background image
Kuman Sekret Telinga Tengah
HASIL PENELITIAN
Pola Sebaran Kuman
dan Uji Kepekaan Antibiotika
Sekret Telinga Tengah
Penderita Mastoiditis Akut
di RS Dr Kariadi Semarang 2004 ­ 2005
Kristiawan AR, Jogjahartono, Pujo Widodo
Bagian Ilmu Kesehatan THT-KL Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro /
SMF K THT ­KL Rumah Sakit Dr. Kariadi, Semarang
ABSTRAK
Latar belakang: Mastoiditis akut (MA) merupakan salah satu komplikasi intratemporal
Otitis media (OM) yang tidak tertangani dengan baik. Pengobatan OM dengan terapi
antibiotika empirik adalah pilihan pertama berdasarkan kultur dan uji kepekaan antimikroba.
Pengetahuan tentang sebaran jenis kuman dan uji kepekaan antibiotika penting agar terapi
efektif. Tujuan obyektif penelitian ini adalah mempelajari sebaran kuman dan kepekaan obat-
obat antimikroba pada pasien Mastoiditis akut (MA) di RS Dr Kariadi Semarang periode
tahun 2004 sampai 2005.
Metode: Sembilan puluh lima pasien MA diamati dengan metode deskriptif
retrosprospektif. Diagnosis mastoiditis akut ditegakkan dari gejala klinis dan CT scan
mastoid. Sekret diambil melalui perforasi membran timpani kemudian dikultur. Uji kepekaan
antibiotika dilakukan dengan metoda modifikasi piringan difusi Kirby Bauer.
Hasil: Hasil kultur menemukan 7 jenis mikroorganisme dari 80 pasien yang ikut dalam
penelitian. Kuman penyebab terbanyak berturut-turut adalah Staphylococcus aureus (23.1%),
Enterobius aerogenes (22,1%), Pseudomonas aeruginosa (17.9%), Proteus mirabilis (13.7%),
diikuti oleh Streptococcus pneumonia (4.2%), Staphyococcus epidermidis (2.1%) Escherichia
coli (1.1 %). Dari uji kepekaan antibiotika didapatkan hasil sensitif pada antibiotika amikasin
(98.7%), siproflokasin (89.8%), sefotaksim (88.3%) gentamisin (83.6 %) dan khloramfenikol
(75.6 %), sedangkan resistensi didapatkan pada antibiotika tetrasiklin (69.7%), ampisilin
(64.6%) dan trimetoprim/sulfametoksazol (55.1%).
Simpulan: Kuman terbanyak yang ditemukan dari hasil isolasi penyebab MA adalah
Staphylococcus aureus dan antibiotika paling sensitif untuk semua jenis kuman adalah
Amikasin.
Kata kunci : Mastoiditis akut, jenis kuman, uji kepekaan antibiotika.
PENDAHULUAN
Mastoiditis akut (MA) merupakan salah satu komplikasi
intratemporal Otitis media (OM) yang tidak tertangani dengan
baik. Penatalaksanaan OM yang dicurigai sudah terkomplikasi
MA umumnya diawali dengan antibiotika empiris berdasarkan
hasil kultur dan uji kepekaan sebelumnya.
1
Pengetahuan pola
sebaran kuman penyebab dan hasil uji kepekaan antibiotika
merupakan hal mendasar untuk terapi yang efektif dan
memuaskan. Gambaran pola sebaran kuman dan uji kepekaan
antibiotika ini perlu diperbaharui secara berkala agar dapat
digunakan dalam menentukan kebijaksanaan penatalaksanaan
dan evaluasi keberhasilan terapi.
Cermin Dunia Kedokteran No. 155, 2007 77
background image
Kuman Sekret Telinga Tengah
TINJAUAN PUSTAKA
Otitis media (OM) khususnya yang kronik (otitis media
supurasi kronik) adalah infeksi telinga tengah yang ditandai
oleh sekret telinga aktif atau berulang di telinga tengah yang
keluar melalui perforasi membran timpani yang kronik.
OMSK yang sukar disembuhkan dapat menyebabkan
komplikasi luas. Umumnya penyebaran bakteri merusak
struktur di sekitar telinga atau telinga tengah itu sendiri.
Komplikasi ini bisa hanya otore yang menetap, mastoiditis,
labirintitis, paralisis saraf fasialis sampai komplikasi serius
seperti abses intrakranial atau trombosis.
Mastoiditis akut (MA) merupakan perluasan infeksi
telinga tengah ke dalam pneumatic system selulae mastoid
melalui antrum mastoid. Walau dalam praktek kejadian
komplikasi ini rendah, pengobatan harus secepat dan seefektif
mungkin untuk menghindari komplikasi.
4
Gejala klinis OMSK yang dicurigai MA antara lain otore
purulen kental dalam jumlah banyak dan bau, tak
menunjukkan perbaikan setelah pengobatan antibiotika selama
dua minggu, nyeri belakang telinga. Pada pemeriksaan fisik
mungkin akan ditemukan granulasi di dinding superoposterior
kanalis auditorius eksterna, perforasi membran timpani,
abses/fistel retroaurikula. Pada beberapa kasus dapat dijumpai
perluasan abses ke ruang/rongga dalam leher sekitar mastoid
seperti m.digastrikus, m.sternokleidomastoideus (Bezold's
mastoiditis) dan paralisis nervus fasialis.
Diagnosis mastoiditis ditegakkan melalui gejala klinis,
pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang radiologi yang
menunjukkan mastoiditis baik foto polos mastoid Schuller
maupun CT scan mastoid.
Pengobatan berupa antibiotika sistemik dan operasi
mastoidektomi; meliputi dua hal penting : pertama
pembersihan telinga (menyedot/mengeluarkan debris telinga
dan sekret) kedua antibiotika baik peroral, sistemik ataupun
topikal berdasarkan pengalaman empirik dari hasil kultur
mikrobiologi. Pemilihan antibiotika umumnya berdasarkan
efektifitas kemampuan mengeliminasi kuman (mujarab),
resistensi, keamanan, risiko toksisitas dan harga. Pengetahuan
dasar tentang pola mikroorganisme pada infeksi telinga dan uji
kepekaan antibiotikanya sangat penting .
METODA
Dari catatan medis sepanjang Januari 2004 sampai
Desember 2005 didapatkan 95 pasien dengan diagnosis
mastoiditis akut. Hanya pasien yang belum mendapatkan
pengobatan baik topikal ataupun sistemik sekurangnya lima
hari terakhir yang diikutkan dalam penelitian. Diagnosis
ditegakkan dari gejala klinis dan CT scan yang menunjukkan
mastoiditis. Pasien-pasien yang dicurigai disebabkan oleh
kolesteatoma dari gambaran CT scan tidak diikutkan dalam
penelitian ini.
Pengambilan sekret telinga tengah memakai swab Mini-
tip Culturette steril lewat membran timpani yang perforasi.
Swab pertama untuk pemeriksaan kuman aerob, dan swab
yang lain untuk pemeriksaan kuman anaerob menggunakan
prosedur pemeriksaan mikrobiologi standar. Jika ditemukan
jamur dalam isolasi kuman dilakukan subkultur pada media
agar Sabouraud Dekstrosa.
Semua kuman yang diisolasi diidentifikasi dengan
metoda mikrobiologi standar menggunakan tabung media dan
jika perlu menggunakan sistem API (BioMerieux Prancis).
Test bakteri aerobik menggunakan metode modifikasi piringan
difusi Kirby Bauer
2
dan hasilnya diinterpretasi menggunakan
National Committee for Clinical Laboratory Standards
(NCCLS).
3
Analisis data dikerjakan dengan SPSS 11.5
HASIL DAN PEMBAHASAN
Rata-rata usia pasien 27 tahun, termuda 5 tahun dan tertua
adalah 70 tahun; terbanyak antara 21-30 tahun (36.8 %).
Terdapat kesamaan distribusi gender dalam penelitian ini
(laki-laki 53.7 % dan wanita 46.3 %) dengan hasil penelitian
Yusra dkk
5
yaitu 23 tahun tetapi berbeda dari penelitian Loy
4
dan Papastravos
6
yang usia rerata penderitanya lebih tua yaitu
45 dan 49 tahun, sementara Khanna
7
justru mendapatkan usia
lebih muda yaitu antara 7 ­ 10 tahun. Belum adanya
kesepakatan pengelompokan umur, kriteria inklusi dan
eksklusi penelitian menyebabkan terjadinya perbedaan hasil
penelitian.
Grafik. 1. Hasil kultur kuman
hasil kultur kuman
hasil kultur kuman
escher
ic
hi
a col
i
st
aphyl
ococcus epi
de
st
rept
ococcus pneumo
pr
ot
eu
s mira
bilis
psedom aer
ogi
nosa
ent
er
obi
us aer
ogenes
st
aphi
lo
coccus aureu
Perc
ent
30
20
10
0
Dari 95 pasien hanya 80 hasil kulturnya positif, diisolasi
7 jenis kuman. Pada 78 (97.5 %) pasien ditemukan 1 jenis
kuman, pada 2 pasien ditemukan dua jenis kuman dalam
sediaan sekret telinganya. Kuman penyebab terbanyak
berturut-turut adalah Staphylococcus aureus (27.5%),
Enterobius aerogenes (26,3%), Pseudomonas aeruginosa
(21.3%), Proteus mirabilis (16.4%), diikuti oleh Streptococcus
pneumonia (5%), Staphylococcus epidermidis (2.5%)
Escherichia colli (1.3 %).(Grafik 1)
Temuan ini menunjukkan pola yang hampir sama dengan
beberapa pusat pendidikan di Indonesia dan negara tropis
lainnya.
4-8
Pada hampir semua pasien (97.5%) ditemukan 1
jenis kuman dari hasil isolasi; hanya pada 2 pasien ditemukan
Cermin Dunia Kedokteran No. 155, 2007
78
background image
Kuman Sekret Telinga Tengah
2 jenis kuman yaitu Pseudomonas aeruginosa dan
Staphylococcus aureus. Loy
4
melaporkan 23% pasien dengan
hasil kultur lebih dari dua kuman dan 2% pasien dengan 6
jenis kuman berbeda dalam satu hasil kulturnya.
Grafik 2a Kepekaan Staphylococcus aureus terhadapAntibiotika
Grafik 2b Kepekaan Enterobius aerogenes terhadap Antibiotika
Grafik 2c Kepekaan Pseudomonas aeruginosa terhadap Antibiotika
Grafik 2d Kepekaan Proteus mirabilis terhadap Antibiotika
Gambaran Kepekaan Antibiotika Proteus mirabilis
0
20
40
60
80
100
120
S
en
sit
iv
e
R
esi
st
en
S
en
sit
iv
e
R
esi
st
en
S
en
sit
iv
e
R
esi
st
en
S
en
sit
iv
e
R
esi
st
en
S
en
sit
iv
e
R
esi
st
en
S
en
sit
iv
e
R
esi
st
en
S
en
sit
iv
e
R
esi
st
en
S
en
sit
iv
e
R
esi
st
en
Amikasin
Ampisilin
Cefotaxim
Kloramfenikol
Ciprofloksasin
Gentamisin
Tetrasiklin
Sulfa
%
Kepe
kaan
Gambaran Kepekaan Antibiotika Staphilococcus aureus
0
20
40
60
80
100
120
S
e
n
s
it
iv
e
R
e
si
st
e
n
S
e
n
s
it
iv
e
R
e
si
st
e
n
S
e
n
s
it
iv
e
R
e
si
st
e
n
S
e
n
s
it
iv
e
R
e
si
st
e
n
S
e
n
s
it
iv
e
R
e
si
st
e
n
S
e
n
s
it
iv
e
R
e
si
st
e
n
S
e
n
s
it
iv
e
R
e
si
st
e
n
S
e
n
s
it
iv
e
R
e
si
st
e
n
Amikasin Ampisilin Cefotaxim Kloramfenikol Ciprofloksasin Gentamisin Tetrasiklin
Sulfa
Antibiotika
%
K
e
p
eka
an
Hasil uji kepekaan antibiotik terhadap empat kuman
terbanyak hasil kultur dapat dilihat pada Grafik 2a-2d.
Stahpylococcus aureus dalam penelitian ini menunjukkan
kepekaan terhadap antibiotika siprofloksasin, amikasin,
gentamisin, sefotaksim dan khloramfenikol sementara
Enterobius aerogenes peka terhadap antibiotika amikasin,
siprofloksasin, sefotaksim dan gentamisin. Penyebab tersering
ke tiga Pseudomonas aeruginosa kepekaannya hampir sama
dengan dua kuman di atas. Secara keseluruhan dari rerata uji
kepekaan antibiotika terhadap kuman didapatkan amikasin,
siprofloksasin, sefotaksim, gentamisin dan khloramfenikol
memberikan kepekaan > 50%, sedang tetrasiklin, ampisilin
dan trimetoprim/sulfametoksazol memberikan hasil resisten >
50%. Berturut-turut didapatkan hasil sensitif pada antibiotika
amikasin (98.7%), siprofloksasin (89.8%), sefotaksim (88.3%)
gentamisin (83.6 %) dan khloramfenikol (75.6 %), sedangkan
hasil resisten didapatkan pada antibiotika tetrasiklin (69.7%),
ampisilin (64.6%) dan trimetoprim/sulfametoksazol (55.1%).
Gambaran Kepekaan Antibiotika Enterobius aerogenes
0
20
40
60
80
100
120
S
ensitive
R
esisten
S
ensitive
R
esisten
S
ensitive
R
esisten
S
ensitive
R
esisten
S
ensitive
R
esisten
S
ensitive
R
esisten
S
ensitive
R
esisten
S
ensitive
R
esisten
Amikasin
Ampisilin
Cefotaxim
Kloramfenikol
Ciprofloksasin
Gentamisin
Tetrasiklin
Sulfa
Antibiotika
% K
epekaan
Pada penelitian ini tidak ditemukan kuman anaerob, sama
seperti penelitian Khanna
7
dan Kenna
9
. Penelitian Ingelstedt
yang dikutip Papastavros
6
menyatakan bahwa kadar oksigen di
dalam telinga tengah melalui hubungan langsung dari
perforasi membran timpani meyebabkan kuman anaerob tidak
dapat tumbuh.
Grafik 2e. Rerata Kepekaan Antibiotika
Gambaran Kepekaan Antibiotika Psedomonas aeroginosa
0
20
40
60
80
100
120
S
en
sitiv
e
Re
si
st
en
S
en
sitiv
e
Re
si
st
en
S
en
sitiv
e
Re
si
st
en
S
en
sitiv
e
Re
si
st
en
S
en
sitiv
e
Re
si
st
en
S
en
sitiv
e
Re
si
st
en
S
en
sitiv
e
Re
si
st
en
S
en
sitiv
e
Re
si
st
en
Amikasin
Ampisilin
Cefotaxim
Kloramfenikol
Ciprofloksasin
Gentamisin
Tetrasiklin
Sulfa
%
K
epe
kaan
Rerata Kepekaan Antibiotik
TETRA
TRIMETRO
AMPISILI
CHLORAMF
GENTAMIS
CIPROFLO
CEFOTAXI
AMIKASIN
M
ean
1.2
1.0
.8
.6
.4
.2
0.0
Cermin Dunia Kedokteran No. 155, 2007 79
background image
Kuman Sekret Telinga Tengah
KESIMPULAN
Gambaran pola kuman pasien MA di RSDK tahun 2004 ­
2005 berturut-turut Staphylococcus aureus, Enterobius
aerogenes, Pseudomonas aeruginosa, dan Proteus mirabilis.
Dari hasil uji kepekaan, antibiotika paling sensitif untuk
semua jenis kuman berturut-turut adalah amikasin,
siprofloksasin, sefotaksim, gentamisin dan khloramfenikol,
sedangkan hasil resisten didapatkan berturut-turut pada
antibiotika tetrasiklin, ampisilin dan trimetoprim/
sulfametoksazol.
KEPUSTAKAAN
1. Perhimpunan Dokter Spesialis Telinga Hidung Tenggorok Bedah
Kepala dan Leher Indonesia. Panduan penatalaksanaan baku otitis media
supuratif kronik (OMSK) di Indonesia. Jakarta.2002.
2.
Bauer AW, Kirby WMM, Sherris JC, Turck M. Antibiotic susceptibility
testing by a standardised single disc method. Am J Clin Pathol 1966;
45:493-6.
3. Performance
standards
for antimicrobial susceptibility testing. National
Committee for Clinical Laboratory Standards (NCCLS) Document
1994; M100-S5.
4.
Loy AH, Tan AL, Su PKS. Microbiology of chronic suppurative otitis
media in Singapore. Singapore Med J 2002 vol 43(6): 296-299.
5. Yusra, Sosrosumihardjo R, Helmi. Gambaran jenis kuman dan pola
kepekaan antibiotika terhadap sekret telinga tengah penderita otitis
media supuratif kronik tipe benigna.. ORLI 2005 vol 25 (4): 45-51
6. Papastavros T, Giamarellou H, Varlejides S. Role of aerobic and
anaerobic microorganism in chronic suppurative otitis media.
Laryngoscope 1086;96:438-42
7.
Khanna V, Chander J, Nagarkar NM, Dass A. Clinicomycrobiologic
evaluation of active tubotympanic type chronic suppurative otitis media.
J Otol Laryngol 2000;29(3):148-53.
8.
Brook I, Santosa G. Microbiology of chronic suppurative otitis media in
children in Surabaya, Indonesia. Int J Pediatr Otorhinolaryngol 1995;
31(1):23-8.
9.
Kenna MA, Bluestone CD. Microbiology of chronic suppurative otitis
media in children. Pediatr Infect. Dis J. 1986;5(2):223-5.
Redaksi Cermin Dunia Kedokteran
mengucapkan selamat kepada
Prof. Dr. Arini Setiawati
yang telah dikukuhkan sebagai
Guru Besar Tetap Bagian Farmakologi
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
pada tanggal 27 Januari 2007
Cermin Dunia Kedokteran No. 155, 2007
80

Document Outline