xylella, Erwinia,
dan
Pectobacterium;
-proteobacteria, terdiri atas:
Campylobacter; high-GC-content gram-positive bacteria,
terdiri atas : Streptomyces, Rhodococcus, Frankia,
Arthrobacter, Brevibacterium, Microbispora, Bifidobacterium,
Corynebacterium,
Staphylococcus,
Mycobacterium,
Renibacterium, Tropheryma, Thermonospora, Spirillospora,
Excellospora, Actinocorallia, dan Actinomadura; low-GC-
content gram-positive bacteria, terdiri atas: Bacillus,
Lactobacillus, Clostridium, Leuconostoc, Streptococcus,
Achole-plasma, Anaeroplasma, Listeria, Enterococcus,
Mycoplasma,
Ureaplasma,
Phytoplasma,
Lactococcus,
Pectinatus, Zymophilus, dan Planococcus; chlamydiae terdiri
atas : Chlamydia, Chlamydophila, Simkania, Parachlamydia,
dan Waddlia; cyanobacteria terdiri atas: Microcystis,
Spirulina, Trichodesmium, Arthrospira, dan Anacystis;
spirochetes, terdiri atas : Leptonema dan Treponema; dan
cytophagales,
Prevotella,
Rhodothermus, dan
Flavobacterium.
9
Metode RISA ini berdasar pada panjang sekuen Spacer
intergenic yang berbeda di antara gen penyandi sub-unit
rRNA kecil (16S) dan besar (23S) yang diamplifikasi dengan
primer universal untuk eubakteria.
Cermin Dunia Kedokteran No. 155, 2007
83
RISA untuk Bakteri OMSK Benigna Aktif
METODOLOGI PENELITIAN
A. Rancangan Penelitian
Penelitian ini merupakan cross sectional study,
merupakan penelitian eksperimental dan preliminary study.
B. Populasi Penelitian
Populasi penelitian adalah semua pasien Poliklinik THT
RS Dr. Sardjito Yogyakarta yang didiagnosis OMSKBA yang
datang selama jangka waktu penelitian.
Kriteria inklusi:
- Penderita OMSK benigna aktif yang datang berobat ke
poliklinik THT FK UGM/RSUP Dr Sardjito
- Pada pemeriksaan otoskopi, didapatkan perforasi subtotal
atau total
Kriteria eksklusi:
-
Penderita menggunakan antimikroba sistemik atau topikal
paling sedikit 7 hari sebelum pemeriksaan
- Menderita penyakit berat atau infeksi lain
- Penderita otitis eksterna
- Menolak ikut serta dalam penelitian.
C. Sampel
Sampel penelitian adalah sampel sekret/congek penderita
OMSK benigna aktif yang diambil dari telinga pasien.
Besar sampel: 5 pasien
D. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Poliklinik THT RS Dr.
Sardjito Yogyakarta, di Laboratorium Mikrobiologi FK-UGM
dan Laboratorium Pusat Studi-Bioteknologi UGM dari tanggal
1 April 2005 sampai dengan 31 Mei 2005.
E. Cara Penelitian
A. Pemilihan
sampel.
a. tempat : Rumah Sakit Dr Sardjito unit THT FK UGM
b. waktu : bulan April 2005
c. bahan. : discharge diambil dari 5 penderita yang di
diagnosis OMSK Benigna aktif. (lihat pendahuluan).
Pemilihan sampel sesuai kriteria inklusi dan eksklusi ;
tidak ada pembatasan umur, jenis kelamin penderita serta
telinga yang kanan atau yang kiri.
Setiap pasien hanya diambil dischargenya dari satu telinga
saja.
Pasien harus bebas antibiotika paling sedikit 7 hari sebelum
pemeriksaan
B. Pengambilan
Sampel
Sampel/spesimen diambil dengan cara sebagai berikut :
1. Sebelum mengambil spesimen, diperhatikan sterilitas.
2. Spesimen diusahakan sejauh mungkin harus steril dengan
melakukan desinfeksi (alkohol) di daerah kulit canalis
auditoris externus.untuk menghindari kontaminasi kuman dari
daerah tersebut.
3. Spesimen diambil segera.
4. Alat untuk mengambil material sekret berupa kateter intra
vena ukuran 20G dan semprit 1ml.
5. Proses pengambilan spesimen memakai sarung tangan
steril.
6. Spesimen dimasukkan ke dalam tabung media transport
yang panjangnya 12 cm dan bergaristengah 1,5cm, tabung lalu
ditutup kapas.
7. Tabung media transport yang berisi media kultur dan
spesimen dikirim ke Lab Mikrobiologi FK UGM untuk di
isolasi di media kultur (agar darah) dan diidentifikasi jenis
kumannya.
8. Plate (media kultur) berisi isolasi bakteri yang telah
tumbuh koloninya dikirim ke Lab PS-Bioteknologi UGM
untuk menjalani proses ekstraksi DNA dan diidentifikasi
dengan teknik PCR-RISA
9. Pengiriman spesimen disertai formulir yang memuat
catatan: nama, alamat, umur dan jenis kelamin penderita, jenis
spesimen yang dikirim, tanggal pengambilan spesimen, gejala
/diagnosis penyakit.
C. Pengolahan
sampel
Spesimen dalam tabung media transport diisolasi dalam
media kultur agar darah dalam plate, lalu diidentifikasi dan
didifirensiasi di Lab Mikrobiologi FK-UGM Yogyakarta..
Plate (media kultur) yang berisi isolasi dan koloni kuman
dibawa ke laboratorium Pusat Studi Bioteknologi UGM untuk
menjalani ekstraksi DNA. Setelah itu dilakukan PCR-RISA.
Sesudah PCR selesai, produk PCR di elektroforesis. Setelah
itu dilihat di transiluminator u.v., dan difoto dengan
menggunakan kamera digital. Metoda analisis yang dipakai
adalah RISA. (Ribosomal Intergenic Spacer Analysis).
Esktraksi DNA dan PCR dikerjakan di Laboratorium
Mikrobiologi Pusat Studi Bioteknologi UGM.
Pemeriksaan bakteriologik menggunakan metoda PCR-
RISA
Bahan: Tris-HCl, EDTA, SDS, lisosim, CTAB, NaCl,
kloroform, isopropanol, etanol 70 %.
Prosedur kerja
Sebanyak 1.5 ml kultur sel dalam tabung 1.5 ml
disentrifugasi dengan kecepatan 13.000 rpm selama 5 menit.
Supernatan dibuang.
Pelet hasil sentrifugasi ditambahi 500
µl TE (100 mM ris-HCl,
100 mM EDTA; pH 8), vortex hingga homogen. Ditambahkan
40
µl lisosim (50 mg/ml) dan inkubasi pada 37
o
C selama 60
menit. Tambahkan 200
µl SDS 10 %, 100 µl NaCl 5 M, dan
80
µl CTAB lalu inkubasi pada 68
o
C selama 30 menit (sampel
dibolak-balik setiap 10 menit). Dilakukan penambahan 1:1
chloroform dan sentrifugasi 13.000 rpm selama 10 menit.
Lapisan atas diambil dan tambahkan 0.6 x volume isopropanol
kemudian disentrifugasi kembali 13.000 rpm selama 5 menit.
Supernatan dibuang dan cuci pelet dengan 100
µl etanol 70 %
dan kering anginkan. Tambahkan 20
µl TE dan homogenkan.
Untuk sampel langsung tanpa menggunakan teknik kultur,
dilakukan prosedur yang sama dengan teknik dikulturkan,
hanya sampel yang digunakan langsung ditambahi 500
µl TE.
Polymerase Chain Rection Primer, Reagen, siklus termal
Reagen: Primer; 1406F (5'>TGYACACACCGCCCGT<3')
(universal rRNA small subunit)
23SR (5'>GGGTTBCCCCATTCRG<3')
(bacterial 23S rRNA large subunit)
Ready To Go (Amersham Biosciences);
2.5 unit Taq polymerase
10 mM Tris HCl (pH 9)
Cermin Dunia Kedokteran No. 155, 2007
84
RISA untuk Bakteri OMSK Benigna Aktif
50 mM KCl
1.5 mM Mg200
µl dNTP + stabilizer + BSA
Siklus PCR: denaturasi awal 94
o
C selama 2 menit, proses
selanjutnya sebanyak 25 siklus yang terdiri dari denaturasi
(15 detik pada suhu 94
o
C), penempelan primer (15 detik pada
suhu 56
o
C), elongasi (30 detik pada 72
o
C). Setelah akhir
siklus, elongasi dilanjutkan pada suhu 72
o
C selama 1 menit,
kemudian proses dihentikan dengan mengatur suhu pada 4
o
C
dan hasilnya divisualisasi dengan 1.5 % agarose.
HASIL PENELITIAN
Krakteristik Sampel
Sampel/Spesimen
I
II
III
IV
V
Umur
22 th
31 th
21th
27th
5th
Jenis
Kelamin
Laki
laki
perempuan perempuan
Laki
laki
perempuan
Alamat Bantul Sleman Sleman
Sleman
Sleman
Pemeriksaan Bakteriologis dengan media kultur
Sampel/Spesimen
I II III
IV
V
Jenis
Kuman
Pseudomonas
sp
Pseudomonas
sp
Pseudomonas
sp
Pseudomonas
aeruginosa
Pseudomonas
sp
Hanya didapatkan 1 jenis genus Pseudomonas spp
(sampel I, II, III, V) dan 1 jenis spesies P.aeruginosa (sampel
IV)
Pemeriksaan Bakteriologis dengan PCR-RISA
Sampel I II III IV V M
M : marker 100bp ladder
Tampak gambaran genus Pseudomonas yang tidak sama.
Mungkin merupakan spesies/strain Pseudomonas yang
berbeda.
PEMBAHASAN
PCR merupakan suatu metode enzimatis untuk
melipatgandakan secara eksponensial sel nukleotida tertentu
secara in vitro.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kecepatan
migrasi DNA pada agarose yaitu: 1. Konsentrasi agarose 2.
Berat molekul DNA dan 3. Struktur DNA.
Dari hasil visualisasi terlihat adanya pola migrasi yang
berbeda dari DNA bakteri Pseudomonas. Hasil PCR dengan
menggunakan primer RISA pada agarose 1,5% tersebut
disebabkan oleh adanya perbedaan struktur DNA. Hal tersebut
tampak pada hasil penelitian pemeriksaan bakteriologis
dengan PCR-RISA, yaitu adanya perbedaan struktur DNA
antara hasil PCR dari sampel I sd. sampel V .
Selain faktor struktur DNA, perbedaan pola migrasi dari
sampel DNA bakteri yang diduga satu genus dapat pula
disebabkan oleh perbedaan panjang sekuens yang
teramplifikasi karena IGS sangat spesifik untuk setiap spesies
bakteri; sehingga mungkin genusnya sama pseudomonas tetapi
spesiesnya berbeda.
Hasil tersebut di atas menunjukkan bahwa pendekatan
biologi molekuler yaitu RISA dapat membedakan beberapa
strain/spesies Pseudomonas dari cairan telinga penderita Otitis
Media Supuratif Kronik Benigna Aktif, sedangkan dengan
pendekatan tradisional yaitu pembiakan pada medium agar
darah, bakteri yang diperoleh hanya dapat dibedakan menjadi
2 macam bakteri yaitu Pseudomonas sp dan P. aeruginosa.
Hasil ini mengindikasikan bahwa RISA dapat membedakan
bakteri lebih seksama dibandingkan dengan pendekatan
tradisional. Hasil ini sesuai dengan beberapa penelitian
sebelumnya yang juga mampu membedakan spesies dari
kelompok Cyanobacteria
20
, dan dari kelompok Bacillus.
21,22
Dari beberapa penelitian ini dan penelitian sebelumnya
tampak bahwa RISA merupakan alat yang sangat baik untuk
pembedaan bakteri-bakteri hasil isolasi karena memungkinkan
pembedaan pada aras spesies.
Pendekatan ini mungkin juga sangat berguna dalam
karakterisasi strain bakteri yang menunjukkan variabilitas
tinggi dalam kelompok-kelompok bakteri yang secara
taksonomi sangat dekat.
Pemanfaatan RISA dalam pembedaan bakteri penyebab
penyakit akan sangat bermanfaat terutama jika dikaitkan
dengan resistensi mereka terhadap antibiotik. Pembedaan
bakteri dengan metode RISA mungkin dapat menjelaskan
mengenai resistensi bakteri terhadap suatu antibiotik.
KESIMPULAN
1. Pendekatan molekuler (RISA) lebih unggul/sensitif dalam
membedakan bakteri yang diisolasi dari sekret telinga
penderita Otitis Media Supuratif Kronik Benigna Aktif
(OMSKBA) dibandingkan dengan pendekatan tradisional
(didasarkan pada pengamatan morfologi kultur/koloni bakteri
pada media kultur / pure culture).
2. RISA memungkinkan pembedaan bakteri patogen
penyakit infeksi di telinga (OMSKBA) pada aras spesies
bahkan pada aras intra spesies.
KEPUSTAKAAN
1. Kenna MA, Rosane BA, Bluestone CD. Medical Management of
Chronic Suppurative Otitis Media without Cholesteatoma in Children-
Update 1992. Am J Otol 1993: 14:469-73
Cermin Dunia Kedokteran No. 155, 2007
85
RISA untuk Bakteri OMSK Benigna Aktif
2.
Papastavros T, Giamarellou H, Varledjides S. Obstaining Specimens of
Discharge from the Middle Ear for Cultures. Laryngoscope 1985;
95:1413-1414
12. Helmi, Djaafar ZA, Sosialisman, Hafil AF, Ratna D. Panduan
penatalaksanaan baku Otitis Media Supuratif Kronik di Indonesia. Eds.
Soetjipto D, Mangunkusumo E, Helmi. Jakarta 2002 ; 9-10
3.
Kenna MA. Epidemiology and Natural History of Chronic Suppurative
Otitis Media. Ann. Otol Rhinol Laryngol. 1988; 95 (Suppl.131);8
13.
WorldHealthReport,2000.
http://www.who.int/whr/2001/archives/2000/e
n/pdf/Annex4-en.pdf (accessed 21 July 2003).
4.
Istioro YH. Penggunaan Antibiotik pada Otitis Media Supuratif Kronik.
In: Helmi eds. Pengobatan Non Operatif Otitis Media Supuratif Kronik.
Jakarta. Balai Penerbit FKUI. 1990:7-16.
14. Leiberman A, Fliss DM, Dagan R. Medical Treatment of Chronic
Suppurative Otitis Media without Cholesteatoma in Children-a Two
Year Follow-up. Internat. J Pediatr. Otorhinolaryngol.. 1992:24;25-33.
5.
Kenna MA, Bluestone CD, Reilly JS. Medical Management of Chronic
Suppurative Otitis Media without Cholesteatoma in Children. 1986;
96:146-51.
15. Bluestone CD, Kenna MA. Consensus. Ann Otol Rhinol Laryngol 1988;
97 (suppl.131):41-42.
16. Fliss DM et al. Medical Management of Chronic Suppurative Otitis
Media without Cholesteatoma in Children. J.Pediatr. 1990 ;116:991-996.
6. Jonsson L, Schwan A, Thomander L et al. Aerobic and Anaerobic
Bacteria in Chronic Suppurative Otitis Media (a quantitative study).
Acta Otolaryngol. Stockh.1986; 102:410-414.
17. Papastravos T, Giamarellou, Varlejides S. Role of Aerobic and
Anaerobic Microorganisms in Chronic Suppurative Otitis Media.
Laryngoscope 1986; 96:438-442.
7.
Shenoi PM. Management of Chronic Suppurative Otitis Media. In: Kerr
GA. Scott-Brown's Otolaryngology (Otology). Fifth ed. Butteworths.
1987:215-237.
18. Amadasun JEO. Bacteriology of Inadequately Treated Active Chronic
Otitis Media in Paediatric Age Group. J Laryngol Otol 1991; 105:341-
342.
8. Papastravos T, Giamarellou, Varlejides S. Role of Aerobic and
Anaerobic Microorganisms in Chronic Suppurative Otitis Media.
Laryngoscope 1986; 96: 438-442.
19. Hariasri S. Otitis Media Supuratif Kronik : Latar belakang dan evaluasi
pengobatan konservatif. Skripsi bagian THT FKUI. Jakarta: FKUI 1983.
9. Ranjard L, Brothier E, Nazaret S. Sequencing Bands of Ribosomal
Intergenic Spacer Analysis Fingerprints for Characterization and
Microscale Distribution of Soil Bacterium Populations Responding to
Mercury Spiking. Applied and Environmental Microbiology. 2000:
5334-5339.
20. Boyer SL, Flechtner VR, Johansen JR. Is the 16S-23S rRNA internal
transcribed spacer region a good tool for use in molecular systematics
and population genetics? A case study in cyanobacteria..Mol Biol Evol.
2001 Jun;18(6):1057-69.
21. Daffonchio D, Cherif A,1,Brusetti L,Rizzi A,Mora A,Boudabous A,
Borin S. Nature of Polymorphisms in 16S-23S rRNA Gene Intergenic
Transcribed Spacer Fingerprinting of Bacillus and Related Genera. Appl
and Environmental Microbiol. 2003; 69( 9): 5128-5137.
10. Yu Z, Mohn WW. Bacterial Diversity and Community Structure in an
Aerated Lagoon Revealed by Ribosomal Intergenic Spacer Analyses and
16S Ribosomal DNA Sequencing. Appl. and Environmental Microbiol..
2001; 67 (4):15651574
11. Djaafar ZA. Kelainan telinga tengah. Dalam buku ajar Ilmu Kesehatan
Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher. Eds. Supardi E, Iskandar N.
2001:Hal 49-62.
22. Xu, D, Cote, JC. Phylogenetic relationships between Bacillus species
and related genera inferred from comparison of 3' end 16S rDNA and 5'
end 16S-23S ITS nucleotide sequences. Int J Syst Evol Microbiol 2003;
53: 695-704.
It is ironic habit of human beings to run faster when we
have lost our way
Rollo May (1909-1954)
Cermin Dunia Kedokteran No. 155, 2007
86
Document Outline