background image
HASIL PENELITIAN
Pengaruh Perbedaan Intensitas
Kebisingan terhadap Sindrom
Dispepsia pada Tenaga Kerja
PT. Kusumahadi Santosa Karanganyar
Hartono
Departemen Fisika Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Sebelas Maret, Solo, Jawa Tengah, Indonesia
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adakah perbedaan intensitas kebisingan di
ruang produksi, ruang perkantoran dan ruang inspeksi Departemen Weaving PT. Kusumahadi
Santosa Karanganyar. Apakah perbedaan intensitas kebisingan tersebut berpengaruh terhadap
jumlah penderita sindrom dispepsia. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan
manfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan maupun bagi perusahaan terutama dalam
upaya preventif dampak kebisingan terhadap kesehatan.
Rancangan penelitian adalah suatu survai analitik dengan pendekatan cross sectional,
dengan lokasi di Departemen Weaving PT. Kusumahadi Santosa Karanganyar. Penelitian
dilaksanakan antara bulan Desember 2001-Mei 2002.
Jumlah seluruh responden 227 orang, yang berada di ruang produksi sebanyak 95
(41,85%) responden, di ruang inspeksi 91 (40,08%) responden dan di ruang perkantoran 41
responden (18,06%). Penetapan sampel menggunakan metode purposive sampling dengan
kriteria eksklusi dan inklusi. Seluruh subyek yang memenuhi kriteria digunakan sebagai
sampel.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan intensitas kebisingan yang signifikan
antara ruang produksi, ruang inspeksi dan ruang perkantoran di Departemen Weaving PT.
Kusumahadi Santosa Karanganyar.
Perbedaan intensitas kebisingan tersebut berpengaruh sangat signifikan (=0,05) terhadap
jumlah penderita sindrom dispepsia pada tenaga kerja PT. Kusumahadi Santosa Karanganyar.
Kata kunci : Bising ­ Sindrom Dispepsia
PENDAHULUAN
Kebisingan adalah suara yang tidak diinginkan, oleh
karena itu merupakan stres tambahan dari suatu pekerjaan.
Gangguan psikologi tersebut dapat berupa rasa kurang nyaman,
kurang konsentrasi, susah tidur, emosi dan lain-lain.
(1)
Di samping pengaruh di atas, kebisingan juga menyebab-
kan stres pada bagian tubuh lain yang mengakibatkan sekresi
hormon abnormal dan tekanan pada otot. Pekerja yang terpapar
bising kadang mengeluh gugup, susah tidur dan lelah.
Pemaparan bising yang berlebihan dapat menurunkan gairah
kerja dan menyebabkan meningkatnya absensi, bahkan
penurunan produktivitas.
(2)
Telah banyak observasi yang menunjukkan bahwa emosi
atau stres mempengaruhi keadaan fisiologi traktus
gastrointestinal, antara lain sekresi musinoid, pepsin dan asam
klorida lambung. Diduga keadaan ini pulalah yang menjadi
Cermin Dunia Kedokteran No. 154, 2007 35
background image
Kebisingan dan dispepsia
penyebab ulkus peptikum yang sekarang lebih dikenal dengan
sindrom dispepsia.
(3)
Yang dimaksud dispepsia di sini adalah
penderita dengan keluhan yang berasal dari saluran cerna
bagian atas yang dapat berupa nyeri epigastrium, mual, muntah
yang dapat disertai darah atau tidak, rasa cepat kenyang,
kembung atau sering sendawa.
(4,5)
Sindrom dispepsia selain
akan menjadi salah satu masalah kesehatan juga akan
menurunkan produktivitas tenaga kerja. Tenaga kerja yang
sering mengeluh sakit saluran pencernaan bagian atas
konsentrasi kerjanya berkurang dan akan meningkatkan
absensi. Dengan demikian penting untuk mengetahui hubungan
paparan bising dengan kasus sindrom dispepsia guna mencari
solusi permasalahan tersebut.
Sebagai objek penelitian diambil karyawan yang bekerja di
Departemen Weaving PT. Kusumahadi Santosa Karanganyar.
Ruang produksi digunakan sebagai ruang kajian, karena
penelitian sebelumnya menunjukkan tingkat kebisingan yang
sangat tinggi di ruangan tersebut. Ruang inspeksi dan ruang
perkantoran digunakan sebagai pembanding.
Berdasarkan latar belakang masalah seperti yang telah
diuraikan di atas, maka masalah pada penelitian ini dapat
dirumuskan sebagai berikut : Adakah perbedaan intensitas
kebisingan akibat suara mesin di ruang produksi, ruang
inspeksi dan ruang perkantoran Departemen Weaving PT.
Kusumahadi Santosa Karanganyar dan apakah perbedaan
intensitas kebisingan di ruang kerja berpengaruh pada jumlah
karyawan yang menderita sindrom dispepsia di PT.
Kusumahadi Santosa Karanganyar.
Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan bahwa (1) ada
perbedaan intensitas kebisingan akibat suara mesin di ruang
produksi, ruang perkantoran dan ruang inspeksi PT.
Kusumahadi Santosa Karanganyar. (2) Perbedaan intensitas
kebisingan di ruang kerja tersebut akan berpengaruh pada
jumlah karyawan yang menderita sindrom dispepsia di PT.
Kusumahadi Santosa Karanganyar.
Cermin Dunia Kedokteran No. 154, 2007
36
Diharapkan penelitian ini dapat bermanfaat baik langsung
maupun tidak langsung terhadap pengembangan ilmu
pengetahuan khususnya yang terkait dengan kebisingan
maupun manfaat praktis bagi perusahaan, pemerintah maupun
tenaga kerja yang bersangkutan.
Hipotesis penelitian adalah (1) ada perbedaan intensitas
kebisingan akibat suara mesin di ruang produksi, ruang
perkantoran dan ruang inspeksi PT. Kusumahadi Santosa
Karanganyar. (2) Perbedaan intensitas kebisingan di ruang
kerja tersebut akan berpengaruh pada jumlah karyawan yang
menderita sindrom dispepsia di PT. Kusumahadi Santosa
Karanganyar.
BAHAN DAN CARA KERJA
Penelitian ini bersifat survai analitik dengan pendekatan
cross sectional. Penelitian dilakukan selama 6 (enam) bulan
dengan lokasi penelitian di Departemen Weaving PT.
Kusumahadi Santosa Karanganyar. Populasi penelitian ini
adalah seluruh tenaga kerja di Departemen Weaving PT.
Kusumahadi Santosa Karanganyar. Penetapan sampel dengan
menggunakan metode purposive sampling, dengan kriteria
subyek sebagai berikut :
Kriteria inklusi : usia 15 ­ 45 tahun pria maupun wanita. Sudah
bekerja di bidang yang sama lebih dari 6 bulan.
Krieria eksklusi : sedang dalam perawatan dokter ahli jiwa.
Sedang mengkonsumsi obat/ alkohol atau jamu secara terus
menerus (rutin). Khusus untuk wanita, sedang hamil. Sedang
menderita penyakit kronik (misal. DM, KP, Hipertensi).
Menggunakan sumbat telinga saat bekerja. Mempunyai riwayat
sakit telinga (infeksi sejak lahir, jatuh dan sakit hidung
tenggorokan yang menyebabkan sakit telinga).
Sebelum sampel ditetapkan, dilakukan pendataan dengan
kuesioner tentang karakteristik responden maupun data yang
terkait dengan kriteria subyek. Subyek yang memenuhi kriteria
seluruhnya ditetapkan sebagai sampel dan dibagi menjadi tiga
kelompok. Kelompok I : Responden yang terpapar bising
intensitas tinggi (ruang produksi). Kelompok II : responden
yang terpapar bising intensitas sedang (ruang inspeksi).
Kelompok III : responden yang terpapar bising intensitas
rendah (ruang perkantoran). Setelah sampel ditetapkan
diedarkan kuesioner untuk mendapatkan data keluhan saluran
pencernaan bagian atas/ sindrom dispepsia (variabel terikat).
Tiap kuesioner dilampiri Skala L-MMPI. Responden
dinyatakan (+) sindrom dispepsia apabila memenuhi satu atau
lebih gejala sindrom dispepsia. Selanjutnya dicatat kondisi
lingkungan yang mempengaruhi hasil penelitian antara lain,
intensitas cahaya, tekanan panas meliputi komponen ;
temperatur kering (Ta), temperatur basah (Tb), temperatur
radiasi (Tg), Indeks Suhu Bola Basah (ISBB) dan kelembaban
ruangan (Rh).
Intensitas kebisingan
berpengaruh terhadap
kejadian dispepsia
Alat dan Bahan yang digunakan :
(1) Sound Level Meter merk Rion, Type NA-20, buatan Jepang.
(2) Globe Termometer dan August psychrometer. (3) Lux meter
ANA -1999, (4) Kuesioner, dengan uji validitas uji-t dan uji
reliabilitas dengan teknik Kurdel Richardson (KR-20). (5)
Skala L-MMPI.
Analisis data perbedaan intensitas ruangan
menggunakan uji Beda Mean dengan uji-Anova. Pengaruh
paparan bising terhadap sindrom dispepsia menggunakan uji
Chi-Kuadrat.
HASIL
Daerah kajian penelitian ini adalah di Departemen
Weaving PT. Kusumahadi Santosa Karanganyar. Ruang
produksi ditetapkan sebagai ruang/daerah kajian, ruang
perkantoran dan ruang inspeksi ditetapkan sebagai ruang
pembanding. Di ruang produksi terdapat 544 mesin tenun jenis
Shuttle. Di ruang inspeksi terdapat 10 mesin jenis MC.
Inspecting. Ruang perkantoran letaknya jauh dari mesin tenun.
Hasil selengkapnya pengukuran intensitas kebisingan di
ruang produksi, ruang inspeksi dan ruang perkantoran tertera
background image
Kebisingan dan dispepsia
pada tabel 1 :
Tabel 1 Hasil pengukuran Intensitas Kebisingan di ruang produksi, ruang inspeksi dan ruang perkantoran
Departemen Weaving PT. Kusumahadi Santosa Karanganyar
Intensitas Kebisingan (dalam dB)
Ruang
I
1
I
2
I
3
I
4
I
5
I
6
I
7
I
8
I
9
I
10
I
11
I
12
I
13
I
14
produksi
100 100 101 102 100 101 100 100 100 99 99
inspeksi
71 71 67 70 68 68 70 69 70 70 67
perkantoran 58 59 58 60 60 59 60 61 61 60 60
(Sumber : data primer, 2002)
Jumlah seluruh tenaga kerja di Departemen Weaving PT.
Kusumahadi Santosa Karanganyar 617 orang, 301 laki-laki
dan 316 perempuan. Di ruang produksi terdapat 172 tenaga
kerja, 102 laki-laki dan 70 perempuan; yang memenuhi kriteria
sebagai sampel, sebanyak 116 responden. Di ruang inspeksi
terdapat 141 tenaga kerja, 78 perempuan dan 63 laki-laki ; yang
memenuhi kriteria sebagai sampel sejumlah 112 responden. Di
ruang perkantoran terdapat 56 tenaga administrasi, 30
perempuan dan 26 laki-laki; yang memenuhi kriteria sebagai
sampel sejumlah 41.
Di antara 116 responden yang berasal dari ruang produksi
hanya 95 yang dapat diikutkan dalam analisis; dari yang
berasal dari ruang inspeksi sejumlah 112 responden hanya 92
yang dapat diikutkan dalam analisis. Sedangkan 41 responden
yang berasal dari ruang perkantoran seluruhnya dianalisis. Hal
ini disebabkan karena : (1) Salah mengisi kuesioner : 7
responden dari ruang produksi dan 2 responden dari ruang
inspeksi (2) Tidak lolos L-MMPI test : 11 responden dari ruang
produksi dan 14 dari ruang inspeksi (3) Tidak mengembalikan
kuesioner: 3 responden dari ruang kajian dan 4 responden dari
ruang kontrol.
Dari tabel 2 terlihat bahwa jumlah penderita sindrom dispepsia
lebih banyak pada responden yang bekerja di ruang produksi
dibanding dengan mereka yang bekerja di ruang inspeksi
maupun ruang perkantoran.
Tabel
2. Distribusi responden menurut jumlah penderita sindrom
dispepsia
R. produksi
R. inspeksi
R. kantor
Sindrom Dispepsi
Jml % Jml % Jml %
(+)
66 69,5 41 45,05 15 36,6
(-)
29 30,5 50 54,95 26 63,4
Jumlah
95 100 91 100 41 100
(Sumber : data primer 2002)
PEMBAHASAN
Hasil uji beda mean (Anova) berdasarkan data tabel 1,
mendapatkan perbedaan yang sangat signifikan (pada
= 0,05)
antara intensitas kebisingan di ruang produksi, ruang inspeksi
dan ruang perkantoran: F
0
= 3617,8 lebih besar dari 8,62
(t
0,975;30
) atau karena = 0,0001 lebih kecil dari 0,05.
Paparan bising akan menyebabkan munculnya gejala-
gejala sindrom dispepsia pada responden melalui variabel
antara. Variabel antara di sini adalah faktor psikologis dan
faktor fisik atau kelelahan. Faktor fisik dan faktor psikologis
tersebut saling terkait dan saling berhubungan.
Kebisingan merupakan suara yang tidak diinginkan, oleh
karena itu merupakan stres tambahan dari suatu pekerjaan dan
tentunya akan menyebabkan gangguan psikologis. Gangguan
psikologis tersebut dapat berupa rasa kurang nyaman, kurang
konsentrasi, susah tidur, emosi, dan lain-lain.
(6)
Gangguan
psikologis tersebut akan meningkatkan kelelahan. Demikian
juga sebaliknya, paparan bising juga meningkatkan kelelahan
yang berakibat menyebabkan konsentrasi berkurang dan
munculnya gejala-gejala psikologis lain.
(7)
Efek psikologis
paparan bising juga ditemukan oleh Griefahn B
(1)
,
Mutammimah
(8)
, dan Sindusakti.
(9)
Selain faktor fisik dan psikologis, variabel yang
mempengaruhi munculnya gejala sindrom dispepsia adalah zat
kimia (jamu, alkohol, kafein, nikotin/ merokok), jenis makanan
yang dikonsumsi (pedas, masam/kecut), genetik, infeksi bakteri
H. pylori, dan kondisi medik umum misal; kanker.
(3,4,10)
Variabel-variabel tersebut dikendalikan dengan kriteria subjek.
Dari 228 responden terdapat 122 responden yang
dinyatakan positif sindrom dispepsia; 66 responden berasal dari
ruang produksi, 41 responden berasal dari ruang inpeksi dan 15
responden berasal dari ruang perkantoran. (tabel 2).
Uji Chi-Kuadrat (
2
) menunjukkan perbedaan frekuensi
sindrom dispepsia yang signifikan (pada
= 0,05) masing-
masing kelompok; perolehan
o
2
= 15,519 yang lebih besar dari
5,991 (
t
2
) atau karena p-value <0,05.
Hasil tersebut menunjukkan bahwa perbedaan intensitas
kebisingan berpengaruh terhadap munculnya gejala sindrom
dispepsia. Pengaruh tersebut melalui variabel perantara yaitu
faktor psikologis dan faktor fisik (kelelahan). Hal ini sejalan
dengan apa yang dikemukakan oleh Budihalim (1990)
(3)
bahwa
emosi dan kelelahan fisik akan mempengaruhi keadaan
fisiologi aluran pencernaan, antara lain sekresi musinoid,
pepsin dan asam klorida lambung, sehingga diduga faktor ini
pula yang menjadi penyebab munculnya gejala-gejala
gangguan pencernaan bagian atas atau sering disebut dengan
Sindrom dispepsia.
Pengaruh emosi terhadap fungsi gastrointestinal telah lama
dikenal. Wolf, Wolf dan Mittelmann
(11,)
, mengobservasi
melalui lubang fistula permanen di lambung memperoleh hasil
sebagai berikut :
Emosi sadness dan depresi yang diikuti dengan perasaan
withdrawn, menyebabkan mukosa pucat, menurunkan dan
menghambat sekresi dan kontraksi lambung; orang tersebut
merasa mual (nausea) dan tidak ada nafsu makan. Sebaliknya
anxiety, hostility dan resentment diikuti dengan hipersekresi,
hipermotilitas, hiperemi mukosa lambung, maka terjadilah
keadaan seperti gastritis hipertropik. Penderita merasa nyeri
dan perih uluhati (heartburn). Bila berlangsung cukup lama
dan cukup berat, timbul erosi dan perdarahan kecil-kecil
mukosa lambung (penurunan daya tahan mukosa lambung).
Cermin Dunia Kedokteran No. 154, 2007 37
background image
Kebisingan dan dispepsia
Keadaan seperti ini dapat terjadi spontan atau akibat kontraksi
lambung yang kuat. Luka-luka kecil tersebut terkena asam
lambung, menyebabkan tambah membengkaknya seluruh
mukosa lambung, dan terbentuk ulkus kronik di mukosa
tersebut.
(3)
Alexander mengajukan hipotesis bahwa frustrasi kronis
atau kebutuhan ketergantungan yang kronis mengakibatkan
konflik unconscious yang khas. Konflik ini akan menyebabkan
rasa marah dan lapar yang unconscious kronik dan regresif.
Reaksi ini secara fisiologis berujud hiperaktifitas vagal yang
menetap dan mengakibatkan hipersekresi asam lambung pada
orang-orang yang mempunyai predisposisi genetik sebagai
hipersekretor asam.
(11)
KESIMPULAN
1. Ada perbedaan intensitas kebisingan yang sangat
signifikan antara ruang produksi, ruang inspeksi dan ruang
perkantoran di Departemen Weaving PT. Kusumahadi
Santosa Karanganyar ( F
0
= 3627, p-value = 0,0001 ,
=
0.05).
2. Perbedaan intensitas kebisingan berpengaruh terhadap
jumlah penderita sindrom dispepsia pada tenaga kerja PT.
Kusumahadi Santosa Karanganyar ( X
o
2
= 15,519 , p-value
= 0,001 ,
=0,05).
SARAN
1. Meneliti lebih lanjut pengaruh paparan bising terhadap
sindrom dispepsia dengan penyempurnaan metode
penelitian, terutama pada penegakan diagnosis
menggunakan pemeriksaan penunjang (endoskopi).
2. Penyuluhan intensif tentang dampak kebisingan terhadap
kesehatan pada tenaga kerja, agar kesadaran untuk
melakukan upaya-upaya pencegahan terhadap dampak
kebisingan dapat
ditingkatkan terutama penggunaan
sumbat telinga saat bekerja.
KEPUSTAKAAN
1. Griefahn
B. Noise effects not only on the ears, but can damage health to
be objectively evaluated. MMW. Fortschr. Med. 2000 Apr 6; 142 (14) :
26 ­ 9.
2. Soeripto. Penelitian Pembuatan Sumbat Telinga, Maj. Hiperkes dan
Keselamatan Kerja 1994; XXVII(3).
3. Budihalim S. Aspek Psikosomatik Ulkus Peptik. Dalam: Ilmu Penyakit
Dalam. Soeparman (ed.), Balai Penerbit FKUI, Jakarta. 1990.
4. Palgunadi G, Soewignyo S, Wenny A. Gambaran Endoskopi dan Infeksi
Helicobacter pylori pada Penderita Dispepsia di RSU Mataram. Nexus
1999;12(2).
5. Tantoro Harmono M. Pengobatan Dispepsia, Simposium Sindroma
Dispepsia Permasalahan Diagnosa dan Penatalaksanaannya. Fakultas
Kedokteran UNS Surakarta. 25 September 1999.
6. Joko Sindhusakti. Kajian Dampak Kesehatan akibat Kebisingan di
Terminal Bis Boyolali dan Wonogiri. Makalah Ilmu Hukum Tata
Lingkungan, Program Studi Ilmu Lingkungan Program Pasca Sarjana
Universitas Sebelas Maret, Surakarta 1999.
7. Suma'mur. Higine Perusahaan dan Keselamatan Kerja. Jakarta: CV. Haji
Masagung, 1992. hal. 22-41.
8. Mutammimah Hanim. Penilaian Kebisingan dan Program Pemeliharaan
Indera Pendengaran di Lingkungan Bising pada Bagian Weaving Shuttle
Loom PT.Daya Manunggal Salatiga. Laporan Penelitian. Program
Diploma III Hiperkes dan Keselamatan Kerja Fakultas Kedokteran UNS,
Surakarta. 2000.
9. Joko Sindhusakti., Dampak Kebisingan Pesawat terhadap Kesehatan
Penduduk Lingkungan Pemukiman Sekitar Landasan Bandara Adi
Sumarmo Boyolali, Tesis Untuk Memenuhi Persyaratan Mencapai
Derajad Magister, Program Studi Ilmu Lingkungan Program Pasca
Sarjana Universitas Sebelas Maret, Surakarta. 2000.
10. Daldiyono. Sindroma Dispepsia Diagnosis dan Penatalaksanaan dalam
Praktek Sehari-hari: Sambutan. Dalam Azis Rani.HA, Soewignyo S, Siti
Setiati, Simadibrata M, Arif Mansjoer (eds), FKUI/RSUPN Cipto
Mangunkusumo, Jakarta. 1999.
11. Syamsulhadi. Pengaruh Psikologis yang Mempengaruhi Terjadinya
Sindroma Dispepsia. Simposium Sindroma Dispepsia Diagnosa dan
Penatalaksanaannya, Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret,
Surakarta. 25 September 1999.
12. Minitab. Data Analysis and Quality Tools-Release 12. Reference Manual,
New York ; Minitab Inc. 1998.
One sin opens the door to another
Cermin Dunia Kedokteran No. 154, 2007
38

Document Outline